Anda di halaman 1dari 4

Penatalaksanaan (tambahan)

Haematemesis (muntah darah) merupakan suatu tanda dari perdarahan akut yang terjadi pada
saluran pencernaan bagian atas. Jumlah darah yang hilang bisa dalam hitungan milliliter sampai
hitungan liter dan penatalaksanaan yang dilakukan harus sesuai dengan volume cairan yang
hilang dan penyebab yang mendasari.
Managemen hematemesis dapat dibagi dalam 3 langkah :
a) Resusitasi
b) Identifikasi penyebab dan letak perdarahan
c) Managemen definitive (variceal vs. non variceal)
1. Resusitasi
Penatalaksanaan awal yaitu kumbah lambung menggunakan selang NGT untuk
mempertahankan kepatenan saluran nafas dan mencegah aspirasi. Pada pasien yang
sadar atau mengalami penurunan kesadaran , kumbah lambung dapat dilakukan dengan
posisi lateral miring kiri, dengan intubasi endotrakeal atau pada saluran nafas
orofaringeal. Penggunaan cairan suhu rendah atau dingin pada kumbah lambung tidak
disarankan karena akan menggeser kurva disosiasi hemoglobin kearah kiri dan dapat
berakibat langsung seperti penurunan aliran oksigen ke organ-organ vital serta
memperpanjang perdarahan dan prothrombin time (PTT).
Apabila fasilitas mendukung, dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan pulse
oximetry atau dengan analisa gas darah. Pemeriksaan yang dilakukan adalah
pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui level hemoglobin, PCV dan platelet,
PT/INR, cross matching, urea darah, serum elektrolit dan fungsi liver apabila dicurigai
terdapat keadaan patologis pada hepar. Pasien juga harus dipasang kateter untuk
mengetahui urine output.
Pada keadaan akut harus diperkirakan berapa darah pasien yang hilang dengan
cara sebagai berikut:

Apabila pasien syok maka pasien harus diberikan 8-10 lpm oksigen menggunakan
face mask dan dilakukan resisutasi cairan untuk mencapai keadaan euvolemia yang
ditunjukkan dengan urine output 0.5-1 ml/kg/jam. pada beberapa pasien terapi 1-2 liter
kristaloid akan memperbaiki kekurangan pada volume darah. Apabila perdarahan sangat
berat dan haemoglobin kurang dari 80 g/l, maka harus dilakukan transfusi. Terapi
medikasi yang diberikan yaitu omeprazole 80 mg yang harus diberikan secara bolus dan
harus diberikan secara rutin setiap 8 mg/ljam dalam 72 jam pertama.
2.

Identifikasi penyebab dan letak perdarahan


Pengkajian terhadap riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik dapat dilakukan
untuk mengetahui penyebab dan letak perdarahan seperti dyspepsia dan riwayat obatobatan NSAID pada peptic ulcer, episode mual muntah, stigmata pada penyakit liver
kronik (variceal bleeding). Endoskopi pada saluran pencernaan atas dapat dilakukan
untuk mengetahui adanya lesi dan sebagai dasar pemilihan treatment.

3. Managemen definitive (variceal vs. non variceal)


a) Managemen nonvariceal
Terapi farmakologis dan endoskopi

Apabila perdarahan tidak merespon terhadap pengobatan, maka harus dilakukan


pembedahan. Gastric ulcer dapat diobati dengan eksisi ulkus atau partial
gastrectomy.

b)
c) Managemen variceal