Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipokondriasis merupakan salah satu gangguan dalam psikiatri yang
umum dijumpai dengan prevalensi 4-6% pasien rawat jalan. Prevalensi ini
tidak meningkat pada orang-orang dengan riwayat keluarga hipokondriasis
dan tidak berhubungan dengan status sosioekonomi, tingkat edukasi, ras,
maupun jenis kelamin.1 Keluhan hipokondriasis juga dapat ditemukan pada
3% mahasiswa kedokteran yang umumnya terjadi pada 2 tahun pertama
pendidikan, namun bersifat sesaat saja.2 Pada sekitar dua pertiga pasien
dengan hipokondriasis, dapat juga dijumpai gangguan psikiatri lainnya seperti
depresi (pada 40% kasus), gangguan panik (pada 10-20% kasus), gangguan
obsesif kompulsif (pada 5-10%) dan gangguan cemas menyeluruh.1
Hipokondriasis merupakan suatu gangguan yang dapat menimbulkan
disabilitas dan bersifat kronik. Disabilitas dan gangguan yang ditimbulkan
oleh kondisi tersebut menyerupai kondisi yang ditimbulkan gangguan mood,
ansietas dan banyak penyakit kronik lainnya. Hipokondriasis ini tidak hanya
refrakter terhadap pengobatan tetapi juga dapat menimbulkan berbagai
komplikasi berupa efek samping pengobatan dan timbulnya gejala-gejala
yang baru. Klinisi umumnya mengalami kesulitan dalam meyakinkan pasien
hipokondriasis mengenai kondisinya. Pasien-pasien dengan kondisi tersebut
tidak mengakui adanya faktor psikososial sebagai penyebab gejala yang
dikeluhkan sehingga mereka cenderung tidak menyukai para klinisi yang
berpendapat demikian.1
Pasien dengan hipokondriasis selalu dipenuhi dengan ketakutan ataupun
kepercayaan bahwa diri mereka sendiri memiliki sebuah penyakit berat yang
tidak terdiagnosa yang bermula dari interpretasi yang salah terhadap sensasi
fisik tubuh yang ringan dan bersifat episodik.1,4 Keadaan ini dapat berlanjut
meskipun pasien telah diberi bukti bahwa tidak terdapat hal seperti yang
dipikirkan pasien.1 Kriteria diagnostik hipokondriasis juga memerlukan

adanya bukti keterbatasan fungsional maupun distres berat yang berlangsung


selama 6 bulan.3
Hipokondria dapat juga bersifat ringan maupun persisten dan
mengakibatkan disabilitas dalam segi fungsional. Gejala somatik pasienpasien ini umumnya berupa sensasi fisiologik normal (orthostatic dizziness)
ataupun kondisi yang bersifat transient dan self-limiting (tinnitus transien).
Meskipun gejala tersebut bukan merupakan gejala tipikal penyakit yang berat,
sensasi tersebut dapat menjadi pusat perhatian pasien dan pasien menjadi
terpreokupasi dengan penyakit tersebut (illness as a way of life). Perlu
ditekankan bahwa pasien dengan hipokondriasis tidak menciptakan gejalagejala yang dirasakannya.1,3,4
Pasien dengan hipokondriasis umumnya memiliki riwayat pengobatan
yang ekstensif namun tidak memuaskan. Selain itu, pasien tersebut juga dapat
merasa diacuhkan oleh dokter-dokter yang menanganinya dan pergi berobat
ke dokter lainnya.1,3 Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu pola
penanganan yang lebih komprehensif terhadap penderita hipokondriasis agar
didapatkan hasil yang optimal.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
syarat kelulusan di dalam Departemen Ilmu Penyakit Jiwa Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana.
Selain itu, makalah ini juga dapat digunakan sebagai panduan klinisi
dalam mengidentifikasi, mendiagnosa, serta merawat pasien yang didiagnosa
dengan hipokondriasis.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Istilah hipokondriasis didapatkan dari sitilah medis yang lama
hipokondrium, yang berarti di bawah rusuk, dan mencerminkan seringnya
keluhan abdomen yang dimiliki pasien dengan gangguan ini. Hipokondriasis
disebabkan dari interpretasi pasien yang tidak realistik dan tidak akurat
terhadap gejala atau sensasi fisik, yang menyebabkan preokupasi dan
ketakutan bahwa mereka menderita penyakit yang serius, kendatipun tidak
ditemukan penyebab medis yang diketahui. Gejala fisik dapat diinterpretasi
secara luas sebagai adanya misinterpretasi fungsi tubuh yang normal.
Hipokondriasis dapat didefinisikan sebagai seseorang yang berpreokupasi
dengan ketakutan atau keyakinan menderita penyakit yang serius.2,3,4
2.2 Epidemiologi
Preokupasi dengan penyakit dapat dijumpai secara umum pada
komunitas. Pada 10-20% manusia normal dan 45% pasien neurotik,
dapat dijumpai adanya rasa cemas terhadap penyakit yang bersifat intermiten
dan tidak didasari alasan yang kuat serta diantara komunitas tersebut, 9%
diantaranya tidak mempercayai penjelasan yang telah diberikan oleh klinisi.
Banyak pasien dapat menunjukkan gejala hipokondriasis sebagai bagian dari
gangguan psikiatri lainnya, dan beberapa memiliki gejala tersebut sebagai
respon terhadap penyakit fisik berat yang baru dideritanya namun tidak
memenuhi kriteria inklusi dari DSM-IV untuk hipokondriasis. Penilaian
insidensi dan prevalensi hipokondriasis memerlukan studi lebih lanjut pada
komunitas yang lebih luas dan tidak hanya pada pasien psikiatri, karena
pasien dengan hipokondriasis yakin akan penyakit yang dideritanya. Hingga
kini, studi populasi tersebut menunjukkan bahwa 4-9% pasien pada
komunitas umum yang berobat memiliki gangguan hipokondriasis. Laki-laki
dan wanita sama-sama dapat terkena hipokondriasis tanpa adanya perbedaan
kecenderungan. Walaupun onset gejala dapat terjadi pada setiap usia, onset
paling sering antara usia 20 dan 30 tahun.3,4

2.3 Etiologi
Pasien dengan hipokondriasis memiliki skema kognitif yang salah.
Mereka salah menginterpretasikan sensasi fisik. Orang hipokondriakal
meningkatkan dan membesarkan sensasi somatik yang dirasakan; mereka
memiliki ambang dan toleransi yang lebih rendah dari umumnya terhadap
gangguan

fisik.

Sebagai

contoh,

seseorang

yang

secara

normal

mempersepsikan sebagai rasa kembung, oleh pasien hipokondriasis


dirasakan sebagai sakit perut.2,4
Hipokondriasis dapat pula dipandang dari sudut model pembelajaran
sosial. Gejala-gejala hipokondriasis dapat dilihat sebagai permintaan untuk
mendapatkan peran sakit pada seseorang yang menghadapi masalah berat
yang tak dapat diselesaikannya. Peran sakit memberikan peluang bagi
seseorang untuk menghindari kewajiban berat, menunda tangtangan yang tak
dikehendaki dan mendapatkan permakluman untuk tidak memenuhi tugas
dan tanggung jawabnya. 2,4
Teori lainnya tentang penyebab hipokondriasis adalah bahwa gangguan
ini adalah bentuk varian dari gangguan mental lain. Gangguan yang paling
sering dihipotesiskan berhubungan dengan hipokondriasis adalah gangguan
depresif dan gangguan kecemasan. Diperkirakan 80% pasien dengan
hipokondriasis mungkin memiliki gangguan depresif atau gangguan
kecemasan yang ditemukan bersama-sama. Pasien yang memenuhi kriteria
diagnostik untuk hipokondriasis mungkin merupakan subtipe pensomatisasi
(somatizing) dari gangguan lain tersebut. 2,4
Menurut teori psikodinamik dorongan agresivitas dan permusuhan
yang ditujukan kepada orang lain dipindahkan (lewat mekanisme represi dan
displacement) ke dalam keluhan-keluhan somatik. Kemarahan pasien
hipokondriasis berasal dari ketidakpuasan, penolakan dan kehilangan di
masa lalu. Namun pasien mengekspresikan kemarahannya di masa sekarang
dengan mencari bantuan dan kepedulian dari orang lain yang kemudian
dicampakkannya dengan alasan tersebut tidak efektif. Hipokondriasis juga
dipandang sebagai pertahanan terhadap rasa bersalah, dan sebagai tanda dari
kepedulian berlebihan terhadap diri sendiri. Rasa sakit dan penderitaan

somatik menjadi penebusan dan peniadaan yang dihayati sebagai hukuman


terhadap kesalahan di masa lalu dan perasaan bahwa dirinya jahat serta
berdosa. 2,4
2.4 Diagnosis
Kategori diagnostik DSM-IV TRuntuk hipokondriasis mengharuskan
bahwa pasien terpreokupasi dengan keyakinan palsu bahwa ia menderita
penyakit yang berat dan keyakinan palsu tersebut didasarkan pada
misinterpretasi tanda atau sensasi fisik. Kriteria diagnostik untuk
hipokondriasis adalah: 2,3,4,5
A. Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita,
suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang
tersebut terhadap gejala-gejala tubuh.
B. Preokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis
yang tepat dan penentraman.
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti
pada gangguan delusional, tipe somatik) dan tidak terbatas pada
kekhawatiran yang terbatas tentang penampilan (seperti pada
gangguan dismorfik tubuh).
D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis
atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting
lain.
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan
kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik,
ganggian

depresif

berat,

cemas

perpisahan,

atau

gangguan

somatoform lain.
Sebutkan jika:
dengan tilikan buruk: jika, untuk sebagian besar waktu selama
episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang
menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan.

Walaupun DSM-IV menyebutkan bahwa gejala harus ada selama


sekurangnya enam bulan, keadaan hipokondriakal sementara (transient)
dapat terjadi setelah stres berat, paling sering kematian atau penyakit berat
pada seseorang yang penting bagi pasien atau penyakit serius (kemungkinan
membahayakan hidup) yang telah disembuhkan tetapi meninggalkan pasien
hipokondriakal secara sementara dengan akibatnya. Keadaan hipokondriakal
tersebut yang berlangsung kurang dari enam bulan harus didiagnosis sebagai
gangguan somatoform yang tidak ditentukan. Hipokondriakal sementara
sebagai respons dari stres eksternal biasanya menyembuh jika stres
dihilangkan, tetapi dapat menjadi kronis jika diperkuat oleh orang-orang di
dalam sistem sosial pasien atau oleh professional kesehatan. 2,3,4,5
2.5 Gambaran Klinis
Pasien hipokondriakal percaya bahwa mereka menderita penyakit yang
parah yang belum dapat dideteksi, dan mereka tidak dapat diyakinkan akan
kebalikannya.

Pasien

hipokondriakal

dapat

mempertahankan

suatu

keyakinan bahwa mereka memiliki satu penyakit tertentu, atau, dengan


berjalannya waktu, mereka mungkin mengubah keyakinannya tentang
penyakit tertentu. Keyakinan tersebut menetap walaupun hasil laboratorium
adalah negatif, perjalanan ringan dari penyakit yang ringan dengan
berjalannya waktu, dan penentraman yang tepat dari dokter. Tetapi
keyakinan tersebut tidak sangat terpaku sehingga merupakan suatu waham.
Hipokondriasis sering kali disertai suatu gangguan depresif atau kecemasan.
Perjalanan penyakit hipokondriasis biasanya episodic. Setiap episode
berlangsung berbulan-bulan sampai tahunan dan dipisahkan oleh periode
tenang yang sama lamanya. Terdapat asosiasi yang kuat antara kekambuhan
hipokondriasis dengan stresor psikososial. 2,4
2.6 Diagnosa Diferensial
Hipokondriasis dapat dibedakan dari gangguan somatoform lainnya
seperti nyeri, konversi dan gangguan somatisasi dengan ciri khasnya yaitu
adanya preokupasi dengan dan ketakutan pada penyakit yang didasarkan

pada misinterpretasi gejala-gejala tubuh, dan bukan pada gejala yang


dirasakan. Pasien dengan gangguan somatoform lainnya umumnya dapat
juga memiliki ketakutan pada kemungkinan adanya penyakit mendasar
namun gejala yang lebih dominan adalah adanya fokus berlebih pada gejala
yang dirasakan.3
Selanjutnya, perlu dibedakan apakah kepercayaan yang ada merupakan
suatu bentuk delusi. Pasien dengan hipokondriasis, meskipun mengalami
preokupasi pikiran, umumnya dapat mengakui bahwa rasa khawatir yang
dimilikinya tidak memiliki dasar yang kuat. Pasien yang delusional tidak
akan mengakui hal tersebut. Delusi somatik penyakit yang berat dapat dilihat
pada beberapa kasus skizofrenia dan gangguan delusional jenis somatik.
Secara umum, pasien dengan skizofrenia yang juga memiliki delusi tersebut
akan menunjukkan gejala lainnya seperti pembicaraaan yang terdisorganisir,
keanehan pikiran maupun tingkah laku, halusinasi dan delusi lainnya.
Kepercayaan bahwa penyakit yang diderita disebabkan oleh hal-hal yang
aneh juga dapat dijumpai, seperti saat seorang pasien mengakui bahwa ia
mencoba untuk tidak defekasi karena hal tersebut dapat menyebabkan
otaknya berubah menjadi agar-agar. Pasien skizofrenik juga dapat
menunjukkan perbaikan dengan pengobatan neuroleptik. 3,4
Membedakan hipokondriasis dengan gangguan delusional tipe somatik
dapat sulit dilakukan karena hanya terdapat perbedaan tipis antara
preokupasi pikiran dan ketakutan akan penyakit. Seringkali, cara praktis
untuk membedakan kedua kondisi tersebut adalah dengan memastikan
apakah pasien dapat mengakui bahwa kepercayaannya tidak memiliki bukti
yang kuat ataupun merupakan kepercayaan yang salah. Jika pasien telah
dipastikan tidak delusional, pertimbangan selanjutnya adalah memastikan
apakah durasi kondisi tersebut telah mencapai 6 bulan. Sindrom dengan
waktu yang belum mencapai 6 bulan didiagnosa dengan gangguan
somatoform yang tidak tergolongkan ataupun gangguan penyesuaian jika
kondisi tersebut muncul setelah pasien mengalami stres. 3,4
Preokupasi pada hipokondriasis menyerupai obsesi dan pemeriksaan
kesehatan serta usaha untuk mendapatkan jawaban menyerupai komponen

kompulsi dari gangguan obsesif kompulsif. Namun, jika manifestasi tersebut


hanya menyangkut masalah kesehatan, diagnosa gangguan obsesif kompulsif
tidak ditegakkan. Jika pada pasien dapat ditemukan obsesi dan kompulsi
terhadap hal yang tidak berkaitan dengan medis, maka diagnosa tersebut
dapat ditambahkan ke diagnosa hipokondriasis. 3,4
2.7 Terapi
Pendekatan manajemen hipokondriasis mencakup: 1
a.

Cognitive-Behavioral Therapy (CBT)


CBT merupakan sebuah pendekatan terapi yang beranggapan
bahwa kognisi, fisiologi, dan tingkah laku merupakan satu kesatuan
yang berkaitan secara fungsional. Konsep ini menekankan bahwa emosi
ataupun distress tingkah laku dipengaruhi oleh cara persepsi,
manipulasi, dan respon seseorang terhadap informasi yang tercakup
didalam sistem kognitifnya. Terapi ditujukan pada identifikasi dan
modifikasi proses pikir yang mengalami bias ataupun distorsi, tingkah
laku, serta kelakuan bermasalah melalui teknik yang secara aktif
melibatkan partisipasi klien, seperti monitoring secara mandiri,
restrukturisasi kognitif, dan pengujian hipotesis. Dengan demikian,
tujuan terapi adalah untuk mengembangkan sebuah struktur kognitif
yang lebih rasional dan adaptif, yang dengan kemudian dipandang
sebagai sebuah jalan untuk memperbaiki afek dan pola perilaku

b.

maladaptif. 1,6
Terapi psikofarmakologik (antidepresan)
Meskipun farmakoterapi untuk hipokondriasis belum secara dalam
dievaluasi, farmakoterapi untuk pasien dengan gejala yang tidak dapat
dijelaskan secara medis (terutama nyeri kronis) telah dilakukan. Sebuah
meta analisis terbaru menyimpulkan bahwa terapi antidepresan jauh
lebih efektif dibandingkan placebo pada lebih dari dua pertiga studi
pada kelompok pasien dengan nyeri kepala, fibromialgia, irritable
bowel syndrome, nyeri kronik, tinnitus, dan fatique. Terdapat pula
banyak bukti yang mendukung penatalaksanaan gangguan psikiatrik

yang seringkali menyertai hipokondriasis. Gangguan-gangguan ini


respon terhadap farmakoterapi, dan jika telah diterapi secara adekuat,
gejala hipokondriakal juga akan berkurang. Farmakoterapi standar
untuk gangguan psikiatri umum yang sering menyertai hipokondriasis
(depresi mayor, serangan panic, gangguan obsesif-kompulsif) mencakup
penggunaan obat-obatan seperti fluoxetine, paroxetine, venlafaxine,
alprazolam, dll.1-4
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan paroxetine
yang dikombinasikan dengan CBT dapat memberikan hasil yang
optimal dibandingkan dengan placebo. Kedua jenis terapi tersebut (CBT
dan paroxetine) juga tidak berbeda jauh dalam hal efikasi.7
Farmakoterapi untuk gangguan tersebut dapat

mencakup

penggunaan terapi dengan dosis tinggi dan berkepanjangan (selama


delapan minggu atau lebih) sebelum respon adekuat dapat ditemukan.
Karena berbagai efek samping yang ada, terapi perlu dimulai dengan
dosis subterapeutik, yang kemudian dinaikkan secara bertahap. Pasien
demikian juga seringkali tidak mengikuti regimen pengobatan yang
diberikan karena efek samping yang dialaminya. Efek terapetik yang
diberikan tidak boleh dijelaskan ataupun ditekankan secara berlebihan
pada pasien hipokondriasis dan berbagai efek samping yang mungkin
muncul juga perlu dijelaskan sebelumnya. 1-4
c.
-

Strategi manajemen medis


Kontrol ulang pengobatan secara rutin
Komunikasi diagnostik dan terapeutik
Validasi gejala pasien
Penjelasan gejala pasien
Diagnosa dan terapi kondisi psikiatrik yang menyertai
Utamakan perhatian dan bukan penyembuhan (care rather than cure)1-4

2.8 Prognosis
Prognosis yang baik pada pasien hipokondriasis berkaitan dengan
status sosial-ekonomi yang tinggi, pengobatan terhadap cemas dan depresi
yang responsif, awitan dari gejala yang mendadak, tidak adanya gangguan
kepribadian, dan tidak ada kondisi medik nonpsikiatrik yang terkait. 2,3

Penderita hipokondriasis sering dijumpai pada usia dewasa muda. Data yang
ada menunjukkan bahwa 25% pasien dengan hipokondriasis memiliki
prognosa buruk, 65% lainnya menunjukkan perjalanan penyakit yang kronik
dan berfluktuasi, dan 10% lainnya sembuh.3

BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Hipokondriasis merupakan salah satu gangguan psikiatri yang umum
dijumpai dengan prevalensi 4-6% pasien rawat jalan. Hipokondriasis itu
sendiri merupakan suatu preokupasi seseorang dengan ketakutan atau
keyakinan menderita penyakit yang serius. Hal ini disebabkan adanya
interpretasi pasien yang tidak realistik dan tidak akurat terhadap gejala atau
sensasi fisik yang dirasakan. Etiologi dari hipokondriasis ini dapat dijelaskan
dengan berbagai teori seperti model pembelajaran sosial, model varian dari
gangguan

mental

lain,

dan

juga

teori

psikodinamik.

Diagnosis

hipokondriasis merujuk kepada kriteria diagnostik yang terdapat didalam

DSM-IV TR. Penatalaksaan hipokondriasis menurut penelitian yang ada


adalah dengan menggunakan Cognitive Behavioral Therapy, terapi
psikofarmakologik untuk gangguan yang menyertai dan juga dengan
menggunakan strategi manajemen medis seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya. Prognosa yang baik umumnya dapat dijumpai pada pasien
hipokondriasis dengan status sosial-ekonomi yant inggi, pengobatan
terhadap cemas dan depresif yang responsif, awitan dari gejala yang
mendadak, tidak adanya gengguan kepribadian, dan tidak adanya kondisi
medik nonpsikiatrik yang terkait.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan untuk para klinisi yang terkait
berupa pentingnya kewaspadaan terhadap pasien-pasien dengan sangkaan
hipokondriasis. Pasien-pasien dengan hipokondriasis tersebut cenderung
meminta untuk dilakukan berbagai pemeriksaan klinis yang tidak bermanfaat
dan cost-effective sehingga jika seorang klinisi dapat mengenali pasien
hipokondriasis sejak awal, tatalaksana psikiatri dan psikofarmaka dapat
segera diterapkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Barsky, A. J., 2011. The Patient With Hypochondriasis. N Engl J Med Vol.
345(19): 1395-1399.
2. Elvira, S. D., dan Hadisukanto, G., 2010. Buku Ajar FK UI. Jakarta: FK UI.
3. Kay, Jerald., dan Tasman, A., 2006. Essentials of Psychiatry. England: John
Wiley & Sons Ltd.
4. Kaplan, H. I., Saddock, B. J., dan Grebb, J. A., 2010. Sinopsis Psikiatri Jilid
Dua. Tangerang: Binarupa Aksara.
5. American Psychiatric Association, 2000. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders Fourth Edition Text Revision. Washington: American
Psychiatric Association.

6. Hersen, M., dan Sledge, W., 2002. Encyclopedia of Psychotherapy. USA:


Elsevier Science.
7. Greeven, A., et al., 2007. Cognitive Behavior Therapy and Paroxetine in the
Treatment of Hypochondriasis: A Randomized Controlled Trial. Am J
Psychiatry 164: 91-99.