Anda di halaman 1dari 9

2.

Vitamin

2.1.1

Vitamin yang Larut dalam Lemak

1. Vitamin A
1)
Sumber
Sumber vitamin A yang paling baik adalah hati ikan-ikanan dan mamalia.
Vitamin A terdiri atas dua bentuk yaitu vitamin A1 dan A2. Vitamin A1 dijumpai
dalam ikan air-asin dan mamalia, sedangkan vitamin A2 banyak terdapat dalam
ikan tawar. Kedua macam vitamin A tersebut memiliki aktivitas fisiologik yang
sama namun vitamin A2 tidak begitu kuat menjadi promotor pertumbuhan
dibandingkan vitamin A1. (Suwondo, 2000)
2)
Fisiologi
(1) Penyerapan dan Penggunaan
Vitamin A dapat dipakai oleh tubuh manusia sedangkan karoten tidak.
Provitamin A seperti Karoten-bta diubah menjadi vitamin A didalam dinding
usus halus (intestinum), kemudian diesterisasi dan setelah itu dikirim melalui
limfe ke dalam darah. Agar proses penyerapan terjadi secara baik dibutuhkan
garam empedu dan cairan pankreas dalam jumlah yang sepadan. (Suwondo,
2000)
(2) Penyimpan
Sifat-sifat kimiawi dan fisik dari vitamin A menyebabkan vitamin A mudah
tersedia dan hilang secara cepat. Vitamin ini dapat disimpan oleh tubuh dalam
kuantitas yang akan mencukupi kebutuhan tubuh dalam jangka waktu yang
panjang (biasanya dalam hati). (Suwondo, 2000)
(3) Fungsi

Fungsi utama vitamin A adalah menjaga integritas jaringan epitel. Vitamin


A juga berfungsi menstimulasi pertumbuhan-pertumbuhan baru, sehingga
dinamakan juga sebagai vitamin pertumbuhan (growth promoting vitamin).
Selain itu,, vitamin A diperlukan untuk menjaga fungsi batang retina (retinal
rods). (Suwondo, 2000)
3)

Kebutuhan dalam Tubuh


Kebutuhan tubuh setiap hari terhadap vitamin A sekitar 5000 unit

internasional bagi orang dewasa dan anak-anak yang sedang mengalami


pertumbuhan. Sedangkan bagi ibu yang menyusui atau mengandung sekitar
6000-8000 unit. (Suwondo, 2000)
4)

Patologi Umum Defisiensi Vitamin A


(1) Jaringan kulit, ditemukan adanya xerosis, hiperkeratosis folikular dan
atrofi pada sel kubus dan gepeng.
(2) Jaringan mata, ditemukan adanya xerophtalmia pada membran konjungtiva
dan keratomalasia pada kornea mata.
(3) Jaringan tulang, ditemukan adanya aktivitas osteoblas yang tidak teratur
dan penghambatan pertumbuhan tulang endokondral
(4) Sistem syaraf, ditemukan adanya pertumbuhan yang terus menerus dari
otak dan spinal chord dalam daerah skelet yang terbatas. (Suwondo, 2000)

5)

Patologi Oral Defisiensi Vitamin A


(1) Jaringan gigi, ditemukan adanya

gangguan

pertumbuhan

dan

perkembangan gigi pada bayi


(2) Jaringan periodontal, ditemukan adanya poket periodontal yang lebih
dalam dan proliferasi yang ekstensif pada sel sumsum tulang alveolar yang

diikuti infiltrasi sel radang kroni serta pengurangan kuantitas tulang lama
6)

dan baru. (Suwondo, 2000)


Indikasi Vitamin A dalam Obat
Vitamin A diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi

vitamin A. (Dewoto 2007)


7)
Farmakokinetik Vitamin A dalam Obat
Vitamin ini diabsorpsi sempurna melalui usus halus dan kadarnya dalam
plasma mencapai puncak setelah empat jam tetapi absorpsi dosis besar vitamin A
kurang efisien karena sebagian akan keluar melalui feses. Gangguan absorpsi
lemak akan menyebabkan gangguan absorpsi vitamin A, maka pada keadaan ini
dapat digunakan sediaan vitamin A yang larut dalam air. Absorpsi vitamin A
berkurang bila diet kurang mengandung protein atau pada penyakit infeksi
tertentu dan pada penyakit hati seperti hepatitis, sirosis hepatis atau obstruksi
biliaris. Berkurangnya absorpsi vitamin A pada penyakit hati berbanding lurus
dengan derajat insufisiensi hati. (Dewoto 2007)
8)
Farmakodinamik Vitamin A dalam Obat
Pada fibroblast atau jaringan epitel terisolasi, retinoid dapat meningkatkan
sintesis beberapa jenis protein seperti fibronektin dan mengurangi sintesis
protein seperti kolagenase dan keratin. Hal ini disebabkan karena adanya
perubahan transkripsi pada inti dan asam retinoat lebih kuat dalam menyebabkan
perubahan tersebut. Asam retinoat mempengaruhi ekspresi gen dengan
bergabung pada reseptor yang berada di inti sel. Terdapat dua kelompok reseptor,
yaitu Retinoid Acid Receptors (RARs) dan Retinoid X Receptors (RXRs).
Reseptor retinoid segolongan dengan reseptor steroid, hormone tiroid, dan
kalsitriol. Retinoid dapat mempengaruhi ekspresi reseptor hormon dan faktor
pertumbuhan sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan, diferensiasi, dan

fungsi sel target. Selain itu juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat
reproduksi, dan perkembangan embrio. (Dewoto 2007)
9)
Toksisitas
Pemasukan vitamin sebanyak 50-100 kali jumlah kebutuhan sehari yang
dianjurkan yaitu sekitar 5000 unit internasional dapat memberikan tanda klinik
toksisitas berupa mengantuk, sakit kepala dan muntah-muntah. Kelebihan serius
dapat terjadinya hipoprotrombinaemia. (Suwondo, 2000)
2. Vitamin D
1) Sumber
Sejauh ini, barusekitar sepuluh zat antirakitis yang mempunyai struktur
sterol telah berhasil diisolasi. Ergosterol terdapat secara alami di dalam
tumbuhan berhijau daun dan cendawan, merupakan salah satu provitamin
vitamin-vitamin tersebut. Senyawa D2 (kalsiferol atau viosterol) akan terbentuk
bilamana provitamin tersebut diaktivasi dengan sinar matahari. (Suwondo, 2000)
2) Fisiologi
(1) Penyerapan dan Fungsi
Cairan empedu sangat diperlukan untuk proses penyerapan vitamin D.
Pemasukan mineral yang berlebihan akan mencegah penyerapan vitamin D
karena vitamin ini larut dalam minyak yang terekskresikan sebelum sempat
diserap.
Fungsi vitamin D adalah untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan
fosfor oleh usus halus, juga meningkatkan kadar kalsium dan fosfor dalam
serum dan berhubungan dengan fungsi paratiroid. Vitamin D membantu

menahan kalsium dan fosfor yang telat diserap untuk keperluan mineralisasi
tulang. (Suwondo, 2000)
3) Kebutuhan dalam Tubuh
Pada kebutuhan yang normal, kebutuhan vitamin D setiap harinya adalah
400 iu dan ditambahkan sebanyak 800 iu pada bayi dan wanita hamil.
(Suwondo, 2000)
4) Patologi Umum Defisiensi Vitamin D
Pada anak-anak dan orang dewasa yang mengalami defisinesi vitamin D
ditemukan penyakit riketsia pada anak-anak dan osteomalasia

pada orang

dewasa. Pada bayi yang menderita defisiensi vitamin D yang ditempatkan


dengan tekanan terberat pada kepalanya karena diletakkan dalam tepat tidur bayi
dapat menyebabkan craniotabes dan juga sering terjadi pertumbuhan tulang
rawan yang berlebih pada sendi kostokondral tulang dada sehingga terbentuk
rachitis rosary. (Suwondo, 2000)

5) Patologi Oral Defisiensi Vitamin D


(1) Erupsi Gigi
Pada anak-anak dengan defisiensi vitamin D akan terjadi kemunduran
pada erupsi gigi.
(2) Hipoplasia Email
Defisiensi vitamin D dapat mengakibatkan ameloblast tidak berfungsi,
kalsifikasi email tidak baik, kadang-kadang tidak terbentuk.
(3) Hipoplasia Dentin

Matriks dentin (prodentin) yang biasanya berupa lapisan tipis dekat pulpa
akan termineralisasi oleh garam kalsium.
(4) Hubungan Hipoplasia-Karies Gigi
(5) Jaringan Periodontal
Pada defisiensi vitamin D ditemukan tulang alveolar yang tidak
terkalsifikasi dengan tandanya demineralisasi osteoidyang tahan terhadap
resorpsi dan juga ditemukannya osteoporosis pada tulang alveolar,
penggantian

jaringan

tulang

dengan

jaringan

fibro-osteoid

dan

memnghilangnya lamina-dura dan membran periodontal. (Suwondo, 2000)


6) Toksisitas
Efek samping yang tak diinginkan dapat terjadi dalam pengonsumsian
vitamin D yang berlebihan dapat terjadi aterosklerosis dengan resiko yang lebih
dibandingkan keadaan artritis yang diobati. Beberapa keadaan seperti
hiperkalsemian hiperfostatemia, pengendapan kalsium di berbagai organ.
Pada jaringan gigi dan periodontal, konsumsi vitamin D yang berlebih
akan menimbulkan pembentukan dentin yang tidak beraturan dan pulp stone
pada gigi, kalsifikasi pada membran periodontal dan gingiva, sementum
bertambah sehingga menyebabkan ankilosis antara gigi dan tulang, dan
pembentukan kalkulus yang sangat ekstensif. (Suwondo, 2000)

7) Indikasi Vitamin D dalam Obat


Indikasinya
yaitu,
profilaksis
hypoparathyroidism. (Dewoto, 2007)
3. Vitamin E

rickets,

osteoporosis,

dan

1) Sumber
Vitamin E terdapat dalam jumlah yang besar pada bagian biji padi-padian.
Vitamin E juga dapat dijumpai dalam minyak biji kapas, minyak biji jagung, dan
minyak kacang tetapi tidak pada olive oil. Selain itu juga terdapat pada
tumbuhan berhijau daun, daging, mentega, susu, telur, dan minyak hati ikan.
Defisiensi vitamin E jarang terjadi. (Suwondo, 2000)
2) Fisiologi
Penyerapan vitamin E diperlukan adanya garam empedu dan lemak.
Fungsi biokimiawi vitamin E yang pokok adalah bekerja sebagai suatu antioksidan. Sebagai contoh vitamin E dapat melindungi asam lemak tak jenuh,
asam askorbat dan vitamin A di dalam tubuh dari kerusakan. (Suwondo, 2000)
3) Kebutuhan
Kebutuhan sehari pada orang dewasa sekitar 14 mg. (Suwondo, 2000)
4) Patologi Umum Defisiensi Vitamin E
Pada manusia umumnya jarang dijumpai defisiensi vitamin E. Belum ada
indikasi terhadap penggunaannya secara klinis, dan penjelasan bagi perawatan
suatu penyakit pada orang. (Suwondo, 2000)
5) Patologi Oral Defisiensi Vitamin E
Pinborg (1952) melakukan penelitian dan menghasilkan gambaran
perubahan histologik dalam organ email binatang percobaan yang dijadikan
defisiensi vitamin E seperti adanya kerusakan kapiler, edema, dan keadaan yang
tidak teratur pada stratum intermedium dan epitel email luar. (Suwondo, 2000)
6) Indikasi Vitamin E dalam Obat
Pemberian vitamin E hanya diindikasikan pada keadaan defisiensi yang
dapat terlihat sari kadar serum yang rendah dan atau peningkatan fragilitas
eritrosit terhadap hydrogen peroksida. Hal ini dapat terjadi pada bayi premature,
pada pasien dengan sindrom malabsorpsi dan steatore, dan penyakit dengan

gangguan absorpsi lemak. Penggunaan vitamin E untuk penyakit yang mirip


dengan keadaan yang timbul akibat defisiensi vitamin E seperti distrofia otot,
abortus habitualis, sterilitas, dan toxemia gravidarum hasilnya mengecewakan
(Dewoto 2007).
7) Farmakokinetik Vitamin E dalam Obat
Vitamin E diabsorpsi baik melalui saluran pencernaan. Beta-lipoprotein
mengikat vitamin E dalam darah dan mendistribusikan ke semua jaringan. Kadar
plasma sangat bervariasi diantara individu normal, dan berfluktuasi tergantung
kadar lipid. Rasio vitamin E terhadap lipid total dalam plasma digunakan untuk
memperkirakan status vitamin E. Nilai di bawah 0,8 mg/g menunjukkan keadaan
defisiensi. Pada umumnya kadar tokoferol plasma lebih berhubungan dengan
asupan dan gangguan absorpsi lemak pada usus halus daripada ada tidaknya
penyakit. Vitamin E sukar melalui sawar plasenta sehingga bayi baru lahir hanya
mempunyai kadar tokoferol plasma kurang lebih seperlima dari kadar tokoferol
plasma ibunya. ASI mengandung -tokoferol yang cukup bagi bayi. Ekskresi
vitamin sebagian besar dilakukan dalam empedu secara lambat dan sisanya
diekskresi melalui urin sebagai glukoronida dari asam tokoferonat atau metabolit
lain (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007).
8) Farmakodinamik Vitamin E dalam Obat
Vitamin E berperan sebagai antioksidan dan dapat melindungi kerusakan
membran biologis akibat radikal bebas. Vitamin E melindungi asam lemak tak
jenuh pada membrane fosfolipid. Radikal peroksil bereaksi 1000 kali lebih cepat
dengan vitamin E daripada dengan asam lemak tak jenuh dan membentuk radikal
tokoferoksil. Radikal ini selanjutnya berinteraksi dengan antioksidan yang lain
seperti vitamin C yang akan membentuk kembali tokoferol. Vitamin E juga

penting untuk melindungi membrane sel darah merah yang kaya asam lemak tak
jenuh ganda dari kerusakan akibat oksidasi. Vitamin ini berperan dalam
melindungi lipoprotein dari LDL teroksidasi dalam sirkulasi. LDL teroksidasi ini
memegang peranan penting dalam menyebabkan aterosklerosis. Selain efek
antioksidan, vitamin E juga berperan mengatur proliferasi sel otot polos pembuluh
darah, menyebabkan vasodilatasi dan menghambat baik aktivasi trombosit
maupun adhesi lekosit. Vitamin E juga melindungi -karoten dari oksidasi.
(Dewoto 2007)

Sumber:
Kamiensky M, Keogh J 2006. Vitamins and Minerals.In: Pharmacology
Demystified.Mc.GrawHill Companies Inc.,USA.p.137-54.
Dewoto HR 2007. Vitamin dan Mineral. dalam Farmakologi dan Terapi edisi
kelima.Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Percetakan Gaya Baru, Jakarta.p.769-92.
Suwondo, Syarief. 2000. Pengantar Kuliah Ilmu Gizi Kedokteran Gigi. Bandung:
Universitas Padjadjaran