Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum Ke-2

MK. Dietetik Penyakit Infeksi

Tanggal Mulai :21 Oktober 2015


Tempat
:Lab. Kulinari dan Dietetik

TATALAKSANA DIET LAMBUNG I PADA PASIEN


GASTRITIS

Oleh:
Kelompok 8 B
Suci Larasati
Nur Ayu Syaeftiana

I14130024
I14130105

Asisten Praktikum
Wiwi Febriyani S.Gz
Dini Kurnianingsih
Penanggung Jawab Praktikum
Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani
yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/
peradangan. Oleh karena itu gastritis adalah inflamasi atau peradangan pada
mukosa lambung (Price dan Wilson 2003). Inflamasi ini mengakibatkan sel darah
putih menuju ke dinding lambung sebagai respon terjadinya kelainan pada bagian
tersebut. Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung paling sering
diakibatkan oleh ketidakteraturan diet, misalnya makan terlalu banyak dan cepat
atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau terinfeksi oleh penyebab yang
lain seperti alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi (Brunner 2002).
Penyebab utamanya adalah infeksi (bakteri atau virus), iritasi lapisan organ cerna
yang bisa disebabkan oleh obat obatan, minuman beralkohol, eskresi asam
lambung yang berlebihan, muntah kronis, dan tertelan racun (Misnadiarly 2009).
Gastritis terbagi dua tipe yaitu gastritis akut dan gastritis kronis. Gastritis
akut merupakan kelainan klinis akut yang menyebabkan perubahan pada mukosa
lambung antara lain ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil (Wibowo 2007),
mukosa edema, merah dan terjadi erosi kecil dan perdarahan (Price dan Wilson
2003). Gastritis kronik ditandai dengan atrofi progresif epitel kelenjar disertai
hilangnya sel parietal dan chief cell di lambung, dinding lambung menjadi tipis
dan permukaan mukosa menjadi rata (Price dan Wilson 2003).
Gastritis kronik dapat menimbulkan keadaan atropi kelenjar-kelenjar
lambung dan keadaan mukosa terdapat bercak-bercak penebalan berwarna abuabu atau kehijauan (gastritis atropik). Hilangnya mukosa lambung akhirnya akan
mengakibatkan berkurangnya sekresi lambung dan timbulnya anemia pernisiosa.
Menurut Severance (2001) menyatakan bahwa walaupun banyak kondisi
yang dapat menyebabkan gastritis, gejala dan tanda-tanda penyakit ini sama antara
satu dengan yang lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain perih atau sakit
seperti terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih
buruk ketika makan (abdominal cramping and pain), mual (nausea),
muntah (vomiting), kehilangan selera (loss of appetite), kembung (Belching
or bloating), terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan, dan kehilangan
berat badan (weight loss).
Berdasarkan uraian diatas, Os dengan gastritis perlu mendapatkan
perhatian dalam konsumsi makanannya untuk menjaga agar berat badan tetap
dalam kondisi normal, karena gastritis dengan gejala dyspepsia intake sulit dan
demam dapat menurunkan nafsu makan Os yang menyebabkan asupan zat gizi
berkurang sehingga Os kehilangan berat badan hingga mengalami gizi kurang.
Oleh karena itu, penting bagi ahli gizi untuk melakukan tata laksana diet lambung
I pada pasien gastritis dan disfagia baik saat sakit maupun saat masa pemulihan
untuk mencegah kehilangan berat badan yang semakin besar, meningkatkan nafsu
makan pasien, dan mengganti sel-sel yang rusak pada saat sakit. Patofosiologi
penyakit Os dapat dilihat pada diagram berikut.
Jarang konsumsi buah dan sayur, konsumsi makanan berminyak

Gangguanmotilitasotot faring

Terjadiinflamasi/radang faring

Demam

Sulitmenelan

Asupanmenurun

Gambar1 Patofisiologi demam dan disfagia

TATALAKSANA DIET PADA PASIEN DEMAM DAN


DISFAGIA

NRM
Nama
Jenis Kelamin
Tanggal lahir
Usia
Diagnosis Medis

: 39473
: Tn. S
: laki-laki
: N/A
: 40 tahun
: Gastritis akut, dispepsia intake sulit, hipoalbuminemia.
Assessment Gizi

Antropometri
BB
TB
IMT

:59 kg
:170 cm
:BB/(TB m)2
= 59/(1.7)2
= 20.41 kg/cm2

Lingkar Lengan Atas : N/A cm


Tinggi Lutut
:N/Acm

Biokimia
Tabel 1 Hasil pengamatan biokimia Os
Parameter
Hb
Leukosit
Klinik/fisik

Hasil lab
12 g/dL
6000 mm3

Nilai rujukan
13-16 g/dL
5000-10000 mm3

Interpretasi
Rendah
Normal

Tabel 2 Tabel hasil pengamatan klinik dan fisik Os


Parameter
Hasil lab
Nilai rujukan
Interpretasi
Suhu tubuh
39C
36.5-37.5C
Tinggi
Tekanan darah
108/78 mmHg
120/80 mmHg
Rendah
Denyut nadi
20x/menit
60-80x/menit
Rendah
Nyeri abdomen
Riwayat Gizi
Alergi makanan
Lainnya
Pola makan

: N/A
: N/A
: Os gemar mengonsumsi makanan berlemak tinggi seperti
jeroan, kikil, dan sate kambing. Os jarang mengonsumsi
buah dan sayur. Setiap hari Os mengonsumsi kopi hitam
pada pagi dan malam hari. Sehari sebelum masuk rumah
sakit, Os hanya mengonsumsi 10 sendok bubur ayam, satu
potong roti selai coklat, dan sari kacang hijau.Tabel asupan
sebelum masuk rumah sakit (SMRS) Os disajikan pada
Tabel 3.
Tabel 3 Asupan SMRS Os

Zat Gizi
Energi (kkal)
Protein (gram)
Lemak (gram)
KH
(gram)

Kebutuhan
2524
94.7
70.1
378.6

SMRS
427
11.5
15
57.8

% SMRS
17
12.1
21.4
15.3

Tabel 3 menunjukkan bahwa asupan Os sebelum masuk rumah sakit untuk


energi sebesar 17%, protein 12.1 %, lemak 21.4%, dan karbohidrat sebesar
15.3%. Menurut WNPG (2004) parameter tingkat kecukupan zat gizi makro yang
meliputi energi, protein, lemak, dan karbohidrat diklasifikasikan baik jika
presentasenya antara 80-110% AKG, kurang jika < 80% AKG, dan lebih jika
>110% AKG . Mengacu pada literatur tersebut, asupan energi, protein , lemak,
dan karbohidrat Os tergolong kurang, dari semua data presentase asupan SMRS
tidak ada yang mendekati kategori baik.
Riwayat Personal
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit pribadi
Kebiasaan

: N/A
: N/A
: Os merupakan seorang perokok aktif.

Diagnosis Gizi
Domain Intake

NI 2.1
: Asupan oral tidak adekuat berkaitan dengan gastritis akut
ditandai oleh asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat Sebelum Masuk
Rumah Sakit (SMRS) < 70% dan adanya dispepsia.
Domain Clinis
NC 2.2
: Perubahan nilai laboratorium terkait gizi berkaitan dengan
disfungsi organ pencernaan ditandai oleh hasil lab yang abnormal.
Domain Behaviour
NB 1.1
: Pemilihan makanan yang kurang benar berkaitan dengan
kurangnya informasi mengenai makanan dan zat gizi ditandai oleh sering
mengonsumsi cabai dan mi instan.

Intervensi Gizi
Tujuan
Tujuan pemberian diet labung 1 adalah:
1. Memberikan makanan dalam bentuk saring sesuai dengan kebutuhan gizi
Os.
2. Memberikan makanan dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan
kerja lambung.
3. Mencegah atau menetralkan sekresi asam lambung yang berlebihan.
4. Meningkatkan pengetahuan terkait pedoman gizi seimbang.
Syarat Diet
1. Makanan yang diberikan mudah dicerna, porsi kecil, dan diberikan sering.
2. Energi dan protein cukup, sesuai daya terima pasien.
3. Lemak rendah, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total yang
ditingkatkan secara bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan.
4. Rendah serat, terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara
bertahap.
5. Cairan cukup, terutama bila ada muntah.
6. Tidalk mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara
termis, mekanis, maupun kimia.
7. Rendah laktosa bila ada gejala intoleransi laktosa, umumnya tidak
dianjurkan minum susu terlalu banyak.
8. Makan secara perlahan di lingkungan yang tenang.
9. Pada fase akut dapat diberikan makanan paranteral selama 24-48 jam
untuk memberi istirahat pada lambung (Almatsier 2013).
Perhitungan Kebutuhan Gizi
AMB
= (9.99 x BB) + (6.25 x TB) (4.92 X U) + 5
= (9.99 x 59) + (6.25 x 170) (4.92 X 21) + 5
= 1553.6
Kebutuhan Energi
= AMB x FA x FS
Kebutuhan Energi
= 1553.6 x 1.2 x 1.4
= 2610 kkal

Diberikan secara bertahap sebesar 70%


Kebutuhan Energi

= (70% x 2610)
= 1827 kkal

Kebutuhan Protein

= (20% x Kebutuhan Energi) : 4


= (20% x 2610 kkal) :4
= 130.5 g x 70%
= 91.4 g

Kebutuhan Lemak

= (15% x Kebutuhan Energi) : 9


= (15% % x 2610 kkal) : 9
= 43.5 g x 70%
= 30.45 g

Kebutuhan KH

= (65% x Kebutuhan Energi) : 4


= (65% x 2610 kkal) : 4
= 424.1 g x 70%
=296.9 g

Implementasi
Diberikan diet lambung 1 secara bertahap sebesar 70% dengan energi
sebesar 1827 kkal, protein 91.4 gram, lemak 30.45 gram, dan karbohidrat 296.9
gram berbentuk makanan saring melalui jalur per oral sebanyak enam kali waktu
makan dengan ketentuan tiga kali makan utama dan tiga kali selingan. Selain itu,
juga diberikan edukasi mengenai pemilihan makanan yang benar dan pola hidup
sehat dalam bentuk poster atau leaflet yang disampaikan melalui konsultasi gizi.
Pembagian makan Os dalam sehari disajikan pada tabel berikut .

Golongan
Makanan
pokok
Lauk hewani
Lauk nabati
Sayur
Buah
Susu
Gula
Minyak

SP

Tabel 4 Distribusi menu sehari


Selingan
Selingan
Pagi
Siang
1
2

5.5

2.5

5.0
1
2.2
4.5
2.8
2.8
6.75

1
0.2
1
0.7
2

1
1.3
2
-

2.5
0.75
1.5
1.75

1
0.8
1

1.5
1
0.25
1
0.8
2

Tabel 5 Menu diet Os menurut satuan penukar

Malam

Waktu
Makan

Menu
Makanan

Bahan
Makanan
Roti tawar
Telur ayam
Margarin
Selada
Tomat
Mayonaise
Susu penuh
bubuk
Pisang
ambon

Sandwich
Pagi
Susu putih
Pisang
Total Makan Pagi
Puding susu
strawberry
Slngn I

Agar
Susu
Gula
Straw-berry

Total Konsumsi Selingan I


Nasi
Beras
Sayur bening
Bayam
Gambas
Ikan goreng
Ikan
Siang
bandeng
Minyak KS
Telur rebus
Telur
Melon
Melon
Total Makan Siang
Jagung manis Jagung
rebus
manis
Keju
Slngn II
Susu kental
manis
Total Selingan II
Nasi
Ayam

Sup

Beras
Kentang
Wortel
Kol
Ayam tanpa
kulit
Gula

Malam

Minyak
Kering tempe

Tempe
Minyak
Gula

Semangka
Total Makan Malam

Semang-ka

Ukuran
URT

Berat
(g)
70

Kandungan Zat Gizi


E
P (g) L (g)
(kkal)
175
4
0

KH
(g)
40

55
5
10
10
5
20

75
50
0
0
50
100

7
0
0
0
0
4.7

5
5
0
0
5
6.7

0
0
0
0
0
6.7

1 bh

50

50

12

sdm
4/3 gls
2sdm
2 bh

5
267
26
20

2 gls
gls
gls
1 ptg

250
50
25
80

500
0
100
100
50
250
438
13
6
100

15.7
0
9.1
0
0
9.1
10
0.5
0.3
14

21.7
0
0
0
0
0
0
0
4

58.7
0.7
13
24
12
49.7
100
2.5
1.3
0

2 sdt
btr
2 ptg

8.8
27.5
285

1 gls

100

88
38
75
757
25

0
3.5
0
28.3
1

8.8
2.5
0
15.3
0

0
0
18
121.8
5

1 ptg
kcl
4/5gls

35

125

10

80

100

1 gls
1/14 bj
sdg
2/13
gls
2/13
gls
1 ptg
sdg
2/5
sdm
1 sdt

100
15

250
350
13

14
8
0.3

11
0
0

23
80
3

15

0.1

0.8

10

0.1

0.5

60

75

10.5

19

4.6

50

2 ptg
sdg
2 sdt
2/5
sdm
1 ptg
sdg

50

75

10
5

100
19

0
0

10
0

0
4.6

180

50

12

758

24

21

112.5

3 ptg
sdg
1 btr
1 sdt
2 lmbr
2 iris
1 sdt
4 sdm

Waktu
Makan

Menu
Makanan

Bahan
Makanan

Total Kandungan Gizi Sehari

Ukuran
URT

Berat
(g)

Kandungan Zat Gizi


E
P (g) L (g)
(kkal)
2515
91.1
69

KH
(g)
365.7

Monitoring dan Evaluasi

Monitoring Antropometri
Monitoring antopometri bertujuan untuk memantau berat badan Os, yaitu
untuk mencegah penurunan berat badan. Selain itu status gizi Os juga harus
dimonitoring berdasarkan indikator IMT agar IMT Os tetap dalam kategori
normal.
Monitoring Biokimia
Pemeriksaan biokima Os menunjukkan hasil normal untukkadar
hemoglobin
danleukosityaitukadar
hemoglobin
sebesar
13
3
g/dLsertaleukositsebesar 9000/mm .Monitoring biokimia dilakukan untuk
memantau hasil laboratorium Os agar tetap dalam batas normal.
Monitoring Fisik dan Klinis
Pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa semuahasilpemeriksaanOs
normal yaitutekanandarahsebesar 120/80mm/Hg, denyutnadi 90x/menit,
suhutubuhsaatOssakitsebesar
39C
tetapisaatinisudahturunmenjdai
37.5C.Dilakukan pengecekan secara rutin terhadap kondisi fisik dan klinis Os
agar berada dalam kondisi normal.
Monitoring Asupan
Menurut kondisi pasien, Os diberikan diet demamdandisfagiadengan
energi sebesar 2524 kkal. Makanan yang diberikan adalahmakananbiasadengan
frekuensi tiga kali menu utama dan dua kali selingankarenaOssudahdalamkondisi
yang membaik.Monitoring asupan makanan dilakukan dengan membandingkan
ketersediaan dengan kebutuhan Os. Evaluasi terhadap menu makan sehari yang
diberikan pada Os sudah baik, bervariasi, dan memiliki rasa yang enak. Namun
terdapat beberapa evaluasi yang spesifik terhadap menu makan pada masingmasing waktu. Menu makan pada pagi hari yaitusandwich, pisang, dan susu.
Pisang yang diberikan memiliki mutu kurang baik karena terdapat bercak hitam
pada kulit pisang, selain itu susu yang diberikan sebaiknya sebanyak satu satuan
penukar,dan mengurangi berat roti agar kandungan gizi tetap seimbang. Porsi
menu selingan yaitu puding susu strawbery dan jagung rebus manis, keduanya
diberikan pada porsi yang terlalu banyak, selain itu tampilan puding kurang
menarik.
Evaluasi pada makan siang yaitu terlalu banyaknya porsi melon yang
disajikan, variasi menu sehari kurang beragam karena terdapat dua sumber pangan
hewai, sebaiknya hanya ada satu jenis pangan hewani dan satu jenis bahan pangan
nabati, serta pemilihan menu yang kurang berwarna. Sebaiknya dalam pemilihan
menu, juga diperhatikan variasi warna dari bahan pangan tersebut agar nafsu

makan Os muncul. Makan malam yang disajikan sudah baik, namun sebaiknya
pangan yang diberikan sudah sesuai dengan BDD agar pasien mudah
mengonsumsinya, seperti semangka dan ayam yang dibuang tulangnya.
Perhatikan pemilihan bahan, jika ingin menyajikan ayam, sebaiknya memilih
bagian dada karena memiliki jumlah daging yang banyak dan sedikit tulang
sehingga memudahkan pasien dalam mengonsumsinya. Selain itu, menu yang
disajikan sebaiknya sesuai dengan masing-masing bahan pangan, tidak
mencampurkan dua sumber bahan pangan dalam satu menu seperti sup
ayam.Berikut adalah tabel persentase tingkat kecukupan zat gizi.
Tabel 6 Susunan menu sehari berdasarkan DKBM
Waktu
Makan

Ukuran
Menu
Makanan
Sandwich

Bahan
Makanan
Roti tawar

Susu
Buah

Berat
(g)
67

selada
tomat
mayonaise
susu
penuh
bubuk
pisang ambon

3 ptg
sdg
1 btr
1 sdt
2 lbr
2 iris
1 sdt
2/3
sdm
1 bh

Agar
Susu
Gula
Straw-berry

telur ayam
margarin
Pagi

URT

60
5

97
32

7.7
0

6.9
3.5

0.4
0

10
10
5

2
2
45

0.1
0.1
0

0
0
9

0.3
0.4
0

20
82

96
81

5
1.0

11
21.2

sdm

522
0

19.3
0

5
0.2
25.
4
0

4/5 gls
2 sdm
2 bh

200
26
30

128
95
10

10.4
0
0.2

6.4
0
0.1

10.4
24.4
2.3

233

10.6

6.5

250
25
47
82
8.8

445
9
8
85
79

5.3
0.9
0.4
13.1
0

0.3
0.1
0.1
3.1
8.8

37.1
101.
5
1.6
1.9
0
0

30
200

49
64

3.8
1.4

0.2
19.6
124.
9
26.4

Total
Selingan
1

Puding susu
strawberry

Total
Siang

Nasi
Sayur Bening
Ikan Goreng

Telur Rebus

Beras
Bayam
Gambas
Ikan bandeng
Minyak

Total
Malam

66.8
0

Telur
Melon

2 gls
1/4 gls
1/2 gls
1 ptg
2 sdt
1/2
butir
2 ptg

Jagung manis

1 bh

75

739
131

24.9
3.2

3.5
1.8
17.
7
1.4

Keju
Susu
manis

1 ptg
3sdm

25
15

70
98

4
0.8

5
3

2
17.3

100

299
356

8.1
4.2

9.4
0.2

45.6
81.2

Total
Selingan
2

Kandungan Zat Gizi


E
L
KH
(kkal P (g)
(g)
(g)
)
167
5.4
0.8
33.5

Jagung manis

Nasi

Beras

kental

1 gls

Sup ayam

Kentang
Wortel
Kol
Ayam
kulit
Gula

tanpa

Minyak KS

1/7 bj
sdg
2/13
gls
2/13
gls
1 ptg
sdg
2/5
sdm
1 sdt

15

12

0.3

2.9

15

0.2

1.4

10

0.1

0.5

60

105

6.3

8.7

18

4.7

45

Tabel 6 Susunan menu sehari berdasarkan DKBM (Lanjutan)


Waktu
Makan

Ukuran
Menu
Makanan
Kering tempe

Bahan
Makanan
Tempe
Minyak kelapa
sawit
Gula

Semangka
Total
Total kandungan gizi sehari

Semangka

URT

Berat
(g)

Kandungan Zat Gizi


E
L
KH
(kkal P (g)
(g)
(g)
)
74
9.1
2
6.4

2 ptg
sdg
2 sdt

50
10

90

10

2/5
sdm
1 ptg
sdg

18

4.7

133

37

9.2

763

20.2

111

2556

83.1

25.
9
84.
9

385.
4

Kandungan zat gizi berdasarkan DKBM kemudian dibandingkan dengan


kebutuhan Os untuk menghitung presentase ketersediaannya. Berikut adalah tabel
perbandingan ketersediaan dan kebutuhan zat gizi energi, protein, lemak,
karbohidrat dan serat.
Tabel 7 Perbandingan ketersediaan dan kebutuhan gizi Os
Zat Gizi
Kebutuhan
Ketersediaan
Persentase (%)
Energi (kkal)
2524
2556
101
Protein (gram)
94.7
83.1
87.8
Lemak (gram)
70.1
84.9
121.1
Karbohidrat (gram) 378.9
385.4
101.7
Berdasarkan tabel perbandingan ketersediaan dan kebutuhan gizi Os,
presentase energi, karbohidrat, dan protein berada dalam kategori normal berturutturut sebesar 101%, 87.8%, dan 101.7%. Sedangkan presentase ketersediaan
lemak berada pada kategori tinggi karena >110% (WNPG 2004). Tingginya
presentase lemak ini dikarenakan pada perhitungan ketersediaan yang
menggunakan DKBM kandungan lemak dari tiap-tiap waktu makan meningkat
dibandingkan jika dihitung menggunakan DBMP. Contohnya pada waktu makan
malam, perhitungan ayam pada DBMP menggunakan ayam tanpa kulit,

sedangkan pada DKBM ayam yang digunakan adalah ayam yang belum spesifik
ciri-cirinya sehingga kandungan lemaknya berbeda jauh.
140
120
100
80
60
40
20
0

101

87.7

121.1

101.7

Gambar 2 Persentase perencanaan ketersediaan dengan kebutuhan Os


Monitoring Perilaku
Diperlukan monitoring terhadap perilaku Os yang berkaitan dengan diet
dan pola hidup. Os diberikan konsultasi gizi terkait pola hidup sehat dan
mengurangi kebiasaan merokok, hal ini juga dapat menjadi salah satu cara agar
denyut nadi Os menjadi normal.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Os didiagnosa disfagia dan radang faring. Os diberikan diet dengan
kandungan energi sebesar 2556 kkal, protein 83.1 gram, lemak 84.9 gram, dan
karbohidrat sebesar 385.4 gram. Diet diberikan melalui jalur per oral sebanyak
lima kali yaitu tiga kali makan utama dan dua kali selingan. Berdasarkan
presentase ketersediaan diet yang telah memenuhi kebutuhan adalah energi,
protein, dan karbohidrat. Sedangkan presentase lemak dikategorikan tinggi.
Saran
Penyusunan menu untuk Os yang telah pulih dari sakit tetap perlu
diperhatikan, karena Os masih dalam tahap pemulihan. Bahan pangan, porsi, dan
variasi menu harus diperhatikan agar diet yang diberikan dikonsumsi oleh Os.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2007. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. Jakarta (ID):
Departemen Kesehatan RI Ind Indonesia Departemen Kesehatan.
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian.
Nelms M, Sucher KP, Lacey K, Roth SL. 2010. Nutrition & Therapy and
Pathophisiology. Belmont CA (US): Wadsworth Cengange Learning.
Soesanto BA. 2006. Faktor Resiko Faringitis kronik [thesis]. Semarang (ID):
FakultasKedokteran Universitas Diponegoro.

[WNPG] Widyakarya Pangan dan Gizi VIII. 2004. Ketahanan Pangan Dan Gizi di
Era Otonomi Daerah dan Globalisasi. Jakarta, 17-19 Mei 2004.

LAMPIRAN

Gambar 3 Menu makan pagi

Gambar 5 Menu makan siang

Gambar 2 Menu selingan

Gambar 6 Menu makan malam