Anda di halaman 1dari 59

PENDUGAAN KANDUNGAN KARBON DALAM TANAH

HUTAN RAWA GAMBUT


(Studi Kasus di IUPHHK-HA PT. Diamond Raya Timber,
Kecamatan Parit Sicin, Kabupaten Rokan Hilir, Riau)

EKO YUONO
E24103003

DEPARTEMEN HASIL HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

PENDUGAAN KANDUNGAN KARBON DALAM TANAH


HUTAN RAWA GAMBUT
(Studi Kasus di IUPHHK-HA PT. Diamond Raya Timber,
Kecamatan Parit Sicin, Kabupaten Rokan Hilir, Riau)

EKO YUONO
E24103003

SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
SARJANA KEHUTANAN
Program Studi Pemanenan Hasil Hutan
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN HASIL HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

RINGKASAN SKRIPSI
Eko Yuono. E24103003. Pendugaan Kandungan Karbon Dalam Tanah Hutan
Rawa Gambut (Studi Kasus di IUPHHK-HA PT. Diamond Raya Timber,
Kecamatan Parit Sicin, Kabupaten Rokan Hilir, Riau). Dibawah bimbingan Prof.
Dr. Ir. Elias.
PENDAHULUAN. Besarnya potensi hutan sebagai penyerap dan penyimpan karbon tersebut,
memberikan peluang besar kepada Indonesia untuk terlibat dalam mekanisme perdagangan karbon
yang digagas dunia internasional sejak disetujuinya Kyoto Protokol pada tahun 1997. Salah satu
tipe hutan yang memiliki potensi dalam penyerapan dan penyimpanan karbon ialah hutan rawa
gambut. Jika hutan gambut dikelola secara lestari, diperkirakan dapat meningkatkan
kemampuannya dalam menyerap karbon.
TUJUAN. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah adalah mengetahui besarnya
kandungan karbon tanah gambut dan mengetahui besarnya kadar karbon pada lapisan serasah,
lapisan tanah gambut dan lapisan tanah mineral.
METODOLOGI. Penelitian dilaksanakan di areal RKT 2008 IUPHHK-HA PT. Diamond Raya
Timber (DRT) pada bulan April 2008 hingga Mei 2008 kemudian dilanjutkan analisis kandungan
karbon di Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Juni
hingga Oktober 2008. Jenis data yang digunakan ialah data primer, yaitu bobot isi contoh tanah
untuk tanah gambut, kadar karbon (%) contoh uji (serasah, tanah gambut dan tanah mineral) dan
kandungan massa karbon (ton/ha) dalam tanah serta data sekunder yaitu berupa data kondisi
umum lokasi penelitian, antara lain letak, luas dan keadaan umum lokasi penelitian, data kondisi
potensi hutan dan kondisi fisik di areal penelitian. Penelitian dimulai dengan pengambilan contoh
untuk serasah, tanah gambut, dan tanah mineral di lapangan dengan menggunakan kayu yang telah
dimodifikasi, pengukuran kedalaman gambut, tingkat kematangan gambut, dan dilanjutkan dengan
pengukuran kadar air, bobot isi dan analisis kadar karbon (%) di laboratorium serta dilakukan
analisis data kadar karbon dan massa karbon untuk lapisan serasah, lapisan tanah gambut dan
lapisan tanah mineral adalah dengan menggunakan analisis statistik deskriptif atau penyajian
bentuk gambar (histogram, diagram batang dan lain-lain) dan dilakukan uji beda (uji-T) untuk data
massa karbon antara lapisan serasah dan tanah gambut.
HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan penelitian di areal RKT 2008 IUPHHK-HA PT.
Diamond Raya Timber diketahui bahwa kadar air rata-rata tanah gambut adalah 42,07%, kadar air
rata-rata serasah adalah 9,72%, dan kadar air rata-rata tanah mineral adalah 8,81%. Rata-rata nilai
bulk density secara keseluruhan untuk serasah adalah 0,02 g/cm 3 dan nilai rata-rata keseluruhan
bulk density untuk tanah gambut adalah 0,34 g/cm3. Massa karbon rata-rata di areal penelitian pada
lapisan serasah adalah 25,41 tonC/ha dan pada lapisan tanah gambut adalah 6.394,53 tonC/ha.
Secara keseluruhan rata-rata kadar karbon di areal penelitian adalah sebagai berikut kadar karbon
serasah adalah 53,79%, kadar karbon tanah gambut adalah 52,41%, kadar karbon tanah mineral
adalah 7,15%. Massa karbon rata-rata di areal penelitian pada lapisan serasah adalah 25,41
tonC/ha dan pada lapisan tanah gambut adalah 6.394,53 tonC/ha.
KESIMPULAN. Hasil uji statistik terhadap kadar karbon antara lapisan serasah, lapisan tanah
gambut dan tanah mineral menunjukkan perbedaan sangat nyata untuk lapisan serasah dan lapisan
tanah gambut dengan lapisan tanah mineral, sedangkan untuk lapisan serasah dan tanah gambut
tidak berbeda. Hasil uji statistik terhadap kandungan karbon (massa karbon) antara lapisan serasah
dan lapisan tanah gambut menunjukkan perbedaan sangat nyata.

Kata kunci : Kadar Karbon, Serasah, Gambut, Mineral

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pendugaan
Kandungan Karbon Dalam Tanah Hutan Rawa Gambut (Studi Kasus di IUPHHKHA PT. Diamond Raya Timber, Kecamatan Parit Sicin, KAbupaten Rokan Hilir,
Riau)

adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen

pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan
tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari
karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2009

Eko Yuono
NRP E24103003

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat-Nya serta karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya ilmiah ini. Karya Ilmiah ini merupakan salah satu tahap awal bagi penulis
kami untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi sebagai salah satu impian dan
cita-cita penulis dalam menyelesaikan studi akademisnya di Program Studi
Pemanenan Hasil Hutan, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Institut
Pertanian Bogor.
Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan April
hingga Mei 2008 adalah Pendugaan Kandungan Karbon Dalam Tanah Hutan
Rawa Gambut (Studi Kasus di IUPHHK-HA PT. Diamond Raya Timber,
Kecamatan Parit Sicin, Kabupaten Rokan Hilir, Riau).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Elias selaku
dosen pembimbing serta Bapak Dr. Ir. Basuki Wasis, MS dan Bapak Dr. Ir. Abdul
Haris Mustari, M.Sc yang telah mengevaluasi dan memberikan masukan serta
saran kepada penulis dalam penyempurnaan karya ilmiah ini. Selain itu
penghargaan penulis disampaikan pula kepada IUPHHK-HA PT. DRT dan
Laboratorium Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Bogor yang
telah membantu dalam pengumpulan data.
Penulis menyadari dalam pembuatan karya ilmiah ini tidak lepas dari
segala kelemahan dan kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran guna penyempurnaan

karya

ilmiah

ini.

Semoga dengan

segala

kekurangannya dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya. Akhir


kata penulis ucapkan terima kasih kepada segala pihak yang ikut membantu dalam
penyelesaian karya ilmiah ini.
Bogor, Agustus 2009

Penulis

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Penulis di lahirkan di Sleman, D.I. Yogyakarta pada tanggal 27
November 1985, sebagai anak pertama dari dua bersaudara
pasangan Kuwad dan Murdini.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah masingmasing pada : Sekolah Dasar Negeri 144 Pasir Putih Muara
Bungo, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 3 Muara
Bungo, dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 2 Muara Bungo, Jambi.
Pada tahun 2003 penulis masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi
Masuk IPB. Penulis memilih jurusan Program Studi Teknologi Hasil Hutan,
Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan.
Selama menuntut ilmu di IPB, penulis pernah menjadi asisten di
Laboratorium Pengaruh Hutan untuk membantu kegiatan praktikum mata kuliah
Kesuburan Tanah Hutan dan Konservasi Tanah dan Air tahun ajaran 2006/2007
dan tahun ajaran 2007/2008. Penulis juga pernah menjadi asisten lapangan pada
Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) tahun ajaran 2008/2009 dan tahun
ajaran 2009/2010. Penulis melaksanakan Praktek Pengenalan dan Pengelolaan
Hutan (P3H) di Getas Jalur A (Baturraden-Cilacap) tahun 2006. Selain itu penulis
juga melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di IUPHHK-HA PT. Andalas
Merapi Timber, Sangir, Solok Selatan, Sumatera Barat selama 2 bulan periode
Februari-April.
Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan
skripsi dengan judul Pendugaan Kandungan Karbon dalam Tanah Hutan Rawa
Gambut (Studi Kasus di IUPHHK-HA PT. Diamond Raya Timber Kecamatan
Parit Sicin, Kabupaten Rokan Hilir, Riau) di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Elias.

UCAPAN TERIMA KASIH


Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalamdalamnya kepada :
1.

Ayah, ibu dan adikku atas doa dan motivasi yang selalu diberikan kepada
penulis selama kegiatan penelitian dan penulisan karya ilmiah ini

2.

Bapak Prof. Dr. Ir. Elias selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah
membantu mengarahkan penulis selama melakukan penelitian dan penulisan
karya ilmiah ini

3.

Bapak Dr. Ir. Basuki Wasis, MS selaku Dosen penguji dari Departemen
Manajemen Hutan Program Studi Budidaya Hutan

4.

Bapak Dr. Ir. Abdul Haris Mustari M.Sc selaku Dosen penguji dari
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata.

5. Keluarga besar Bapak Ir. Rafik Sutan Taarif MM yang selalu memberikan
dorongan materil dan spritual selama penulis menuntut ilmu di IPB
6.

Keluarga besar Laboratorium Pemanenan Hasil Hutan yang telah membantu


mengarahkan dan memberikan motivasi kepada penulis

7.

Keluarga besar Laboratorium Pengaruh Hutan (Sahab, Uci, Ayu, Muzi, Marta,
Veve) yang telah membantu mengarahkan dan memberikan motivasi kepada
penulis selama penelitian dan penulisan karya ilmiah ini

8. Untuk Ibu Atikah dan Pak Dadan Mulyana S.Hut M.Si yang selalu
memberikan motivasi dan dorongan spiritual kepada penulis agar tetap
bersemangat dan tidak pernah putus asa
9.

Bapak Ir. Arus Muzizat dan Bapak Ir. Yatno Perbowo (Direktur serta General
Manager IUPHHK-HA PT. DRT) dan para staf serta pegawai pengurus
IUPHHK-HA PT. DRT, yang telah banyak memberikan bantuannya selama
pelaksanaan penelitian di lapangan.

10.

Bapak Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr selaku Dekan Fakultas Kehutanan IPB
yang telah memberi kesempatan melaksanakan kegiatan penelitian ini

11.

Bapak Dr. Ir. Dede Hermawan, M.Sc selaku Ketua Departemen Teknologi
Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB atas arahan dan bimbingannya.

12.

Rekan-rekan program studi Teknologi Hasil Hutan 40

13. Rekan-rekan Sengkedo Hotman, Boy, Desman, Togu, Kupli, Rudi, Ico, dan
alumni Sengkedo Yudha, Aconk, Bang Tito, Bang Tyo, Gede, Icenk, Anggit,
Anggun, Reni dan teman-teman yang lainnya
14.

Keluarga besar KPAP Departemen Hasil Hutan yang telah membantu


memudahkan penulis dalam mengurus segala administrasi selama di Kampus.

15.

Teman-teman di IUPHHK-HA PT. DRT yang telah memberikan doanya agar


penelitian serta penyusunan karya ilmiah ini berjalan lancar

16.

Desti Hertanti yang selalu memberikan dorongan dan motivasi serta


meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan dalam suka dan duka kepada
penulis selama penulisan karya ilmiah ini, terima kasih.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ..............................................................................................
i
DAFTAR TABEL ......................................................................................
iii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................
iv
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................
v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................
1
1.2 Tujuan Penelitian ................................................................
2
1.3 Manfaat Penelitian ..............................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hutan dan Lahan Gambut ...................................................
2.2 Karbon ................................................................................
2.3 Biomassa .............................................................................
2.4 Bobot Isi Tanah ...................................................................

3
5
5
6

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ..............................................
3.2 Bahan dan Alat ....................................................................
3.3 Jenis Data ............................................................................
3.4 Metode Penelitian ...............................................................
3.5 Analisis Data .......................................................................

8
8
8
9
13

BAB IV KONDISI UMUM


4.1 Letak dan Geografis ............................................................
4.2 Tanah dan Geologi ..............................................................
4.3 Iklim ....................................................................................
4.4 Hidrologi .............................................................................
4.5 Keadaan Hutan ....................................................................

14
15
16
17
17

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Kadar Air............................................................................
5.2 Bulk density.........................................................................
5.3 Kadar Karbon......................................................................
5.4 Massa Karbon ....................................................................
5.5 Analisis Data ......................................................................

19
22
26
29
32

ii

BAB VI KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan .........................................................................
6.2 Saran ...................................................................................

35
35

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................


LAMPIRAN ...............................................................................................

36
38

iii

DAFTAR TABEL
No.

Halaman

1. Tabel 1 Tipe tanah di sekitar DAS Rokan ...............................................


2. Tabel 2 Kadar air serasah, tanah gambut, dan tanah mineral di empat
lokasi pengukuran yang berada dalam areal RKT 2008 PT. DRT ............
3. Tabel 3 Kadar air rata-rata serasah, tanah gambut, dan tanah mineral
di areal RKT 2008 PT. DRT .....................................................................
4. Tabel 4 Bulk density serasah dan tanah gambut di empat lokasi petak
ukur yang berada dalam areal RKT 2008 PT. DRT ..................................
5. Tabel 5 Bulk density rata-rata serasah dan tanah gambut di areal
RKT 2008 PT. DRT ..................................................................................
6. Tabel 6 Nilai bulk density berdasarkan tingkat dekomposisinya ............
7. Tabel 7 Kadar karbon serasah, tanah gambut, dan tanah mineral di areal
RKT 2008 PT. DRT ..................................................................................
8. Tabel 8 Massa karbon serasah dan tanah gambut di areal RKT 2008
PT. DRT ....................................................................................................
9. Tabel 9 Hasil uji-T kadar karbon antara serasah, tanah gambut
dan tanah mineral ......................................................................................
10. Tabel 10 Hasil uji-T massa karbon serasah dan tanah gambut .................

15
19
21
23
24
25
27
30
32
33

iv

DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
1. Gambar 1 Titik pengambilan contoh tanah .............................................. 9
2. Gambar 2 Pengambilan contoh tanah pada lapisan, a) serasah,
b) tanah gambut, dan c) tanah mineral ....................................................... 10
3. Gambar 3 Histogram nilai rata-rata kadar air di empat lokasi petak
ukur ............................................................................................................ 21
4.

Gambar 4 a) lapisan serasah, b) lapisan tanah gambut dan


c) lapisan tanah mineral ...................................................................................................... 22

5. Gambar 5 Histogram nilai rata-rata bulk density di empat lokasi petak


ukur dalam areal RKT 2008 PT. DRT ....................................................... 24
6. Gambar 6 Histogram nilai rata-rata bulk density serasah dan tanah
gambut ............................................................................................................................... 25

7. Gambar 7 Histogram nilai kadar karbon untuk empat lokasi petak ukur
dalam areal RKT 2008 PT. DRT ............................................................... 28

DAFTAR LAMPIRAN
No.
Halaman
1. Lampiran 1 Hasil perhitungan kadar air, bulk density, kadar karbon,
dan massa karbon untuk lapisan serasah ................................................... 39
2. Lampiran 2 Hasil perhitungan kadar air, bulk density, kadar karbon,
dan massa karbon untuk lapisan serasah tanah gambut ............................. 40
3. Lampiran 3 Hasil perhitungan kadar air dan kadar karbon untuk lapisan
tanah mineral ............................................................................................. 41
4. Lampiran 4 Hasil perhitungan porositas untuk lapisan serasah dan tanah
gambut ....................................................................................................... 42
5. Lampiran 5 Nilai rata-rata kandungan karbon di bawah permukaan tanah
gambut berbagai lokasi .............................................................................. 43
6. Lampiran 6 Hasil uji-T antar kadar karbon antara lapisan serasah, lapisan
tanah gambut, dan lapisan tanah mineral ................................................ 44
7. Lampiran 7 Gambar a) kayu yang ujungnya dicoak untuk pengambilan
sampel tanah gambut dan mineral; Gambar b) pengukuran ketebalan tanah
gambut dengan menusukkan kayu; Gambar c) kegiatan pengambilan
sampel dilapangan; d) kondisi petak ukur pengambilan sampel; e) sampel
uji tanah gambut, dan Gambar f) ring sampel ......................................... 45
8. Lampiran 8 Peta areal kerja IUPHHK-HA PT. DRT ........................... 46

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumberdaya hutan di Indonesia memiliki potensi tinggi dalam hal
keanekaragaman hayati (biodiversity) dan potensi penyerapan karbon. Suhendang
(2000) memperkirakan bahwa hutan Indonesia yang luasnya sekitar 120,4 juta Ha
mampu menyerap dan menyimpan karbon sekitar 15,05 milyar ton karbon.
Besarnya potensi hutan sebagai penyerap dan penyimpan karbon tersebut,
memberikan peluang besar kepada Indonesia untuk terlibat dalam mekanisme
perdagangan karbon yang digagas dunia internasional sejak disetujuinya Kyoto
Protokol pada tahun 1997.
Salah satu tipe hutan yang memiliki potensi dalam penyerapan dan
penyimpanan karbon ialah hutan rawa gambut. Lahan gambut merupakan
ekosistem lahan basah yang dicirikan oleh tingginya akumulasi bahan organik
tanah dengan laju dekomposisi yang rendah. Adapun hasil utama ekosistem hutan
rawa gambut yang banyak dimanfaatkan masyarakat adalah kayu, seperti Gelam
(Mellaleuca sp) khususnya sebagai bahan bangunan ringan, kerangka pembuatan
bangunan gedung dan bagan penangkap ikan. Selain itu, jenis-jenis komersial
yang banyak diperdagangkan adalah Ramin (Gonystylus bancanus), Meranti
(Shorea spp), dan Damar (Agathis dammara).
Lahan gambut tropis meliputi areal seluas 40 juta hektar dan 50%
diantaranya terdapat di Indonesia (Maltby dan Immirizi, 1993). Karena itu lahan
gambut di Indonesia yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua,
merupakan cadangan karbon terestris yang penting. Jika hutan gambut dikelola
secara lestari, diperkirakan dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyerap
Karbon. Tetapi jika mengalami gangguan, hutan gambut berpotensi menjadi
sumber emisi karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O2)
yang cukup besar. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengetahui potensi
kandungan karbon pada tanah rawa gambut.

1.2

Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah adalah :
1. Mengetahui besarnya kandungan karbon tanah gambut
2. Mengetahui besarnya kadar karbon pada lapisan serasah, lapisan tanah
gambut dan lapisan tanah mineral.

1.3

Manfaat Penelitian
Mendapatkan informasi mengenai potensi kandungan karbon pada tanah

gambut yang terdapat pada areal IUPHHK-HA PT. Diamond Raya Timber, yang
nantinya dapat digunakan untuk kepentingan pihak-pihak yang membutuhkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Hutan dan Lahan Gambut


Hutan menurut Undang-Undang No. 41/1999 tentang Kehutanan adalah

suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang
satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Lahan gambut adalah tanah-tanah jenuh air yang tersusun dari bahan tanah
organik, yaitu sisa-sisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan
ketebalan lebih dari 50 cm (Soil Survey Staff, 1998). Pembentukan gambut di
beberapa daerah pantai Indonesia diperkirakan dimulai sejak zaman glasial akhir,
sekitar 3.000 - 5.000 tahun yang lalu. Untuk gambut pedalaman bahkan lebih
lama lagi, yaitu sekitar 10.000 tahun yang lalu (Brady, 1997). Seperti gambut
tropis lainnya, gambut di Indonesia dibentuk oleh akumulasi residu vegetasi tropis
yang kaya akan kandungan Lignin dan Nitrogen. Karena lambatnya proses
dekomposisi, di ekosistem rawa gambut masih dapat dijumpai batang, cabang dan
akar besar. Menurut Radjagukguk (1991) sifat-sifat fisik gambut yang menonjol
di Indonesia dicirikan oleh nilai bulk density yang rendah berkisar antara 0,1 1,2
g/cm3 . Nilai bulk density yang relatif tinggi ditemukan di pinggir kubah gambut
(gambut tipis) karena bercampur dengan tanah-tanah mineral dan semakin
menurun dengan meningkatnya ketebalan gambut. Berat jenis (bulk density atau
Bulk Density-BD) gambut tropis umumnya rendah (0,1 - 0,3 g/cm3) dan sangat
dipengaruhi oleh tahapan dalam proses dekomposisi dan kandungan mineral, serta
porositas yang tinggi (70 - 95%). Lahan gambut tropis juga dicirikan oleh
rendahnya kandungan hara dan tingginya kemasaman. Pada umumnya lahan
gambut tropis memiliki pH antara 3 - 4,5.
Porositas tanah gambut relatif tinggi berkisar antara 80 95 %,
mempunyai kemampuan menyimpan air yang sangat tinggi, tetapi menjadi tidak
lagi mampu menyerap air (hidrofobik) bila terlalu kering. Tanah gambut di
Sumatera tingkat dekomposisinya sebagian besar hemik, meskipun tipe fibrik dan
saprik juga ditemukan.

Ekono (1981 dalam Andriesse, 1988) dalam peninjauan gambut sebagai


sumber energi, menunjukkan bahwa C-Organik berkisar 48%-50% pada tingkat
dekomposisi rendah (fibrik), C-Organik berkisar 53%-54% pada tingkat
dekomposisi sedang (hemik), C-Organik berkisar 58%-60% pada tingkat
dekomposisi lanjut (saprik).
Menurut Lopulisa (1993), bahan organik mempunyai kemampuan yang
sangat besar untuk menyerap dan mengikat air. Besarnya kemampuan ini secara
langsung berhubungan dengan ukuran pori, jumlah ruang pori dan permeabilitas
yang kesemuanya berkaitan dengan bulk density dan kandungan serat, yang pada
umumnya dipengaruhi oleh tingkat dekomposisi bahan organik. Konduktivitas
hidrolik menentukan laju dimana air yang diikat dalam suatu deposit dibebaskan
ke permukaan atau di drainase secara alami atau buatan. Karakteristik ini
ditentukan oleh porositas, permeabilitas, konfigurasi saluran yang saling
berhubungan, beban tekan dan gradien hidrolik. Hal ini sangat dipengaruhi oleh
tipe gambut dan tingkat dekomposisi. Kebanyakan tanah gambut akan menyusut
(shringkage) bila kering. Saprik yang dikeringkan sampai pada suhu 1050 C dapat
menyusut sampai 70 % atau lebih tergantung pada jumlah bahan mineral
khususnya yang berukuran liat. Penyusutan tidak balik ditentukan oleh tingkat
dekomposisi dan komposisi biologi bahan organik.
Gambut ialah tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% atau
30% (tergantung tekstur tanah mineralnya) dan mempunyai ketebalan lebih dari
40 cm. Tingkat dekomposisi bahan organik bervariasi dari kasar (fibrist) sampai
halus (saprist), tetapi pada umumnya mempunyai tingkat dekomposisi sedang
(hemist)(Tim Fakultas Pertanian IPB, 1992). Menurut Andriesse (1998), tanah
gambut (organik) adalah tanah yang mempunyai kandungan bahan organik lebih
dari 50% pada kedalaman 80 cm.
Gambut adalah bahan atau serasah tanaman yang terdekomposisi secara
parsial dan telah terakumulasi di lahan-lahan tergenang dalam kondisi
kekurangan oksigen, dimana laju pemasukan bahan atau serasah tanaman lebih
cepat daripada laju dekomposisinya (Radjagukguk, 1991).
Apabila bahannya telah mengalami perombakan cukup jauh sehingga
bagian-bagian tumbuhan asalnya tidak mungkin lagi dikenali, bahan itu disebut

"muck" (Soil Survey Staff, 1951).


Lahan gambut adalah tanah-tanah jenuh air yang tersusun dari bahan tanah
organik, yaitu sisa-sisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan
ketebalan lebih dari 50 cm (Soil Survey Staff, 1998).
2.2

Karbon
Umumnya karbon menyusun 45-50% bahan kering dari tanaman. Sejak

kandungan karbondioksida meningkat secara global di atmosfer dan dianggap


sebagai masalah lingkungan, berbagai ekolog tertarik untuk menghitung jumlah
karbon yang tersimpan di hutan. Hutan gambut merupakan salah satu hutan yang
memiliki potensi dalam penyimpanan karbon. Karbon dapat tersimpan dalam
material yang sudah mati sebagai serasah, batang pohon yang jatuh kepermukaan
tanah, dan sebagai material sukar lapuk di dalam tanah (Whitmore, 1985).
Cornel dan Miller (1995) menyatakan karbondioksida terdapat pada
atmosfer bumi dalam kepekatan 0,003%. Walaupun pada kepekatan yang rendah,
karbon dioksida memainkan peranan yang penting dalam iklim bumi. Radiasi
sinar matahari yang masuk mengandung panjang gelombang yang berbeda-beda
tetapi pada saat mengenai permukaan bumi sebagian besar energi diubah menjadi
radiasi inframerah. Karbondioksida merupakan penyerap inframerah yang kuat
dan sifat ini membantu mencegah radiasi inframerah meninggalkan bumi. Dengan
demikian CO2 memainkan peranan penting dalam mengatur suhu permukaan
bumi. Efek rumah kaca ini dipengaruhi oleh proporsi karbondioksida dalam
atmosfer bumi.
2.3

Biomassa
Biomassa merupakan jumlah total dari bahan organik hidup yang

dinyatakan dalam berat kering oven ton per unit area (Brown, 1997). Menurut
Whitten et al., (1984) biomassa hutan adalah jumlah total bobot kering semua
bagian tumbuhan hidup, baik untuk seluruh atau sebagian tubuh organisme,
produksi atau komunitas dan dinyatakan dalam berat kering per satuan luas
(ton/ha). Sedangkan menurut Chapman (1976) biomassa adalah berat bahan
organik suatu organisme per satuan unit area pada suatu saat, berat bahan organik

dinyatakan dengan satuan berat kering (dry weight) atau kadang-kadang dalam
berat kering bebas abu (ash free dry weight).
Biomassa disusun terutama oleh senyawa karbohidrat yang tediri dari
elemen karbon, hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis
tanaman (White & Plaskett, 1981). Biomassa dibedakan dalam dua kategori yaitu
biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass) dan biomassa di
bawah permukaan (below ground biomass) (Kusmana et al., 1993). Jumlah total
biomassa tumbuhan bertambah karena tumbuhan menyerap CO2 dari udara dan
mengubah zat tersebut menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis. Laju
peningkatan biomassa disebut produktivitas primer bruto. Hal ini tergantung pada
luas daun yang terkena sinar matahari, intensitas penyinaran, suhu dan ciri-ciri
jenis tumbuhan masing-masing. Sisa dari hasil respirasi yang dilakukan disebut
produksi primer bersih.
2.4

Bulk density Tanah (Bulk denstiy)


Bulk density tanah/kerapatan limbak tanah adalah nisbah berat tanah

teragregasi terhadap volumenya, dengan satuan g/cm3 atau g/cc. Bulk density
tanah merupakan petunjuk tidak langsung aras kepadatan tanahnya. Besaran bulk
density tanah mempunyai kepentingan pedologik, misalnya sebagai ciri pembeda
horison-horison yang banyak mengandung bahan organik atau lempung, dan
kepentingan edapologik, misalnya sebagai acuan kemudahan akar tumbuhan
menerobos tubuh tanah. Tanah-tanah organik,

khususnya yang masih muda

(fibrik) mempunyai horison-horison organik dengan bulk density sangat rendah (<
1 g/cc) dan besaran ini akan meningkat jika bahan organiknya mengalami
pelapukan lebih lanjut. Tanah-tanah yang mengandung lempung banyak
cenderung mempunyai bulk density tinggi. Selain itu bulk density dapat digunakan
sebagai parameter untuk mengklasifikasikan gambut pada kategori tertentu. Nilai
bulk density sangat tergantung dari jumlah bahan yang dipadatkan, komposisi
botani dari material tersebut, tingkat dekomposisi dan kandungan kelembaban
yang terdapat pada saat pengambilan contoh.
Metode untuk menentukan bulk density sangat penting untuk mengevaluasi
data. Penetapan besaran bulk density tanah dapat dilakukan dengan berbagai cara,

antara lain metode tabung silindris dan metode lubang. Penetapan besaran bulk
density tanah dapat dilakukan pada keadaan basah/kelengasan lapangan atau
kering oven. Penetapan bulk density tanah gambut dapat dilakukan secara
langsung di lapangan dengan menggunakan metode bentuk bongkah atau clod
(Notohadiprawiro, 1983), tetapi metode ini menghasilkan bulk density yang lebih
besar karena kandungan air dalam bongkahan gambut masih tinggi. Sementara itu,
pengukuran bulk density gambut lebih banyak dilakukan di laboratorium dengan
menggunakan ring core. Dalam metode ring core ini, untuk menghilangkan
kandungan air dalam contoh, maka tanah gambut dikeringkan dalam oven (suhu
105C selama 12 jam) dan diberi tekanan sebesar 33 1500 kPa, sehingga tanah
menjadi kompak dan stabil.
Andriesse melaporkan bulk density pada tanah gambut di Serawak
Malaysia adalah 0,12 dan 0,09 gr/cm3. Driesen dan Rochimah (1976)
menggabungkan penemuan ini lalu mengindikasikan bahwa gambut fibrik tropik
di Indonesia umumnya mempunyai bulk density kurang dari 0,1 gr/cm3 dan pada
gambut saprik yang telah terdekomposisi memiliki nilai lebih besar dari 0,2
gr/cm3. Juga dilaporkan bahwa gambut di lahan yang belum terolah di Florida
memberikan kisaran nilai yang sama. Tanah yang terolah di sekitar tempat
penelitian pertanian Belle Grade, memiliki top soil 0-15 cm dengan bulk density
0,35 gr/cm3 dan sub soil 45-60 cm memiliki densitas 0,18 gr/cm 3. Nilai bulk
density yang lebih besar ini tidak diragukan lagi diakibatkan oleh pengolahan dan
pemadatan pada lapisan permukaan akibat drainase. Peristiwa ini sepertinya
menjadi gambaran umum pada sebagian besar gambut tropis dengan kondisi alami
dimana lapisan permukaan lebih saprik dibandingkan lapisan di bawah
permukaan. Hal ini diakibatkan karena pengaruh iklim, ketinggian muka air tanah
dan terjadinya oksidasi.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di areal RKT 2008 IUPHHK-HA PT. Diamond

Raya Timber (DRT). Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan April
2008 hingga Mei 2008 kemudian dilanjutkan analisis kandungan karbon di
Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Juni
hingga Oktober 2008. Areal penelitian diasumsikan memiliki ketebalan gambut
kurang dari 4 m dengan kondisi tanah gambut secara keseluruhan tanpa akar
pohon.
3.2

Bahan dan Alat


Bahan dan alat yang diperlukan untuk penelitian ini terdiri dari :
2

Tanah gambut

Kayu dengan panjang >5 m, yang ujungnya dicoak

Timbangan

Perlengkapan alat tulis

Kalkulator

Ring sampel

Oven

Kantung plastik berlabel

10 Cangkul
11 Parang dan golok
12 Meteran
13 Tally Sheet
3.3

Jenis Data
Pengambilan data primer meliputi hal-hal yang berkaitan dengan analisis

data penelitian yang dilaksanakan, antara lain :

1. Bobot isi contoh tanah untuk tanah gambut


2. Kadar karbon (%) contoh uji (serasah, tanah gambut dan tanah mineral)
3. Kandungan massa karbon (ton/ha) dalam tanah
Pengambilan data sekunder yaitu berupa data kondisis umum lokasi
penelitian, antara lain :
1. Letak, luas dan keadaan umum lokasi penelitian
2. Data kondisi potensi hutan dan kondisi fisik di areal penelitian.
3.4

Metode Penelitian
Penelitian dimulai dengan pengambilan contoh tanah gambut di lapangan

dengan menggunakan kayu yang telah dimodifikasi, pengukuran kedalaman


gambut, tingkat kematangan gambut, dan dilanjutkan dengan pengukuran kadar
air, bobot isi dan analisis kadar karbon (%) di laboratorium.
1. Pengambilan Contoh Tanah
Pengambilan contoh tanah dilakukan pada lapisan tanah gambut dan lapisan
tanah mineral. Adapun lokasi yang diteliti sebanyak empat lokasi hutan virgin
yang berada pada RKT 2008, dengan luas satu lokasi berukuran 1 hektar, yang
diambil secara acak dengan mempertimbangkan lokasi terhadap keadaan ratarata di areal RKT 2008 PT. DRT dan aksesibilitas ke lokasi petak ukur.
Langkah-langkah pengambilan contoh tanah adalah sebagai berikut :
1.1 Menetapkan titik pengambilan contoh tanah

Gambar 1 Titik pengambilan contoh tanah.

10

1.2 Membuat petak 0,5 m x 0,5 m untuk petak pengambilan serasah,


mengukur ketebalan serasah dan menimbang berat serasah yang terdapat
pada petak 0,5 m x 0,5 m
1.3 Mengambil contoh tanah pada tanah mineral dengan menggunakan kayu
yang telah dimodifikasi, untuk lapisan serasah dapat menggunakan serok
atau tangan sedangkan untuk tanah gambut dengan menggunakan ring
sampel
1.4 Contoh tanah yang diambil untuk tiap lokasi adalah sebanyak lima contoh
tanah, untuk satu contoh tanah terdiri dari : serasah, tanah gambut, dan
tanah mineral
1.5 Menimbang contoh tanah dan serasah
1.6

Memasukkan

tanah

contoh

tersebut

kedalam

kantong

plastik

(tebal/double) dan diberi label, serta ditutup/diikat rapat agar tidak terjadi
penguapan
1.7 Menyimpan contoh tanah tersebut dalam suhu ruangan

Gambar 2 Pengambilan contoh tanah pada lapisan, a) serasah,


b) tanah gambut, dan c) tanah mineral.
2. Pengukuran Ketebalan Gambut
Pengukuran ketebalan gambut dilakukan dengan menggunakan metode
penusukan

pada titik-titik yang telah ditentukan. Tahapan-tahapan yang

dilakukan adalah :

11

2.1 Memasukkan kayu yang telah dimodifikasi kedalam tanah


2.2 Apabila kayu belum mencapai lapisan mineral maka mengganti kayu dengan
kayu yang berukuran lebih panjang hingga mencapai lapisan tanah mineral
2.3 Setelah itu kayu tersebut diangkat dan mengukur panjang kayu hingga
mencapai lapisan mineral dengan menggunakan meteran
2.4 Mencatat ketebalan gambut
3. Penetapan kadar air
Penetapan kadar air dilakukan dengan cara menimbang contoh tanah yang
akan diukur kadar airnya (BB), setelah itu contoh tanah tersebut di oven selama
24 jam pada suhu 1050C kemudian ditimbang untuk mengetahui berat tanah
kering oven (BK). Penetapan kadar air diperoleh dengan menggunakan rumus,
yaitu :

.........(Haygreen dan Bowyer 1982)


KA = Kadar Air
BB = Berat Basah
BK = Berat Kering
4. Penetapan kadar karbon (%)
Langkah kerja penetapan kandungan kadar karbon tanah adalah sebagai
berikut :
4.1 Menimbang tanah dengan timbangan duplo sebesar 0,5 gr (tanah kering
udara yang lolos saring 0,5 mm), kemudian memasukkan ke dalam
erlenmeyer 500 ml
4.2

Menambahkan 10 ml K2Cr2O7 N sambil menggoyangkan erlenmeyer


secara perlahan agar larutan K2Cr2O7 tercampur dengan tanah secara
merata

4.3

Menambahkan 20 ml H2SO4 pekat dengan menggunakan gelas ukur di


ruang asap, kemudian digoyangkan dengan cepat hingga tercampur merata

12

4.4 Selama 30 menit campuran tersebut didiamkan dalam ruang asap hingga
dingin
4.5 Mengencerkan campuran tersebut dengan menambahkan 100 ml air bebas
ion/air destilasi
4.6 Menambahkan 4 tetes indikator ferroin 0,025 M
4.7

Melakukan titrasi dengan menggunakan larutan FeSO4 0,5 N hingga


larutan tetap berwarna merah anggur.

.........(Metode Walkeydan Black)


f

= 1,33

me

=NxV

= normalitas

= Volume

BKM

= Bobot kering oven 1050C contoh tanah yang digunakan

C (%) = % C-Organik x 1,724


5.

Penetapan bulk density (g/cm3)


Penetapan bulk density untuk tanah gambut dihitung dengan menggunakan

metode ring tanah, yaitu


5.1 Menimbang contoh tanah dalam ring tanpa tutupnya (BB) untuk
mengetahui berat tanah keadaan lapang beserta tabungnya, kemudian
contoh tanah dalam ring tersebut di oven selama 24 jam pada suhu 105 oC
dan ditimbang untuk mengetahui berat kering tanah beserta ring (BK1)
5.2. Membuang contoh tanah dalam ring sampel dan menimbang berat ring
sampel (a)
5.3 Menetapkan berat kering contoh tanah tanpa ring dengan persamaan :
BK(g) = berat kering tanah beserta ring (BK1) - berat ring (a)
5.4 Mengukur tinggi tabung dan diameter tabung sisi dalam untuk
menetapkan volume tabung sisi dalam (Vt) dengan persamaan :
Vt = d2t
Vt = volume tabung (cm3)
= 3,14

13

= diameter (cm)

= tinggi (cm)

5.5 Menetapkan besaran bulk density dengan menggunakan persamaan :


Bobot isi (g/cm3) = BK(g)/Vt(cm3)
.......(Purwowidodo 2004)
6. Penetapan massa karbon (ton/ha) dalam tanah
Penetapan massa C dalam tanah dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
C dalam tanah (Ton) = D (m) x A (m2) x BI (g/cm3) x C (%)
......(Wahyunto et all. 2003)
D = Kedalaman gambut (m)
A = luas areal petakan penelitian (m2)
BI = bobot isi (g/cm3)
C = kadar karbon (%)
3.5 Analisis statistik
Analisis data kadar karbon dan massa karbon untuk lapisan serasah, lapisan
tanah gambut dan lapisan tanah mineral adalah dengan menggunakan analisis
statistik deskriptif atau penyajian bentuk gambar (histogram, diagram batang dan
lain-lain). Untuk mengetahui perbedaan kadar karbon dan massa karbon antara
lapisan serasah, lapisan tanah gambut dan lapisan tanah mineral dilakukan analisis
statistik uji beda nilai tengah menggunakan uji t. Parameter yang diuji adalah
perbedaan kadar karbon dan massa karbon rata-rata pada lapisan serasah, lapisan
tanah gambut dan tanah mineral.

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI

Seluruh areal kerja PT. DRT dikategorikan sebagai hutan hujan tropis
dengan tipe ekologi hutan rawa gambut dan hutan mangrove. Spesies dominan di
areal kerja ini diantaranya adalah Meranti Rawa (Shorea spp.), Ramin
(Gonystylus bancanus), Balam (Palaquium spp.), Durian Burung (Durio
carinatus), Pisang-pisang (Mezzettia parviflora), Kelat (Eugenia spp.), dan lainlain.
4.1

Letak Geografis dan Luas


Secara geografis, areal hutan yang termasuk dalam konsesi IUPHHK-HA

PT. DRT terletak dalam koordinat berikut :


a)

Bujur Timur

: 100o50 101o13

b)

Lintang Utara

: 001o45 002o18

Secara administratif, areal hutan konsesi termasuk dalam :


a) Propinsi

: Riau

b) Kabupaten

: Rokan Hilir dan Kota Dumai

c) Kecamatan

: Sinaboi, Bangko, Batu Hamar, dan Rimba Melintang

Berdasarkan kesatuan pemangkuan hutan, areal konsesi berada di bawah :


a) Kantor Pelayanan Kehutanan Riau, di Pekanbaru
b) Pelayanan Kehutanan Kabupaten Rokan Hilir
c) Pelayanan Kehutanan dan Perkebunan Kota Dumai
Batas-batas wilayah konsesi PT. DRT dan lahan yang berbatasan :
a) Sebelah Utara

: Selat Malaka dan lahan milik masyarakat

b) Sebelah Selatan

: Bekas HPH PT. Silvasaki dan bekas HTI PT. Riau Tanah

Putih direncanakan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit


c)

Sebelah Timur

: Selat Malaka dan bekas PT. Silvasaki

d)

Sebelah Barat

: Lahan milik masyarakat dan perkebunan (PT. Gunung

Mas Raya kelapa sawit, PT. Sindora Seraya kelapa sawit dll.)

15

Luas areal kerja IUPHHK-HA PT. DRT berdasarkan SK. perpanjangan


IUPHHK (SK. Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 443/Kpts-II/1998 tanggal
8 Mei 1998) adalah 90.956 Ha. Surat ijin berlaku untuk periode 20 tahun dan akan
habis pada tanggal 7 Mei 2019. PT. DRT berhak untuk memperpanjang surat ijin
untuk 20 tahun mendatang.

4.2

Tanah dan Geologi


Fisiografi di areal IUPHHK-HA PT. DRT berdasarkan Buku Satuan Lahan

dan Tanah Lembar Dumai, dikelompokkan ke dalam 3 grup yaitu Grup Kubah
Gambut, Grup Aluvial, dan Grup Marin. Grup Kubah Gambut mendominasi areal
ini, yang berkembang dari endapan organik permukaan muda (Ph) dan tua (Qp).
Secara umum ketebalan gambut makin tebal jika makin jauh dari sungai.
Ketebalan gambut bisa melebihi 3 m di bagian pinggir dan dapat mencapai
maksimum 8 m di bagian tengah-selatan. Terdapat pula sedikit tanah Gley,
Aluvial, dan Podsolik.
Grup Aluvial berkembang dari endapan Aluvial sungai dan menempati
jalur aliran sungai. Grup Aluvial ditandai dengan adanya pasang surut.
Secara umum di seluruh kawasan DAS Rokan terdapat sembilan jenis
tanah dengan luasan yang bervariasi. Beberapa jenis tanah menurut klasifikasi
tanah Soil Taxonomy (USDA) dan Pusat Penelitian dan Agroklimat secara
lengkap dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Tipe tanah di sekitar DAS Rokan


Kode
Bf.6

Tekstur
Lempung

USDA
Hidrequents

Tipe Tanah
Puslit Tanah
Glei humus

Bf.4.5

Tropaquents

Glei humus

Bf.4.3

Sulfaquents

Glei humus

Tropasaprist
Pasir berlempung Sufaquents
Lempung berpasir, Tropaquents

Glei humus
Glei Humus
Glei Humus

Bf.5.5
Bf.4.4
Au.1.1.3

batu sedimen

Kode
Bf.4.6
D.2.1.2
D.2.1.3

Tekstur
Lempung
Bahan organik
Bahan organik

Tipe Tanah
USDA
Puslit Tanah
Tropaquents
Glei Humus
Tropahemists
Organosol
Tropahemists
Organosol

Berdasarkan peta satuan lahan dan tanah Peta Penyebaran Tanah (PPT)
dan Agroklimat, Bogor (1990) lembar Dumai dan Bagan Siapiapi (0817 dan
0818) formasi geologi areal hutan IUPHHK-HA PT. DRT terdiri dari sedimen
aluvium tersier dan kuarter. Formasi tersier menempati daerah antiklinarium yang
ditempati daerah telisa (Tmt). Formasi telisa dicirikan oleh batu-batu lumpur
kelabu bergamping dengan sedikit sisipan batu gamping dan busa gamping.
Kandungan deposit bahan tambang di areal kerja IUPHHK-HA PT. DRT sampai
saat ini belum diketahui.
Formasi kuarter ditempati formasi endapan permukaan muda (Ph) dan
endapan permukaan tua (Qp). Endapan permukaan tua merupakan daerah basah
(basin) dan daerah kering (q). Endapan permukaan muda didominasi oleh bahan
organik berupa kubah gambut dan hanya sebagian kecil terbentuk dari lempung
yang membentuk aluvial sungai.
4.3

Iklim
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951) areal kerja

IUPHHK-HA PT. DRT termasuk ke dalam tipe A dengan nilai Q = 10,1 %. Curah
hujan per tahun 2.358 mm, sedangkan curah hujan bulanan rata-rata berkisar
51,32 301,66 mm/bln. Curah hujan tertinggi jatuh pada bulan November
(301,66 mm) dan Desember (253,40 mm). Curah hujan terendah jatuh pada bulan
Maret (51,33 mm) dan Juli (73,80 mm). Rata-rata hari hujan adalah 12 hari/bulan,
hari hujan tertinggi jatuh pada bulan November (14 hari/bulan) dan terendah pada
bulan Februari (3,3 hari/bulan).
Suhu udara rata-rata di areal kerja IUPHHK-HA PT. DRT hampir merata
sepanjang tahun yaitu berkisar antara 25o 27o C. Demikian juga kelembaban
nisbi bulannya yaitu antara 79 90 %. Rata-rata kecepatan angin berkisar antara 8
21 km/jam. Belum pernah dilaporkan adanya angin puting beliung.
Arah angin yang umum adalah :

17

a) Timur Laut

: Desember Maret

b) Tenggara

: April, Mei, Juli, September

c) Selatan

: Juni, Agustus

d) Barat Laut

: November

e) Barat Daya

: Oktober

Pada umumnya, presipitasi mencukupi dan tersebar dengan baik guna


mengurangi resiko kebakaran hutan. Namun demikian, iklim yang luar biasa dapat
terjadi berkaitan dengan el nino yang menyebabkan musim kemarau panjang
sehingga meningkatkan resiko kebakaran hutan dari aktifitas kerja masyarakat
lokal sekitar batas hutan. IUPHHKA-HA PT. DRT telah memiliki prosedur
pencegahan kebakaran (IK-6MH-04) dan pemadamannya (IK-6MH-05).
4.4

Hidrologi
Areal kerja IUPHHKA-HA PT. DRT terdiri dari rawa-rawa yang banyak

dipengaruhi oleh kondisi hidrologi. Wilayah ini dikelilingi oleh aliran sungai
utama, yaitu sungai Rokan. Beberapa aliran sungai kecil yang terdapat di wilayah
ini antara lain sungai Bantaian, sungai Senepis, sungai Sinaoi yang mengalir ke
sungai Rokan.
4.5

Keadaan Hutan
Terdapat dua tipe utama ekosistem hutan di dalam areal kerja IUPHHK-

HA PT. DRT, yaitu (1) hutan rawa gambut dan (2) hutan mangrove. Diantara
kedua tipe tersebut terdapat daerah peralihan yang disebut daerah ekoton.
Tipe ekosistem hutan rawa gambut di areal IUPHHK-HA PT. DRT
termasuk tipe gambut pantai yang terletak di daerah depresi antara sungai Rokan
dan Selat Malaka. Berdasarkan asosiasi vegetasi terdapat tiga asosiasi vegetasi
hutan rawa gambut mulai dari gambut dangkal sampai gambut dalam. Masingmasing asosiasi vegetasi diberi nama menurut jenis pohon komersil yang
dominan, yaitu : 1) Asosiasi Terentang (Campnosperma auriculata) Pulai
(Alstonia pneumathophra) pada ketebalan gambut < 3 m; 2) Asosiasi Balam
(Palaquium obovatum) Meranti Batu (Shorea uliginosa) pada ketebalan gambut

18

3 6 m; dan 3) Asosiasi Ramin (Gonystylus bancanus) Suntai (Palaquium


dasyphillum) pada ketebalan gambut > 6 m.
Tipe ekosistem hutan mangrove di dalam areal kerja IUPHHK-HA PT.
DRT terletak di pantai Utara Timur yang berbatasan dengan Selat Malaka. Pada
lokasi tersebut Semenanjung Bagan Siapiapi yang landai dengan banyak muara
sungai-sungai terbentuk habitat berlumpur yang dipengaruhi pasang surut air laut
yang sesuai dengan pertumbuhan hutan mangrove. Lebar jalur hutan mangrove di
lokasi tersebut bervariasi antara 200 800 m. Zonasi hutan mangrove dari arah
laut, meliputi asosiasi Sonneratia Rhizophora spp. yang disusul oleh asosiasi
Xylocarpus-Bruguiera spp., sedangkan arah tepi sungai dimulai dengan Nipah
(Nypa fruticans), Xylocarpus granatum sampai Bruguiera cylindrica di bagian
tengah. Jenis Tumu (Bruguiera cylindrica) termasuk jenis yang komersial dan
dominan, dengan diameter mencapai 30-40 cm yang digunakan sebagai bahan
baku pembuatan arang. Terdapat juga beberapa areal tak berhutan dan belukar.
Ramin diatur secara khusus berdasarkan daftar spesies yang termasuk
dalam CITES Appendix II (Annotation #1). Peraturan di Indonesia tentang
Pemanfaatan

dan

Peredaran

Kayu

Ramin

SK

No.

1613/Kpts-II/2001

mensyaratkan bahwa hutan harus dikelola berdasarkan kelestarian hasil dengan


kuota pemanenan tahunan diatur oleh Tim Terpadu Ramin (LIPI dan Departemen
Kehutanan).

BAB V
HASIL dan PEMBAHASAN
5.1 Kadar Air (%)
Perhitungan kadar air dilakukan pada 60 contoh uji, dimana 20 contoh uji
untuk serasah, 20 contoh uji untuk tanah dan 20 contoh uji untuk tanah mineral
yang mewakili 4 ha (4 plot dengan ukuran 100 m x 100 m). Perhitungan kadar air
ini digunakan untuk mengetahui besarnya kandungan kadar air per komponen
(serasah, tanah gambut dan tanah mineral). Hasil perhitungan kadar air setiap
lokasi petak pengukuran untuk setiap komponen disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Kadar air serasah, tanah gambut dan tanah mineral di empat lokasi
pengukuran yang berada dalam areal RKT 2008 PT. DRT
Kadar Air
No
Lokasi petak ukur
Serasah
Tanah gambut Tanah mineral
1
18,42
75,86
9,22
2
52,00
88,33
7,83
3
I
21,95
27,08
6,53
4
16,18
28,31
9,89
5
13,32
83,15
9,61
Rata-rata
23,37
60,54
8,61
1
5,66
19,28
8,62
2
4,21
21,47
7,08
3
II
4,06
17,89
14,69
4
5,19
25,12
8,50
5
4,80
16,35
9,84
Rata-rata
4,78
20,02
9,74
1
5,36
93,20
8,21
2
4,82
98,23
11,02
3
III
5,94
50,91
7,35
4
5,22
14,28
6,43
5
4,60
33,33
10,11
Rata-rata
5,18
57,99
8,62
1
4,83
32,43
10,22
2
4,50
21,43
9,14
3
IV
5,16
47,06
6,83
4
4,00
27,27
8,15
5
4,38
20,45
6,95
Rata-rata
4,57
29,72
8,26

20

Berdasarkan data pada Tabel 2 dapat diketahui nilai rata-rata kadar air dari
serasah, tanah gambut dan tanah mineral di empat lokasi petak ukur bervariasi.
Kadar air tertinggi terdapat pada lokasi petak ukur I untuk komponen tanah
gambut dengan nilai 60,54% dan kadar air terkecil terdapat pada lokasi petak ukur
IV untuk komponen serasah dengan nilai 4,57%
Kadar air serasah pada petak ukur I berkisar 13,32-52,00 % dengan ratarata 23,37%, pada petak ukur II berkisar 4,06-5,66% dengan rata-rata 4,78%, pada
petak ukur III berkisar 4,60-5,94% dengan rata-rata 5,18%, dan pada petak ukur
IV berkisar 4,00-5,16% dengan rata-rata 4,75%. Kadar air serasah yang sangat
tinggi pada petak ukur II disebabkan karena pada lokasi tersebut terendam air
secara permanen.
Kadar air tanah gambut pada petak ukur I berkisar 27,08-88,33% dengan
rata-rata 60,54%, pada petak ukur II berkisar 16,35-25,12% dengan rata-rata
20,02%, pada petak ukur III berkisar 14,28-98,23% dengan rata-rata 57,99%, dan
pada petak ukur IV berkisar 20,45-47,06% dengan rata-rata 29,72%. Kadar air
tanah gambut relatif tinggi pada petak ukur I dan IV disebabkan pada petak ukur
tersebut basah dan sebagian terendam air secara permanen.
Kadar air tanah mineral pada petak ukur I berkisar 6,53-9,89% dengan
rata-rata 8,61%, pada petak ukur II berkisar 7,08-14,69% dengan rata-rata 9,74%,
pada petak ukur III berkisar 6,43-11,02% dengan rata-rata 8,62%, dan pada petak
ukur IV berkisar 6,83-10,22% dengan rata-rata 8,26%. Kadar air tanah mineral
pada petak ukur I sampai dengan IV relatif sama yakni 8-10%.
Data rata-rata kadar air serasah, tanah gambut dan tanah mineral untuk
empat lokasi petak ukur per komponen disajikan pada Gambar 3 dan rata-rata
kadar air dari petak ukur secara keseluruhan disajikan pada Tabel 3.

21

70

kadar air (%)

60
50
serasah

40

tanah gambut

30

tanah mineral

20
10
0
1

lokasi petak pengukuran

Gambar 3 Histogram nilai rata-rata kadar air serasah, tanah gambut dan tanah
mineral di empat lokasi petak ukur.
Tabel 3 Kadar air rata-rata serasah, gambut dan tanah mineral di areal RKT 2008
PT. DRT
No
Komponen
Nilai rata-rata kadar air (%)
1
Serasah
9,72
Tanah gambut
42,07
3
Tanah mineral
8,81
Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa kadar air rata-rata tanah gambut
adalah 42,07%, kadar air rata-rata serasah adalah 9,72%, dan kadar air rata-rata
tanah mineral adalah 8,81%.
Tanah gambut memiliki kadar air paling tinggi dibandingkan dengan kadar
air serasah dan kadar air tanah mineral. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh
kondisi fisik letak masing-masing komponen, dimana serasah berada di lapisan
paling atas, diikuti dengan tanah gambut dan lapisan paling bawah ialah tanah
mineral seperti yang disajikan pada Gambar 9.

22

Gambar 4 a) lapisan serasah, b) lapisan tanah gambut dan c) lapisan tanah mineral
Pada lapisan tanah gambut kondisi fisik lingkungannya ialah lapisan yang
selalu tergenang air karena areal IUPHHK-HA PT. DRT merupakan hutan rawa
gambut yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut sehingga setiap tahunnya hutan
rawa gambut tersebut selalu tergenang dan selalu jenuh air. Sedangkan pada
serasah yang berada di lapisan paling atas tidak selalu tergenang oleh air karena
sangat tergantung dengan tinggi muka airnya sehingga terkadang serasah yang ada
berwujud dalam kondisi kering sampai lembab. Tanah mineral yang berada di
lapisan paling bawah memiliki kandungan kadar air paling kecil disebabkan oleh
minimnya air yang dapat diserap oleh tanah tersebut terkait dengan teksturnya
yang berupa liat lempung.
5.2 Bulk density (kerapatan limbak g/cm3)
Pengolahan data yang kedua ialah perhitungan bulk density. Bulk density
atau kerapatan limbak adalah nisbah berat tanah teragregasi terhadap volume dan
satuannya ialah g/cm3 (Purwowidodo, 2004). Perhitungan bulk density dilakukan
pada 40 contoh uji yang terdiri dari 20 contoh uji untuk serasah dan 20 contoh uji
untuk tanah gambut yang diperoleh dari 4 petak ukur. Pada penelitian ini,
pengambilan sampel untuk menduga kisaran nilai bulk density tidak membedakan
berdasarkan zonasi gambut (kubah gambut dan tepi kubah gambut), sehingga nilai
bulk density yang diperoleh merupakan perbandingan dari zonasi yang sama
(dicirikan dengan rata-rata ketebalan gambut yang hampir sama). Bulk density
untuk tanah mineral tidak diukur karena keterbatasan alat untuk menjangkau tanah

23

mineral yang berada pada lapisan terbawah. Hasil perhitungan bulk density setiap
komponen serasah dan tanah gambut disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Bulk density serasah dan tanah gambut di empat lokasi petak ukur yang
berada dalam areal RKT 2008 PT. DRT
Bulk density (g/cm3)
No
Lokasi petak ukur
Serasah
Tanah gambut
1
0,04
0,51
2
0,02
0,50
I
3
0,02
0,19
4
0,02
0,50
5
0,03
0,40
Rata-rata
0,02
0,42
1
0,02
0,35
2
0,02
0,45
II
3
0,02
0,50
4
0,02
0,46
5
0,03
0,38
Rata-rata
0,02
0,42
1
0,01
0,41
2
0,03
0,29
III
3
0,03
0,25
4
0,03
0,22
5
0,02
0,25
Rata-rata
0,02
0,28
1
0,02
0,26
2
0,06
0,18
IV
3
0,02
0,20
4
0,03
0,27
5
0,02
0,26
Rata-rata
0,03
0,23

24

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa nilai bulk density serasah


berkisar antara 0,02-0,06 g/cm3 dan bulk density tanah gambut berkisar antara
0,19-0,51 g/cm3. Untuk lebih jelas perbandingan nilai bulk density serasah dan

bulk density (gr/m3)

tanah gambut dari petak ukur I sampai dengan IV disajikan pada Gambar 5.
0,45
0,4
0,35
0,3
0,25

serasah

0,2

tanah gambut

0,15
0,1
0,05
0
1

lokasi petak pengukuran

Gambar 5 Histogram nilai rata-rata bulk density serasah dan tanah gambut di
empat lokasi petak ukur.
Sedangkan untuk perhitungan nilai rata-rata bulk density untuk serasah dan
tanah gambut disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Bulk density rata-rata serasah dan tanah gambut di areal RKT 2008 PT.
DRT
No
Komponen
Nilai rata-rata bulk density (g/cm3)
1
Serasah
0,02
2
Tanah gambut
0,34
Rata-rata nilai bulk density secara keseluruhan adalah 0,02 g/cm3 dan nilai
rata-rata keseluruhan bulk density untuk tanah gambut adalah 0,34 g/cm3.
Perbandingan nilai rata-rata bulk density untuk serasah dan tanah gambut
disajikan pada Gambar 6.

25

Gambar 6 Histogram nilai rata-rata bulk density serasah dan tanah gambut.
Menurut Radjagukguk (1991) sifat-sifat fisik tanah gambut yang menonjol
di Indonesia dicirikan oleh nilai bulk density yang rendah berkisar antara 0,1-1,2
g/cm3. Pada lokasi areal IUPHHK-HA PT. DRT merupakan lahan gambut jenuh
air sehingga menurut Kyuma (1987) bulk densitynya akan berkisar 0,05 0,40
g/cm3. Berdasarkan acuan dalam klasifikasi tanah (Soil Survey Staff, 1998) tanah
gambut

diklasifikasikan

kedalam

empat

sub-ordo

berdasarkan

tingkat

dekomposisinya seperti disajikan dalam Tabel 6.


Tabel 6 Nilai bulk density berdasarkan tingkat dekomposisinya
Keterangan
Folist
Fibrist
Hemist
Saprist

Bahan Organik
Bahan organik belum terdekomposisi
Fibrik
Hemik
Saprik

Bulk density (gr/cm3)


< 0,1
0,1 - 0,2
> 0,2

Sifat dan karakteristik fisik tanah gambut ditentukan oleh dekomposisi


bahan itu sendiri. Kyuma (1987) menyatakan bahwa nilai bulk density sangat
ditentukan oleh tingkat pelapukan/dekomposisi bahan organik dan kandungan
mineralnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya nilai bulk density
antara tanah gambut dan serasah ialah tingkat dekomposisinya, dimana serasah
merupakan tanah gambut yang belum terdekomposisi secara sempurna sedangkan
tanah gambut pada penelitian ini dikategorikan sebagai tanah gambut dengan
tingkat kematangan sedang. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Friska, I.S
(1999) diketahui bahwa nilai laju dekomposisi serasah di IUPHHK-HA DRT ialah
sebesar 3,09%.

26

Diketahui bahwa nilai bulk density memiliki kaitan yang sangat erat
dengan porositas. Dalam Purwowidodo (2004) dinyatakan bahwa nilai porositas
tanah ialah volume sistem tanah yang tidak ditempati oleh komponen-komponen
padat dan nilai porositas memiliki satuan %. Berdasarkan acuan tersebut dapat
diketahui bahwa nilai porositas tanah pasti akan lebih tinggi untuk komponen
serasah dibandingkan dengan tanah gambut karena pada serasah dilihat dari
struktur komponennya memiliki banyak pori-pori yang terisi oleh udara
sedangkan pada tanah gambut jumlah pori yang terisi oleh udara cenderung lebih
sedikit, dimana ketika nilai bulk density rendah maka nilai porositas akan tinggi.
Porositas tanah gambut relatif tinggi berkisar antara 80-95 %, mempunyai
kemampuan menyimpan air yang sangat tinggi, tetapi menjadi tidak lagi mampu
menyerap air (hidrofobik) bila sudah kering (Radjagukguk, 1991). Nilai dugaan
rata-rata porositas yang diperoleh pada penelitian ini ialah sebesar 75,60 % (lihat
lampiran 4). Hasil penelitian yang dilakukan IPB di beberapa lokasi di Sumatera,
menunjukkan bahwa bulk density tanah gambut bervariasi sesuai dengan tingkat
dekomposisi bahan organik dan kandungan bahan mineral (Hardjowigeno, 1989).
5.3 Kadar Karbon
Perhitungan kadar karbon dilakukan pada 60 contoh uji, dimana untuk
masing-masing komponen serasah, tanah gambut dan tanah mineral ialah
sebanyak 20 contoh uji yang mewakili diambil dari 4 petak ukur di areal RKT
2008 PT. DRT. Data kadar karbon serasah, tanah gambut dan tanah mineral dari
ke empat petak ukur tersebut disajikan pada Tabel 7.

27

Tabel 7 Kadar karbon serasah, tanah gambut dan tanah mineral di areal RKT
2008 PT. DRT
Kadar C-organik (%)
No
Petak ukur
Serasah
Tanah gambut
Tanah mineral
1
56,48
58,00
6,38
2
44,08
48,33
5,88
I
3
48,10
55,59
9,10
4
51,18
54,71
16,25
5
31,56
54,03
13,17
Rata-rata
46,28
54,13
10,16
1
56,91
49,62
6,41
2
55,56
49,81
6,25
II
3
55,67
51,77
6,58
4
56,50
44,83
5,98
5
56,32
32,80
6,42
Rata-rata
56,19
45,77
6,33
1
56,97
52,20
5,85
2
56,61
56,29
6,40
III
3
56,28
58,00
5,64
4
56,43
53,48
5,72
5
56,00
50,04
6,30
Rata-rata
56,46
54,00
5,98
1
55,77
56,44
7,41
2
56,12
53,86
6,18
IV
3
55,87
56,30
5,9
4
56,84
55,37
5,68
5
56,56
56,69
5,53
Rata-rata
56,23
55,73
6,14
Berdasarkan data yang disajikan dalam Tabel 7 dapat diketahui bahwa
nilai kadar karbon serasah yang terdapat pada petak ukur I berkisar 31,56-56,48%
dengan rata-rata 46,28% pada petak ukur II berkisar 55,56-56,41% dengan ratarata 56,19%, pada petak ukur III berkisar 56,00-56,97% dengan rata-rata 56,46%,
dan pada petak ukur IV berkisar 55,57-56,84% dengan rata-rata 56,23%.
Kadar karbon tanah gambut yang terdapat pada petak ukur I berkisar
48,33-58,00% dengan rata-rata 54,13% pada petak ukur II berkisar 32,80-51,77%
dengan rata-rata 45,77%, pada petak ukur III berkisar 50,04-58,00% dengan ratarata 54,00%, dan pada petak ukur IV berkisar 53,86-56,69% dengan rata-rata
55,73%.
Kadar karbon tanah mineral yang terdapat pada petak ukur I berkisar 5,8816,25% dengan rata-rata 10,16% pada petak ukur II berkisar 5,98-6,58% dengan

rata-rata 6,33%, pada petak ukur III berkisar 5,64-6,40% dengan rata-rata 5,98%,
dan pada petak ukur IV berkisar 5,53-7,41% dengan rata-rata 6,14%.
Gambaran perbandingan kadar karbon serasah, tanah gambut dan tanah mineral

kadar karbon (%)

disajikan pada Gambar 7.


60,00
50,00
40,00

serasah

30,00

tanah gambut
tanah mineral

20,00
10,00
0,00
1

loka si pe ta k pe ngukura n

Gambar 7 Histogram nilai kadar karbon serasah, tanah gambut dan tanah mineral
di empat lokasi petak ukur.
Secara keseluruhan rata-rata kadar karbon di areal penelitian adalah
sebagai berikut kadar karbon serasah adalah 53,79%, kadar karbon tanah gambut
adalah 52,41%, kadar karbon tanah mineral adalah 7,15%.
Menurut Sollins et al (1996) komposisi utama bahan penyusun gambut
adalah lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Kandungan lignin yang tinggi terdapat
pada bahan penyusun gambut yang berasal dari vegetasi kayu (misalnya gambut
di Indonesia), sedangkan kandungkan selulosa dan hemiselulosa terdapat pada
bahan penyusun gambut yang berasal dari Sphagnum sp. (misalnya gambut di
Eropa). Kandungan lignin yang tinggi mempunyai daya tahan terhadap proses
dekomposisi dibandingkan selulosa dan hemiselulosa, sehingga mempunyai
stabilitas yang tinggi. Keadaan tersebut sangat mempengaruhi jumlah atau
ketersediaan C dalam tanah khususnya dalam bentuk karbon. Karena adanya
proses dekomposisi yang lambat dalam bahan penyusun gambut berakibat pada
jumlah karbon yang tinggi di tempat tersebut.
Kadar karbon serasah dan tanah gambut pada penelitian ini hampir sama,
tetapi sangat berbeda dari kadar karbon tanah mineral. Hal ini diduga terjadi
akibat dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu :

29

1. Komposisi utama bahan penyusun gambut, dimana pada komponen serasah dan
tanah gambut hampir sama, dan kondisinya yang selalu dalam keadaan tergenang
(anaerob), yaitu dibawah permukaan air tanah, sehingga proses dekomposisi
bahan-bahan gambut berjalan lebih lambat dibandingkan komponen tanah
mineral.
2. Dalam siklus karbon, proses timbal balik fotosintesis dan respirasi selluler
menyediakan suatu hubungan antara lingkungan atmosfir dan lingkungan
terestrial. Tumbuhan mendapatkan karbon, dalam bentuk CO2 dari atmosfir atau
lingkungan melalui stomata daunnya dan menggabungkannya ke dalam bahan
organik biomassanya sendiri melalui proses fotosintesis. Sejumlah bahan organik
dalam vegetasi yang jatuh di atas gambut tersebut kemudian menjadi sumber
karbon bagi serasah dan tanah gambut.
5.4 Massa Karbon (tonC/ha)
Penetapan massa karbon dilakukan pada 40 contoh uji masing-masing 20
contoh uji untuk sersah dan tanah gambut yang di ambil dari 4 petak ukur di
lokasi penelitian. Penetapan massa karbon pada tanah mineral tidak dilakukan
dalam penelitian ini karena selain kadar karbonnya rendah, kedalaman tanah
mineral yang merupakan lapisan dibawah gambut tidak dapat diukur. Hasil
perhitungan massa karbon untuk ke empat petak ukur disajikan pada Tabel 8.

30

Tabel 8 Massa karbon serasah dan tanah gambut di areal RKT 2008 PT. DRT

No

Lokasi petak ukur

1
2
3
4
5

I
Rata-rata

1
2
3
4
5

II
Rata-rata

1
2
3
4
5

III
Rata-rata

1
2
3
4
5

IV
Rata-rata

Massa karbon (tonC/ha)


Serasah
Tanah gambut
43,44
10033,54
15,50
8196,77
28,53
3582,66
21,43
9278,82
9,29
7330,79
23,64
7684,51
31,94
6677,96
32,22
8618,82
18,17
9953,30
16,66
7929,49
34,04
4792,66
26,61
7594,45
8,77
8208,10
31,93
6260,62
37,12
5561,04
19,14
4512,34
20,97
4797,84
23,60
5867,99
19,18
4977,56
35,92
3288,48
29,50
3819,39
36,51
5071,01
17,90
4999,60
27,80
4431,21

31

Berdasarkan data pada Tabel 8, dapat diketahui bahwa massa karbon


dalam lapisan serasah di petak ukur I berkisar 9,29-43,44 tonC/ha dengan rata-rata
23,64 tonC/ha, pada petak ukur II berkisar 16,66-34,04 tonC/ha dengan rata-rata
26,61 tonC/ha, pada petak ukur III berkisar 8,77-37,17 tonC/ha dengan rata-rata
23,60 tonC/ha, dan pada petak ukur IV berkisar 17,90-36,51 tonC/ha dengan ratarata 27,80 tonC/ha.
Massa karbon dalam lapisan serasah di petak ukur I berkisar 3.582,6610.033,54 tonC/ha dengan rata-rata 7.684,51 tonC/ha, pada petak ukur II berkisar
4.792,66-9.953,30 tonC/ha dengan rata-rata 7.594,45 tonC/ha, pada petak ukur III
berkisar 4.512,34-8.208,10 tonC/ha dengan rata-rata 5.867,99 tonC/ha, dan pada
petak ukur IV berkisar 3.288,48-5.071,01 tonC/ha dengan rata-rata 4.431,21 tonC/
ha.
Massa karbon rata-rata di areal penelitian pada lapisan serasah adalah
25,41 tonC/ha dan pada lapisan tanah gambut adalah 6.394,53 tonC/ha. Massa
karbon hasil penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Istomo (2001) di areal
IUPHHK PT. DRT di Riau, yang menghasilkan massa karbon sebesar 2.959,8
tonC/ha dengan kedalaman gambut 2-3 m, 4.614,9 tonC/ha dengan kedalaman
gambut 4-5 m, dan 5.184,3 tonC/ha dengan kedalaman gambut 6-7 m. Perbedaan
massa karbon hasil penelitian ini dengan hasil penelitian Istomo (2001) diduga
disebabkan pada perbedaan areal pengukuran dan teknik pengambilan petak ukur.
Dimana pada penelitian Istomo (2001) pengambilan contoh bahan uji dari petak
ukur berdasarkan zonasi gambut (kubah gambut dan tepi kubah gambut) pada
tahun 2000. Sedangkan pada penelitian ini petak ukur diambil secara acak di areal
hutan virgin pada areal RKT 2008 PT. DRT pada tahun 2008. Demikian pada
hasil penelitian Wahyunto et al (2005) menghasilkan massa karbon di lahan
gambut yang lebih rendah dari massa karbon hasil penelitian, yakni massa karbon
di lahan Rokan Hilir sebesar 3.307,10 tonC/ha, di Propinsi Riau rata-rata 3.611,88
tonC/ha, di seluruh Sumatra rata-rata 2.611,40 tonC/ha. Perbedaan hasil penelitian
ini diduga karena penelitian Wahyunto et al (2005) lebih merupakan penelitian di
lahan gambut yang arealnya dapat berupa antara lain : lahan hutan gambut, lahan
kebun kelapa sawit, lahan pertanian, lahan perkebunan lainnya dan lain-lain.
Sedangkan pada penelitian ini dilakukan di hutan gambut yang masih virgin.

32

Dalam penelitian ini massa karbon pada lapisan serasah jauh lebih kecil
dari massa karbon lapisan tanah gambut. Adapun perbedaan nilai massa karbon
pada serasah dan tanah gambut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
1. Bulk density (kerapatan limbak). Pada umumnya bulk density tanah berkisar
dari 1,1-1,6 g/cc. Beberapa jenis tanah mempunyai bulk density kurang dari
0,90 g/cc (misalnya tanah Andisol), sedangkan untuk tanah gambut ada yang
memiliki bulk density kurang dari 0,10 g/cc (Hardjowigeno, 1989). Nilai bulk
density di areal penelitian ini untuk tanah gambut lebih besar dibandingkan
serasah, yaitu 0,34 g/cm3 dan 0,02 gc/m3
2. Ketebalan serasah dan bobot isi serasah sangat berpengaruh terhadap jumlah
massa karbon karena dari ketebalan dapat diketahui banyaknya jumlah bahan
organik yang tertumpuk pada lokasi tersebut
3. Kecenderungan massa karbon pada tanah gambut akan jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan serasah, karena gambut terdiri dari tumpukan bahan
organik yang belum terdekomposisi (tidak terdekomposisi dengan baik), yang
memerangkap dan menyerap karbon di dalamnya dan membentuk lahan
dengan profil yang disusun oleh bahan organik dengan ketebalan yang jauh
lebih tebal dari ketabalan serasah di atasnya. Hasil penelitian ini menunjukkan
ketebalan rata-rata lapisan serasah dan lapisan tanah gambut di areal RKT 2008
PT. DRT berturut-turut adalah 0,18 m dan 3,62 m (lihat lampiran 1 dan 2).
5.5 Analisis Data
Untuk mengetahui perbedaan kadar karbon pada lapisan serasah, tanah
gambut dan tanah mineral maka dilakukan uji lanjut-T dengan menggunakan
software Minitab version 14.0 . Adapun hasil uji-T disajikan pada tabel 9.
Tabel 9 Hasil uji-T kadar karbon (%) antara serasah, tanah gambut dan tanah
mineral
Nilai P-value untuk setiap Komponen
Serasah vs Tanah
Serasah vs Tanah
Tanah gambut vs Tanah
gambut
0,471

mineral
0,000

mineral
0,000

33

Pada Tabel 9 dapat diketahui bahwa nilai kadar karbon antara serasah dan
tanah gambut tidak berbeda nyata, dimana nilai P > 0,05 yaitu 0,471, sedangkan
antara serasah dan tanah mineral serta antara tanah gambut dengan tanah mineral
berbeda sangat nyata, dimana nilai P < 0,05 yaitu 0,000. Berdasarkan uji diatas
serasah dan tanah gambut tidak berbeda nyata artinya kedua jenis lapisan ini
memberikan kadar karbon yang sama. Tanah mineral berbeda nyata dengan
serasah dan tanah gambut artinya lapisan tanah mineral paling berbeda dalam
memberikan kadar karbon (paling kecil).
Perbedaan kadar karbon pada serasah dan tanah gambut terhadap tanah
mineral dapat dikarenakan ketersediaan bahan organik yang ada. Sumber utama
bahan organik bagi tanah berasal dari jaringan tanaman, baik berupa sampahsampah tanaman (serasah) ataupun sisa-sisa tanaman yang telah mati. Bahan
organik dalam tanah terdiri dari bahan organik kasar dan bahan organik halus atau
humus. Tanah yang banyak mengandung humus atau bahan organik adalah tanahtanah lapisan atas atau top soil (Hardjowigeno, 2003). Sehingga cenderung lapisan
serasah dan lapisan tanah gambut lebih tinggi kandungan bahan organiknya
dibandingkan tanah mineral karena pada tanah mineral pada kedalaman yang
diperkirakan lebih dari 3-5 m kemungkinan terjadinya dekomposisi sangat rendah
hingga tidak ada sumber bahan organik yang tersedia.
Pada uji-T selanjutnya yang akan dibandingkan adalah data massa karbon
pada lapisan serasah dan lapisan tanah gambut.
Tabel 10 Hasil uji-T massa karbon serasah dan tanah gambut
Two-sample T for serasah vs gambut
N Mean StDev SE Mean
serasah 20 2541 990
221
gambut 20 639454 215560 48201
Difference = mu (serasah) - mu (gambut)
Estimate for difference: -636913
95% CI for difference: (-737799; -536027)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = -13,21 P-Value = 0,000 DF = 19
Dari tabel uji-T di atas didapatkan nilai T -13,21, nilai T diperoleh negatif
yang menunjukkan bahwa massa karbon untuk serasah lebih kecil bila
dibandingkan dengan massa tanah gambut, walaupun persen kadar karbon serasah
lebih besar dari pada persen kadar karbon pada tanah gambut, hasil uji-T

34

menunjukkan nilai massa karbon antara serasah dan tanah gambut adalah sangat
berbeda nyata dimana nilai P value lebih kecil dari 0,05 (P value < 0,05).

BAB VI
KESIMPULAN dan SARAN
6. 1 KESIMPULAN
1. Rata-rata kadar karbon di areal penelitian adalah kadar karbon serasah
sebesar 53,79%, kadar karbon tanah gambut sebesar 52,41%, dan kadar
karbon tanah mineral 7,15%
2. Ketebalan rata-rata serasah adalah 17,95 cm dan ketebalan rata-rata
tanah gambut adalah 3,62 m
3

Rata-rata massa karbon dalam tanah hutan rawa gambut di areal RKT
2008 PT. DRT untuk lapisan serasah sebesar 25,41 tonC/ha, dan untuk
lapisan tanah gambut adalah sebesar 6.394,53 tonC/ha

4. Hasil uji statistik terhadap kadar karbon antara lapisan serasah dan
lapisan tanah gambut terhadap tanah mineral menunjukkan perbedaan
sangat nyata, sedangkan uji statistik kadar karbon antara lapisan serasah
dan tanah gambut menunjukkan tidak berbeda nyata
5. Hasil uji statistik terhadap massa karbon antara lapisan serasah dan
lapisan tanah gambut menunjukkan perbedaan sangat nyata.
6.2

SARAN

Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai pendugaan kandungan karbon baik


pada komponen serasah, tanah gambut dan tanah mineral dengan peralatan yang
lebih baik dan metodologi yang telah disempurnakan

DAFTAR PUSTAKA
Andriesse J.P. 1998. Nature and Management of Tropical Peat Soils. FAO Soils
Bull. 59. Rome.
Brady, M. A. 1997. Organic Matter Dynamics of Coastal Peat Deposits in
Sumatera, Indonesia. A thesis for the degree of Doctor of Philosophy. The
University of British Columbia.
Brown S. 1997. Estimates Biomass and Biomass Change of Tropical Forest.
USA:FAO Forestry Paper No. 134.
Chapman SB. 1976. Production Ecology and Nutrien Budget, in Chapman, S. B.
(Eds).
Methods in Plant Ecology. Second Edition. 157-228.
Oxford:Blackwell Scientific Publisher.
Cornel,D. W., Miller, D.J. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran
(terjemahan) Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Hairiah K dan Rahayu S. 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon Tersimpan
di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. Bogor : World Agroforestryy
Center ICRAF, SEA Regional Office, University of Brawijaya, Unibraw,
Indonesia.
Hardjowigeno, S. 1989. Sifat-sifat dan Potensi Tanah Gambut Sumatera untuk
Pengembangan Pertanian. Proseding Seminar Tanah Gambut untuk
Perluasan Pertanian. Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara
Medan. Hal : 43-79.
Haygreen JG, Bowyer JL. 1982. Hasil Hutan Dan Ilmu Kayu, Suatu Pengantar.
Hadikusumo SA. Penerjemah; Prawirohatmodjo S, Editor.Yogyakaryta:
Gadjah Mada
Kyuma, K. 1987. Tropical Peat Soil Ecosystem in Insular Southeast Asia
(Manuscript).
Kusmana C. 1993. A Study on Mangrove Forest Management Base on Ecological
Data in East Sumatra, Indonesia [Disertation]. Japan: Kyoto University,
Faculty of Agricultural.
Lopulisa, C. 1993. Klasifikasi Gambut di Indonesia Menurut US Soil Taxonomy
Dalam Meningkatkan Pemahaman Tentang Sifat dan Potensinya, Dalam : S,
Triutomo (ed). Proseding Seminar Nasional Gambut II. HGI-BPPT. Jakarta.
Maltby dan Immirizi. 1993. Carbon Dynamics in Peatlands Soil: Regional and
Global Perspective. Chemosphere 27:999-1023.

37

Murdiyarso D. 2003. Protokol Kyoto, Implikasinya Bagi Negara Berkembang,


Jakarta : Penerbit Kompas.
Murdiyarso D. 2003. CDM. Mekanisme Perkembangan Bersih. Jakarta: Penerbit
Kompas.
Notohadiprawiro, T. 1983. Selidik Cepat Tanah di Lapangan. Ghalia Indonesia.
Purwowidodo. 2004. Panduan Praktikum Ilmu Tanah Hutan Mengenal Tanah.
IPB Press. Bogor
Radjagukguk, B. 1991. Utilization and Management of Peatlands in Indonesia for
Agriculture and Forestry. Proceedings of the International Symposium on
Tropical Peatlands, 6-10 May 1991 Khucing, Serawak, Malaysia.
Soil Survey Staff. 1998. Key to Soil Taxonomy. United States Departement of
Agriculture (USDA). National Resources Conservation Service.
Wahyunto, S. Ritung, dan H. Subagyo. 2005. Sebaran Gambut dan Kandungan
Karbon Pulau Sumatera dan Kalimantan. Proyek CCFPI (Climate Change,
Forests and Peatlands in Indonesia). Wetlands International-Indonesia
Programme (WI-IP) & Wildlife Habitat Canada (WHC).
Walpole RE. 1995. Pengantar Statistika. Bambang S, Penerjemah. Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama.
White PL, Plaskett GL. 1981. Biomassas Fuel. Academic Press. Scotland.
Whitmore TC. 1985. Tropical Rain Forest of the Far East. Oxford University
Press, Oxford.
Whitten AJ, Anwar DJ, Hisyam N. 1984. The Ecological of Sumatera. Gajah
Mada University Press, Yogyakarta.

38

Lampiran 1. Hasil perhitungan bulk density, kadar karbon, dan massa karbon
untuk lapisan serasah

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Rata2

Tebal
serasah
(m)
0.2
0.15
0.24
0.2
0.1
0.23
0.25
0.14
0.12
0.21
0.12
0.22
0.23
0.13
0.16
0.15
0.1
0.23
0.25
0.16
0.1795

A
(m2)

Volume
(m3)

0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25

0.050
0.037
0.060
0.050
0.025
0.057
0.062
0.035
0.030
0.052
0.030
0.055
0.057
0.032
0.040
0.037
0.025
0.057
0.062
0.040
0.044

Bulk
density
(gr/cm3)
0.03846
0.02344
0.02471667
0.02094
0.02944
0.0244
0.0232
0.02331429
0.02456667
0.02878095
0.01283333
0.02563636
0.02871304
0.02609231
0.0234
0.02293333
0.064
0.02295652
0.025696
0.019775
0.02666472

Kadar
karbon
(%)
56.48
44.08
48.1
51.18
31.56
56.91
55.56
55.67
56.5
56.32
56.97
56.61
56.28
56.43
56
55.77
56.12
55.87
56.84
56.56
53.7905

Massa
Karbon
(Kg C/Ha)
43444.416
15498.528
28532.92038
21434.184
9291.264
31937.892
32224.8
18170.68822
16656.20023
34039.80755
8773.379772
31928.04045
37167.31138
19141.05623
20966.4
19184.87972
35916.8
29499.36034
36514.016
17895.584
25410.87641

Massa
Karbon
(Ton C/Ha)
43.4444
15.4985
28.5329
21.4342
9.29126
31.9379
32.2248
18.1707
16.6562
34.0398
8.77338
31.9280
37.1673
19.1411
20.9664
19.1849
35.9168
29.4994
36.5140
17.8956
25.4109

39

Lampiran 2. Hasil perhitungan bulk density, kadar karbon, dan massa karbon
untuk lapisan tanah gambut
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Rata
2

Tebal
gambut
(m)
3.392
3.392
3.392
3.392
3.392
3.845
3.845
3.845
3.845
3.845
3.835
3.835
3.835
3.835
3.835
3.392
3.392
3.392
3.392
3.392
3.616

0.059
0.059
0.059
0.059
0.059
0.067
0.067
0.067
0.067
0.067
0.067
0.067
0.067
0.067
0.067
0.059
0.059
0.059
0.059
0.059

Bulk
density
(gr/cm3)
0.51
0.50
0.19
0.50
0.40
0.35
0.45
0.50
0.46
0.38
0.41
0.29
0.25
0.22
0.25
0.26
0.18
0.20
0.27
0.26

Kadar
Karbon
(%)
58.00
48.33
55.59
54.71
54.03
49.62
49.81
51.77
44.83
32.80
52.20
56.29
58.00
53.48
50.04
56.44
53.86
56.30
55.37
56.69

Massa
karbon
(Kg C/ha)
10033536
8196768
3582664.320
9278816
7330790.400
6677958.840
8618823.540
9953300.200
7929494.536
4792657.280
8208095.040
6260618.832
5561040
4512342.912
4797835.200
4977556.480
3288476.160
3819392
5071006.080
4999604.480

Massa
karbon
(TonC/ha)
10033.536
8196.768
3582.664
9278.816
7330.790
6677.959
8618.823
9953.300
7929.494
4792.657
8208.095
6260.619
5561.040
4512.341
4797.835
4977.556
3288.476
3819.392
5071.006
4999.604

0.063

0.341

52.410

6394538.815

6394.539

A (m2)

Volume
(m3)

0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175
0.0175

40

Lampiran 3. Hasil perhitungan kadar air dan kadar karbon untuk lapisan tanah
mineral

Lokasi petak pengukuran

LOKASI 1

LOKASI 2

LOKASI 3

LOKASI 4
rata2

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kadar air
(%)
9,22
7,83
6,53
9,89
9,61
8,62
7,08
14,69
8,50
9,84
8,21
11,02
7,35
6,43
10,11
8,21
11,02
7,35
6,43
10,11
8,9025

Kadar karbon
(%)
6,38
5,88
9,10
16,25
13,17
6,41
6,25
6,58
5,98
6,42
5,85
6,40
5,64
5,72
6,30
7,41
6,18
5,90
5,68
5,53
7,1515

41

Lampiran 4 Hasil perhitungan porositas untuk tanah gambut


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Lokasi petak ukur

II

III

IV

Rata-rata

Porositas %
63,63
63,93
86,46
64,07
71,11
74,98
67,81
64,33
67,14
72,85
70,68
79,51
81,94
84,63
82,44
81,22
86,92
86,06
80,8
81,63
75,60

42

Lampiran 5 Perbandingan kandungan karbon bawah permukaan berbagai lokasi

Rerefensi

Lokasi

Istomo (2001)

IUPHHKAHA PT. DRT


Rokan Hilir

Wahyunto et al
(2005)
Wahyunto et al
(2005)
Wahyunto et al
(2005)
Wahyunto et al
(2005)
Wahyunto et al
(2006)

Rerefensi
Wahyunto et al
(2005)
Wahyunto et al
(2005)
Istomo (2001)
Istomo (2001)
Istomo (2001)

Luas
(ha)
-

Kandungan C
(juta tonC)
-

Kandungan C
(tonC/ha)
2592,15

453.874

1501,01

3307,10

Riau

4.043.601

14605,04

3611,88

Sumatra

7.204.301

18813,37

2611,40

Kalimantan

5.769.246

11274,55

1954,25

Papua

7.975.455

3622,85

454,83

Lokasi
Rokan Hilir
(1990)
Rokan Hilir
(2002)
IUPHHKAHA PT. DRT
IUPHHKAHA PT. DRT
IUPHHKAHA PT. DRT

Kedalaman
(m)

Kematangan

Lua
s

Kandungan C
(tonC/ha)

2-4

Hemists/Saprists

(ha)
23.7

2-4

Hemists/Saprists

72.31

2-3

Hemists/Saprists

2959,8

4-5

Hemists/Saprists

4614,9

6-7

Hemists/Saprists

5184,3

2991,56
2991,42

43

Lampiran 6 Hasil uji-T antar kadar karbon antara lapisan serasah, lapisan tanah
gambut, dan lapisan tanah mineral
Two-Sample T-Test and CI: Serasah; Tanah gambut
Two-sample T for Serasah vs Tanah gambut
Serasah
Tanah gambut

N
20
20

Mean
53,79
52,41

StDev
6,21
5,79

SE Mean
1,4
1,3

Difference = mu (Serasah) - mu (Tanah gambut)


Estimate for difference: 1,38250
95% CI for difference: (-2,46241; 5,22741)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 0,73 P-Value =
0,471 DF = 37

Two-Sample T-Test and CI: Serasah; Tanah mineral


Two-sample T for Serasah vs Tanah mineral
Serasah
Tanah mineral

N
20
20

Mean
53,79
7,15

StDev
6,21
2,75

SE Mean
1,4
0,61

Difference = mu (Serasah) - mu (Tanah mineral)


Estimate for difference: 46,6390
95% CI for difference: (43,5197; 49,7583)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 30,73
0,000 DF = 26

P-Value =

Two-Sample T-Test and CI: Tanah gambut; Tanah mineral


Two-sample T for Tanah gambut vs Tanah mineral
Tanah gambut
Tanah mineral

N
20
20

Mean
52,41
7,15

StDev
5,79
2,75

SE Mean
1,3
0,61

Difference = mu (Tanah gambut) - mu (Tanah mineral)


Estimate for difference: 45,2565
95% CI for difference: (42,3171; 48,1959)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 31,59
0,000 DF = 27

Lampiran 7 Gambar kegiatan penelitian dan bahan penelitian

P-Value =

44

Gambar a) kayu yang ujungnya dicoak untuk pengambilan sampel tanah gambut
dan mineral; Gambar b) pengukuran ketebalan tanah gambut dengan menusukkan
kayu; Gambar c) kegiatan pengambilan sampel dilapangan; d) kondisi petak ukur
pengambilan sampel; e) sampel uji tanah gambut, dan Gambar f) ring sampel

45