Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam rangka menghindari kematian maternal & perinatal diperlukan
adanya pemeriksaan secara rutin ibu hamil dalam masa kehamilannya yang biasa
disebut antenatal care (ANC) melalui pelayanan kebidanan. Menurut WHO
Expert Committee on the Midwife in Maternity Care tujuan dari Maternity Care
ialah menjamin agar setiap wanita hamil dapat memelihara kesehatannya sebaikbaiknya dan agar wanita hamil melahirkan bayi sehat tanpa gangguan apapun
serta kemudian dapat merawat bayinya dengan baik (Nurdin, 2009).
Pemeriksaan kehamilan atau antenatal care adalah mencakup hasil yang
sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan cara membina hubungan saling
percaya dengan ibu, mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam
jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan ANC. Hal ini penting
untuk menjamin agar proses alamiah tetap berjalan normal selama pemeriksaan
kehamilan (Indarwati, 2010).
Antenatal

care

mencakup

berbagai

pelayanan

yaitu

anamnesa,

pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang salah satunya


yaitu pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Yaitu pemeriksaan yang dilakukan
apabila ada suatu indikasi, maka dilakukan pemeriksaan dengan USG untuk
mengetahui adanya komplikasi pada kehamilan (Indarwati, 2010).
Ultrasonografi (USG) adalah salah satu dari produk teknologi medical
imaging yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan janin dalam
kandungan disamping fungsi-fungsi lain dari USG. Medical Imaging adalah suatu
teknik yang digunakan untuk mencitrakan bagian dalam organ atau suatu jaringan
sel (tissue) pada tubuh tanpa membuat sayatan atau luka (non invasive)
(Abdiansah & Romodhon, 2012).
Saat ini pemeriksaan dengan menggunakan USG telah dipandang sebagai
standar baku yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan obstetri dan ginekologi
modern. Di masa yang akan datang bisa saja peranan USG ini seperti stetoskop
yang digunakan sehari-hari (Pribadi et al., 2011).
1

BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN
A; Pengertian dan Sejarah Perkembangannya
Ultrasonogra (USG) adalah alat diagnostik noninvasif menggunakan
gelombang suara dengan frekuensi tinggi diatas 20.000 hertz ( >20 kilohertz)
untuk menghasilkan gambaran struktur organ di dalam tubuh (Lyanda et al.,
2011).
Penggunaan USG saat ini tidak bisa lepas dari sejarah penemuan awal
gelombang ultrasonik (gelombang suara berfrekuensi tinggi). Sekitar tahun
1794 Lazzaro Spallanzani menunjukkan bagaimana kelelawar dapat terbang
tanpa menabrak dan dapat mencari mangsa dengan menggunakan gelombang
ultrasonik. Pantulan suara ultrasonik akan keluar dari tubuh kelelawar jika
menumbuk suatu objek sehingga kelelawar tidak akan menabrak objek
tersebut atau dapat menentukan lokasi mangsanya (Wirza, 2008).
Kemudian prinsip kerja gelombang ultrasonik ini mulai diterapkan
dalam bidang kedokteran sekitar tahun 1920-an. Penggunaan gelombang
ultrasonik ini pada mulanya digunakan untuk pengobatan/terapi bukan untuk
diagnostik. Gelombang ultrasonik digunakan untuk menghancurkan sel-sel
dan jaringan yang berbahaya dari suatu penyakit (Wirza, 2008).
Baru pada awal tahun 1940-an gelombang ultrasonik mulai diterapkan
untuk mendiagnosa suatu penyakit. Hal ini dilakukan oleh Karl Theodore
Dussik, seorang dokter saraf dari Austria bersama saudaranya Frederich yang
seorang ahli fisika. Mereka berhasil menemukan tumor otak dan pembuluh
darah pada otak besar dengan mengukur transmisi pantulan gelombang
ultrasonik melalui tulang tengkorak (Wirza, 2008).
Pada tahun 1949, John Julian Wild ahli bedah Inggris bekerja sama
dengan John Reid seorang teknisi. Mereka melakukan penelitian terhadap selsel kanker dengan menggunakan alat ultrasonik. Untuk keperluan penelitian
ini dibuatlah beberapa alat seperti

B-mode ultrasound, transduser (alat

pemindai jenis A-mode transvaginal dan transrectal (Wirza, 2008).


Pada akhirnya teknologi ultrasonik ini mulai diterapkan dalam bidang
obstetri dan ginekologi. Diawali dengan penelitian oleh Ian Donald tahun
2

1955 terhadap kista ovarium dengan menggunakan Metal Flaw Detector.


Penelitian selanjutnya menemukan metode pengukuran janin pada tahun
1980-an, teknologi transduser digital pada tahun 1990-an, serta teknologi
transduser 2 dimensi dan tiga dimensi modern (Wirza, 2008).
Sejarah perkembangan ultrasonik secara ringkas bisa dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 2.1 Perkembangan Teknologi Ultrasonik
Waktu
Th. 1790-1930an
Th.1940an
Th. 1950an
Th.1960an

Perkembangan Ultrasonik
Mengukur jarak dengan Echo
Dussik mencitrakan otak Ultrasonik
Doppler M-Mode
Contact B-scanner Pengamatan mekanik

Th. 1970an

Echoencephalography
Pencitraan real-time Scan-conversion Grayscale Linear

real-time

and phased arrays Commercial array system Puked wave


Th. 1980an
Th. 1990an
Th. 2000an

Doppler
Pencitraan aliran berwarna Wideband and spesialized
transducer
Sistem digital Pencitraan harmonik
Pencitraan 3D
Handheld 2D array for 3D imaging

(Imardi & Ramli, n.d.)


B; Cara Kerja USG
Cara kerja USG adalah memantulkan gelombang suara dan menerima
kembali gelombang suara yang telah dipantulkan setelah terkena suatu obyek.
Obyek disini berupa organ tubuh. Gelombang suara dikeluarkan oleh
transducer dengan panjang gelombang 2,5-14 kilohertz, panjang gelombang
yang dikeluarkan bervariasi tergantung dari bentuk transducer. Hasil
pemantulan gelombang suara tersebut kemudian akan diterima kembali oleh
transducer dan diproses oleh mesin USG kemudian ditayangkan dalam
monitor (Lyanda et al., 2011).
Kinerja USG tergantung dari semua alat-alat yang ada pada mesin
USG yaitu sebagai berikut.
1; Transducer

Transducer adalah komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh


yang akan diperiksa seperti dinding dada untuk pemeriksaan paru atau
dinding

perut untuk

pemeriksaan kehamilan. Di dalam tranducer

terdapat kristal yang digunakan untuk menangkap gelombang yang


disalurkan oleh transducer. Gelombang diterima dalam bentuk akuistik
(gelombang pantul) sehingga fungsi kristal disini adalah untuk
mengubah gelombang tersebut menjadi gelombang elektronik yang dapat
dibaca oleh komputer sehingga dapat diterjemahkan dalam bentuk
2;

gambar.
Monitor
Monitor adalah layar yang digunakan untuk menampilkan bentuk
gambar dari hasil pengolahan data komputer. Monitor yang digunakan
pada awal penemuan USG masih berupa layar tabung besar yang
terpisah dari mesin USG. Perkembangan teknologi yang terus
berkembang pesat membawa kemajuan pada teknologi monitor. Jika
pada awal penemuan memakai layar tabung yang besar kini sudah
menggunakan layar kecil dan tipis. Awal penemuan USG layar monitor
masih hitam putih sekarang sudah berwarna. Layar monitor sekarang
juga menjadi satu dengan alat USG sehingga bentuk USG lebih terlihat

3;

kecil.
Mesin USG
Mesin USG merupakan bagian dari USG berfungsi mengolah data yang
diterima dalam bentuk gelombang dan mengubah gelombang menjadi
gambar. Mesin USG merupakan pusat pengolah data seperti central
processor unit (CPU) pada komputer. Mesin USG sangat mempengaruhi
hasil pencitraan USG. Semakin baik CPU yang dipakai pada mesin akan
semakin baik dan cepat hasil yang ditayangkan di layar monitor USG.
Kemajuan teknologi juga mempengaruhi perkembangan bentuk mesin
USG. Awal penemuan mesin USG masih berbentuk sangat besar dan
berat sehingga sulit untuk dipindah-dipindahkan, sekarang ukuran mesin
USG sudah sangat kecil.
(Lyanda et al., 2011)

C; Jenis Pemeriksaan USG


Jenis pemeriksaan USG ada 4 jenis yaitu sebagai berikut.
1; USG 2 Dimensi
Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang). Kualitas
gambar yang baik sebagian besar keadaan janin dapat ditampilkan.
2; USG 3 Dimensi
Dengan alat USG ini maka ada tambahan 1 bidang gambar lagi yang
disebut koronal. Gambar yang tampil mirip seperti aslinya. Permukaan
suatu benda (dalam hal ini tubuh janin) dapat dilihat dengan jelas.
Begitupun keadaan janin dari posisi yang berbeda. Ini dimungkinkan
karena gambarnya dapat diputar (bukan janinnya yang diputar).
3; USG 4 Dimensi
Sebetulnya USG 4 Dimensi ini hanya istilah untuk USG 3 dimensi yang
dapat bergerak (live 3D). Kalau gambar yang diambil dari USG 3
Dimensi statis, sementara pada USG 4 Dimensi, gambar janinnya dapat
bergerak. Jadi pasien dapat melihat lebih jelas dan membayangkan
keadaan janin di dalam rahim.
4; USG Doppler
Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran darah terutama
aliran tali pusat. Alat ini digunakan untuk menilai keadaan/kesejahteraan
janin. Penilaian kesejahteraan janin ini meliputi gerak napas janin, tonus
(gerak janin), indeks cairan ketuban, doppler arteri umbilikalis, reaktivitas
denyut jantung janin.
(Sianipar, 2010)
D; Peran USG dalam ANC
Alat ultrasonografi merupakan salah satu alat yang memiliki peranan
yang sangat penting dalam dunia kedokteran untuk melakukan pemeriksaan
organ-organ yang berada dalam tubuh manusia termasuk dalam pemeriksaan
kehamilan (ANC). Alat USG semakin sering digunakan karena sifatnya yang
non-invasive sehingga dapat melakukan pemeriksaan kehamilan tanpa
melakukan pembedahan. Pesatnya penggunaan alat USG juga karena
panggunaan alat ini cenderung lebih aman bagi janin bila dibandingkan
dengan penggunaan alat radiografi yang menggunakan radiasi partikel
tertentu (Jatmiko & dkk, 2013).

Sebaiknya USG hanya digunakan 2 kali selama kehamilan, yaitu saat


hamil muda (trimester I) dan trimester II (pada masa kehamilan 1820
minggu), sedangkan pada trimester III biasanya dilakukan USG apabila ada
indikasi medis yang membahayakan bayi atau bumil itu sendiri. Namun pada
dasarnya usia kehamilan kapan pun bisa diperiksa dengan USG, karena USG
tidak berbahaya bagi kandungan (Sugiharto & Oktarina, 2011).
Sebenarnya belum ada keseragaman mengenai indikasi pemeriksaan
USG dalam kehamilan. Di beberapa negara Eropa, pemeriksaan USG
dikerjakan secara rutin sedikitnya 1-2 kali selama masa kehamilan.

Di

Amerika Serikat pemeriksaan USG dilakukan atas indikasi klinis, yaitu bila
dalam pemeriksaan klinis dijumpai keadaan yang meragukan atau
mencurigakan adanya kelainan dalam kehamilan. Indikasi tersebut antara lain
sebagai berikut.
1. Usia kehamilan yang tidak jelas
2. Didapati kehamilan multipel
3. Perdarahan dalam kehamilan
4. Didapati kematian janin
5. Didapati kehamilan ektopik
6. Didapati kehamilan mola
7. Terdapat perbedaan tinggi fundus uteri dan lamanya amenorea
8. Presentase janin yang tidak jelas
9. Didapati pertumbuhan janin terhambat
10. Didapati janin besar
11. Didapati oligohidramnion atau polihidramnion
12. Penentuan profil biofisik janin
13. Evaluasi letak dan keadaan plasenta
14. Adanya risiko atau tersangka cacat bawaan
15. Sebagai alat bantu dalam tindakan obstetrik
16. Didapati kehamilan dengan IUD
17. Didapati kehamilan dengan kelainan bentuk uterus
18. Didapati kehamilan dengan tumor pelvik
19.Sebagai alat bantu dalam tindakan intervensi dalam kehamilan,seperti
amniosentesis, biopsi villi koriales, transfusi intrauterin, fetoskopi, dan
sebagainya.
(Wiknjosastro, 2007)
Salah satu manfaat pemeriksaan USG dalam kehamilan adalah dapat
mengetahui pertumbuhan janin. Perhitungan pertumbuhan janin dapat diukur
dengan cara pengukuran ukuran tubuh janin yang dibandingkan dengan umur

kehamilan. Umur kehamilan dan ukuran tubuh janin kemudian dipetakan ke


statistika biometri janin yang merupakan standar ukuran tubuh janin.
Pengukuran janin dilakukan terhadap bagian tubuh tertentu dari janin yang
mudah diamati dengan ultrasonografi. Bagian yang biasa diukur yaitu,
diameter biparietal, keliling kepala (BPD), panjang paha (femur length),
lingkar perut (abdominal circumference), ataupun panjang lengan (humerus
length) (Jatmiko & dkk, 2013).
Selain itu masih banyak manfaat lain pemeriksaan USG pada ibu
hamil. Yaitu mengkonfirmasi awal kehamilan, melihat posisi dan kondisi
plasenta, mampu mendeteksi detak jantung janin pada usia kehamilan 5,5
minggu, mengetahui usia kehamilan secara tepat melalui pengukuran tubuh
fetus, menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan, dapat
mengetahui ancaman terjadinya keguguran, kehamilan ganda, dapat
mengukur volume cairan ketuban, dan kelainan letak janin serta untuk biopsy
atau pengeluaran cairan (Sugiharto & Oktarina, 2011).

BAB III
PERKEMBANGAN TERKINI
Dalam beberapa tahun terakhir ini, teknologi USG berkembang dengan
pesat. Setelah digunakannya USG 2D, saat ini muncul USG 3D dan USG 4D.
Yang memberi gambaran lebih baik dalam membantu menegakkan diagnosa dan
prognosis suatu penyakit dan kelainan (Pribadi et al., 2011).
Metode pencitraan 3D dengan ultrasonografi

tampaknya

sudah

berkembang menjadi suatu disiplin ilmu yang menarik. Penemuan-penemuan baru


terjadi setiap saat. Terutama karena adanya perbaikan dari proses-proses analisis
data oleh komputer sehingga tampilan resolusi, kecepatan proses dan kualitas
gambar sangat meningkat. Bentuk teknologi baru USG tersebut mengolah data
tiga dimensi dan menyajikannya dalam layar dua dimensi. Selain itu, dengan
menggunakan USG 4D, kita juga dapat melihat daerah yang dikehendaki
(terutama organ-organ yang bergerak seperti janin) pada saat yang bersamaan
(Pribadi et al., 2011).
Teknologi tiga dimensi telah memberikan kemudahan bagi dokter untuk
mengamati struktur anatomi suatu organ. Pengukuran yang dilakukan akan lebih
akurat baik dalam satu, dua maupun tiga dimensi (volumetri). Data yang diperoleh
dapat dilihat dalam bentuk multiplanar. Struktur-struktur gambar yang berlekuklekuk dapat dilihat dalam bentuk satu gambar saja. Data yang ada disimpan dalam
komputer yang nantinya dapat diamati kembali, meskipun hal tersebut
memerlukan memori dan kapasitas penyimpanan yang tinggi dalam komputer
(Pribadi et al., 2011).
Dalam bidang obstetri, penerapan USG 3D dalam mengamati anatomi
janin telah banyak menarik perhatian. Teknologi ini memungkinkan diamatinya
suatu struktur anatomi dilihat dari berbagai sudut yang dilengkapi dengan
kemampuan untuk meneliti setiap permukaannya. Ketepatan ukuran-ukuran suatu
organ pada janin akan lebih membantu diagnosa ada atau tidaknya malformasi,

sehingga dapat lebih awal ditentukan perlu tidaknya prosedur diagnosis lebih
lanjut, seperti amniosintesis. Jika dibandingkan dengan USG 2D, maka USG 3D
dapat memberikan informasi mengenai malformasi fetus 62% lebih banyak.
Teknologi ini memberikan informasi awal mengenai beberapa kelainan seperti
ventrikulomegali, enchepalocele, cleft lip, cleft palate dan kelainan wajah lainnya
(Pribadi et al., 2011).
Tersedianya menu-menu

khusus

dalam

USG

ini

memungkinkan

diamatinya sistem skeletal. USG 3D juga memberikan gambaran yang baik dalam
memberikan diagnosis kelainan ekstremitas, seperti clubbed feet dan phocomelia.
Termasuk jumlah jari janin, akan lebih9mudah terlihat adanya jari tambahan
(polydactily) (Pribadi et al., 2011).
Anatomi jantung fetus merupakan organ yang ruit dengan gerakannya
yang teratur sehingga sulit dilihat dengan USG. Namun dengan adanya USG 3D
jantung dapat dilihat dengan baik. Maka USG 3D dan 4D memudahkan deteksi
kelainan jantung sejak dalam kandungan. Selain itu, abdomen juga dapat dilihat
lebih baik, ditambah tingginya akurasi dalam mempelajari volumetri janin, seperti
perkiraan beratnya (Pribadi et al., 2011).
Hasil pencitraan 3D kondisi anatomi fetus pada trimester pertama dapat
digunakan untuk :
1; mengevaluasi uterus dan adneksa untuk diagnosis kehamilan;
2; mengevaluasi denyut jantung janin;
3; mengevaluasi jumlah janin;
4; mengevaluasi uterus, adneksa dan kavum Douglas dan Retzii.
Sedangkan pemeriksaan 3D pada trimester kedua dan ketiga bertujuan
untuk :
1; mengevaluasi tanda-tanda kehidupan, jumlah, presentasi dan aktivitas janin;
2; mengevaluasi volume cairan amnion;
3; mengevaluasi plasenta, serviks dan tali pusat;
4; mengavaluasi taksiran berat janin;
5; mengevaluasi uterus dan adneksa;
6; mengevaluasi anatomi janin.
(Pribadi et al., 2011)
USG 4D lebih unggul daripada USG 2D dalam hal evaluasi kegiatan
wajah yang kompleks dan ekspresi wajah. Di antara kegiatan wajah yang diamati
oleh USG 4D adalah kelopak mata dan gerakan mulut simultan yang
mendominasi antara 30 dan 33 minggu kehamilan. Gerakan mulut seperti

10

membuka mulut, mengeluarkan lidah, menguap dapat dilihat juga. Ekspresi wajah
seperti tersenyum dan cemberut dapat tepat diamati menggunakan USG 4D
(Purandare, 2006).
Selain itu, USG 4D telah berhasil digunakan untuk melakukan
amniosentesis, CVS, kordosentesis, dan transfusi intrauterin. Menggunakan USG
4D, kebanyakan prosedur dilakukan dalam waktu 5 menit dan dengan tingkat
keberhasilan 100%, bahkan dalam kasus yang melibatkan oligohidramnion,
plasenta tipis dan vena umbilikalis sempit. Selain itu, tidak ada komplikasi serius
selama atau setelah prosedur apapun (Purandare, 2006).

BAB IV
GLOBAL TREND
Penggunaan USG pada pemeriksaan kehamilan (ANC) saat ini menjadi
semakin dominan. Pemeriksaan USG selama kehamilan menjadi sesuatu yang
sama pentingnya (atau lebih penting lagi) dibandingkan dengan pemeriksaan
laboratorium darah rutin (Mose, 2008).
Pemeriksaan USG bagi wanita hamil memberikan mereka kepuasan,
kenyamanan dan sukacita. Karena mereka membutuhkan kepastian (bukti) tentang
kehamilan mereka dan memastikan bahwa janin yang mereka kandung dalam

11

keadaan normal. Dan dapat mengetahui apakah ada kehamilan ganda atau tidak
(Molander et al., 2010).
Hal ini didukung karena beberapa alasan sebagai berikut.
1; Mutu gambar USG semakin baik, kemampuannya semakin meningkat
terutama dengan masuknya USG 3D dan 4D.
2; Informasi tentang manfaat USG dan keunggulannnya di bidang obstetri telah
diketahui masyarakat luas melalui pelbagai media informasi yang ada.
3; Harga persatuan unitnya relatif semakin menurun dan terjangkau.
Hal inilah yang menyebabkan pemeriksaan USG menjadi suatu kebutuhan
dan dirasa wajib bagi wanita hamil (Mose, 2008).
Meningkatnya kebutuhan akan pemeriksaan USG ini dan semakin
canggihnya perkembangan alat USG menimbulkan beberapa permasalahan etik
yang menimbulkan kontroversi di masyarakat.
1; Penentuan Jenis Kelamin
Banyak pasien yang datang meminta pemeriksaan USG dengan tujuan
untuk mengetahui jenis kelamin janinnya. Namun tidak jarang terjadi seorang
pasien datang dengan maksud untuk tidak ingin mengetahui kelamin bayinya.
Oleh sebab itu sebelum menyampaikan informasi ini, perlu ditanyakan dulu
secara rutin keinginan pasien tersebut (Mose, 2008).
Ketakutan atau hambatan untuk menyampaikan informasi jenis
kelamin adalah timbulnya perasaan atau perlakuan yang berbeda terhadap
janinnya yang bisa berakhir dengan tindakan abortus provokatus. Namun, sisi
positifnya adalah pasangan suami istri ini akan lebih dahulu mengetahuinya
dan mempersiapkan hal-hal khusus bagi kelahiran bayinya termasuk nama,
12
warna baju, dan sebagainya (Mose, 2008).
2; Skrining Kelainan Kongenital
Pemeriksaan USG mampu mendeteksi dini kelainan kongenital janin.
Sebagai konsekuensi dari terdiagnosisnya kelainan kongenital janin maka
permintaan akan terminasi kehamilan akan meningkat. Hal ini merupakan
aspek etik penting yang harus diantisipasi. Dengan demikian seorang
ultrasonografer seharusnya selain dilengkapi dengan kemampuan untuk dapat
menegakkan diagnosis kelainan kongenital sedini mungkin, juga memiliki
kemampuan untuk memberikan konseling genetik, etiologi dan patogenesis
penyakit serta pilihan yang ditawarkan kepada pasien sehubungan dengan
pengelolaan cacat bawaan yang ditemukan. Tidak semuanya harus

12

diterminasi. Ada yang dapat diterapi inutero, diterminasi apabila keadaan


semakin memburuk atau terapi pascasalin (Mose, 2008).
3; Salon Janin (Boutique Fetal Imaging)
Yang dimasudkan di sini adalah penggunaan USG bukan untuk tujuan
diagnostik tapi hanya sekedar untuk memperoleh foto dari janin. Praktik
semacam ini telah banyak menjamur di banyak tempat pelayanan USG.
Misalnya di Amerika, ditemukan tempat-tempat yang menawarkan jasa
pemeriksaan USG untuk menampilkan wajah janin melalui pemeriksaan USG
3D (Mose, 2008).

BAB V
PENUTUP
A; Kesimpulan
Pemeriksaan USG sangat penting untuk pemantauan kehamilan
karena dapat mendeteksi adanya gangguan atau kelainan sehingga dapat
dilakukan penatalaksanaan yang tepat.
B; Saran
1; Sebaiknya pemeriksaan USG dilakukan oleh orang yang berkompeten
sehingga meminimalisir sebuah kesalahan.
2; Pemeriksaan USG hendaknya dilakukan terutama jika terdapat indikasi
medis yang mengharuskan pemeriksaan USG.
3; Hendaknya masyarakat mengetahui manfaat pemeriksaan USG secara
menyeluruh sehingga bukan hanya sekedar untuk mengetahui jenis
kelamin dan mendapatkan dokumentasi janin dalam bentuk foto atau CD.
Namun,

para

orang

perkembangan janinnya.

tua

dapat

mengetahui

pertumbuhan

dan

13

DAFTAR PUSTAKA
Abdiansah & Romodhon, R., 2012. Ekstraksi Bentuk Janin pada Citra Hasil USG
14
3 Dimensi Menggunakan Deteksi Tepi Canny. Journal of Research in
Computer Science and Applications, Vol. I, No. I, Juli 2012, pp.1-6.
Imardi, S. & Ramli, K., n.d. Pengembangan Dan Pengkayaan Fungsi Antarmuka
Perangkat Lunak untuk Visualisasi dan Analisis Citra Ultrasonografi. FT
UI. pp.1-10.
Indarwati, L., 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Ibu Hamil untuk
Memeriksakan Kehamilannya dengan Menggunakan USG di Poliklinik
Kandungan BPRSUD Salatiga Tahun 2008. Jurnal Kebidanan , Vol. II,
No. 02, Desember 2010, pp.52-60.
Jatmiko, W. & dkk, 2013. Teknik Biomedis: Teori dan Implementasi. Depok:
Fakultas Ilmu Komputer UI.
Lyanda, A., Antariksa, B. & Syahruddin, E., 2011. Ultrasonografi Toraks. Jurnal
Respirologi Indonesia, Vol. 31, No. 1, Januari 2011, pp.38-43.
Molander, E., Alehagen, S. & Bertero, C., 2010. Routine Ultrasound Examination
during Pregnancy: A World of Possibilities. Linkoping University Post
Print, pp.18-26.
Mose, J.C., 2008. Aspek Etik pada Pemeriksaan USG Obstetri. Majalah Obstetri
Ginekologi Indonesia , Vol 32, No 2 April 2008, pp.65-71.
Nurdin, A., 2009. Studi Deskriptif Distribusi Hasil Pemeriksaan Ultrasonorafi
transabdominal pada Antenatal Care Berdasarkan Trimester Kehamilan di
RSIA Siti Fatimah Makassar. Jurnal Kesehatan , Volume II No. 4 Tahun
2009, pp.43-56.

14

Pribadi, A., Mose, J.C. & Wirakusumah, F.F., 2011. Ultrasonografi Obstetri dan
Ginekologi. Jakarta: CV Sagung Seto.
Purandare, C.N., 2006. 3D 4D Ultrasound in Obstetrics and Gynecology. J
Obstet Gynecol India , Vol. 56, No. 1 : January/February 2006 , pp.22-24.
Sianipar, A.N., 2010. Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil terhadap Pemeriksaan USG
Selama Masa Kehamilan di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan
Tahun 2010. Skripsi, FK USU.
Sugiharto, M. & Oktarina, 2011. Pengembangan Metode Skreening USG di
Puskesmas PONED Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur (Studi
Kasus HTA). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan , Vol. 14 No. 4 Oktober
2011, pp.366374.
Wiknjosastro, H., 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Wirza, E., 2008. Rekonstruksi Sinyal Akustik A-Mode Menjadi B-Mode Sebagai
Dasar Sistem Pencitraan Ultrasonik. Tesis, FMIPA UI, pp.6-11.