Anda di halaman 1dari 38

WASTRI GUSNIYANI MANIK

I11110052

DOSEN PEMBIMBING : DR.HENDRO YULIEANTO, MS, SP.


AN, SP. KP
KEPANITERAAN KLINIK STASE ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNTAN
RUMAH SAKIT TK. III DR. M. SUTOMO
PERIODE 01 JUNI 27 JUNI 2015

IDENTITAS
Nama
: Ny. R
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 28 tahun
Pekerjaan
: Dokter Gigi
Agama
: Islam
Alamat
: komp. Angkasa 1 no II
Jenis Pembiayaan
: BPJS

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Persalinan lama
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang 10 jam SMRS dengan keluhan perut
mules dan kaki bengkak dengan mulai merasakan
kontraksi sejak 19 jam SMRS. Ketuban telah pecah,
namun tidak terdapat tanda-tanda bayi akan keluar.
Pembukaan kira-kira 5-6 cm saat pasien dibawa di RS
M.Sutomo. Nyeri perut bagian bawah (+), mual (-),
muntah (-), sakit kepala (-), pandangan kabur (-), sesak
nafas (-), bengkak pada wajah dan anggota gerak
bawah (-). Pasien saat ini hamil anak pertama. Riwayat
kontrol selama kehamilan rutin sebulan sekali.

Riwayat Penyakit Dahulu


G1P0A0
Riwayat

diabetes mellitus dan hipertensi disangkal

AMPLE
Alergic
: obat (-), makanan (-)
Medication : (-)
Past Illness : (-)
Last Meal
: Pukul o3.30, pasien dipuasakan
6 jam sebelum operasi
Environment
: pasien merupakan perokok
pasif

PEMERIKSAAN FISIK
Breath (B1) : Jalan napas bebas, tidak memakai gigi
palsu, pembukaan mulut 3 jari, Mallampati 1, RR 18
kali/menit, sifat abdominothorakal, suara napas
dasar vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Blood : TD: 110/80 mmHg; Nadi : 88/menit, teraba
kuat, reguler, isi cukup; Perfusi: merah kering
hangat; CRT: <2; T : 36,40C
Brain : GCS: 15
Bladder : Produksi urin lancar, tidak terpasang
kateter
Bowel : Tidak ada kelainan
Bone : ROM bebas

Berat Badan = 67 kg
Pemeriksaan Leopold
I : Tinggi Fundus Uteri = 35 cm, letak bokong
II : Punggung kanan
III : Presentasi kepala
IV : Konvergen

Laboratorium (Hematologi)
Hemoglobin

= 12,1 gr%
Jumlah leukosit
= 16.800/mm3
Jumlah eritrosit
= 3,65/juta
Jumlah trombosit = 204.000/mm3
Hematokrit
= 34 %
Waktu pembekuan
= 530
Waktu pendarahan
= 330

Diagnosis Pra Bedah


G1P0A0

hamil aterm 38 minggu + partus tidak maju

RENCANA OPERASI
Operator

: dr. Tri Wahyudi, Sp. OG


Jenis Pembedahan
: Sectio Caesarea
Waktu Pembedahan
: 18 Juni 2015, Pkl.12.00

RENCANA ANESTESI
Anestesi

: Regional Anestesi teknik spinal


Status PS ASA
: PS ASA 2, cito SC: Obstetri

PERSIAPAN PRE ANESTESI


Informed

consent
Pasien dipuasakan 6 jam sebelum
operasi
Infus dengan cairan Ringer Dextrose 45
tetes/menit
Perhitungan

cairan

Kebutuhan cairan pengganti puasa

= 2 x 67 x 6

= 804 ml
= 2 kolf

= 2 ml/kgBB x lama puasa

Tetes per menit

= 45 tpm

Hitung jenis cairan


Kebutuhan Na per hari = 2 4 mEq/kgBB = 2 4
x 67 = 134 268 mEq
Kebutuhan cairan per hari = 30 ml/kgBB = 30x67
= 2010 ml/24 jam
= 4 colf
Jenis cairan : Ringer Dextrose
Na : 130 mEq 1 kolf : 65 mEq
: 65 x 4 = 260 mEq

Obat-obatan : Bupivakain, Midazolam, Tramadol,


Ketorolac, dan Ondansetron
Maintenance
: Bupivakain
Monitoring : tanda-tanda vital dan perdarahan
Perawatan pasca anestesi di ruang pemulihan

TATALAKSANA ANESTESI

Persiapan Pasien di Ruang Persiapan


Pasien

masuk ke ruang persiapan operasi


Pemeriksaan kembali : identitas pasien, persetujuan
operasi, dan lama puasa 6 jam
Pastikan pasien telah terpasang infus, meminta
pasien memakai pakaian operasi dan mengajak
pasien untuk berdoa sebelum operasi

Persiapan Alat dan Obat Anestesi Spinal


Mempersiapkan

alat dan bahan berupa monitor


pulse oxymetry, alat resusitasi, spuit 5 cc, kassa,
povidone iodine, handscoon steril, jarum QuinckeBabcock 27 G, Ringer Laktat
Mempersiapkan obat obatan seperti Bupivakain,
Midazolam, Tramadol, Ketorolac, dan Ondansetron

Premedikasi
Pasien masuk ke ruang operasi, manset dan
indikator saturasi oksigen dipasang serta
monitor menyala, kemudian injeksikan
midazolam 0,1 mg/kgBB setelah pasien diberikan
injeksi Bupivakain.

Maintenance
Pasien

diminta untuk duduk dan memeluk bantal


Beri tanda pada perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua
garis Krista iliaka, yaitu pada L4-L5.
Sterilkan tempat tusukan dengan povidone iodine.
Tusuk jarum spinal 27G secara median. Setelah resistensi menghilang,
mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi
obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5ml/detik) diselingi
aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik.
Pasien kembali dibaringkan dan lakukan pengujian efek anestesi spinal
pada pasien. Tanyakan kepada pasien apakah pasien merasakan baal
mulai dari perut bagian bawah sampai ke ujung kaki. Kemudian minta
pasien untuk mengangkat kedua kakinya. Jika pasien sudah merasa baal
dan pasien tidak dapat mengangkat kakinya maka anestesi spinal sudah
mulai bekerja dan pembedahan dapat dimulai.
Berikan oksigen sebanyak 3 lpm pada pasien dengan menggunakan kanul
oksigen.
Selama proses pembedahan, monitor keadaan pasien, mulai dari tekanan
darah, nadi, saturasi oksigen, dan keadaan umum pasien.

Medikasi

Jam

Obat

Dosis

12.20

Bupivakain

15 mg

11.23

Midazolam

5,4 mg

11.40

Ondansetron

4 mg

11.48

Tramadol

100 mg

11.48

Ketorolac

30 mg

Monitoring selama anestesi


Jam

Tekanan

Nadi

Sa02

11.15

120/80

60

98

11.20

120/80

60

99

11.25

120/80

70

99

11.30

110/70

40

97

11.35

110/70

50

97

11.40

140/100

60

93

11.45

120/80

50

98

11.50

120/80

40

99

Grafik Monitoring Durante Op


160
140
120
100
80
60
40
20
0

Sistol
Diastol
Nadi
Sa02

Akhir Anestesi
Sesaat

sebelum operasi selesai, pasien diberikan


tramadol dan ketorolac IV drip.
Membangunkan pasien dan memastikan pasien
tidak mengalami kesulitan dalam bernapas

Instruksi Post OP di Ruangan


Posisi

terlentang, tirah baring 24 jam


Kontrol tanda-tanda vital
Pasien diinfus dengan Ringer Laktat 20 tetes per
menit
Puasa hingga motorik pasien mulai berfungsi dengan
baik, bila sudah dapat menggerakkan ekstremitas
pasien dibolehkan minum air sedikit demi sedikit
sampai bising usus (+) normal, bila bising usus (+)
dapat diberikan makanan lunak.

PEMERIKSAAN POST OP
Hari

Ke- 0
(20/3/2015)

Nyeri pada
bagian operasi
Kedua kaki
masih terasa
berat, pasien
belum bisa
mengangkat
kaki kanan dan
kaki kiri tetapi
sudah bisa
menggeser kaki
ke kanan dan
ke kiri
Nyeri otot,
demam, mual,
muntah (-)

TD: 110/80 mmHg

Post Sectio

Nadi: 76x/menit

Caesarea H+0

sampai besok

Napas:18 x/menit
Suhu: 36,80C

jam 11.00 WIB

VAS 12345678910
Status Lokalis :

ml (pukul 21.00)

Cefotaxime 2 x
1 gr IV

kassa perban
Kateter urin: 250

Ringer Laktat
20 tpm

regio abdomen
bawah dibalut oleh

Tirah baring

Tramadol 3 x
100 mg IV

Ranitidin 2 x
50 mg IV

PEMERIKSAAN POST OP
Hari

Ke- 1
(21/3/2015)

Nyeri pada
bagian operasi
Sudah bisa
miring ke
kanan dan ke
kiri
Sudah bisa
duduk
Nyeri otot,
demam, mual,
muntah (-)

TD: 110/80 mmHg

Post Sectio

Nadi: 80x/menit

Caesarea H+1

Napas:20 x/menit

20 tpm

Suhu: 36,40C
VAS 12345678910

Ringer Laktat
Ciprofloxacin
3 x 500 mg PO

Asam

Status Lokalis :

mefenamat 3 x

regio abdomen

500 mg PO

bawah dibalut oleh


kassa perban
Kateter urin:
1000 ml (pukul
10.30)

PEMERIKSAAN POST OP
Hari

Ke- 2

Nyeri pada
bagian operasi
Sudah bisa
berjalan
Nyeri otot,
demam, mual,
muntah (-)

TD: 110/80 mmHg

Post Sectio

Nadi: 84x/menit

Caesarea H+2

Napas:20 x/menit

Ciprofloxacin
3 x 500 mg PO

Asam

Suhu: 36,50C

mefenamat 3 x

VAS 12345678910

500 mg PO

Status Lokalis :

regio abdomen
bawah dibalut oleh
kassa perban

Lepas kateter
urin

Pasien boleh
pulang

TERAPI CAIRAN
Selain

obat-obatan, terapi cairan juga diberikan secara tepat untuk


mengoreksi kehilangan darah selama operasi.

cairan karena puasa 6 jam 2 x 67 x 6 = 804 ml


Kebutuhan cairan selama operasi sedang selama 1 jam = kebutuhan dasar selama
operasi + kebutuhan operasi sedang (2 x 67 x 1) + (6 ml x 67 x 1) = 134 ml + 402 ml =
536 ml
Perdarahan yang terjadi kira-kira 1200 ml
Defisit

EBV

= 65 ml x 67 = 4355 ml
Darah yang hilang = 850/4355 x 100% = 19,51% EBV
Maka: 435,5 ml (10%) = kristaloid substitusi (871 1740 ml)
435,5 ml (10% kedua) = koloid (435,5 ml)
Kebutuhan

cairan total = 804 + 536 + (871 1740) + 435,5= 2646,5 3515,5 ml


Cairan yang sudah diberikan

Pra

anestesi = 500 ml
Saat operasi = 1000 ml
Total

Jadi

cairan yang masuk = 1500 ml

kekurangan cairan sebesar 1146,5-2015,5ml maka penambahan cairan


masih diperlukan saat pasien dibangsal ditambah kebutuhan cairan per hari
selama 24 jam.

Terapi

cairan pasca bedah

Memenuhi kebutuhan air, elektrolit nutrisi


Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah (cairan lambung, febris)
Melanjutkan penggantian defisit pre operatif dan durante operatif
Koreksi gangguan keseimbangan karena terapi cairan
Kebutuhan cairan pasien post operasi 50ml/kgBB/24 jam (BB = 54 kg)

50 ml x 67 kg = 3350ml/24 jam

Kebutuhan elektrolit anak dan dewasa

Na+ = 2 - 4 mEq / kgBB


= (2 x 67) (4 x 67) = 134 268 mEq
K+ = 1 2 mEq / kgBB
= (1 x 67) (2 x 67) = 67 134 mEq

Kebutuhan Kalori Basal

Dewasa = 67 x 20-30
= (67 x 20) (67 x 30)
= 1340 2010 kkal

PEMBAHASAN

Partus
tak maju

INDIKASI

SECTIO
CAESAREA

ANESTE
SI
SPINAL

Anestesi obstetri
Sesuaikan

dengan keadaan umum pasien, jenis dan


lamanya pembedahan
Metode anestesi sebaiknya seminimal mungkin
mendepresi janin, sifat analgesi cukup kuat, tidak
menyebabkan trauma psikis terhadap ibu dan bayi,
toksisitas rendah, aman, nyaman, relaksasi otot
tercapai tanpa relaksasi rahim dan memungkinkan
ahli obstetri bekerja optimal.
Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan
anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid, psda
L2-3, L3-4, dan L4-5

Pengaruh langsung analgetika lokal terhadap


bayi tergantung pada teknik, dosis yang
diberikan dan macam zat analgetika yang
digunakan.
Anastesi

spinal, efeknya tidak ada, karena pada


teknik ini dosis yang dipakai sangat kecil.
Daya tiap zat analgetika lokal menembus sawar
plasenta berbeda-beda tergantung keterikatan
dengan protein plasma
Mepivakain memiliki efek terhadap janin yang lebih
kuat dibanding dengan Bupivakain

Terapi cairan
Selama

puasa, diberikan cairan pengganti puasa


Ringer Dextrose 45 tpm sesuai dengan perhitungan
kebutuhan cairan pengganti puasa dan kebutuhan
Na per hari pasien
Dextrose 5% digunakan sebagai penambah kalori
pada pasien puasa
Selama pembedahan, pasien diberikan cairan Ringer
Laktat setelah Ringer Dextrose habis yang bertujuan
sebagai cairan pengganti (replacement) dan bersifat
isotonis.

Monitoring terhadap tekanan darah, nadi, dan


saturasi oksigen dilakukan setiap 5 menit.
Sesaat sebelum pembedahan selesai

Diberikan

ketorolac dan tramadol IV drip sebagai


analgesia post operasi
Ketorolac adalah golongan NSAID (Non steroidal
anti-inflammatory drug) yang bekerja menghambat
sintesis prostaglandin mengatasi nyeri akut
jangka pendek post operasi, dengan durasi kerja 6
8 jam
Tramadol adalah analgetik sentral dengan afinitas
rendah pada reseptor dengan durasi kerja 4 6
jam.

Selama monitoring post operasi, ditemukan


bahwa efek anestesi spinal masih dirasakan
selama 24 jam pertama, pasien kesulitan untuk
mengangkat kedua kaki
Keluhan

berkurang pada H+1 post op, pasien sudah


dapat duduk dan pada H+2 post op pasien sudah
dapat berjalan

Untuk mencegah terjadinya infeksi post partum,


diberikan antibiotik cefotaxime 2x I gr IV pada
hari ke 0 dan dilanjutkan dengan ciprofloxacin
3 x 500 mg PO untuk hari hari berikutnya

KESIMPULAN

Pada kasus ini, G5P3A1 hamil 38 minggu,


placenta previa dengan presentasi kepala,
digunakan anestesi spinal dengan jarum 27 G
dengan obat obatan anestesi yang sesuai.
Premedikasi yang diberikan adalah midazolam
untuk memberikan efek sedasi, anestesi rumatan
dengan bupivakain 20 mg, diberikan ondansetron
selama operasi untuk mengurangi keluhan mual
pasien, dan diberikan ketorolac serta tramadol
sebagai analgesia setelah operasi.

TERIMA KASIH