Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF

Disusun Oleh:
Garin Mughni Sabaran
13140008

UNIVERSITAS MALAHAYATI

TAHUN AJARAN 2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Limbah radioaktif adalah jenis limbah yang mengandung atau terkontaminasi
radionuklida pada konsentrasi atau aktivitas yang melebihi batas yang diijinkan
(Clearance level) yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Definisi
tersebut digunakan di dalam peraturan perundang-undangan. Pengertian limbah
radioaktif yang lain mendefinisikan sebagai zat radioaktif yang sudah tidak dapat
digunakan lagi, dan/atau bahan serta peralatan yang terkena zat radioaktif atau
menjadi radioaktif dan sudah tidak dapat difungsikan/dimanfaatkan. Bahan atau
peralatan

tersebut

terkena

atau

menjadi

radioaktif

kemungkinan

karena

pengoperasian instalasi nuklir atau instalasi yang memanfaatkan radiasi pengion.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui apa itu limbah radioaktif.
2. Mengetahi jenis-jenis limbah radioaktif.
3. Mengetahui cara mengelola limbah radioaktif.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi
Limbah

radioaktif

didefinisikan

sebagai

material

radioaktif

atau

material

terkontaminasi yang harus dibuang termasuk bahan bakar bekas.


Atau menurut PP No. 27 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif bahwa,
Limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan atau bahan serta peralatan yang telah terkena
zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir atau instalasi
yang memanfaatkan radiasi pengion yang tidak dapat digunakan lagi.

Pada dasarnya kegiatan pengelolaan limbah radioaktif meliputi tahapan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengangkutan Limbah
Pra-olah
Penyimpanan sementara
Pengolahan
Penyimpanan sementara
Penyimpanan akhir (belum dilakukan)

1. Pengangkutan Limbah
Pengangkutan meliputi kegiatan pemindahan limbah radioaktif dari lokasi pihak
penghasil limbah menuju ke lokasi pengelolaan limbah PTLR. Kegiatan pengangkutan
harus memenuhi syarat-syarat keamanan dan keselamatan sesuai peraturan perundangan
yang berlaku. Terutama bila lokasi penghasil limbah diluar kawasan PTLR diperlukan ijin
Pengangkutan Limbah dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).
Sarana dan prasarana yang dipakai pada kegiatan pengangkutan Limbah antara lain :
a) Alat angkut: truck, fork lift, crane, hand crane dan sebagainya
b) Transfer Cask / Kanister

c)
d)
e)
f)
g)

Pallet.
Alat monitoring
Tanda bahaya radiasi dan tanda bahaya lainnya
Sarana keselamatan kerja
Dan sarana lain yang diperlukan.

2. Praolah (pretreatment)
Praolah adalah kegiatan yang dilakukan sebelum pengolahan agar limbah memenuhi
syarat untuk dikelola pada kegiatan pengelolaan berikutnya.
Kegiatan ini antara lain meliputi :
Pengelompokan sesuai dengan jenis dan sifatnya.
Preparasi dan analisis terhadap sifat kimia, fisika dan kimia fisika serta kandungan
radiokimia
Menyiapkan wadah drum, plastik, lembar identifikasi dan sarana lain yang diperlukan
Pewadahan dalam drum 60, 100, 200 liter atau tempat yang sesuai
Pengepakan untuk memudahkan pengangkutan dan pengolahan
Pengukuran dosis paparan radiasi
Pemberian label identifikasi dan pengisian lembar formulir isian
Pengeluaran dari hotcell
Penempatan dalam kanister sehingga memenuhi kriteria keselamatan pengangkutan
Sarana dan prasarana yang dipakai dalam kegiatan Praolah antara lain :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Drum 60 liter / 100 liter


Plastik pelapis bagian dalam drum
Lembar identifikasi dan lembar isian
Alat monitor radiasi
Alat pengepakan
Kanister
Sarana keselamatan kerja

3. Pengolahan (treatment)

Pengolahan limbah radioaktif di PTLR menggunakan fasilitas utama Kompaktor,


Evaporator, Insinerator dan Unit Immobilisasi (lhat gambar dbawah).

Keterangan

:
IS

PSLAT

:
Penyimpanan

Interim
Sementara

Limbah

Storage
Aktivitas

Tinggi

KH-IPSB3 : Kanal Hubung - Instalasi Penyimpanan Sementara Bahan Bakar Bekas


Limbah cair organik dan limbah padat terbakar direduksi volumenya dengan cara
insinerasi. PTLR mempunyai satu unit insinerator dengan kapasitas pembakaran limbah

padat 50 kg/jam atau 20 liter limbah organik cair / jam beserta peralatan sementasi abu
dalam drum 100L.
Limbah cair diolah dengan cara evaporasi untuk mereduksi volume limbah. PTLR
memiliki satu unit evaporator dengan kapasitas olah 0,75 m3/jam dengan ratio pemekatan
50:1. Konsentrat hasil evaporasi dikungkung dalam shell beton 950L dengan campuran
semen. Bila limbah cair bersifat korosif maka limbah diolah secara kimia (chemical
treatment) sebelum disementasi.
Limbah padat termampatkan proses reduksi volumenya dilakukan dengan cara kompaksi.
PTLR mempunyai 1 unit kompaktor dengan kekuatan 600 kN, meja getar dan perangkat
sementasi. Limbah padat dalam drum 100L dimasukkan dalam drum 200L saat kompaksi.
Dengan kuat tekan 600 kN kompaktor PTLR mampu mereduksi 4-5 drum 100L dalam
drum 200L. Setelah pengisian batu koral, hasil kompaksi selanjutnya disementasi dalam
drum 200L.
Limbah padat tak terbakar dan tak termampatkan pengolahannya dimasukkan secara
langsung dengan cara sementasi dalam shell beton 350L/950L. Proses imobilisasi atau
proses kondisioning dilakukan dengan menggunakan shell beton 350 liter, 950 liter, drum
beton 200 liter dan drum 200 liter dengan bahan matriks campuran semen basah.
Limbah padat aktivitas tinggi (LAT), limbah aktivitas sedang (LAS) dan limbah aktivitas
rendah (LAR) masing-masing diimobilisasi di dalam shell beton 350 liter, 950 liter, drum
beton 200 liter dan drum 200 liter. Untuk menunjang kegiatan proses pengolahan ini
diperlukan suatu koordinasi kerja yang terpadu diantara tenaga yang terdiri dari proses,
penunjang sarana, keselamatan, laboratorium dan administrasi.

4. Penyimpanan Sementara

Penyimpanan dilakukan sebelum dan sesudah limbah diolah. PTLR memiliki 2 fasilitas
penyimpanan, yaitu Interim Storage (IS) dan Penyimpanan Sementara Limbah Aktivitas
Tinggi (PSLAT).
PSLAT memiliki 2 bentuk; kolam dan sumuran. Drum 60/100L disimpan dalam lokasi
berbentuk sumuran. Fasilitas ini memiliki 20 buah sumur, dan masing-masing sumur
mampu menampung 6 buah drum 60/100L. Total kapasitas bentuk sumuran adalah 120
drum.
Kapasitas penyimpanan limbah P2PLR :
Penyimpanan

Kapasitas
1500

Interim Storage (IS)

200L

500 Shell 950L

20
PSLAT

drum

Sumur

7,2

m3

3 Kolam = 129,6 m3

Sarana yang diperlukan antara lain :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tempat penyimpanan sementara limbah aktivitas tinggi


Transfer Cask Magnetik
Peralatan trasportasi: truck, fork lift, crane, hand crane
Crane / hand crane
Sistem informasi managemen limbah
Alat monitor radiasi
Peralatan keselamatan kerja
Dan sarana lain yang diperlukan

Untuk mengetahui kriteria limbah yang memenuhi kriteria keselamatan untuk dikelola
lebih lanjut maka dilakukan inspeksi dan pemantauan secara rutin selama penyimpanan.

BAB III

KESIMPULAN
Limbah radioaktif merupakan limbah B3 yang harus ditangani dengan perlakuan
khusus mengingat bahaya dan resiko yang mungkin ditimbulkan apabila limbah ini
menyebar ke lingkungan dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Untuk itu
diperlukan penanganan dan perlakuan khusus terhadap limbah radioaktif ini agar tidak
mencemari lingkungan.
Adapun aspek fundamental dari manajemen limbah radioaktif adalah sebagai berikut;
a. Untuk melindungi generasi sekarang dan yang akan datang dari bahaya radiasi limbah
nuklir.
b. Untuk meminimalisasi jumlah penyimpanan dengan mereduksi volume limbah
radioaktif yang disimpan.
c. Untuk menghasilkan hubungan yang baik antara produser limbah radioaktif dengan
publik, dengan melakukan manajemen pengolahan limbah yang aman.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Alfiyan, M., Akhmad, R.Y. 2010. Strategi Pengelolaan Limbah Radioaktif Di


Indonesia Ditinjau Dari Konsep Cradle to Grave. Jurnal Teknologi
Pengelolaan Limbah, Vol 13(2), hal 1-7
Prayitno, B., Susanto, Sunardi. 2011. Pengelolaan Limbah Radioaktif Padat dan Cair
Di Pusat Teknologi Bahan Bakar Nukli Tahun 2010. Seminar Nasional
SDM Teknologi Nuklir VII. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir: Yogyakarta
www.batan.go.id. Kelompok Dan Jenis Limbah Radioaktif. Diakses pada tanggal 22
Mei 2014. Jakarta