Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Maksud dan Tujuan Penelitian


Maksud dari kegiatan eksplorasi pemetaan geologi adalah untuk
memperoleh informasi awal baik mengenai kondisi Geologi dan morfologi
daerah telitian satuan morfologi di wilayah eksplorasi, jenis batuan (litologi),
penyebaran batuan, urutan batuan atau stratigrafi, keberadaan struktur geologi
serta mengetahui lebih rinci mengenai potensi endapan sumberdaya batupasir
meliputi karakteristik lapisan batupasir dan pola penyebarannya baik arah dan
kemiringan batupasir, ketebalan dan lapisan batupasir yang ada, kualitas dan
jumlah cadangan batupasir yang terdapat diareal penyelidikan.
Data-data diatas bertujuan sebagai bahan acuan didalam mengambil
suatu kesimpulanmengenai penyebaran dan jumlah cadangan dari bahangalian
batupasir di daerah penelitian.
Dengan data tersebut akan diperoleh gambaran mengenai kondisi
geologi yang ada sehingga dapat dibuat :

Peta Topografi

Peta Kegiatan Eksplorasi

Peta Geologi Regional

Peta Bahan Galian

Peta Perhitungan Cadangan

Peta Penyebaran Galian

Peta Kontur Struktur

Penampang Geologi

Penampang/Sketsa Endapan

Penampang Perhitungan Cadangan

Peta Wilayah Rencana Pengingkatan atau Penciutan


IUP

Dari seluruh rangkaian kegiatan eksplorasi dan hasil pengolahan data


tersebut diatas, nantinya akan digunakan untuk menilai potensi cadangan
batupasir di wilayah kavling eksplorasi.
1.2.

Perizinan
Waktu kegiatan mulai dari persiapan, kegiatan lapangan, pengolahan
data studio dan pembuatan laporan. Kegiatan eksplorasi dilaksanakan pada
hari Selasa, 23Desember 2014 di kavling kelompok II di daerah Watu Wayang,
Dusun Duwet Gentong, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten
Bantul. Kemudian pengolahan data studio dan pembuatan laporan
dilaksanakan pada tangggal 24 Desember 2014 23 Januari 2015.
Tanggal 23 Desember 2014 eksplorasi pada Blok Kelompok II dengan
luas 4 ha,di daerah Watu Wayang dengan batas koordinat sebagai berikut :
KOORDINAT WILAYAH IZIN EKSPLORASI
KAVLING KELOMPOK II
Lokasi
Provinsi
:
Kabupaten :
Kecamatan :
Desa
:
Komoditas
:
Luas Wilayah :

D.I Yogyakarta
Bantul
Piyungan
Srimulyo
Batupasir
4 Ha

Tabel 1.1. Koordinat Kavling Eksplorasi Kelompok II

No

1
2
3
4

110
110
110
110

Garis Bujur
'
28
28
28
28

''
28.4
35
35
28.4

7
7
7
7

Garis Lintang
'
50
50
50
50

''
33.4
33.4
39.8
39.8

Sistem perizinan yang dilakukan dimulai sejak team masuk daerah


penyelidikan, perjalanan hingga menuju di base camp ( Masjid Al-Falah),
kemudian menemui ketua RT daerah Watu Wayang untuk memohon izin
memasuki daerah penelitian. Selain itu dilanjutkan bertemu dan meminta izin
kepada penduduk di sekitar daerah penelitian untuk melakukan pemetaan
geologi.
2

Penduduk yang tinggal disekitar Watu Wayang, Dusun Duwet


Gentong, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan ini mayoritas suku asli pribumi
setempat yaitu suku Jawa Pemeluk Agama secara umum memeluk agama
Islam. Mayoritas penduduk mempunyai mata pencaharian sebagai petani, dan
sebagian bekerja pada pencari kayu.
Sarana Pendidikan yang terdapat di daerah Watu Wayangcukup
memadai yaitu terdapat SD N Jombor, Piyungan dan SMP1 Piyungan.Sarana
kebutuhan sehari-hari yang tersedia adalah berupa Pasar Piyungan, sementara
tempat peribadatan yang ada adalah terdapat 1 buah Masjid Al Falah yang
digunakan untuk beribadah.
1.3.

Sejarah Penyelidikan
Beberapa peneliti terdahulu yang pernah melakukan studi yang terkait dengan
daerah telitian secara lokal maupun secara regional, meliputi :
a. Bothe (1929), melakukan penelitian pada Zona Pegunungan Selatan
dan merupakan orang pertama yang berhasil menyusun stratigrafi
Zona Pegunungan Selatan.
b. Van Bemmelen (1949), mengelompokkan geologi regional Pulau jawa
berdasarkan fisiografimenjadi beberapa zona, salah satunya adalah Zona
Pegunungan Selatan dimana daerah penelitian penulis tercakup
didalamnya.
c. Rahardjo (1977),Melakukan penelitian kemudian menyusun stratigrafi
pegunungan selatan secara lengkap meliputi aspek sedimentologi dan
paleontologi dengan penekanan untuk memperoleh kejelasan
umurpembentukan dan lingkungan pengendapannya.
d. Martodjojo(1984),Merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari peneliti
sebelumnya dalam penyusunan stratigrafi pegunungan selatan.
e. Surono (1992), Melakukan penelitian kemudian menyusun stratigrafi
pegunungan selatan secara lengkap. Beliau melakukan penelitian di daerah
Baturagung, Jawa Timur dan menyusun stratigrafi yang disempurnakan
dari stratigrafi yang disusun oleh Bothe 1929.
f. Samodra (1992), Melakukan penelitian kemudian menyusun stratigrafi
pegunungan selatan secara lengkap.
g. Rahardjo,W., Sukandarrumidi, dan Rosidi, H.M.D., pada tahun 1977 telah
melakukan pemetaan geologi dan menghasilkan Peta Geologi Lembar
3

Yogyakarta, Jawa, skala 1: 100.000 dari Pusat Penelitian dan


Pengembangan Geologi, Bandung dimana daerah penyelidikan berada di
dalamnya.
h. Sudarno, pada tahun 2007 telah melakukan penelitian tentang evolusi
tegasan purba dan genesa sesardi daerah Pegunungan Selatan DIY dan
sekitarnya. Potensi Geologi Pegunungan Selatan dalam Pengembangan
Wilayah.

BAB II
GEOGRAFI DAN KEADAAN GEOLOGI
2.1. Geografi Daerah Penelitian
Kecamatan Piyungan secara administratif terdiri dari 3 desa, 60 dusun.
Kecamatan Piyungan berada di sebelah Timur Laut dari Ibukota Kabupaten
Bantul. Kecamatan Piyungan mempunyai luas wilayah 3.254,86 Ha.
Desa di wilayah administratif Kecamatan Piyungan :
1. Desa Sitimulyo
2. Desa Srimartani
3. Desa Srimulyo
Secara geografis wilayah Kecamatan Piyungan berbatasan dengan :

Utara : Kecamatan Prambanan dan Berbah;

Timur : Kecamatan Patuk;

Selatan : Kecamatan Pleret;

Barat : Kecamatan Banguntapan.


Kecamatan Piyungan terletak di perbatasan antara 3 wilayah

Kabupaten di Yogyakarta, yaitu antara wilayah Kabupaten Bantul dan


Kabupaten Sleman, serta antara wilayah Kabupaten Bantul dan Kabupaten
Gunung Kidul. Kecamatan Piyungan memiliki 3 kelurahan yaitu Kelurahan
Sitimulyo, Kelurahan Srimulyo dan Kelurahan Srimartani
Kecamatan Piyungan berada di dataran rendah. Ibukota Kecamatannya
berada pada ketinggian 80 meter diatas permukaan laut.jarak ibukota
kecamatan ke Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kabupaten Bantul adalah 25 Km.
5

2.1.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah


Daerah pemetaan geologi sendiri terletak dikelompok II dilaksanakan di
daerah Watu Wayang, Dusun Duwet Gentong, Desa Srimulyo, Kecamatan
Piyungan yang secara geografis terletak antara 7o 50 33.4 LS - 7o 50 39.8
LS dan 110 o 28 28.4 BT - 110 o 28 35 BT. Kegiatan praktikum ini berupa
pemetaan geologi yang dilakukan pada blok kavling kelompok II.
Letak daerah ini cukup strategis karena dilalui Jalan Yogyakarta Wonosari sehingga kegiatan ekonominya relatif maju.
Lokasi daerah penelitian berjarak sekitar 14 km dari Kampus STTNAS
Yogyakarta, dapat dicapai dengan kendaraan roda 2 dua dan roda empat
melalui jalan beraspal, dan jalan berbatu selama kurang lebih 30 menit dari
Kampus STTNAS Yogyakarta.
Untuk mencapai lokasi pengamatan dan melakukan pengambilan contoh
batuan, pada beberapa lokasi harus berjalan kaki melalui jalan setapak. Peta
kesampaian daerah penelitian dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar.2.2. Peta Kesampaian Daerah Praktikum Eksplorasi

2.1.2. Keadaan Daerah Penelitian


A. Penduduk
6

Kecamatan Piyungan dihuni oleh 10.177 KK. Jumlah keseluruhan


penduduk Kecamatan Piyungan adalah 37.814 orang dengan jumlah penduduk
laki-laki 18.521 orang dan penduduk perempuan 19.293 orang.Tingkat
kepadatan penduduk di Kecamatan Piyungan adalah 1.162 jiwa/Km2.
Sebagian besar penduduk Kecamatan Piyungan adalah petani. Dari data
monografi Kecamatan tercatat 16.420 orang atau 43,4 % penduduk Kecamatan
Piyungan bekerja di sektor pertanian.
Penduduknya sebagian besar menjadi menjadi petani karena daerah ini
memiliki tanah yang relatif subur.Di daerah ini juga terdapat beberapa situs
peninggalan masyarakat Hindu seperti tempat pemujaan.Salah satunya berada
di dusun Payak, Srimulyo.
B. Iklim
Daerah eksplorasi mempunyai iklim yang relatif sama dengan daerah
lainnya di Indonesia yaitu beriklim tropis yang dicirikan dengan pergantian
dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau.
Kecamatan Piyungan beriklim seperti layaknya daerah dataran rendah
di daerah tropis dengan dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya.Suhu
tertinggi yang tercatat di Kecamatan Piyungan adalah 32C dengan suhu
terendah 23C. Bentangan wilayah di Kecamatan Piyungan 41% berupa daerah
yang datar sampai berombak dan 59% berupa daerah yang berombak sampai
berbukit.
C. Curah Hujan
Data curah hujan disajikan sebagai perbandingan adalah data pada
tahun 2009 - 2011.Untuk mengetahui pola curah hujan pada suatu wilayah
tertentu diperlukan parameter data minimal berupa banyaknya hari hujan dan
intensitas curah hujan yang secara spasial tertuang dalam Peta Intensitas Curah
Hujan Tahunan. Akan tetapi untuk keperluan analisis pola curah hujan akan
lebih tepat apabila menggunakan data yang diambil dalam kurun waktu
sedikitnya lima tahun yang berurutan.
Tabel 2.1 Pola Curah Hujan Tahun 2009 - 2011

No

Bulan

2009

2010

2011
7

HH
1. Januari
17,50
2. Februari
12,60
3. Maret
10,17
4. April
10,38
5. Mei
0
6. Juni
1,67
7. Juli
2,00
8. Agustus
0
9. September 0
10. Oktober
0
11. November 8,00
12. Desember 10,43
Jumlah
72,74

mm
188,00
194,80
109,50
129,25
0
45,67
0
0
0
0
192,20
225,71
1089,13

HH
137
82
94
99
19
22
14
0
0
0
54
122
643

mm
1451
1156
1221
1143
118
243
3
0
0
0
1000
1899
8234

HH
1425
2850
1164
135
250
35
0
0
52
4216
3566
15448

mm
119
74
116
23
23
9
0
0
12
124
127
766

Sumber : Dipertahut Kabupaten


Bantul 2010

Keterangan :
Bulan basah = curah hujan lebih dari 100mm
Bulan lembab = curah hujan antara 60 - 100mm
Bulan kering = curah hujan kurang dari 60mm
D. Vegetasi
Terdapat berbagai variasi vegetasi yang dapat ditemui di lokasi
penelitian. Pada daerah pemetaan dapat dijumpai tumbuhtumbuhan.sepertijenis tanaman pangan, tanaman kebun dan tanaman kayu
untuk kebutuhan bangunan. Yang meliputi tanaman pangan yang terdapat di
lokasi penelitian adalah : padi, jagung, kacang tanah, ketela, tebu. Tanaman
kebun sayuran yang dijumpai meliputi : cabai, pisang, kelapa, kedondong,
manding,. Dan yang termasuk tanaman kayu seperti jati, mahoni dan munggur.

Gambar 2.1 Vegetasi Mahoni dan Lamtoro di Daerah Penyelidikan

E. Tata Guna Lahan


Penggunaan lahan adalah informasi yang menggambarkan sebaran
pemanfaatan lahan yang ada di Kecamatan Piyungan.Penggunaan lahan
diklasifikasikan menjadi Kampung/Permukiman, Sarana Sosekbud, Pertanian,
Perhubungan, Perindustrian, Pariwisata, Pertambangan, Hutan, dan Air
Permukaan.
Selain itu pada tahun 2009 juga telah terjadi alih fungsi lahan, dari
tanah pertanian menjadi permukiman atau menjadi tempat usaha, hal tersebut
berdasarkan analisis ijin pengeringan selama tahun 2008. Dengan adanya alih
fungsi lahan dari pertanian menjadi non pertanian harus medapat perhatian
yang khusus, karena dimungkinkan akan adanya penyusutan dalam hal hasil
pertanian.
Tabel 2.2 Penggunaan Lahan Kecamatan Piyungan

Kecamata
n
Piyungan

Kampun
g
331,89

Jenis Penggunaan Lahan (Ha)


Kebun
Tegala Huta
Sawah Campu
n
n
r
1.331,6
717,00 551,58
0

Jumlah
Tanah
Tandu
s
-

Lainlain
379,9

3.312,0

0
9

Sumber : Kantor BPN


Bantul, 2012

F. Rencana Umum Tata Ruang Daerah


Dalam pelaksanakan pembangunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
sangat diperlukan di Kecamatan Piyungan.Hal tersebut merupakan salah satu
upaya perencanaan program pembangunan yang memperhatikan suatu tatanan
wilayah yang terpadu dan teratur.
Secara garis besar arah pengembangan dan pembangunan daerah mengacu
pada RTRW Kecamatan Piyungan yang terbagi menjadi enam Satuan Wilayah
Pengembangan (SWP). Sedangkan peta Satuan Wilayah Pengembangan adalah
sebagai berikut:
a. Pengembangan dan Peningkatan Kawasan Industri
b. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Regional Lintas
Kab/Kota
c. Kawasan Rawan Gempa Bumi, Tanah Longsor dan Kekeringan
d. Pengembangan Desa Mandiri Energi

2.1.3. Morfologi Daerah Penyelidikan


Dari interpretasi dan analisa peta topografi serta pengamatan
kenampakan morfologi dilapangan, dijumpai kenampakan pola aliran sungai,
bukit, lembah, serta pengaruh litologi dan struktur geologi.
Daerah penelitian dibentuk oleh satuan perbukitan homoklin yang terdiri dari:
1. Pada daerah telitian hampir 80% berupa daerah perbukitan, pada bagian
selatan daerah penelitian berupa perbukitan yang mempunyai kontur
yang tinggi jika dibandingkan pada utara daerah penelitian.
2. Pola umum perbukitan pada daerah telitian relatif berarah barat-timur
yang memanjang dari barat ke timur dan menempati hampir diseluruh
daerah telitian.
10

3. Elevasi dan kelerengan pada daerah telitian dibagi menjadi empat yaitu :
daerah dengan kelerengan hampir datar (0 2%), daerah dengan
kelerengan landai (3 - 7 %), daerah dengan kelerengan miring (8
13%), daerah dengan kelerengan agak curam (14 - 20 %).
4. Perbedaan relief ditunjukkan dengan perbedaan elevasi yang relative
kecil, ditandai oleh perbukitan dengan kemiringan lereng landai dan
dataran persawahan.
Tabel 2.3. Klasifikasi kemiringan lereng (Van Zuidam, 1983)

11

Gambar 2.3 Bentang Alam Perbukitan Landai di Daerah Peneitian

Gambar 2.4. Bentang Alam Dataran Persawahan di Daerah Peneitian

Berdasarkan pembagian diatas, daerah telitian dikelompokkan menjadi


satu satuan geomorfik, yaitu :
1. Satuan Geomorfik Bentukan Struktural ( S )
2. Satuan Geomorfik Bentukan Fluvial ( F )
Kedua satuan tersebut disajikan pada peta topografi. Satuan Geomorfik
Bentukan Struktural :
a. Subsatuan Geomorfik Perbukitan Homoklin (S1) Subsatuan ini
menempati 50% dari luas daerah telitian dan merupakan suatu perbukitan yang
miring - curam, disusun oleh material sedimen klastik, kemiringan lereng 14 20% (agak curam), menempati disepanjang bagian utara hingga sebagian daerah
selatan daerah telitian.Kemiringan lereng pada subsatuan ini adalah miring
hingga curam.
b. Subsatuan Geomorfik Dataran Limpah Banjir (F2) Subsatuan ini menempati
6% dari luas daerah telitian dan merupakan suatu dataran yang rata landai, disusun oleh material lepas hasil transportasi dari tubuh sungai,
kemiringan lereng 0 - 2% ( rata/hampir rata ) menempati di sepanjang sungai
daerah telitian. Kemiringan lereng pada subsatuan ini adalah rata hingga
landai.
c. Subsatuan Geomorfik Dataran Alluvial (F3) Subsatuan ini menempati 10%
12

dari luas daerah telitian dan merupakan suatu dataran yang rata - landai,
disusun oleh material lepas hasil transportasi dari hasil erosinal dari
batuan sedimen, kemiringan lereng 0 - 2% ( rata/hampir rata )
menempati disepanjang bagian timur daerah telitian. Kemiringan lereng
pada subsatuan ini adalah rata hingga landai.
Stadia Geomorfologi dan Tahapan Erosi dipengaruhi oleh faktor
iklim, relief (kelerengan), struktur geologi, sifat fisik dan resistensi
batuan, serta siklus erosi dan fluviatil yang berlangsung. Pengaruh
tersebut menyebabkan terjadinya perubahan topografi yang akhirnya
membentuk topografi seperti sekarang.

Gambar 2.5. Satuan Geomorfik Fluvial (sungai Watu Wayang)

Penentuan tingkat stadia erosi dan geomorfologi daerah telitian


didasarkan pada hasil pengamatan lapangan yang meliputi bentuk
pinggiran sungai yang terjal dan bentuk memanjang sungai, pola aliran,
sudut kelerengan dan litologi. Untuk menunjang hasil pengamatan
lapangan, penulis kemudian melakukan analisis sudut kelerengan secara
kuantitatif dan pola pengaliran berdasarkan interpretasi dari peta
topografi.
Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa perkembangan erosi
pada daerah telitian sudah berkembang kearah erosi vertikal yang
menyebabkan terbentuknya suatu lereng-lereng yang terjal yang berada
dipinggiran sungai-sungai dan dalam dengan kelerengan yang miring.
13

Berikut merupakan gambaran interpretasi morfologi di sekitar daerah


penelitian dengan media peta topografi.

Gambar.2.6.Peta Morfologi Daerah Penelitian

2.2. Geologi Regional


Proses geologi muda yang terdapat pada daerah telitian berupa proses
pelapukan, erosi, transportasi dan deposisi, yang dipengaruhi oleh jenis litologi,
vegetasi, iklim serta struktur geologi yang bekerja.
Proses pelapukan yang bekerja pada daerah telitian sebagian besar dikontrol
oleh pelapukan mekanis (mechanical weathering) yang diakibatkan oleh tingkat curah
hujan yang tinggi sehingga menyebabkan perubahan suhu yang silih berganti
dan kejenuhan air didalam batuan, mengakibatkan batuan menjadi mudah lapuk
sehingga pada daerah dengan kemiringan yang besar dapat menimbulkan adanya
gerakan massa serta dipengaruhi oleh suatu struktur yang sangat dominan. Prosesproses diatas mengontrol besarnya transportasi suplai sedimen pada sistem
fluviatil yang bekerja pada aliran Sungai, hal ini membuktikan bahwa proses geologi
muda yang bekerja pada daerah telitian berjalan secara intensif dan bersifat kontinyu.
A. Stratigrafi
Penulis menyusun stratigrafi daerah telitian berdasarkan ciri ciri
litologi yang dijumpai dilapangan dengan mengikuti pembagian dan tata nama

14

stratigrafi dari Pringgoprawiro, 1983, guna mengetahui tektonostratigrafi dan


stratigrafi yang terkait dengan daerah telitian.
Untuk pembagian satuan batuan, penulis menggunakan satuan tidak
resmi yang mengacu pada pembagian tata nama yang sesuai dengan kaidah Sandi
Stratigrafi Indonesia (1996). Secara umum daerah telitian didominasi oleh litologi
batupasir, namun penulis berusaha membaginya kedalam satuan satuan batuan
yang lebih detil
berdasarkan karakteristik dari setiap litologi yang dominan.
Urutan stratigrafi daerah telitian dari tua ke muda meliputi :
1. Satuan Batupasir Semilir
2. Satuan Batuan G.Api Merapi Muda
Dasar Penamaan Penamaan satuan batupasir Semilir didasarkan pada ciri
fisik litologi, kimia maupun asosiasinya yang berkembang pada satuan ini,
secara fisik dicirikan dengan batupasir yang memiliki kandungan tuff,
bersemen silika yang mempunyai kandungan lempungan, dibeberapa tempat
terdapat perselingan antara batupasir vulkanik dengan batulempung. Di
bagian atas terdapat batupasir yang memiliki ukuran butir kasar hingga
sangat kasar. Struktur perlapisan banyak dijumpai pada batupasir vulkanik
dan batulempung, pada satuan ini didominasi oleh struktur perlapisan. Ciri
fisik diatas dapat disebandingkan dengan ciri ciri Formasi Semilir
sehingga satuan ini dinamakan satuan batupasir Semilir.
Penyebaran satuan batupasir vulkanik Semilir daerah telitian
menempati luas 90 % dari seluruh luas daerah telitian. Singkapan pada satuan
ini tersebar dibagian utara, barat dan timur laut daerah telitian. Dari
pengukuran penampang geologi sayatan diperoleh volume batupasir sebesar
1.082.518,345 m3.
Ciri litologi satuan batupasir Semilir di daerah telitian dicirikan oleh
dominasi litologi batupasir vulkanik berwarna kuning abu-abu, sedikit
keras, struktur perlapisan laminasi, berukuran butir pasir sangat halus
sedang dan dibeberapa tempat berbutir kasar, terpilah baik dan susah ditemukan
fosil, semen silika, Pada satuan batuan ini juga ditemukan adanya struktur
sedimen berupa parallel laminasi.

15

Gambar.2.7. Stratigrafi Daerah Penelitian

Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian diidentifikasi


berdasarkan bukti langsung di lapangan berupa adanya beberapa kekar dan
dikombinasikan dengan interpretasi topografi apabila struktur yang ditunjukkan
oleh adanya kelurusan morfologi, kemudian hal tersebut mengindikasikan bahwa
adanya pengaruh struktur geologi yang mengontrol daerah tersebut. Gambar di
bawah ini menunjukkan struktur kekar yang berkembang menjadi suatu aliran air
akibat penggerusan bidang lemah pada batupasir.

Gambar 2.8. Struktur Kekar yang Berkembang di Daerah Telitian

BAB III
KEGIATAN EKSPLORASI
16

3.1. Metode Penyelidikan


Metode eksplorasi yang dilakukan dengan menggunakan metode
pemetaan geologi permukaan dengan tujuan yang akan dicapai adalah untuk
pembuatan peta lokasi pengamatan, peta topografi, dan peta geologi, dan
penyelidikan singkapan dan tracing float. Metode penyelidikan yang dipakai
merupakan metoda langsung permukaan yang di jabarkan sebagai berikut :
1. Penyelidikan singkapan (out crop)
Lembah-lembah sungai, hal ini dapat terjadi karena pada lembah sungai
terjadi pengikisan oleh air sungai sehingga lapisan yang menutupi tubuh
batuan tertransportasi yang menyebabkan tubuh batuan nampak sebagai
singkapan segar Bentuk-bentuk menonjol pada permukaan bumi, hal ini terjadi
secara alami yang umumnya disebabkan oleh pengaruh gaya yang berasal dari
dalam bumi yang disebut gaya endogen misalnya adanya material di
permukaan bumi dan dapat juga dilihat dari adanya gempa bumi akibat adanya
gesekan antara kerak bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya patahan atau
timbulnya singkapan ke permukaan bumi yang dapat dijadikan petunjuk letak
tubuh batuan.
Penyelidikan out crop di daerah telitian ditemukan 9 lokasi outcrop,
dengan sebagian besar litologi terdiri dari batupasir.
2. Tracing Float (penjejakan)
Float adalah fragmen-fragmen atau potongan-potongan biji yang
berasal dari penghancuran singkapan yang umumnya disebabkan oleh erosi,
kemudian tertransportasi yang biasanya dilakukan oleh air, dan dalam
melakukan tracing kita harus berjalan berlawanan arah dengan arah aliran
sungai sampai float dari bijih yang kita cari tidak ditemukan lagi, kemudian
kita mulai melakukan pengecekan pada daerah antara float yang terakhir
dengan float yang sebelumnya dengan cara membuat parit yang arahnya
tegak lurus dengan arah aliran sungai.
Penyelidikan dengan tracing float dilakukan mulai penyusuran
sepanjang kali dari OC 4 OC 7. Dimana daerah tersebut merupakan daerah
gerusan air sungai sehingga outcrop mudah tampak untuk di teliti.

17

3. Pengumpulan Data
Data-data yang digunakan untuk menunjang kegiatan eksplorasi yaitu:
a. Data primer yang berupa data lapangan, meliputi :
-

Ploting lokasi pengamatan.

Pengambilan conto batuan untuk deskripsi batuan

Deskripsi batuan secara megaskopis untuk menentukan penamaan


batuan.

Pengamatan morfologi secara langsung untuk menentukan satuan


bentuk lahan geomorfiknya.

b. Data sekunder, yang berupa :


-

Data informasi geografi dan demografi daerah eksplorasi.

Literatur penyelidikan sebelumnya.

Data geologi regional daerah eksplorasi.

3.2. Tahap Penyelidikan


Penelitian lapangan secara umum dibagi menjadi dua tahap yaitu
tahap pra- mapping dan tahap pemetaan (mapping).
A. Tahap Pra-Mapping
Tahap pra-mapping berupa kegiatan observasi dan survey lapangan
guna menentukan lokasi dan luas daerah penelitian yang sesuai dengan
topik judul yang akan diambil penulis, baik sebagai secara studi umum
(geologi) maupun untuk studi khusus (lingkungan pengendapan). Setelah
lokasi penelitian didapatkan pada tahap ini juga dilakukan perijinan dan
penyiapan peta dasar guna memperlancar proses pelaksanaan tahapan kerja
berikutnya.
Pada tahap studi pustaka berupa pengumpulan dan pembelajaran awal
referensi - referensi yang berhubungan dengan eksplorasi, yaitu studi referensi
tentang bauksit itu sendiri, baik proses, genesa dan geologi yang berpengaruh,
dan studi pustaka tentang lokasi eksplorasi, yaitu dengan studi geologi
regional daerah eksplorasi serta studi referensi dari peneliti - peneliti
sebelumnya.
B. Tahap Pemetaan (Mapping)
Tahap Pemetaan (Mapping) ialah Tahap pemetaan berupa kegiatan
pengumpulan data lapangan yaitu dengan melakukan tahapan kerja berupa :
18

penentuan koordinat serta pengeplotan lokasi pengamatan, pengamatan dan


deskripsi singkapan batuan pada peta topografi, pembuatan sketsa singkapan
batuan, pengukuran kedudukan lapisan batuan, pengambilan foto singkapan
dan sampel batuan, pengamatan geomorfologi dan struktur geologi yang
berkembang pada daerah telitian serta melakukan pengukuran penampang
stratigrafi terukur (profil).
C. Pengolahan Data
Tahap pengolahan data yaitu dengan melakukan penggabungan
dari hasil studi pustaka dan literatur yang dilakukan di studio dengan
hasil pengamatan serta pengambilan data lapangan yang didukung oleh
analisis laboratorium, yang meliputi : analisa kemiringan lereng, analisa
paleontologi, analisa petrografi, analisa etsa dan analisa struktur geologi.
Data-data lapangan berupa pengukuran penampang stratigrafi terukur (profil)
dianalisis berdasarkan aspek fisik dan biologi batuan guna mengetahui
lingkungan pengendapan berdasarkan pendekatan model-model yang telah
dibuat oleh beberapa ahli.
Penyusunan Laporan tahap akhir dari seluruh kegiatan penelitian
yang telah dilakukan disajikan dalam bentuk laporan dan peta yang
merangkum semua permasalahan yang diangkat penulis beserta hasil analisis
guna menjawab permasalahan diatas.
Tahapan analisis data berupa, analisis jenisa batuan dan bahan galian
dan analisis besar cadangan sumberdaya batu pasir. Perhitungan cadangan
pada daerah eksplorasi menggunakan metode penampang, parameter lain yang
digunaan untuk perhitungan cadangan adalah dengan menggunakan data
penyebaran batu pasir, ketebalan dan jarak antar penampang kemudian dihitung
dengan menggunakan rumus :
Volume

= luas area penampang xjarak penampang ...............

. (1)
Tonase

= Volume x Specific gravity (SG) .......................

(2)
1.3. Uraian Pekerjaan Yang Dilakukan
A. Pemetaan Batas IUP, Situasi, Topografi
Adapun waktu penelitian (pengambilan data di lokasi penelitian) yaitu
selama satu hari yang dilakukan pada hari Selasa, 23 Desember 2014.
19

Sedangkan tahap pengerjaan peta,tematic, draft dan konsultasi dalam rentang


waktu 1 bulan ( 24 Desember 2014 23 Januari 2015). Berikut merupakan
rincian kegiatan dan kesampaian daerah pada kegiatan praktikum bahan galian
industri :
1. Lokasi
Tempat
Koordinat
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

: Kampus STTNAS Yogyakarta


: Kampus
: X = 435638, Y=9140741 ,Z= 167
: 06.00WIB .
: Cerah .
: Persiapan menuju Base Camp.

2. Kedudukan Lokasi : Base camp


Tempat
: Jalan Persawahan
Koordinat
: X=441165, Y= 9132790, Z= 83
Tiba Pukul
: 09.30 WIB.
Cuaca
: Cerah.
Kegiatan

: Persiapan masing-masing kelompok menuju lokasi


praktikum.

Gambar.3.1. LokasiBase Camp.


B. Pemetaan Singkapan
1. Kedudukan Lokasi : Base Camp II
Tempat
: (Masjid Al-falah), Dsn. Duwet Gentong, desa.
Koordinat
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

Srimulyo, kec. Piyungan, kab. Bantul, Yogyakarta.


: X : 442073 Y : 913293, Z : 90 m
: 09.30 WIB.
: Cerah .
: Ploting area dan Interpretasi Geologi Daerah

20

Gambar.3.2. Lokasi Base Camp II


2. Kedudukan Lokasi
Tempat
Koordinat
Elevasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

: OC 1
: Singkapan Batu Pasir .
: X=442227 ,Y=9132943 ,Z= 94 m
: 94.57471
: 09.50WIB .
: Cerah .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi.

Gambar.3.5. Lokasi OC 1
3. Kedudukan Lokasi : OC 2
Tempat
: Singkapan Batu Pasir .
21

Koordinat

: X=442212,685

,Y=9132917,704

,Z=

Elevasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

103,707153
: 103,707153
: 10.03WIB .
: Cerah .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi.

Gambar.3.6. Lokasi OC 2
4. Kedudukan Lokasi : OC 3
Tempat
: Singkapan Batu Pasir .
Koordinat
: X=442342,991
,Y=9132969,899
Elevasi
Vegetasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

,Z=

93,132813
:93,132813
: Jati, Mahoni, Kelapa
: 10.40WIB .
: Cerah .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi.

22

Gambar.3.7. Lokasi OC 3
5. Kedudukan Lokasi : OC 4
Tempat
: Sungai.
Koordinat
: X=442122,522
Elevasi
Vegetasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

,Y=9133049,015

,Z=

82,077637
:82,077637
: Mahoni, Dondong, Mangga, Jati
: 11.15WIB .
: Mendung .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi.

Gambar.3.8. Lokasi OC 4
6. Kedudukan Lokasi : OC 5
Tempat
: Sungai.
23

Koordinat

: X=442162,924

,Y=9133025,87

,Z=

Elevasi
Vegetasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

87,605103
: 87,605103
: Mahoni, Dondong, Mangga, Jati
: 11.25WIB .
: Mendung .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi.

Gambar.3.9. Lokasi OC 5
7. Kedudukan Lokasi : OC 6
Tempat
: Sungai.
Koordinat
: X=442190,739
Elevasi
Vegetasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

,Y=9132979,145

,Z=

92,171509
: 92,171509
: Mahoni, Dondong, Mangga, Jati
: 11.35WIB .
: Mendung .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi.

24

Gambar.3.10. Lokasi OC 6
8. Kedudukan Lokasi : OC 7
Tempat
: Sungai.
Koordinat
: X=442225,204
Elevasi
Vegetasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

,Y=9132995,319

,Z=

95,536011
: 95,536011
: Padi, Cabai, Pisang, Ubi Jalar, Tebu, Lamtoro,
: 11.45WIB .
: Mendung .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi, Ploting Area

Gambar.3.11. Lokasi OC 7

8. Kedudukan Lokasi : OC 8
Tempat
: Kaki Bukit
Koordinat
: X=442125,268

,Y=9132871,257

,Z=

107,552368
25

Elevasi
Vegetasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

: 107,552368
: Mahoni, Jati, Lamtoro.
: 13.00WIB .
: Mendung .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi
Lokasi, Ploting Area

Gambar.3.11. Lokasi OC 8
9. Kedudukan Lokasi

: OC 9

Tempat
Koordinat

: Kaki Bukit
: X=442153,018

Elevasi
Vegetasi
Tiba Pukul
Cuaca
Kegiatan

111,554479
: 111,554479
: Mahoni, Dondong, Mangga, Jati
: 11.45WIB .
: Mendung .
: Deskripsi batuan, Sampling, Sketsa Lokasi, Interpretasi

,Y=9132876,142

,Z=

Lokasi.

26

Gambar.3.11. Lokasi OC 9

Gambar 3.12. Peta Kegiatan Eksplorasi

C. Pengambilan Contoh
Adapun saat proses pengambilan contoh atau sample batuan di lapangan
yaitu selama satu hari yang dilakukan pada hari Selasa, 23 Desember 2014.
Kegiatan inin dilakukan berkelompok dengan berjalan mengelilingi area
praktikum eksplorasi yang telah di plot sebelumnya untuk mencari singkapan
27

batuan. Ketika singkapan telah ditemukan tahapan yang selanjutnya dilakukan


yaitu mengambil sample batuan di area singkapan kemudian tahapan
selanjutnya kami mengeplot area di temukannya singkapan menggunakan
GPS. Hal ini dilakukan untuk menandai area ditemukannya singkapan agar
memudahkan pada proses pembuatan peta. Tahapan ini dilakukan berulang
kali mengitari area eksplorasi sampai kembali pada lokasi pertama
ditemukannya singkapan serta sample batuan. Sedangkan lokasi singkapan
yang kami dapatkan dari hasil eksplorasi tersebut berjumlah 9 lokasi sehingga
terdapat 9 sample batuan yang telah kami ambil.

Gambar 3.13.Sampling Batuan Langsung Dari Lapngan

D. Analisa Contoh
Analisa contoh dilakukan di laboratorium dengan metode pengamatan
langsung, diskripsi batuan, interpretasi bahan galian, dan analisa penyebaran
bahan galian. Peralatan yang digunakan mulai dari peralatan sederhana seperti
palu geologi, alat tulis, kalkulator, sampai peralatan komputerisasi yang
digunakan dalam analisa penyebaran bahan galianya. Dari analisa contoh ini
diperoleh data-data lengkap tentang batuan, persebaran, dan genesa bahan
galiannya.

28

BAB IV
HASIL EKSPLORASI

4.1. Kondisi Geografi Dan Geologi Daerah Penelitian


Berdasarkan pembagian diatas, daerah telitian dikelompokkan menjadi
dua satuan geomorfik, yaitu :

Satuan Geomorfik Bentukan Struktural ( S )


Satuan Geomorfik Bentukan Fluvial ( F )

Kedua satuan tersebut disajikan pada peta topografi. Satuan Geomorfik


Bentukan Struktural :
a. Subsatuan Geomorfik Perbukitan Homoklin (S1) Subsatuan ini
menempati 50% dari luas daerah telitian dan merupakan suatu perbukitan yang
miring agak curam, disusun oleh material sedimen klastik, kemiringan lereng
14 - 20% (agak curam), menempati disepanjang bagian daerah selatan daerah
telitian. Kemiringan lereng pada subsatuan ini adalah miring hingga landai.
b. Subsatuan Geomorfik Dataran Limpah Banjir (F2) Subsatuan ini menempati
6% dari luas daerah telitian dan merupakan suatu dataran yang rata landai, disusun oleh material lepas hasil transportasi dari tubuh sungai,
kemiringan lereng 0 - 2% ( rata/hampir rata ) menempati di sepanjang sungai
daerah telitian. Kemiringan lereng pada subsatuan ini adalah rata hingga
landai.
c. Subsatuan Geomorfik Dataran Alluvial (F3) Subsatuan ini menempati 10%
dari luas daerah telitian dan merupakan suatu dataran yang rata - landai,
disusun oleh material lepas hasil transportasi dari hasil erosinal dari
batuan sedimen, kemiringan lereng 0 - 2% ( rata/hampir rata )
menempati disepanjang bagian utara daerah telitian. Kemiringan lereng
pada subsatuan ini adalah rata hingga landai. Biasanya menempati pada
daerah persawahan.
Geomorfologi dan Tahapan Erosi dipengaruhi oleh faktor iklim,
relief (kelerengan), struktur geologi, sifat fisik dan resistensi batuan, serta
siklus erosi dan fluviatil yang berlangsung. Pengaruh tersebut
menyebabkan terjadinya perubahan topografi yang akhirnya membentuk
29

topografi seperti sekarang.


Penulis menyusun stratigrafi daerah telitian berdasarkan ciri ciri
litologi yang dijumpai dilapangan dengan mengikuti pembagian dan tata nama
stratigrafi dari Pringgoprawiro, 1983, guna mengetahui tektonostratigrafi dan
stratigrafi yang terkait dengan daerah telitian.
Secara umum daerah telitian didominasi oleh litologi batupasir, namun
penulis berusaha membaginya kedalam satuan satuan batuan yang lebih detilb
erdasarkan karakteristik dari setiap litologi yang dominan.

Gambar.4.1.Peta Geologi Regional dan Penampang Geologi Daerah Telitian

Adapun kondisi Geologi daerah penelitian secara umum tersusun oleh


litologi batupasir. Dasar Penamaan Penamaan satuan batupasir Semilir
didasarkan pada ciri fisik litologi, kimia maupun asosiasinya yang
berkembang pada satuan ini, secara fisik dicirikan dengan batupasir yang
memiliki kandungan tuff, bersemen silika yang mempunyai kandungan
lempungan, dibeberapa tempat terdapat perselingan antara batupasir
vulkanik dengan batulempung. Di bagian atas terdapat batupasir yang
memiliki ukuran butir kasar hingga sangat kasar. Struktur perlapisan
banyak dijumpai pada batupasir vulkanik dan batulempung, pada satuan
ini didominasi oleh struktur perlapisan. Ciri fisik diatas dapat
disebandingkan dengan ciri ciri Formasi Semilir sehingga satuan ini
dinamakan satuan batupasir Semilir.

30

Penyebaran satuan batupasir vulkanik Semilir daerah telitian


menempati luas 90 % dari seluruh luas daerah telitian. Singkapan pada satuan
ini tersebar dibagian utara, barat dan timur laut daerah telitian. Dari
pengukuran penampang geologi sayatan diperoleh volume batupasir sebesar
1.082.518,345 m3.
Ciri litologi satuan batupasir Semilir di daerah telitian dicirikan
oleh dominasi litologi batupasir vulkanik berwarna kuning abu-abu,
sedikit keras, struktur perlapisan laminasi, berukuran butir pasir sangat
halus sedang dan dibeberapa tempat berbutir kasar, terpilah baik dan susah
ditemukan fosil, semen silika, Pada satuan batuan ini juga ditemukan adanya
struktur sedimen berupa parallel laminasi
4.2. Keadaan Endapan/Bahan Galian
A. Penyebaran
Penyebaran endapan bahan galian di daerah penelitian hampir merata
di seluruh wilayah Kavling kelompok 2, hal ini berdasarkan pengamatan
langsung yang diperoleh di lapangan dan dari analisa laboratorium tentang
penyebaran bahan galian yang menyimpulkan bahwa di setiap area yang
dilewati selalu ditemukan bahan galian tersebut, walaupun hanya beberapa
singkapan (Out Crop) yang ditemui. Berikut merupakan lokasi penyebaran
endapan batupasir di daerah penelitian.

Gambar.4.2.Peta Penyebaran Endapan dan Penampang Endapan Batupasir Daerah


31

Telitian

B. Kadar / Kualitas
Dari hasil analisa sample endapan batupasir dari lokasi penelitian, dapat
diketahui jenis kualitas berupa parameter kekuatan batuan, porositas dan bagus
tidaknya bila dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, pondasi, dll. Bahan galian
batupasir merupakan salah satubahan galian industry yang pemanfaatannya dapat
digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi. Sebagai bahan umum untuk
pembuatan bangunan dan jalan dikarenakan sifat dari batu pasir yang tahan terhadap
cuaca namun mudah untuk dibentuk. Karena kekerasan dan kesamaan ukuran
butirannya, batu pasir menjadi bahan yang sangat baik untuk dibuat menjadi batu asah
(grindstone) yang digunakan untuk menajamkan pisau.
Batupasir mempunyai banyak kegunaan didalam industri konstruksi sebagai
suatu kumpulan dan batu-tembok. batupasir hasil galian dapat digunakan sebagai
material di dalam pembuatan gelas/kaca.
Dari sample yang kami dapatkan dari lapangan dapat kami simpulkan bahwa
kualitas batupasir di lokasi penyelidikan memiliki kekerasan yang cukup resisten dan
porositas yang rendah sehingga dapat dikatakan kualitasnya cukup bagus bila
digunakan untuk kebutuhan konstruksi bangunan.

32

Gambar.4.3.Sample Batupasir Kualitas Baik

C. Perhitungan Cadangan
1. Dasar/ Cara Perhitungan Cadangan
Perhitungan cadangan dengan menggunakan metode cross section
dilakukan dengan membuat penampang yang mewakili keseluruhan daerah
yang masuk wilayah IUP. Pada penelitian ini dibuat 4 penampang dengan
batas ketinggian perhitungan terendah pada level 86 dan level tertinggi 120.
Proses perhitungan menggunakan software AutoCad 2007+Quick Surf untuk
menghasilkan grid penampang.
Selanjutnya dari penampang sayatan yang telah dibuat dilakukan
perhitungan parameter setiap penampang. Pada penampang dengan jumlah
yang genap. Setelah parameter tersebut diketahui, dilakukan perhitungan luas
masing-masing penampang. Selanjutnya dilakukan perhitungan volume antar
penampang dengan rumus mean area. Rumus mean area digunukan untuk
endapan yang mempunyai penampang uniform :
V = 0,5 x (S1 + S2) x L
33

Keterangan :
S = Luas penampang
L = Jarak antar penampang
V = Volume cadangan
Selanjutnya menghitung Tonase cadangan, dimana nilai berat jenis
diperoleh dari data perusahaan yang telah ada. Rumus menghitung Tonase :
T = V x Bj
Keterangan :
T = Tonase (ton)
V = Volume (m3)
Bj = Berat Jenis (2,3 ton/ms)
2. Klasifikasi Jumlah Cadangan
Menurut Mc. Kelvey yang dimaksud dengan cadangan (reserves)
adalah bagian dari sumber daya terindikasi dari suatu komoditas mineral yang
dapat diperoleh secara ekonomis dan tidak bertentangan dengan hukum dan
kebijaksanaan pemerintah pada saat itu. Suatu cadangan mineral biasanya
digolongkan berdasarkan ketelitian dari eksplorasinya. Klasifikasi cadangan di
Amerika menurut US Berau Of Mine and US Geological Survey (USBM
andUSGS) dan usulan Mc. Kelvey, 1973 sebagai berikut :
A. Cadangan Terukur
Cadangan terukur adalah cadangan yang kuantitasnya dihitung dari
pengukuran nyata, misalnya dari pemboran, singkapan dan paritan, sedangkan
kadarnya diperoleh dari hasil analisa conto. Jarak titik-titik pengambilan
contoh dan pengukuran sangat dekat dan terperinci, sehingga model geologi
endpan mineral dapat diketahui dengan jelas. Struktur, jenis , komposisi,
kadar, ketebalan,kedudukan , dan kelanjutan endapan mineral serta batas
penyebarannya dapat ditentukan dengan tepat. Batas kesalahan perhitungan
baik kuantitas maupun kualitas tidak boleh lebih dari 20%.
B. Cadangan Terkira/Teridikasi (indicated)

34

Cadangan terkira adalah cadangan yang jumlah tonase dan kadarnya


sebagian diperoleh dari hasil perhitungan pemercontoan dan sebagian lagi
dihitung sebagai proyeksi untuk jarak tertentu berdasarkan keadaan geologi
setempat titik-titik pemerconto dan pengukuran jaraknya tidak perlu rapat
sehingga struktur, kadar, ketebalan, kedudukan, dan kelanjutan endapan
mineral serta batas penyebarannya belum dapat dihitung secara tepat dan baru
disimpulkan/dinyatakan berdasar indikasi. Batas kesalahan baik kuantitas
maupun kualitas 20% - 40%.
C. Cadangan Terduga/Tereka (infered)
Cadangan terduga adalah cadangan yang diperhitungkan kuantitasnya
berdasarakan pengetahuan geologi, kelanjutan endapan mineral, serta batas
dari penyebaran. Ini diperhitungkan dari beberapa titik conto, sebagian besar
perhitungannya didasarkan kepada kadar dan kelanjutan endapan mineral yang
mempunyai ciri endapan sama. Toleransi penyimpangan kesalahan terhadap
perhitungan cadangan adalah 60%.
Di Indonesia mengikuti klasifikasi cadangan menurut Mc. Kelvey,
karena dianggap paling detil, mempertimbangkan keadaan geologi, ekonomi,
dan memiliki wawasan luas tentang klasifikasi cadangan. Klasifikasi cadangan
yang diusulkan Mc. Kelvey ini berdasarkan pada :
a. Kenaikan tingkat keyakinan geologi.
b. Kenaikan tingkat kelayakan ekonomi.
Kriteria keyakinan geologi didasarkan tingkat keyakinan mengenai
endapan mineral yang meliputi ukuran, bentuk, sebaran, kuantitasnya sesuai
dengan tahap eksplorasinya. Kriteria kelayakan ekonomi didasarkan pada
faktorfaktorekonomi layak atau tidaknya berdasarkan kondisi ekonomi pada
saat itu. Tingkat kesalahan adalah penyimpangan kesalahan baik kuantitas
maupun kualitas cadangan yang masih bisa diterima sesuai dengan tahap
ekplorasinya.
Dari hasil perhitungan cadangan endapan batupasir dari lokasi
penelitian, maka diperoleh perhitungan sebagai berikut :

35

Blok I :
- Luas Penampang A-A = 6480,718 m2
- Luas Penampang B-B = 14423,083 m2
- Rata-rata Luas 2 Penampang (A-A & B-B)
= 6480,718 m2 + 14423,083 m2 = 10.451,9274 m2
2
Volume Batupasir Blok I = 10.451,9274 m2 x 50 m = 522.596,37 m3
Tonase Batupasir Blok I = 522.596,37 m3 x 2,3 m3/ton = 1.201.971,65 ton
Blok II :
- Luas Penampang C-C = 10474,179 m2
- Luas Penampang D-D = 11922,700 m2
- Rata-rata Luas 2 Penampang (C-C & D-D)
= 10474,179 m2 + 11922,700 m2 = 11.198,4395 m2
2
Volume Batupasir Blok II = 11.198,4395 m2 x 50 m = 559.921,975 m3
Tonase Batupasir Blok II = 559.921,975 m3 x 2,3 m3/ton = 1.287.820,54 ton
Total volume batupasir bukit wayang = Volume Blok I + Volume Blok II
= 522.596,37 + 559.921,975
= 1.082.518,345 m3
Total tonase batupasir bukit wayang = Tonase Blok I + Tonase Blok II
= 1.201.971,65 + 1.287.820,54
= 2.489.792,19 ton

Jadi hasil dari perhitungan cadangan endapan batupasir di lokasi penyelidikan di


dapatkan :
36

Jumlah Volume Batupasir : 1.082.518,345 m3


Jumlah Tonase Batupasir : 2.489.792,19 ton

BAB IV
KESIMPULAN
37

4.1. Keadaan Lingkungan Daerah Penyebaran Endapan


Daerah pemetaan geologi kelompok II dilaksanakan di daerah Watu Wayang,
Dusun Duwet Gentong, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan.yangsecara geografis
terletak antara 7o 50 33.4 LS - 7o 50 39.8 LS dan 110 o 28 28.4 BT - 110 o 28 35
BT. Kegiatan praktikum ini berupa pemetaan geologi yang dilakukan pada blok
kavling kelompok II. Keadaan lingkungan daerah penelitian sangat bervariasi, mulai
dari pemukiman, persawahan, sungai, sampai perbukitan, hutan dan semak belukar.
Penyebaran rata-rata endapan batupasir di daerah penyelidikan ditemukan di
perbukitan landai dan sering tersingkap di daerah sungai.
4.2. Kondisi Geografi dan Kondisi Geologi
Kondisi geografi dan morfologi daerah penyelidikan berupa satuan geomorfik
perbukitan, dataran limpahan banjir, dan dataran alluvial. Geomorfologi dan tahapan
erosi dipengaruhi oleh faktor iklim, relief (kelerengan), struktur geologi, sifat fisik
dan resistensi batuan, serta siklus erosi dan fluviatil yang berlangsung. Pengaruh
tersebut menyebabkan terjadinya perubahan topografi yang akhirnya membentuk
topografi seperti sekarang.
Secara umum daerah telitian didominasi oleh litologi batupasir dasar Penamaan
secara fisik dicirikan dengan batupasir yang memiliki kandungan tuff, bersemen
silika yang mempunyai kandungan lempungan. Di bagian atas terdapat batupasir
yang memiliki ukuran butir kasar hingga sangat kasar. Struktur perlapisan banyak
dijumpai pada batupasir. Penyebaran satuan batupasir vulkanik Semilir daerah
telitian menempati luas 90 % dari seluruh luas daerah telitian. Singkapan pada satuan
ini tersebar dibagian utara, barat dan timur laut daerah telitian.
4.3. Kondisi Bahan Galian
Penyebaran endapan bahan galian di daerah penelitian hampir merata di
seluruh wilayah kavling kelompok II, hal ini berdasarkan pengamatan langsung yang
diperoleh di lapangan dan dari analisa laboratorium tentang penyebaran bahan galian
yang menyimpulkan bahwa di setiap area yang dilewati selalu ditemukan bahan galian
tersebut, walaupun hanya beberapa singkapan (Out Crop) yang ditemui.
Dari hasil perhitungan cadangan endapan batupasir dari bukit Watu Wayang,
maka diperoleh jumlah cadangan sebagai berikut :
38

Jumlah Volume Batupasir : 1.082.518,345 m3


Jumlah Tonase Batupasir : 2.489.792,19 ton

DAFTAR PUSTAKA

39

Agus Haris, Metode Perhitungan Cadangan, Modul Responsi, Dep Teknik


Pertambangan, ITB, Bandung, 2005
Metoda-Metoda Konvensional., Departemen Teknik Pertambangan. Institut Teknologi
Bandung, Bandung.
Suhala, Supriatna., 1997, Bahan Galian Industri, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Mineral, Bandung.
Sukandarrumidi, 1999, Bahan Galian Industri, Gajah Mada University Press,
Bulaksumur, Yogyakarta.
http://bantulkab.go.id/
http://kewilayahan.bantulkab.go.id/rtrw.php?mod=11

40

LAMPIRAN

41

FOTO ANGGOTA KELOMPOK II SAAT MELAKUKAN EKSPLORASI DI LAPANGAN


BUKIT WATU WAYANG PIYUNGAN, 23 DESEMBER 2014

ANGGOTA KELOMPOK :
1. Muhammad Hery Setyawan
2. Enius Murib
3. Risda Nur Aidawati
4. Ryan Yunendra
5. Moh. Agus Sukron
6. Dhian Pradana Putra
7. Joo A. Donato Ximenes
8. Andreas Prabowo Kobogau
9. Michel Anjasmara
10. Arya Dwi Rifandi
11. Dendrocyga Javanica Bias
12. Rendi Kurniawan

( 710012030 )
( 710012113 )
( 710012020 )
( 710012023 )
( 710012013 )
( 710012021 )
( 710012014 )
( 710012032 )
( 710012022 )
( 710012031 )
( 710012015 )
( 710012016 )

42