Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Fungsional

beserta Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di
setiap jenis model metode asuhan keperawatan ?
2. Bagaimana Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Tim beserta

Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di setiap
jenis model metode asuhan keperawatan ?
3. Bagaimana Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Primer beserta

Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di setiap
jenis model metode asuhan keperawatan ?
4. Bagaimana Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Kasus beserta

Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di setiap
jenis model metode asuhan keperawatan ?
5. Bagaimana Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Moduler beserta

Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di setiap
jenis model metode asuhan keperawatan ?
1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Fungsional
beserta Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di
setiap jenis model metode asuhan keperawatan.
2. Untuk Mengetahui Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Tim
beserta Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di
setiap jenis model metode asuhan keperawatan.
3. Untuk Mengetahui Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Primer
beserta Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di
setiap jenis model metode asuhan keperawatan.

Page 1

4. Untuk Mengetahui Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Kasus
beserta Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di
setiap jenis model metode asuhan keperawatan.
5. Untuk Mengetahui Konsep Teori dari Model Metode Asuhan Keperawatan Moduler
beserta Tugas Pokok Fungsi (tupoksi) dari masing-masing personal (sesuai bagan) di
setiap jenis model metode asuhan keperawatan.

Page 2

BAB 2
KONSEP TEORI

2.1. Model Metode Asuhan Keperawatan Fungsional beserta Tugas Pokok Fungsinya
Model pemberian asuhan keperawatan ini berorientasi pada penyelesaian tugas dan
prosedur keperawatan. Perawat ditugaskan untuk melakukan tugas tertentu untuk
dilaksanakan kepada semua pasien yang dirawat di suatu ruangan. Model ini digambarkan
sebagai keperawatan yang berorientasi pada tugas dimana fungsi keperawatan tertentu
ditugaskan pada setiap anggota staff. Setiap staff perawat hanya melakukan 1-2 jenis
intervensi keperawatan pada semua pasien dibangsal. Misalnya seorang perawat bertanggung
jawab untuk pemberian obat-obatan, seorang yang lain untuk tindakan perawatan luka,
seorang lagi mengatur pemberian intravena, seorang lagi ditugaskan pada penerimaan dan
pemulangan, yang lain memberi bantuan mandi dan tidak ada perawat yang bertanggung
jawab penuh untuk perawatan seorang pasien.
Kelebihan :
a. Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan
pengawasan yang baik.
b. Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga.
c. Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat pasien
diserahkan kepada perawat junior dan/atau belum berpengalaman.
Kelemahan :
a. Pelayanan keperawatan terpisah-pisah atau tidak total sehingga kesulitan dalam
penerapan proses keperawatan.
b. Perawat cenderung meninggalkan klien setelah melakukan tugas pekerjaan.
c. Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.
d. Tidak memberikan kepuasan pada pasien ataupun perawat lainnya.
e. Menurunkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat.
f. Hubungan perawat dank klien sulit terbentuk.

Page 3

2.2.

Bagan 2.1. Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Fungsional


(Marquis dan Huston, 1998: 38)

Model Metode Asuhan Keperawatan Tim beserta Tugas Pokok Fungsinya


Metode ini menggunakan tim yang terdiri atas anggota yag berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi
menjadi 2-3 tim/grup yang terdiri dari atas tenaga profesional, teknikal, dan pembantu
dalam satu kelompok kecil yang saling membantu.
Metode ini biasa digunakan pada pelayanan keperawatan di unit rawat inap, unit rawat
jalan, dan unit gawat darurat.
Kelebihan :
a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c. Konflik antar staf dapat dikendalikan melalui rapat dan efektif untuk belajar.
d. Memungkinkan komunikasi antartim, sehingga konflik mudah diatasi dan memberi
kepuasan kepada anggota tim.
e. Memungkinkan meningkatkan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda secara
efektif.
f. Peningkatan kerja sama dan komunikasi di antara anggota tim dapat menghasilkan
sikap moral yang tinggi, memperbaiki fungsi staf secara keseluruhan, memberikan
anggota tim perasaan bahwa ia mempunyai kontribusi terhadap hasil asuhan
keperawatan yang diberikan.

Page 4

Kelemahan: komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi
tim, yang biasanya membutuhkan waktu, yang sulit untuk dilaksanakan pada waktuwaktu sibuk.
Konsep metode tim :
a. Ketua Tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik
kepemimpinan.
b. Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
d.

Peran kepala ruang penting dalam model tim, model tim akan berhasil bila didukung
oleh kepala ruang.

Tanggung jawab anggota tim :


a. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah tanggung jawabnya.
b. Kerja sama dengan anggota tim dan antar tim.
c. Memberikan laporan.
Tanggung jawab ketua tim :
a. Membuat perencanaan
b. Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi
c. Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien.
d. Mengembangkan kemampuan anggota.
e. Menyelenggarakan konferensi.
Tanggung jawab kepala ruang :
a. Perencanaan
- Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan masing-masing
- Mengikuti serah terima pasien pada shift sebelumnya
- Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien: gawat, transisi, dan persiapan
pulang, bersama ketua tim.
- Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktivitas dan
kebutuhan pasien bersama ketua tim, mengatur penugasan/penjadwalan
- Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan

Page 5

- Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologis, tindakan medis


yang dilakukan, program pengobatan, dan mendiskusikan dengan dokter tentang
tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien
- Mengatur

dan

mengendalikan

asuhan

keperawatan,

termasuk

kegiatan

membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan, membimbing penerapan proses


keperawatan dan menilai asuhan keperawatan, mengadakan diskusi untuk
pemecahan maslah, serta memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang
baru masuk
- Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri
- Membantu membimbing peserta didik keperawatan
- Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit.
b. Pengorganisasian
- Merumuskan metode penugasan yang digunakan
- Merumuskan tujuan metode penugasan
- Membuat rincin tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas
- Membuat rentang kendali, kepala ruangan membawahi 2 ketua tim, dan ketua tim
membawahi 2-3 perawat.
- Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses dinas,
mengatur tenaga yang ada setiap hari, dan lain-lain
- Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan
- Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik
- Mendelegasikan tugas, saat kepala ruang tidak berada di tempat kepada ketua tim
- Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien
- Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya
- Identifikasi masalah dan cara penanganannya.
c. Pengarahan
- Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
- Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik
- Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampila, dan sikap.
- Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan
keperawatan pada pasien
- Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
Page 6

- Membimbing bawahan yang mngalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya


- Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
d. Pengawasan
- Melalui komunikasi: mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim
maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien
- Melalui supervisi :
1) Pengawasan langsung dilakukan dengan cara inspeksi, mengamati sendiri, atau
melalui laporan langsung secara lisan, dan memperbaiki/mengawasi
kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga
2) Pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir ketua tim membaca
dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan
sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar
laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas
3) Evaluasi
4) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana
keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim
5) Audit keperawatan

Bagan 2.2. Sistem Pemberian Asuhan keperawatan Team Nursing (Marquis dan Huston,
1998)

Page 7

2.3. Model Metode Asuhan Keperawatan Primer beserta Tugas Pokok Fungsinya
Model primer dikembangkan pada awal tahun 1970-an, menggunakan beberapa konsep
dan perawatan total pasien. Keperawatan primer merupakan suatu metode pemberian asuhan
keperawatan di mana perawat primer bertanggung jawab selama 24 jam terhadap
perencanaan pelaksanaan pengevaIuasi satu atau beberapa klien dan sejak klien masuk rumah
sakit sampai pasien dinyatakan pulang. Selama jam kerja, perawat primer memberikan
perawatan langsung secara total untuk klien. Ketika perawat primer tidak sedang bertugas,
perawatan diberikan/didelegasikan kepada perawat asosiet yang mengikuti rencana
keperawatan yang telah disusuni oleh perawat primer. Pada model ini, klien, keluarga,
stafmedik dan staf keperawatan akan mengetahui bahwa pasien tertentu akan merupakan
tanggung jawab perawat primer tertentu. Setiap perawat primer mempunyai 4-6 pasien.
Seorang perawat primer mempunyai kewenangan untuk melakukan rujukan kepada pekerja
sosial, kontak dengan lembaga sosial masyarakat membuat jadual perjanjian klinik,
mengadakan kunjungan rumah, dan lain sebagainya. Dengan diberikannya kewenangan
tersebut, maka dituntut akontabilitas yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan.
Tanggung jawab mencakup periode 24 jam, dengan perawat kolega yang memberikan
perawatan bila perawat primer tidak ada. Perawatan yang yang diberikan direncanakan dan
ditentukan secara total oleh perawat primer. Metode keperawatan primer mendorong praktek
kemandirian perawat, yang ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara
pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi asuhan
keperawatan selama pasien dirawat. Perawat primer bertanggung jawab untuk membangun
komunikasi yang jelas di antara pasien, dokter, perawat asosiet, dan anggota tim kesehatan
lain. Walaupun perawat primer membuat rencana keperawatan, umpan balik dari orang lain
diperlukan untuk pengkoordinasian asuhan keperawatan klien.
Kelebihan :
a.

Bersifat kontinuitas dan komprehensif

b.

Perawat

primer

mendapatkan

akuntabilitas

yang

tinggi

terhadap

hasil,

dan

memungkinkan pengembangan diri


c.

Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter, dan rumah sakit (Gillies, 1989).
Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan karena terpenuhinya
kebutuhan secara individu. Selain itu, asuhan yang diberikan bermutu tinggi, dan tercapai
pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi, dan
Page 8

advokasi. Dokter juga merasakan kepuasan dengan model primer karena senantiasa
mendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang selalu diperbarui dan komprehensif.
Kelemahannya adalah hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman
dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan
mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinis, penuh pertimbangan,
serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu.

Bagan 2.3.
Sistem Asuhan
(Marquis dan Huston, 1998)

Keperawatan

Primer

Konsep dasar metode primer :


a. Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
b. Ada otonomi
c. Ketertiban pasien dan keluarga
Tugas perawat primer :
a. Mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif
b. Membuat tujuan dan rencana keperawatan
c. Melaksanakan rencana yang tela dibuat selama ia dinas
d. Mengomunikasikan dan mengoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin
lain maupun perawat lain.
e. Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
f. Menerima dan menyesuaikan rencana
g. Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
Page 9

h. Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial di


masyarakat
i. Membuat jadwal perjanjian klinis
j. Mengadakan kunjungan rumah
Peran kepala ruang/bangsal dalam metode primer :
a. Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer
b. Orientasi dan merencanakan karyawan baru
c. Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada perawat asisten
d. Evaluasi kerja
e. Merencanakan/menyelenggarakan pengembangan staf
f. Membuat 1-2 pasien untuk model agar dapat mengenal hambatan yang terjadi.
Ketenagaan metode primer :
a. Setiap perawat primer adalah perawat bed side atau selalu berada dekat dengan pasien
b. Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat primer
c. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
d. Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lain maupun nonprofesional sebagai
perawat asisten.
2.4. Model Metode Asuhan Keperawatan Kasus beserta Tugas Pokok Fungsinya
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien
akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift, dan tidak ada jaminan bahwa
pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus
biasa diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat
privat/pribadi dalam memberikan asuhan keperawatan khusus seperti kasus isolasi dan
perawatan intensif (intensive care).
Kelebihannya :
a. Perawat lebih memahami kasus per kasus.
b. Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah.
Kekurangannya:
a. Belum dapat diidentifikasi perawat penanggung jawab.
b. Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama.

Page 10

Kepala Ruang

Staf Perawat

Staf Perawat

Staf Perawat

Pasien/Klien

Pasien/Klien

Pasien/Klien

Bagan 2.4. Sistem Asuhan Keperawatan "Case Method Nursing" (Marquis


dan Huston, 1998)

2.5. Model Metode Asuhan Keperawatan Moduler beserta Tugas Pokok Fungsinya
Model MAKP Tim dan Primer digunakan secara kombinasi dari kedua sistem. Menurut
Sitorus (2002) penetapan sistem model MAKP ini didasarkan pada beberapa alasan berikut :
a. Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawat primer harus
mempunyai latar belakang pendidikan S-1 Keperawatan atau setara.
b. Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab asuhan
keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim.
c. Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatan
dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer, karena saat ini perawat
yang ada di RS sebagian besar adalah lulusan D-3, bimbingan tentang asuhan
keperawatan diberikan oleh perawat primer/ketua tim.

Kepala Ruang

PP 1

PP 2

PP 3

PP 4

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

PA

7-8 pasien

7-8 pasien

7-8 pasien

7-8 pasien

Page 11

Bagan 2.5. Metode Tim Primer (Modifikasi)

BAB 3
PENUTUP
Page 12

3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
Demikian tugas makalah Manajemen Keperawatan yang berjudul Model Metode
Asuhan Keperawatan yang penulis buat. Melalui makalah ini penulis mengajukan
beberapa saran sebagai berikut:
1. Untuk Tenaga Keperawatan

Dengan penulisan makalah ini, diharapkan dapat digunakan sebagai XXXXX.


2. Untuk Instansi Terkait
Dengan penulisan makalah ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan
bagi XXXXX.

Page 13