Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS PSIKOTIK

SKIZOFRENIA YTT
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. K

Jenis Kelamin

: Laki- laki

Umur

: 18 tahun ( 8 agustus 1997)

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Bugis

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Pekerjaan

: tidak ada

Alamat

: Ds. Pampang kecamatan Panakkukang Jl.


Barawaja 2 No. 32 Makassar.

Datang ke UGD psikiatri RSKD Dadi pertama kalinya pada tanggal 4


Febuari 2015 diantar orang tuanya.
II.

RIWAYAT PSIKIATRI
Diperoleh melalui autoanamnesis dan allo anamnesis pada tanggal 4
Febuari 2015 dari :
Nama

: Ny. Sitti Salwa (IBU)

Pendidikan

: SD

Alamat

: Desa Pampang kec. Panakkukang, Makassar

A. Keluhan Utama
Mengamuk
B. Riwayat gangguan sekarang
1. Keluhan dan Gejala

Page | 1

Seorang laki- laki umur 18 tahun dibawa ke RSKD oleh


keluarganya untuk pertma kalinya dengan keluhan mengamuk yang
dialami sejak 3 hari lalu dan memberat sejak 1 hari yang lalu.. Saat
mengamuk pasien marah-marah dan memukul kakak dan tetangganya
serta sering keluar tengah malam untuk ke sekolah dan pulang saat
subuh. Pasien sering bicara sendiri, ketawa sendiri, dan selalu jalan
keluar rumah sendirian. Pasien juga sering mengajak orang lain
berkelahi tanpa tujuan yang jelas. Pasian tidak bisa tidur sejak 3 hari
lalu. Nafsu makan baik. Hal ini dialami kurang lebih sejak 2 bulan
yang lalu. pasien sering memakan tissue, menggigit- gigit senduk dan
berendam dilaut pada waktu tengah malam.
Pasien pernah dirawat pertama kali di RS Samarinda selama 22
hari. Pasien diberi obat haloperidol 5 mg, Clozapin 20 mg tetapi pasien
tidak mengkonsumsi obat secara teratur sejak 3 hari lalu.
Pasien mengalami hendaya sosial, hendaya pekerjaan dan hendaya
penggunaan waktu senggang. Saat pasien sakit, pasien tidak dapat
berinteraksi

sebagaimana

mestinya

dengan

tetangga

maupun

keluarganya. Pasien juga tidak dapat bekerja seperti biasa yaitu sebagai
pekerja toko seperti sebelumnya. Pasien tidak dapat beraktivitas seperti
biasa.
tressor

psikososial

Perubahan

perilaku

disebabkan

pasien

mengalami yaitu lamaran pacarnya ditolak oleh keluarganya kira-kira


2 minggu sebelum pasien dirawat di RSKD pertama kali. Sebelum
pasien sakit, pasien seorang yang rajin, bisa bekerja di dalam
komunitas dengan baik dan mempunyai banyak teman.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


Trauma (-)
Infeksi (-)
Kejang (-)

Page | 2

NAPZA :
a.
b.
c.
d.

Narkotika
(-)
Alkohol
(-)
Psikotropika
(-)
Zat adiktif lainnya seperti rokok,dll (-)

D. Riwayat kehidupan pribadi


1. Riwayat prenatal dan perinatal (0-1 tahun)
Pasien lahir normal pada 9 April 1988 di rumah ditolong oleh
bidan. Berat bada lahir tidak diketahui. Selama kehamilan, ibu
pasien dalam keadaan sehat. Pada saat bayi pasien tidak pernah
panas tinggi dan kejang.
2. Riwayat Kanak Awal (1-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pasien sama dengan anak lainnya.
Tidak ada masalah perilaku yang menonjol.
3. Riwayat Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien masuk ke Sekolah Dasar (SD) dengan prestasi biasa saja
dan menyelesaikan sampai selesai. Pasien bergaul dengan teman
temannya dengan baik.
4. Riwayat Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)
Pasien bersekolah sampai tingkat SMP. Hubungan dengan keluarga
dan lingkungan sekitar baik.
5. Riwayat Masa Dewasa
a. Riwayat Pekerjaan
Pasien sehari-harinya sebagai IRT.
b. Riwayat Pernikahan
Pasien telah menikah selama 3 bulan dan belum memiliki anak.
c. Riwayat Kehidupan Sosial
Pasien sering bersosialisasi dengan baik pada tetangganya.
d. Riwayat Kehidupan Sekarang
Pasien sekarang tinggal di Desa Pampang Kec. Panakkukang
Makassar bersama suaminya.
E. Riwayat kehidupan keluarga
Pasien merupakan anak ke tujuh dari sepuluh bersaudara

(,,,,,,,,,)
Hubungan dengan keluarga terganggu, hubungan dengan suami
baik.

Page | 3

Tidak ada riwayat keluarga dengan keluhan yang sama.


F. Situasi Sekarang
Pasien sekarang tinggal bersama suami dan bapaknya. Pasien sudah
menikah selama 3 bulan.
G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya
Pasien tidak sadar bahwa dirinya sakit dan memerlukan pengobatan.

III.

AUTOANAMNESIS
Autoanamnesis pasien dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2014 di
UGD RSKD Dadi pukul 15.00 WITA.
DM

: Selamat siang ibu.?

: Selamat siang dok.

DM

: Saya dokter Aimie,ibu gimana hari ini ? Ibu sudah makan ?

: Barusan tadi ku makan dok.

DM

: Bisa ji saya tanya-tanya bu?

: Ya bisa ji dok.

DM

: Ibu namanya siapa?

: Juleha

DM

: Ibu umur berapa sekarang bu?

: 26 tahun dok.

DM

: Ibu masih ingat tanggal lahir ta?

: Di kampong ka lahir sama mamaku (pasien bicara tidak


nyambung)

DM

: Ibu tinggal dimana dan dengan siapa?

Page | 4

: Di Pampang dok sama suamiku dan bapakku.

DM

: Maaf bu, mama ta masih ada?

: Sudah lama meninggal mi. Sejak umurku masih kecil.

DM

: Kalau boleh tau setiap harinya ibu berkerja sebagai apa?

: Tidak kerja ka dok.

DM

: Ibu tau ki kita lagi di mana ini?

: Saya di rumah sakit.

DM

: Sudah berapa lama disini bu?

: Kira-kira satu minggu kayaknya.

DM

: Siapa yang bawa kita kesini bu ?

: Rahman

DM

: Siapa itu Rahman bu?

: Bapakku itu dok

DM

: Kenapa ki dibawa kesini bu?

: Dia bilang kerna ndak mau minum obat. Di bilang sakit ka,
baru ndak sakit ka.

DM

: Menurut bapakta, katanya ibu sering mengamuk dan marahmarah di rumah. Kenapa begitu bu?

: Saya mengamuk karena saya jengkel. Karena sering saya


digangguin.

DM

: Siapa yang gangguin kita?

Page | 5

: Tidak tau juga soalnya tidak kulihatki orangnya, hanya


kudengar ji suaranya.

DM

: Siapa yg bicara? Suara laki-laki atau perempuan?

: Kadang laki-laki, kadang perempuan dok.

DM

: Cuma kita sendiri yang dengar bisikan itu?

: Saya tidak tau kalau ada orang lain yang dengar.

DM

: Apa yang dibisikan ki?

: Diejek-ejek (jelek, bodoh, kadang dimaki juga).

DM

: Ada lagi yg kita dengar?

: Sering saya bicara ki sama itu orang yang bisikin, sering


beda pendapat sama saya makanya saya marahki.

DM

: Kapan kita dengar suara-suara bisikan?

: Malam, Pagi, Siang pokoknya kapan-kapan saja dia mau.

DM

: Sejak kapan kita dengar suara-suara bisikan itu?

: Tahun lalu dok, sejak sebelum ke sini lagi.

DM

: Kapan terakhir ibu dengar?

: Baru tadi dok.

DM

: Selalunya ibu di bisik begitu? Apa seperti menyuruh atau


mengatur?

: Banyak hal yang dibisikin dok.

DM

: Ada bisikan itu yang suruh untuk kita mengamuk?

: Itu ji. Sering saya di ejek, dikatai, dimaki makanya saya marah ki.

Page | 6

DM

: Kalau di rumah bisa ji tidur bu?

: Bisa ji dok

DM

: Ibu biasa lihat bayang-bayangan yang ikut ki?

: Ndak ada (sambil melihat kiri kanan)

DM

: Ibu sudah menikahkah?

: Tunggumi nah nanti datang suami ku kasi keluar ka, mau ka


pulang (pasien bicara tidak nyambung mula kelihatan gelisah).

DM

: Ibu 100 kurangi 7 itu berapa?

: Nda tau mi (sambil senyum-senyum)

DM

: Ibu dengar ya apa yang saya bilang nanti di ulang kembali.


Anjing, ayam, kambing. Coba ulang bu.

: Anjing , ayam , kambing

DM

: Ingat ya kata-kata itu bu. Ibu, kita tau apa bedanya semangka
sama apel?

IV.

: Satu besar satu kecil.

DM

: Ibu coba ulang lagi 3 kata tadi.

: Anjing, ayam, kambing. Sudah mi dok capek.

DM

: Ya bu mekasih. Silakan istirehat.

PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGI


Dilakukan pada tanggal 25 Oktober 2014.
1. Status Internus
Keadaan umum : Baik
Tanda Vital
:
- Tekanan darah :120/80 mmHg
- Nadi
: 68x/menit
- Pernafasan
: 20x/menit
Page | 7

V.

- Suhu
: 36,50C
2. Status Neurologis
Composmentis
GCS
: 15 (E4M6V5)
Motorik dan sensorik : Normal
Refleks Patologis : (-)
STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum :
1) Penampilan
Tampak seorang perempuan menggunakan dress hitam bintikbintik putih, celana pendek kuning, sarung kotak-kotak putih.
Wajah sesuai umur. Perawakan sedang dan perawatan diri
kurang.
2) Kesadaran
Berubah
3) Perilaku dan aktivitas psikomotor
Cukup tenang
4) Sikap terhadap pemeriksa
Kooperatif
5) Pembicaraan
Spontan, lancar, intonasi biasa
A. Keadaan Afektif
1) Mood
: Sulit dinilai
2) Afek
: Restriktif
3) Keserasian
: Tidak serasi
4) Empati
: Tidak dapat dirabarasakan
B. Fungsi Intelektual (kognitif)
1) Taraf pendidikan : Sesuai dengan taraf pendidikan
2) Orientasi :
a. Waktu
: Baik
b. Tempat: Baik
c. Orang
: Baik
3) Daya ingat :
a. Jangka panjang
: Baik
b. Jangka sedang
: Baik
c. Jangka Pendek
: Baik
d. Jangka Segera
: Baik
4) Konsentrasi dan perhatian
: Baik
5) Bakat Kreatif
: Tidak ada
6) Kemampuan menolong diri sendiri
: Baik
C. Gangguan Persepsi :
1) Halusinasi
: Ada, auditorik (pasien mendengar suara
suara laki-laki dan perempuan yang bersifat ejekan)
2) Ilusi
: Tidak ada

Page | 8

3) Depersonalisasi : Tidak ada


4) Derealisasi
: Tidak ada
D. Pikiran
1) Arus pikiran
:
a. Produktivitas
: Cukup
b. Kontinuitas
: Kadang irelevan, koheren
c. Hendaya berbahasa : Tidak ada
2) Isi pikiran
a. Preokupasi
: Tidak ada
b. Gangguan isi pikiran : Tidak ada
E. Pengendalian Impuls : Baik
F. Daya Nilai dan Tilikan
1) Norma sosial
: Terganggu
2) Uji daya nilai
: Terganggu
3) Penilaian realita : Terganggu
4) Tilikan
: Tilikan 1 (Pasien tidak merasa dirinya
sakit)
G. Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya
VI.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Seorang perempuan 26 tahun dibawa ke RSKD oleh keluarganya
untuk kedua kalinya dengan keluhan mengamuk yang dialami sejak tadi
pagi. Saat mengamuk pasien marah-marah dan memukul bapaknya serta
mengumpulkan dan membuang barang-barang bapaknya. Pasien sering
bicara sendiri, ketawa sendiri, dan selalu jalan keluar rumah sendirian.
Pasien juga sering bicara tidak nyambung. Hal ini dialami kurang lebih
sejak satu tahun yang lalu.
Pasien pernah dirawat pertama kali di RSKD Dadi pada bulan juli
tahun 2013. Pasien dibawa oleh kakaknya atas keluhan gelisah. Gelisahnya
disertai tidak mau makan dan minum, selalu jalan mundar-mandir dan mau
keluar rumah. Saat itu pasien berbicara sendiri, tertawa sendiri, terdengar
suara laki-laki dan perempuan serta bicaranya tidak nyambung. Pasien
dirawat pertama kali selama

1 minggu. Setelah keluar dari RSKD

Dadi, pasien dapat beraktifitas, berkomunikasi dan beribadah dengan baik.


Pasien diberi obat haloperidol 1,5 mg, Chlorpromazin 100 mg dan
Trihexyphenidyl 2 mg. Pasien malas minum obat dirumah.

Page | 9

Pasien mengalami hendaya sosial, hendaya pekerjaan dan hendaya


penggunaan waktu senggang. Saat pasien sakit, pasien tidak dapat
berinteraksi sebagaimana mestinya dengan tetangga maupun keluarganya.
Pasien juga tidak dapat bekerja seperti biasa yaitu sebagai pekerja toko
seperti sebelumnya. Pasien tidak dapat beraktivitas seperti biasa.
Perubahan perilaku disebabkan pasien mengalami

stressor

psikososial yaitu lamaran pacarnya ditolak oleh keluarganya kira-kira 2


minggu sebelum pasien dirawat di RSKD pertama kali. Sebelum pasien
sakit, pasien seorang yang rajin, bisa bekerja di dalam komunitas dengan
baik dan mempunyai banyak teman.
Pada pemeriksaan status mental tampak seorang perempuan
menggunakan dress hitam bintik-bintik putih, celana pendek kuning,
sarung kotak-kotak putih. Wajah sesuai umur. Perawakan sedang dan
perawatan diri kurang. Kesadaran berubah, perilaku dan aktivitas
psikomotor cukup tenang. Pembicaraan spontan, kesan lancar, intonasi
biasa. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Keadaan afektif mood sulit
dilihat, afek restriktif, empati tidak dapat dirabarasakan. Fungsi intelektual
(kognitif)

taraf

pendidikan,

pengetahuan

umum

dan

kecerdasan

sesuai,daya konsentrasi baik, orientasi waktu, orang dan tempat baik, daya
ingat baik, pikiran abstrak baik. Kemampuan menolong diri sendiri cukup.
Gangguan persepsi terdapat halusinasi auditorik. Pada proses berpikir, arus
pikir dan produktivitas kadang irelevan dan koheren. Isi pikiran tidak
terdapat gangguan. Norma sosial, uji daya nilai, dan penilaian realitas
terganggu. Termasuk dalam tilikan 1, secara umum apa yang disampaikan
VII.

pasien dapat dipercaya.


EVALUASI MULTI AKSIAL
1. Aksis I
Berdasarkan alloanamnesis, autoanamnesis dan pemeriksaan status
mental didapatkan gejala klinis yang bermakna yaitu mengamuk,
marah-marah dan memukul bapaknya serta mengumpulkan dan
membuang barang bapaknya. Bicaranya tidak nyambung, dengar sura
kadang laki-laki kadang perempuan, berbicara sendiri dan tertawa
sendiri, keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) pada pasien
Page | 10

dan keluarga serta terdapat hendaya (disability) pada fungsi


psikososial, pekerjaan dan penggunaan waktu senggang sehingga dapat
disimpulkan bahwa pasien menderita gangguan jiwa.
Pada pemeriksaan status mental ditemukan hendaya berat dalam
menilai realitas berupa daya tilik yang buruk dan daya nilai norma
sosial yang terganggu, hendaya berat dalam fungsi mental berupa
halusinasi auditorik serta hendaya berat dalam fungsi sosial berupa
ketidakmampuan membina relasi dengan orang lain sehingga pasien
tidak mampu lagi bekerja, sehingga didiagnosis sebagai gangguan
jiwa psikotik.
Pada pemeriksaan status internus dan neurologik tidak ditemukan
adanya kelainan, sehingga kemungkinan adanya gangguan mental
organik dapat disingkirkan dan didiagnosis sebagai gangguan jiwa
psikotik non organik.
Dari alloanamnesis, autoanamnesis, dan pemeriksaan status mental
didapatkan perawatan diri kurang, afek yang restriktif, pembicaraan
kadang irelevan dan koheren. Terdapat halusinasi auditorik yang
menonjol dan telah dialami lebih dari satu bulan, sehingga memenuhi
kriteria diagnosis skizofrenia (F20). Pada pasien ini gejala yang ada
memenuhi kriteria untuk dikatakan sebagai skizofrenia sehingga
berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
III, diagnosis diarahkan pada skizofrenia ytt.
2. Aksis II
Ciri keperibadian tidak khas, pasien seorang yang rajin bekerja,bisa
bekerja di dalam komunitas dengan baik dan mempunyai banyak
teman
3. Aksis III
Tidak ada diagnosis.
4. Aksis IV
Stressor pasien adalah keluarga pasien pernah menolak lamaran dari
pacarnya
5. Aksis V
GAF (Global Assesment Functioning) Scale 50-41 (gejala berat,
VIII.

disabilitas berat)
DAFTAR MASALAH

Page | 11

1. Organobiologik

:Tidak ditemukannya kelainan fisik yang bermakna,

namun karena terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga


membutuhkan psikofarmaka
2. Psikologi
:Ditemukan adanya hendaya dalam kehidupan
sehari-hari

sehingga

menimbulkan

gejala

psikis

dan

pasien

membutuhkan psikoterapi.
3. Sosiologik
:Ditemukan adanya hendaya dalam bidang sosial,
pekerjaan

dan

penggunaan

waktu

senggang

sehingga

pasien

membutuhkan sosioterapi.
IX. PROGNOSIS
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prognosis pasien
A. Faktor pendukung :
Dukungan dari keluarga baik
Tidak ada riwayat yang sama dalam keluarga
B. Faktor penghambat :
Faktor pencetus yang jelas yaitu perubahan perilaku mula
kelihatan setelah lamaran pacarnya di tolak keluarga.
Pasien tidak mau meminum obatnya secara teratur
Prognosis :Dubia
X. DISKUSI
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis yang beragam dan berubah-ubah
dan sangat mengganggu, sebuah kumpulan gejala psikopatologi yang
melibatkan fungsi kognitif, emosi, persepsi, dan aspek perilaku lainnya.
Gambaran manifestasinya tidak selalu sama pada tiap pasien dan pada setiap
episode perjalanan penyakitnya, namun efek yang ditimbulkan gangguan ini
selalu berat dan perlangsungannya dalam waktu yang lama. Gangguan
skizofrenia umumnya ditandai oleh adanya penyimpangan dari pikiran dan
persepsi yang mendasar dan khas, dan adanya afek yang tidak wajar atau
tumpul. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tidak
terganggu, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian.
Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ
III) untuk mendiagnosis skizofrenia (F. 20) jika memenuhi kriteria berikut :

Page | 12

Harus ada sedikitnya 1 gejala berikut ini yang begitu jelas :


a. Thought
Tought of echo
Tought of insertion or withdrawal
Thought broadcasting
b. Delusion
Delusion of control
Delution of influence
Delusion of passivity
Delusion of perception
c. Halusinasi auditorik
- Suara halusinasi yang berkomentar terus-menerus
-

terhadap perilaku pasien, atau


Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri,

atau
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salahsatu

bagian tubuh.
d. Waham
Waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan suatu yang mustahil


Atau paling sedikit 2 gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
a. Halusinasi yang menetap dari panca indera saja
b. Arus pikiran yang terputus, mengalami sisipan yang berakibat irrelevant
atau inkoheren atau neologism
c. Perilaku katatonik (gangguan tingkahlaku seperti gaduh-gelisah,
negativism, mutisme, stupor, memperthankan posis tubuh tertentu)
d. Gejala-gejala negative, atau gangguan afek seperti apatis, bicara yang
sangat jarang, respon emosional yang tumpul dan tidak wajar

Adanya gejala-gejala yang tidak khas tersebut diatas telah berlangsung


selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase

nonpsikotik prodromal)
Harus ada sesuatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior)
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tanpa tujuan, tidak berbuat
sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan
penarikan diri secara sosial.

Page | 13

Pada pasien ini ditemukan 1 gejala yang jelas yaitu terdapat halusinasi
auditorik dimana pasien selalu mendengar suara-suara kadang laki-laki kadang
perempuan, berbicara sendiri dan seperti orang yang berdiskusi. Selain itu pada
autoanamnesis didapatkan arus pikiran yang berupa pembicaran yang kadang
irelevan dan koheren, dan afek restriktif. Terdapat perubahan perilaku pasien
yang sering memarahi keluarga, memukul dan membuang barang-barang
bapanya.
Medikasi yang diberikan adalah antipsikotik untuk menghilangkan/
mengurangi gejala psikosis dominan gejala positif seperti waham yang
menonjol dan halusinasi juga gangguan perasaan yang tidak sesuai situasi dan
perilaku yang tidak terkendali dapt juga dikurangi oleh obat ini. Dalam
memilih obat psikotik juga harus dipertimbangkan gejala psikotik yang
dominan dan efek sampingnya.
Medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia. Pada pasien
ini diberikan antipsikotik generasi pertama yang potensial tinggi yakni
haloperidol. Obat antipsikotik generasi pertama bekerja dengan memblok
reseptor D2 di jalur mesolimbik dopamin pathways sehingga menurunkan
hiperaktivitas dopamin dengan demikian obat ini efektif untuk gejala positif
seperti halusinasi dan waham. Haloperidol memiliki afinitas yang kuat
terhadap reseptor D2. Kadar puncak plasma haloperidol dicapai dalam waktu
2-6 jam setelah pemberian oral dan dalam waktu 20 menit setelah pemberian
intramuskular. Waktu paruhnya antara 10-12 jam. Diekskresi dengan cepat
melalui urine dan tinja dan berakhir dalam 1 minggu setelah pemberian. Untuk
terapi awal pemberian monoterapi haloperidol merupakan antipsikotik tipikal
yang poten untuk mengatasi gejala positif pada pasien ini. Pemberian
haloperidol pada pasien ini yaitu 5 mg 3 kali sehari. Dimana dosis anjuran
haloperidol berkisar antara 5-15 mg/hari. Haloperidol termasuk antipsikosis
tipikal tapi juga memiliki efek sebagai anti manik. Pada pasien pertimbangan
pemberian antipsikotik tipikal lainnya adalah untuk mengambil efek sedasinya
karena pada pasien ini ditemukan banyak gaduh gelisah, dan disorganisasi
pikiran dengan perasaan sehingga sebaiknya diberikan pada malam hari.

Page | 14

Pemberian Trihexyphenidyl dianjurkan untuk memperbaiki gejala-gejala


ekstrapiramidal pasien karena pemberian antipsikotik.
Intervensi psikososial juga dapat memperkuat perbaikan klinis. Terapi
berorientasi keluarga dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan tentang
gangguan yang dialami pasien dan menciptakan suasana yang baik agar
mendukung proses pemulihan pasien.
Untuk menentukan prognosis dari pasien diatas dapat ditentukan dari
beberapa faktor seperti faktor penunjang dan faktor penghambat. Pada pasien
ini faktor penunjangnya yaitu dimana kelurga sangat mendukung pasien agar
pasien tetap semangat dalam menjalani pengobatan, dan juga karena tidak
adanya riwayat gejala atau penyakit yang sama dalam keluarga. Faktor
penghambat pada pasien ini yaitu adanya riwayat pasien yang suka tidak
teratur meminum obatnya. Maka dari faktor-faktor tersebut maka prognosis
dari pasien adalah Dubia.
XI. RENCANA TERAPI
1. Psikofarmakoterapi :
Haloperidol tablet 1,5 mg 2x1
Trihexyphenidyl 2 mg 3x1
2. Psikoterapi suportif
:
Ventilasi
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi

pikirannya atau kecemasannya sehingga pasien merasa lega


Konseling
Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang
penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya dan memahami
cara menghadapinya, serta tetap memotivasi pasien agar tetap

minum obat secara teratur.


3. Sosioterapi
:
Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang
terdekat pasien tentang gangguan yang dialami oleh pasien, sehingga
tercipta dukungan moral dan lingkungan yang kondusif sehingga
XII.

membantu proses penyembuhan pasien.


FOLLOW UP

Page | 15

Memantau keadaan dan perkembangan pasien dan menilai efektivitas


dari

pengobatan

serta

kemungkinan

terjadinya

efek

samping

dari

farmakoterapi yang diberikan.

Page | 16