Anda di halaman 1dari 12

SINTESIS BIO-SILIKA (SiO2) DARI SEKAM PADI DENGAN METODE

THERMAL DAN APLIKASINYA TERHADAP PENYIMPANAN PRODUK


TEPUNG

YOSRA ADI PUTRA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai negara agraris Indonesia merupakan penghasil padi terbesar ketiga
didunia dengan total produksi pada tahun 2009 sebesar 64.398.890 Ton dan terus
mengalami peningkatan pada tahun 2013 sebesar 71.279.709 ton (Anonim, 2014).
Besarnya hasil panen padi di Indonesia menghasilkan limbah yang juga besar dari
hasil penggilingan padi. Produksi sekam padi di Indonesia terus mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Sekitar 20% hasil penggilingan padi berupa
sekam padi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Berdasarkan jumlah
tersebut limbah sekam padi yang dihasilkan di Indonesia pada tahun 2007
mencapai 10,28 juta ton (Murdiyono, 2009). Sedangkan, pada tahun 2013 limbah
sekam padi Indonesia meningkat yang mencapai 14, 25 juta ton. Sekam dengan
presentase yang tinggi dapat menimbulkan permasalahan lingkungan apabila tidak
ditangani dengan baik. Sekam dikatergorikan sebagai biomassa yang dapat
digunakan untuk berbagai kebutuhan sebagai bahan baku industri, pakan ternak,
alternatif energi dan lain-lain. Sekam padi memiliki kandungan silika yang cukup
tinggi berkisar antara 16-20% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu
alternatif sumber silika terbarukan dan meningkatkan nilai tambah sekam padi.
Beberapa sumber silika alami selain sekam padi dintaranya adalah abu
limbah tebu, abu sabut sawit, gandum, bambu, tembakau, dan alga. Sedangkan
metode yang digunakan untuk mensintesis silika dari bahan-bahan alami seperti
proses carbothermal, carbothermal reduction, metode sol-gel, metode termal dan
non termal, dan masih banyak metode lainnya yang mempunyai kelebihan dan
kekurangan pada masing-masing prosesnya.
Silika dapat diisolasi dari sekam padi secara sederhana dengan cara
pembakaran. Namun, tanpa perlakuan pembakaran yang tepat maka abu hasil
pembakaran sekam padi hanya akan mengandung silika kristalin yang bersifat
membahayakan dan dapat mengganggu kesehatan. Hal ini disebabkan oleh
keberadaan senyawa-senyawa pengotor inorganik lainnya, yang mengandung K
dan Na yang dapat menurunkan titik leleh silika yang dihasilkan sehingga dapat
mempercepat perubahan fasa menjadi kristalin (Umeda, et al., 2009). Zat-zat
inorganik dalam sekam padi seperti mineral-mineral dalam jumlah yang sedikit
dapat dihilangkan melalui perlakuan dengan asam menggunakan H2SO4, HCl, atau
HNO3 (Chakraverty, 1988).
Sementara itu, penggunaan asam-asam kuat dapat membahayakan
lingkungan dan kesehatan manusia, serta membutuhkan biaya yang tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh Umeda dan Kondoh (2008), menggunakan asam
sitrat yang merupakan asam organik dan bersifat non-toksik, sehingga
penggunaannya lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan dengan asam
klorida yang bersifat korosif. Perlakuan dengan asam sitrat dengan konsentrasi

5% terbukti dapat menghasilkan silika dengan kemurnian yang tinggi dan bersifat
amorf hingga temperatur pembakaran 10000C. Maka dari itu akan digunakan asam
sitrat dan asam asetat untuk menghilangkan zat-zat inorganik pada sekam padi.
Pada penelitian ini akan dilakukan proses sintesis silika dari sekam padi
menggunakan perlakuan asam (asam sitrat) sebelum dilakukan pembakaran pada
suhu tinggi. Proses pembakaran secara termal dilakukan pada beberapa temperatur
dengan beberapa variasi waktu untuk menghasilkan silika dengan kemurnian yang
terbaik. Silika yang dihasilkan kemudian dianalisis morfologinya dengan
Scanning Electron Microscopy (SEM), komposisi dan strukturnya dengan Fourier
Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan X-ray Diffraction (XRD).
Silika yang dihasilkan diaplikasikan terhadap pengawetan produk tepung
untuk melihat pengaruhnya terhadap umur simpan produk tersebut. Diharapkan
bubuk silika ini mampu mempertahankan kestabilan kadar air produk pada kisaran
yang diharapkan selama penyimpanan serta dapat memperpanjang umur simpan
produk tersebut.
Tujuan
Adapun tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik
bio-silika dan penerapan terhadap produk pangan sebagai bahan pengawet. Tujuan
khususnya yaitu:
1. Mempelajari pengaruh perlakuan awal menggunakan asam (asam sitrat),
pengaruh proses pembakaran pada sekam padi terhadap kemurnian dan
karakteristik silika yang dihasilkan.
2. Mengaplikasikan bio-silika dari sekam padi terhadap produk tepung dan
mengamati perubahan selama penyimpanan.

Ruang Lingkup
Penelitian ini membahas mengenai karakteristik bio-silika yang dihasilkan
dari sekam padi dengan metode termal dengan perlakuan awal menggunakan
asam sitrat 5% sebagai penghilang senyawa pengotor dan pengabuan dengan tiga
variasi temperatur (5000C, 7500C, dan 10000C) serta variasi waktu (1
jam, 3 jam, dan 5 jam). Selanjutnya karakteristik silika yang diamati merupakan
serbuk silika alami dengan karakterisasi fisik dan morfologinya. Silika alami yang
dihasilkan diaplikasikan sebagai pengawet produk tepung dengan mengamati
perubahan yang terjadi pada tepung selama penyimpanan dan menghitung umur
simpan tepung tersebut. Hipotesis dari penelitian ini yaitu semakin tinggu suhu
yang digunakan dengan variasi waktu yang tepat maka tingkat kemurnian silika
yang dihasilkan semakin baik dan semakin baik sifatnya sebagai pengawet produk
pangan.
TINJAUAN PUSTAKA

Sekam Padi Sebagai Sumber Silika Alami


Sekam padi merupakan lapisan terluar dari padi yang merupakan hasil
samping dari penggilingan padi bersama-sama dengan dedak dan bekatul.
Kandungan sekam

padi biasanya sekitar 16-24% dari berat padi kering dapat dilihat pada
Tabel 1. Komposisi ini bervariasi antara satu dengan yang lain, hal ini disebabkan
oleh perbedaan varietas, latar belakang agronomi, daerah dan cuaca penyediaan
contoh serta metode analisisnya (Winarno, 1985).
Secara umum, terdapat tiga metode dalam sintesis nanopartikel logam.
Metode sintesis tersebut, yaitu sintesis secara kimia, fisika, dan biologi. Sintesis
silika secara kimia dan fisika relatif mahal, membahayakan lingkungan, serta
membutuhkan perlakuan temperatur, tekanan, dan pH ekstrim (Moghaddam
2010).
Pembakaran pada suhu 700-9000C menghasilkan abu sekitar 16-24% dan
mengandung silika yang tinggi berkisar antara 87-97% dengan (Enymia, et al.,
1998). Tingginya kandungan silika dalam abu sekam padi dapat dimanfaatkan
sebagai bahan dasar pembuatan material berbasis silika menggantikan silika yang
beredar dipasaran berbahan dasar pasir. Sedangkan Umeda dan Kondoh (2008)
melakukan pembakaran sekam padi yang didahului dengan perlakuan dengan
asam sitrat dengan konsentrasi 5% terbukti dapat menghasilkan silika dengan
kemurnian yang tinggi dan bersifat amorf walau dibakar hingga temperatur
10000C.
Tabel 1. Kandungan silika dalam produk samping padi
Komponen
Silika
Sekam
18,0-22,3 %
Dedak
0,2-0,3 %
Bekatul
0,6-1,1 %
Jerami
4,0-7,0 %
Sumber: Luh, 1991

Silika yang terdapat dalam sekam ada dalam bentuk amorf terhidrat. Tapi
jika pembakaran dilakukan secara terus-menerus pada suhu di atas 650C akan
menaikkan kristalinitasnya dan akhirnya akan terbentuk fasa kristobalit dan
tridimit dari silika sekam. Silika merupakan bahan kimia yang pemanfaatan dan
aplikasinya sangat luas, mulai bidang elektronik, mekanik, medis, seni dan bidang
lainnya (Harsono, 2002). Penggunaan silika sebagai bahan pengawet pada produk
pangan diharapkan mampu meningkatkan umur simpannya.
Berdasarkan komposisi kimiawi yang terkandung, sekam bisa digunakan
sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural
yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia; sebagai
bahan baku pada industri bahan bangunan, terutama kandungan silika (SiO 2) yang
dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen, dan campuran pada
industri bata merah. Selain itu, sekam juga bisa digunakan sebagai sumber energi
panas, kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang
merata dan stabil.
Proses Termal (Pembakaran)
Penelitian yang dilakukan oleh Harsono (2002), pembuatan silika amorf
dengan melakukan pembakaran sekam padi dalam tangki. Menurutnya untuk
mendapatkan silika yang reaktif temperatur pembakaran harus terkontrol.
Pembuatan silika amorf ini dilakukan dengan terlebih dahulu melalui proses

pengeringan yang bertujuan untuk mengeliminasi kandungan air dalam bahan


dengan menguapkan air dalam dari permukaan bahan. Adanya sisa kandungan air
dalam abu sekam padi dapat menghalangi proses difusi komponen kimia yang
terkandung dalam sekam padi saat dipanaskan pada kemurnian sekam.
Sedangkan Chakraverty (1988) melakukan analisis terhadap
sekam padi yang dipanaskan dalam tungku pembakaran yang
sudah diatur temperatur pembakarannya untuk dibandingkan
warna abu yang terbentuk. Hasil pembakaran sekam padi dalam
tungku pembakaran dalam temperatur dan waktu tertentu
beserta warna abu sekam padi yang dihasilkan semakin rendah
temperatur pembakaran maka waktu yang diperlukan untuk
menghasilkan abu sekam padi berwarna keputih-putihan menjadi
lebih lama. Hal ini dikarenakan pembakaran pada karbon dalam
sekam padi pada temperatur yang rendah memiliki kecepatan
pembakaran yang rendah.
Temperatur yang dikontrol dengan baik dan lingkungan
yang sesuai saat pembakaran dapat menghasilkan kualitas abu
sekam padi yang lebih baik karena ukuran partikel dan luas
spesifik permukaannya dipengaruhi oleh kondisi pembakaran.
Sekam padi yang terbakar sempurna akan berwarna abu hingga
putih, sementara abu sekam padi yang tidak terbakar sempurna
akan berwarna kehitaman (Chakraverty, 1988).
Proses Non-termal
Isolasi silika dalam sekam padi dapat dilakukan secara non
thermal, yaitu dengan menggunakan oksidator kuat seperti
hidrogen peroksida atau asam kuat seperti asam sulfat. Suka et
al. (2008) melakukan karakterisasi sekam padi dengan metode
ekstraksi. Mula-mula sekam padi dipreparasi, sekam padi
direndam dalam air panas selama 2 jam dan dicuci berulangulang dengan air panas untuk menghilangkan pengotor
organiknya. Kemudian, sekam padi yang telah bersih direndam
ke dalam KOH 5% selama 60 menit. Filtrat yang diperoleh
diasamkan dengan HCl hingga pH mencapai 7,0. Karakterisasi
dengan FTIR, muncul puncak Si-OH, dan Si-O-Si yang
menunjukkan
adanya
gugus
fungsi
siloksan,
yang
mengindikasikan bahwa silika sekam padi merupakan silika
reaktif. Sifat reaktif silika ini juga didukung hasil karakterisasi
menggunakan XRD, yang menunjukkan bahwa silika adalah
amorf dengan fase kristobalit. Hasil ekstraksi sekam padi
tersebut memiliki kadar silika 40,8% dengan kemurnian sekitar
95,53%.

Perlakuan dengan berbagai macam asam, seperti HCl,


H2SO4, dan HNO3 secara umum digunakan untuk menghilangkan
logam dari sekam padi, akan tetapi zat-zat tersebut terbilang
cukup berbahaya bagi lingkungan dan manusia.Penggunaan
asam kuat juga membutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk
peralatan anti korosi, penggunaan air yang banyak untuk
membilas sekam padi, dan perlakuan khusus untuk pembuangan
limbah. Untuk menghindari hal tersebut, penggunaan asam
organik, seperti asam sitrat yang lebih ramah lingkungan, tidak
berbahaya bagi manusia, dan lebih ekonomis (Umeda, 2008).
Selain itu, metode non thermal sangat jarang dipergunakan
karena proses penghilangan senyawa organik dan inorganik
pengotor biasanya berlangsung relatif lama sehingga menjadi
kurang ekonomis dibandingkan dengan metoda secara thermal.
Namun demikian, proses non-thermal menggunakan asam dapat
dilakukan sebagai perlakuan awal sekam padi yang akan sangat
membantu menghasilkan silika dengan kemurnian yang tinggi.
Senyawa-senyawa
inorganik
harus
dihilangkan
sebelum
pembakaran dilakukan karena dapat menghambat pembentukan
silika yang memiliki struktur amorf (Chandrasekhar, 2003;
Umeda, et al., 2008).
Silika Sebagai Bahan Pengawet Pangan
Silikon dioksida, juga dikenal sebagai silika (dari bahasa Latin: silex),
adalah ocside silicon dengan rumus kimia SiO2. Telah dikenal sejak zaman dahulu
karena kekerasannya. Silika ini paling sering ditemukan di alam sebagai pasir atau
kuarsa, serta di dinding sel diatom. Silika adalah aditif yang umum dalam
produksi makanan, dimana ia digunakan terutama sebagai agen aliran dalam
makanan bubuk, atau untuk menyerap air dalam aplikasi higroskopik. Silika
adalah komponen utama dari tanah diatom yang memiliki banyak kegunaan.
Silika juga merupakan komponen utama dari abu sekam padi yang digunakan,
misalnya, dalam pembuatan filtrasi dan semen (Anonim, 2014). Silika sebagai
senyawa yang terdapat di alam berstruktur kristalin, sedangkan sebagai senyawa
sintetis adalah amorf. Secara sintetis senyawa silika dapat dibuat dari larutan
silikat atau dari pereaksi silan. Silika gel sebagai salah satu senyawa silika sintetis
yang berstruktur amorf. Kualiatas yang berkaitan dengan pemanfaatannya
ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu struktur internal, ukuran partikel, porositas,
luas permukaan, ketahanan dan polaritasnya (Sulastri dan Kristianingrum, 2010).
Pada umumnya silika dingunakan sebagai media menyerap air dan gas
dengan mudah yang biasa disebut dengan silika gel, dimana silika gel ini
merupakan salah satu bahan kimia berbentuk padatan yang banyak dimanfaatkan
sebagai adsorben. Hal ini disebabkan oleh mudahnya produksi dan juga beberapa

kelebihan yang lain, yaitu: sangat inert, hidrofilik, mempunyai kestabilan termal
dan mekanik yang tinggi serta relatif tidak mengembang dalam pelarut organik
jika dibandingkan dengan padatan resin polimer organik (Sulastri dan
Kristianingrum, 2010).
Silika merupakan bahan kimia yang pemanfaatan dan aplikasinya sangat
luas mulai dari bidang elektronik, mekanis, medis, seni, dan bidang lainnya. Salah
satu pemanfaatan serbuk silika yang cukup luas adalah sebagai penyerap kadar air
di udara, sehingga memperpanjang masa simpan bahan dan sebagai bahan
campuran untuk membuat keramik (Harsono 2002). Selain itu, silika juga
digunakan sebagai penyaring molekuler, resin, pembantu peran katalis, dan
pengisi dalam pembuatan polimer (Bansal et al., 2006). Silika gel ini tidak
bersifat reaktif terhadap bahan kimia, tidak beracun, dan aman digunakan untuk
melindungi makanan, obat-obatan, elektronik, dan lain-lain.
Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai sintesis silika dari sekam padi telah banyak dilakukan
dengan berbagai macam metode, namun pengaplikasian silika dalam bentuk
bubuk (serbuk) sebagai pengawet belum dilakukan. Kebanyakan penelitian
mengkaji tentang metode yang digunakan, diantaranya adalah Wogo, et al., (2011)
sintesis silika gel dengan metode sol-gel; Hadi, et al., (2013) metode presipitasi;
Suparman (2010) metode reaksi fasa padat; Umeda, et al., (2008) metode
peluruhan dengan asam karboksilat, dan metode lainnya.

METODOLOGI
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Maret Juli 2015 di Laboratorium
Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut
Pertanian Bogor, Jawa Barat.
Bahan
Bahan utama sebagai sampel dalam penelitian adalah limbah sekam padi
(Oryza sativa L.). Bahan tambahan lainnya yaitu asam sitrat, asam asetat,
akuades, tepung, plastik, dan lain-lain serta bahan kimia untuk melakukan analisa.
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian di antaranya adalah tanur
peralatan gelas, ayakan 250 m dan 106 m, cawan porselin, tanur, pengaduk
magnet, neraca analitik, oven, desikator, kertas saring Whatman 42, pH meter,
sentrifugasi, hot plate, spektrofotometer, dan peralatan untuk melakukan analisa.

Metode Penelitian
1. Persiapan Sampel
Persiapan bahan baku sekam padi dengan melakukan proses penimbangan,
pencucian dengan air sampai bersih, dan pengeringan. Pencucian dilakukan
sebanyak lima kali, empat kali dengan air ledeng dan satu kali dengan air
akuades, tujuan pencucian ini adalah untuk menghilangkan zat-zat pengotor
berupa debu dan pasir yang menempel pada sekam padi. Kemudian dilakukan
pengeringan dengan sinar matahari untuk menurunkan kadar air sekam padi.
2. Isolasi Silika dari Sekam Padi
Isolasi silika dalam sekam padi melalui perlakuan awal sekam
padi menggunakan larutan asam sitrat. Ekstraksi sekam padi
dengan asam sitrat 5% pada temperatur 80 0C selama 15-20
menit. Proses pembakaran pada suhu 350 0C selama 30 menit.
Kemudian dilakukan studi variasi temperatur (5000C, 7500C, dan
10000C) serta variasi waktu (1 jam, 3 jam, dan 5 jam) pada proses
pembakaran sekam padi yang telah mengalami perlakuan
asam (asam sitrat) dengan laju pemanasan 100C. Silika kemudian
digerus menggunakan mortar dan diayak menggunakan ayakan 200 mesh.
3. Karakterisasi Silika
Silika yang diperoleh dilakukan karakterisasi fisik menggunakan Fourier
Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan difraktometer sinar-X (XRD)
untuk mengetahui informasi tentang struktur, komposisi, dan tingkat
kristalinitas material, serta uji Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk
mengetahui morfologi permukaan dari suatu sampel padat.
4. Aplikasi Silika ke Produk Tepung
Aplikasi silika alami ke produk bertujuan untuk melihat pengaruh silika
sebagai pengawet alami terhadap produk tepung-tepungan. Bubuk silika alami
yang dihasilkan dicampurkan ke dalam tepung, kemudian mengamati
fenomena yang terjadi terhadap perubahan fisik, kimia maupun mikrobiologi
tepung tersebut.
5. Karakterisasi Produk
Karakterisasi fisik dilakukan terhadap produk yang meliputi pH, rendemen,
dan aw. Karakterisasi kimia meliputi kadar air, abu, protein, lemak, dan
karbohidrat, dan karakterisasi mikrobiologi (TPC).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Badan Pusat Statistik. 2014, Produksi Tanaman Padi Indonesia.
Available from: www.bps.go.id. Diakses tanggal 10 November 2014.
Anonim,

Wikipedia.
2014.Silikon
Dioksida.
Available
from:
http://id.wikipedia.org/ wiki/Silikon_dioksida. Diakses tanggal 17
November 2014.

Bansal et al. 2006. Fungus-mediated biotransformation of amorphous silica un


rice husk to nanocrystalline silica. J Am Chem Soc 128: 14059-14066.
Chandrasekhar,S., Satyanarayana. K. G., Pramada, P.N., and Raghavan,P. (2003)
Review Processing, Properties and Applications of Reactive Silica
from Rice Husk-An Overview, Journal of Materials Science.Vol.
38,pp. 3159 3168.
Chakraverty, A., Mishra, P., and Banerjee, D. (1988) Investigation of Combustion
of Raw and Acid-Leached Rice Husk for Production of Pure
Amorphous White Silica, Journal of Materials Science, Vol. 23, pp.
21-24.
Enymia, Suhanda dan Sulistiharini, N., 1998. Pembuatan Silika Gel Kering dari
Sekam Padi untuk Bahan Pengisi Karet Ban, Jurnal Keramik dan Gelas
Indonesia, 7 (182) 1-8.
Hadi, I., M. Arsa, dan IW. Sudiarta. 2013. Sintesis Silika Gel Dari Abu Sekam
Padi Dan Abu Limbah Pembakaran Batu-Bata Dengan Metode
Presipitasi. Jurnal Kimia 7 (1): 31-38
Harsono, H. 2002.Pembuatan Silika Amorf dari Limbah sekam padi. Jurnal Ilmu
Dasar, 3(2), 98-103.
Luh, B.S. (1991) Rice Utilization, Second Edition, Vol. 2, Van
Nostrand Reinhold, USA.
Moghaddam KM. 2010. An Introduction to Microbial Metal Nanoparticle
Preparation Method. The Journal of Young Investigators 19:19.
Murdiyono, M.N.H. 2009. Studi Perlakuan Alkali Terhadap Kekuatan Impak dan
Bending Komposit Serat Rami Bermatrik Polyester dengan Core Sekam
Padi Bermatrik Urea Formaldehide. Tugas Akhir Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Suka, I. G., W. Simanjuntak. S. Sembiring, dan E. Trisnawati. 2008. Karakteristik
Silika Sekam PAdi dari Provinsi Lampung yang diperoleh dengan
Metode Ekstraksi. MIPA. Tahun 37, Nomor 1, Januari 2008. hlm. 4752.
Sulastri, S dan S. Kristianingrum. 2010. Berbagai Macam Senyawa Silika:
Sintesis, Karakterisasi dan Pemanfaatan. Prosiding Seminar Nasional
Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA,
Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
Suparman. 2010. Sintesis Silikon Karbida (Sic) dari Silika Sekam Padi dan
Karbon Kayu Dengan Metode Reaksi Fasa Padat. [Tesis]. Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian, Bogor.

Umeda, J. and Kondoh, K. (2008) High-Purity Amorphous Silica Originated in


Rice Husks via Carboxylic Acid Leaching Process, Journal of
Materials Science, Vol. 43(22), pp. 7084-7090.
Umeda,J., I. Hisashi, et al. (2009). Polysaccharide Hydrolysis and Metallic
Impurities Removal Behavior of Rice Husks in Citric Acid Leaching
Treatment. Transactions of JWRI, Vol 38 (2), pp. 13-18.
Winarno, F.G., 1985, Limbah Hasil Pertanian, Kantor Menteri Muda Urusan
Peningkatan Pangan, Jakarta
Wogo, EM., JO. Segu, PD. Ola. 2011. Sintesis Silika Gel Terimobilisasi Dithizon
Melalui Proses Sol-Gel. Jurnal Sains dan Terapan Kimia, Vol.5, No. 1.
84-95

Lampiran 1. Diagram alir pembuatan Silika dari sekam padi

Sekam Padi
Air dan akuades

Pencucian

Zat pengotor (debu dan pasir)

Analisis:
Kadar abu
Kadar silika
Analisis morfologi

Pengeringan

Ekstraksi dengan asam sitrat 5% (T=800C, t=15-20 menit)

Pembakaran (T=3050C,
Variasi
t=30
suhu
menit
(T=5000C, T=7500C, dan T=10000C)
Variasi waktu (t=1 jam, t=3 jam, dan t=5 jam)
Pengabuan

Penggerusan dengan mortar


Pengayakan dengan ukuran 200 mesh

Bubuk Silika

Karakterisasi: SEM, FTIR, dan XRD

Aplikasi silika ke produk pangan sebagai pengawet alami

Karakterisasi produk