Anda di halaman 1dari 9

HEMODIALISA

a. Pengertian
Hemodialisa

berasal

dari

bahas

Yunani hemo berarti

darah

dan dialisis berarti pemisahan atau filtrasi. Secara klinis hemodialisis adalah
suatu proses pemisahan zat-zat tertentu (toksik) dari darah melalui membran
semipermeabel

buatan

(artificial)

di

dalam

ginjal

buatan

yang

disebut dialiser, dan selanjutnya dibuang melalui cairan dialisis yang


disebut dialisat.
Hemodialisa adalah suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari tubuh
penderita dan beredar dalam sebuah mesin di luar tubuh yang disebut dialyzer.
Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi
kebutuhan

ini,

maka

dibuat

suatu

hubungan

buatan

diantara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui pembedahan.


Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah
buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal
atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat.
Hemodialysis adalah pengeluaran zat sisa metabolisme seperti ureum dan
zat beracun lainnya, dengan mengalirkan darah lewat alat dializer yang berisi
membrane yang selektif-permeabel dimana melalui membrane tersebut fusi
zat-zat yang tidak dikehendaki terjadi. Haemodialysa dilakukan pada keadaan
gagal ginjal dan beberapa bentuk keracunan.
Dialisis adalah proses yang menggantikan secara fungsional pada
gangguan fungsi ginjal dengan membuang kelebihan cairan dan akumulasi
toksin endogen atau eksogen. Dialisis paling sering digunakan untuk pasien
dengan penyakit ginjal akut atau kronis (tahap akhir).

b. Prinsip Kerja / Mekanisme Hemodialisis


Mekanisme pemisahan zat-zat terlarut pada hemodialisis terjadi secara difusi
dan ultrafiltrasi.

Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

1) Secara difusi
Proses difusi adalah proses pergerakan spontan dan pasif zat terlarut.
Molekul zat terlarut dari kompartemen darah akan berpindah kedalam
kompartemen dialisat setiap saat bila molekul zat terlarut dapat melewati
membran semipermiabel demikian juga sebaliknya. Cairan dialisis dan
darah yang terpisah akan mengalami perubahan konsentrasi karena zat
terlarut berpindah dari konsentrasi yang tinggi kearah konsentrasi yang
rendah sampai konsentrasi zat terlarut sama dikedua kompartemen (dari
yang konsentrasi tinggi kekonsentrasi rendah)
2) Secara ultrafiltrasi
Pemisahan cairan dialisis dan darah dilakukan dengan prinsip perbedaan
tekanan. Tiga tipe dari tekanan yng dapat terjadi pada membrane adalah:
a) Tekanan positif
Tekanan positif merupakan tekanan hidrostatik yang terjadi akibat
cairan dalam membrane. Pada dialysis hal ini dipengaruhi oleh tekanan
dialiser dan resistensi vena terhadap darah yang mengalir balik
kefistula. Tekanan positif mendorong cairan menyeberangi membrane.
b) Tekanan negative
Tekanan negative merupakan tekanan yang dihasilkan dari luar
membrane oleh pompa pada sisi dialisat dari membrane. Tekanan
negative menarik cairan keluar dari darah.
c) Tekanan Osmotik
Tekanan Osmotik merupakan tekanan yang dihasilkan dalam larutan
yang berhubungan dengan konsentrasi zat terlarut dalam larutan
tersebut. Larutan dengan kadar zat terlarut tinggi akan menarik cairan
dari larutan lain yang konsentrasinya lebih rendah sehingga
menyebabkan membrane permiabel terhadap air (dari konsentrasi
rendah kekonsentrasi tinggi). Dimisalkan ada 2 larutan A dan B
dipisahkan

oleh

membran

semipermiabel,

bila

larutan

mengandung lebih banyak jumlah partikel dibanding A maka


konsentrasi air dilarutan B lebih kecil dibanding konsentrasi larutan
Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

A. Dengan demikian air akan berpindah dari A ke B melalui


membran dan sekaligus akan membawa zat -zat terlarut didalamnya
yang berukuran kecil dan permiabel terhadap membran, akhirnya
konsentrasi zat terlarut pada kedua bagian menjadi sama.
3) Konveksi
Saat cairan dipindahkan selama hemodialisis, cairan yang dipindahkan
akan mengambil bersama dengan zat terlarut yang tercampur dalam cairan
tersebut

c. Tujuan Hemodilisa
Tujuan hemodialisis adalah untuk mengeluarkan zat-zat nitrogen yang toksik
dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan

d. Indikasi dan kontra indikasi hemodialisa


1. Indikasi:
a) Klien dengan syndrome uremik/azotemia (gagal ginjal akut dan
kronik), ureum > 200 mg/dl dan kreatinin > 1,5 mg/dl
b) Hiperkalemia, kadar kalium > 5,0 mEq/L
c) Asidosis, pH darah < 7,1
d) Kelebihan cairan
e) Dehidrasi berat
f) Keracunan barbiturate
g) Leptospirosis
2. Kontraindikasi :
Kontraindikasi untuk dialisa menurut PERNEFRI (2003: 290), antara lain :
a) Tidak mungkin didapatkan akses vaskular pada hemodialisa atau
terdapat gangguan di rongga peritoneum pada CAPD ( Contious
Ambulatory peritoneal Dialysis).
b) Dialisa tidak dapat dilakukan pada keadaan :
-

Akses vaskular sulit

Instabilitas hemodinamik

Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

Koagulopati

Penyakit Alzheimer

Dementia multi infark

Sindrom hepatorenal

Sirosis hati berlanjut dengan enselopati

Keganasan lanjut.

e. Pengawasan selama hemodialisis berlangsung


1. Observasi tanda-tanda vital tiap jam, tensi dan nadi, kemungkinan
komplikasi selama HD : mual, kram otot dan keluhan lain. kecuali keadaan
pasien jelek, obersvasi sesuai dengan kebutuhan :
a) Jika pasien sesak, hitung pernafasan.
b) Jika pasien demam, ukur suhu badan
c) Menjaga ketepatan pencatatan dalam lembaran dialysis
2. Pengawasan Mesin :
Pengawasan sirkulasi darah diluar ekstrakorporeal blood monitoring:

Pengawasan kecepatan aliran darah

Pengawasan terhadap tekanan :

Arteri : Bila alarm berbunyi pada aterial druk berarti tekanan darah
rendah, lihat aliran darah pada inlet.

Venous pressure : dilihat dari indikator (hati-hati bila tinggi), bila


tinggi periksa outlet, bila rendah periksa sensor vena.

3. Pengawasan heparin pump.


4. Pengawasan terhadap sirkulasi dialisat monitoring
a) Kebocoran dializer (blood leak)
b) Low temperature atau high temperature
c) Low conductivity atau high conductivity
d) Transmembrane pressure

Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

f. Komplikasi Hemodialisa
1. Hipotensi terjadi ketika cairan dikeluarkan
2. Emboli udara (komplikasi jarang) jika udara memasuki vaskular pasien
3. Nyeri dada akibat penurunan pCO2 bersamaan dgn terjadinya sirkulasi
darah diluar tubuh
4. Pruritus dapat terjadi ketika produk akhir metabolisme meninggalkan kulit
5. Gangguan keseimbangan dialisis tjd akibat perpindahan cairan serebral
dan munculnya sbg serangan kejang
6. Kram otot dan nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat
meninggalkan ruang ekstrase
7. Mual dan muntah

g. Akses Vascular
Akses vaskuler (blood access) merupakan salah satu aspek teknik untuk
program HD akut maupun kronik. Tusukan vaskuler merupakan tempat
keluarnya darah dari tubuh penderita menuju dializer dan selanjutnya kembali
lagi ketubuh penderita. Untuk melakukan dialisis intermiten jangka panjang,
maka perlu ada jalan masuk ke sistem vaskular penderita yang dapat di
andalkan. Darah harus dapat keluar dan masuk tubuh penderita dengan
kecepatan 200-400 ml/menit. Teknik-teknik akses vaskuler utama untuk
hemodialisis dibedakan menjadi akses eksternal dan akses internal (Price,
1995). Akses vascular sangat diperlukan oleh karena untuk hemodialisis yang
efektif diperlukan aliran darah yang cukup sampai lebih dari 300 ml/menit dan
dapat dipakai berulang kali dalam jangka waktu yang panjang.
Ada 2 macam akses vascular yaitu :
1. Akses vascular sementara atau kontemporer
Akses vascular ini biasanya digunakan pada saat pertama kali hemodialisis
sebelum dibuat akses vascular yang permanent. Akses vascular sementara
umumnya dilakukan dengan menggunakan kateter perkutan kedalam vena
jugularis, femoral atau yang saat ini dihindari adalah pada vena subclavia.
Keuntungan akses vascular sementara adalah :
Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

1) Pada vena jugularis interna : dapat digunakan untuk jangka panjang


dengan resiko yang kecil
2) Pada vena femoralis : pemasangan mudah dengan resiko yang kecil
3) Pada vena subclavia : klien merasa lebih nyaman dan penggunaanya
lebih lama
Kerugian akses vascular sementara adalah :
1) Pada vena jugularis : pemasangan lebih sulit
2) Vena femoral : immobilisasi pasien, resiko infeksi lebih tinggi
3) Vena subclavia : komplikasi stenosis vena dan resiko komplikasi
pemasangan.
2. Akses vascular menetap/permanent
Akses vascular menetap dilakukan dengan membuat fistula atau hubungan
(shunt) antara arteri dengan vena yang biasa disebut AV shunt. Dapat
dilakukan dengan vena dan arteri pasien sendiri, memakai vena dari
tempat lain (native graft) atau dengan bahan buatan (artificial graft). AV
shunt dilakukan dengan cara menyambung arteri subcutan dengan vena
didekatnya. Vena yang berdinding tipis dialiri oleh darah arteri yang
bertekanan tinggi sehingga aliran darah lebih cepat. Cara ini sangat sering
digunakan dan paling aman, bertahan lama, dan dengan komplikasi yang
minimal (stenosis, infeksi, steal syndrome). Namun ada beberapa kerugian
dari AV shunt yaitu ; memerlukan waktu cukup lama untuk siap dipakai,
cukup sering kegagalan atau kurang dapat memberikan aliran darah yang
cukup pada saat hemodialisis serta pada klien dengan penyakit vascular
yang berat tidak dapat dilakukan.
Lokasi yang sering digunakan :
1) Pergelangan tangan (fistula radio chepalic/Brescia cimino)
2) Daerah siku/elbow (fistula brachio chepalic)
Fistula umumnya dilakukan pada tangan yang non dominant dengan
maksud tidak mengeurangi aktivitas klien. Proses maturasi AV shunt
antara 1- 6 bulan dan pada tangan tersebut tidak dapat dilakukan
penekenan berlebihan atau untuk mengambil sampel darah. Periksa
Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

suara bising atau thrill setiap hari dan posisikan tangan lebih tinggi
dari badan pada saat pasca operasi

h. Dializer
Komponen ini terdiri dari membran dialiser semipermiabel dengan lokasi yang
tersebar merata yang memisahkan kompartemen darah dan dialisat. Darah
banyak mengandung zat-zat toksik secara berlebihan sedangkan dialiser tidak
mengandung apapun kecuali elektrolit tertentu.

i.

Dializat
Larutan dialisat biasanya disiapkan dalam bentuk konsentrasi yang
mengandung buffer bikarbonat atau asetat.
1) Dialisat Asetat
Dialisat Asetat masih banyak digunakan untuk dialisat karena dapat
diproduksi dengan mudah dalam kemasan yang mengandung berbagai
macam elemen. Dialisat asetat telah dipakai secara luas sebagai dialisat
standard untuk mengoreksi asidosis uremikum dan untuk mengimbangi
kehilangan bikarbonat secara difusi selama HD. Dialisat asetat tersedia
dalam bentuk konsentrat yang cair dan relatif stabil. Dibandingkan dengan
dialisat bikarbonat, maka dialisat asetat harganya lebih murah tetapi efek
sampingnya lebih banyak. Efek samping yang sering seperti mual, muntah,
kepala sakit, otot kejang, hipotensi, gangguan hemodinamik, hipoksemia,
koreksi asidosis menjadi terganggu, intoleransi glukosa, meningkatkan
pelepasan sitokin. Kemudian seiring berkembangnya waktu, larutan
bicarbonate lebih banyak digunakan karena lebih fisiologis, dapat
mengontrol asidosis dengan lebih baik,lebih sedikit menimbulkan efek dan
komplikasi.
2) Dialisat Bikarbonat
Dialisat bikarbonat terdiri dari 2 komponen konsentrat yaitu larutan asam
dan larutan bikarbonat. Kalsium dan magnesium tidak termasuk dalam
konsentrat bikarbonat oleh karena konsentrasi yang tinggi dari kalsium,

Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

magnesium dan bikarbonat dapat membentuk kalsium dan magnesium


karbonat. Larutan bikarbonat sangat mudah terkontaminasi mikroba
karena konsentratnya merupakan media yang baik untuk pertumbuhan
bakteri. Kontaminasi ini dapat diminimalisir dengan waktu penyimpanan
yang singkat. Konsentrasi bikarbonat yang tinggi dapat menyebabkan
terjadinya hipoksemia dan alkalosis metabolik yang akut. Namun dialisat
bikarbonat bersifat lebih fisiologis walaupun relatif tidak stabil. Biaya
untuk sekali HD bila menggunakan dialisat bikarbonat relatif lebih mahal
dibanding dengan dialisat asetat.

j.

Ultraviltrasi Cairan
Ultrafiltrasi: membuang kelebihan air dari tubuh. Menggunakan cara
konveksi. Cara hemodialisis bisa membuang kelebihan air, elektrolit, dan sisa
metabolism
Difusi: perpindahan molekul dari larutan dengan konsentrasi tinggi ke larutan
dengan konsetrasi rendah
Konveksi: larutan berpindah dari daerah dengan tekanan tinggi ke daerah
tekanan rendah. Ini prinsip dari ultrafiltrasi
Ultrafiltrasi
Ultrafiltrasi: produksi kelebihan air dari tubuh dengan menggunakan cara
konveksi: perpindahan zat pelarut (sbgn zat terlarut terbawa), melalui
membran, akibat energi hidrostatik yg bekerja pada membrane. Proses ini
dilakukan dgn membuat tekanan positif pada kompartemen darah dan tekanan
negatif pada kompartemen dialisat, sehingga air didorong menuju cairan
dialisat.Ultrafiltrasi bisa diatur tergantung kebutuhan, sesuai kelebihan volume
penderita.

k. Heparin (Antikoagulan)
Akibat adanya sirkit ekstrakorporeal pada hemodialisis memungkinkan
terjadinya Kontak antara darah dengan permukaan saluran sintetik pada
hemodialisis mengakibatkan terjadinya pembekuan darah sehingga perlu
Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015

digunakan Antikoagulasi dengan heparin agar memungkinkan hemodialisis


berjalan dengan lancar.
Heparin merupakan mukopolisakarida sulat anionic dengan berbagai berat
molekul yang diekstraksi dari paru sapi atau usus babi. Heparin teerikat pada
antitrombin- III, yang kemudian membentuk kompleks dengan protease serine
mengaktifasi faktor-faktor koagulasi. Waktu paru pada pasien normal dan
pasien hemodialisis adalah 30-120 menit dan dapat lebih panjang lagi dengan
disosiasi heparin komplek AT-III.
Menilai koagulasi pada pasien hemodialiss dengan mengamati secara visual
dengan memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut :
1) Warna darah gelap sekali
2) Adanya garis-garis hitam atau gelap pada dialiser
3) Busa dan butir bekuan pada venous trap
4) Adanya bekuan darah

Program Pendidikan Profesi Ners Keperawatan Medikal Bedah PSIKUNEJ 2015