Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
2.1 Latar belakang
Petanda tumor adalah substansi biologi yang diproduksi oleh sel-sel tumor,
masuk dalam aliran darah, dan dapat dideteksi nilainya dengan pemeriksaan.
Petanda-petanda tumor, idealnya mempunyai potensi untuk membantu ahli klinik
dengan cara memberi sinyal aktivitas penyakit dalam keadaan tidak adanya
manifestasi klinik, sehingga dengan demikian memberikan suatu metode skrining
untuk penyakit preklinik, memantau status tumor selama pengobatan, dan
mendeteksi kekambuhan dini. Karena kemajuan dalam teknologi antibodi
monoklonal, banyak petanda tumor sekarang dapat terdeteksi dalam sampel cairan
tubuh yang sedikit misalnya serum, urin, atau asites.
Petanda tumor umumnya diperiksa dari darah. Kegunaan dari petanda
tumor untuk skrining kanker. Petanda tumor ini dipakai untuk menyaring dan
membantu menegakkan diagnosis untuk kanker, mengikuti perjalanan penyakit
dan ingin mengetahui adanya kekambuhan (relapse). Umumnya pemeriksaan
petanda tumor tidak dapat diperiksa secara tunggal untuk mendeteksi adanya
kanker, harus dengan menggunakan beberapa petanda tumor.
Alpha fetoprotein (AFP) adalah glikoprotein yang dihasilkan oleh yolk sac
kantung kuning telur yang akan menjadi sel hati pada janin. Ternyata protein ini
dapat dijumpai pada 70 95% pasien dengan kanker hati primer dan juga dapat
dijumpai pada kanker testis. Pada seminoma yang lanjut, peningkatan AFP
biasanya disertai dengan human Chorionic Gonadotropin (hCG). Kadar AFP tidak
ada hubungan dengan besarnya tumor, pertumbuhan tumor, dan derajat
keganasan. Kadar AFP sangat tinggi (>1000 IU/mL) pada kasus dengan
keganasan hati primer, sedangkan pada metastasis tumor ganas ke hati (keganasan
hati sekunder) kadar AFP kurang dari 350 400 IU/mL. Pemeriksaan AFP ini
selain diperiksa di dalam serum, dapat juga diperiksakan pada cairan ketuban
untuk mengetahui adanya spinabifida, ancephalia, atresia oesophagus atau
kehamilan ganda.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Alpha-Fetoprotein
Alpha-Fetoprotein (AFP) adalah suatu protein plasma yang secara normal
dihasilkan oleh liver, gastrointestinal tract, dan yolk sac pada fetus. AFP
merupakan antigen tumor yang tidak bersifat antigenik, namun dapat digunakan
sebagai tumor marker untuk keperluan diagnostik dan prognostik terhadap
beberapa jenis tumor.
Secara normal, konsentrasi AFP tinggi di dalam darah fetus, dan akan
menurun secara bertahap setelah bayi lahir hingga menjadi tidak terdeteksi dengan
bertambahnya umur. Selama kehamilan, AFP akan mengalir ke plasenta dari
sirkulasi fetal dan akan ditemukan pada darah ibu. Pemeriksaan AFP biasanya
disarankan untuk dilakukan pada masa kehamilan 16-18 minggu.
2.2 Peran Alpha-Fetoprotein
Data WHO menunjukkan, kanker hati adalah jenis kanker nomor enam di
dunia dan penyebab kematian urutan ketiga terbesar. Pada tahun 2005, kanker
telah membunuh lebih dari 206 ribu jiwa orang Indonesia, 12.5% diantaranya
pengidap kanker hati. Alpha-fetoprotein (AFP) merupakan salah satu pertanda
tumor untuk keganasan hati. Peningkatan progresif AFP sampai diatas 400 ng/ml,
ditemukan pada 90% penderita kanker hati. Oleh karena itu, pemeriksaan ini
penting untuk deteksi dini kanker hati.
Pengukuran kadar AFP memiliki manfaat besar sebagai indeks
kekambuhan penyakit. Pada pasien karsinoma hepatoselular yang diterapi,
hilangnya AFP mengisyaratkan eliminasi sel-sel ganas, dan peningkatan kadar
mencerminkan rekurensi kanker. Setelah intervensi terapeutik, pengukuran AFP
sebaiknya diulang setiap satu bulan untuk memberikan waktu agar AFP yang
sudah ada dapat dibersihkan dari sirkulasi. Menetapnya AFP setelah interval
tersebut mengisyaratkan sintesis yang berkelanjutan oleh tumor , karena kadar
AFP serum proporsional dengan massa tumor.

Penderita dengan sirosis atau hepatitis B kronis, sebaiknya dimonitor AFP


nya secara reguler karena mempunyai resiko menjadi kanker hati. Jika
penderita sudah terdiagnosa sebagai kanker hepato seluler AFP harus diperiksa
secara periodik untuk membantu mengetahui respon terapinya.
Selama kehamilan, kadar AFP dalam cairan amnion lebih tinggi dari
normal apabila janin yang dikandung mengalami defek neural tube. AFP cairan
amnion dapat masuk sirkulasi ibu, dengan demikian kadar AFP dalam serum ibu
secara rutin dapat digunakan sebagai penyaring untuk mengetahui defek neural
tube sebelum lahir. Jumlah AFP dalam darah yang dapat membantu wanita hamil
melihat apakah bayi memiliki masalah seperti spina bifida dan anencephaly.
Pemeriksaan AFP dapat juga digunakan sebagai bagian dari skrining tes lainnya
untuk menemukan masalah kelainan kromosom seperti Down syndrome (trisomy
21) atau Edwards syndrome (trisomy 18) dan omphalocele.
Disamping berperan sebagai suatu petanda yang bermanfaat untuk kanker
hati, AFP juga berperan sebagai petanda adanya kanker testikular, dan tumortumor sel germinal tertentu pada ovarium. AFP juga meningkat pada penyakit
hati jinak dan dalam persentase yang kecil dari kanker paru dan gastrointestinal.
2.3 Manfaat Pemeriksaan Alpha-Fetoprotein
1. Mendeteksi dan memantau kondisi karsinoma hepatoseluler
2. Bersama dengan hCG untuk memantau nonseminomatous germ cell
khususnya pada tumor testis, Yolk sac tumor (AFP tinggi, hCG normal),
Chorio karsinoma (AFP normal, hCG tinggi), dan Embrional karsinoma
(AFP dan hCG tinggi).
2.4 Kadar Alpha-Fetoprotein dalam keadaan abnormal
2.4.1

Peningkatan kadar serum AFP maternal dijumpai pada :


a. Neural tube defects ( omphalocele )
b. Kehamilan multipel
c. Fetal distres
d. Fetal death

2.4.2

Kadar AFP maternal yang rendah pada :


a. Trisomy 21 ( Down syndrome )

2.4.3

Peningkatan kadar AFP non maternal dijumpai pada :


a. Kanker hepatoselular primer (hepatoma)
b. Adanya metastase kanker di hati
c. Kanker sel germinal atau yolk sac dari ovarium
d. Tumor sel embrional atau sel germinal dari testis
e. Kanker lain seperti : stomach, colon, lung, breast dan lymphoma
f. Nekrosis sel hati (Sirosis hati, hepatitis)

2.5 Indikasi pemeriksaan AFP


Secara signifikan kadar AFP yang tinggi umumnya ditemukan dalam
kasus kanker hati dan peningkatan AFP juga dapat (ditemukan/ tidak) menyertai
metastasis tumor hati lainnya. Oleh karena itu, evaluasi AFP ditujukan ketika
dicurigai tampak lesi fokal di hati dengan metode pencitraan seperti USG perut
atau Computed tomography. Namun, jika memungkinkan, disarankan untuk
memeriksa lesi tersebut dengan biopsi hati, yang memungkinkan kita untuk
mendapatkan sampel jaringan untuk evaluasi histologi. Selain itu, AFP juga dapat
meningkat pada beberapa tumor embrio yang sangat langka.
2.6 Cara pemeriksaan AFP
Pemeriksaan AFP (Alpha-fetoprotein) dilakukan dengan menggunakan
Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA) dengan menggunakan
sampel uji berupa serum atau plasma dengan antikoagulan sodium heparin,
lithium heparin atau EDTA. Sampel uji berupa serum atau plasma tersebut dapat
bertahan 7 hari pada suhu 2-80C atau bisa lebih dari 7 hari apabila dibekukan pada
suhu -200C atau lebih rendah. Sebelum melakukan pemeriksaan tidak ada
persiapan khusus untuk pasien.
4

Interpretasi Hasil :
Kadar normal dari AFP adalah di bawah 10 ng/ml.
Kenaikan sedang sampai 500 ng/ml dapat terjadi pada penderita hepatitis
kronik.
Sedangkan kadar di atas 500 ng/ml hanya terdapat pada :
1. Kanker hati
2. Kanker testis dan ovarium
3. Proses penyebaran kanker yang telah mencapai hati

Gambar 2.1 Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA)

Hal-hal yang dapat mempengaruhi hasil tes :


Kontaminasi dari darah fetus, yang dapat terjadi saat ammiocentesis.
Perokok.
Gestational diabetes.
Jika pernah melakukan tes medis yang menggunakan radio aktif dalam
waktu 2 minggu sebelumnya.

BAB III
5

KESIMPULAN
AFP atau Apha-Fetoprotein merupakan suatu plasma protein yang
predominan pada fetus dan dibuat dalam yolk sac (kantong kuning telur) pada
fetus, hati, dan traktus gastrointestinalis.
Secara normal, konsentrasi AFP tinggi di dalam darah fetus, dan akan
menurun secara bertahap setelah bayi lahir hingga menjadi tidak terdeteksi dengan
bertambahnya umur. Selama kehamilan, AFP akan mengalir ke plasenta dari
sirkulasi fetal dan akan ditemukan pada darah ibu. Pemeriksaan AFP biasanya
disarankan untuk dilakukan pada masa kehamilan 16-18 minggu.
Pengukuran kadar AFP memiliki manfaat besar sebagai indeks
kekambuhan penyakit. Pada pasien karsinoma hepatoselular yang diterapi,
hilangnya AFP mengisyaratkan eliminasi sel-sel ganas, dan peningkatan kadar
mencerminkan rekurensi kanker. Disamping berperan sebagai suatu petanda yang
bermanfaat untuk kanker hati, AFP juga berperan sebagai petanda adanya kanker
testikular, dan tumor-tumor sel germinal tertentu pada ovarium. AFP juga
meningkat pada penyakit hati jinak dan dalam persentase yang kecil dari kanker
paru dan gastrointestinal.

DAFTAR PUSTAKA

Sulaiman, Akbar, Lesmana dan Noer. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati.
Jakarta: Jaya abadi

AASLD, Liver Cancer, Available at:


http://www.aasld.org/patients/Pages/LiverFastFactsLiverCancer.aspx, diakses
30 Juni 2015.

The Ohio State University, Liver Cancer ,


http://cancer.osu.edu/patientsandvisitors/cancerinfo/cancertypes/gi/faq/liver/pa
ges/index.aspx, diakses 30 Juni 2015.

Feldman,

Friedman,et

al;

Gastrointestinal

and

Liver

Disease.

Pathophysiology/Diagnosis/ Manajemen. 9th Edition. Canada: Saunders


Elsevier.2010

PubMed Health, Hepatocellular Carsinoma, Available at:


http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmedhealth/PMH0001325/ , diakses pada
tanggal 1 Juli 2015.

I G A A Putri Sri R, Alpha-Fetoprotein (AFP), Available at:


http://www.pramita.co.id/index.php/19-artikel/bulletin/36-alpha-fetoproteinafp- , diakses 1 Juli 2015.

Laboratorium Klinik Bio medika, Pemeriksaan Pertanda Tumor, Available at:


http://www.biomedika.co.id/services/laboratorium/36/pemeriksaan-petandatumor.html , diakses 1 Juli 2015.