Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM

A. Masalah Utama :
Perubahan proses pikir : waham
B. Proses terjadinya masalah
1. Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh
faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan,
kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya.
(Budi Anna Keliat,1999).
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh
faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan,
kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya.
Waham

dapat

dicetuskan

oleh

adanya

tekanan,

isolasi,

pengangguran yang disertai perasaan tidak berguna, putus asa, tidak


berdaya.

Waham

juga

dapat

menimbulkan

terjadinya

kerusakan

komunikasi verbal.
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan
kenyataan tetapi dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh
orang lain, keyakinan ini berasal dari pemikiran klien dimanna sudah
kehilangan kontrol. (DEPKES RI, 1994)
2. Macam-macam Waham
Mayer-Gross membagi waham dalam dua kelompok, yaitu :
1. Waham Primer
Waham primer adalah waham yang timbul secara tidak logis sama
sekali, tanpa penyebab apapun dari luar. Menurut Mayer-Gross hal ini
hampir patognomonik bagi skizofrenia.

Contoh Waham Primer :


-

Mr. Anton waham bahwa istrinya sedang berbuat serong dengan


pria lain sebab ia melihat seekor cicak berjalan dan berhenti dua
kali

Mr.Thomas berkata dunia akan kiamat sebab ia melihat seekor


anjing sedang mengangkat kaki terhadap sebatang pohon untuk
kencing.

Jadi dapat disimpulkan bahwa waham primer adalah waham yang


timbul namun terdengar secara tidak logis dan tidak dapat dibuktikan
kebenarannya.
2. Waham Sekunder
Waham sekunder biasanya logis kedengarannya. Menanyakan
hal-hal spesifik tentang waham sekunder yang dialami klien namun
tanpa membenarkan merupakan cara bagi tenaga kesehatan untuk
mengetahui jenis waham apa yang terjadi pada klien. Pada proses
pengkajian tersebut juga dapat didapatkan gejala-gejala lain dari
skizofrenia.
Adapun jenis-jenis waham menurut Nita Fitria (2010), yaitu:
Waham Agama
Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan
berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Waham Kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan
khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain,
diucapkan

berulang-ulang

tetapi

tidak

sesuai

dengan

kenyataan.
Waham Curiga
Kecurigaan yang berlebihan dan tidak rasional dimana klien
yakin bahwa ada seseorang atau kelompok orang yang
berusaha merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan
berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Waham Somatik
Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
tertanggu atau terserang penyakit, diucapkan berulang-ulang
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Waham Nihilistik

Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia,


diucapkan

berulang-ulang

tetapi

tidak

sesuai

dengan

kenyataan.
Waham bizar
Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang
disisipkan didalam pikiran yang disampaikan secara
berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa
yang dia pikirkan walaupun dia tidak menyatakan kepada
orang tersebut yang dinyatakan secara berulang - ulang
dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan
dari luar.
3. Fase-fase Waham
1. Lack of Selfesteen
Tidak ada pengakuan lingkungan dan meningkatnya kesenjangan
antara kenyataan dan harapan. Ex : Mr. Suroso yang mengaku dirinya
seorang anggota DPR RI. Namun orang-orang di sekelilingnya tidak
mempercayai pengakuan tersebut. Sehingga orang tersebut mulai
kehilangan harapan.
2. Control Internal External
Mencoba berfikir rasional, menutupi kekurangan dan tidak sesuai
dengan

kenyataan. Ex : Mr. Suroso yang mencoba menutupi

kekurangannya dengan sering bicara politis (internal) dan memakai jas


serta dasi kemanapun ia pergi (external) untuk meyakinkan orang lain
bahwa dirinya seorang anggota DPR RI.
3. Environment support
Kerusakan control dan tidak berfungsi normal ditandai dengan tidak
merasa bersalah saat berbohong. Ex : Adanya beberapa orang yang
mempercayai klien dalam lingkungan, sehingga klien merasa didukung,
klien menganggap hal yang dikatakan adalah sebagai kebenaran,
terjadi kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsi normal (super ego).
4. Fisik Comforting
Klien merasa nyaman dengan kebohongannya

5. Fase Improving
Jika tidak ada konfrontasi dan korelasi maka keyakinan yang salah
akan meningkat.
4. Penyebab
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu
Gangguan konsep diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian
individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri,
dan merasa gagal mencapai keinginan. Townsend (1998, hal 158)
mengatakan bahwa hal-hal yang menyebabkan gangguan isi pikir :
waham adalah ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain, panik,
menekan rasa takut stress yang berat yang mengancam ego yang
lemah., kemungkinan faktor herediter.
Secara khusus faktor penyebab timbulnya waham dapat diuraikan dalam
beberapa teori yaitu :
a. Faktor Predisposisi
Menurut Townsend (1998) faktor predisposisi dari perubahan isi pikir :
waham kebesaran dapat dibagi menjadi dua teori yang diuraikan
sebagai berikut :
1. Teori Biologis
a. Faktor-faktor genetic yang pasti mungkin terlibat dalam
perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang
memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang
tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
b. Secara relative ada penelitian baru yang menyatakan bahwa
kelainan skizoprenia mungkin pada kenyataanya merupakan
suaru kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus
otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari selsel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang menderita
skizofrenia.
c. Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dopamin
neorotransmiter yang dipertukarkan dan menghasilkan gejala-

gejala peningkatan aktifitas yang berlebihan dari pemecahan


asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
2. Teori Psikososial
a. Teori sistem keluarga Bawen dalam Townsend (1998)
menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu
perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri
mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan
menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas
dan suatu kondisi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya
suatu hubungan yang saling mempengaruhi yang berkembang
antara orang tua dan anak-anak. Anak harus meninggalkan
ketergantungan diri kepada orang tua dan masuk kepada
masa dewasa, dimana di masa ini anak tidak akan mampu
memenuhi tugas perkembangan dewasanya.
b. Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami
psikosis akan menghasilkan hubungan orang tua anak yang
penuh akan kecemasan. Anak menerima pesan-pesan yang
membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak
mampu membentuk rasa percaya tehadap orang lain.
c. Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil
dari suatu ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat
dan suatu hubungan saling mempengaruhi orang tua dan anak
. karena ego menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme
pertahanan itu pada waktu kecemasan yang ekstrem mennjadi
suatu

yang

maladaptive

dan

perilakunya

sering

kali

merupakan penampilan dan sekmen diri dalam kepribadian.


b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) faktor presipitasi dari perubahan
isi pikir : waham kebesaran yaitu :
1. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan nerobiologis yang
maladaptive termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak
yang mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada
mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.

2. Stress lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress
yang berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan prilaku.
3. Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologist yang
maladaptive berhubungan denagn kesehatan lingkungan, sikap
dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur,infeksi,
keletihan, rasa bermusuhan atau lingkunag yang penuh kritik,
masalah perumahan, kelainan

terhadap penampilan, stress

agngguan dalam berhubungan interpersonal, kesepian, tekanan,


pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebaigainya.
5. Rentang Respons
Respons Adaptif

Respons Maladaptif

Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten
dengan pengalaman
Hubungan sosial

6. Proses Terjadinya Waham

Kadang proses pikir

Gangguan isi pikir

terganggu
Ilusi
Emosi berlebihan
Berperilaku yang

halusinasi
Perubahan proses

tidak biasa
Menarik diri

terorganisasi
Isolasi sosial

emosi
Perilaku tidak

Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan


mekanisme ego spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan
waham,

menggunakan

mekanisme

pertahanan

reaksi

formasi,

penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan sebagai


pertahanan melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan
cinta.

Kebutuhan

akan

ketergantungan

ditransformasikan

menjadi

kemandirian yang kokoh. Penyangkalan, digunakan untuk menghindari


kesadaran akan kenyataan yang menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk
melindungi diri dari mengenal impuls yang tidak dapat diterima didalam
dirinya

sendiri.

Hypersensitifitas

dan

perasaan

inferioritas,

telah

dihipotesiskan menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi, waham


kebesaran dan superioritas. Waham juga dapat muncul dari hasil
pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan fantasi sebagai cara

untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. Waham kebesaran


merupakan regresi perasaan maha kuasa dari anak-anak, dimana
perasaan akan kekuatan yang tidak dapat disangkal dan dihilangkan
(Kaplan dan Sadock, 1997).
Cameron, dalam Kaplan dan Sadock, (1997) menggambarkan 7
situasi yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu : peningkatan
harapan, untuk mendapat terapi sadistik, situasi yang meningkatkan
ketidakpercayaan

dan

kecurigaan,

isolasi

sosial,

situasi

yang

meningkatkan kecemburuan, situasi yang memungkinkan menurunnya


harga diri (harga diri rendah), situasi yang menyebabkan seseorang
melihat kecacatan dirinya pada orang lain, situasi yang meningkatkan
kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap
sesuatu.
7. Tanda dan Gejala
Menurut Kaplan dan Sadock (1997), kondisi klien yang mengalami
waham adalah:
1.

Status mental
a)

Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang


sangat normal, kecuali bila ada sistem waham abnormal yang
jelas.

b)

Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.

c)

Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.

d)

Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang


peningkatan identitas diri, mempunyai hubungan khusus
dengan orang yang terkenal.

e)

Adapun

sistem

wahamnya,

pemeriksa

kemungkinan

merasakan adanya kualitas depresi ringan.


f)

Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/


menetap, kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada
beberapa klien kemungkinan ditemukan halusinasi dengar.

2. Sensori dan kognisi


a)

Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali


yang memiliki waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.

b)

Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).

c)

Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang
jelek.

d)

Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan


dirinya. Keputusan

terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan

kondisi klien adalah dengan menilai perilaku masa lalu, masa


sekarang dan yang direncanakan.
8. Akibat
Klien

dengan

waham

dapat

berakibat

terjadinya

resiko

mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai


merupakan

suatu

tindakan

yang

kemungkinan

dapat

melukai/

membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.


Tanda dan Gejala :

Memperlihatkan permusuhan

Mendekati orang lain dengan ancaman

Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai

Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan

Mempunyai rencana untuk melukai

9. penatalaksanaan
a. Farmakoterapi
Tatalaksana pengobatan skizofrenia paranoid mengacu pada
penatalaksanaan skizofrenia secara umum menurut Townsend
(1998), Kaplan dan Sadock (1998) antara lain :
1)

Anti Psikotik
Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain :
a) Chlorpromazine
Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi, dan
mengurangi gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal :
325 mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan
dosis tertinggi : 1000 mg/hari secara oral.
b) Trifluoperazine

Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik


menarik diri. Dosis awal : 31 mg, dan bertahap dinaikkan
sampai 50 mg/hari.
c) Haloperidol
Untuk

keadaan

ansietas,

ketegangan,

psikosomatik,

psikosis,dan mania. Dosis awal : 30,5 mg sampai 3 mg.


Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang mengatasi
gangguan waham. Pada kondisi gawat darurat, klien yang
teragitasi

parah,

harus

diberikan

obat

antipsikotik

secara

intramuskular. Sedangkan jika klien gagal berespon dengan obat


pada dosis yang cukup dalam waktu 6 minggu, anti psikotik dari
kelas lain harus diberikan. Penyebab kegagalan pengobatan yang
paling sering adalah ketidakpatuhan klien minum obat. Kondisi ini
harus diperhitungkan oleh dokter dan perawat. Sedangkan terapi
yang berhasil dapat ditandai adanya suatu penyesuaian sosial,
dan bukan hilangnya waham pada klien.
2)

Anti parkinson
Triheksipenydil

(Artane),

untuk

semua

bentuk

parkinsonisme, dan untuk menghilangkan reaksi ekstrapiramidal


akibat obat. Dosis yang digunakan : 1-15 mg/hari
Difehidamin
Dosis yang diberikan : 10- 400 mg/hari
3)

Anti Depresan
Amitriptylin, untuk gejala depresi, depresi oleh karena ansietas,
dan keluhan somatik. Dosis : 75-300 mg/hari.
Imipramin, untuk depresi dengan hambatan psikomotorik, dan
depresi neurotik. Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan :
50-75 mg/hari.

4)

Anti Ansietas
Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan
somatroform, kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk
meringankan sementara gejala-gejala insomnia dan ansietas.
Obat- obat yang termasuk anti ansietas antara lain:
Fenobarbital

: 16-320 mg/hari

Meprobamat

: 200-2400 mg/hari

Klordiazepoksida

: 15-100 mg/hari

b. Psikoterapi
Elemen penting dalam psikoterapi adalah menegakkan
hubungan saling percaya. Terapi individu lebih efektif dari pada terapi
kelompok. Terapis tidak boleh mendukung ataupun menentang
waham, dan tidak boleh terus-menerus membicarakan tentang
wahamnya. Terapis harus tepat waktu, jujur dan membuat perjanjian
seteratur mungkin. Tujuan yang dikembangkan adalah hubungan
yang kuat dan saling percaya dengan klien. Kepuasan yang
berlebihan dapat meningkatkan kecurigaan dan permusuhan klien,
karena disadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi.
Terapis perlu menyatakan pada klien bahwa keasyikan dengan
wahamnya akan menegangkan diri mereka sendiri dan mengganggu
kehidupan konstruktif.
Bila klien mulai ragu-ragu dengan wahamnya, terapis dapat
meningkatkan tes realitas. Sehingga terapis perlu bersikap empati
terhadap pengalaman internal klien, dan harus mampu menampung
semua ungkapan perasaan klien, misalnya dengan berkata : Anda
pasti merasa sangat lelah, mengingat apa yang anda lalui, tanpa
menyetujui setiap mis persepsi wahamnya, sehingga menghilangnya
ketegangan klien. Dalam hal ini tujuannya adalah membantu klien
memiliki keraguan terhadap persepsinya. Saat klien menjadi kurang
kaku, perasaan kelemahan dan inferioritasnya yang menyertai
depresi, dapat timbul. Pada saat klien membiarkan perasaan
kelemahan memasuki terapi, suatu hubungan terapeutik positif telah
ditegakkan dan aktifitas terpeutik dapat dilakukan.
c. Terapi Keluarga
Pemberian terapi perlu menemui atau mendapatkan keluarga
klien, sebagai sekutu dalam proses pengobatan. Keluarga akan
memperoleh manfaat dalam membantu ahli terapi dan membantu
perawatan klien.
C. Pohon Masalah
Risiko mencederai
Perubahan proses pikir: Waham

Isolasi sosial: menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Koping Individu tidak efektif

D. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


1) Masalah keperawatan:
1. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
2. Perubahan proses pikir : waham
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
4. Koping individu tidak efektif
5. Isolasi sosial: menarik diri
2)

Data yang perlu dikaji:


a. Resiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan

Data subjektif
Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin
membunuh,

dan

ingin

membakar

atau

mengacak-acak

lingkungannya.

Data objektif
Klien

mengamuk,

merusak

dan

melempar

barang-barang,

melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.


b. Perubahan proses pikir : waham

Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.

Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,
merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat
waspada, tidak tepat menilai lingkungan/ realitas, ekspresi wajah
klien tegang, mudah tersinggung.

c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

Data subjektif:
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apaapa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan
malu terhadap diri sendiri

Data objektif:
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

E. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
2. Perubahan proses pikir : waham
F. Rencana Keperawatan
Diagnosa 1: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Tujuan umum :
Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan.
Tujuan khusus
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Tindakan:
a.

Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan


diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,

b.

buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).


Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan
perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan
anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak
mendukung

c.

disertai

ekspresi

ragu

dan

empati,

tidak

membicarakan isi waham klien.


Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi :
katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di
tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan

d.

tinggalkan klien sendirian.


Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan
perawatan diri.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.


Tindakan:
a.

Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang


realistis.

b.

Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu

c.

lalu dan saat ini yang realistis.


Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan

d.

perawatan diri).
Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai
kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa
klien sangat penting.

3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi


Tindakan:
a.
b.

Observasi kebutuhan klien sehari-hari.


Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di

c.

rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).


Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya

d.

waham.
Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan

e.

memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).


Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk
menggunakan wahamnya.

4. Klien dapat berhubungan dengan realitas.


Tindakan:
a.

Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,

b.
c.

tempat dan waktu).


Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.

5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar


Tindakan:
a.

Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi,

b.

efek dan efek samping minum obat.


Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama

c.

pasien, obat, dosis, cara dan waktu).


Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang

d.

dirasakan.
Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

6. Klien dapat dukungan dari keluarga.


Tindakan:
a.

Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga


tentang : gejala waham, cara merawat klien, lingkungan
keluarga dan follow up obat.

b.

Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga

Diagnosa 2: Perubahan proses pikir:


Tujuan umum :
Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham dan klien akan meningkat
harga dirinya.
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
a.

Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan


diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,

b.
c.
d.

buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)


Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang
berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya
sendiri

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


Tindakan :
a.

Klien

dapat

menilai

kemampuan

yang

dapat

Diskusikan

b.

kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,

c.

utamakan memberi pujian yang realistis


Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.


Tindakan :
a.
b.

Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah
pulang ke rumah

4. Klien dapat menetapkan/ merencanakan kegiatan sesuai dengan


kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
a.

Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap


hari sesuai kemampuan

b.

Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien

c.

Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan

Tindakan :
a.
b.
c.

Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan


Beri pujian atas keberhasilan klien
Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada


Tindakan :
a.

Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat

b.
c.
d.

klien.
Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

DAFTAR PUSTAKA
Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr.
Amino Gonohutomo, 2003
Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta :
EGC, 1999
Santoso, Budi. 2005 2006. Panduan Diagnosa Nanda. Jakarta : Prima
Medika.
Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th
ed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
Stuart, G.W. dan Sundden, S.J. ( 2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa.
Jakarta : EGC
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1,
Bandung, RSJP Bandung, 2000