Anda di halaman 1dari 2

BAHASA BAHASA PERASASTI INDONESIA

DISUSUN OLEH KELOMPOK II


1).Rabiatul adawiyah
2).Sulistia andani
3).Tuti alawiah
4).Hukmi rahim
5).Lili handayani
6).Siti hartina

MA AN-NAJAH SESELA PONPES AL-HALIMY

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

A. Bahasa-bahasa Perasasti Indonesia


1, Pengaruh-pengaruh india dalam perkembangan kebuayaan Indonesia
2. Bidang kepercayaan (agama)
3. Sumber tertulis sezaman dan setempat
4. Sumber tertulis sezaman tidak setempat
5. Sumber tertulis setempat tidak sezaman.

1. Pengaruh India Dalam Perkembangan Kebudayaan Indonesia Diantaranya


a. Tulisan
b. Seni bangunan candi di india aslinya merupakan kuil untuk memuja para dewa
c. Seni hias
d. Bidang kesustraan
2. Bidang kepercayaan (agama) interaksi kebudayaan hindu, budha yang berasal dari india dengan
kebudayaan asli Indonesia berlangsung sangat lama, yaitu kira-kira 15 abad.
Pengaruh india dalam perkembangan kebudayaan Indonesia antara lain, terlihat dalam tulisan,
seni bangunan, seni hias, seni sastra dan seni pada kepercayaan
Jejak sejarah adalah peninggalan masa lampau yang menurut sejarawan memiliki atau mengandung
informasi tentang kejadian-kejadian bersejarah sehingga dapat digunakan untuk menyusun penulisan
sejarah. Jejak sejarah ini dapat berwujud benda atau berupa jejak tertulis merupakan rekaman tertulis
dalam tradisi masyarakat waktu itu.
a. Sumber tertulis sezaman dan setempat bahasa-bahasa yang biasa digunakan dalam penulisan
perasasti di Indonesia:
1. Bahasa Sansekerta
2. Bahasa Jawa Kuno
3. Bahasa Melayu Kuno
4. Bahasa Bali Kuno
b. Sumber tertulis sezaman tidak setempat adalah rekaman peristiwa sezaman tetapi ditulis oleh
orang-orang bukan dari penduduk setempat (orang asing) dan berupa laporan perjalanan.
Mereka menulis peristiwa tersebut adanya suatu hal yang menarik perhatian, dan yang unik.
Dan kadang penulisan tersebut perintah dari raja untuk menandainya hubungan cina dengan
sriwijaya
c. Sumber tertulis, setempat tidak sezaman adalah rekaman tertulis tradisi sejarah masyarakat
Indonesia yang ditulis pada masa-masa yang telah berbeda tetapi masih dalam tempat yang
sama (satu daerah). Penulisannya berdasarkan pada cerita dari mulut ke mulut yang berarti
telah banyak pengurangan atau penambahan
(subjektivitas) misalnya babad tanah, jawi dan kidung suran daka.