Anda di halaman 1dari 15

Fakhradila

130405044

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fatty Alcohol (RCH2OH) merupakan suatu dasar utama oleokimia yang
memiliki laju pertumbuhan yang telah membantu meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan kemajuan standar hidup masyarakat banyak. Fatty Alcohol terus
meningkat sebagai bahan baku surfaktan karena sifatnya yang dapat diurai dan dapat
diperbaharui. Permintaan dunia akan alcohol lemak meningkat 4% tiap tahun, pada
tahun 2000 saja mencapai 1.500.000 MT(2).
Fatty Alcohol dapat diproduksi dari minyak bahan alami, atau sintetis dari
petrokimia. Persediaan alcohol lemak dunia sekarang ini dapat dibagi menjadi alami
dan buatan. Perbandingan penggunaan alami : sintetik bervariasi di masing-masing
negara. Sebagai contoh, pada tahun 1995 di Amerika Utara memiliki perbandingan
30 : 70, Eropa Barat 52,5 : 47,5, Jepang 86 : 14 (2) dan diharapkan perbandingan ini
setiap tahun akan lebih berimbang. Karena hal ini dapat meningkatkan persediaan
dan stabilitas harga dari minyak lauric. Sumber utama dari minyak lauric terdapat di
daerah Asia bagian Tenggara.

Fakhradila
130405044
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fatty Alcohol
Fatty Alcohol (lemak alkohol) adalah alkohol alifatis yang merupakan turunan
dari lemak alam ataupun minyak alam. Fatty alkohol merupakan bagian dari asam
lemak dan fatty aldehid. Fatty alkohol biasanya mempunyai atom karbon dalam
jumlah genap. Molekul yang kecil digunakan dalam dunia kosmetik, makanan dan
pelarut dalam industri. Molekul yang lebih besar penting sebagai bahan bakar.
Karena sifat amphiphatic mereka, Fatty Alcohol berkelakuan seperti nonionic
surfaktan. Fatty Alcohol dapat digunakan sebagai emulsifier, emollients, dan
thickeners dalam industri kosmetik dan makanan. Contoh Fatty Alcohol:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Capryl alkohol (1-octanol) -- 8 carbon atoms


Pelargonic alkohol (1-nonanol) -- 9 carbon atoms
Capric alkohol (1-decanol, decyl alkohol) -- 10 carbon atoms
1-dodecanol (lauryl alkohol) -- 12 carbon atoms
Myristyl alkohol (1-tetradecanol) -- 14 carbon atoms
Cetyl alkohol (1-hexadecanol) -- 16 carbon atoms
Palmitoleyl alkohol (cis-9-hexadecan-1-ol) -- 16 carbon atoms, unsaturated,

8.
9.

CH3(CH2)5CH=CH(CH2)8OH
Stearyl alkohol (1-octadecanol) -- 18 carbon atoms
Isostearyl alkohol (16-methylheptadecan-1-ol) -- 18 carbon atoms, branched,

(CH3)2CH-(CH2)15OH
10. Elaidyl alkohol (9E-octadecen-1-ol) -- 18 carbon atoms, unsaturated,
CH3(CH2)7CH=CH(CH2)8OH
11. Oleyl alkohol (cis-9-octadecen-1-ol) -- 18 carbon atoms, unsaturated
12. Linoleyl alkohol (9Z, 12Z-octadecadien-1-ol) -- 18 carbon

atoms,

polyunsaturated
13. Elaidolinoleyl alkohol (9E, 12E-octadecadien-1-ol) -- 18 carbon atoms,
polyunsaturated
14. Linolenyl alkohol (9Z, 12Z, 15Z-octadecatrien-1-ol) -- 18 carbon atoms,
polyunsaturated
15. Elaidolinolenyl alkohol (9E, 12E, 15-E-octadecatrien-1-ol) -- 18 carbon atoms,
polyunsaturated
16. Ricinoleyl alkohol (12-hydroxy-9-octadecen-1-ol) -- 18 carbon atoms,
unsaturated, diol, CH3(CH2)5CH(OH)CH2CH=CH(CH2)8OH99
17. Arachidyl alkohol (1-eicosanol) -- 20 carbon atoms
18. Behenyl alkohol (1-docosanol) -- 22 carbon atoms

Fakhradila
130405044
19. Erucyl alkohol (cis-13-docosen-1-ol) -- 22 carbon atoms, unsaturated,
20.
21.
22.
23.
24.

CH3(CH2)7CH=CH(CH2)12OH
Lignoceryl alkohol (1-tetracosanol) -- 24 carbon atoms
Ceryl alkohol (1-hexacosanol) -- 26 carbon atoms
Montanyl alkohol, cluytyl alkohol (1-octacosanol) -- 28 carbon atoms
Myricyl alkohol, melissyl alkohol (1-triacontanol) -- 30 carbon atoms
Geddyl alkohol (1-tetratriacontanol) -- 34 carbon atoms

Tabel 1.1 Karakteristik Fatty alcohol

Tabel 1.2 Komposisi Asam Lemak dari Minyak Kelapa (CO) dan Minyak Inti
Sawit (PKO)

Sumber: Gervajio,2005
Jenis Fatty Alcohol
Fatty Alcohol, berdasarkan sumber terbentuknya, terbagi menjadi 2 macam,
yaitu :
1.

Fatty Alcohol Alami (Natural Fatty Alcohol)


Fatty Alcohol alami berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui yang

terdapat di alam.. proses pembuatan Fatty Alcohol dari minyak alami bisa melalui
rute pembuatan metil ester atau dari asam lemak. Kedua metode ini merupakan dua

Fakhradila
130405044
metode yang paling banyak digunakan dalam industri Fatty Alcohol. Contoh :
Lemak, minyak dan lilin dari tumbuhan dan hewan, seril sesoat dalam lilin erna dan
mirisil palmit dalam lilin lebah.
2.

Fatty Alcohol Sintetis dari Petroleum


Fatty Alcohol dari bahan baku petroleum sudah dibahas pada mata kuliah Proses

Industri Petro dan Oleokimia bagian petrokimia, namun disini akan dijelaskan sekilas
sebagai bahan perbandingan.

2.2 Metode Pembuatan Fatty Alcohol


Untuk memproduksi Fatty Alcohol dapat menggunakan beberapa metode
berikut:
1. Hidrolisis lilin ester menggunakan lemak hewani
2. Proses reduksi sodium mennggunakan lemak dan minyak
3. Proses Ziegler menggunakan etilen
4. Proses oxo menggunakan hydrogenation olefin
5. Katalitik hidrogenasi asam lemak dan metil ester dari lemak dan minyak
6. Hidrogenasi lansung lemak dan minyak
7. Hidrogenasi pada Tekanan Tinggi
Deskripsi tentang metoda pertama dijelaskan sebagai acuan historis awal mula
proses produksi Fatty Alcohol di dunia. Deskripsi tentang metoda kedua dam metoda
keenam dijelaskan sebagai metode perkembangan dari metode yang pertama. Metoda
ketiga dan keempat menggunakan bahan baku yang berasal dari petrokimia dan akan
dijelaskan sekilas sebagai bahan perbandingan saja dalam makalah

ini.

Bagaimanapun, harus diketahui bahwa kira-kira 50% persediaan Fatty Alcohol dunia
di produksi melalui dua cara ini.
2.2.1 Hidrolisis dari lilin ester
Fatty Alcohol pertama kali diperoleh dari hidrolisis lilin ester yang berasal dari
binatang, terutama spermaceti dari sperma ikan paus. Namun sejak adanya peraturan
tentang larangan perburuan atas ikan paus, sumber dan metode ini tidak lagi
digunakan.

Fakhradila
130405044
Lilin spermaceti dipisahkan dengan cara pemanasan menggunakan NaOH
pekat diatas 3000C, lalu alkohol didistilasi dari sabun dan air yang terbentuk. Hasil
Sulingan (distilat) mengandung alcohol tak jenuh C 16-C20. Untuk mencegah
terjadinya auto-oksidasi, distilat ini dikeraskan dengan hidrogenasi katalitik.. Alkohol
yang diperoleh mencapai yield 35 %. Produk utama terdiri dari : cetyl, oceyl, dan
alcohol arachidyl.
2.2.2 Proses reduksi sodium
Pada tahun 1909, Beauvault dan Blanc menemukan proses reduksi sodium
untuk memproduksi alcohol lemak dari kelapa ester. Pabrik alcohol lemak yang
dibentuk pada tahun 1930an menggunakan proses ini. Sedangkan proses dasarnya
relative sederhana, sebenarnya operasi pabrik banyak menangani produk dan reaktan
yang kompleks.
Larutan sodium didispersikan dalam pelarut inert lalu ditambahkan ester kering
dan alcohol dengan hati-hati. Saat reaksinya komplit , oksida nya dipecahdengan
pengadukan dalam air, kemudian alkoholnya dicuci dan didistilasi.
Penambahan Alkohol R (sebaiknya alcohol sekunder), bertindak sebagai donor
hydrogen. Karena adanya reaksi samping , pemakaian sodium bias jadi di atas 20 %
dari kebutuhan stoikiometri. Reduksi berjalan selektif tanpa pembuatan hidrokarbon
dari isomerisasi atau hidrogenasi ikatan rangkap.
2.2.3 Proses zieglar menggunakan etilen
Fatty Alcohol dari proses ini mempunyai struktur yang sama dengan alcohol
lemak alami. Proses ini dibagi dalam dua proses yaitu proses Alfol dan proses Epal.
A. Proses Alfol.
Hidrokarbon digunakan sebagai pelarut, proses ini melalui lima tahap yaitu :
1). Hidrogenasi
2 Al(CH2CH3)3 + Al + 1,5 H2 3 Hal(CH2CH3)3
2). Etilasi
3 HAl(CH2CH3)3 + 3 CH2=CH2 3 Al(CH2CH3)3
2/3 dari hasil proses ini di recycle lagi ke proses hidrogenasi dan sisanya lansung
masuk ke reaksi perkembangan

Fakhradila
130405044
3). Reaksi perkembangan (growth Reaction)
4). Oksidasi
5). Hidrolisa
B. Proses Epal
Proses ini mempunyai langkah-langkah yang hampir sama dengan proses alfol.
Fleksibilitas Proses ini lebih besar dibandingkan dengan prose alfol.
Alkohol dan - olefin yang terbentuk bisa dipasarkan. Namun modal dan biaya
yang dibutuhkan juga lebih besar, karena membutuhkan proses control yang lebih
kompleks dan penambahan olefin dan alcohol rantai bercabang.
2.2.4 Proses oxo menggunakan olefin
Proses oxo (hidroformilasi) terdiri dari reaksi antara olefin dengan campuran
gas H2-CO dan katalis yang cocok..
Reaksi ini ditemukan oleh O.Roelen pada tahun 1938.
CH3
2R CH=CH2 + 2CO + 2H2 R-CH2CH2-CHO + R-CH2OH
Yield - olefin diperkirakan

sama dengan jumlah aldehid rantai lurus dan

bercabangnya. Proses oxo dapat dilakukan dengan tiga cara berikut :


o

Proses klasik dengan menggunakan katalis HCO(CO)4

Proses Shell berdasarkan kompleks kobalt karbonil phosphine

Proses menggunakan Katalis Rhodium


Langkah- langkah pada proses klasik yaitu reaksi oxo , pemisahan katalis dan

regenerasi , hidrogenasi aldehid dan distilasi alcohol.


Proses antara ketiga proses tersebut dapat dilihat pada table berikut ini :
Perbandingan
Katalis

Konsentrasi

Klasik
Cobalt Carbonil

0,1 1,0

Proses OXO
Shell
Cobalt Carbonil

Unio Carbide
Rhodium

Phosphine

Carbonil

Complex

Phospine

0,5

complex
0,001 - 0,1

Fakhradila
130405044
katalis
CO2 : H2
1,1 1,2
1,2 2,5
Excess hidrogen
0
Temperatur ( C)
150 180
170 210
100 - 120
Tekanan (MPa)
20 30
5 10
2-4
LHSV
0,5 1,0
0,1 1,2
0,1 0,25
Produk Primer
Aldehid
Alkohol
aldehid
Linearitas (%)
40 50
80 85
90
Pada proses shell, alcohol diperoleh lansung karena bagusnya aktifitas katalis
sehingga tahap hidrogenasi aldehid tidak di perlukan lagi, kelemahan proses ini
adalah, adanya olefin yang hilang dari proses.
Sedangkan proses yang menggunakan katalis Rhodium dapat dilakukan pada P
dan T yang rendah, karena tingginya aktifitas katalis . Kelemahannya adalah
memerlukan biaya yang tinggi karena mahalnya harga Rhodium.
2.2.5

Hidrogenasi Langsung dari Minyak dan Lemak


Proses pembuatan Fatty Alcohol dari minyak alami dapat diperoleh dari metil

ester atau asam lemak. Kedua metode ini memiliki persamaan dan sangat kompetitif
dibandingkan dengan metode lainnya. Secara umum proses pembutan Fatty Alcohol
secara langsung dari minyak dan lemak dapat dilihat pada gambar.

Gambar 2.1 Rute pembentukan Fatty Alcohol dari minyak dan lemak
Proses hidrogenasi langsung mempunyai beberapa kekurangan, diantaranya :

Fakhradila
130405044
1. Menghasilkan produk samping bernilai tinggi gliserin yang justru mengalami
proses hidrogenasi lanjut menghasilkan propilen glikol yang bernilai rendah.
2. Komsumsi gas hidrogen yang cukup tinggi
3. Penggunaan katalis dalam jumlah besar
2.2.6

Hidrogenasi Katalitik dari Asam Lemak dan Metil Ester


Fatty alcohol diperoleh dengan cara hidrogenasi metil ester atau asam lemak.
Katalis, CuCr

R-COOCH3 + 2H2
Metil ester

Hidrogen

Fatty Alcohol
Katalis, CuCr

RCOOH +2H2
Asam lemak Hidrogen

Fatty Alcohol

R-CH2OH + CH3OH
Metanol

RCH2OH + H2O
Air

Hidrogenasi langsung asam lemak tidak digunakan dalam skala industri besar karena
kebutuhan temperature reaksi yang lebih tinggi menghasilkan yield yang lebih
rendah dan karena dapat merusak katalis. Secara konvensional, asam lemak
dikonversi terlebih dahulu menjadi ester sebelum dihidrogenasi.
Dalam proses pembuatan fatty alcohol banyak dilakukan dengan bahan dasar
metil ester, karena dengan proses ini diperoleh persentase fatty alcohol lebih tinggi.
Dalam reaksi hidrogenasi dapat terbentuk.
RCH2COCOH + 2H2 ----------------> RCH2CH2OH + CH3OH
RCH2COOH + RCH2CH2OH ------> RCH2COOCH2CH2R + CH3OH
RCH2COOCH2CH2R + H2 --------> 2 RCH2OH
Suhu tinggi menyebabkan reaksi sekunder yaitu dehydratasi
RCH2CH2OH ----------> RHC=CH2`
RCH=CH2 + H2 ---------> RCH2CH3 (parafin)
Fatty alcohol dengan bahan baku metil ester atau fatty acids
- proses ini menghendaki kelebihan H2 400 kali dari teoritis
- kelebihan hidrogen untuk mempertahankan lapisan tipis katalis sebagai jaminan
reaksi esterifikasi dengan fatty acids
- suhu reaksi 230 280oC
- tekanan reaktor 200 300 bar
- katalis copper-cromite dengan sirkulasi gas hidrogen panas
- konversi dapat mencapai 91%.

Fakhradila
130405044

Gambar 2.2 Skema Pembuatan Fatty alcohol Dari Metil Ester


2.2.7

Proses Hidrogenasi pada Tekanan Tinggi


Proses hidrogenasi dengan tekanan tinggi ini terbagi 2 metode yaitu

suspension process dan fixed bed process:


A.

Suspension Process

Gambar 2.3 Hidrogenasi Tekanan Tinggi Asam Lemak Metil Ester Proses
Suspensi
Proses:

Bahan baku yang digunakan adalah asam lemak dengan hidrogen

Katalis yang digunakan berbentuk slurry

Fakhradila
130405044

Kondisi operasi proses ini dalah pada tekanan 25.000-30.000 kPa dan
temperatur 250-300 0C.

Reaksi yang terjadi:


RCOOH

Asam lemak

2 H2

RCH2OH

Hidrogen

Fatty Alcohol

H2O ( dengan katalis CuCr )


Air

Reaksinya merupakan reaksi eksotermis, sehingga pada proses ini diperlukan


kontrol temperatur sehingga mencegah terjadinya pembentukan hidrokarbon
yang tidak diinginkan.

Hidrogenasi terjadi di dalam reaktor suhu tinggi di mana bahan dipanaskan


terlebih dahulu.

Panas dari sisa campuran produk reaktor diperoleh dengan resikulasi gas
hidrogen pada alat penukar panas setelah satu produk dipisahkan dengan dua
tingkat pendinginan ekspansi.

Pada fase gas ( yang mengandung gas hidrogen, uap alkohol dalam jumlah
kecil dan reaksi air) dipisahkan dari alkohol cair pada hot separator ( pemisah
panas)

Campuran didinginkan lebih lanjut di separator pendingin, dimana uap


alkohol dan air hasil reaksi dikondensi dan dipisahkan. Kelebihan gas
hidrogen direcycle.

Alkohol cair yang berasal dari separator panas dipompakan ke flashdrum


dimana hidrogen dilarutkan direcycle dengan meningkatkan gas hidrogen.

Katalis dipisahkan dari Fatty Alcohol kasar dengan menggunakan pemisah


aktivitas dan resikulasi dengan Fatty Alcohol.

Ukuran fase clear dari pemisah sentrifugal adalah passed through yaitu
penyaring halus untuk memindahkan semua sisa suspensi padat hasil dari
produk (Fatty Alcohol kasar).

Untuk memurnikan Fatty Alcohol kasar dapat dilakukan dengan distilasi lebih
lanjut untuk menghilangkan hidrokarbon dan dapat mengalami fraksinasi jika
diinginkan.

B. Fixed Bed Process

Fakhradila
130405044

Gambar 2.4 Hidrogenasi Tekanan Tinggi Asam Lemak Metil Ester


Proses Fixed Bed
Pada metode fixed bed process, hal yang membedakannya dengan suspension
process adalah katalisnya fixed (tetap) dalam reaktor.

Bahan baku yang digunakan pada proses ini adalah ester dan hidrogen

Reaksi yang terjadi :


RCOOCH3

+ 2 H2

Ester

Hidrogen

RCH2OH
Fatty Alcohol

+ CH3OH
Metanol

Reaksi ini dilakukan pada fase uap dimana sebagian umpan organik diuapkan
dengan gas hidrogen ( 20 25 mol ) melalui suatu alat peak heater sebelum
dialirkan ke fixed katalis bed.

Proses hidrogenasi dengan metode ini dilakukan pada kondisi 20.000-30.000


Kpa dan temperatur 200-250 0C.

Kemudian campuran didinginkan dan dipisahkan menjadi fasa gas dan fasa
cair. Pada fasa gas sebagian besar merupakan gas hidrogen dan di recycle.

Fasa cairan diekspansi pada flash tank untuk menghilangkan metanol dari
Fatty Alcohol.

Perbandingan Fatty Alcohol hasil Proses Fixed bed dan Proses Suspensi

Fakhradila
130405044
Proses fixed bad memerlukan sesuatu untuk menaikkan nilai karena itu
dibutuhkan bejana reaksi yang besar, pompa gas sirkulasi, dan pipa yang tepat untuk
volume yang tinggi dari penggunaan gas hydrogen. Proses suspensi dilain sisi
memerlukan penambahan peralatan untuk pelepasan katalis, distilasi alcohol lemak
mentah dan mengolah lagi metil ester.
Dalam penggunaan bahan mentah, proses fixed bad memiliki hasil yang
banyak dan penggunaan katalis hanya setengahnya. Fatty Alcohol yang dihasilkan
dari proses fixed bad memiliki kualitas yang tinggi. Meskipun begitu, kualitas dari
Fatty Alcohol yang dihasilkan oleh prosess suspensi bisa juga ditingkatkan ke tingkat
yang sama dengan distilasi selanjutnya.
2.2.8

Metoda Lurgi Hidrogenasi Asam Lemak


Metoda

lurgi

dengan

proses

suspensi,

menimbulkan

kemungkinan

hidrogenasi secara langsung asam lemak menjadi Fatty Alcohol yang mengatasi efek
kerugian dari fatty acid on the copper-bearing analysist. Ini dicapai dengan dua
tahap reaksi. Reaksi pertama adalah esterifikasi dari asam lemak dengan Fatty
Alcohol menghasilkan ester dan air. Reaksi kedua adalah hidrogenasi ester untuk
menghasilkan dua mol alkohol. Kedua reaksi memiliki persamaan di reaktor yang
sama. Volume yang besar dari Fatty Alcohol di proses kembali lebih dari 250 kali
umpan asam lemak, dengan efektif mengurangi umpan, asal saja untuk kondisi yang
optimum untuk laju dan esterifikasi yang kompleks.
Hidrogenasi diletakkan dalam reactor bertekanan tinggi dimana material
dipanaskan terlebih dahulu- umpan asam lemak, di sirkulasi menjadi Fatty Alcohol
dengan menggunakan katalis, dan gas hidrogen adalah fed continuously. Reaksi ini
berlansung kira-kira 30.000 kPa dan 2800C. Panas dari campuran produk yang
meninggalkan reactor didapatkan lagi dengan recirculating gas hydrogen melalui
heat exchanger, setelah produk dipisahkan melalui sebuah two-stage coolingexpansion system.
Fasa gas (pada dasarnya kelebihan gas hydrogen, sedikit alkohol mendidih
dan reaksi air) dipisahkan dari larutan alkohol didalam separator panas.

Fakhradila
130405044
Pencampuran ini didinginkan selanjutnya di cold separator, dimana the low boiling
alkohol dan reaksi air dikondensasi dan diseparasi. Gas hidrogen yang berlebih di
recycle ke sistem.
Larutan alkohol dari hot separator dipompakan ke flash drum dimana
penguraian hydrogen dimulai dan recycled dengan pemisahan hydrogen. Katalis
dipisahkan dan Fatty Alcohol mentah menggunakan sebuah sentrifugal separator.
Bagian dari katalis diganti dengan katalis baru yang segar untuk mempertahankan
aktivitas dan di recirculasi dengan Fatty Alcohol. Fase penyelesaian dan sentrifugal
separator adalah melalui polishing filter untuk menghilangkan semua sisa dari solid
yang didapat. Penghasilan alkohol mentah undergoes distilasi selanjutnya untuk
menghilangkan hidrokarbon dan mungkin mengalami fraksinasi bila diinginkan.

Gambar 2.5 Sintesis Hidrogenasi Fatty Alcohol dari Asam Lemak Lurgi
Bahan dan Kebutuhan Konsumsi Per Ton dari Fatty Alcohol
Data teknikal untuk kapasitas pabrik of 50+ t/day :
Distilasi cocofatty acid
Steam (ca, is bar)
Pendinginan air (200C)
Electric energy
Fuel gas

1050-1100 kg
170 kg
27 m3
130 kWh
1,1 x 106 Kj

Fakhradila
130405044
Catalist

5 kg

Hydrogen (00C, 100 kPa)

230-300 m3

Boiler feed water

185 kg

Export steam (ca 4 bar)

120 kg

Gambar 2.6 Pemisahan Fatty Alcohol

Fakhradila
130405044

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Pembuatan Plasticiser Alkohol Ester dari Minyak Nabati dan
Formulasinya Dengan Resin Polivinil Klorid. http://www.bic.web.id/in/lainlain/207-pvc-dari-minyak-sawit.html. Diakses 7 Mei 2011
Cahyono, Eko. 2010. Plasticizer.
http://www.dokterkimia.com/2010/05/plasticizer.html. Diakses 7 Mei 2011
Yusriati, Sari. 2008. Plasticizer
http://sariyusriati.wordpress.com/2008/10/20/plasticizer/ 2008. Diakses 7 Mei
2011.
Hui, Y. H. Baileys Industrial Oil and Fat Products, fifth edition. 1996. New York:
John Willey & Sons Inc