Anda di halaman 1dari 23

Prevalensi TBC di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru

Ambon Tahun 2007 2011

Proposal Penelitian

NAMA
NIM

: NURUL AMNAH ROSALINA HUKOM


: 2008 83 018

Pembimbing I

: dr. Mulyati Amir, Sp.P

Pembimbing II

: dr. Vina Latuconsina

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITASPATTIMURA
AMBON
2012

BAB III
METODE PENELITIAN

III.1

Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif berdasarkan
dari hasil rekam medik, dengan maksud memperoleh informasi tentang prevalensi
penderita TBC di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Ambon.

III.2

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Ambon
dan dilaksanakan segera setelah proposal ini diseminarkan.

III.3

Populasi dan Sampel


III.3.1 Populasi
Adalah semua penderita TBC yang pernah berobat di Balai Pengobatan
Penyakit Paru-Paru Ambon selama periode Januari 2007 - Desember 2011.
III.3.2 Sampel
Adalah semua penderita TBC yang datang berobat di Balai Pengobatan
Penyakit Paru-Paru Ambon selama periode Januari 2007 - Desember 2011
yang tercatat di bagian rekam medik dan mempunyai kriteria diagnosis
WHO.

III.4

Teknik Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan metode observasi, dengan cara melakukan
pengamatan secara langsung di lapangan. Data yang di ambil adalah data sekunder
yakni dengan mengumpulkan data rekam medis penderita TBC di BPKM Ambon
mulai tahun 2007 - 2011

III.5

PENGOLAHAN DATA
Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan program komputer
SPSS kemudian disajikan dalam bentuk tabel secara deskriptif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Pengertian1,4,8,9
Tuberkulosis adalah sebuah penyakit infeksi menular yang berlangsung lama
(kronik) dan persisten/menetap yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai
organ tubuh lainnya. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga
dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan
oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya
bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TB pada paru-paru
kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP). kuman TB cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan
lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama
beberapa tahun.
Adapun klasifikasi penyakit TB dapat dibagi menjadi dua yaitu Tuberkulosis
paru (Tuberkulosis paru BTA Positif,Tuberkulosis paruBTA Negatif) dan Tuberkulosis
ekstra paru (Tuberkulosis ekstra paru ringan,Tuberkulosis ekstra paru berat).

II. 2

Epidemiologi1,3,5
Epidemiologi Global, TB dianggap sebagai masalah kesehatan dunia yang
penting karena kurang 1/3 penduduk dunia terinfeksi oleh mycobacterium TB. Pada
tahun 1998 ada 3.617.047 kasus TB yang tercata di dunia.
Sebagian besar dari kasus TB ini (95%) dan kematian (98%) terjadi di negaranegara yang sedang berkembang. Di antara mereka 75% berada pada usia produktif
20-49 tahu. Karena pendudut yang padat dan tingginya prevalensi maka lebih dari
65%dari kasus-kasus TB yang baru dan kematian yang muncul di Asia.
Alasan utama munculnya atau meningkatnyabeban TB global ini antara lain
disebabkan : 1. Kemiskinan pada berbagai penduduk, tidak hanya pada negara-negara
berkembang tetapi juga pada penduduk perkotaan tertentu di negara maju. 2. Adanya

perubahan demografi dengan meningkatnya penduduk dunia dan adanya perubahan


struktur usia manusia yang hidup. 3. Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi
terutama pada negara-negara miskin. 4. Tidak memadainya pendidikan mengenal TB
di antara para dokter. 5. Terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik,
dan pengawasan kasus TB dimana terjadi deteksi dan tatalaksana kasus yang tidak
adekuat. 6. Adanya epidemi HIV terutama di Afrika dan Asia.
Epidemiologi TB di Indonesia, Indonesia saat ini berada pada ranking kelima
negara dengan beban TB tertinggi didunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus
adalah sebesar 660,000 dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per
tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Angka
prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar
antara 27 sampai 680 kasus per 100.000 penduduk. Kamboja merupakan negara
dengan prevalensi tuberculosis tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100.000 penduduk.
Sedangkan Singapura dan Brunei Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di
bawah 50 kasus per 100.000 penduduk yaitu masing- masing 27 dan 43 kasus per
100.000 penduduk.
Pencapaian CDR pada tahun 2009 sebesar 73,1%. Angka ini telah memenuhi
target minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%. Pada tingkat provinsi, CDR
tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 85,2%, diikuti DKI Jakarta
sebesar 81% dan Banten sebesar 77,7%. Sedangkan provinsi dengan CDR terendah
adalah Kalimantan Tengah sebesar 30,6% diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar
31,1% dan Kepulauan Riau sebesar 32,3%. Hanya terdapat 5 provinsi yang telah
memenuhi target CDR 70%, yaitu Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Banten, Maluku, dan
Jawa Barat.

II. 3

Faktor yang Mempengaruhi Kemungkinan Seseorang Menjadi Penderita TB


1. Daya tahan tubuh yang rendah kemampuan untuk melawan infeksi adalah
kemampuan pertahanan tubuh untuk mengatasi organisme yang menyerang.
Kemampuan tersebut tergantung pada usia yang terinfeksi. Namun kekebalan
tubuh tidak mampu bekerja baik pada setiap usia. Sistem kekebalan tubuh lemah
pada saat kelahiran dan perlahan-lahan menjadi semakin baik menjelang usia 10

tahun. Hingga usia pubertas seorang anak kurang mampu mencegah penyebaran
melalui darah, sekalipun lambat laun kemampuan tersebut akan meningkat sejalan
dengan usia.
2. Pekerja kesehatan yang merawat pasien TB dengan dahak yang positif pada
hapusan langsung(TB tampak di bawah mikroskop) jauh lebih menular, karena
mereka memproduksi lebih banyak TB dibandingkan dengan mereka yang hanya
positif positif pada pembiakan. Makin dekat seseorang berada dengan pasien,
makin banyak kuman TB yang mungkin akan dihirupnya.
3.

Gizi buruk Terdapat bukti sangat jelas bahwa kelaparan atau gizi buruk
mengurangi daya tahan terhadap penyakit ini. Faktor ini sangat penting pada
masyarakat miskin, baik pada orang dewasa maupun pada anak. Kompleks
kemiskinan seluruhnya ini lebih memudahkan TB berkembang menjadi penyakit.
Namun anak dengan status gizi yang baik tampaknya mampu mencegah
penyebaran penyakit tersebut di dalam paru itu sendiri.

4. Pengidap infeksi HIV/AIDS, Pengaruh infeksi HIV/AIDS mengakibatkan


kerusakan luas system daya tahan tubuh, sehingga jika terjadi infeksi seperti
tuberculosis maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka
jumlah penderita TBC akan meningkat,dengan demikian penularan TBC di
masyarakat akan meningkat pula.
II. 4

Etiologi1,2 ,9
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan
batangaerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar
UV.Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan
M.Avium.

II. 5

Cara Penularan1,2,4,8,9
Penyakit TB biasanya menular melalui udara yakni pada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan
dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi apabila droplet tersebut terhirup ke

dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TBC masuk kedalam tubuh lainnya melalui
pernafasan, kuman TBC tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya,
melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran
langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya, seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran
pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ
tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
Saat Mycobacterium Tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka
dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya
melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat
melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme
pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan
bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang
sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap
dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan
tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel
bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam
paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak).
Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami
pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TB.
Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan oleh konsentrasi droplet
dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Masa inkubasi yang perlukan
mulai terinfeksi oleh kuman sampai menjadi sakit diperkirakan sekitar 6 bulan.
II. 6

Klasifikasi TB1,9
A. Klasifikasi berdasarkan ORGAN tubuh yang terkena:
1) Tuberkulosis paru Adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.
tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar

limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lainlain.
B. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DAHAK mikroskopis
1) Tuberkulosis paru BTA positif
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS
pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif, Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru
BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
a) Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
C. Klasifikasi berdasarkan tingkat kePARAHan penyakit
1) TB paru BTA negatif foto toraks positif
dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan.
Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru
yang luas dan atau keadaan umum pasien buruk.
2) TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.

b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis peritonitis,


pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih
dan alat kelamin.
D. Klasifikasi berdasarkan RIWAYAT pengobatan sebelumnya
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa
tipe pasien, yaitu:
1) Kasus Baru Adalah pasien yang BELUM PERNAH diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kasus Kambuh (Relaps) Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis
kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3) Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO) Adalah pasien TB yang telah berobat
dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
4) Kasus Gagal (Failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif
atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang
memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
WHO 1991 berdasarkan terapi membagi TB dalam 4 kategori yakni :
Kategori I ditujukan terhadap :

Kasus baru dengan sputum positif

Kasus baru dengan bentuk TB berat

Kategori II ditujukan terhadap :

Kasus kambuh

Kasus gagal dengan sputum BTA positif

Kategori III ditujukan terhadap :

Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas.

Kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I

Kategori IV, ditujukan terhadap : TB kronik


II. 7

Patogenesis1,2,4,9
Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan
keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat
menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar
ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana yang lembab dan
gelap kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi
ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran napas atau jaringan parut.
Partikel dapat masuk karena ukurannya yang sangat kecil (< 5 mikrimeter), kuman TB
dalam droplet nuclei yang terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini
akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan
menfagosit kuman TB dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman
TB. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan
kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag
yang terus berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut.
Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN.
Dari focus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar
limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus
primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe
(limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika focus primer
terletak di lobus paru bawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah
kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika focus primer terletak di apeks paru, yang
akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan gabungan
antara focus primer, kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran
limfe yang meradang (limfangitis).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya
kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda

dengan pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang
diperlukan sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi
TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12
minggu. Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.
Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan
logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi
terhadap tuberculin, mengalami perkembangan sensitivitas. Pada saat terbentuknya
kompleks primer inilah, infeksi TB primer dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut
ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu
timbulnya respons positif terhadap uji tuberculin. Selama masa inkubasi, uji
tuberculin masih negatif. Setelah kompleks primer terbentuk, imunitas seluluer tubuh
terhadap TB telah terbentuk. Pada sebagian besar individu dengan system imun yang
berfungsi baik, begitu system imun seluler berkembang, proliferasi kuman TB
terhenti. Namun, sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma. Bila
imunitas seluler telah terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan
segera dimusnahkan.
Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di jaringan paru biasanya
mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah
mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga akan
mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak
sesempurna focus primer di jaringan paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap
selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini.
Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. Komplikasi yang terjadi
dapat disebabkan oleh focus paru atau di kelenjar limfe regional. Fokus primer di paru
dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal. Jika terjadi
nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui
bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Kelenjar limfe
hilus atau paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi, akan
membesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. Bronkus dapat terganggu. Obstruksi
parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat menyebabkan ateletaksis.
Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan dapat merusak dan

menimbulkan erosi dinding bronkus, sehingga menyebabkan TB endobronkial atau


membentuk fistula. Massa kiju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada bronkus
sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis dan ateletaksis, yang sering disebut
sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi.
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat terjadi
penyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman menyebar ke
kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. Sedangkan pada penyebaran
hematogen, kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh
tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai
penyakit sistemik.
Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk
penyebaran hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). Melalui cara ini,
kuman TB menyebar secara sporadic dan sedikit demi sedikit sehingga tidak
menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di
seluruh tubuh. Organ yang biasanya dituju adalah organ yang mempunyai
vaskularisasi baik, misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru sendiri, terutama apeks paru
atau lobus atas paru. Di berbagai lokasi tersebut, kuman TB akan bereplikasi dan
membentuk koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi
pertumbuhannya.
Di

dalam

koloni

yang

sempat

terbentuk

dan

kemudian

dibatasi

pertumbuhannya oleh imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk dormant.
Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit, tetapi berpotensi
untuk menjadi focus reaktivasi. Fokus potensial di apkes paru disebut sebagai Fokus
SIMON. Bertahun-tahun kemudian, bila daya tahan tubuh pejamu menurun, focus TB
ini dapatmengalami reaktivasi dan menjadi penyakit TB di organ terkait, misalnya
meningitis, TB tulang, dan lain-lain.
Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran hematogenik
generalisata akut (acute generalized hematogenic spread). Pada bentuk ini, sejumlah
besar kuman TB masuk dan beredar dalam darah menuju ke seluruh tubuh. Hal ini
dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secara akut, yang
disebut TB diseminata. TB diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah
terjadi infeksi. Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB

yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran. Tuberkulosis diseminata terjadi


karena tidak adekuatnya system imun pejamu (host) dalam mengatasi infeksi TB,
misalnya pada balita.
Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized hematogenic
spread dengan jumlah kuman yang besar. Semua tuberkel yang dihasilkan melalui
cara ini akan mempunyai ukuran yang lebih kurang sama. Istilih milier berasal dari
gambaran lesi diseminata yang menyerupai butur padi-padian/jewawut (millet seed).
Secara patologi anatomik, lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm, yang
secara histologi merupakan granuloma.
Bentuk penyebaran hematogen yang jarang terjadi adalah protracted
hematogenic spread. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu focus perkijuan
menyebar ke saluran vascular di dekatnya, sehingga sejumlah kuman TB akan masuk
dan beredar di dalam darah. Secara klinis, sakit TB akibat penyebaran tipe ini tidak
dapat dibedakan dengan acute generalized hematogenic spread. Hal ini dapat terjadi
secara berulang.
Pada anak, 5 tahun pertama setelah infeksi (terutama 1 tahun pertama),
biasanya sering terjadi komplikasi. Menurut Wallgren, ada 3 bentuk dasar TB paru
pada anak, yaitu penyebaran limfohematogen, TB endobronkial, dan TB paru kronik.
Sebanyak 0.5-3% penyebaran limfohematogen akan menjadi TB milier atau
meningitis TB, hal ini biasanya terjadi 3-6 bulan setelah infeksi primer. Tuberkulosis
endobronkial (lesi segmental yang timbul akibat pembesaran kelenjar regional) dapat
terjadi dalam waktu yang lebih lama (3-9 bulan). Terjadinya TB paru kronik sangat
bervariasi, bergantung pada usia terjadinya infeksi primer. TB paru kronik biasanya
terjadi akibat reaktivasi kuman di dalam lesi yang tidak mengalami resolusi sempurna.
Reaktivasi ini jarang terjadi pada anak, tetapi sering pada remaja dan dewasa muda.
Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat terjadi pada 25-30% anak yang terinfeksi
TB. TB tulang dan sendi terjadi pada 5-10% anak yang terinfeksi, dan paling banyak
terjadi dalam 1 tahun tetapi dapat juga 2-3 tahun kemudian. TB ginjal biasanya terjadi
5-25 tahun setelah infeksi primer.

II.8

Tanda dan Gejala1,2,4,8,9,10


Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau
malah banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan.
1. Tanda :

a. Penurunan berat badan


b. Anoreksia
c. Dispneu
d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.
2. Gejala :
a. Demam biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat
dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi
kuman TBC yang masuk.
b. Batuk Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari
batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif
(menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat
pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding
bronkus.
c. Sesak nafas.Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut
dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru.
d. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan
pleuritis)
e. Malaise dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun,
sakit kepala,meriang, nyeri otot, keringat malam.

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau
diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak
dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3
bulan 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA
positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
II.9

Diagnosis1,4
Menurut American Thoracic Society dan WHO 1964 diagnosis pasti
tuberkulosis paru adalah dengan menemukan kuman Mycobacterium Tuberculosae
dalam sputum atau jaringan paru secara biakan. Tidak semua pasien memberikan
sediaan atau biakan sputum yang positif karena kelainan paru yang belum
berhubungan dengan bronkus atau pasien tidak bisa membatukkan sputumnya dengan
baik. Kelainan baru jelas setelah penyakit berlanjut sekali.
Di Indonesia agak sulit menerapkan diagnosis di atas karena fasilitas
laboraturium yang sangat terbatas untuk pemeriksaan pembiakan. Sebenarnya dengan
menemukan kuman BTA dalam sediaan sputum secara mikroskopik biasa, sudah
cukup untuk memastikan diagnosis tuberkulosis paru, karena Mycobacterium atypic
di Indonesia sangat rendah.
Diagnosis tuberkulosis paru masih banyak ditegakkan berdasarkan kelainan
klinis dan radiologis saja. Kesalahan diagnosis dengan cara ini cukup banyak
sehingga memberikan efek terhadap pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Oleh sebab itu dalam diagnosis tuberkulosis paru sebaiknya dicantumkan status klinis,
status bakteriologis, status radiologis dan status kemoterapi. WHO tahun 1991
memberikan kriteria psien tuberkulosis paru.

Pasien dengan sputum BTA positif : 1. Pasien yang pada pemeriksaan


sputumnya secara mikroskopis ditemukan BTA, sekurang-kurangnya pada 2x
pemeriksaan, atau 2. Satu sediaan sputumnya positif disertai kelainan
radiologis yang sesuai dengan gambaran TB aktif, atau 3. Satu sediaan sputum
positif disertai biakan yang positif.

Pasien dengan sputumnya BTA negatif : 1. Pasien yang pada pemeriksaan


sputumnya secara mikroskopik tidak ditemukan BTA sedikitnya pada 2x

pemeriksaan tetapi gambaran radiologis sesuai dengan TB aktif, atau 2. Pasien


yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak ditemukan BTA
sama sekali, tetapi pada pembiakannya positif.
II.9.1 Pemeriksaan Sputum
Mengingat prevalensi TB paru di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap
orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang
tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara
mikroskopis langsung pada pasien remaja dan dewasa, serta skoring pada pasien anak.
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk
penegakan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan dengan mengumpulkan 3
spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa
dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):

S(sewaktu):
Dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali.
Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan
dahak pagi pada hari kedua.

P(Pagi):
Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun
tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.

S(sewaktu):
Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.
Diagnosis TB Paru pada orang remaja dan dewasa ditegakkan dengan

ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui


pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama.
II.9.2 Pemeriksaan Foto Toraks
Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga
sering terjadi overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan
aktifitas penyakit. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.

Indikasi Pemeriksaan Foto Toraks


Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan
pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun
pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi
sebagai berikut:

Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini
pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru
BTA positif.

Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS
pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT(non fluoroquinolon).

Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang


memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak, pleuritis eksudativa,
efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis
berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).

II.9.3 Tes Tuberkulin


Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan yang paling bermanfaat
untuk sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis dan sering digunakan
dalam Screening TBC. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji
tuberkulin adalah lebih dari 90%. Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang
menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 12 tahun 92%, 2 4 tahun
78%, 46 tahun 75%, dan umur 612 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat
dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang
spesifik.
Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara
mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada
bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit).
Penilaian uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter
dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi:
1. Pembengkakan (Indurasi) : 04mm, uji mantoux negatif.

Arti klinis : tidak ada infeksi Mycobacterium tuberculosis.


2. Pembengkakan (Indurasi) : 59mm, uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan
Mycobacterium atypikal atau pasca vaksinasi BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) : >= 10mm, uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.

II.10 Komplikasi1
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan
menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi
lanjut.

Komplikasi dini : pleuritis, efusi plura, empiema, laringitis.

Komplikasi lanjut : Obstruksi jalan napas SOPT (sindrom obstruksi pasca


tuberkulosis), kerusakan parenkim berat, kor pulmonal, karsinoma paru,
ARDS.

II.11

Stadium TB
1.

Kelas 0
Tidak ada jangkitan tuberkulosis, tidak terinfeksi (tidak ada riwayat
terpapar,reaksi terhadap tes kulit tuberkulin tidak bermakna).

2.

Kelas 1
Terpapar tuberkulosis, tidak ada bukti terinfeksi (riwayat pemaparan, reaksi
testuberkulosis tidak bermakna)

3.

Kelas 2
Ada infeksi tuberkulosis, tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit
tuberkulin bermakna, pemeriksa bakteri negatif, tidak bukti klinik maupun
radiografik).
Status kemoterapi (pencegahan) :
Tidak ada
Dalam pengobatan kemoterapi
Komplit (seri pengobatan dalam memakai resep dokter)
Tidak komplit

4.

Kelas 3
Tuberkuosis saat ini sedang sakit (Mycobacterium tuberkulosis ada dalam
biakan,selain itu reaksi kulit tuberkulin bermakna dan atau bukti radiografik
tentangadanya penyakit). Lokasi penyakit : paru, pleura, limfatik, tulang dan/atau
sendi,kemih kelamin, diseminata (milier), menigeal, peritoneal dan lain-lain.
Status bakteriologis :
a. Positif dengan :

Mikroskop saja

Biakan saja

Mikroskop dan biakan

b. Negatif dengan :

Tidak dikerjakanStatus kemoterapi :Dalam pengobatan kemoterapi


sejak kemoterapi diakhiri, tidak lengkap reaksi teskulit tuberkulin :

BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang1,2,3,4,5,6
Tuberkulosis paru (TB) adalah suatu infeksi kronik dan menular yang sudah
sangat lama dikenal pada manusia, misalnya dihubungkan dengan tempat tinggal di
daerah urban, lingkungan yang padat, dibuktikan dengan adanya penemuan kerusakan
tulang vertebra torak yang khas pada TB dari kerangka yang digali di Heidelberg dari
kuburan zaman neolitikum, begitu juga penemuan yang berasal dari mumi dan ukiran
dinding piramid di Mesir kuno pada tahun 2000-4000SM. Hipokrates telah
memperkenalkan terminologi phthisis yang diangkat dari bahasa Yunani yang
menggambarkan tampilan TB paru ini.
Tuberkulosis paru (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia
maupun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium
tuberculosis. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh
Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru
dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98%
kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga,
kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan,
persalinan dan nifas.
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara
ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan
rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan
pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat
TB,maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara
ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan
dikucilkan oleh masyarakat.
Indonesia saat ini berada pada ranking kelima negara dengan beban TB
tertinggi didunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 dan
estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat
TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Angka prevalensi tuberkulosis pada
tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai 680 kasus per

100.000 penduduk. Kamboja merupakan negara dengan prevalensi tuberculosis


tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100.000 penduduk. Sedangkan Singapura dan
Brunei Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 50 kasus per 100.000
penduduk yaitu masing- masing 27 dan 43 kasus per 100.000 penduduk.
Di Indonesia saat ini diperkirakan terdapat 583.000 penderita TB menular
setiap tahunnya atau 115/100.000 penduduk dengan angka insiden 225.000 kasus per
tahun. Seseorang yang mengalami batuk berdahak lebih dari 3 minggu tidak sembuh
harus dicurigai sebagai Suspek TB dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara
mikrokopis untuk menegakkan diagnosis TB. Sebagian besar penderita penyakit ini
adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun, dan terbanyak adalah dewasa
muda.Angka pada pria selalu cukup tinggi pada semua usia, tetapi pada wanita
cenderung menurun tajam sesudah melewati usia subur. Faktor kemiskinan sangat
berpengaruh terhadap kejadian TBC di masyarakat.
Propinsi Maluku dengan 7 wilayah kabupaten dan 1 kota telah melaksanakan
penanggungalan Tuberkulosis dengan strategi DOTS sejak tahun 1995, dimana dari
aspek komitmen politis baik tingkat propinsi maupun kabupaten/kota telah dibentuk
Tim Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (GERDUNAS), tingkat
Propinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk penegakkan diagnosis maka semua Puskesmas
Rujukan Mikroskop (PRM) termasuk di kota Ambon telah dilengkapi dengan sarana
mikroskop binokuler (termasuk reagen) dan tenaga laboratorium baik tamatan Analis
maupun tenaga Perawat yang dilatih khusus Laboratorium TB. Demikian halnya
penyediaan OAT melalui perencanaan dari tingkat kebutuhan puskesmas, pusat telah
menyediakan obat dalam keadaan cukup baik jumlah maupun jenisnya.
Meskipun pelaksanaan strategi DOTS telah diupayakan semaksimal mungkin
namun sampai saat ini penyakit Tuberkulosis masih menjadi permasalahan kesehatan.
Jadi, hampir tidak ada ruang yang tersembunyi dari TB, siapapun yang bernapas
melalui udara memiliki risiko. TB biasanya menyerang sebagaian besar kelompok
usia kerja yang produkstif, kelompok ekonomi lemah dan yang berpendidikan rendah.
TB membunuh lebih banyak penduduk usia muda dan dewasa dibanding infeksi
lainnya. Penularan TB biasanya terjadi karena exposure penderita TB terhadap
keluarga ataupun masyarakat melalui udara dalam bentuk droplet ( Percikan dahak )

penderita, selain itu kuman tersebut dapat bertahan beberapa jam di tempat yang gelap
dan lembab, akan tetapi akan mati bila terkena sinar matahari langsung.
Infeksi TB telah dapat dideteksi sejak lebih dari 100 tahun yang lalu dengan
uji tuberkulin (tuberculin skin test / TST), yaitu menilai respons imun seluler yang
ditimbulkan oleh suntikan intradermal purified protein derivate (PPD) tuberkulin.
Penggunaan secara tepat uji Tuberkulin memerlukan pengetahuan tentang antigen
(tuberkulin), dasar reaksi imunologik terhadap antigen tersebut, teknik penyuntikan
serta pembacaan uji. Uji tuberkulin saat ini merupakan satu-satunya metode yang
digunakan secara luas untuk menentukan seseorang sudah terinfeksi TB pada mereka
yang secara klinis tidak menderita TB. Saat ini antigen untuk uji tuberkulin tidak
100% sensitif dan spesifik mendeteksi infeksi M.tb namun belum ada metode
diagnostik lebih baik lainnya yang digunakan secara luas.
Pemeriksaan in vitro saat ini telah diteliti sebagai alternatif terhadap uji
tuberkulin berupa pemeriksaan interferon gamma (IFN-g). Produksi IFN-g
menunjukkan aktivasi sistem imun seluler, serupa dengan konsep uji tuberkulin.
Interferon gamma merupakan faktor imunoregulator penting yang mempunyai efek
multipel terhadap perkembangan, kematangan dan fungsi sistem imun.
I.2

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan
masalah dari penelitian adalah Bagaimana prevalensi penderita TB di Ambon yang
tercatat pada Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru periode tahun 2007 - 2011

I.3

TUJUAN PENELITIAN
I.3.1

I.3.2

Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi mengenai prevalensi penderita TB di Balai
Pengobatan Penyakit Paru-Paru Ambon tahun 2007-2011.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui perbandingan penderita TB di Balai Pengobatan Penyakit
Paru-Paru ambon per tahun.
2. Mengetahui jumlah penderita TB di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru
Ambon menurut kelompok umur.

3. Mengetahui jumlah penderita TB di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru


Ambon menurut jenis kelamin.

I.4

MANFAAT PENELITIAN
I.4.1

Bagi Peneliti
Sebagai bahan

informasi

dalam

melakukan

penanggulangan

dan

pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di Balai Pengobatan Penyakit


I.4.2

Paru-Paru.
Bagi masyarakat
Sebagai sumber informasi atau masukan bagi masyarakat atau pihak-pihak
lain yang berkepentingan dalam meningkatkan upaya-upaya pencegahan

I.4.3

penyakit TB.
Bagi Peneliti lain
Dapat digunakan sebagai data dasar dan bahan acuan untuk penelitian
selanjutnya.

Daftar Pustaka

1.

Amin Zulkifli, Bahar Asri. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi keempat.
Jakarta; Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Cetakan kedua. 2007. Hal

2.

988-93
Husada Bakti. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi kedua.

3.

Jakarta; Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Cetakan pertama. 2006


Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Vol kedua. Jakarta; Perkumpulan Pemberantasan

4.

Tuberkulosis Indonesia. 2006


Retno Asti Werdhani. Patofisiologi, Diagnosis dan Klasifikasi Tuberkulosis. Available
at http://staff.ui.ac.id/internal/0107050183/material/PATO_DIAG_KLAS.pdf acces on April

5.
6.

7th 2012
http://etd.eprints.ums.ac.id/16082/3/BAB_I.pdf acces on April 7th 2012
Rahajoe N Nastiti, Basir Darfioes, dkk. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Edisi

7.

kedua. Jakarta; UKK Respirologi PP IDAI. Cetakan kedua dengan Revisi. 2008
Tabitha Mintu, SKM,M.Kes. Hasil Kajian Faktor Resiko Lingkungan terhadap Penyakit

8.

TBC di Kab. Seram bagian Timur. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009
Penyakit TBC. Available at http://medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm acces on

9.

April 7th 2012


Suparjo.

Tuberkulosis

Paru.

Available

at

http://ml.scribd.com/doc/20358065/TUBERKULOSIS-PARU. acces on April 7th 2012


10. Hariadi Slamet, Amin Muhammad, dkk. Dasar-Dasar Diagnostik Fisik Paru.
Surabaya; Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Cetakan ketiga. 2008
11.