Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PAPER HAMA PENYAKIT PENTING

TANAMAN
Hama Penting Pada Komoditas Bawang Merah

Oleh kelompok :

Istikomah

145040200111031

Prayoga Suyitno

145040207111078

M.Taufiq Rabbani

145040201111108

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakanag


Bawang Merah merupakan salah satu komoditi hortikultura yang
tergolong sayuran rempah. Selain sebagai bumbu masak, bawang merah dapat
juga digunakan sebagai obat tradisional yang banyak bermanfaat bagi
kesehatan.
Bawang merah tergolong tanaman semusim atau setahun. Tanamannya
berbentuk rumpun, memiliki sistem perakaran yang serabut dengan batang
yang sangat pendek dan hampir tidak tampak. Daunnya memanjang dan
berbentuk silindris. Pangkal daun berubah bentuk dan fungsinya, yakni
membengkak membentuk umbi lapis. Umbi tersebut dapat membentuk tunas
baru yang kemudian tumbuh membesar dan dewasa membentuk umbi
kembali. Tanaman bawang merah lebih banyak dibudidayakan di daerah
dataran rendah yang beriklim kering dengan suhu yang agak panas dan cuaca
cerah. Tanaman ini tidak menyukai tempat-tempat yang tergenang air, tetapi
tanaman ini banyak membutuhkan air terutama dalam masa pembentukan
umbi. Melihat sifat bawang merah yang demikian, maka tanaman ini banyak
ditanam pada musim kemarau yang normalnya terjadi pada bulan AprilOktober. Pada bulan-bulan tersebut produksi bawang merah akan melimpah.
Kebutuhan bawang merah di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan sebesar 5%. Hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah
populasi Indonesia yang setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Badan
Pusat Statistik (BPS) dan Direktorat Jenderal Holtikultura (DJH) menyebutkan
bahwa produksi bawang merah di Indonesia dari tahun 2006- 2010 selalu
mengalami peningkatan yaitu sebesar 794.929 ton, 802.810 ton, 853.615 ton,
965.164 ton, 1.048.934 ton. Akan tetapi, sepanjang tahun 2010 impor bawang
merah di Indonesia tercatat sebesar 73.864 ton dan dalam tiga bulan pertama
tahun 2011, impor bawang merah di Indonesia mencapai 85.730 ton. Hal itu
membuktikan bahwa kebutuhan akan bawang merah di dalam negeri masih
tinggi dibandingkan ketersediaannya. Dengan demikian, produktivitas bawang
merah dalam negeri perlu ditingkatkan. Namun, ada beberapa kendala yang
menjadi penghambat produksi bawang merah salah satuya yaitu serangan
hama yang terjdi setiap saat. Dari hasil survey yang telah kami lakukan di desa

wangkal kecamatan Sidogiri kabupaten Pasuruan kami menemukan beberapa


masalah yang dapat kami temui pada lahan bawang merah di daerah tersebut.
Beberapa hal yang akan di analisis dalam makalah ini diantaranya yaitu
sejarah lahan, luas lahan, dan beberapa hama yang ditemukan pada lahan
tersebut serta pengendalian yang dilakukan di lahan tesebut.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui hama yang menyerang tanaman bawang merah di desa
wangkal kecamatan Sidogiri kabupaten Pasuruan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah lahan


Berdasarkan hasil survey yang kami lakukan di desa wangkal kecamatan
Sidogiri kabupaten Pasuruan kami mewawancarai seorang petani bawang
merah yang bernama pak rokhim beliau sebagai pemelihara lahan
komoditas bawang merah tersebut.

Gambar 1.
Sumber

: Lahan Bawang Merah di Desa Wangkal


: Dokumentasi Pribadi, 2015

Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Sub - divisio : Angiospermae


Kelas

: Monocotyledoneae

O rdo

: Lilialaes ( liliaflorae )

Famili

: liliales

Genus

: Allium

Species

: Allium ascalonicum

Pada lahan tersebut. Luas lahan bawang merang tersebut sekitar 2000 m.
Sebelumnya lahan tersebut merupakan lahan sawah yang ditanami padi.
Tapi karena harga bawang merah yang tinggi tidak sebanding dengan
kebutuhan konsumen yang tidak sebanding, sehingga pemilik lahan
memilihnya untuk menanam komoditas bawang merah pada lahan
tersebut. Para petani juga beranggapan bahwa lahan tersebut sangat cocok
untuk komoditas bawang merah karena dilihat dengan topografi yang

sama dengan kota Probolinggo dimana kota tersebut berpotensi untuk


komoditas bawang merah serta dekat dengan sumber air. Dilihat dari hasil
produksi, bawang merah memiliki potensi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan saat budidaya komoditas padi. selain itu, luasan lahan di sekitar
areal sawah milik pak Rokhim juga ditanami bawang, sehingga hama yang
menyerang lebih intensif.
Beberapa hama yang menyerang pada lahan bawang merah tersebut
diantaranya yaitu
Munculnya

ulat

grayak,

klasifikasi

Gambar 2

: Hama Ulat Grayak

Sumber

: Dokumentasi Pribadi, 2015

hama

ini

adalah

Klasifikasi ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman bawang


merah adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Divisio

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Lepidoptera

Famili

: Noctuidae

Genus

: Spodoptera

Spesies

: Spodoptera litura
(Agromedia. 2008)

Spodoptera

adalah

ngengat

yang

termasuk

dalam

suku Noctuidae. Larvanya(ulatnya) dikenal sebagai hama yang sangat


merusak. Ulat yang tidak berbulu oleh awam biasa disebut ulat
tentara atau ulat grayak.
Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu hama yang
menyerang tanaman bawang merah. Ulat grayak (Spodoptera litura)
menyerang tanaman pada malam hari, sedangkan pada siang hari
berada di dalam rongga daun. Pada umumnya, ulat grayak menyerang
satu tanaman secara bersama-sama daun akan terlihat transparan
ketika ulat tersebut menyerang. Ulat ini berumur 20 hari selama
hidupnya menyerang tanaman.
(Agromedia. 2008)
B.

Gejala
Hama ulat grayak menyerang daun dan bawang merah.
Serangannya ditandai dengan daun-daun yang terlihat transpran,
karena yang tertinggal hanya selaput daun bagian atas. Bagian rongga
daun dimakan oleh ulat ini. Hama ini menyerang bagian rongga daun
tanaman bawang merah secara bergerombol dengan meletakkan
telurnya.
Pada serangan parah, biasanya terjadi saat musim kemarau,
menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat. Serangan ulat yang
masih kecil mengakibatkan bagian daun tanaman bawang merah yang
tersisa tinggal epidermis daun. Ulat grayak disebut juga dengan nama
ulat tentara. Hama ini bersifat polifag (mempunyai kisaran inang yang
cukup luas). Jika daun suatu tanaman rusak, maka tanaman tidak dapat
fotosintesis dan tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman
tersebut.
(Semangun, H. 1989)

C.

Biologi (Ciri-ciri Karakteristik) Ulat Grayak (Spodoptera litura)


Serangga dewasa jenis Spodoptera litura, memiliki ukuran
panjang badan 20 - 25 mm, berumur 5 - 10 hari dan untuk seekor
serangga betina jenis ini dapat bertelur 1.500 butir dalam kelompokkelompok 300 butir. Serangga ini sangat aktif pada malam hari,
sementara pada siang hari serangga dewasa ini diam ditempat yang
gelap dan bersembunyi.
Larva Spodoptera litura memiliki jumlah instar 5 dengan ukuran
instar 1 panjang 1,0 mm dan instar 5 panjang 40 - 50 mm berwarna
coklat sampai coklat kehitaman dengan bercak-bercak kuning dan
berumur 20 - 26 hari. Sepanjang badan pada kedua sisinya masingmasing terdapat 2 garis coklat muda.
Ciri khas ulat grayak ini adalah terdapat bintik-bintik segitiga
berwarna

hitam dan

bergaris-garis

kekuningan

pada

sisinya.

Sedangkan ulat dewasa berwarna abu-abu gelap atau cokelat. Larva


akan menjadi pupa (kepompong) yang dibentuk di bawah permukaan
tanah. Daur hidup dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30
hari

hingga

61

hari.

Stadium

yang

membahayakan

dari

hama Spodoptera lituraadalah larva (ulat) karena menyerang secara


bersama-sama dalam jumlah yang sangat besar untuk menunjang
metamorfosisnya. Ulat ini memangsa segala jenis tanaman (polifag),
termasuk menyerang tanaman cabai.
Daur hidup ulat grayak (Spodoptera litura) dapat dilihat dari
bagan berikut ini :

Gambar 3: Daur Hidup Ulat Grayak


(Cahyono , 2003)
1.

Telur
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian dasar melekat pada
daun(kadang-

kadang

tersusun

dua

lapis),

berwarna

coklat

kekuningan. Telur diletakkan pada bagian daun atau bagian tanaman


lainnya, baik pada tanamaninang maupun bukan inang. Bentuk telur
ber- variasi. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasal
dari bulu- bulu tubuh bagian ujung ngengat betina, berwarna kuning
kecoklatan.
Produksi telur mencapai 3.000 butir per induk betina, tersusun
atas 11 kelompok dengan rata-rata 25 -200 butir per kelompok.
Stadium telur berlangsung selam 3 hari (2;10;12). Setelah telur
menetas, ulat tinggal untuk sementara waktu di tempat telur
diletakkan. Beberapa hari kemudian, ulat tersebut berpencaran.
(Pracaya. 2007)
2.

Larva
Larva mempunyai warna yang bervariasi,memiliki kalung
(bulan sabit) berwarna hitam pada segmen abdomen keempat dan
kesepuluh .Pada sisi lateral dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang

baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam
kecoklatan, dan hidup berkelompok. Beberapa hari setelah
menetas

(bergantung ketersediaan makanan), larva

menyebar

dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya. Pada siang hari,


larva bersembunyi di dalam tanah atau tempat yang lembap dan
menyerang tanaman pada malam hari atau pada intensitas cahaya
matahari yang rendah. Biasanya ulat berpindah ke tanaman
lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
Stadium ulat terdiri atas 6 instar yang berlangsung selama 14
hari. Ulat instar I, II dan III, masing-masing berlangsung sekitar 2
hari. Ulat berkepompong di dalam tanah. Stadia kepompong dan
ngengat, masing-masing berlangsung selama 8 dan 9 hari. Ngengat
meletakkan telur pada umur 2-6 hari.
Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah Agrot
his ipsilon,namun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, yaitu pa
da ulat grayak terdapattanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan
garis punggung gelap memanjang.Pada umur 2 minggu, panjang ulat s
ekitar
5 cm. Ulat berkepompong di dalamtanah, membentuk pupa tanpa ru
mah pupa (kokon), berwarna

coklatkemerahan

dengan

panjang

sekitar 1,60 cm. Siklus hidup berkisar antara 30-60 hari (lama stadium
telur 2-4 hari). Stadium larva terdiri atas 5 instar yang berlangsung
selama 20-46 hari. Lama stadium pupa 8-11 hari
Dimana ulat ini tinggal didalam rongga daun, sehingga
pengendalian dengan menggunakan pestisida tidak efektif. Ulat
grayak mulai aktif menyerang tanaman pada pagi hari,

sehingga

pengendalian dengan pestisida lebih efektif pada pagi hari dalam 2


hari sekali. Adanya serangan hama ini pada daun terdapat bercak
putih transparan. Telur diletakkan pada pangkal dan ujung daun
bawang merah secara berkelompok. Telur dilapisi benang-benang
putih seperti kapas. Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun
tanaman diambil dan dimusnahkan dengan menggunakan tangan.

Dan ada vektor pembawa lainnya diantaranya yaitu kutu kebul


( Bemicia tabacci ) yang juga aktif di malam hari. (Pracaya. 2007)

Kutu Kebul

Gambar 4.

: Kutu Kebul di Lahan Bawang merah

Sumber

: Dokumentasi Pribadi, 2015

Kingdom

: Metazoa

Phylum

: Arthropoda

Subphylum

: Uniramia

Class

: Insecta

Order

: Hemiptera

Suborder

: Sternorrhyncha

Superfamily : Aleyrodoidea
Family

: Aleyrodidae

Genus

: Bemisia

Species

: Bemisia tabac

Tanaman Inang Lain


Kutu kebul merupakan hama yang sangat polifag menyerang
berbagai jenis tanaman, antara lain tanaman hias, sayuran, buah
buahan maupun tumbuhan liar atau gulma. Tanaman inang utama kutu
kebul sekitar 67 famili yang terdiri atas 600 spesies tanaman
(Asteraceae, Brassicaceae, Cucurbitaceae, Solanaceae, dll). Beberapa
contoh tanaman budidaya yang menjadi inang kutu kebul antara lain
kentang, kubis, tomat, mentimun, terung, buncis, selada, bunga

potong, ubi jalar, singkong, kedelai, tembakau, lada, mangga, dan


tanaman liar yang paling disukai adalah babadotan (Ageratum
conyzoides).
Morfologi/Bioekologi
Telur berbentuk lonjong agak lengkung seperti pisang,
berwarna kuning terang, berukuran panjang antara 0,2 0,3 mm, yang
biasanya diletakkan dipermukaan bawah daun, pada daun teratas
(pucuk) . Serangga betina lebih menyukai daun yang telah terinfeksi
virus mozaik kuning sebagai tempat untuk meletakkan telurnya
daripada daun sehat. Rata rata banyaknya telur yang diletakkan pada
daun yang terserang virus adalah 77 butir, sedangkan pada daun sehat
hanya 14 butir. Betina umumnya mampu menghasilkan telur sekitar
160 butir dan akan menetas antara 5 9 hari tergantung inang spesies,
temperatur dan kelembaban udara. Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar
ke-1 berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan, dan
bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa instar ke-2 dan
ke-3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya
melekat pada daun. Lama stadium nimfa rata rata 9,2 hari. Imago
tubuhnya berukuran kecil antara 1 1,5 mm, berwarna putih, dan
sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung . Serangga
dewasa biasanya berkelompok pada bagian permukaan daun, dan bila
tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau
kebul putih. Lama siklus hidup (telur nimfa imago) kutu kebul
pada tanaman sehat rata rata 24,7 hari, sedangkan pada tanaman
terinfeksi virus mosaik kuning hanya 21,7 hari.
Pengendalian
a.Kultur teknis
- Menanam pinggiran lahan dengan tanaman jagung, tagetes, orok
orok dan kacang panjang sebagai barrier dan memperbanyak
populasi agens hayati,- Pergiliran (rotasi) tanaman dengan

tanaman bukan inang virus (terutama bukan famili Solanaceae


seperti tomat, cabai, kentang, dan Cucurbitaceae seperti
mentimun). Pergiliran tanaman harus per hamparan, tidak
perorangan, serentak dan seluas mungkin,
- Sanitasi lingkungan, terutama mengendalikan gulma berdaun
lebar babadotan dan ciplukan yang dapat menjadi tanaman
inang virus,
- Pengaturan jarak tanam yang tidak terlalu rapat.
b.Fisik/Mekanik
-Pemasangan perangkap likat berwarna kuning (40buahperha),
-Pemasangan kelambu di pembibitan dan tanaman barrier
dilapangan,
- Sisa tanaman yang terserang dikumpulkan dan dimusnahkan.
c.Biologi

Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Encarcia formosa,


Eretmocerus corni, predator Coccinella septempunctate, Coenosia
attenuate, Delphastus pusillus, Deracocoripallens, Euscius hibisci,
Fransklinothrips vespiformis, Scymus syriacus, dan patogen
serangga seperti: Entomophthora, Eretmocerus, Paecilomyces
farinorus, Beauveria bassiana, Bacillus thuringiensis, Metarhizium
anisopliae, Verticillum sp.

Penggunaan pestisida nabati Nimba, Tagetes, Eceng Gondok, atau


Rumput Laut.

d.Kimiawi

Jika saat pengamatan ditemukan 7 ekor kutu daun /10 tanaman


contoh atau persentase kerusakan oleh serangan hama pengisap
telah mencapai 15% per tanaman contoh dianjurkan menggunakan
pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri

Pertanian, misalnya yang berbahan aktif seperti diafentiuron, dan


tiametoksam.
D.

Faktor yang Berpengaruh Terhadap Perkembangan Ulat


Grayak (Spodoptera litura)
Pertumbuhan populasi ulat grayak (Spodoptera litura) sering
dipicu oleh situasi dan kondisi lingkungan, yakni:
1.
Cuaca panas. Pada kondisi kering dan suhu tinggi, metabolisme
serangga hamameningkat sehingga memperpendek siklus hidup.
Akibatnya jumlah telur yang dihasilkan meningkat dan akhirnya
mendorong peningkatan populasi.
2.
Penanaman tidak serentak dalam satu areal yang luas. Penanama
n tanaman seperti kedelai yang tidak serenta k menyebabkan
tanaman berada pada fase pertumbuh- anyang berbeda beda
sehingga
makanan ulat grayak selalu tersedia di lapangan.Akibatnya, per
tumbuhan populasi hama makin meningkat karena makanan ters
ediasepanjang musim.
3.
Aplikasi insektisida. Penggunaan insektisida yang kurang tep
at baik jenis maupundosisnya, dapat mematikan musuh alami ser
ta meningkatkan
Tanaman inang dari ulat grayak (Spodoptera litura) adalah
Bawang Merah, kubis, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, jeruk,
tembakau, kapas, bawang merah, terung, kentang, kacangkacangan
(kedelai, kacang tanah), kangkung, bayam, pisang, dan tanaman hias.
Ulat
grayak
juga
menyerang
berbagai
gulma,
seperti Limnocharis sp.,Passiflora foetida, geratum sp., Cleome sp.,
Clibadium sp., dan Trema sp.

E.

Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera litura)


Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. Pengendalian dilakukan secara mekanis, yaitu mengumpulkan telur
dan ulat-ulatnya kemudian langsung membunuhnya. Dapat pula
dilakukan dengan pemangkasan daun yang telah menjadi sarang
telur ngengat dan membakarnya
b. Pengendalian dilakukan secara biologis, yaitu dengan cara
menyemprotkan Bacillus thuringienis atau Borrelinavirus litura
c. Pengendalian dilakukan secara kultur teknis , yaitu menjaga
kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi
tempat persembunyia hama, serta melakukan rotasi tanaman.
d. Pengendalian dilakukan secara kimiawi, yakni sebagai berikut.

1.

2.

3.

4.
5.

Pemasangan sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupukupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yag
dikeluarkan oleh serangga betina dewasa yang dapat
menimbulkan rangsangan seksual (birahi) pada serangga jantan
dewasa untuk menghmapiri dan melakukan perkawinan
sehingga membuahkan keturunan. Sex phermne ini berasal dari
Taiwan yang di Indonesia diberi nama Ugratas (Ulat Grayak
Beratas Tuntas) berwarna merah. Sex pheromone ini sangat
efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kuu dewasa dari ulat
grayak (S. litura). Cara pemaagan Ugratas merh in adalah
dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua volume 500 cc yang
diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-kupu janta.
Satu hektar kebun Bawang Merah cukup dipasang 5 buah
hingga 10 buh Ugratas merah dengan cara digantungkan
sedikit lebih tinggi di atas tanaman Bawang Merah. Daya tahan
(efektivitas) Ugratas ini tiga minggu dan tiap malam bekerja
efektif sebagai perangkap ngengat jantan. Keuntungan
penggunaa Ugratas ini, antara lain, adalah aman bagi manusia
dan ternak, tidak berdampak negatif tehadap lingkungan, dapa
meekan penggunaan insektisida tidak menimbulkan kekebalan
hama, dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut.
Penyemprotan insektisisda yang mangkus dan sangkil seperti
Hostathion 40EC 2 cc/lt atau Orthene 75 SP 1 gr/lt. dapat pula
dengan menggunakan pestisida yang lain, misalnya Azodrin,
Curracron 500 EC, Exalux 25 EC, dan lain-lain
Pembuatan perangkap ulat grayak, yaitu dengan cara
pembuatan parit sepanjang sisi kebun dengan lebar 60 cm dan
dalam 45 cm. Ulat grayak yang masuk ke dalam parit
dimatikan dengan menggulung kayu bulat yang digerakkan
maju mundur di atas ulat grayak. Cara lain adalah paritnya
diisi dengan jerami atau bahan lainnya yang mudah terbakar,
lalu dibakar hingga ulat grayaknya mati.
Pembersihan gulma supaya tidak menjadi tempat berkembang
biak dan berembunyi ngengat dan ulat.
Pengolahan tanah secara baik sehingga dapat membunuh
kepompong ulat grayak yang bersembunyi di dalam tanah.
Selain itu juga pada lahan tersebut, juga ditemukan bebewrapa

musuh alami yang sekaligus sebagai pengendalian hama secara


biologis, yaitu capung ( Anax jenius) dan ular.
Sedangkan permasalahan yang dihadapi pada musim penghujan
adalah munculnya jamur yang menyerang daun yang menyebabkan

daun bawang merah menjadi layu. Faktor yang memicu tumbuhnya


jamur pada daun bawang merah adalah karena kelembaban udara yang
terlalu tinggi. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan
menguningnya

daun

bawang

kemudian

tanaman

cepat

layu.

Pengendalian yang dilakukan adalah dengan menyemprotkan fungisida


dengan merek Bisconil 80WP, yang didapatkan dari saprodi. Selain itu
bisa juga tanaman dicabut dan dimusnahkan agar tidak menular ke
tanaman yang lain.
Beberapa pengendalian yang dilakukan oleh petani bawang
merah yaitu dilakukan dengan PHT ( Pengendalian hama terpadu )
dimana terdapat beberapa cara yang dilakukan adalah :
1.
Pengendalian mekanis = mengambil ulat dari beberapa spot
2.

lahan yang di ketahu memiliki gejala serangan.


Pengendalian teknis.= pengendalian dengan menggunakan

3.

yellow trap dan cahaya


Pengendalian kimiawi = penggunaan beberapa pestisida yang
dilakukan setiap hari sekali.

DAFTAR PUSTAKA
Agromedia. 2008. Panduan Lengkap Budi Daya dan Bisnis Bawang
Merah. Jakarta Selatan : PT Agromedia Pustaka.
Cahyono, Bambang. 2003. Bawang Merah Teknik Budidaya & Analisis
Usaha Tani. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman Edisi Revisi. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Rahmawati, Reny. 2012. Cepat & Tepat Berantas Hama & Penyakit
Tanaman. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Baru Press.
Semangun, H. 1989. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.
Yogyakarta : Gama Press.