Anda di halaman 1dari 45

REFERAT

DISASTER VICTIM IDENTIFICATION


1

KEPANITERAAN KLINIK
STASE ILMU KEDOKTERAN FORENSIK KLINIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PERIODE 12 JANUARI 7 FEBRUARI 2015

Periode 12
2

Novi Ervina

I11109009 FK UNTAN
Riyang Pradewa Admawan I11109035 FK UNTAN
Reren Ramanda
I11109049 FK UNTAN
Titi Widya Lestari
I11110015 FK UNTAN
Sri Nowo Minarti
I11110042 FK UNTAN
Umar Syarif Asifa
I11110045 FK UNTAN
Wastri Gusniyani Manik I11110052 FK UNTAN
Rika Pratiwi Rijayanti
I11110059 FK UNTAN
Sulastri
I11110066 FK UNTAN

BAB I
PENDAHULUAN
3

PENDAHULUAN (1)
4

Bumi reliefnya tidak rata.


Permukaan Bumi sekitar 70,8% terdiri dari air.
Bumi terdiri dari 6 benua yaitu:

Benua Asia, Benua Amerika, Benua Afrika, Benua Eropa, Benua


Australia dan Benua Antartika.

Indonesia : terletak di Benua Asia.

Negara kepulauan, terdiri atas:

17.504 pulau
luasnya sebesar 2.027.087 km 2
+ 129 gunung merapi.
kepadatan penduduk tertinggi ke-4 di dunia jumlah penduduk
mencapai lebih dari 210 juta jiwa

PENDAHULUAN (2) 5
Supermarket of Disaster terletak diantara 3 lempeng
BNPB Indonesia melaporkan 1815-2012 +13.458 kasus bencana massal di

Indonesia
potensi bencana meninggal dunia Identifikasi korban sulit peran
DVI
Fase DVI (Interpol DVI Guideline 2014) :
Olah TKP
Post Mortem
Ante Mortem
Rekonsiliasi
DVI 1978 Meledaknya tangki minyak di Spanyol sulit identifikasi
korban
Indonesia DVI Bom Bali 1 tahun 2002
Prinsip DVI mencocokan data post mortem dan ante mortem

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
6

BENCANA
7

Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007

mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau


rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu
kehidupan
dan
penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam
dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda dan dampak psikologis.

Klasifikasi
8

Klasifikasi

UU 24 tahun 2007

1.
2.
3.

Bencana Alam
Bencana non Alam
Bencana Sosial

DVI interpol
Guideline

Open Disaster
Closed Disaster

Bencana Massal
9

Bencana Massal

Medik

25 Orang

Popzacharieva dan
Rao

10 Orang

Hadjiiski

> 10% kapasitas RS

Menkes

Korban relatif
banyak sebab
sama

Sebaran kejadian bencana dan korban meninggal per jenis kejadian


bencana 1815-2014 (Solehudin U. Business Continuity and Disaster
Recovery Plan. Depok: Universitas Indonesia. 2005)
10

Metode Identifikasi
11

Metode sederhana

Metode visual
Pakaian
Perhiasan
Dokumen

Metode ilmiah

Sidik jari
Kedokteran gigi
Antropologi
Serologi
Biomolekuler

Metode Identifikasi
12

Data Primer

Data Sekunder

Sidik jari
Data gigi
DNA

Data medis
Kepemilikan/properti
Fotografi

Disaster Victim Identification (DVI)


13

Disaster

Victim
Identification
(DVI)
atau
identifikasi korban bencana merupakan suatu
prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat
bencana yang dapat dipertanggungjawabkan secara
sah oleh hukum dan ilmiah serta mengacu pada
Interpol DVI Guideline.

Dasar Hukum (1)


14

Pasal 133 ayat 1 KUHAP


Pasal 120 ayat 1 KUHAP
UU No. 2 Pasal 14 Tahun 2002 Kepolisian Negara

Republik Indonesia
UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana
UU No. 36 Tahun 2009 pasal 82 dan 118 tentang
kesehatan

Dasar Hukum (2)


15

Peraturan

Kepala Kepolisian Negara Republik


Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Kedokteran Kepolisian Pasal 8 dan Pasal 9
Resolusi Interpol No. AGN/65/Res/13 tahun 1996
tentang Disaster Victim Identification
Peraturan Pemerintah no. 21 tahun 2008 tentang
penyelenggaraan penanggulangan bencana
MoU Departeman Kesehatan - Polisi Republik
Indonesia Tahun 2003 dan MoU Departeman
Kesehatan - Polisi Republik Indonesia Tahun 2004

Sejarah DVI
16

Ledakan tangki bahan bakar di Spanyol pada tahun 1978 yang memakan
korban hingga 200 jiwa yang berasal dari berbagai negara eropa.
Kesulitan saat mengidentifikasi korban akibat bencana di lokasi dengan
penduduk yang berasal dari berbagai daerah

Interpol

Rapat kerja mengenai


DVI (1982)

Pedoman standar baku Interpol


pertama kali diproduksi tahun 1984

Sejarah DVI
17

Laboratorium Forensik
(Labfor)

Indonesia

Kedokteran kepolisian (Dokpol) 1977


Bagian dari Kepolisian 1984
The 1st Interpol DVI Pacific Rim Meeting tanggal 25 27 Januari
2001 di Makassar
The 2nd Interpol DVI Pacific Rim Meeting tanggal 25-28 Juli
2003 di Denpasar
MoU antara DepKes RI dan POLRI ttg Identifikasi
Korban Mati pada Bencana Massal
29 September 2004 : MoU kedua antara Depkes RI & POLRI
tentang Pedoman Penatalaksanaan Identifikasi Korban Mati
pada Bencana Massal dan terbentuknya Tim DVI Indonesia
Nasional serta pembagian wilayah Regional DVI di Indonesia

Prosedur DVI
18

Fase I Scene

Fase II Post-Mortem

Keluasan TKP.
Perkiraan jumlah korban.
Keadaan mayat.
Evaluasi durasi yang dibutuhkan.
Institusi medikolegal yang mampu merespon

dan membantu proses DVI.


Metode untuk menangani mayat.
Transportasi mayat.
Penyimpanan mayat.
Kerusakan properti yang terjadi.

Dokumentasi korban.
Autopsi.
Pemeriksaan sidik jari.
Pemeriksaan rontgen.
Pemeriksaan odontologi forensik.
Pemeriksaan DNA.
Pemeriksaan antropologi forensik.
Pink form

Prosedur DVI
19

Fase III Ante-Mortem

Fase IV Reconciliation

Pengumpulan data jenazah sebelum

kematian.
yellow form

Pembandingan data post-mortem

dengan data ante-mortem.

TIM DVI
20

Manajemen:
Komandan DVI
Fase 1: koordinasi tempat
Fase 2: koordinasi post mortem
Fase 3: koordinasi ante mortem
Fase 4: koordinasi rekonsiliasi

21

Disiplin utama yang digunakan dalam proses DVI:


Ahli patologi forensik
Ahli odontologi forensilk
Ahli fingerprint
Ahli biologi forensik/ ahli genetik
Ahli antropologi forensik

Disiplin ilmu tambahan yang dapat mendukung proses DVI:


22

Fotografer

Tim manajemen dan

Ahli radiologi

pengumpul bukti
Manajer mayat
Penyidik
Petugas logistik
Petugas penghubung
Petugas orang hilang
Ahli teknologi informasi

Tim interview
Manager properti
Pencatat tempat dan post

mortem
Tim kualitas asuransi (kontrol
kualitas informasi dan data)

PERAN DOKTER DALAM DVI


23

Menentukan manusia atau bukan


Menentukan jenis kelamin
Menentukan umur
Menentukan tinggi badan

Pelatihan
24

Mengembangkan dan menerapkan pelatihan standar

untuk mengikuti praktek-praktek internasional,


pemerataan standar operasional
Pelatihan dan tes kualifikasi menentukan kesiapan
setiap anggota tim DVI
Personil harus melakukan pelatihan dasar DVI
ACPO.

Peralatan
25

Alat Perlindungan Diri

Alat Pelindung Kepala (Headwear)


Alat Pelindung Mata
Alat Pelindung Pernafasan
(Respiratory Protection)
Alat Pelindung Tangan (Hand
Protection)
Baju Pelindung (Body Protection)
Alat Pelindung Kaki (Feet
Protection)
Alat Pelindung Telinga (Ear
Protection)

Peralatan Khusus

Peralatan Standar minimal

untuk kebutuhan operasional


dan suplai yang harus siap.
Peralatan optional untuk
kebutuhan operasional dan
suplai yang harus siap.
Kebutuhan logistik khusus

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Terbuka


Fase Olah Tempat Kejadian Perkara
26

a. Merapi
Waktu: 26 Oktober 2010
Korban: 353 orang tewas.
Lokasi : Yogyakarta dan Jawa
Tengah
b. Bom Bali 1
Waktu: 12 Oktober 2002.
Lokasi :Paddy's Pub dan Sari
Club (SC) Legian, Kuta, Bali,
sedangkan ledakan terakhir
terjadi di dekat Kantor
Konsulat Amerika Serikat.

c. Tsunami Aceh
Waktu: Minggu pagi, 26 Desember 2004.
Korban: 500.000 nyawa melayang
Banda Aceh: 50% bangunan rusak.
d. Longsor Banjarnegara
Waktu: 12 Desember 2014 pukul 17.00 WIB
Lokasi: longsor di Dusun Jemblung, Desa
Sampang,
Kecamatan
Karangkobar,
Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa
Tengah.
Tim evakuasi: Tim SAR merupakan
gabungan dari BPBD, BNPB, TNI, Polri,
Basarnas, PMI, Tagana, relawan dan
masyarakat masih mencari korban.
Lokasi pencarian dua sektor: sektor bawah
dan sektor atas

27

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Terbuka


Fase Post Mortem
28

Bom Bali 1

Letusan Gunung Merapi


Posko Post Mortem: RS dr

Sardjito Yogyakarta.
Kegiatan Pos Mortem:

Pencatatan soal rambut, tinggi


badan, ciri fisik, luka, dan
pemeriksaan lainnya.

Identifikasi: Tanggal 13 Oktober

2002 Di Rumah Sakit Sanglah,


Denpasar, Bali.
Kegiatan Post Mortem:

Dengan Mengenali Kepemilikan


Korban, Pakaian, Kartu Identitas
Serta Perhiasan Yang Melekat
Pada Korban Bencana.
Pemeriksaan Lanjutan: Sidik Jari,
Data Gigi, Serologi Dan DNA.

Fase Post Mortem


29

Tsunami Aceh
Post mortem : metode visual

sederhana dalam beberapa hari


pertama.
berhasil mengidentifikasi lebih
dari 500 korban menggunakan
barang pribadi seperti kartu
identitas perhiasan dan bahkan
menggunakan
kartu
SIM
telepon seluler.

Longsor Banjarnegara
Posko

Post Mortem: Dukuh


Jemblung,
Desa
Sampang,
Kecamatan
Karangkobar,
Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah.
mengidentifikasi Jenazah: mulai
dari pencatatan soal rambut,
tinggi badan, ciri fisik, luka, dan
pemeriksaan lainnya.
Langkah terakhir dilakukan tes
DNA.

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Terbuka


Fase Antemortem
30

Bom Bali I

Longsor Banjarnegara

Posko penanganan bencana


dilakukan di posko utama
evakuasi yang terdapat di
Desa Sampang yang terdiri
atas pos postmortem dan
pos antemortem

Tim identifikasi dibentuk dan terdiri


atas Kepolisian Negara Republik
Indonesia, Polisi Federal Australia,
Interpol Australia, ahli forensik dan
para sukarelawan.
Posko antemortem di RSUP Sanglah
Korban WNA, terutama asal Australia
data antemortem lebih cepat
terkumpul (+10 hari)
Korban WNI pengumpulan data
lebih lambat dan data gigi geligi
korban sebagian besar tidak ada

Fase Antemortem
31

Tsunami Aceh

Posko antemortem : berbagai


tempat (tidak fokus di satu
tempat)
Kesulitan dalam pengumpulan
data antemortem korban secara
lengkap
Data rekam medis, data gigi
geligi, dan kartu identitas
korban sebagian besar hilang
sebagian data antemortem
korban diperoleh berdasarkan
kesaksian orang terdekat korban

Letusan Gunung Merapi

Posko ante mortem: RS Dr.

Sardjito Yogyakarta
Tim Identifikasi : Tim Forensik
RS Sardjito dan Tim DVI Polda
Yogyakarta
Data diperoleh dari keluarga
dan diperoleh 233 laporan
orang hilang

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Terbuka


Fase Rekonsiliasi
32

Letusan Gunung Merapi


353 orang tewas.
Proses

identifikasi,
rekonsiliasinya berpusat
di RSUP Dr Sardjito,
Yogyakarta.

Bom Bali I
164 orang warga asing dari 24

negara, 38 orang lainnya


warga Indonesia,
Proses identifikasi dari korban
dilakukan oleh tim DVI
dengan institusi lain
113 orang atau 56,5 persen
dari 202 korban meninggal
dunia pada kasus bom Bali
2002, berhasil diidentifikasi
melalui gigi.

Fase Rekonsiliasi
33

Tsunami Aceh

Longsor Banjarnegara

Korban mencapai 167,000

jiwa,
Tim rekonsiliasi DVI yang
terdiri dari Indonesia dan
negara-negara
lain
dengan
segera
membandingkan
data
post mortem dan ante
mortem

Proses identifikasi jenazah

dilakukan dengan keluarga


yang mengaku kehilangan
anggota
keluarganya
melihat langsung korban
disertai dengan ciri-ciri
lainnya.

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Tertutup


Fase Olah TKP
34

a. AirAsia
Hilang dalam penerbangan Surabaya Singapura tanggal
28 Desember 2014, membawa 155 orang penumpang dan 7
awak pesawat.
Wilayah pencarian di bagi menjadi 7 area diperluas
menjadi 13 area.
Hari ketiga menemukan serpihan dan beberapa jenazah
di daerah selat Karimata dan di bawa ke RSUD
Imanuddin Pangkalan Bun Sampai tanggal 23 januari
2015: 59 jenazah yang ditemukan
Kompol Edi Hasibuan dan AKBP Hastry : menangani
proses identifikasi
awal jenazah yang kebanyakan
kondisinya
sudah
tidak
utuh
lagi.

Area Pencarian AirAsia QZ8501


35

Fase Olah TKP


36

b. Pesawat Sukhoi Gunung Salak


Kecelakaan Sukhoi Superjet 100: Gunung Salak terjadi pada
9 Mei 2012 membawa 37 orang penumpang, 6 orang awak
kabin, dan 2 orang perwakilan dari Sukhoi.
Tanggal 10 mei, pesawat Sukhoi di ketemukan di Gunung
Salah pada ketinggian 1.500 meter.
Tim DVI di bagi dalam tiga kelompok di antaranya di Halim
Perdanakusuma untuk antemortem, dilokasi jatuhnya
pesawat dan RS Polri.
Tanggal 18 Mei 2012 evakuasi korban pesawat Sukhoi
dihentikan , tetapi masih tetap mencari FDR untuk
kepentingan penyelidikan penyebab kecelakaan.

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Tertutup


Fase Post Mortem
37

a. AirAsia
Dilakukan oleh tim DVI POLRI di Rumah Sakit

Bhayangkara, Polda Jawa Timur, Surabaya dekat


dengan keluarga korban, sehingga dapat mempermudah
Tim DVI untuk mengumpulkan data dan mencocokkan
data.
Fase post-mortem berlangsung bersamaan dengan fase
pertama dan fase ketiga.

38

o
o

o
o

Jenazah pertama berhasil diidentifikasi pada tanggal 1


Januari 2015
Data primer sidik jari jenazah
Identitas khusus adanya jaringan parut post operasi
sectio caesaria, properti milik jenazah seperti ID card
dengan nama jenazah yang bersangkutan, kalung dengan
inisial nama jenazah yang bersangkutan, serta gelang
Data sekunder telah dikonfirmasi oleh keluarga jenazah.
Pemeriksaan DNA kondisi jenazah yang sulit
diidentifikasi menggunakan sidik jari.

Fase Post Mortem


39

b. Pesawat Sukhoi Gunung Salak


Dilakukan di Rumah Sakit POLRI, Kramat Jati, Jakarta.
Tim post-mortem mulai aktif bekerja pada 11 Mei setelah

tim Basarnas mengevakuasi jenasah dari lokasi jatuhnya


pesawat.
Kondisi jenazah korban kecelakaan pesawat Sukhoi
Superjet 100 hancur berkeping-keping. Tidak ada jenazah
yang utuh, semuanya hangus dan hancur berkepingkeping.

40

Tim DVI dibagi enam kelompok.


Tiap kelompok menerima satu atau dua kantong mayat. Isi kantong

ditebar di meja dan dicermati oleh tim gabungan forensik polisi dan
militer, kedokteran forensik, patologi forensik, dan odontologi
forensik
Data post-mortem yang dikumpulkan adalah DNA, rekam gigi,
tanda-tanda medik, dan properti. Selain itu dilakukan pengamatan
potongan tubuh, termasuk membersihkan belatung, tanah dan
lumpur yang menyatu dengan kerangka tulang tubuh korban
Tahap I: probable match, yaitu kemungkinan dikenalinya bagian
tubuh jenazah korban berdasarkan atribut yang digunakannya.
Tahap 2: adalah possible match, yaitu dikenalinya bagian tubuh
jenazah korban berdasarkan kecocokan data ante-mortem dengan
post-mortem.

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Tertutup


Fase Ante Mortem
41

a. AirAsia
Posko pengumpulan data antemortem

Di samping crisis center Bandara Juanda Sidoarjo, Surabaya


RS. Bhayangkara H.S.Samsoeri Mertojoso, Surabaya

Data antemortem yang dikumpulkan

data orang seperti rekam medis, sidik jari, DNA, termasuk ciriciri seperti tahi lalat, tato dan tanda-tanda khusus di tubuh
lainnya

Fase Ante Mortem


42

b. Pesawat Sukhoi - di Gunung Salak


Posko pengumpulan data antemortem

Ruang kedatangan Lanud Halim Perdana Kusuma


RS. Bhayangkara Said Sukanto

Data antemortem yang dikumpulkan

sidik jari, rekam medik dokter gigi, rekam medik apabila yang
bersangkutan pernah dioperasi, dan foto rontgen dan properti
yang digunakan.

Peranan DVI Dalam Penanganan Bencana Tertutup


Fase Rekonsiliasi
43

a. AirAsia
Saat ini Tim DVI menemui kesulitan dalam proses

identifikasi korban karena proses pembusukan jenazah


menyulitkan pengidentifikasian jenazah
47 Korban AirAsia telah berhasil diidentifikasi dengan
menggabungkan data ante mortem dan post mortem (22
Januari 2015)

44

b. Pesawat Sukhoi - di Gunung Salak


Tim DVI menyatakan telah mengidentifikasi 45 korban
31 laki-laki dan 14 perempuan
Hasilnya sama persis dengan daftar manifestasi
penumpang yang dirilis oleh Kepolisian.
Proses ini memakan waktu selama 12 hari.

TERIMA KASIH
45