Anda di halaman 1dari 16

Penerapan Komunikasi dan Empati

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Terusan Arjuna No.06 Kebon Jeruk-Jakarta Barat

KELOMPOK A5

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Makalah ini membahas tentang penerapan
komunikasi dan empati. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dan Hidayat yang
sudah memberikan kami tugas ini dan juga kami mengucapkan terima kepada Ibu Erma
selaku tutor kami yang sudah membantu kami dalam memberikan arahan penulisan makalah
ini.
Makalah ini membahas bagaimana kita menerapkan komunikasi dan empati ketika
sedang berkunjung dan melakukan wawancara di panti werdha Berea. Kami berharap dengan
makalah ini, bisa menjadi pedoman bagi pembaca dalam memahami dan menerapakan
komunikasi yang efektif dalam kehidupan mereka.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangankekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang.
Jakarta, Oktober 2013

Penulis

Keanggotaan Kelompok A5
Ketua

: Indri Hardiyanti Gunawan (102013123)

Wakil

: Celine Citra Surya (102013044)

Seketaris

: 1. Evita Jodjana (102013201)


2. Gabriel Cahyani Harefa (102013165)

Bendahara

: Thobias Andrew Yudishtira (102013210)

Seksi Perlengkapan

: 1. Angela Mitchele Nyangan anak Prie (102013484)


2. Inggrid Riama Tiopina Hasibuan (102013288)

Seksi Dokumentasi

: 1. Yono Suhendro : Photo dan Video (102013002)


2. Yuvian Naufal : Photo (102013063)
3. Manggala Senapati : Photo (102013352)

Tempat Kunjungan
Hari dan Tanggal Kunjungan

: Jumat 4 Oktober 2013

Pukul

: 13.00-15.00

Tempat
Alamat Kunjungan

: Panti Werdha Berea


: Jl. Setia, Kedoya, Jakarta Barat

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...........................................................................................................................1
Keanggotaan Kelompok A5.......................................................................................................2
Tempat Kunjungan.....................................................................................................................2
Daftar Isi.....................................................................................................................................3
Bab I Pendahuluan:
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................................4
1.2 Tujuan..................................................................................................................................4
1.3 Profil Panti........................................................................................................................4-6
1.4 Rincian Kegiatan..................................................................................................................6
Bab II Pembahasan:
2.1 Komunikasi.....................................................................................................................8-10
2.2 Empati...........................................................................................................................10-11
2.3 Penerapan Komunikasi dan Empati dalam Wawancara...............................................11-12
2.4 Hasil Wawancara dengan Oma Subagio.......................................................................12-13
Bab III Penutup
3.1 Kesan dan Pesan.................................................................................................................14
3.2 Kesimpulan.........................................................................................................................14
Daftar Pustaka..........................................................................................................................15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Komunikasi bagaikan jantung dalam tubuh manusia, karena komunikasi
merupakan salah satu hal yang tidak dapat terlepas dari manusia. Komunikasi
sangatlah memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Sejak dalam
kandungan pun, komunikasi sebenarnya telah terjadi dan sejak saat itulah komunikasi
akan terus-menerus berlangsung selama proses kehidupan. Melalui komunikasi,
seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam benak pikiran kepada orang lain
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Komunikasi dapat dilakukan dengan verbal(suara) dan juga non verbal
(gerakan). Dalam berkomuniasi dengan siapapun untuk maksud-tujuan tertentu,
interpersonal atau dalam kelompok, baik dengan ibu, ayah, suami/isteri, anak, nenek,
guru /dosen, sahabat, teman, atasan, maupun bawahan, perlu penyesuaian bersikap
agar komunikasi menjadi lebih efektif. Penyesuaian ini biasanya kita sebut sebagai
empati. Empati ini merupakan kunci dari komunikasi. Berempati berarti bagaimana
kita melakukan upaya untuk memahami, mengahayati dan juga menempatkan diri kita
sesuai dengan orang tersebut.
Oleh sebab itu, kelompok kami memilih sebuah panti jompo untuk penerapan
komunikasi dan empati. Dimana kita melakukan penyesuaian diri kita terhadap
penghuni panti dengan perbedaan umur dan pola pikir yang jauh. Dan juga bagaimana
kita berkomunikasi dan berempati terhadap mereka yang sudah mengalami masalah
dengan kondisi fisik dan mental mereka.

1.2

Tujuan
Agar kita sebagai mahasiswa dapat melakukan komunikasi yang efektif dan
menerapkan sikap empati dalam kehidupan sehari-hari.

1.3

Profil Panti
Nama Panti
Pengelola
Lokasi
Contact Person
Jumlah penghuni
Jumlah petugas
Pengurus Panti
Usiapenghuni

: Panti Werdha Berea


: Oleh lingkup Majelis Umum GPdi Ketapang
: Jl. Setia, Kedoya, Jakarta Barat
: 021-5821864
: 22 orang (semua wanita)
: 8 orang
: Ibu Eva Ang
: 60-90 tahun

Panti Werdha Berea adalah salah satu wadah pelayanan dalam lingkup
Majelis Jemaat GPdI Ketapang. Panti Werdha yang terletak di Jl. Setia, Kedoya,
Jakarta Barat ini didirikan pada tahun 1990 dan semula berada di bawah naungan
Yayasan Berea. Namun pada tahun 2009 yang lalu, kepengurusan Panti Werdha Berea
dialihkan kepada pihak Majelis Jemaat berhubung Yayasan Berea lebih memusatkan
pelayanan pada bidang lainnya.
Sesuai dengan namanya, Panti Werdha ini menampung orang-orang yang
sudah lanjut usia dan pada umumnya mereka tidak memilikikeluarga atau tidak
mampu diurus oleh keluarganya yang ada karena berbagai macam sebab. Penghuni
Panti Werdha ini seluruhnya adalah wanita dan pada umumnya adalah ibu-ibu janda
yang sudah lanjut usia.
Panti Werdha Berea dapat menampung maksimal 30 orang, dan pada saat ini
dihuni oleh 22 orang, ditambah dengan Pengurus lapangan sebanyak 2 orang dan
ditunjang oleh empat orang pembantu yang merawat para penghuni Panti dan 2 orang
petugas yang merawat kebun. Para penghuni Panti sendiri, tidak seluruhnya berasal
dari kalangan jemaat GPdI Ketapang, walaupun tentunya diberi kesempatan terlebih
dahulu kepada kalangan jemaat sendiri. Ada beberapa orang penghuni yang berasal
dari gereja GPdI lainnya atau non GPdI tetapi diterima dengan pertimbangan tertentu.
Bagi mereka yang menjadi penghuni Panti, mereka diharuskan memenuhi
beberapa persyaratan, antara lain harus berusia minimal 60 tahun, sehat jasmani dan
rohani, bersedia mengikuti ibadah di GPdI Ketapang serta tentunya harus membayar
iuran bulanan sebesar Rp.1.000.000,-/bln.
Dalam membina kerohanian penghuni Panti, setiap hari Kamis pagi diadakan
Kebaktian di Aula Panti Werdha yang dilayani oleh para Hamba Tuhan dalam
lingkungan jemaat GPdI Ketapang. Selain itu, Kadang kala ada juga tamu-tamu yang
datang berkunjung dari luar GPdI Ketapang dan meminta untuk diadakan acara
kebaktian maupun acara kebersamaan dengan para penghuni Panti.
Setiap hari Minggu para penghuni Panti diajak untuk berbakti di GPdI
Ketapang. Pada waktu tertentu, para penghuni Panti juga diajak rekreasi ke beberapa
tempat wisata di sekitar Jabodetabek, agar mereka juga dapat menikmati rekreasi

bersama teman-teman dan para tamu yang membawa mereka berliburan. Kepada
mereka juga diberikan pelatihan ketrampilan wanita seperti membuat manik-manik,
menyulam dan lainnya dimana hasil karya mereka untuk dijual kepada para tamu
yang berkunjung kesana. Hasil penjualan barang kerajinan tangan buatan mereka
digunakan untuk membantu keperluan operasional Panti Werdha Berea.
Sedangkan untuk menjaga kesehatan para penghuni, maka setiap minggu
sekali diadakan pemeriksaan kesehatan oleh Dr. Jaya dari Team Pelayanan Kesehatan
Jemaat GPdI Ketapang. Dalam memenuhi kebutuhan pengobatan mereka, pada
umumnya para penghuni membeli obat-obatan itu dengan biaya sendiri. Namun ada
juga penghuni yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli obat-obatan sendiri
dan mereka mendapat pemberian obat secara gratis dari gereja. Untuk memenuhi
kebutuhan pengobatan mereka, saudara yang terbeban untuk membantu dapat
menghubungi Dr. Jaya di Gereja GPdI Ketapang setiap hari Minggu pagi.
1.4

Rincian Kegiatan
Kegiatan kami dimulai pada hari Kamis 3 Oktober 2013 pukul 11.00. Kami
berencana untuk mensurvey panti jompo di . Sebelumnya kami membagi tugas, 5
orang untuk mensurvey dan 5 orangnya lagi untuk membeli sumbangan yang akan
diberikan kepada panti jompo. Tapi sayangnya panti jompo yang disurvey menolak
untuk menerima kami dengan alasan penghuni yang berada di panti werdha itu sudah
capek dan ingin beristirahat. Kami pun mencoba untuk meminta izin untuk
mewawancara pada hari berikutnya atau lusa tapi kata pengurus pantinya mengatakan
sudah ada janji dengan orang lain sehingga kami tidak bisa untuk melakukan
mewawancaranya. Mendengar itu kami berpikir lagi untuk mencari panti jompo yang
lain. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke panti werdha berea yang berada
di Jl. Setia, Kedoya, Jakarta Barat. Sebelumnya salah satu teman kami sudah pergi
ke sana untuk mensuvery. Dan dari pengurus panti wedha itu yaitu Ibu Eva menerima
kami dan mengatakan bahwa kami boleh untuk mewawancarai penghuni panti
werdha. Rencananya kami ingin pergi pada hari itu juga tapi Ibu Eva mengatakan
kepada kami untuk datang pada hari berikutnya yaitu Jumat 4 Oktober 2013 pada
pukul 13.00.
Karena itu, kami memutuskan untuk membeli biscuit sebanyak 2 kaleng untuk
dibawa ke panti werdha besok. Dan pada pukul 14.00 kami kembali ke rumah
masing-masing. Besoknya setelah selesai kuliah pada pukul 11.00 kami berkumpul di

kantin untuk berdiskuasi lagi karena kami mendapat kabar dari pengurus panti bahwa
akan oma yang akan berulang tahun. Karena itu kami memutuskan untuk membeli
sebuah kue. Dan salah teman kami yang pergi untuk membeli kue. Akhirnya kami
berpisah karena pada saat itu ada beberapa teman kami yang mengikuti pertemuan
KMK dan ada juga yang mengikuti rapat BEM. Kemudian pada pukul 12.00 kami
berkumpul lagi di tempat parkir kampus FK UKRIDA dan setelah itu kami langsung
berangkat menuju panti werdah berea bersama dengan kelompok-kelompok lain.
Begitu kami sampai di tempat yang kami tuju, kami melihat bahwa tempatnya itu
sangat tenang dan bersih. Kami pun masuk ke dalam ruang tamunya, disitu kami
melihat para oma-oma yang sedang bersantai sambil menonton tv. Kami
mengucapkan salam pada mereka. Selanjutnya kami dipersilahkan oleh ibu Eva,
pengurus pantinya untuk mewawancarai. Dan ternyata orang yang diwawancarai
sudah disiapkan bu Eva di ruang makan. Kami pun langsung menuju ruang makan. Di
ruang makan terdapat 4 oma yang sudah siap untuk diwawancarai.

Kami

mewawancarai dua oma yaitu oma Subagio dan oma Lidya. 5 orang mewawancarai
oma Subagio dan 5 orangnya lagi mewawancarai oma Lidya.
Sesi wawancara berlangsung hampir sekitar 1 jam. Kami banyak berbincangbincang dengan oma-oma tersebut. Selain itu kami juga banyak mendapat nasihatnasihat dari oma-oma itu. Setelah itu kami membuat kejutan untuk oma Subagio
dengan membawakan kue karena ia berulang tahun. Selanjutnya kami pun berkeliling
di panti werdha tersebut dan pada akhirnya kami melakukan sesi foto-foto dengan
para oma-oma disana. Sekitar pukul 14.00 kami memutuskan untuk berpamitan
pulang. Sebelum pulang kami memberikan 2 kaleng biscuit dan 1 bingkisan berisikan
minyak telon sebanyak 6 pack kepada pengurus panti werdha. Tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada pengurus panti yaitu Ibu Eva dan para oma-oma
yang disana karena sudah mengizinkan kami untuk datang berkunjung dan melakukan
wawancara dengan mereka. Demikian rincian perjalanan kami mengunjungi panti
Werdha Berea.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Komunikasi

Secara umum, definisi komunikasi adalah Sebuah proses penyampaian


pikiran-pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara
tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh
penyampai pikiran-pikiran atau informasi. (Komaruddin, 1994; Schermerhorn, Hunt
& Osborn, 1994; Koontz & Weihrich, 1988). Komunikasi merupakan interaksi antara
dua orang atau lebih.
Komunikasi dibedakan atas dua yaitu komunikasi verbal dan non verbal.
Kedua komunikasi ini berlangsung secara bersamaan. Berikut adalah penjelasan
mengenai komunikasi verbal dan non verbal:
a. Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal merupakan sebuah komunikasi yang menggunakan katakata baik lisan ataupun tertulis. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan,
emosi, pemikiran, gagasan atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan
informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling
berdebat dan bertengkar.
Dalam komunikasi verbal juga, kita perlu mendengar secara aktif, trampil
dalam berdialog, menggunakan komunikasi satu atau dua arah, merefleksikan apa
yang di dengar, menghargai orang lain yang sedang berbicara, membujuk atau
menanam

kepercayaan

dari

orang

lain,

memahami

perasaan

orang

lain,

mengendalikan emosi, dan berempati.


Komunikasi Verbal mencakup aspek-aspek berupa :
1. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan
disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi
penting dalam berkomunikasi.
2. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan
bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
3. Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan
catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri.
Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor
adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
4. Intonasi suara: akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan
akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda.
Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
5. Singkat dan jelas: Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan
jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
6. Timing: (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena
berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya

dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang


disampaikan.
b. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan katakata. Definisi ini mencakup perilaku yang disengaja dan tidak disengaja sebagai
bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita banyak mengirim banyak
pesan non verbal tanpa menyadari bahwa pesan pesan tersebut bermakna bagi orang
lain.
Melalui komunikasi non verbal, orang bisa mengambil suatu kesimpulan
mengenai suatu kesimpulan tentang berbagai macam persaan orang, baik rasa senang,
benci, cinta, kangen dan berbagai macam perasaan lainnya. Komunikasi non verbal
itu dapat berupa:
1. Ekspresi wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah
cerminan suasana emosi seseorang.
2. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan
mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang
tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk
memperhatikan

bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata

juga

memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya


3. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat
spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang
sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang

atau simpati dapat

dilakukan melalui sentuhan.


4. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan
bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan
merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
5. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu
ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila
dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai
desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
6. Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan
isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukan kaki atau
mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan
stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress.
7. Tanda. Dalam komunikasi nonverbal tanda mengganti kata-kata, misalnya bendera,
rambu-rambu lalu lintas darat, laut dan udara; aba-aba dalam olahraga.

8. Tindakan/perbuatan.Tindakan/perbuatan sebetulnya tidak khusus dimaksudkan


mengganti kata-kta, tetapi dapat menghantarkan makna. Misalnya, menggebrak
meja dalam pembicaraan, menutup pintu keras-keras pada waktu meninggalkan
rumah, menekan gas mobil kuat-kuat. Semua itu mengandung makna tersendiri.
9. Objek. Objek sebagai bentuk komunikasi nonverbal juga tidak mengganti kata,
tetapi dapat menyampaikan arti tertentu. Misalnya, pakaian, aksesori dandan,
rumah, perabot rumah, harta benda, kendaraan,dll.
2.2

Empati
Empati adalah upaya dan kemampuan untuk mengerti, menghayati dan
menempatkan diri seseorang di tempat orang lain sesuai dengan identitas, pikiran,
perasaan, keinginan, dan perilaku seseorang. Berempati bukan hanya sekedar berbasabasi atau bermanis mulut kepada pasien, tetapi juga dituntut untuk memiliki
keterampilan-keterampilan seperti berikut ini; mendengarkan aktif, responsif terhadap
kebutuhan pasien, responsif terhadap kepentingan pasien, adanya usaha untuk
memberikan pertolongan pada pasien, dan dimulai dari diri sendiri.
Carma L. Bylund & Gregory Makoul dalam tulisannya tentang Emphatic
Communication in Physician-Patient Encounter (2002), menyatakan betapa
pentingnya empati ini dikomunikasikan. Dalam berempati, diperlukan upaya dan
kemampuan yaitu:

1. Kemampuan kognitif
: kemampuan untuk mengerti kebutuhan pasien.
2. Kemampuan afektif
: kemampuan untuk peka akan perasaan pasien.
3. Kemampuan psikomotor/perilaku : kemampuan untuk memperlihatkan/menyampaikan
empati kepada orang lain.
Karena kemampuan empati terutama melibatkan kemampuan seseorang untuk
membaca perasaan lewat pemahaman terhadap isyarat-isyarat nonverbal orang lain.
Pemahaman seperti ini membuat hubungan antar individu terjalin dengan baik. Itulah
sebabnya empati merupakan kunci bagaimana komunikasi itu bisa berjalan secara
efektif.
2.3

Penerapan Komunikasi dan Empati dalam Melakukan Wawancara


Komunikasi dan Empati bukan hanya sekedar teori yang harus dipelajari,
melainkan suatu teori yang harus dipraktikan. Untuk interaksi dalam berkomunikasi

dengan dengan para lansia secara baik, kelompok kami perlu memahami tentang
kondisi fisik, mental dan sosial seorang lansia.
Dalam penerapan komunikasi efektif dan dan empati kali ini, yang menjadi
komunikator adalah Oma Subagia yang berumur 77 tahun. Dilihat dari kondisi fisik,
mental dan sosial oma Subagio sangatlah menurun. Kaki oma Subagio mengalami
pembengkakan oleh karena itu oma Subagio mengalami kesulitan untuk berjalan
sehingga memerlukan alat bantu. Dan lagi penghilatan oma Subagio juga sudah
menurun karena adanya katarak di sebelah mata kanannya. Melihat itu, kami
membantu menuntun oma Subagio dengan memegang kedua tangannya ketika sedang
berjalan menuju ruang makan.
Selain itu ketika sedang melakukan wawancara dapat terlihat bahwa
pendengaran oma Subagio sudah berkurang. Dan kami memahaminya jadi ketika
melakukan wawancara kami mencoba untuk melakukan komunikasi verbal dan
nonverbal. Dan juga volume suara yang digunakan juga dibesarkan agar tidak terjadi
miss communacation. Dari sesi wawancara itu juga diketahui bahwa kondisi mental
oma Subagio juga menurun. Oma Subagio sudah pelupa , terbukti dengan kata-kata
yang dikatan oma Subagio secara berulang-ulang kali. Dan kami memahami itu, kami
bersabar dengan mendengarkannya.
Kami juga memberikan

pertanyaan seperti biasa tidak seperti sedan

mengintrogasi. Kami pun mencoba memahami perasaan yang dirasakan oleh oma
Subagio. Selain itu juga mengkondisikan suasana wawancara yang aktif dan tidak
mendominasi pembicaraan. Misalnya kami memulai kontak dengan saling
memperkenalkan nama, bercanda , dan menyanyi bersama oma Subagio.
2.4

Hasil Wawancara dengan Oma Subagio


Nama

: Subagio

Asal

: Solo

Tanggal lahir

: 10 Oktober 1938

Lama di panti

: baru sebulan

Alasan berada di panti

: kemauan diri sendiri

Kondisi fisik

: katarak di sebelah mata kanan, asam urat, stroke

ringan, jantung dan pendengaran yang sudah berkurang.


Keluarga

: 4 suami (alm) dan 4 anak (semuanya perempuan)

Agama

: Islam

Hobby

: Menyanyi dan menari

Menguasai bahasa

: Jepang, Belanda, English, Jerman dan Indonesia

Status Sosial

: Ningrat

Riwayat Hidup

Oma Subagio dulunya adalah seorang keturunan ningrat. Oleh karena itu
sering dipanggil sebagai ndoro putri / ibu sepuh. Dulu oma Subagio bekerja sebagai
renternir yang terkenal jahat. Tidak pernah peduli dengan orang, selalu memeras. Dan
selalu memberi bunga sebesar 30% bagi orang yang meminjam uang. Oma subagio
sewaktu masih muda memilki bentuk tubuh yang slim. Dia sangat hebat dalam
menari,

bisa menarikan tarian rumba. Selain menari , juga sangat hebat dalam

menyanyi.
Oma Subagio dulunya adalah orang yang sombong , suka hura-hura, jahat,
nakal dan keras. Dan juga agamnya cuman Islam KTP. Selain itu dia juga sangat
pencemburu. Karena sangat cemburuan , oma Subagio menikah 4 kali. Dia janda
sekarang, Suaminya yang terakhir adalah orang Amerika. Karena dulu untuk menikah
dengan orang yang berasal dari luar negeri sangat susah , oleh karena itu suaminya
kembali ke Amerika dengan membawa satu anak dan satunya lagi dirawat oleh oma
Subagio. Oma Subagio ini memiliki 4 anak , semuanya perempuan. Anak pertama
bernama dince. Suaminya seorang pilot dan sekarang tinggal di palembang. Anak
kedua bernama Ruth Susi Handayani bekerji di PT. Freeport. Dulu sempat menikah
akan tetapi suaminya diambil oleh orang lain. Akibatnya dia tidak menikah sampai
sekarang. Anak ketiga bernama Weni Runtuh dan bekerja di manadi. Dan anak yang
terakhir bekerja di STTC (Sekolah Tinggi Tekhnolog).
Oma Subagio masuk ke panti ini atas kemauan sendiri. Dia ingin berubah.
Sekarang ia benar-benar sudah berubah. Dia tidak lagi menjadi orang yang sembong
dan tidak peduli. Sekarang dia menjadi orang yang suka berbagi walaupun ia
terkadang tidak memiliki uang yang cukup. Dan juga sekarang menjadi orang yang
sabar dan suka berdoa. Dia sudah buka orang yang beragama Islam KTP lagi. Hobiny
juga sekarang hanya menyanyi dan berdoa. Kata oma Subagio, jika ia sudah bisa
keluar dari panti itu ia ingin mejadi saksi kehidupan bagi semua orang. Agar mereka
tidak seperti dia lagi. Selain ingin berubah, dia juga ingin menjadi orang yang disiplin.
Karena biasanya selama di rumah. Ia tidak pernah disiplin. Tidur sesuka hati

begitupula dengan makan. Tapi semenjak di panti in, kegiatannya menjadi lebih
teratur dan ia menjadi lebih disiplin.
Dari hasil wawancara itu , kami memahami perasaan oma Subagio yang
merasa kesepian. Dia ingin sekali kembali ke rumah dan berkumpul dengan anakanaknya. Dan lagi dari cerita pengalamannya itu, kami menanggapi bahwa oma
Subagio sangat tidak ingin kita sebagai generasi yang masih muda ini menjadi seperti
dia yang dulunya sangat nakal, sombong dan suka berhura-hura.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesan dan Pesan


Setelah berkunjung dan melakukan wawancara dengan penghuni di panti
Werdha Berea. Kami mendapatkan banyak pelajaran. Yaitu bagaimana kita
berkomunikasi dengan yang lebih tua dengan kita dan bagaimana kita berempati
yaitu memahami, mengahayati perasaan mereka dan menyesuaikan diri kita dengan
dia. Dan kita juga belajar untuk bersikap dengan sopan selama berada di panti

Werdha Berea. Kita juga sangat bersyukur dan berterima kasih dengan panti Werdha
Berea karena sudah mau menerima kami dengan tangan terbuka.
Selain belajar bagaimana menerapkan komunikasi dan empati , kami juga
mendapat pelajaran dari mewawancarai oma Subagio. Kami belajar untuk menjadi
orang yang sabar, tidak sombong dan tidak cemburuan. Kami juga diajarkan di masa
muda ini akan ada banyak godaan jadi kita harus bisa menahan diri kita dan terus
berdoa jangan hanya menjadi agama Cuma di KTP saja. Tapi kita harus benar-benar
beriman. Karena dengan beriman, kita bisa menjadi lebih kuat dengan goda-godaan
yang ada di masa muda ini.
3.2

Kesimpulan
Komunikasi itu sangat penting dalam menjalin hubungan dengan seseorang.
Melalui berkomunikasi kita bisa mengetahui apa yang dirasakan dari seseorang dan
juga keinginannya. Dan lagi komunikasi tidak akan berjaalan efektif jika tidak adanya
empati. Empati sangat dibutuhkan karena dengan berempati berarti kita akan bisa
memahami, menghayati perasaan seseorang dan juga berarti kita melakukan
penyesuaian diri kita dengan orang yang lebih tua, lebih muda atau yang setara
dengan kita. Penyesuaian ini sangat penting karena dengan penyesuaian, dalam
komunikasi tidak akan terjadi miss communication.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mulyana D. 2008. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT Remaja


Rosdakarya.
2. Boediardja SA.Komunikasi dengan empati, informasi dan edukasi:profesionalisme
kedokteran.Jakarta:FKUI.Maj Kedokt Indon,Volume: 59, No: 4, April 2009.
3. Hardjana

AM.Komunikasi

intrapersonal.Kanisius:Yogyakarta;2003.h.22-7

interpesonal

&