Anda di halaman 1dari 8

III.

METODELOGI

3.1. Waktu dan Tempat


adapun waktu pelaksanaan praktikum ini pada tanggal 22 oktober 2015, pukul 15.00
WIB bertempat di laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas
Lampung.

3.2. Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : aerator, pH meter,
refraktometer, DO meter, thermometer,jarum suntik, tabung hematokrit, timbangan
analitik kaca, cawan petri, spreader, pembakar Bunsen,mikropipet, tip,
hemocytometer, vortex, sentrifuge, erytoseal, lemari pendingin, tabung eppendorf,
autoclave, dan inkubator.
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : aquades, formalin
10%,alcohol 70%, ikan nila 5 ekor,vitamin C, methanol 100%, larutan EDTA 10% ,
etanol 95 % dan larutan Giemsa 10%

3.3. Cara Kerja


3.3.1. Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan darah dilakukan melalui vena caudalis yang beradadi pangkal ekor ikan
menggunakan spuit dan disimpan dalam tabung eppendorf. Sebelumnya, jarum suntik
dan tabung eppendorf dibilas dengan larutan EDTA 10% untuk menncegah
pembekuan darah. Pengambilan sampel darah ikan dilakukan pada hari ke- 0
( sebelum penambahan vitamin C), hari ke-7, hari ke- 14, dan hari ke-21.

3.3.2. Pengukuran Kadar Hematokrit


Prosedur pengamatan dan penghitungan kadar hematokrit menurut Anderson dan
swicki (1993), adalah sebagai berikut :
1. Darah dihisap menggunakan mikrohematokrit berlapis heparin dengan sistem
kapiler. Setelah darah mendapai bagian tabung, kemudian salah satu ujung
tabung disumbat dengan eritoseal.
2. Tabung kapiler yang telah berisi darah kemudian diputar dengan sentrifuge
pada 6000 rpm selama 5 menit.
3. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan volume benda darah terhadap
volime seluruh darah menggunakan skala hematokrit.
3.3.3.Perhitungan Total Leukosit
Perhitungan total leukosit menurut Blaxhall dan Daisley (1973), adalah sebagai
berikut :
1. Bilik hitung haemocytometer dan kaca penutupnya dibersihkan dengan larutan
etanol, kemudian kaca penutup dipasang pada haemocytometer.
2. Sampel darah dihisap dengan pipet berskala samapai 0,5 dilanjutkan dengan
menghisap larutan turk (acetic acid glacial 1-1,5 ml ; gentian violet 0,1 gr,
aquades 100ml) sampai skala 11 ( pengenceran 1 :20), kemudian digoyangkan
selama 3 menit agar tercampur homogen.
3. Empat tetesan pertama dibuang, tetesan berikutnya dimasukan kedalam
haemocytometer dengan meletakkan ujung pipet pada bilik hitung tepat batas
kaca penutup dan dibiarkan selama 3 menit agar leukosit mengendap dalam
bilik hitung.
4. Bilik hitung tersebut diletakkan dibawah mikroskop menggunakan
pembesaran lemah. Penghitungan dilakukan pada 4 kotak besar
haemocytometer .
Kadar hematokrit volume sel darah merah x 100% total darah
3.3.4. Penghitungan Differensial Leukosit
Perhitungan diferensial leukosit (neutrofil, monosit, dan limfosit) menurut Amlacher
(1970) adalah sebagai berikut :
1. Setetes darah ditempatkan di atas gelas objek yang bersih ( direndam
methanol) lalu ujung gelas objek kedua di tempatkan di atas gelas objek
pertama hingga membentuk sudut 30o

2. Gelas objek kedua digeser kearah belakang menyentuh tetesan darah hingga
menyebar. Kemudian gelas onjek kedua digeser kearah berlawanan hingga
terbentuk lapisan tipis darah, dibiarkan hingga kering.
3. Preparat difiksasi dengan methanol absolute selama 5 menit, lalu diangkat dan
dibiarkan kering diudara.
4. Pewarnaan preparat dilakukan selama 10 menit dalam wadah pewarnaan
dengan larutan giemsa, lalu diangkat dan dibilas dengan air mengalir,
kemudian dibiarkan kering udara
5. Preparat ulas darah kemudian ditempatken di bawah miroskop, diberi imersi,
dan diamati dengan pembesaran 100 kali. Kemudian dihitung jenis- jenis
leukosit dan dihitung persentasenya.

PENGARUH SUPLEMENTASI IMUNOSTIMULAN DALAM PAKAN


TERHADAP KETAHANAN TUBUH IKAN NILA GIFT (Oreocromis sp)
(Laporan Praktikum Imunologi Ikan)

Oleh :
Muthia Yuli Astuti
1314111039

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Budidaya ikan Nila (Oreocromis niloticus) sangat banyak dilakukan oleh para
pembudidaya mereka berasumsi selain ikan mas dan ikan lele, ikan nila merupakan
suatu pilihan yang baik dalam melalakukan produksi dengan keuntungan yang
memuaskan.
Sebagai salah satu dari sekian banyaknya jenis komoditas ikan air tawar, ikan Nila
(Oreocromis niloticus) mendapat apresiasi tersendiri dari para penikmatnya, bahkan
pemerintah dan instansi perikanan terkait. Dimana, ikan nila sendiri mempunyai suatu
kelebihan dalam tubuhnya.
ikan

Nila

(Oreocromis

niloticus)

memiliki

banyak

keunggulan

seperti

pertumbuhannya yang cepat, mudah dipijah dan dibiakkan,serta yang paling penting
adalah ikan ini sangat toleransi terhadap perubahan lingkungan yang ada di
sekitarnya, serta tingkat ketahanan hidup yg tinggi pada saat fluktuasi kualitas air
pada habitatnya.
Dan yang paling penting ikan nila sangat dibutuhkan sebagai bahan pakan karna
mengandung kadar protein dan gizi yang baik jika dikonsumsi. sehingga dapat
dimanfaatkan

dengan

baik

oleh

masyarakat

dan

pembudidaya

dalam

membudidayakannya.

I.2. Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum ini yaitu:
1. Mempelajari pengaruh imunostimulan sebagai suplemen pakan ikan dengan
konsentrasi yang berbeda
2. Mengetahui konsentrasi imunostimulan yang tepat dalam budidaya ikan.

II.
II.1.

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi ikan Nila

Klasifikasi ikan Nila adalah sebagai berikut:


Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Sub Filum
: Vertebrata
Kelas
: Pisces
Sub Kelas
: Teleosin
Ordo
: Percormorphii
Sub Ordo
: Percoidae
Famili
: Cichlidae
Genus
: Oreochromis
Spesies
: Oreochromis Niloticus
Ikan nila memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres) dengan profil
empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung
(terminal) dan dapat disembuhkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal
dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan
nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur.
Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan
dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak
kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari
dorsal yang keras, begitu pun bagian analnya.
Dengan

posisi

sirip

anal

di

belakang

sirip

dada

(abdorminal)

Ikan nila memiliki tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik
tergabung menjadi satu. Eksoskleton Ostracodermi mempunyai kesamaan dengan
dentin pada kulit. Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada
gigi vertebrata. Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge
dan di bawahnya lagi terdapat tulang padat. Tulang palato-quadrat dan kartilago
Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah.

II.2.

Sistem imun spesifik dan non spesifik

2.3. Komponen Darah


- Pengertian Darah
Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital
keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zatzat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan
pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti
trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari
serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh (Dopongtonung, A. 2008).
- Sel darah putih (Leukosit)
Sel darah putih (leukosit) memiliki jumlah antara 20000 s.d. 150000 tiap mm 3 darah.
Leukosit dapat dibedakan menjadi dua yaitu granulosit (leukosit yang bergranula) dan
agranulosit (leukosit yang tidak bergranula). Berdasarkan penyerapan warna,
granulosit terdiri dari neutrophil, acidophil (eosinophil) dan basophil. Agranulosit
yang merupakan komponen terbesar leukosit terdiri dari limposit, monosit dan
trombosit (Hadie L. E., L.E. Hadie, Sutyarso, Sudarti. 1999).
Leukosit memiliki ciri-ciri tidak berwarna dan jumlah leukosit ikan lele sehat berkisar
antara (20-150)x106 sel/ml (Bastiawan dkk. 2001 dalam Alamanda 2006).
- Plasma Darah
Plasma darah Unsur ini merupakan komponen terbesar dalam darah, karena lebih dari
separuh darah mengandung plasma darah. Hampir 90% bagian dari plasma darah
adalah air. Plasma darah berfungsi untuk mengangkut sari makanan ke sel-sel serta
membawa sisa pembakaran dari sel ke tempat pembuangan. Fungsi lainnya adalah
menghasilkan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit atau zat antibodi (Afandi R dan
Tang U.M. 2002).
- Sel darah merah (Eritrosit)
Ikan sebagaimana vertebrata lain, memiliki sel darah merah (eritrosit) berinti dan
berwarna merah kekuningan dengan bentuk dan ukuran bervariasi antara satu species

dengan lainnya. Eritrosit dewasa berbentuk lonjong, kecil dan berdiameter 7-36
mikron tergantung pada spesies ikannya. Jumlah eritrosit pada masing-masing species
juga berbeda, tergantung aktivitas ikan tersebut. Pada ikan yang memiliki aktivitas
tinggi seperti ikan predator blue marlin ( Makaria nigricans ) memiliki hematokrit
43% dan mackerel 52,5%, sedangkan pada ikan nototheniid ( Pagothenia bermachii )
hanya 21%. Tiap-tiap mm darah berkisar antara 20000 s.d. 3000000. Pengangkutan
oksigen dalam darah bergantung kepada jumlah hemoglobin (pigmen pernapasan)
yang terdapat dalam eritrosit (Mulyani, S. 2006).
2.4.

Vitamin C dan Pengaruhnya di dalam pakan