Anda di halaman 1dari 26

KOMPOSISI ASI

Keunggulan dan keistimewaan Air Susu Ibu (ASI) sebagai nutrisi untuk bayi sudah tidak diragukan lagi. Masyarakat
luas khususnya kaum ibu telah paham benar kegunaan dan manfaat ASI, berbagai tulisan yang membahas masalah
ASI telah banyak dipublikasi. Dalam makalah ini akan dibahas nilai nutrisi yang terkandung dalam ASI dan
keunggulannya dibanding nutrisi lain untuk bayi, dengan demikian diharapkan para ibu akan lebih percaya diri
dalam memberikan ASI kepada bayinya.
Seperti halnya nutrisi pada umumnya, ASI mengandung komponen makro dan mikro nutrien. Yang termasuk
makronutrien adalah karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien adalah vitamin & mineral. Air susu ibu
hampir 90%nya terdiri dari air. Volume dan komposisi nutrien ASI berbeda untuk setiap ibu bergantung dari
kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi di atas juga terlihat pada masa menyusui (kolostrum, ASI transisi,
ASI matang dan ASI pada saat penyapihan). Kandungan zat gizi ASI awal dan akhir pada setiap ibu yang menyusui
juga berbeda. Kolostrum yang diproduksi antara hari 1-5 menyusui kaya akan zat gizi terutama protein.
ASI transisi mengandung banyak lemak dan gula susu (laktosa). ASI yang berasal dari ibu yang melahirkan bayi
kurang bulan (prematur) mengandung tinggi lemak dan protein, serta rendah laktosa dibanding ASI yang berasal
dari ibu yang melahirkan bayi cukup bulan. Pada saat penyapihan kadar lemak dan protein meningkat seiring
bertambah banyaknya kelenjar payudara. Walapun kadar protein, laktosa, dan nutrien yang larut dalam air sama
pada setiap kali periode menyusui, tetapi kadar lemak meningkat.
Jumlah total produksi ASI dan asupan ke bayi bervariasi untuk setiap waktu menyusui dengan jumlah berkisar
antara 450 -1200 ml dengan rerata antara 750-850 ml per hari. Banyaknya ASI yang berasal dari ibu yang
mempunyai

status

gizi

buruk

dapat

menurun

sampai

jumlah

hanya

100-200

ml

per

hari.

Komposisi
ASI mengandung air sebanyak 87.5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu lagi mendapat
tambahan air walaupun berada di tempat yang mempunyai suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan saluran
cerna bayi, sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya
diare

pada

bayi

yang

mendapat

susu

formula.

Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar
laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu
formula. Namun demikian angka kejadian diare yang disebabkan karena tidak dapat mencerna laktosa (intoleransi
laktosa) jarang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI. Hal ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih
baik dibanding laktosa susu sapi atau susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi
jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Sesudah melewati masa ini

maka

kadar

karbohidrat

ASI

relatif

stabil.

Protein
Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi.
Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari protein whey dan Casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari
protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein
Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah protein Casein yang terdapat dalam ASI hanya 30%
dibanding susu sapi yang mengandung protein ini dalam jumlah tinggi (80%). Disamping itu, beta laktoglobulin
yaitu fraksi dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi tidak terdapat dalam ASI. Beta laktoglobulin
ini merupakan jenis protein yang potensial menyebabkan alergi.
Kualitas protein ASI juga lebih baik dibanding susu sapi yang terlihat dari profil asam amino (unit yang membentuk
protein). ASI mempunyai jenis asam amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah
asam amino taurin; asam amino ini hanya ditemukan dalam jumlah sedikit di dalam susu sapi. Taurin diperkirakan
mempunyai peran pada perkembangan otak karena asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada
jaringan otak yang sedang berkembang. Taurin ini sangat dibutuhkan oleh bayi prematur, karena kemampuan bayi
prematur untuk membentuk protein ini sangat rendah.
ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik yang tersusun dari 3 jenis yaitu basa
nitrogen, karbohidrat, dan fosfat) dibanding dengan susu sapi yang mempunyai zat gizi ini dalam jumlah sedikit.
Disamping itu kualitas nukleotida ASI juga lebih baik dibanding susu sapi. Nukleotida ini mempunyai peran dalam
meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan
meningkatkan

penyerapan

besi

dan

daya

tahan

tubuh.

Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak yang tinggi ini
dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan antara
profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau susu formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang
berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung banyak
asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan
terhadap

perkembangan

jaringan

saraf

dan

retina

mata.

Susu sapi tidak mengadung kedua komponen ini, oleh karena itu hampir terhadap semua susu formula ditambahkan
DHA dan ARA ini. Tetapi perlu diingat bahwa sumber DHA & ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula
tentunya tidak sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah lemak total di dalam kolostrum lebih sedikit dibandingkan
ASI matang, tetapi mempunyai persentasi asam lemak rantai panjang yang tinggi.

ASI mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang dibanding susu sapi yang lebih banyak
mengandung asam lemak jenuh. Seperti kita ketahui konsumsi asam lemah jenuh dalam jumlah banyak dan lama
tidak

baik

untuk

kesehatan

jantung

dan

pembuluh

darah.

Karnitin
Karnitin ini mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang diperlukan untuk mempertahankan
metabolisme tubuh. ASI mengandung kadar karnitin yang tinggi terutama pada 3 minggu pertama menyusui, bahkan
di dalam kolostrum kadar karnitin ini lebih tinggi lagi. Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat ASI lebih tinggi
dibandingkan

bayi

yang

mendapat

susu

formula.

Vitamin
Vitamin K
Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang berfungsi sebagai faktor pembekuan. Kadar vitamin K ASI
hanya seperempatnya kadar dalam susu formula. Bayi yang hanya mendapat ASI berisiko untuk terjadi perdarahan,
walapun angka kejadian perdarahan ini kecil. Oleh karena itu pada bayi baru lahir perlu diberikan vitamin K yang
umumnya

dalam

bentuk

suntikan.

Vitamin D
Seperti halnya vitamin K, ASI hanya mengandung sedikit vitamin D. Hal ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan
menjemur bayi pada pagi hari maka bayi akan mendapat tambahan vitamin D yang berasal dari sinar matahari.
Sehingga pemberian ASI eksklusif ditambah dengan membiarkan bayi terpapar pada sinar matahari pagi akan
mencegah

bayi

menderita

penyakit

tulang

karena

kekurangan

vitamin

D.

Vitamin E
Salah satu fungsi penting vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel darah merah. Kekurangan vitamin E dapat
menyebabkan terjadinya kekurangan darah (anemia hemolitik). Keuntungan ASI adalah kandungan vitamin E nya
tinggi

terutama

pada

kolostrum

dan

ASI

transisi

awal.

Vitamin A
Selain berfungsi untuk kesehatan mata, vitamin A juga berfungsi untuk mendukung pembelahan sel, kekebalan
tubuh, dan pertumbuhan. ASI mengandung dalam jumlah tinggi tidak saja vitamin A dan tetapi juga bahan bakunya
yaitu beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan mengapa bayi yang mendapat ASI mempunyai tumbuh
kembang

dan

daya

tahan

tubuh

yang

baik.

Vitamin yang larut dalam air


Hampir semua vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, asam folat, vitamin C terdapat dalam ASI. Makanan
yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi
dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12 dan asam folat mungkin rendah pada ibu dengan gizi kurang. Karena
vitamin B6 dibutuhkan pada tahap awal perkembangan sistim syaraf maka pada ibu yang menyusui perlu
ditambahkan vitamin ini. Sedangkan untuk vitamin B12 cukup di dapat dari makanan sehari-hari, kecuali ibu
menyusui

yang

vegetarian.

Mineral
Tidak seperti vitamin, kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu dan
tidak pula dipengaruhi oleh status gizi ibu. Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih
mudah diserap dibandingkan dengan mineral yang terdapat di dalam susu sapi.
Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah kalsium yang mempunyai fungsi untuk pertumbuhan jaringan otot
dan rangka, transmisi jaringan saraf dan pembekuan darah. Walaupun kadar kalsium ASI lebih rendah dari susu sapi,
tapi tingkat penyerapannya lebih besar. Penyerapan kalsium ini dipengaruhi oleh kadar fosfor, magnesium, vitamin
D dan lemak. Perbedaan kadar mineral dan jenis lemak diatas yang menyebabkan perbedaan tingkat penyerapan.
Kekurangan kadar kalsium darah dan kejang otot lebih banyak ditemukan pada bayi yang mendapat susu formula
dibandingkan bayi yang mendapat ASI.
Kandungan zat besi baik di dalam ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi. Namun bayi yang
mendapat ASI mempunyai risiko yang lebih kecil utnuk mengalami kekurangan zat besi dibanding dengan bayi
yang mendapat susu formula. Hal ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI lebih mudah diserap, yaitu
20-50% dibandingkan hanya 4 -7% pada susu formula. Keadaan ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan
pemberian makanan padat yang mengandung zat besi mulai usia 6 bulan masalah kekurangan zat besi ini dapat
diatasi.

Mineral zinc dibutuhkan oleh tubuh karena merupakan mineral yang banyak membantu berbagai proses
metabolisme di dalam tubuh. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan mineral ini adalah
acrodermatitis enterophatica dengan gejala kemerahan di kulit, diare kronis, gelisah dan gagal tumbuh. Kadar
zincASI menurun cepat dalam waktu 3 bulan menyusui. Seperti halnya zat besi kandungan mineral zink ASI juga
lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat penyerapan lebih baik. Penyerapan zinc terdapat di dalam ASI, susu
sapi dan susu formula berturut-turut 60%, 43-50% dan 27-32%. Mineral yang juga tinggi kadarnya dalam ASI

dibandingkan

susu

formula

adalah

selenium,

yang

sangat

dibutuhkan

untuk

pertumbuhan

cepat.

ASI dan perkembangan ketrampilan makan


Bayi mengalami pengalaman pertama tentang rasa makanan sejak masih dalam kandungan. Rasa cairan ketuban
berubah-ubah bergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibu. Rasa dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu
selama kehamilan di salurkan ke cairan ketuban yang tidak hanya dirasakan oleh janin tetapi juga meningkatkan
penerimaan dan kenikmatan bayi pada saat masa penyapihan ASI. Kemampuan bayi untuk mengetahui dan
menerima rasa dan selera berkembang setelah lahir. Oleh karena itu pengalaman pertama terhadap rasa dan selera
mempunyai dampak terhadap penerimaan rasa dan selera pada masa bayi dan anak. Telah diketahui sejak lama
bahwa bayi yang terpapar dengan rasa dalam ASI akan meningkatkan penerimaan rasa tersebut sehingga
mempercepat keberhasilan penyapihan. Beberapa bayi yang mendapat ASI lebih dapat menerima sayur-sayuran
pada pemberian pertama dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula. Anak yang diberikan ASI paling
sedikit 6 bulan juga lebih jarang mengalami kesulitan makan (picky eaters), sepanjang cara pemberian ASInya
benar.

Penulis : Aryono Hendarto dan Keumala Pringgadini


Sumber : Buku Bedah ASI

ASI SEBAGAI PENCEGAH MALNUTRISI PADA BAYI


23.08.2013
ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI akan mencegah malnutrisi karena ASI mengandung zat-zat gizi yang
dibutuhkan bayi dengan tepat, mudah digunakan secara efisien oleh tubuh bayi dan melindungi bayi terhadap
infeksi. Kira-kira selama tahun pertama kehidupannya, sistem kekebalan bayi belum sepenuhnya berkembang dan
tidak bisa melawan infeksi seperti halnya anak yang lebih besar atau orang dewasa, oleh karena itu zat kekebalan
yang terkandung dalam ASI sangat berguna.
Komposisi ASI tidak selalu sama, disesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. Komposisi ASI akan bervariasi
tergantung usia bayi, sehingga ada yang disebut kolostrum, ASI peralihan, dan ASI matur. Komposisi ASI juga
bervariasi dari awal hingga akhir menyusui. Foremilk (ASI awal) adalah ASI yang bening yang diproduksi pada
awal penyusuan. Foremilk banyak mengandung laktosa dan protein. Hindmilk (ASI akhir) adalah ASI yang lebih

putih pekat, diproduksi pada akhir penyusuan. Hindmilk banyak mengandung lemak yang sangat diperlukan sebagai
sumber tenaga dan pembentukan otak.
Pertumbuhan bayi yang mendapat ASI berbeda dengan yang mendapatkan susu formula. Sampai saat ini masih
banyak kurva(grafik) pertumbuhan yang menggunakan kurva NCHS/CDC. Kurva ini mengacu pada pertumbuhan
bayi yang sebagian besar mempergunakan susu formula, sehingga bayi yang mendapat ASI seolah-olah mengalami
hambatan pertumbuhan mulai usia 4-12 bulan, walaupun pada tahun kedua terjadi sedikit percepatan pertumbuhan.
Pada tahun 2005 WHO mengeluarkan kurva pertumbuhan berdasarkan bayi yang mendapat ASI. Dengan kurva yang
baru ini diharapkan penilaian kecukupan ASI dan pertumbuhan bayi yang mendapat ASI eksklusif akan menjadi
lebih obyektif.
Dalam topik ini akan dibahas tentang kandungan dan komposisi ASI, volume ASI dan kecukupan ASI bagi bayi,
serta menilai pertumbuhan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Dengan demikian dapat dijelaskan peran ASI dalam
mencegah malnutrisi.
Komposisi ASI
ASI merupakan larutan kompleks yang mengandung karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat utama dalam ASI
adalah laktosa. Di dalam usus halus laktosa akan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase.
Produksi enzim laktase pada usus halus bayi kadang-kadang belum mencukupi, untungnya laktase terdapat dalam
ASI. Sebagian laktosa akan masuk ke usus besar, dimana laktosa ini akan difermentasi oleh flora usus (bakteri baik
pada usus) yaitu laktobasili. Bakteri ini akan menciptakan keadaan asam dalam usus yang akan menekan
pertumbuhan kuman patogen (kuman yang menyebabkan penyakit) pada usus dan meningkatkan absorpsi
(penyerapan) kalsium dan fosfor.
Kurang lebih 50% energi yang terkandung pada ASI berasal dari lemak, atau kurang lebih terdapat 40 gram lemak
dalam 1 liter ASI (40 g/L). Lemak dalam ASI ada dalam bentuk butiran lemak yang absorpsinya ditingkatkan oleh
BSSL (bile salt-stimulated lipase). Asam lemak yang terkandung pada ASI kaya akan asam palmitat, asam oleat,
asam linoleat dan asam alfa linolenat. Trigliserida adalah bentuk lemak utama pada ASI, dengan kandungan antara
97% - 98%. ASI sangat kaya asam lemak esensial yaitu asam lemak yang tidak bisa diproduksi tubuh tetapi sangat
diperlukan untuk pertumbuhan otak. Asam lemak esensial tersebut adalah asam linoleat 8-17%, asam linolenat
0,5-1,0%, dan derivatnya yaitu asam arakidonat (AA) 0,5-0,7% dan asam dokosaheksanoat (DHA) 0,2-0,5%.
Lemak pada ASI didapatkan pada hindmilk (susu akhir). Bayi mendapatkan kebutuhan energinya sebagian besar
dari lemak. Karena itu penting sekali untuk membiarkan bayi menyusu pada satu payudara sampai habis dan baru
dipindahkan ke payudara satunya apabila bayi masih menginginkannya. Menghentikan bayi yang sedang menyusu
akan mengurangi lemak yang didapatkan, dengan demikian bayi tidak mendapat cukup energi. Selain itu
menghentikan bayi yang menyusu bisa menyebabkan hipergalaktia. Kejadian hipergalaktia bisa muncul karena ibu
memberikan ASI dalam waktu sebentar (5-10 menit) pada satu sisi dan kemudian pindah ke payudara lain.
Akibatnya pengosongan payudara tidak optimal dan bayi mendapat sejumlah besar foremilk yang banyak
mengandung laktosa dan sedikit hindmilk yang banyak mengandung lemak. Akibat lain hipergalaktia adalah

timbulnya malabsorpsi (gangguan pencernaan), pembentukan gas yang berlebihan sehingga bayi kembung, dan
terjadinya gagal tumbuh pada bayi karena bayi hanya mendapatkan sedikit lemak.
Kandungan protein dalam ASI dalam bentuk whey 70% dan kasein 30%, dengan variasi komposisi whey : kasein
adalah 90:10 pada hari ke-4 sampai 10 setelah melahirkan, 60:40 pada ASI matur (hari ke-11 sampai 240) dan 50:50
setelah hari ke-240. Pada susu sapi perbandingan whey : kasein adalah 18:82. Protein whey tahan terhadap suasana
asam dan lebih mudah diserap sehingga akan mempercepat pengosongan lambung. Selain itu protein whey
mempunyai fraksi asam amino fenilalanin, tirosin, dan metionin dalam jumlah lebih rendah dibanding kasein, tetapi
dengan kadar taurin lebih tinggi. Komponen utama protein whey ASI adalah alfa-laktalbumin, sedangkan protein
whey pada susu sapi adalah beta-laktoglobulin. Laktoferin, lisozim, dan sIgA adalah merupakan bagian dari protein
whey yang berperan dalam pertahanan tubuh.
Kandungan zat aktif lain dalam ASI yang terutama bekerja untuk fungsi kekebalan tubuh adalah komponen protein
(-laktalbumin, -laktoglobulin, kasein, enzim, faktor pertumbuhan, hormon, laktoferin, lisozim, sIgA, dan
imunoglobulin lain), nitrogen non protein (-amino nitrogen, keratin, kreatinin, glukosamin, asam nukleat,
nukleotida, poliamin, urea, asam urat), karbohidrat (laktosa, oligosakarida, glikopeptida, faktor bifidus), lemak
(vitamin larut dalam lemak - A, D, E, K-, karotenoid, asam lemak, fosfolipid, sterol dan hidrokarbon, trigliserida),
vitamin yang larut dalam air (biotin, kolin, folat, inositol, niasin, asam pantotenat, riboflavin, thiamin, vitamin B12,
vitamin B6, vitamin C), mineral dan ion (bikarbonat, kalsium, khlorida, sitrat, magnesium, fosfat, kalium, natrium,
sulfat), trace mineral (kromium, kobalt, copper, fluorid, iodine, mangaan, molybdenum, nickel, selenium dan seng),
serta sel (sel epithelial, leukosit, limfosit, makrofag, dan neutrofil). Sehingga dapat dimengerti dengan mendapatkan
ASI, bayi mendapatkan kekebalan terhadap berbagai penyakit seperti radang paru-paru, radang telinga, diare, dan
juga mengurangi risiko alergi.
Kecukupan ASI
Volume ASI
Setelah melahirkan seorang ibu memerlukan ketrampilan khusus untuk merawat bayinya, memberikan ASI dengan
secara benar baik pelekatan (attachment) maupun posisinya. Pada umumnya ibu akan trampil dan menyusui menjadi
mantap setelah beberapa hari sampai minggu. Produksi ASI akan meningkat segera setelah lahir sampai usia 4
sampai 6 minggu dan setelah itu produksinya akan menetap. Produksi ASI pada hari pertama dan kedua sangat
sedikit tetapi akan meningkat menjadi 500 mL pada hari ke-5, 600 sampai 690 mL pada minggu kedua, dan
kurang lebih 750 mL pada bulan ke-3 sampai ke-5. Produksi ASI ini akan menyesuaikan kebutuhan bayi (on
demand). Jika saat itu bayi mendapat tambahan makanan dari luar (misalnya susu formula), maka kebutuhan bayi
akan ASI berkurang dan berakibat produksi ASI akan turun. ASI sebanyak 750-1000 mL/ hari menghasilkan energi
500-700 kkal/hari, yaitu setara dengan energi yang diperlukan bayi dengan berat badan 5-6 kg.
Produksi ASI akan menyesuaikan kebutuhan bayi, oleh karenanya sangat dianjurkan untuk menyusui secara ondemand, artinya sesuai dengan keinginan bayi. Suatu penelitian di Rusia dengan memberikan 4 perlakuan berbeda
pada bayi baru lahir. Kelompok I bayi dilakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) 25-120 menit setelah lahir dan skin-

to-skin contact, bayi tidak memakai baju, dan setelah itu dilakukan rawat gabung, bayi dan ibu dalam 1 kamar
sehingga bayi menyusui on-demand. Kelompok II dilakukan IMD 25-120 menit setelah melahirkan tetapi bayi
sudah dibungkus selimut sesuai kebiasaan tradisional di usia, selanjutnya dilakukan rawat gabung. Kelompok III
tidak dilakukan IMD dan tidak dilakukan rawat gabung. Kelompok IV tidak dilakukan IMD tetapi dilakukan rawat
gabung. Tampak bahwa rerata volume ASI terbanyak adalah pada kelompok IMD skin-to-skin contact dan dilakukan
rawat gabung sehingga bayi dapat menyusu on-demand. Rerata volume ASI adalah 300 ml/hari pada multipara (ibu
yang melahirkan kedua kali atau lebih) dan 250 ml untuk primipara (ibu yang melahirkan pertama kali). Sedangkan
kelompok III yang tidak dilakukan IMD dan rawat gabung mempunyai volume yang paling sedikit.
Penelitian lain pada 71 bayi usia 1-6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dan on demand dengan dilakukan
penimbangan berat badan setiap kali menyusu mendapatkan hasil sebagai berikut:
1.

Bayi menyusu 10 - 12 kali dalam sehari

2.

Rata-rata produksi ASI adalah 800 mL/ hari

3.

Produksi ASI setiap kali menyusui adalah 90-120 mL/ kali, yang dihasilkan 2 payudara

4.

Pada umumnya bayi akan menyusu pada payudara pertama sebanyak 75 mL dan dilanjutkan 50 mL pada
payudara kedua

5.

Rata-rata frekuensi menyusui malam hari (jam 22 sampai 4 pagi) adalah 1-3 kali.

Tanda-tanda bahwa bayi mendapat cukup ASI


Untuk mencegah malnutrisi seorang ibu harus mengetahui tanda kecukupan ASI, terutama pada bulan pertama.
Setelah bulan pertama tanda kecukupan ASI lebih tergambar melalui perubahan berat badan bayi. Tanda bahwa bayi
mendapat cukup ASI adalah :
1.

Produksi ASI akan berlimpah pada hari ke-2 sampai ke-4 setelah melahirkan, nampak dengan payudara
bertambah besar, berat, lebih hangat dan seringkali ASI menetes dengan spontan

2.

Bayi menyusu 8 - 12 kali sehari, dengan pelekatan yang benar pada setiap payudara dan menghisap secara
teratur selama minimal 10 menit pada setiap payudara.

3.

Bayi akan tampak puas setelah menyusu dan seringkali tertidur pada saat menyusu, terutama pada payudara
yang kedua

4.

Frekuensi buang air kecil (BAK) bayi > 6 kali sehari. Urin berwarna jernih, tidak kekuningan. Butiran
halus kemerahan (yang mungkin berupa kristal urat pada urin) merupakan salah satu tanda ASI kurang.

5.

Frekuensi buang air besar (BAB) > 4 kali sehari dengan volume paling tidak 1 sendok makan, tidak hanya
berupa noda membekas pada popok bayi, pada bayi usia 4 hari sampai 4 minggu. Sering ditemukan bayi yang
BAB setiap kali menyusu, dan hal ini merupakan hal yang normal

6.

Feses berwarna kekuningan dengan butiran-butiran berwarna putih susu diantaranya (seedy milk), setelah
bayi berumur 4 sampai 5 hari. Apabila setelah bayi berumur 5 hari, fesesnya masih berupa mekoneum
(berwarna hitam seperti ter), atau transisi antara hijau kecoklatan, mungkin ini merupakan salah satu tanda
bayi kurang mendapat ASI.

7.

Puting payudara akan terasa sedikit sakit pada hari-hari pertama menyusui. Apabila sakit ini bertambah dan
menetap setelah 5 - 7 hari, lebih-lebih apabila disertai dengan lecet, hal ini merupakan tanda bahwa bayi tidak
melekat dengan baik saat menyusu. Apabila tidak segera ditangani dengan membetulkan posisi dan pelekatan
bayi maka hal ini akan menurunkan produksi ASI

8.

Berat badan bayi tidak turun lebih dari 10% dibanding berat lahir

9.

Berat badan bayi kembali seperti berat lahir pada usia 10 sampai 14 hari setelah lahir.

Perilaku bayi menyusu tidak dapat dijadikan patokan bahwa bayi mendapat cukup ASI. Beberapa bayi menyusu
dengan cepat, tetapi bayi lain menyusu dengan diselingi istirahat/ tidur. Cara menyusu bayi seperti di bawah ini
semuanya normal:
1.

Barracudas adalah tipe menyusu dengan tangan bayi memegang puting dan kemudian menyusu secara kuat
selama 10-20 menit.

2.

Excited ineffectives (ketidak efektifan yang berlebihan) dimana bayi ingin sekali secara aktif untuk
menyusu dengan puting yang dikeluarkan dan dimasukkan secara berulang-ulang ke dalam mulut, dan
kemudian menangis apabila ASI tidak keluar.

3.

Procrastinators adalah tipe bayi yang menunggu sampai ASI keluar dan kemudian mulai menyusu dengan
baik.

4.

Gourmerts adalah bayi yang menjilat dan merasakan ASI yang menetes terlebih dahulu sebelum benarbenar melekat pada puting. Apabila bayi dipaksa untuk cepat-cepat menyusu, maka bayi justru menolak.

5.

Resters adalah tipe yang lebih suka menyusu beberapa menit kemudian berhenti beberapa menit sehingga
membutuhkan waktu menyusu yang lama.

Sindrom ASI kurang

Sindrom ASI kurang jarang terjadi. Hanya 5% ibu yang betulbetul mengalami sindrom ASI kurang yang umumnya
karena kelainan anatomis payudara, seperti hipoplasia payudara (payudara tidak berkembang). Penyebab lainnya
adalah radiasi pada kanker payudara dan operasi pada payudara. Sedangkan penyebab ASI kurang yang lain
biasanya disebabkan karena proses menyusui yang tidak benar, misalnya engorgement (bengkak) pada payudara.
Akibat dari engorgement adalah pengeluaran zat penghambat kimiawi yang akan menekan produksi ASI.
Penyebab lain adalah puting lecet yang seringkali disebabkan karena pelekatan bayi pada payudara ibu yang salah.
Penggunaan dot/ kempeng akan menyebabkan bayi bingung puting dan menyebabkan pelekatan yang salah. Ibu
yang mengalami puting lecet akan kesakitan sehingga frekuensi menyusui akan berkurang. Akibatnya masih banyak
ASI yang tersisa (residu), dan selanjutnya seperti mekanisme di atas maka produksi ASI akan berkurang. Rasa sakit
sendiri akan menekan keluarnya hormon prolaktin yang juga akan menurunkan produksi ASI. Ibu yang terpisah dari
bayinya, misalnya karena ibu bekerja, sering bepergian, atau sakit dan dirawat di Rumah Sakit akan menyebabkan
frekuensi menyusui berkurang, maka pengosongan payudara juga berkurang dan berakibat produksi ASI juga
berkurang. Bayi prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), bayi sakit kelainan anatomis rongga mulut seperti
ankiloglosia, mikrognatia, dan sumbing, bayi dengan infeksi berat, gangguan pernafasan seperti asfiksia, penyakit
jantung bawaan adalah penyebab lain sindrom ASI kurang.
Sindrom ASI kurang bisa dicegah dan diatasi apabila tandatanda kekurangan sekunder ini dapat dikenali secara dini
dan penyebabnya diketahui. Sebagian besar penyebab dapat diatasi dengan memberikan bantuan praktis pada ibu
untuk membetulkan pelekatan bayi pada puting payudara ibu dan posisi menyusu bayi. Apabila tidak diatasi hal ini
akan menyebabkan asupan ASI kurang sehingga terjadi malnutrisi pada bayi.

Pertumbuhan bayi yang mendapat ASI eksklusif


Bayi yang mendapat ASI eksklusif akan kembali ke berat lahir paling tidak pada usia 2 minggu, dan tumbuh sesuai
atau bahkan di atas grafik sampai usia 3 bulan Penurunan berat badan bayi selama 2 minggu pertama kehidupan
tidak boleh melebihi 10%. Bayi yang lahir dengan berat rendah lebih lambat kembali ke berat lahir dibandingkan
bayi dengan berat lahir normal, yang dapat lebih jelas diikuti dengan kurva Dancis.
Apabila memakai grafik pada KMS yang biasa dipakai, bayi yang mendapat ASI eksklusif akan tumbuh lebih
lambat sebelum usia 4 sampai 6 bulan. Bayi yang mendapat susu formula akan tumbuh lebih cepat setelah 6 bulan,
dan seringkali hal ini dihubungkan dengan risiko obesitas di kemudian hari. Berdasarkan Survei Kesehatan dan
Nutrisi Nasional III di Amerika Serikat didapatkan bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 4 bulan (saat
itu batasan ASI eksklusif adalah 4 bulan), pada usia 8-11 bulan, mempunyai rerata berat badan, panjang badan dan
lingkar lengan atas lebih rendah dibanding yang mendapatkan susu formula.
Namun pada bayi yang mendapat ASI eksklusif akan terjadi catch up growth (tumbuh kejar), sehingga pada usia 5
tahun tidak didapatkan perbedaan antara bayi yang mendapat ASI dengan bayi yang mendapat susu formula. Perlu
untuk diketahui, kurva NCHS yang saaat itu dipakai, dibuat berdasarkan pertumbuhan bayi kulit putih yang terutama

mendapatkan susu formula. Bayi yang mendapat ASI eksklusif tumbuh lebih cepat pada usia 2 sampai 4 bulan pada
kurva NCHS, tetapi mulai usia 6 bulan sampai 1 tahun pertumbuhan tersebut mengalami deselerasi (penurunan).
Hal ini juga terjadi pada penelitian WHO di Eropa, bayi yang mendapat ASI eksklusif 4 bulan dan terus
menyusui sampai umur 1 tahun, terjadi deselerasi pertumbuhan apabila diterapkan pada kurva NCHS. Secara global
perlambatan pertumbuhan terjadi pada usia 3 bulan dan secara cepat akan menurun sampai usia 12 bulan. Setelah itu
perlambatan pertumbuhan melandai sampai kira-kira usia 18 sampai 19 bulan dan setelah itu akan terjadi percepatan
pertumbuhan. Penelitian di negara sedang berkembang seperti Mexico, Senegal dan Kenya mendapatkan bahwa bayi
yang mendapatkan ASI eksklusif mempunyai pertumbuhan berat badan dan panjang badan lebih baik dibanding
susu formula. Tentu saja apabila digunakan kurva NCHS, pertumbuhan bayi tersebut terletak pada garis
pertumbuhan yang bawah.
Tahun 2005 WHO mengeluarkan kurva pertumbuhan yang baru berdasarkan penelitian pada bayi yang mendapat
ASI eksklusif dari ibu yang tidak merokok, yang diikuti dari lahir sampai usia 24 bulan, dan penelitian belah lintang
pada anak usia 18 - 71 bulan. Penelitian ini meliputi 8440 bayi dari Brasilia (Amerika Selatan), Ghana (Afrika),
India dan Oman (Asia), Norwegia (Eropa) dan Amerika Serikat. Dengan berbagai latar belakang etnis dan budaya
yang mewakili berbagai negara di semua benua, maka diharapkan perbedaan pertumbuhan berat dan panjang badan
karena faktor genetik dapat diabaikan. Dengan memakai kurva pertumbuhan yang baru, diharapkan pertumbuhan
bayi yang mendapat ASI eksklusif di semua negara dapat dinilai lebih obyektif. Beberapa kurva pertumbuhan pada
buku kesehatan anak di Indonesia sudah memakai grafik ini, tetapi sampai saat ini belum ada penelitian berskala
besar yang melaporkan arah pertumbuhan bayi di Indonesia maupun negara lain setelah penggunaan kurva ini.

Kesimpulan
ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi karena mengandung zat gizi dan zat kekebalan yang dibutuhkan bayi. Kendala
pemberian ASI eksklusif terutama disebabkan oleh kurangnya pemahaman ibu maupun keterampilan petugas
kesehatan tentang kecukupan ASI terutama pada minggu pertama menyusui. Pada bayi usia kurang dari 3 bulan.
Perlambatan pertumbuhan yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh menyusui. Dengan melihat tanda kecukupan
ASI dan bimbingan petugas terlatih untuk memberikan ASI eksklusif secara benar, hambatan ini dapat teratasi.
Pelekatan dan posisi menyusui yang tidak benar akan menimbulkan masalah seperti puting lecet dan engorgement,
sekaligus dapat menurunkan produksi ASI dan menyebabkan malnutrisi pada bayi. Kontak dengan tenaga kesehatan
sangat diperlukan, terutama hari-hari pertama sampai 4 minggu kemudian.
Dianjurkan penggunaan kurva (grafik) pertumbuhan WHO 2005 yang dibuat berdasarkan pertumbuhan bayi yang
mendapat ASI eksklusif pada setiap pusat kesehatan pemerintah dan swasta. Pertumbuhan berat dan panjang badan
bayi dicatat dan digambar setiap bulan pada kurva pertumbuhan

RELAKTASI DAN INDUKSI LAKTASI


28.08.2013
Bayi menyusu pada ibu merupakan aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia, yaitu asah-asih
asuh. Dengan menyusu pada ibu, ia akan mendapat pemenuhan kebutuhan asah, yaitu stimulasi untuk perkembangan
emosionalnya dalam berinteraksi dengan sesama, dalam hal ini terutama dengan ibunya. Jalinan kasih sayang akan
terbangun antara bayi dan ibu sebagai manifestasi pemenuhan kebutuhan asih, dan zat-zat gizi yang terkandung
dalam air susu ibu akan dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya sebagai pemenuhan kebutuhan asuh.
Kegiatan menyusui bagi ibu adalah salah satu aktivitas yang dapat memberi kepuasan lahir batin ibu, tetapi saat ia
menyusui anaknya banyak sekali kendala yang akan ditemui seperti minimnya pengetahuan ibu dan ayah mengenai
laktasi, tekanan dari keluarga dan sebagainya yang berakibat berkurangnya produksi air susu ibu, sehingga ibu gagal
menyusui. Jika ibu tersebut memutuskan kembali menyusui anaknya setelah berhenti menyusui, tanpa melihat
berapa lama laktasi terhenti, hal ini disebut dengan relaktasi atau kembali menyusui. Timbulnya keinginan ibu untuk
kembali menyusui sering kali juga didasari karena pemberian susu formula yang tidak cocok, bayinya sakit bahkan
sampai menjalani perawatan di RS ataupun keinginan karena melihat teman yang berhasil menyusui bayinya secara
eksklusif. Bahkan pada situasi bencana melanda, relaktasi merupakan salah satu hal yang perlu mendapat dukungan
dari semua instansi terkait dalam penanggulangan bencana.
Tidak semua wanita beruntung dapat hamil, melahirkan dan menyusui bayi. Berbagai macam hal dilakukan untuk
mengatasi kegagalan dalam memiliki anak antara lain dengan adopsi anak yang akhirnya akan menimbulkan
keinginan ibu untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar anak adopsinya, yaitu dengan menyusuinya. Hal ini kita
kenal dengan istilah induksi laktasi.
Tentunya relaktasi dan induksi laktasi perlu kita dukung, bukan hanya dengan dukungan moril tetapi juga
memberikan pengetahuan laktasi yang memadai. Makalah ini akan membicarakan mengenai hal-hal yang berkenaan
dengan relaktasi dan induksi laktasi yang sekarang semakin menjadi tren di kalangan masyarakat.
Fisiologi laktasi yang terjadi pada relaktasi dan induksi laktasi
Telah kita ketahui proses laktasi akan melibatkan unsur hormonal di dalam tubuh manusia. Setelah memasuki usia
kehamilan 16 minggu, wanita hamil tersebut sudah mulai memproduksi ASI, tetapi produksi ASI tidak berlanjut
karena tertahan oleh kehamilannya. Ketika bayi lahir dan plasenta keluar, hormon yang mempengaruhi proses
pembentukan ASI akan menjadi aktif, apalagi bila tindakan inisiasi menyusu dini (IMD) dilakukan.
Hisapan bayi akan mengirim sinyal ke otak ibu untuk mempengaruhi bagian otak yang disebut hipofisis. Hipofisis
bagian depan akan mengeluarkan hormon prolaktin yang akan masuk ke dalam aliran darah dan menimbulkan
refleks prolaktin yang berperan dalam produksi ASI. Hipofisis bagian belakang akan mengeluarkan hormon
oksitosin yang akan masuk ke dalam aliran darah dan menimbulkan refleks oksitosin untuk kontraksi otot yang ada
di sekeliling saluran ASI, sehingga ASI yang sudah diproduksi akan dapat dikeluarkan.

Kelelahan maupun masalah-masalah psikologis pada ibu dapat menghambat kerja oksitosin seperti: kekhawatiran
ibu bahwa ia tidak mampu menyusui atau merawat bayi, khawatir mengenai pekerjaannya, perselisihan dengan
pasangan ataupun anggota keluarga yang lain. Sebaliknya rasa bahagia menjadi seorang ibu, senang dapat
berdekatan dengan bayi, senang mengetahui suami ikut berpartisipasi dalam pengasuhan anak dan hal lain yang
menyenangkan ibu akan memicu pengeluaran oksitosin.
Dengan demikian kita mengetahui bahwa hal yang utama untuk proses laktasi adalah stimulasi pada payudara, baik
itu oleh hisapan bayi ataupun kegiatan memerah ASI, baik secara manual ataupun dengan bantuan alat. Jadi
walaupun seorang wanita tidak mampu untuk hamil dan melahirkan, ia akan dapat memproduksi ASI karena ASI
tidak diproduksi dari hormon yang berhubungan dengan proses reproduksi melainkan dari bagian otak yang
bernama hipofisis.
Hisapan bayi merupakan hal yang terbaik untuk stimulasi payudara dalam memproduksi dan mengeluarkan ASI.
Untuk dapat mengeluarkan ASI secara efektif, bayi harus dapat melekat dengan baik pada payudara. Bayi yang
melekat dengan baik akan membuka mulut dengan lebar, dagu bayi akan menempel pada payudara ibu, sebagian
besar areola terutama areola bagian bawah masuk ke dalam mulut bayi. Bibir bawah bayi tampak terpuntir keluar,
bayi menghisap kuat dengan irama perlahan dan ibu merasa nyaman, tidak merasa perih pada puting payudaranya.
Pada bayi baru lahir pelekatan yang benar tergantung dari posisi bayi menyusu pada ibu. Posisi bayi menempel
menghadap ibu, satu tangan bayi terletak di belakang badan ibu, telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis
lurus. Kepala bayi terletak pada lengkung siku, menghadap payudara dan puting berada di depan muka bayi. Sangga
bokong bayi dengan telapak tangan ibu, bila diperlukan gunakan bantal untuk menyangga tangan ibu. Bayi yang
lebih besar, seringkali sudah memiliki posisi menyusu yang nyaman baik untuk bayi maupun ibunya.
Waktu yang dibutuhkan untuk ASI mulai berproduksi sangat bervariasi antara wanita, umumnya produksi ASI
muncul setelah 1-6 minggu kemudian, rata-rata dalam 4 minggu. Beberapa wanita tidak pernah dapat memproduksi
ASI dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan laktasi ataupun untuk mempertahankan pemberian ASI
eksklusif, tetapi beberapa wanita mampu dalam beberapa hari mencapai jumlah yang cukup. Dalam penelitiannya
Seema dkk. melaporkan keluarnya ASI antara 2-6 hari, dimana relaktasi sebagian tercapai dalam 4-28 hari dan
relaktasi penuh tercapai antara 7-60 hari.
Kandungan ASI pada wanita yang melakukan relaktasi ataupun induksi laktasi tidak berbeda dibandingkan dengan
wanita yang menyusui sejak kelahiran bayinya. Kleinman dkk. menemukan bahwa kolostrum tidak pernah
diproduksi oleh wanita yang tidak pernah hamil, walaupun demikian jumlah total protein dan imunoglobulin adalah
sama pada hari ke-5.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan relaktasi dan induksi laktasi
1. Hal yang berhubungan dengan bayi
Keberhasilan terletak pada hisapan bayi yang dipengaruhi oleh:

Keinginan bayi untuk menyusu. Keberhasilan relaktasi dan induksi laktasi akan terjadi bila bayi segera
menyusu saat didekatkan pada payudara. Pada awalnya bayi memerlukan bantuan untuk dapat melekat dengan
benar pada payudara. Salah satu penelitian relaktasi menemukan bahwa 74% bayi menolak untuk segera
menyusu pada awal laktasi yang disebabkan karena bayi kesulitan melekat pada payudara dan memerlukan
bantuan tenaga kesehatan yang terlatih untuk mengatasinya. Penolakan pada awal laktasi bukan berarti bayi
akan selalu menolak menyusu pada ibu, diperlukan kesabaran ibu untuk menghadapi hal ini.

Usia bayi. Akan lebih mudah melakukan relaktasi ataupun induksi laktasi pada bayi baru lahir sampai bayi
berusia kurang dari 8 minggu. Walaupun demikian Thorley melaporkan keberhasilan relaktasi pada ibu-ibu
dengan anak berusia lebih dari 12 bulan.

Lamanya waktu laktasi terhenti (breastfeeding gap). Umumnya relaktasi akan lebih mudah bila waktu
terhentinya laktasi belum lama, tetapi Thorley melaporkan keberhasilan relaktasi pada anak berusia lebih dari
12 bulan yang sudah lama terhenti laktasinya.

Pengalaman makan bayi selama terhentinya laktasi. Seema melaporkan kesulitan mengajari bayi untuk
menyusu bila bayi tersebut sudah terbiasa menggunakan botol susu. Penelitian Lang dkk. menemukan bayi
dengan berat lahir rendah yang diberikan minum dengan cangkir pada fase transisi perubahan pemberian
minum, akan lebih mudah menyusu pada ibu dibandingkan mereka yang mendapat minum dengan
menggunakan botol susu.

Sudah mendapat makanan pendamping. Relaktasi dan induksi laktasi akan sulit dilakukan pada bayi
yang sudah mendapat makanan pendamping. Dianjurkan untuk tidak mengenalkan makanan pendamping
sebelum bayi berusia 6 bulan, kecuali saat bayi sudah berusia 4-5 bulan tidak mengalami kenaikan berat badan
sesuai dengan umur dan jenis kelamin bayi.

2. Hal yang berhubungan dengan ibu


Faktor tersebut adalah:

Motivasi ibu. Ibu mempunyai motivasi yang kuat karena mengetahui laktasi sangat penting dalam
mendukung kesehatan bayi. Di Papua, ibu termotivasi untuk melakukan relaktasi ketika mengetahui
bahayanya penggunaan susu formula. Keinginan ibu untuk mengeratkan hubungan batin dengan anak
adopsinya juga menjadi salah satu dasar induksi laktasi.

Lamanya waktu dari berhentinya laktasi (lactation gap). Umumnya makin pendek waktu terhentinya
laktasi, makin mudah ibu untuk melakukan relaktasi, namun Agarwal dan Jain melaporkan keberhasilan
relaktasi dalam 2 minggu walaupun laktasi sudah terhenti selama 14 minggu.

Kondisi payudara ibu. Adanya infeksi atau luka pada payudara maupun bentuk puting yang terbenam

menjadikan alasan ibu menghentikan laktasi. Setelah infeksi teratasi dan ibu mendapat bimbingan laktasi,
motivasi ibu muncul untuk menyusui anaknya kembali.
Kemampuan ibu untuk berinteraksi dengan bayinya dan dukungan dari keluarga, lingkungan dan tenaga

kesehatan. Ibu melihat bayi memiliki minat untuk menyusu, rasa kasih sayang antara ibu dan bayi terjalin
sehingga ibu tergerak untuk memberikan air susunya kepada bayi. Tentunya bagi ibu bekerja apabila hal ini
mendapat dukungan dari tempatnya bekerja, relaktasi ataupun induksi laktasi akan berhasil dilakukan.
Pengalaman laktasi sebelumnya. Ibu yang memiliki pengalaman laktasi sebelumnya tidak terlalu

mempengaruhi kemampuan relaktasinya. Nemba menemukan 11 dari 12 ibu yang belum pernah menyusui
mampu melakukan laktasi dalam 5-13 hari setelah mengikuti protokol induksi laktasi. Seema melaporkan
tidak terdapat perbedaan keberhasilan relaktasi antar ibu yang baru memiliki anak satu dibandingkan dengan
ibu yang sudah memiliki anak lebih dari satu orang.
Tips-tips untuk melakukan relaktasi
1.

Evaluasi kembali apa yang menjadi motivasi ibu untuk melakukan relaktasi. Siapkan mental ibu dan cari
dukungan terutama dari keluarga terdekat (suami, orangtua atau teman dekat). Dibutuhkan kesabaran yang
tinggi karena seringkali memerlukan waktu yang lama sehingga ibu merasa putus asa dan membutuhkan
dukungan.

2.

Berkunjung ke klinik laktasi untuk bertemu dengan konsultan laktasi. Dibutuhkan arahan dan dukungan
dari konsultan laktasi mengenai tehnik dan posisi menyusui yang baik dan benar.

3.

Sangat dianjurkan untuk sering melakukan kontak kulit dengan bayi (skin-to-skin contact) pada saat bayi
tidak menyusu antara lain dengan melakukan metode kanguru, dimana bayi selalu berada di dada ibu. Tidurlah
bersama bayi pada siang maupun malam hari, dekap dan gendonglah bayi sesering mungkin. Sebisa mungkin
seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan bayi dapat dikerjakan oleh ibu sendiri, baik memandikan bayi,
mengganti popok, ataupun mengajak bayi bermain.

4.

Bila bayi mau menyusu: Susuilah bayi sesering mungkin setiap 1- jam, paling tidak 8-12 kali dalam 24 jam.
-

Gunakan

ke-2

payudara
-

Pastikan

payudara,

pada
posisi

minimal
satu

dan

pelekatan

10-15

menit

pada

kesempatan
bayi

pada

payudara

setiap
menyusui

adalah

baik

- Monitor asupan bayi cukup atau tidak dengan memantau buang air kecil bayi, minimal 6 kali atau lebih
dalam

sehari

- Jangan mengunakan botol susu ataupun dot bayi. Metode finger feding (memasukkan jari tangan ibu yang
bersih sampai menyentuh langit-langit mulut bayi) bisa digunakan untuk meningkatkan refleks menghisap
bayi

- Pada awal kegiatan dibutuhkan suplemen, baik ASI donor ataupun susu formula, dengan menggunakan alat
bantu berupa pemakaian pipa nasogastrik yang dihubungkan ke cangkir atau semprit, dimana sisi yang satu
lagi di tempelkan pada payudara. Ibu dapat mengontrol pengaliran cairan dengan menaikkan atau
merendahkan cangkir atau semprit saat bayi menyusu pada payudara ibu. Metode drip drop dengan
menggunakan cangkir berisi suplemen atau dengan semprit yang diteteskan di payudara saat bayi menyusu
merupakan salah satu metode yang sering digunakan, demikian pula dengan alat bantu laktasi lain seperti
Lact-Aid Nursing Trainer System (Lact- id International) Supplemental Nursing System (Medela) juga
dapat digunakan.
5.

Bila

bayi

tidak

Pastikan

Tingkatkan

kontak

Lakukan

pemijatan

bayi
kulit

dengan

payudara

mau
dalam

bayi,

lalu

mungkin

perah

ASI

menyusu:
keadaan

dengan
selama

mengunakan
20-30

sehat
metode

menit,

8-12

kanguru
x/hari

- Lebih sering memberikan payudara pada bayi walaupun bayi tidak mau menyusu dan gunakan alat bantu
untuk

memberikan

suplemen,

baik

ASI

donor

ataupun

susu

formula

- Jangan menggunakan botol susu ataupun dot bayi


6.

Monitor asupan bayi dengan memantau urin bayi, minimal 6 kali atau lebih dalam sehari

7.

Lakukan laktasi pada saat ibu dan bayi dalam keadaan tenang dan rileks. Jangan memaksa bayi untuk
menyusu. Jika bayi menolak menyusu tentunya hal ini akan mengganggu proses relaktasi. Tunda hingga
kondisi nyaman untuk ibu dan bayi.

8.

Tingkatkan konsumsi makanan ibu dengan diet yang sehat dan seimbang.

9.

Penggunaan obat-obatan yang dapat membantu stimulasi produksi ASI (lactogogues/galactogogue)


mungkin diperlukan bagi mereka yang tidak berhasil melakukan relaktasi ataupun induksi dengan panduan
tersebut di atas.

10.

Monitoring

asupan

bayi:

Timbanglah bayi setiap minggu, minimal kenaikkan berat badan bayi berusia kurang dari 9 bulan adalah 125
gram/minggu

atau

500

gram/bulan

- Monitor urin dan feses bayi. Frekuensi urin 6 kali atau lebih dalam sehari, tidak pekat ataupun bau. Dalam 4
minggu pertama, bayi mengeluarkan feses lembik cenderung cair warna kuning kecoklatan, beberapa kali
dalam sehari. Selanjutnya frekuensi buang air besar akan berkurang sekali sehari sampai 7-10 hari sekali.
Konsistensi dan warna feses akan berubah bila bayi telah mendapat makanan pendamping ASI.
- Bayi yang bangun setiap 2-3 jam, menyusu dengan lahap dan terlihat aktif berinteraksi sosial sesuai dengan
usianya, dapat menjadi panduan akan kecukupan asupan yang diterimanya.

11.

Jumlah suplemen yang dibutuhkan bayi dan pengurangan suplemen saat relaktasi atau induksi laktasi
dilakukan
- Timbanglah bayi dan berilah suplemen yang direkomendasikan (ASI donor atau susu formula) 150 ml/kg
BB/hari

dengan

alat

bantu

- Bila produksi ASI meningkat, kurangi sebanyak 50 ml setiap beberapa hari dengan memantau berat badan
bayi tiap minggu sesuai penjelasan di atas. Pengurangan dilakukan pada jumlah suplemen bukan pada
kekentalannya Pengurangan sejumlah 50 ml tersebut dapat dilakukan diantara beberapa kesempatan, misalnya
kurangi pada 2 kali kesempatan menyusu dengan 25 ml perkali atau kurangi 5 kali kesempatan menyusu
dengan
-

10

Lanjutkan

jumlah

yang

ada

ml
setelah

pengurangan

perkali

tersebut

untuk

beberapa

hari

- Bila bayi menunjukkan asupannya cukup(urin 6 kali atau lebih, tidak pekat atau bau, dan penambahan berat
badan

125

gram

atau

lebih)

kurangi

lagi

jumlah

suplemen

yang

diberikan

- Bila bayi menunjukkan asupan kurang, pertahankan jumlah yang ada dalam 1 minggu lagi
- Bila bayi tetap menunjukkan asupan yang kurang tambahkan lagi 50 ml dari jumlah suplemen terakhir yang
telah diberikan
Tips-tips untuk melakukan induksi laktasi
1.

Selain-hal tersebut di atas yang telah dijelaskan, wanita yang akan mengadopsi bayi disarankan untuk
memijat payudara dan memerah setiap 3 jam dan sekali pada malam hari selama 10-15 menit setiap kali dalam
3-6 bulan sebelum bayi datang. Berbeda dengan wanita yang hamil dan melahirkan, ibu yang akan
mengadopsi anak dan belum pernah hamil, tidak memiliki kesempatan mengalami 9 bulan perubahan
hormonal tubuhnya dalam menyiapkan diri untuk laktasi, sehingga hisapan bayi ataupun pemerahan payudara
sangat diperlukan untuk kesiapan melakukan dan mempertahankan laktasi. Sering kali obat obat yang
mengandung hormal diperlukan untuk mengatasinya

2.

Pemerahan ASI dengan menggunakan 2 pompa listrik pada ke-2 payudara pada satu kesempatan sangat
dianjurkan

3.

Kesehatan dan kesejahteraan bayi adalah yang diutamakan. Pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai
usia dan jenis kelamin harus dipantau secara teratur. Kunjungan teratur ke dokter anak harus dilakukan untuk
pemantauan ini.

4.

Frekuensi dan lama menyusu bayi serta usia mulai diberikan makanan pendamping bayi adalah sama
seperti bayi yang lain.

5.

Karena ibu yang mengadopsi bayi kemungkinan tidak dapat, memproduksi cukup ASI, dukungan dan
pendampingan ibu sangat dibutuhkan untuk keberhasilan induksi laktasi. Anjurkan ibu untuk menemui
kelompok pendukung ASI yang ada di daerah tempat tinggal ibu.

Kesimpulan
Usaha relaktasi umumnya menghasilkan produksi ASI yang lebih banyak dari pada induksi laktasi. Payudara wanita
yang mendapat pengaruh hormonal kehamilan, dan terutama wanita yang pernah menyusui, akan dapat
memproduksi banyak ASI saat wanita tersebut melakukan relaktasi.
Percaya diri dan motivasi yang kuat adalah kunci utama keberhasilan program relaktasi maupun induksi laktasi.
Percayalah bahwa ibu akan mampu memberikan yang terbaik untuk bayi.
Rutin menyusu pada ibu dan ibu rutin memerah ASI, merupakan kunci untuk keberhasilan menstimulasi produksi
ASI, baik pada relaktasi maupun induksi laktasi
Keberhasilan produksi ASI, seberapapun jumlahnya, hendaknya dipandang sebagai karunia yang patut disyukuri.
Sumber : Buku Indonesia Menyusui
Penulis : Jeanne-Roos Tikoalu
MASTITIS: PENCEGAHAN DAN PENANGANAN
26.08.2013
Mastitis merupakan masalah yang sering dijumpai pada ibu menyusui. Diperkirakan sekitar 3-20% ibu menyusui
dapat mengalami mastitis. Terdapat dua hal penting yang mendasari kita memperhatikan kasus ini. Pertama, karena
mastitis biasanya menurunkan produksi ASI dan menjadi alasan ibu untuk berhenti menyusui. Kedua, karena
mastitis berpotensi meningkatkan transmisi vertikal pada beberapa penyakit (terutama AIDS).
Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir (paling sering pada minggu ke-2 dan ke3), meskipun mastitis dapat terjadi sepanjang masa menyusui bahkan pada wanita yang sementara tidak menyusui.
Definisi dan Diagnosis
Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi
atau tanpa infeksi. Dalam proses ini dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis terinfeksi.
Apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat atau karena payudara bengkak, maka ini
disebut stasis ASI. Bila ASI tidak juga dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis
tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis terinfeksi. Diagnosis mastitis ditegakkan berdasarkan
kumpulan gejala sebagai berikut:

Demam dengan suhu lebih dari 38,5oC

Menggigil

Nyeri atau ngilu seluruh tubuh

Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.

Peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa asin

Timbul garis-garis merah ke arah ketiak.

Berdasarkan jumlah lekosit (sel darah putih), Thomsen dkk. membagi peradangan payudara dalam 3 kondisi klinis
(Tabel

1).

Patofisiologi
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus (saluran ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI
tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang
memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga permeabilitas jaringan ikat meningkat. Beberapa komponen
(terutama protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar
sel sehingga memicu respons imun. Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan kerusakan jaringan memudahkan
terjadinya

infeksi.

Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus ke lobus sekresi, melalui puting yang retak
ke kelenjar limfe sekitar duktus (periduktal) atau melalui penyebaran hematogen (pembuluh darah). Organisme yang
paling sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli dan Streptococcus. Kadangkadang ditemukan pula
mastitis tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil. Pada daerah endemis tuberkulosa
kejadian mastitis tuberkulosis mencapai 1%.
Faktor risiko terjadinya mastitis antara lain:
1.

Terdapat riwayat mastitis pada anak sebelumnya.

2.

Puting

lecet.

Puting lecet menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang membuat kebanyakan ibu menghindari pengosongan
payudara secara sempurna.
3.

Frekuensi

menyusui

yang

jarang

atau

waktu

menyusui

yang

pendek.

Biasanya mulai terjadi pada malam hari saat ibu tidak memberikan bayinya minum sepanjang malam atau
pada ibu yang menyusui dengan tergesa-gesa.
4.

Pengosongan payudara yang tidak sempurna

5.

Pelekatan bayi pada payudara yang kurang baik. Bayi yang hanya mengisap puting (tidak termasuk areola)
menyebabkan puting terhimpit diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI tidak sempurna.

6.

Ibu atau bayi sakit.

7.

Frenulum pendek.

8.

Produksi ASI yang terlalu banyak.

9.

Berhenti menyusu secara cepat/ mendadak, misalnya saat bepergian.

10.

Penekanan payudara misalnya oleh bra yang terlalu ketat atau sabuk pengaman pada mobil.

11.

Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur,serpihan kulit, dan lain-lain.

12.

Penggunaan krim pada puting.

13.

Ibu stres atau kelelahan.

14.

Ibu malnutrisi. Hal ini berhubungan dengan daya tahan tubuh yang rendah.

Pencegahan
Pencegahan terhadap kejadian mastitis dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor risiko di atas. Bila payudara
penuh dan bengkak (engorgement), bayi biasanya menjadi sulit melekat dengan baik, karena permukaan payudara
menjadi sangat tegang. Ibu dibantu untuk mengeluarkan sebagian ASI setiap 3 - 4 jam dengan cara memerah dengan
tangan atau pompa ASI yang direkomendasikan. Sebelum memerah ASI pijatan di leher dan punggung dapat
merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang menyebabkan ASI mengalir dan rasa nyeri berkurang. Teknik
memerah dengan tangan yang benar perlu diperlihatkan dan diajarkan kepada ibu agar perahan tersebut efektif. ASI
hasil perahan dapat diminumkan ke bayi dengan menggunakan cangkir atau sendok. Pembengkakan payudara ini
perlu segera ditangani untuk mencegah terjadinya feedback inhibitor of lactin (FIL) yang menghambat penyaluran
ASI.
Pengosongan yang tidak sempurna atau tertekannya duktus akibat pakaian yang ketat dapat menyebabkan ASI
terbendung. Ibu dianjurkan untuk segera memeriksa payudaranya bila teraba benjolan, terasa nyeri dan kemerahan.
Selain itu ibu juga perlu beristirahat, meningkatkan frekuensi menyusui terutama pada sisi payudara yang
bermasalah serta melakukan pijatan dan kompres hangat di daerah benjolan.
Pada kasus puting lecet, bayi yang tidak tenang saat menetek, dan ibu-ibu yang merasa ASInya kurang, perlu
dibantu untuk mengatasi masalahnya. Pada peradangan puting dapat diterapi dengan suatu bahan penyembuh luka

seperti atau lanolin, yang segera meresap ke jaringan sebelum bayi menyusu. Pada tahap awal pengobatan dapat
dilakukan dengan mengoleskan ASI akhir (hind milk) setelah menyusui pada puting dan areola dan dibiarkan
mengering. Tidak ada bukti dari literatur yang mendukung penggunaan bahan topikal lainnya.
Kelelahan sering menjadi pencetus terjadinya mastitis. Seorang tenaga kesehatan harus selalu menganjurkan ibu
menyusui cukup beristirahat dan juga mengingatkan anggota keluarga lainnya bahwa seorang ibu menyusui
membutuhkan lebih banyak bantuan.
Ibu harus senantiasa memperhatikan kebersihan tangannya karena Staphylococcus aureus adalah kuman komensal
yang paling banyak terdapat di rumah sakit maupun masyarakat. Penting sekali untuk tenaga kesehatan rumah sakit,
ibu yang baru pertama kali menyusui dan keluarganya untuk mengetahui teknik mencuci tangan yang baik. Alat
pompa ASI juga biasanya menjadi sumber kontaminasi sehingga perlu dicuci dengan sabun dan air panas setelah
digunakan.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain untuk menunjang diagnosis tidak selalu diperlukan. World Health
Organization (WHO) menganjurkan pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas pada beberapa keadaan yaitu bila:

pengobatan dengan antibiotik tidak -- memperlihatkan respons yang baik dalam 2 hari

terjadi mastitis berulang

mastitis terjadi di rumah sakit

penderita alergi terhadap antibiotik atau pada kasus yang berat.

Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan tangan yang langsung ditampung menggunakan
penampung urin steril. Puting harus dibersihkan terlebih dulu dan bibir penampung diusahakan tidak menyentuh
puting untuk mengurangi kontaminasi dari kuman yang terdapat di kulit yang dapat memberikan hasil positif palsu
dari kultur. Beberapa penelitian memperlihatkan beratnya gejala yang muncul berhubungan erat dengan tingginya
jumlah bakteri atau patogenitas bakteri.
Tata laksana
Tata laksana suportif
Tata laksana mastitis dimulai dengan memperbaiki teknik menyusui ibu. Aliran ASI yang baik merupakan hal
penting dalam tata laksana mastitis karena stasis ASI merupakan masalah yang biasanya mengawali terjadinya
mastitis. Ibu dianjurkan agar lebih sering menyusui dimulai dari payudara yang bermasalah. Tetapi bila ibu merasa
sangat nyeri, ibu dapat mulai menyusui dari sisi payudara yang sehat, kemudian sesegera mungkin dipindahkan ke
payudara bermasalah, bila sebagian ASI telah menetes (let down) dan nyeri sudah berkurang. Posisikan bayi pada

payudara sedemikian rupa sehingga dagu atau ujung hidung berada pada tempat yang mengalami sumbatan. Hal ini
akan membantu mengalirkan ASI dari daerah tersebut.
Ibu dan bayi biasanya mempunyai jenis pola kuman yang sama, demikian pula pada saat terjadi mastitis sehingga
proses menyusui dapat terus dilanjutkan dan ibu tidak perlu khawatir terjadi transmisi bakteri ke bayinya. Tidak ada
bukti terjadi gangguan kesehatan pada bayi yang terus menyusu dari payudara yang mengalami mastitis. Ibu yang
tidak mampu melanjutkan menyusui harus memerah ASI dari payudara dengan tangan atau pompa. Penghentian
menyusui dengan segera memicu risiko yang lebih besar terhadap terjadinya abses dibandingkan yang melanjutkan
menyusui. Pijatan payudara yang dilakukan dengan jari-jari yang dilumuri minyak atau krim selama proses
menyusui

dari

daerah

sumbatan

ke

arah

puting

juga

dapat

membantu

melancarkan

aliran ASI.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ibu harus beristirahat, mengkonsumsi cairan yang adekuat dan nutrisi
berimbang. Anggota keluarga yang lain perlu membantu ibu di rumah agar ibu dapat beristirahat. Kompres hangat
terutama saat menyusu akan sangat membantu mengalirkan ASI. Setelah menyusui atau memerah ASI, kompres
dingin dapat dipakai untuk mengurangi nyeri dan bengkak. Pada payudara yang sangat bengkak kompres panas
kadang membuat rasa nyeri bertambah. Pada kondisi ini kompres dingin justru membuat ibu lebih nyaman.
Keputusan untuk memilih kompres panas atau dingin lebih tergantung pada kenyamanan ibu.
Perawatan di rumah sakit dipertimbangkan bila ibu sakit berat atau tidak ada yang dapat membantunya di rumah.
Selama di rumah sakit dianjurkan rawat gabung ibu dan bayi agar proses menyusui terus berlangsung.
Penggunaan obat-obatan
Meskipun ibu menyusui sering enggan untuk mengkonsumsi obat, ibu dengan mastitis dianjurkan untuk
mengkonsumsi beberapa obat sesuai indikasi.
Analgesik
Rasa nyeri merupakan faktor penghambat produksi hormon oksitosin yang berguna dalam proses pengeluaran ASI.
Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri pada mastitis. Analgesik yang dianjurkan adalah obat anti
inflamasi seperti ibuprofen. Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan gejala yang berhubungan dengan peradangan
dibandingkan parasetamol atau asetaminofen. Ibuprofen sampai dosis 1,6 gram per hari tidak terdeteksi pada ASI
sehingga

direkomendasikan

untuk

ibu

menyusui

yang

mengalami

mastitis.

Antibiotik
Jika gejala mastitis masih ringan dan berlangsung kurang dari 24 jam, maka perawatan konservatif (mengalirkan
ASI dan perawatan suportif) sudah cukup membantu. Jika tidak terlihat perbaikan gejala dalam 12 - 24 jam atau jika
ibu tampak sakit berat, antibiotik harus segera diberikan. Jenis antibiotik yang biasa digunakan adalah dikloksasilin
atau flukloksasilin 500 mg setiap 6 jam secara oral. Dikloksasilin mempunyai waktu paruh yang lebih singkat dalam
darah dan lebih banyak efek sampingnya ke hati dibandingkan flukloksasilin. Pemberian per oral lebih dianjurkan

karena pemberian secara intravena sering menyebabkan peradangan pembuluh darah. Sefaleksin biasanya aman
untuk ibu hamil yang alergi terhadap penisillin tetapi untuk kasus hipersensitif penisillin yang berat lebih dianjurkan
klindamisin.
Antibiotik diberikan paling sedikit selama 10 - 14 hari. Biasanya ibu menghentikan antibiotik sebelum waktunya
karena merasa telah membaik. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya mastitis berulang. Tetapi perlu pula diingat
bahwa pemberian antibiotik yang cukup lama dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi jamur pada payudara dan
vagina.
Pada penelitian yang dilakukan Jahanfar diperlihatkan bahwa pemberian antibiotik disertai dengan pengosongan
payudara pada mastitis mempercepat penyembuhan bila dibandingkan dengan pengosongan payudara saja.
Sedangkan penelitian Jimenez dkk. memperlihatkan bahwa pemberian Lactobacillus salivarius dan Lactobacillus
gasseri mempercepat perbaikan kondisi klinik pada kasus mastitis yang sementara mendapat antibiotik.
Pemantauan
Respon klinik terhadap penatalaksanaan di atas dibagi atas respon klinik cepat dan respon klinik dramatis. Jika
gejalanya tidak berkurang dalam beberapa hari dengan terapi yang adekuat termasuk antibiotik, harus
dipertimbangkan diagnosis banding. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi kumankuman yang resisten, adanya abses atau massa padat yang mendasari terjadinya mastitis seperti karsinoma duktal
atau limfoma non Hodgkin. Berulangnya kejadian mastitis lebih dari dua kali pada tempat yang sama juga menjadi
alasan dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan adanya massa tumor, kista
atau galaktokel.
Komplikasi
Penghentian menyusui dini
Mastitis dapat menimbulkan berbagai gejala akut yang membuat seorang ibu memutuskan untuk berhenti menyusui.
Penghentian menyusui secara mendadak dapat meningkatkan risiko terjadinya abses. Selain itu ibu juga khawatir
kalau obat yang mereka konsumsi tidak aman untuk bayi mereka. Oleh karena itu penatalaksanaan yang efektif,
informasi yang jelas dan dukungan tenaga kesehatan dan keluarga sangat diperlukan saat ini.
Abses
Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Bila
terdapat daerah payudara teraba keras , merah dan tegang walaupun ibu telah diterapi, maka kita harus pikirkan
kemungkinan terjadinya abses. Kurang lebih 3% dari kejadian mastitis berlanjut menjadi abses. Pemeriksaan USG
payudara diperlukan untuk mengidentifikasi adanya cairan yang terkumpul. Cairan ini dapat dikeluarkan dengan
aspirasi jarum halus yang berfungsi sebagai diagnostik sekaligus terapi, bahkan mungkin diperlukan aspirasi jarum
secara serial. Pada abses yang sangat besar terkadang diperlukan tindakan bedah. Selama tindakan ini dilakukan ibu
harus mendapat antibiotik. ASI dari sekitar tempat abses juga perlu dikultur agar antibiotik yang diberikan sesuai

dengan

jenis

kumannya.

Mastitis berulang/kronis
Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Ibu harus benar-benar
beristirahat, banyak minum, makanan dengan gizi berimbang, serta mengatasi stress. Pada kasus mastitis berulang
karena infeksi bakteri diberikan antibiotik dosis rendah (eritromisin 500 mg sekali sehari) selama masa menyusui
Infeksi jamur
Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi oleh jamur seperti candida albicans. Keadaan ini sering
ditemukan setelah ibu mendapat terapi antibiotik. Infeksi jamur biasanya didiagnosis berdasarkan nyeri berupa rasa
terbakar yang menjalar di sepanjang saluran ASI. Di antara waktu menyusu permukaan payudara terasa gatal. Puting
mungkin tidak nampak kelainan. Ibu dan bayi perlu diobati. Pengobatan terbaik adalah mengoles nistatin krem yang
juga mengandung kortison ke puting dan areola setiap selesai bayi menyusu dan bayi juga harus diberi nistatin oral
pada saat yang sama.
Kesimpulan
Mastitis merupakan proses peradangan payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Sebagian besar
mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir. Diagnosis mastitis ditegakkan bila ditemukan gejala
demam, menggigil, nyeri seluruh tubuh serta payudara menjadi kemerahan, tegang, panas dan bengkak. Beberapa
faktor risiko utama timbulnya mastitis adalah puting lecet, frekuensi menyusui yang jarang dan pelekatan bayi yang
kurang baik. Melancarkan aliran ASI merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis. Selain itu ibu perlu
beristirahat, banyak minum, mengkonsumsi nutrisi berimbang dan bila perlu mendapat analgesik dan antibiotik.
Sumber : Buku Indonesia Menyusui
Penulis : Ema Alasiry

BAGAIMANA MENYUSUI DENGAN BENAR?


26.08.2013
Menyusui tidak saja memberikan kandungan ASI yang bernilai tinggi untuk kesehatan bayi, tetapi juga menciptakan
hubungan emosional kuat antara ibu dan bayi, yang akan terbawa terus, meskipun ibu sudah tidak menyusui.
Memposisikan Bayi
Dengan memposisikan dan melekatkan bayi dengan benar akan mencegah puting lecet dan menjaga pasokan ASI
mencukupi. Menyusui seharusnya tidak membuat rasa sakit, jadi pastikan anda merasa nyaman dan posisi bayi

benar.
Pertama-tama posisikan ibu senyaman mungkin. Sandarkan punggung ibu, bila perlu memakai bantalan, pakai
bangku kecil untuk penyangga kaki, agar kaki ibu tidak tergantung selama menyusui. Tempatkan barang-barang
yang akan dibutuhkan ibu sedekat mungkin, agar mudah meraihnya.
Kepala bayi diletakkan pada sepertiga atas lengan bawah di sisi payudara yang sama.
Bayi berbaring miring menghadap ke ibu, sehingga perut anda menempel pada perut bayi, dan dada anda menempel
pada dadanya, serta wajah bayi menghadap payudara.
Tubuh bayi berbaring dalam 1 garis lurus sehingga telinga, bahu, dan panggul berada pada 1 garis lurus.
Hidung bayi menghadap ke puting
Sangga seluruh tubuh bayi dengan baik. Bila bayi masih kecil, menyangga bisa dilakukan dengan 1 lengan, dan bila
bayi besar biasanya disangga dengan 2 lengan atau bila perlu dibantu dengan bantal besar atau handuk besar yang
digulung, yang diletakkan di pangkuan.
Pegang payudara oleh tangan ibu yang lain. Ibu jari di bagian atas payudara, kurang lebih 1 jari di atas areola atas,
sedangkan 4 jari yang lainnya menyangga payudara di bagian bawah, sehingga payudara terangkat dan puting
mengarah ke atas.
Dekatkan bayi ke ibu
Rangsang bayi agar membuka mulutnya dengan menyentuhkan puting pada bibirnya.
Tunggu bayi membuka mulutnya selebar mungkin. Saat itu masukkan payudara sebanyak mungkin ke dalam mulut
bayi, sehingga makin banyak saluran ASI yang masuk ke dalam mulut bayi dan ujung puting berada pada langitlangit lunak bayi. Isapan bayi dapat dirasakan oleh ibu.
Posisi Menyusui
Berbaring dalam posisi di samping.
Ibu dapat beristirahat.
Setelah operasi Caesar.
MenJaga agar hidung bayi tetap di depan puting ibu, dan bayi tidak perlu menolehkan lehernya untuk mencapai
payudara.
Posisi Cradle
Lengan bawah bayi berada di samping ibu.
Jaga agar kepala bayi tidak terlalu jauh masuk ke dalam siku ibu, sehingga sulit untuk bayi tetap melekat.
Posisi lengan silang (Cross arm position)
Bermanfaat untuk bayi kecil atau sakit.
Ibu dapat mengkontrol kepala dan tubuh bayi,
Jaga agar kepala bayi tidak dipegang terlalu kuat sehingga bayi sulit bergerak.
Posisi di bawah lengan (Underarm position)
Berguna bagi bayi kembar untuk mengalirkan seluruh daerah
payudara.
Memungkinkan ibu untuk melihat perlekatan dengan baik.
Jaga agar leher bayi tidak tertekuk

Perlekatan Ibu dan Bayi


Beberapa tanda penting yang menunjukkan bahwa bayi melekat dengan baik saat menyusui :
Dagu bayi menyentuh payudara ibu
Bibir bawah bayi terpuntir keluar
Mulut bayi terbuka lebar
Aerola bagian bawah lebih banyak yang masuk ke dalam mulut bayi dibanding areola bagian atas.
Bayi menyusu dengan baik akan mengisap dengan pelan, berirama, tidak tergesa-gesa, dan tidak terdengar bunyi
berdecak. Yang terdengar adalah suara bayi menelan. Pipi bayi terlihat menggembung, dan ibu tidak merasa nyeri.
Frekuensi Menyusui
Makin sering ibu menyusui makin banyak produksi ASI. Bayi ASI biasanya menyusu tiap 2-3 jam, lebih sering
dibanding bayi susu formula, karena ASI lebih mudah dicerna.
Lamanya menyusu ditentukan oleh kebutuhan bayi. Bayi menyusu pada satu sisi payudara sampai dia berhenti,
kemudian istirahat sebentar, sambil bayi disendawakan atau digendong. Selanjutnya ganti ke payudara sisi yang
lainnya, bila ibu atau bayinya masih menginginkan.
Untuk minum berikutnya, dapat diganti urutan payudaranya. Mulailah dari payudara yang terkahir diminum. Bayi
memiliki kebiasaan pola menyusu yang berbeda-beda,. Susui bayi sesuai dengan keinginan bayi.
Kenali tanda-tanda bayi lapar, karena menangis tidak selalu berarti lapar. Sebagian besar ibu memerlukan sekitar 6
minggu sampai pasokan ASI nya lancar. Selama waktu tersebut baik ibu dan bayi masih saling belajar bagaimana
cara menyusu dan menyusui.
Usahakan istirahat di sela waktu menyusui. Makanlah secara teratur dengan menu gizi seimbang. Rawat diri ibu,
sehingga ibu dapat merawat bayinya dengan baik.
Kecukupan ASI
Sebagian besar bayi akan mencapai kembali berat lahirnya dalam 2 minggu. Bayi yang mendapatkan ASI cukup,
akan sering berganti popok karena bayi akan sering buang air kecil (6-8 kali sehari) dan buang air besar. Kecukupan
ASI secara objektif dapat dilihat dengan pertambahan berat dan tinggi badan sesuai pertambahan usia.
Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia
Administrator