Anda di halaman 1dari 10

TUGAS TEKNOPRENEURSHIP

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PASCAPANEN PADI

Oleh : Kelompok 7B

Afria Siska

(05021181320028)

Hoky Sandra

(05021181320022)

M. Haris Abdar

(05021181320024)

Mochammad Rizky C

(05021181320025)

Ria Lestari

(05021181320031)

Rivaldi Husni

(05021181320020)

Dosen Koordinator Mata Kuliah : Dr.Ir Gatot Priyanto . M.S

PRODI TEKNIK PERTANIAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masyarakat dewasa ini mengalami perubahan yang sangat cepat dan
komplek, karena kemajuan ilmu dan teknologi. Perubahan menyeluruh terjadi
hampir pada semua aspek kehidupan. Pasar kerja berubah drastis, baik yang
disebabkan pengaruh informasi maupun teknologi global. Perubahan yang begitu
cepat membawa dampak terhadap tuntutan masyarakat. Dampak perubahan
tersebut menuntut adanya perubahan dalam pola dan strategi pengelolaan
kelembagaan yang lebih sesuai, sehingga dapat memberikan respon yang tepat
terhadap tantangan yang ada.
Indonesia yang merupakan salah satu dari negara yang terlibat dalam
sistem perdagangan bebas harus memiliki strategi yang jitu untuk menghadapi era
yang sarat dengan kompetisi tersebut. Strategi tersebut tentunya disusun dan
dibuat berdasarkan pada kemampuan bangsa Indonesia dengan memanfaatkan
segala sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam maupun sumberdaya
manusianya. Mengingat republik ini merupakan negara agraris, maka hal utama
yang perlu dipikirkan dalam menyusun dan menentukan strategi tersebut adalah
memperkuat sektor pertanian sebagai unsur industri primer (pertanian, kehutanan,
dan perikanan). Hal ini disebabkan dengan tangguhnya sektor pertanian akan
menghasilkan ketahanan pangan yang mengakibatkan bangsa ini mempunyai
modal dasar yang kokoh untuk menangkal segala gangguan, tantangan, dan
ancaman baik yang bersifat lokal maupun global. Di samping itu, tentunya juga
harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Dilihat dari besarnya kegiatan usaha pertanian dan besarnya kebutuhan
akan pangan baik untuk konsumsi domestik maupun export, maka dapat dikatakan
bahwa perkembangan teknologi mekanisasi pertanian di Indonesia masih belum
menggembirakan. Hal yang serupa terjadi terhadap perkembangan industri alat

dan mesin pertanian (alsintan). Jika teknologi pertanian dianggap sebagai unsur
penentu dalam upaya mencukupi ketersediaan bahan pangan dalam negeri saja,
maka perkembangan teknologi alsintan tersebut masih sangat lambat.
Pengembangan teknologi pertanian diarahkan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kemandirian masyarakat kita umumnya dan petani khususnya.
Dapat dipastikan bahwa jika teknologi pertanian yang cocok tersebut telah
berhasil dikembangkan dan diterapkan di negara kita, maka ketahanan pangan
atau swasembada pangan pasti akan tercapai sehingga kemandirian dalam hal
ekonomi dan politik dapat kita wujudkan. Apabila hal tersebut benar-benar kita
miliki, maka dalam menghadapi era global nanti kita sudah punya bekal paling
tidak ketahanan pangan dalam menghadapi beberapa goncangan. Dengan
ketahanan pangan berarti bahaya kekurangan pangan atau kelaparan akibat
tajamnya persaingan pada era global dapat dihindarkan.
1.2 Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk melihat pengembangan produk
dan industri dalam hal ini adalah alat dan mesin pertanian yang digunakan untuk
mengurangi kehilangan hasil padi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia adalah negara agraris yang penduduknya mengknsumsi nasi


sebagai makanan pokok dalam memenuhi kebutuhan. Yulianto (2014) Indonesia
merupakan Negara yang mata pencahariannya rata-rata adalah petani. Begitu luas
wilayahnya sehingga dapat ditanami segala macam tanaman terutama tanaman
yang sebagai pokok kebutuhan seperti padi dan jagung. Setiap wilayah ladang dan
sawahnya sangat berpotensi untuk ditanami jenis tanaman pokok tersebut. Padi
adalah jenis tanaman yang sangat penting untuk kehidupan manusia karena
sebagai kebutuhan pokok dalam memenuhi kebutuhan tubuh manusia.
Ketahanan pangan sangat penting bagi Indonedia dimana dengan jumlah
penduduk yang besar dan konsumsi pangan merupakan agenda yang penting baik
dalam aspek ekomoni maupun social politik. Ariani (2010) Sebagai negara
dengan penduduk besar dan wilayah sangat luas, ketahanan pangan merupakan
agenda penting di dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Kejadian rawan
pangan menjadi masalah yang sangat sensitif dalam dinamika kehidupan sosial
politik Indonesia. Menjadi sangat penting bagi Indonesia untuk mampu
mewujudkan ketahanan pangan nasional, wilayah, rumah tangga dan individu
yang berbasiskan kemandirian penyediaan pangan domestik.
Ketahanan pangan yang menjadi pusat utama atau perhatian adalah beras
karena beras merupakan konsumsi yang terus meningkat namun tidak diimbangi
dengan pertambahan produksi. Beras merupakan penyangga utama ketahanan
pangan nasional, dan usaha tani padi merupakan tulang punggung ekonomi
pedesaan. Oleh karena itu, perpadian dan perberasan memegang peran yang
sangat strategis ditinjau dari aspek ekonomi, sosial politik, dan keamanan
nasional. Kebutuhan beras terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah
penduduk. Di lain pihak, luas sawah justru berkurang dan kesuburan tanah makin
menurun yang diindikasikan oleh kandungan C-organik tanah berkisar antara
sangat rendah sampai rendah. Tanpa perbaikan mutu lahan dan kesuburan tanah,

usaha peningkatan produktivitas padi akan makin sulit dilakukan (Pirngadi,


2009).
Produksi padi mengalami penurunan karena proses penanganan pasca
panen dan panen yang menyebabkan terjadinya kehilangan hasil panen. Masalah
utama dalam pasca panen padi adalah tingginya kehilangan hasil karena tercecer
atau tidak terontok, terbuang bersama jerami, rusak dan rendahnya mutu gabah
dan beras. Tingkat kehilangan hasil padi selama penanganan pascapanen
mencapai 20-21%, yang terbesar terjadi pada pemanenan, yaitu sektar 9% dan
pada perontokan sekitar 5%. Disamping untuk menekan kehilangan hasil, faktor
efisiensi pelaksanaan kegiatan di lapangan menjadi faktor utama dalam pemilihan
jenis, sistem dan alat yang dapat mendukung kegiatan pasca panen padi tersebut
(Herawati, 2008).

BAB 3
PEMBAHASAN

Pascapanen adalah serangkaian kegiatan yang meliputi pemanenan,


pengolahan, sampai dengan hasil siap dikonsumsi. Penanganan pascapanen
bertujuan untuk menekan kehilangan hasil, meningkatkan kualitas, daya simpan,
daya guna komoditas pertanian, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan
nilai tambah. Berkaitan dengan hal tersebut maka kegiatan pascapanen padi
meliputi (1) pemanenan, (2) perontokan, (3) perawatan atau pengeringan, (4)
pengangkutan, (5) penggilingan, (6) penyimpanan, (7) standardisasi mutu, (8)
pengolahan, dan (9) penanganan limbah. Penanganan pascapanen yang baik akan
berdampak positif terhadap kualitas gabah konsumsi, benih, dan beras. Oleh
karena itu, penanganan pascapanen perlu mengikuti persyaratan Good
Agricultural Practices (GAP) dan Standard Operational Procedure (SOP). Dengan
demikian, beras yang dihasilkan memiliki mutu fisik dan mutu gizi yang baik
sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. Pada makalah ini kami akan
membahas penegmbangan teknologi pascapanen padi mulai dari pemanenan,
perontokan, pengeringan, penggilingan dan penyimpanan.
3.1 Pemanenan
Dengan diintroduksikannya varietas unggul padi maka terjadi perubahan
penggunaan alat panen dari ani-ani ke sabit biasa atau sabit bergerigi. Memanen
padi dengan sabit menyebabkan kehilangan hasil 3-8%. Dalam dekade terakhir
telah berkembang penggunaan mesin pemanen. Hal ini sejalan dengan upaya
untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja di pedesaan. Mesin panen yang
diintroduksikan antara lain stripper, reaper, dan combine harvester. Kapasitas
kerja stripper dan reaper masing-masing 17 jam/ha, sedangkan combine harvester
5,05 jam/ha.
3.2 Perontok
Alat dan cara perontokan gabah dapat dikelompokkan menjadi (1)
iles/injak-injak, (2) pukul/gedig, (3) banting/gebot, (4) menggunakan pedal

thresher, dan (5) menggunakan mesin perontok. Kapasitas perontokan dengan cara
digebot berkisar antara 58,8-89,8 kg/jam/ orang. Perontokan gabah dengan cara
digebot menyisakan gabah yang tidak terontok sebanyak 6,4-8,9%. Angka
tersebut dapat ditekan jika perontokan menggunakan mesin perontok. Penggunaan
mesin perontok menghasilkan gabah rontok sebesar 99%. Kapasitas mesin
perontok bervariasi antara 523-1.125 kg/jam, bergantung pada spesifikasi atau
pabrik pembuatnya.
3.3 Pengeringan
Secara biologis, gabah yang baru dipanen masih hidup sehingga masih
berlangsung proses respirasi yang menghasilkan CO2 , uap air, dan panas
sehingga proses biokimiawi berjalan cepat. Jika proses tersebut tidak segera
dikendalikan maka gabah menjadi rusak dan beras bermutu rendah. Salah satu
cara perawatan gabah adalah melalui proses pengeringan dengan cara dijemur
atau menggunakan mesin pengering. Di tingkat petani, gabah umumnya dijemur
di atas anyaman bambu atau terpal plastik, sedangkan di unit penggilingan padi
pada lantai semen atau menggunakan mesin pengering. Menggunakan mesin
pengering vortek. Cara ini menghasilkan gabah berkualitas baik, tetapi waktu
pengeringan relatif lama, lebih dari 10 hari . Pengeringan gabah secara sederhana
menggunakan silo sirkuler dengan sumber pemanas dari kompor mawar
menghasilkan beras bermutu baik dengan biaya yang lebih rendah. Pengeringan
gabah dengan box dryer dapat menghasilkan beras giling bermutu baik dan
kehilangan hasil kurang dari 1%, lebih rendah dibandingkan dengan penjemuran.
Kehilangan hasil pada tahapan penjemuran relatif tinggi, yaitu 1,5-2,2% karena
sebagian gabah tercecer, dimakan ayam atau burung.
3.4 Penggilingan
Proses pemberasan gabah dilakukan dengan cara ditumbuk dalam lesung
menggunakan alu. Penggunaan lesung menggunakan lebih banyak orang dan
tenaga. Kemudian berkembang menggunakan mesin penggiling padi.
3.5 Penyimpanan
Hasil panen disimpan dalam bentuk gabah kering dengan cara ditumpuk.
Gabah bisa disimpan dangan sistem curah atau dengan kemasan atau gabah.

BAB 4
PENUTUP

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan produk pascapanen padi bisa dilihat mulai dari
pemanenan, perontokan, pengangkutan, pengeringan, penggilingan dan
penyimpanan.
2. Pengembangan pada pemanenan padi antara lain dari penggunaan alat
panen ani-ani, sabit biasa, sabit bergeriji, stripper, reaper, dan combine
harvester.
3. Pengembangan pada perontokan padi dikelompokan menjadi (1)
iles/injak-injak, (2) pukul/gedig, (3) banting/gebot, (4) menggunakan pedal
thresher, dan (5) menggunakan mesin perontok.
4. Pengembangan pada pengeringan gabah umumnya dijemur di atas
anyaman bambu atau terpal plastik, sedangkan di unit penggilingan padi
pada lantai semen atau menggunakan mesin pengering
5. Pengembangan pada penggilingan gabah dilakukan dengan cara ditumbuk
dalam lesung menggunakan alu. Kemudian berkembang menggunakan
mesin penggiling padi.
6. Pengembangan penyimpanan padi mulai dari pengemasan dalam wadah
dan menggunakan sistem curah.

DAFTAR PUSTAKA

Ariani, Mewa. 2010. Analisis Konsumsi Pangan Tingkat Masyarakat Mendukung


Pencapaian Diversifikasi Pangan. Jurnal Gizi Indo 33 (1) : 20-28.
Herawati, Heny. 2008. Mekanisme Dan Kinerja Pada Sistem Perontokan Padi.
Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah 6 (2) : 195-203.
Pirngadi, Kasdi. 2009. Peran Bahan Organik Dalam Peningkatan Produksi Padi
Berkelanjutan

Mendukung

Ketahanan

Pangan

Nasional.

Jurnal

Pengembangan Inovasi Pertanian 2 (1) : 48-64.


Yulianto, Catur. 2014. Rancang Bangun Alat Perontok Jagung Dengan Metode
Quality

Function

Deployment

(QFD)

Untuk

Optimalisasi

Hasil

Perontokan. Skripsi. Semarang : Fakultas Teknik Universitas Dian


Nuswantoro.