Anda di halaman 1dari 33

Pneumatisasi Mastoid, Test Fistula, Test Tobey Eyer

Memenuhi Tugas Kuliah THT

Oleh
KELOMPOK 14
Anwar Nuari (1118011012)
Ayu Aprilia (1118011016)
Gilang Yoghi Pratama (1118011048)
Miranda Rades (1118011077)
Muhammad Yogie Fadli (1118011082)
Niluh Ita Pasyanti (1118011085)
Pratiwi Aminah (1118011097)
Putu Filla JF (1118011103)
Robby Pardiansyah (1118011114)
Yusi Farida (1118011142)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
OKTOBER 2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tanpa suatu halangan apa pun. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah THT. Dengan selesainya penyusunan makalah
1

ini, penulis tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan baik moral maupun material hingga terselesainya makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu maka kritik dan saran yang bersifat membangun dinantikan dengan senang hati.

Bandar Lampung, 22 Oktober2012


Penulis,

KELOMPOK 14

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ...............................................................................

KATA PENGANTAR .................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...............................................................................................

iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang........................................................................................
1.2 Tujuan penulisan ...................................................................................

1
3

BAB 2 ISI
2.1 Pneumatisasi Mastoid .............................................................................

2.2 Fistula test ..............................................................................................

13

2.3 Tobe Ayer Test ......................................................................................

25

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
3

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.1.1

Mastoiditis kronis
Mastoiditis kronis dibedakan menjadi mastoiditis kronis aktif dan mastoiditis
kronis inaktif. Proses aktif berkaitan dengan adanya infeksi dengan drainase
telinga yang terinfeksi atau otorrhe yang disebabkan suatu perubahan patologi
yang mendasari seperti kolesteatom atau granulasi jaringan.
Berdasarkan proses terjadinya, kolesteatom ada 2 jenis, yaitu kolesteatom
kongenital dan kolesteatom akuisita. Kolesteatom kongenital merupakan sisasisa sel embrional ektoderm, maka disebut juga primary epidermoid tumor. Pada
tipe ini, sebelumnya tidak didapatkan obstruksi tuba maupun otitis media, jadi
membrana timpaninya masih utuh. Sedangkan kolesteatoma tipe akuisita ada 2
macam, yaitu primer dan sekunder. Teori terjadinya kolesteatom akuisita primer
adalah teori invaginasi, yaitu adanya obstruksi tuba eustachii kronik, yang
mengakibatkan tekanan negatif sehingga terjadi retraksi membrana Sharpnell
dan terbentuklah kantong di epitimpani yang membentuk kolesteatom.
Sedangkan pada kolesteatom akuisita sekunder, terdapat 2 teori, yaitu teori
metaplasia dan teori migrasi. Teori metaplasia menerangkan bahwa adanya
peradangan yang terus-menerus mengakibatkan epithel kavum timpani,
mengalami metaplasia, dari sel kolumner menjadi sel kuboid dan akhirnya
menjadi sel skuamosa. Sedangkan teori migrasi menerangkan bahwa perforasi
marginal di membrana timpani mengakibatkan epithel kulit kanalis auditorius
eksternus yang sifatnya tumbuh ke dalam masuk ke kavum timpani, dan
membentuk kolestetoma.
Proses inaktif berkaitan dengan sekuelle dari proses aktif sebelumnya. Perforasi
bisa disebabkan dari komplikasi episode otitis media berulang yang hebat atau
episode tunggal yang sangat hebat, atau perforasi traumatik yang tidak diobati.
Seing terdapat cacat tulang pendengaran. Bila tidak mendapat terapi telinga
yang rentan ini dapat berlanjut menjadi aktif.
4

Untuk mendiagnosis mastoiditis diperlukan pemeriksaan pneumatisasi mastoid


yang akan dibahas pada isi makalah ini.

1.1.2

Fistula Perilimfe
Fistula perilimfe adalah pembukaan abnormal antara telinga tengah berisi udara
dan telinga bagian dalam berisi cairan. Ini mungkin terjadi karena adanya
kecacatan salah satu dari 3 lokasi yaitu:

Putaran Jendela

jendela oval

kapsul otic

Dalam kebanyakan kasus itu adalah air mata atau cacat dalam salah satu atau
kedua, membran kecil tipis antara telinga tengah dan bagian dalam. Membran
ini disebut "jendela oval".
Lokasi lain mungkin untuk fistula adalah dalam tulang telinga (kapsul otic). Ini
adalah suatu kondisi langka di mana tulang antara telinga dan daerah otak yang
hilang atau tipis, menyebabkan gejala yang sangat mirip dengan fistula jendela
bulat atau oval. Permasalahan dalam kapsul otic yang dapat menyebabkan
fistula perilimfe meliputi:

Kanal superior dehiscence sindrom

Cholesteatoma

Fenestration

Temporal patah tulang

Micro-fisura

Jenis yang paling umum dari fistula kapsul otic terletak tepat di atas kanalis
semisirkularis superior (lihat gambar 1) dan disebut kanal superior dehiscence
5

sindrom Cloutier et al. (2008). Kira-kira 2% dari orang-orang di otopsi


ditemukan telah penipisan tulang di lokasi ini, yang diperkirakan mempengaruhi
mereka untuk sindrom ini (Carey et al 2000, Cloutier et al 2008, Masaki
2011). Gerakan mata abnormal pada sindrom ini sejajar dengan kanal Tavassolie
superior et al. (2012).
Untuk mengetahui tentang diagnosis penyakit tersebut perlu dilakukan fistula
test yang akan dibahas pada makalah ini.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan untuk penulisan makalah ini adalah
1.

Untuk mengetahui definisi, kegunaan dan cara kerja dari Pneumatisasi


mastoid, Fistula Test dan Tobe Ayer Test

2.

Memenuhi tugas kuliah THT

BAB 2
ISI
6

2.1 Pneumatisasi Mastoid


a. Anatomi
Telinga tengah terdiri dari empat bagian yaitu cavum timpani, tuba eustachii
membrana timpani, anthrum mastoideum beserta sellule mastoidea. Mukosa cavum
timpani dan mastoid merupakan satu kesatuan, hal ini mempunyai arti klinis yaitu bila
terjadi radang dalam kavum timpani dapat terjadi pula pada antrum mastoideum adan
sellule mastoidea.
a) Kavum Timpani
Kavum timpani berisi viscera timpani dan mesenterium atau lipatan mukosa.
Viscera timpani terdiri atas tulang pendengaran, ligamenti, tendo otot dan syaraf.
Tulang pendengaran dan lipatan mukosa membentuk diafragma timpani yang
membagi telinga tengah menjadi dua bagian yaitu bagian timpani posterior dan
timpani anterior. Timpani posterior terdiri atas ruang epitimpani dan retrotimpani,
sedangkan timpani anterior terdiri atas mesotimpani, hipotimpani dan tuba
eustachii. Antara kedua bagian itu dihubungkan dengan lubang kecil pada
diafragma timpani yaitu isthmus timpani anterior dan isthmus timpani posterior.
Dengan adanya lipatan mukosa, kavum timpani terdiri atas ruangan-ruangan kecil
sehingga membentuk pembatas penyebaran suatu penyakit dan menghindarkan
dari penularan penyakit.1,4
b) Anthrum mastoidium dan sellule mastoidea.
Anthrum mastoidium dihubungkan oleh aditus ad anthrum dengan epitimpani
yang terletak di bagian atas dinding posterior kavum timpani. Pada mastoidea
terdapat banyak udara, dikenal dengan istilah pneumatisasi. Pneumatisasi yaitu
adanya sel-sel berisi udara dalam os mastoid dan sekitarnya. Pengertian
pneumatisasi berdasarkan :
a. Proses terbentuknya
Pada waktu prenatal sudah terdapat mukosa yang melapisi kavum timpani,
aditus ad anthrum dan anthrum mastoideum. Setelah lahir terjadilah proses
pneumatisasi dengan cara kerusakan tulang sekitar mukosa anthrum
7

mastoideum sehingga terbentuklah kantung didalam marrow space yang


kemudian dilapisi oleh mukosa yang kontinu dengan mukosa kavum timpani
dan aditus ad anthrum. Cell adalah suatu kantong yang menonjol kedalam
bone marrow space. Mukosa ini membentuk banyak kantong, tiap kantong
pertama membentuk kantong kedua yang lain dan seterusnya. Tiap kantong
masih

dilapisi

dengan

mukosa

seperti

diatas.

Anthrum mastoideum berisi udara sehingga sellule mastoidea juga berisi


udara. Sebagai akibatnya terbentuk sebuah cell di dalam os mastoideus.
Sellule tersebut saling berhubungan satu sama lain dan juga berhubungan
dengan kavum timpani.
b. Derajat pneumatisasi
Berdasarkan derajat pneumatisasi terjadi tiga tipe :
Mastoid sellule yaitu tulang mastoid yang mengalami pneumatisasi
normal.
Mastoid diploic / infantile yaitu tulang mastoid dimana sellule
hanya terbentuk sebagian karena terhenti pada proses pneumatisasi.
Mastoid sclerotic yaitu proses pneumatisasi tidak terbentuk, tulang
sclerotic, biasanya karena proses peradangan dan gangguan pada tuba
eustachii.
Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa
tulangtemporal. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan
mempunyai sel-sel udara mastoid yang berasal dari dinding-dindingnya.
Antrum sudah berkembang baik pada saat lahir dan pada dewasa mempunyai
volume 1 ml, panjang dari depan kebelakang sekitar 14 mm, daria atas
kebawah 9mm dan dari sisi lateral ke medial 7 mm. Dinding medial dari
antrum berhubungan dengan kanalis semisirkularis posterior dan lebih ke
dalam dan inferiornya terletak sakus endolimfatikus dan dura dari fosa kranii
posterior. Atapnya membentuk bagian dati lantai fosa kranii media dan
memisahkan antrum dengan otak lobus temporalis. Dinding posterior
terutama dibentuk oleh tulang yang menutupi sinus. Dinding lateral
8

merupakan bagian dari pars skumosa tulang temporal dan meningkat


ketebalannya selama hidup dari sekitar 2 mm pada saat lahir hingga 12-15
mm pada dewasa. Dinding lateral pada orang dewasa berhubungan dengan
trigonum suprameatal ( Macewens) pada permukaan luar tengkorak. Lantai
antrum mastoid berhubungan dengan otot digastrik dilateral dan sinus
sigmoid di medial, meskipun pada aerasi tulang mastoid yang jelek, struktur
ini bisa berjarak 1 cm dari dinding antrum inferior. Dinding anterior antrum
memiliki aditus pada bagian atas, sedangkan bagian bawah dilalui n.fasialis
dalam perjalanan menuju ke foramen stilomastoid.
b. Klasifikasi Mastoiditis
Pneumatisasi sempurna terjadi antara usia 6 12 tahun. Luasnyapneumatisasi
tergantung faktor herediter konstitusional dan faktor peradangan pada waktu umur
muda. Bila ada sifat biologis mukosa tidak baik maka daya pneumatisasi hilang atau
kurang. Ini juga terjadi bila ada radang pada telinga yang tidak menyembuh. Maka
nanti dapat dilihat pneumatisasi yang terhenti (pneumatisationshemung arrested
pneumatisation) atau pneumatisasi yang tidak ada sama sekali (teori dari Wittmack).
Menurut derajatnya, pneumatisasi prosesus mastoideus ini dapat dibagi atas :
1. Proesesus Mastoideus Kompakta ( sklerotik), diomana tidak ditemui sel-sel.
2. Prosesus Mastoideus Spongiosa, dimana terdapat sel-sel kecil saja.
3. Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas, dimana sel-sel disini besar.
Sellulae mastoideus seluruhnya berhubungan dengan kavum timpani. Dekat antrum
sel-selnya kecil tambah keperifer sel-selnya bertambah besar. Oleh karena itu bila ada
radang pada sel-sel mastoid, drainase tidak begitu baik hingga mudah terjadi radang
pada mastoid (mastoiditis).
Menurut tempatnya sel-sel ini dapat dibedakan :
1. Terminal
2. Perisinus
9

3. Sudut petrosal
4. Sub dural
5. Zigomatik
6. Facial
7. Periantral
8. Perilabirinter
Menurut waktu timbulnya gejala dapat dibagi mastoiditis akut dan mastoiditis kronis.
Mastoiditis akut
Mastoiditis akut dapat merupakan komplikasi otitis media akut yang menyerang
sellule mastoid dan tidak mendapat pengobatan yang efektif. Otitis media yang
banyak memberikan komplikasi terutama dari jenis supuratif. Mastoiditis akut dapat
merupakan komplikasi otitis tipe atiko antral yang mengalami eksaserbasi akut.4,6,7
Mastoiditis kronis
Mastoiditis kronis dibedakan menjadi mastoiditis kronis aktif dan mastoiditis kronis
inaktif. Proses aktif berkaitan dengan adanya infeksi dengan drainase telinga yang
terinfeksi atau otorrhe yang disebabkan suatu perubahan patologi yang mendasari
seperti kolesteatom atau granulasi jaringan. Berdasarkan proses terjadinya,
kolesteatom ada 2 jenis, yaitu kolesteatom kongenital dan kolesteatom akuisita.
Kolesteatom kongenital merupakan sisa-sisa sel embrional ektoderm, maka disebut
juga primary epidermoid tumor. Pada tipe ini, sebelumnya tidak didapatkan obstruksi
tuba maupun otitis media, jadi membrana timpaninya masih utuh. Sedangkan
kolesteatoma tipe akuisita ada 2 macam, yaitu primer dan sekunder. Teori terjadinya
kolesteatom akuisita primer adalah teori invaginasi, yaitu adanya obstruksi tuba
eustachii kronik, yang mengakibatkan tekanan negatif sehingga terjadi retraksi
membrana Sharpnell dan terbentuklah kantong di epitimpani yang membentuk
kolesteatom. Sedangkan pada kolesteatom akuisita sekunder, terdapat 2 teori, yaitu
teori metaplasia dan teori migrasi. Teori metaplasia menerangkan bahwa adanya
peradangan yang terus-menerus mengakibatkan epithel kavum timpani, mengalami
10

metaplasia, dari sel kolumner menjadi sel kuboid dan akhirnya menjadi sel skuamosa.
Sedangkan teori migrasi menerangkan bahwa perforasi marginal di membrana timpani
mengakibatkan epithel kulit kanalis auditorius eksternus yang sifatnya tumbuh ke
dalam

masuk

ke

kavum

timpani,

dan

membentuk

kolestetoma.

Proses inaktif berkaitan dengan sekuelle dari proses aktif sebelumnya. Perforasi bisa
disebabkan dari komplikasi episode otitis media berulang yang hebat atau episode
tunggal yang sangat hebat, atau perforasi traumatik yang tidak diobati. Seing terdapat
cacat tulang pendengaran. Bila tidak mendapat terapi telinga yang rentan ini dapat
berlanjut menjadi aktif.
c. Patogenesis
Pada cavum timpani terdapat ossiculae yaitu maleus, incus dan stapes. Ossiculea ini
diikat oleh ligamenta disekitarnya. Selain itu juga terdapat tendo musculus tensor
timpani. Seluruh struktur ini dilapisi oleh mukosa. Mula-mula terjadi radang di dalam
kavum timpani yang mengenai mukosanya. Mukosa menjadi edema dan hiperemi
kemudian setelah beberapa waktu terjadi eksudasi. Radang tersebut meluas ke
epitimpani yang berisi ossiculae. Oleh karena epitimpani adalah suatu ruangan yang
sempit yang terbagi dalam beberapa kotak kecil maka dengan adanya radang akan
terjadi obstruksi penyaluran sekret ke mesotimpani sehingga sekret mengalir ke
belakang menuju aditus ad anthrum dan akhirnya ke cellule. Maka terjadilah hiperemi
dan edema mukoperiosteum cellule mastoidea yang kemudian akan terjadi kongesti
pembuluh darah. Karena terjadi kongesti maka terbentuk trombus. Bila trombus yang
terbentuk besar dapat mengakibatkan nekrosis mukosa dan tulang sellule mastoidea,
sehingga terjadi sekuesterisasi. Hal inilah yang disebut mastoiditis tipe koalesen.
Kemungkinan lain, bila trombus yang besar tadi pecah, akan timbul perdarahan, dan
terjadilah mastoiditis tipe hemoragik. Namun apabila terjadi peradangan pada trombus
tadi, terjadilah mastoiditis tipe thrombphlebitis.
d. Faktor-Faktor Predisposisi
Predisposisi mastoiditis hampir serupa dengan predisposisi otitis media 1,2,3 :
Umur
Mastoiditis hampir selalu disebabkan oleh otitis media. Otitis media lebih sering
mengenai anak-anak, karena secara anatomis tuba eustachii pada anak-anak lebih
11

pendek, lebih lebar, dan lebih horizontal. Sehingga bila terkena ISPA, anak-anak
akan lebih mudah terkena otitis media. Karena Otitis media kronik sering dimulai
masa childhood (anak-anak).
Sosial ekonomi
Sosial ekonomi yang rendah, gizi kurang, hygiene dan pemeliharaan kesehatan
kurang (kebodohan atau tidak adanya perhatian) dan kepadatan penduduk
(kawasan pemukiman yang kumuh) merupakan hal yang menunjang terjadinya
mastoiditis.
Musim
Perubahan musim memudahkan berjangkitnya penyakit saluran nafas. Pada
bulan-bulan dingin insiden otitis media cenderung meningkat.
Infeksi dan radang saluran nafas atas.
Infeksi saluran nafas atas seperti influenza, sinusitis dan rinitis kronik dapat
merupakan faktor predisposisi.
e. Diagnosis
Diagnosis mastoiditis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
gambaran radiologis.
Diagnosis dapat dibuat berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
1. Mastoiditis akut
1.1. Anamnesis
Penderita biasanya mengeluh otorhe, nyeri, sensasi tekanan dalam telinga, penebalan
sekitar prosesus mastoideus, kurang pendengaran, demam dan symptom konsitusi lain
seperti sakit kepala, anoreksia dan malaise.
1.2. Pemeriksaan :
a) Bulging membrana timpani atau perforasi membrana timpani.
12

b) Sekret purulen dari perforasi membrana timpani, yang dapat diikuti


gerakan pulsatil.
c) Kurang pendenganran tipe konduktif pada sisi yang sakit.
d) Edema retroarikular.
e) Perlunakan mastoid.
f) Nyeri tekan dan ketok mastoid.
g) Perforasi membrana timpani di sentral bila berlanjut dapat menjadi
subtotal atau total.
h) X foto mastoid : cellulae yang rusak tidak tampak dan cellulae kabur
sampai hilang.
i) Reservoir sign (+).

2. Mastoiditis kronik
2.1. Anamnesis
Penderita mengeluh tuli, keluar nanah dari telinga dan berbau busuk, telinga
tidak pernah sembuh, pernah sakit di belakang telinga dan nyeri apabila sudah
terjadi komplikasi.
2.2. Pemeriksaan :
a) Discharge profus, mukopurulen berwarna kuning, kental dan berbau.
b) Perforasi gendang telinga di membrana Sharpnell (attik) atau marginal atau
sentral
c) Liang teling di pars osseus di supero posterior bengkak (gele abses).
d) Bezold abses
e) Mourette abses
f) Kurang pendengaran tipe konduktif atau campuran.
13

g) X foto mastoid, nampak rusaknya cellulae mastoidea dapat berupa :


1. Kesuraman
2. Bila banyak membentuk tulang baru maka mastoid mengalami sclerosis
sehingga pada foto tampak keputihan. Kadang-kadang ditemukan suatu
rongga (cavity) yang menunjukkan adanya kolesteatom.
h) Reservoir sign (+).
f. Komplikasi
Komplikasi mastoiditis terbagi atas:
Telinga tengah :
Perforasi persisten.
Paresis nervus facialis.
Erosi ossiculae dengan gangguan pendengaran.
Telinga dalam :
Fistula dengan vertigo dan gangguan pendengaran tipe sensorineural.
Labirinitis supuratif.
Gangguan pendengaran tipe sensorineural.
Ekstraadural :
Abses ekstradural.
Sinus trombosis lateralis

Sistim saraf pusat :


Meningitis.
14

Abses otak.
Otitis hidrosefalus.
g. Pengobatan
Pengobatan mastoiditis dilakukan dengan beberapa cara :
a) Medikamentosa
Terapi dengan menggunakan obat-obatan antibiotik yaitu amoksilin, ampislin,
sefuroksin, tetrasiklin, khloramfenikol.
Operasi
Dilakukan tindakan operasi mastoidektomi, ada tiga cara:
2.1. Radikal mastoidektomi
Dengan operasi ini yang diutamakan adalah eradikasi penyakit sebaik- baiknya.
Pada cara ini seluruh dinding kanalis auditoris eksternus diruntuhkan sehingga
terdapat hubungan langsung antara kavum mastoid, kavum timpani dan liang
telinga. Dengan perkataan lain kavum mastoid, antrhum, aditus ad anthrum,
kavum timpani dan kanalis auditorius eksterna dijadikan satu ruangan. Cara
radikal

ini

terutama

untuk

mastoidektomi

dengan

kolesteatom

luas.

2.2. Mastoidektomi Simpel


Dinding posterior kanalis auditerius eksterna tetap dipertahankan.
2.3. Radikal Modifikasi
Indikasi cara ini adalah kolesteatom atik dengan periferasi atik dan membrana
tympani dengan pars tensa masih utuh dengan pendengaran masih baik. Pada
operasi ini, dinding postero superior dibuka lebar, jadi memenuhi syarat-syarat
mastoidektomi radikal tetapi fungsi pendengaran dipertahankan baik.

15

2.2 Fistula test


Fistula test adalah suatu pengujian yang bertujuan dari tes ini adalah untuk
mendeteksi fistula perilymphic dan kondisi terkait seperti dehiscence kanal superior .
Adapun penyakit yang membutuhkan uji fistula adalah fistula perilimfe.
fistula perilimfe adalah pembukaan abnormal antara telinga tengah berisi udara dan
telinga bagian dalam berisi cairan. Ini mungkin terjadi karena adanya kecacatan salah
satu dari 3 lokasi yaitu:

Putaran Jendela

jendela oval

kapsul otic

Dalam kebanyakan kasus itu adalah air mata atau cacat dalam salah satu atau kedua,
membran kecil tipis antara telinga tengah dan bagian dalam. Membran ini disebut
"jendela oval" dan Gambar 2 mengilustrasikan fistula round-window "jendela bulat."

Gambar 2. Putaran fistula jendela. Sebuah lubang di jendela bulat memungkinkan perilimfe
bocor keluar ke telinga tengah.
Lokasi lain mungkin untuk fistula adalah dalam tulang telinga (kapsul otic). Ini adalah
suatu kondisi langka di mana tulang antara telinga dan daerah otak yang hilang atau tipis,
menyebabkan

gejala

yang

sangat

mirip

dengan

fistula

jendela

bulat

atau
16

oval. Permasalahan dalam kapsul otic yang dapat menyebabkan fistula perilimfe
meliputi:

Kanal superior dehiscence sindrom

Cholesteatoma

Fenestration

Temporal patah tulang

Micro-fisura

Jenis yang paling umum dari fistula kapsul otic terletak tepat di atas kanalis
semisirkularis superior (lihat gambar 1) dan disebut kanal superior dehiscence sindrom
Cloutier et al. (2008). Kira-kira 2% dari orang-orang di otopsi ditemukan telah penipisan
tulang di lokasi ini, yang diperkirakan mempengaruhi mereka untuk sindrom ini (Carey
et al 2000, Cloutier et al 2008, Masaki 2011). Gerakan mata abnormal pada sindrom ini
sejajar dengan kanal Tavassolie superior et al. (2012).
Tipe lain dari fistula tulang dapat terjadi setelah prosedur pembedahan yang
disebut fenestration(sebelumnya dilakukan untuk otosklerosis , prosedur ini tidak lagi
digunakan). Ini adalah situasi yang kurang parah daripada fistuale jendela oval atau
bulat, sebagai cairan telinga bagian dalam umumnya tidak dalam komunikasi langsung
dengan rongga berisi udara, tetapi membran hadir yang mempertahankan segel. Hal ini
dapat disebabkan oleh dua proses yang berbeda. Dalam kasus pertama, atap dari kanal
superior yang hilang.Dalam kedua, ada pembukaan antara kanalis semisirkularis lateral
dan rongga artifisial dibuat di daerah sinus mastoid. Dalam salah satu dari kondisi ini,
tekanan di telinga atau suara keras dapat menyebabkan vertigo yang kuat dan melompat
dari mata (nystagmus).
Di masa lalu, suatu kondisi yang disebut cholesteatoma adalah penyebab umum dari
fistula perilimfe, tapi kondisi ini sekarang jarang ditemui karena perawatan antibiotik
ditingkatkan. Ada kemungkinan bahwa ada sesekali fistula terkait dengan retak kecil di
tulang antara telinga tengah dan dalam.

17

Sebuah kondisi erat terkait adalah alternobaric vertigo (Bluestone et al 2012). Berikut
pusing dikaitkan dengan perbedaan tekanan antara telinga. Kondisi ini masih sulit untuk
dokumen. Sebuah contoh dari ini mungkin vertigo muncul saat berada di dalam pesawat
unpressurized pada seseorang yang bisa "pop" telinga mereka di satu sisi, tetapi tidak
pada yang lain.
Apapun penyebabnya, PLF adalah kondisi yang sangat jarang terjadi dibandingkan
dengan sebagian besar penyebab lain dari pusing dan gangguan pendengaran.
Gejala fistula perilimfe

Pusing

Mendengar gejala (tinnitus, gangguan pendengaran)

Tekanan sensitivitas

Tullio ini fenomena (kepekaan terhadap suara keras)

Gejala fistula perilimfe mungkin termasuk gangguan pendengaran, pusing, vertigo,


ketidakseimbangan, intoleransi gerak, mual, dan muntah. Biasanya pasien melaporkan
kegoyangan yang meningkat dengan aktivitas dan yang hilang dengan istirahat. Beberapa
orang mengalami dering atau penuh pada telinga, dan pemberitahuan banyak gangguan
pendengaran. Gejala-gejala ini agak spesifik dan tumpang tindih dengan gangguan
telinga bagian dalam, terutama penyakit Mnire.
Sensitivitas tekanan adalah gejala yang umum di fistula, tapi jarang di lain gangguan
telinga bagian dalam.Perubahan alam di tekanan udara yang terjadi di telinga tengah
(misalnya, ketika telinga Anda pop di pesawat) biasanya tidak mempengaruhi telinga
bagian dalam Anda. Ketika fistula hadir, perubahan tekanan telinga tengah secara
langsung dapat mempengaruhi telinga bagian dalam, merangsang keseimbangan dan /
atau mendengar struktur dan menyebabkan gejala-gejala yang khas. Dengan demikian,
beberapa orang dengan fistula menemukan bahwa gejala mereka memburuk dengan
batuk, bersin, atau meniup hidung mereka, serta dengan tenaga dan aktivitas. Demikian
pula, orang-orang andal mungkin menjadi pusing setelah penurunan di pesawat terbang,
karena fluktuasi tekanan dalam kabin. Ini semacam gejala berjalan di bawah rubrik
umum pusing diinduksi Valsava, dan juga dapat dikaitkan dengan kondisi medis lainnya
18

dalam kategori yang sama sekali berbeda-misalnya, malformasi Chiari, dan kondisi
jantung yang disebut idiopatik hipertensi sub-aorta stenosis (IHSS) . Ada sejumlah
lainnya telinga dalam kondisi yang juga dapat menyebabkan sensitivitas tekanan,
seperti penyakit Mnire dan vestibulofibrosis.
Gejala lain yang tidak biasa yang dapat ditemukan pada orang dengan fistula, khususnya
"canal dehiscence superior" varian, adalah bahwa penggunaan yang suaranya sendiri atau
alat musik akan menyebabkan pusing (ini disebut fenomena Tullio ini). Gejala ini juga
dapat ditemukan pada penyakit Meniere dan vestibulofibrosis.
Jarang, fistula perilimfe dapat mengakibatkan episode berulang meningitis, karena ruang
endolymphatic menghubungkan dengan sistem saraf pusat (Mostafa et al 2005).
Etiologi fistula perilimve

Cedera kepala atau operasi telinga

Tekanan trauma

Bawaan

Infeksi

Trauma kepala merupakan penyebab paling umum dari fistula, biasanya melibatkan
pukulan langsung ke telinga. Fistula juga dapat berkembang mengikuti perubahan yang
cepat atau mendalam dalam tekanan intrakranial atau atmosfer, yang mungkin terjadi
dengan scuba diving. Batuk kuat, bersin atau mengejan seperti mengangkat benda yang
berat jarang dapat menyebabkan fistula. Telinga bedah, khususnya bedahstapes, sering
menyebabkan fistula. Beberapa pasien mengalami gejala dikaitkan dengan pesawat
fistula berikut yang layak. Fistula mungkin hadir sejak lahir (biasanya dalam hubungan
dengan tuli) atau mungkin akibat dari infeksi telinga kronis yang disebut cholesteatoma.
Fistula juga diciptakan oleh prosedur pembedahan biasanya dilakukan untuk otosklerosis
(stapedectomy).Dehiscence A adalah hasil yang diinginkan dari prosedur pembedahan
lain untuk otosklerosis disebut fenestration a. Patologis, fistula telah dilaporkan di
beberapa bagian tulang dari kapsul otic selain kanal atau area jendela. Signifikansi
mereka adalah kontroversial. Fistula biasanya dikaitkan dengan beberapa acara, paling
19

sering barotrauma atau cedera kepala (Ikezono et al 2009), tapi jarang, fistula terjadi
secara spontan (Jackler dan Brackmann 2005). Fistula dapat terjadi pada satu atau kedua
telinga, tapi fistula bilateral dianggap sangat langka.
Penegakan diagnosis fistula perilimfe
Fistula langka tertentu karena tumor atau cacat tulang (seperti dehiscence kanal superior)
relatif mudah untuk mendiagnosa karena mereka dapat dilihat pada magnetic resonance
imaging (MRI) atau computerized tomography (CT) scan. Namun, untuk orang lain, ada
kontroversi tentang bagaimana untuk membuat diagnosis. penyakit Mnire , yang jauh
lebih umum daripada fistula, dapat memiliki gejala yang sama, termasuk sensitivitas
tekanan. Untuk alasan ini, diagnosis dibuat fistula pada pasien tanpa barotrauma mudah
dipertanyakan. Masalah kedua adalah bahwa pada saat operasi, diagnosis sepenuhnya
didasarkan pada penilaian dokter bedah, dan penilaian ini telah variabel. Dalam nondarurat kasus, terutama di mana telah terjadi barotrauma tidak, kami pikir itu adalah
bijaksana untuk mendapatkan dua pendapat sebelum melanjutkan dengan pengobatan
bedah. Diagnosis fistula sangat mungkin tidak benar dalam situasi di mana tidak ada
alasan yang masuk akal, atau ketika fistula bilateral didiagnosa.
Tes berikut ini dianjurkan ketika fistula diduga kuat:

Fistula uji

Valsava test (lihat di bawah)

Audiometry

Electrocochleography (ECOG)

ENG

Temporal tulang CT scan, resolusi tinggi

MRI scan

Sebuah tes fistula , yang mencakup membuat rekaman sensitif gerakan mata sementara
pressurizing setiap saluran telinga dengan bola karet kecil, akan hampir selalu
dibutuhkan. Sebuah tes positif adalah alasan yang baik untuk eksplorasi bedah. Pada
20

fistula jendela, sangat sedikit nystagmus (melompat dari mata) diproduksi, dan tes positif
dapat terdiri dari hanya sedikit nystagmus setelah bertekanan. Dalam dehiscence kanal
superior, nystagmus yang kuat dapat diproduksi.
Tes fistula dilakukan dengan menerapkan tekanan positif dan negatif ke gendang telinga
utuh menggunakan otoscope pneumatik atau dengan menekan tragus.
Digunakan untuk mendeteksi fistula Perilymph.
Hasil

positif

(menunjukkan

Fistula Perilymphatic)
ketika

tekanan

positif ketika

tekanan

Hasil negatif (normal)

positif Tidak ada perubahan dicatat.

diterapkan dengan otoscope diterapkan dengan otoscope


pneumatik

pneumatik
+
Onset

dari Nystagmus ke

telinga ipsilateral.
ketika

tekanan

negatif ketika

tekanan

positif Tidak ada perubahan dicatat.

diterapkan dengan otoscope diterapkan dengan otoscope


pneumatik

pneumatik
+
Nystagmus juga membalikkan
& berubah arah menuju telinga
kontralateral.

21

Gambar. Alat yang digunakan untuk tes fistula


Dalam tes Valsava, tekanan positif atau Valsava terhadap lubang hidung terjepit
menghasilkan nystagmus downbeating, dengan fase cepat torsi konsisten dengan stimulasi
dari telinga yang terkena (berlawanan untuk telinga kanan, telinga kiri searah jarum jam
untuk). Tekanan negatif atau Valsava terhadap glotis tertutup dapat menghasilkan nystagmus
upbeating dan nystagmus pemukulan dengan fase cepat torsi dalam arah yang berlawanan
(searah jarum jam untuk telinga kanan, berlawanan untuk telinga kiri). Bagi mereka yang
akrab dengan BPPV, hubungan vektor antara komponen vertikal dan torsional dibalik
sehingga nystagmus upbeating mengalahkan jauh dari telinga "buruk", dan downbeating,
menuju telinga "baik". Namun tak jarang, ada nystagmus sama sekali diproduksi oleh
manuver baik.
Audiometry dan ENG hampir selalu diperlukan dalam rangka membangun sisi fistula, dan
untuk mengecualikan kemungkinan penyebab lain dari gejala. Audiometry mungkin
menunjukkan gangguan pendengaran sensorineural. Pada pasien dengan penyakit sel sabit
(SCD), audiometri dapat menunjukkan skor konduksi tulang yang lebih baik daripada udara
(hyperacusis konduktif).
Sebuah "ECOG", atau electrocochleography mungkin bisa membantu juga, meskipun hanya
dalam kasus-kasus langka. Peran utama dari ECOG adalah untuk mendiagnosa penyakit
22

Mnire , yang merupakan sumber alternatif umum dari sensitivitas tekanan. ECOG secara
teknis menantang dan mungkin sulit untuk menemukan sebuah laboratorium yang
melakukannya.
MRI dan / atau tulang temporal CT scan biasanya membantu untuk mengecualikan
kemungkinan lain. CT dari tulang temporal sangat akurat dalam mengidentifikasi fistula
saluran (Sequeira et al 2011), meskipun karena ada benar-benar ada cara lain yang baik untuk
mengidentifikasi fistula kanal, dan penulis menyimpulkan bahwa CT bukanlah "standar emas
eksklusif" untuk diagnosis. CT dari tulang temporal harus dilakukan dengan setidaknya 1
resolusi mm. Idealnya, pemotongan harus dalam bidang kanal di mana salah satu tersangka
kebocoran. Pada update ini (9/2012), CT scan tulang temporal protokol untuk tujuan ini,
terutama untuk mendiagnosis dehiscence kanal unggul, tidak tersedia secara luas dan salah
satu mungkin perlu untuk pergi ke salah satu dari pusat khusus beberapa di seluruh negeri
untuk mendapatkan ini dilakukan dengan benar .
MRI bukan tes terbaik untuk fistula karena tidak menunjukkan tulang, dan karena resolusi
tidak sebagus CT scan. Namun, MRI adalah cara terbaik untuk menunjukkan masalah
kemungkinan pembaur lain, seperti tumor atau plak multiple sclerosis. Kami biasanya
merekomendasikan MRI sebelum mempertimbangkan operasi fistula.
Ketika fistula sangat parah, dapat menyebabkan kebocoran CSF, sebagai perilimfe dari
telinga bagian dalam yang berbatasan dengan cairan tulang belakang. Kebocoran CSF
terutama adalah akibat dari cedera kepala atau operasi (misalnya, mereka cukup umum
setelah neuroma akustik operasi). Ada beberapa tes tujuan khusus untuk kebocoran
CSF. Kebocoran CSF dapat didokumentasikan oleh CT cisternography dengan suntikan
tulang belakang dari bahan kontras. Kepala dimiringkan ke bawah selama tiga menit dengan
pasien rentan, dan CT scan dilakukan dengan pemotongan resolusi tinggi (spiral), pada
bidang koronal segera setelah posisi rawan, untuk menutupi sinus frontal melalui daerah
sinus mastoid.
Meskipun jarang ditemui, karena membutuhkan fistula sangat besar dan CT scan cepat
telinga, udara di labirin (pneumolabyrinth) adalah yang paling meyakinkan ditemukannya
fistula. Efusi telinga tengah mungkin juga sugestif fistula. Varian dalam struktur stapes
kadang-kadang petunjuk bahwa ada fistula kongenital pada tingkat jendela oval.

23

Fistula jendela bulat umumnya ditemani oleh kelainan CT, meskipun efusi yang tampaknya
akan menjadi mungkin dalam situasi ini. Kelainan bawaan lainnya dari koklea, vestibulum,
dan saluran air vestibular juga dapat didokumentasikan oleh CT dari tulang temporal (Yun et
al 2011). Sayangnya, prosedur ini tidak 100% akurat untuk semua jenis fistula, dan dalam
beberapa kasus, hanya pemeriksaan langsung dari telinga bagian dalam akan mengkonfirmasi
atau menyingkirkan / keluar fistula mungkin.
Investigational tes untuk fistula
Suara membangkitkan potensi membangkitkan vestibulocollic, disebut tes VEMP (potensi
myogenic

vestibular

membangkitkan)

telah

digambarkan

sebagai

berguna

dalam

mendiagnosis fenomena Tullio itu dari dehiscence kanal superior (Brantberg & Verrecchia
2009). S VEMP menyerupai diinstrumentasi Tullio tes - potensi lebih besar karena suarasensitivitas

telinga

bagian

dalam

(saccule). Endoskopi

adalah

metode

lain

mendokumentasikan fistula tanpa operasi. Teknik ini adalah dengan menyuntikkan bahan
neon yang masuk ke perilimfe tersebut, dan mengamati dengan endoskopi (Crane et al
2009). Ada beberapa kesulitan. Pertama, mendapatkan pewarna ke perilimfe mungkin
bermasalah. Sementara perilimfe terhubung ke batas tertentu untuk CSF, sambungan tidak
terbuka di beberapa orang seperti orang lain. Injeksi pewarna ke dalam cairan lain, seperti
intravena, membuka pertanyaan mengenai apakah cairan terlihat bahwa berfluoresensi adalah
serum atau perilimfe. Tes juga melibatkan penilaian subyektif, yang telah bermasalah dalam
konteks lain.Prosedur ini tidak tersedia secara luas.
Satu uji klinis kecil mengukur tingkat protein spesifik (beta-jejak protein) selama
tympanoscopy

untuk

mendeteksi

fistula

(Michel

2005). Lima

belas

pasien

dievaluasi. Peningkatan kadar beta-jejak protein yang sangat spesifik dan cukup sensitif
dalam mendeteksi fistula perilimfe. Percobaan yang lebih besar akan diperlukan sebelum
kegunaan sebenarnya dari tes ini diidentifikasi.
Dipertanyakan Pengujian fistula
Ada beberapa tes untuk fistula bahwa kita tidak berpikir diperlukan atau dapat
diandalkan. The posturography Tekanan testis satu - tes ini melibatkan pengukuran bergoyang
postural setelah bertekanan dari telinga. Tes ini tampaknya kita untuk menjadi rentan
terhadap positif palsu. Tes gliserin juga telah menganjurkan untuk fistula (Lehrer et al
1980). Kami prihatin bahwa tes ini mendiagnosis penyakit Mnire daripada fistula.
24

Bagaimana sebuah Fistula Perilymph Diobati?


Konservatif Pendekatan
Sebelum kita mulai, perhatikan bahwa rekomendasi ini tidak didasarkan pada banyak
bukti. Secara umum, mereka mencerminkan menebak dokter seperti apa yang mungkin baik
atau buruk yang dapat dilakukan.Mereka jarang mencerminkan bukti dalam arti controlled
trial.
Berdasarkan pengalaman di fistula pembedahan dibuat (yaitu stapes bedah), diperkirakan
bahwa dalam banyak kasus, fistula jendela akan sembuh sendiri jika aktivitas dibatasi. Dalam
kasus tersebut, istirahat di tempat tidur yang ketat dianjurkan selama satu minggu atau lebih
untuk memberikan fistula kesempatan untuk menutup. Hal ini biasa untuk menunggu enam
bulan sebelum memulai perbaikan bedah, mengingat bahwa fungsi pendengaran wajar dan
stabil atau membaik. Sehubungan dengan perjalanan udara, sementara itu tentu paling aman
untuk menghindari perjalanan udara sama sekali, dalam beberapa kasus mungkin tidak dapat
dihindari. Dalam kasus ini, kami sarankan menggunakan nasal dekongestan setidaknya satu
setengah jam sebelum mendarat. Beberapa pasien kami telah menunjukkan bahwa sangkutan
telinga adalah membantu dalam situasi ini juga. Kadang-kadang tabung ventilasi akan
membantu.
Pasien dengan fistula dianggap mungkin harus menghindari hal-hal berikut:

Pengangkatan

Saring

Membungkuk

Popping telinga

Kuat hidung bertiup

Tekanan udara perubahan seperti akibat perjalanan udara

Tinggi kecepatan lift


25

Scuba diving

Keras suara (seperti bernyanyi sendiri atau alat musik)

Operasi
Jika Anda memiliki fistula kapsul otic, jika gejala Anda adalah signifikan dan tidak
menanggapi pendekatan konservatif yang diuraikan di atas, atau jika Anda memiliki
gangguan pendengaran yang progresif, bedah perbaikan fistula mungkin diperlukan. Untuk
fistula kapsul otic melibatkan kanal, operasi umumnya melibatkan penyumbatan kanal.
Untuk operasi fistula jendela melibatkan menempatkan graft jaringan lunak selama cacat
fistula di oval dan / atau jendela bulat. Fistula kapsul otic tidak, secara umum, sembuh
dengan sendiri. Sayangnya, dalam pendapat kami, prosedur bedah untuk fistula jendela tidak
berhasil dengan baik. Pasien sering reoperated ketika memutuskan bahwa korupsi telah
gagal. Dalam kebanyakan kasus, shunt dari kantung endolymphatic atau jalur cairan tulang
belakang (misalnya, shunts lumbal) tidak sesuai untuk pengobatan fistula.
Untuk orang-orang dengan gejala terutama disebabkan oleh terbang, setelah tindakan
konservatif gagal, tabung ventilasi mungkin layak dipertimbangkan.
Sebuah analisis baru-baru ini dari 160 pasien yang diobati pembedahan untuk fistula
perilymphatic

bawaan

ditemukan

90%

memiliki

gejala

membaik

atau

stabil

postsurgically. Tidak ada pasien mengalami perburukan gejala karena operasi (Weber et al
2003).
Implantasi bedah dari shunt ventriculoperitoneal telah terbukti efektif dalam mengobati
pasien dengan gejala berat yang tidak merespon manajemen lebih konservatif, tetapi
umumnya hanya dipertimbangkan dalam kasus yang parah dan tidak tersedia secara rutin
(Lollis et al 2006).
Obat-obatan
Untuk orang dengan terpasang sampai pipa pembuluh (misalnya karena pilek atau alergi),
dekongestan, obat alergi, dan tabung ventilasi mungkin digunakan. Obat penenang dalam
26

keluarga kecil seperti diazepam (Valium), lorazepam klonazepam dan membantu beberapa
individu. Antivert dan phenergan juga obat yang beberapa menemukan membantu.

Bagaimana Mungkin suatu Fistula Perilymph Mempengaruhi My Life?


Anda mungkin menemukan bahwa modifikasi dalam kegiatan sehari-hari Anda akan
diperlukan sehingga Anda dapat mengatasi dengan pusing Anda. Sebagai contoh, Anda
mungkin perlu memiliki toko seseorang untuk Anda untuk sementara jika naik dan turun
lorong supermarket cenderung meningkat gejala Anda. Lihat juga saran di atas di bawah
"pengobatan konservatif".
Anda harus mengambil tindakan pencegahan khusus dalam situasi di mana jelas, penglihatan
normal tidak tersedia untuk Anda. Misalnya, jangan mencoba untuk berjalan melalui kamar
gelap dan lorong-lorong, menjaga lampu atau nightlights pada setiap saat. Jangan
mengendarai mobil Anda di malam hari atau saat cuaca badai ketika visibilitas miskin.
Pastikan Anda lorong di rumah yang rapi dan bebas dari penghalang. Yang paling penting,
jangan menempatkan diri dalam situasi di mana Anda mungkin kehilangan keseimbangan dan
beresiko untuk cedera jatuh dan serius, tetap off dari kursi, bangku, tangga, atap, dll Jika
saldo Anda terus menjadi masalah serius, Anda mungkin perlu mempertimbangkan
menggunakan tongkat atau walker untuk keselamatan tambah.

3. Tobe Eyer Test


Tobe eyer tes dilakukan untuk trombosis sinus lateral.
thyroplasty 1 - medialisation pita suara
thyroplasty 2 - lateralisation
thyroplasty 3 - digunakan untuk memperpendek kabel vokal & menurunkan lapangan
thyroplasty 4 - digunakan untuk memperpanjang pita suara & meningkatkan lapangan
merobek tanda drop - meniup fraktur orbit

27

Tobe-Eyer
Untuk trombosis sinus, vena jugularis di sisi trombosis diduga dikompresi. Kenaikan tekanan
cairan tulang belakang kemungkinan terjadi, ketiadaan menunjukkan adanya trombosis.
Disebut juga Ayer-Tobey tes.
Trombosis sinus Lateral: Thrombophlebitis dapat berkembang di salah satu pembuluh darah
yang berdekatan dengan rongga telinga tengah. Dari jumlah tersebut sinus lateral, yang
terdiri dari sinus sigmoid dan melintang adalah yang terbesar dan paling sering terkena.
Biasanya didahului oleh perkembangan abses perisinus extradural. Trombus mural sebagian
mengisi sinus. Bekuan semakin memperluas dan akhirnya menyumbat lumen. Gumpalan ini
kemudian dapat menjadi terorganisir, dan sebagian rusak dan bahkan dapat dilunakkan oleh
nanah. During this stage there is a release of infecting organism and infected material into the
circulation causing bacteremia, septicemia and septic embolisation. Selama tahap ini ada rilis
menginfeksi organisme dan bahan yang terinfeksi ke dalam sirkulasi menyebabkan
embolisasi bakteremia, sepsis dan septik.

Gambar menunjukkan berbagai tahap trombosis sinus lateralis


Perpanjangan / propagasi ke atas trombus dapat memperpanjang ke pertemuan pada sinus,
dan lebih dari itu ke sinus sagital superior. Invasi sinus petrosus superior dan inferior dapat
menyebabkan infeksi menyebar ke sinus gua.

Ini penyebaran tromboflebitis vena ke

rekening otak substansi untuk asosiasi yang sangat tinggi dari komplikasi dengan abses otak.
Perkembangan trombus ke dalam dan melalui vena jugularis internal dapat mencapai vena
subklavia.

28

Efek berbahaya yang disebabkan oleh pelepasan emboli infektif ke dalam sirkulasi, dan juga
dari gangguan hemodinamik menyebabkan drainase vena dari dalam rongga tengkorak.
Gambaran klinis:
1. Demam yang parah Suhu naik cepat 39-40 .
2.
3.
4.
5.

Penyakit buang dalam hubungan dengan infeksi telinga tengah.


Sakit kepala berhubungan dengan nyeri leher.
Tampak anemia.
Ketika terjadi bekuan disepanjang vena jugularis internal, akan disertai oleh
peradangan perivenous, dan juga perivenosus edema tau bahkan nanah dari kelenjar
getah bening leher. Inflamasi Perivenous sekitar foramen jugularis dapat

menyebabkan kelumpuhan dari tiga saraf kranial yang lebih rendah.


6. Papilloedema dan hilangnya penglihatan akibat tekanan intrakranial.
7. Hydrocephalus bisa menjadi komplikasi tambahan jika lebih besar atau sinus hanya
lateral tersumbat oleh trombus, atau jika bekuan mencapai sinus sagital superior.
Perluasan ke sinus kavernosus dapat terjadi melalui sinus petrosus superior, dan dapat
menyebabkan chemosis dan proptosis dari satu mata. Jika sinus melingkar yang
terlibat itu bisa menyebar ke mata yang lain. Penyebaran dari emboli yang terinfeksi
dapat menyebabkan infiltrat di bidang paru-paru, dan juga bisa menyebar ke sendi dan
jaringan subkutan lainnya .
8. selalu merasa sakit, telinga sakit, berkaitan dengan kelembutan mastoid, dan
kekakuan otot sepanjang sternomastoid.
Investigasi:
Sebuah pungsi lumbal harus dilakukan, jika papilloedema tidak menunjukkan bahwa
peningkatan tekanan intrakranial dapat menimbulkan coning. Pemeriksaan CSF adalah cara
yang paling efisien untuk mengidentifikasi meningitis. Dalam trombosis sinus lateralis rumit
jumlah darah putih dalam CSF akan rendah bila penyebabnya adalah penyakit kronis telinga
tengah, dan agak dibesarkan di otitis media akut. Tekanan CSF biasanya normal. Variasi
dalam tingkat protein CSF dan gula tidak berguna.
Tobey - Ayer uji Ini juga dikenal sebagai Queckenstedt test.Tes ini dianjurkan setiap kali
pungsi lumbal untuk infeksi intrakranial yang mungkin dilakukan.

Tes ini melibatkan

pengukuran tekanan CSF dan mengamati perubahan pada kompresi satu atau kedua vena
jugularis internal dengan jari pada leher. Pada manusia yang normal kompresi setiap vena
29

jugularis internal pada gilirannya diikuti oleh peningkatan tekanan CSF, dari sekitar 50 100mm di atas tingkat normal. Ketika tekanan atas vena jugularis internal yang dilepaskan
maka ada penurunan tekanan CSF yang sama besarnya. Pada pasien dengan trombosis sinus
tekanan lateral atas vena menguras penyebab sinus tersumbat baik tidak ada peningkatan,
atau naik lambat rendah tekanan CSF dari 10 - 20 mm. Kompresi vena jugularis internal
yang normal menghasilkan peningkatan tekanan yang cepat mulai dari 2 - 3 kali tingkat
normal. Tes ini juga rawan untuk hasil negatif palsu karena adanya saluran agunan menguras
sinus vena. Positif palsu dapat terjadi jika sinus lateral yang normal adalah kecil atau tidak
ada yang menciptakan kesan keliru trombosis sinus lateral.

Rute penyebaran infeksi dari telinga:


Apakah akut atau kronis, infeksi dari telinga tengah menyebar melalui:
1. Perpanjangan melalui tulang yang telah demineralised selama infeksi akut, atau
diresorpsi oleh cholesteatoma, atau osteitis pada penyakit kronis telinga.
Demineralisasi yang dibawa oleh berbagai enzim yang dilepaskan selama infeksi
akut. Cholesteatoma menyebabkan erosi tulang baik karena nekrosis tekanan, atau
halisterisis. Halisterisis juga dikenal sebagai dekalsifikasi hyperimic. Sebagai
istilah itu sendiri menunjukkan dekalsifikasi disebabkan oleh hiperemi.
2. Menyebar melalui saluran vena: Penyebaran gumpalan terinfeksi dalam urat kecil
melalui tulang dan dura ke sinus vena dural. If spread via this route occurs then the
infection may find its way into the brain without involving the bone or dura. Jika
menyebar melalui rute ini terjadi maka infeksi dapat menemukan jalan ke otak
tanpa melibatkan tulang atau dura. Thrombophlebitis from the lateral sinus may
spread to the cerebellum, and from the superior petrosal sinus may spread to the
temproral lobe of the brain. Thrombophlebitis dari sinus lateral yang dapat
menyebar ke otak kecil, dan dari sinus petrosus superior dapat menyebar ke lobus
temproral otak.
3. Menyebar melalui jalur anatomi normal: Penyebaran dapat terjadi melalui jendela
oval / bundar ke dalam meatus auditorius internal. Penyebaran juga dapat terjadi
30

melalui saluran air koklea dan vestibular. Daerah tertentu mungkin memiliki
tulang kering merekah sebagai varian normal yaitu meliputi tulang bola jugularis,
daerah kering merekah di timpani tegmen, dan jahitan baris kering merekah dari
tulang temporal.
4. Penyebaran dapat terjadi melalui non cacat tulang anatomi seperti yang disebabkan
karena trauma, (kecelakaan, bedah) atau oleh erosi akibat neoplasia.
5. Penyebaran dapat terjadi melalui bedah cacat yang disebabkan oleh fenestration
dari jendela oval selama prosedur stapedectomy.
6. Penyebaran dapat terjadi secara langsung ke jaringan otak melalui ruang arteriolar
peri dari Virchow Robin. Penyebaran ini tidak mempengaruhi arteriol perse
kortikal, maka abses terjadi pada materi putih tanpa keterlibatan materi abu-abu
otak.

Representasi Diagramatic menunjukkan berbagai rute penyebaran infeksi dari rongga


telinga tengah.
Faktor-faktor yang menentukan penyebaran infeksi:
1. kondisi umum pasien dan status imunologi

31

2. virulensi, Misalnya Strep. pneumoniae tipe III, dan H. Influenza tipe B


3. Kecukupan / memadainya perawatan kondisi telinga tengah juga mungkin memainkan
peran penting.

DAFTAR PUSTAKA

Djaafar ZA, Kelainan Telinga Tengah-Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, ed; Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, Jakarta: Balai Penerbit FKUI,
2001:

49-62

Sakit

Telinga,

2000

Oktober,

2001

October,

Available

at

URL:

http://www.infokes.com
Young

T,

Mastoiditis,

Available

at

URL:

http://www.emedicine.com/EMERG/topic306htm
Paparella MM, Adams GL, Levine SC, Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid. Dalam: Adams
GL, Boies LR, Higher PA, ed; Buku Ajar Penyakit THT, Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 1997: 88-118
Diseases

of

the

Middle

Ear

and

Mastoid.

Available

at

URL:

http://entlink.net/education/curiculum/mid_ear_dis.cfm
Helmi, Komplikasi Otitis Media Supuratif Kronis dan Mastoiditis. Dalam: Soepardi EA,
Iskandar N, ed; Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher, Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2001: 63-73

32

33