Anda di halaman 1dari 7

Akar dan Definisi Modal Sosial

Muasal teori modal sosial pertama kali sesungguhnya dipicu oleh tulisan Pierre
Bourdieu yang dipublikasikan pada akhir tahun 1970-an. Judul tulisan Bourdieu
tersebut antara lain adalah Le Capital Social: Notes Provisoires , yang diterbitkan
dalam Actes de la Recherche en Sciences Sociales (1980). Namun, karena publikasi
tersebut dilakukan dalam bahasa Perancis, membuat tidak banyak ilmuwan sosial
(khususnya sosiologi dan ekonomi) yang menaruh perhatian. Setelah James S.
Coleman mempublikasikan topik yang sama pada tahun 1993, barulah para
intelektual mengunduh tema tersebut sebagai salah satu santapan penting yang
mempertemukan antardisiplin ilmu. Akhirnya, hingga saat ini, banyak pihak yang
berkeyakinan bahwa Coleman merupakan ilmuwan pertama yang memperkenalkan
konsep modal sosial, seperti yang ia tulis dalam jurnal American Journal of
Sociology yang berjudul Social Capital in the Creation of Human Capital (1988).
Lepas dari misinformasi tersebut, topik modal sosial memang sangat wajar
mendapatkan atensi yang besar dari para pemikir sosial karena cakupan dan
relevansinya yang kasat mata. Bahkan, Poldan menyebut modal sosial sangat dekat
untuk menjadi konsep gabungan bagi seluruh disiplin ilmu sosial (close to becoming
a joint concept for all social sciences). Berbeda dengan dua modal lainnya yang lebih
dulu popoler dalam bidang ilmu sosial, yakni modal ekonomi (economic/financial
capital) dan modal manusia (human capital), modal sosial baru eksis bila ia
berinteraksi dengan struktur sosial. Sifat ini jelas berbeda dengan dua modal
sebelumnya, yakni modal ekonomi dan manusia. Dengan modal ekonomi yang
dimiliki seseorang/perusahaan bisa melakukan kegiatan (ekonomi) tanpa harus
terpengaruh dengan struktur sosial, demikian pula halnya dengan modal manusia.
Hal inilah yang menyebabkan Coleman mendefinisikan modal sosial berdasarkan
fungsinya. Menurutnya, modal sosial bukanlah entitas tunggal, tetapi entitas
majemuk yang mengandung dua elemen: (i) modal sosial mencakup beberapa aspek
dari struktur sosial; dan (ii) modal sosial memfasilitasi tindakan tertentu dari pelaku
(aktor) baik individu maupun perusahaan- di dalam struktur tersebut (within the
structure). Dari perspektif ini, sama halnya dengan modal lainnya, modal sosial juga

bersifat produktif, yakni membuat pencapaian tujuan tertentu yang tidak mungkin
diraih

bila

keberadaannya

tidak

eksis.

Selanjutnya, Baker mendefinisikan modal sosial sebagai sumberdaya yang diraih


oleh pelakunya melalui struktur sosial yang spesifik dan kemudian digunakan untuk
memburu kepentingannya; modal sosial tersebut diciptakan lewat perubahanperubahan dalam hubungan antarpelakunya. Sedangkan Schiff mengartikan modal
sosial sebagai seperangkat elemen dari struktur sosial yang memengaruhi relasi
antarmanusia dan sekaligus sebagai input atau argumen bagi fungsi produksi
dan/atau manfaat (utility). Selain itu, Burt memaknai modal sosial sebagai teman,
kolega, dan lebih umum kontak lewat siapa pun yang membuka peluang bagi
pemanfaaat modal ekonomi dan manusia . Demikian pula dengan Uphoff yang
menyatakan bahwa modal sosial dapat ditentukan sebagai akumulasi dari beragam
tipe dari aspek sosial, psikologi, budaya, kelembagaan, dan aset yang tidak terlihat
(intangible) yang memengaruhi perilaku kerjasama. Sementara itu, Putnam
mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran organisasi sosial, seperti jaringan,
norma, dan kepercayaan sosial, yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama yang
saling menguntungkan . Seluruh definisi tersebut berujung dalam satu hal saja,
bahwa modal sosial baru terasa bila telah terjadi interaksi dengan orang lain yang
dipandu

oleh

struktur

sosial.

Melalui serangkaian pengertian tersebut, akhirnya terdapat sebuah aporisme terkenal


yang menyatakan bahwa modal sosial bukanlah masalah apa yang anda ketahui,
tetapi siapa yang anda kenal (its not what you know, its who you know that matters).
Dengan dasar tersebut, modal sosial bisa merujuk kepada norma atau jaringan yang
memungkinkan orang untuk melakukan tindakan kolektif. Implikasinya, makna
tersebut lebih memfokuskan kepada sumber (sources) daripada konsekuensi atas
modal sosial, sementara pentingnya deskripsi tentang modal sosial, seperti
kepercayaan dan hubungan timbal-balik, dikembangkan dalam sebuah proses yang
terus-menerus. Di luar itu, definisi ini juga mengijinkan adanya penyatuan
(incorporation) dimensi-dimensi yang berbeda dari modal sosial dan mengakui
bahwa komunitas bisa memiliki akses yang lebih luas atau kecil. Terakhir, meskipun
definisi ini melihat komunitas sebagai unit analisis utama (ketimbang individu,
rumah tangga, atau negara), namun tetap mengakui bahwa individu dan rumah

tangga (sebagai anggota dari komunitas) merupakan pelaku dari modal sosial dan
komunitas sendiri dibentuk sebagai bagian dari relasinya dengan negara. Realitas ini
menguatkan proposisi yang sudah diterangkan di muka, bahwa jaringan dan norma
merupakan unsur penting dalam formulasi modal sosial sehingga eksistensinya
sangat

dibutuhkan.

Coleman menyebut setidaknya terdapat tiga bentuk dari modal sosial. Pertama,
struktur kewajiban (obligations), ekspektasi, dan kepercayaan. Dalam konteks ini,
bentuk modal sosial tergantung dari dua elemen kunci: kepercayaan dari lingkungan
sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi (obligation held).
Dari perspektif ini, individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling
kepercayaan tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situasi
sebaliknya. Kedua, jaringan informasi (information channels). Informasi sangatlah
penting sebagai basis tindakan. Tetapi harus disadari bahwa informasi itu mahal,
tidak gratis. Pada level yang paling minimum, di mana ini perlu mendapatkan
perhatian, informasi selalu terbatas. Tentu saja, individu yang memiliki jaringan lebih
luas akan lebih mudah (dan murah) untuk memperoleh informasi, sehingga bisa
dikatakan modal sosialnya tinggi; demikian pula sebaliknya. Ketiga, norma dan
sanksi yang efektif (norms and effective sanctions). Norma dalam sebuah komunitas
yang mendukung individu untuk memperoleh prestasi (achievement) tentu saja bisa
digolongkan sebagai bentuk modal sosial yang sangat penting. Contoh lainnya,
norma yang berlaku secara kuat dan efektif dalam sebuah komunitas yang bisa
memengaruhi orang-orang muda, mempunyai potensi untuk mendidik generasi muda
tersebut memanfaatkan waktu sebaik-baiknya (having a good time).
Seluruh uraian tersebut membawa kepada satu nuansa, bahwa secara umum modal
sosial bisa didekati dari dua perspektif. Pertama mengkaji modal sosial dari
perspektif pelaku (actorsperspektive) yang diformulasikan oleh Bourdieu yang
melihat modal sosial berisi sumber daya dimana pelaku individu dapat
menggunkannya karena kepemilikannya terhadap jaringan secara eksklusif
(exclusive networks). Yang kedua mencermati modal sosial dari perspektif
masyarakat yang dikonseptualisasikan pleh Putnam, yang melihat modal sosial
sebagai barang publik yag diatur oleh organisasi dan jaringan horizontal yang eksis
dalam masyarakat.

Modal Sosial : Empat Perspektif


Aliran Informasi = Individu yang tidak memiliki posisi yang strategis, dipastikan
tidak memiliki keuntungan, karena dengan informasi ditangan, bisa mengurangi
biaya transaksi untuk melakukan kegiatan ekonomi.
Aliran Pengaruh = Ikatan sosial bisa mempengaruhi dalam pengambilan keputusan
(penggajian Atau promosi).
Aliran Kepercayaan Sosial = Ikatan sosial mungkin diberikan oleh organisasi/pelaku
sebagai sertifikasi kepercayaan sosial individu, yakni sesuatu yang merefleksikan
aksesibilitas individu thd sumberdaya lewat jaringan dan relasi yang dipunyai.
Penguatan Kembali = Hubungan sosial diekspetasikan dapat memperkuat kembali
identitas dan pengakuan, penguatan kembali sangat esensial bagi pemeliharaan
kesehatan mental dan pembagia sumberdaya.
Deskripsi di atas bisa diperjelas dengan

uraian

berikut,

bahwa

dalam

operasionalisasinya modal sosial yang dilihat menurut fungsinya mengandaikan


memiliki aspek struktur dan kognisi. Jika dipilah dalam tiga penampakan, maka
didapatkan sebuah operasionalisasi modal sosial sebagai berikut :
Struktur

Kognisi

Sumber

Peran dan aturan, Jaringan dan Norma-norma,

pengejawantahan

hubungan

interpersonal

nilai-

dengan nilai,perilaku,keyakinan

pihak lain,prosedur dan kejadian


Cakupan (domains)

Organisasi sosial

Budaya sipil (civil culture)

Faktor dinamis

Ketertarikan horizontal,ketertarikan Kepercayaan,


vertikal

Elemen bersama

Ekspetasi

solidaritas,

kerjasama, kedermawanan
yang

mengarahkan

kepada perilaku kerjasama yang


saling menguntungkan
Selanjutnya, modal sosial sebagai jembatan bermakna tanpa adanya kelemahan
ikatan antar komunitas seperti keberagaman sosial yang dipacu oleh perbedaan
agama, klas, etnisitas, jender, dan status sosial ekonomi, ikatan horizontal yang kuat
dapat menjadi basis bagi kepentingan sektarian yang sempit. Dengan begitu,
pandangan jejaring ini bisa dkarakteristikan dalam dua proporsi yaitu modal sosial

adalh pedang berisi dua maksudnya, modal sosial dapat menyediakan layananlayanan yang bermanfaat bagi anggota komunitas tetapi juga ongkos yang mungkin
keluar akibat ikatan yang sama melakukan klaim non ekonomisterhadap anggota
komunitas dalam hal kewajiban dan komitmen yang dapat menimbulkan konsekuensi
ekonomi negatif. Dan sumber-sumber modal sosial perlu dipisahkan dari dari
konsekuensi-konsekuensi yang mudah muncul dari kemungkinan negatif. Artinya,
pencapaian modal yang diinginkan bisa jadi mengabaikan kemungkinan bahwa hasil
tersebut diperoleh dengan jalan membebani kelompoklainnya sehingga sebetulnya
pencapaian tersebut tidak optimal , atau hasil yang diinginkan saat ini sebenarnya
akan menimbulkan biaya dikemudian hari. Dalam level yang lebih makro, jembatan
sosial dapat dikaitkan dengan tata kelola yang menghasilkan pencapaian ekonomi.
Empat perspektif modal sosial antara lain :
Perspektif

Pelaku

Preskripsi kebijakan

Perspektif komunitarian
Asosiasi lokal

Kelompok komunitas

Kecil itu indah, mengidentifikasi


aset sosial kaum miskin

Perspektif jaringan
Wirausahawan,
Desentrialisasi, menciptakan zona
Ikatan dan jembatan,
kelompok
bisnis, usaha, menjembatani pemisah
ikatan komunitas
perantara informasi
sosial
Perspektif kelembagaan
Sektor privat dan publik
Kelembagaan politik dan

Desain kebebasan sipil dan politik

hukum
Perspektif sinergi
Kelompok
komunitas, Produksi bersama, partisipapsi
Jaringan komunitas dan
masyarakat
sipil, komplementaritas,keterkaitan dan
relasi negara masyarakat
perusahaan dan negara
penguatan
kapasitasdan
skala
organisasi lokal

Modal Sosial : Implikasi Negatif


Meskipun konsep modal sosial diakui eksistensinya dan relevansinya dalam dataran
teoritis maupun empiris, namun masih banyak ketidaksepakatan menyangkut
beberapa hal mendasar sehingga menimbulkan kontroversi yang tidak berujung
hingga kini. Dalam identifikasi yang mendalam, setidaknya kontroversi meyangkut
konsep modal sosial ini bisa dibagi dalam empat isu antara lain sebagai berikut;

Isu

Isi

Masalah

Aset kolektif atau individu Modal sosial sebagai aset Membaur dengan norma
(Coleman, Putnam)
Jaringan
(

Bourdieu,

kolektif

kepercayaan.

terbuka Kelompok harus tertutup Visi klas masyarakat dan


Coleman, dan rekat

ketiadaan mobilitas

Putnam)
Fungsional (Coleman)

Modal sosial diindikasikan Tautologi


oleh

efeknya

(sebab

terhadap ditentukan oleh efekya)

tindakan tertentu
Pengukuran (Coleman)

Tidak bisa dikuantifikasi

Heuristik,

tidak

dapat

salah
Di luar kontroversi di atas, bahasan tentang konsep modal sosial selama ini
didominasi oleh cara pandang yang terlalu positif. Artinya, menempatkan modal
sosial sebagai variabel yang dapat memberikan manfaat bagi kemaslahatan bersama,
misalnya dalam pembangunan ekonomi. Padahal, modal sosial yang bertumpu
kepada interaksi antarmanusia dalam struktur sosial yang inheren didalamnya, bisa
saja menimbulkan implikasi negatif misalnya alokasi kegiatan ekonomi. Dalam salah
satu risalahnya, Yoram Ben Porath (dalam Coleman, 1988;96) mengembangkan
konsep yang sangat dekat dengan pengertian modal sosial, yakni yang disebut
sebagai F-connection.

F-connection terdiri dari families (keluarga), friends

(teman), firms (perusahaan). Jika dikembangkan lebih jauh, bisa jadi hubungan
keluarga dan pertemanan bisa bermanfaat bagi seseorang untuk mendapatkan
pekerjaan atau karier yang lebih bagus. Sebagai contoh yang lebih sederhana,
transaksi dengan seorang teman tentu akan lebih mudah dilakukan daripada dengan
orang yang tidak dikenal sebelumnya. Tetapi, konsep f-conecction tersebut, dan
secara lebih jauh konsep tentang teori modal sosial, dapat memiliki implikasi negatif
terhadap pertukaran ekonomi atau kegiatan ekonomi lainnya secara keseluruhan.
Beberapa studi terbaru sekurang-kurangnya menunjukan empat konsekuensi egatif
dari modal sosial antara lain pengucilan dari pihak luar, dampak klaim terhadap
anggota kelompok, rintangan kebebasan individu, dan penyempitan ruang lingkup
dan norma. Dalam beberapa hal keempat konsekuensi negatif dari modal sosial

tersebut nyaris tidak terbantahkan, bahkanbahkan ditengarai menjadi penyebab


terpenting terjadinya keterbelakangan ekonomi dinegara berkembang. Modal sosial
yang secara netral lebih banyak dimaknai sebagai energi terpenting bagi individu
untuk menangkap dan memanfaatkan peluang melalui struktur sosial yang tersedia,
ternyata secara empiris dapat menjadi sumber kegagalan bagi sebuah sistem untuk
bekerja mencapai tujuan yang diinginkan. Inilah yang menyebabkan sistem yang
dibangun di negara berkembang sulit berjalan karena diganjal dalam tahap
implementasinya.

Modal Sosial dan Pembangunan Ekonomi