Anda di halaman 1dari 15

BAB I

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. MTM

Umur

: 52 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan


Alamat

: Sidodadi

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Suku bangsa : Lampung


Agama

: Islam

Status

: Menikah

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Keluhan Tambahan
Riwayat Penyakit

: Bercak hitam di bokong kanan dan kiri sejak 3 tahun yang lalu
: Bercak terasa gatal dan terdapat sisik diatasnya
: Pasien datang ke Poliklinik KK RSUD Abdul Moeloek dengan

keluhan bercak hitam di bokong kanan dan kiri sejak 3 tahun yang lalu. Bercak dirasa
sangat gatal. Awalnya bercak hanya sebesar uang logam dan berwarna merah dan
bersisik, kemudian bercak makin meluas dan warnanya menjadi hitam setelah diberikan
obat salep yang dibeli sendiri oleh pasien di toko obat. Bercak hanya terdapat di daerah
bokong saja. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan serupa. Pasien tidak
memiliki riwayat penyakit kronis sebelumnya.
C. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
: Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis
Status Gizi
: Baik
Tanda Vital
a. Tekanan darah :
120/80 mmHg
b. Nadi
:
88x/menit
c. RR
:
20x/menit
d. Suhu
:
36,7oC
Thoraks
:
dbn

e. Berat Badan :
f. Tinggi Badan :
g. Bentuk Badan :

52 kg
150 cm

Abdomen
KGB

:
:

dbn
dbn

D. STATUS DERMATOLOGIS
Lokasi
: Regio gluteal dextra et sinistra
Inspeksi
: Makula eritem-hiperpigmentasi bentuk irreguler, jumlah soliter, ukuran
plakat dengan tepi eritem disertai papul dan skuama diatasnya.
E. LABORATORIUM
Tidak dilakukan
F. RESUME
Pasien datang ke Poliklinik KK RSUD Abdul Moeloek dengan keluhan bercak hitam di
bokong kanan dan kiri sejak 3 tahun yang lalu. Bercak dirasa sangat gatal. Awalnya
bercak hanya sebesar uang logam dan berwarna merah dan bersisik, kemudian bercak
makin meluas dan warnanya menjadi hitam setelah diberikan obat salep yang dibeli
sendiri oleh pasien di toko obat. Bercak hanya terdapat di daerah bokong saja. Tidak ada
anggota keluarga yang memiliki keluhan serupa. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit
kronis sebelumnya.
Dari inspeksi di regio gluteal dextra et sinistra ditemukan makula eritem-hiperpigmentasi
bentuk irreguler, jumlah soliter, ukuran plakat dengan tepi eritem disertai papul dan
skuama diatasnya.
G. DIAGNOSIS BANDING
Tinea Kruris
Kandidiasis
Psoriasis
H. DIAGNOSIS KERJA
Tinea Kruris
I. PENATALAKSANAAN
Umum
:
Edukasi ke pasien bahwa penyakit merupakan penyakit kronis dan butuh
pengobatan dalam waktu yang lama
Menjaga kebersihan
Tidak memakai pakaian yang ketat agar tidak lembab
Khusus
:
Topikal
: Anti jamur (ketokonazole)
Sistemik
: Anti jamur (ketokonazole tab 100 mg 1x2 tab/hari)
2

Anti histamin (Mebhydrolin napadisylate tab 50 mg 1x1 tab/hari)


J. PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan KOH
Biakan agar Sabaroud
K. PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

: ad bonam
: ad bonam
: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tinea kruris merupakan infeksi dermatofit yang mengenai daerah lipat paha, termasuk
genitalia, daerah pubis, perineum dan perianal. sinonimnya ringworm of the groin,
eczema marginatum hebrae, jockey itch, dhobie itch, epidermofitosis inguinale (Martin
AG & Kobayashi GS, 1999).

B. Epidemiologi

Tinea kruris lebih sering dijumpai pada daerah beriklim tropis/subtropis, dimana
Indonesia merupakan negara tropis yang beriklim panas dengan kelembaban yang tinggi
mempermudah timbulnya infeksi tinea kruris sehingga infeksi jamur ini banyak
ditemukan (Amirudin dkk., 2001).
Tinea kruris lebih banyak dijumpai pada laki-laki dibanding wanita.Biasanya mengenai
penderita usia 18-60 tahun, tetapi paling banyak pada usia antara 18-25 tahun serta antara
40-50 tahun. Insiden tinea kruris menempati urutan pertama pada frekuensi bentuk klinis
infeksi jamur superficial dari 5 rumah sakit di Indonesia tahun 1997-2000. Tine kruris
mempunyai angka kekambuhan yang cukup tinggi yaitu 20-25% (Amirudin dkk., 2001).

C. Etiologi
Tinea kruris sering disebabkan oleh dermatofit genus Trichophyton dan Epidermophyton.
Spesies yang sering ditemukan E. floccosum, T. rubrum, dan T. mentagrophytes. Genus
Microsporum juga dapat menyebabkan tinea kruris tetapi sangat jarang. kekambuhan
pada tinea kruris terutama disebabkan T. rubrum (Martin AG & Kobayashi GS, 1999;
Sugito dkk., 2011).

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tinea kruris


Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya tinea kruris yaitu : iklim panas, lembab,
pengeluaran keringat yang berlebihan, pemakaian bahan pakaian yang tidak menyerap
keringat, kebersihan, trauma kulit, lingkungan sosial budaya ekonomi, oklusif, obesitas,
defisiensi

imunitas,

penggunaan

antibiotika,

kortikosteroid

serta

obat-obatan

immunosupresan, penularan tinea kruris dapat disebabkan kontak langsung dengan


individu yang terinfeksi dan secara tidak langsung melalui benda yang mengandung
skuama terinfeksi, misalnya : handuk, selana, tempat tidur hotel danlain-lain, tinea kruris
biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain (James WD., et al. 2011;
Sugito dkk., 2011).

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kekambuhan tineas kruris


Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekambuhan antara lain yaotu : jensis
penyebab, suhu yang tinggi, lembab, kebersihan yang kurang, serta cara pengobatna yang
tidak benar antara lain cara pengolesannya (Martin AG & Kobayashi GS, 1999)

F. Patogenesis tinea kruris


Jiak kulit pejamu diinokulasi pada kondisi yang sesuai, timbul beberapa tingkatan dimana
infeksi berlanjut yantu priode inkubasi, priode refrakter dan priode involusi. selama fase
awal (inkubasi), terdapat organisme tetapi secara klinis tenang, dimana periode inkubasi
berlangsung 1-3 minggu (Martin AG & Kobayashi GS, 1999).
Infeksi diawali dengan adanya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya di dalam jaringan
keratin yang mati. hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang kemudian berdifusi ke
epidermis dan akhirnya menimbulkan reaksi inflamasi akibat kerusakan keratinosit.
petumbuhan jamur dengan pola radial dalam stratum korneum mengakibatkan timbulnya
lesi sirsinar dengan memberikan batas yang jelas dan meninggi, disebut ringworm. reaksi
kulit semula berupa bercak atau papul bersisik yang berkembang menjadi suatu
peradangan (Martin AG & Kobayashi GS, 1999; James WD., et al. 2011).
Jamur dari golongan dermatofita ini dapat menimbulkan infeksi ringan sampai berat
tergantung dari respon imun penderita. kekebalan terhadap infeksi ini dapat melibatkan
mekanisme imunologi maupun non imunologis. mekanisme imunologis yang terpenting
adalah adanya aktivitas imunitas seluler, melalui meknisme hipersensitivitas tipe lambat,
seangkan mekanisme non imunologis antara lain melibatkan adanya asam lemak jenuh
berantai panjang di kulit dan substansi lain yang disebut "serum inhibitory factor".
Namun demikian bergantung pada berbagai faktor, dapat terjadi pula suatu resolusi
spontan sehingga gejala klinis menghilang atau jamut hidup persisten selama beberapa
tahun dan akmbuh kembali. Radang dermatofitosis mempunyai korelasi dengan
reaktivasi kulit tipe lambat (sistim imunitas seluler). Derajatnya sesuai dengan sensitisasi
5

oleh dermatofita dan sejalan pula dengan derajat hipesentivitas tipe lambat (HTL), HTL
ini dimulai dengan penang kapan antigen jamur oleh sel Langerhans yang bekerja sebagai
APC (Antigen Presenting Cell) yang mampu melakukan fungsi fagosit, memproduksi IL1, mengekspresikan antigen, reseptor Fe dan reseptor C3. Sel langerhans berkumpul
dalam kulit membawa antigen ke dalam pembuluh getah bening kemudian menuju
kelenjar getah bening dan mempertemukannya dengan limfosit yang spesifik. selain oleh
sel Langerhans, peran serupa dilakukan pula oleh sel endotel pembuluh darah, fibroblast
dan keratinosit. Limfosit T yang telah aktif ini kemudian menginfiltrasi tempat infeksi
dan melepaskan limfokin. Limfokin inilah yang mengaktifkan makrofag sehingga mampu
membunuh jamur pathogen (Martin AG & Kobayashi GS, 1999; James WD., et al. 2011).

G. gambaran klinis
Pruritus merupakan gejala umum, bisa terdapat nyeri jika daerah yang terkena maserasi
atau terjadi infeksi sekunder. pada tinea kruris yang klasik memberikan bentuk kelainan
kulit yang bilateral, namun tidak terlalu simetris. Lesi berbatas tegas, tepi meninggi yang
dapat berupa papulovesikel eritematosa, atau kadang terlihat pustul. bagian tengah
menyembuh berupa daerah coklat kehitaman berskuama. garukan kronis dapat
menimbulkan gambaran likenifikasi. Dua organisme utama penyebab tinea kruris bisa
memberikan gambaran klinis yang berbeda, pada infeksi oleh E. floccosum terdapat
gambaran, lesi jarang meluar melewati regio genitokrural dan paha atas bagian dalam.
sedangkan oleh T.rubrum sering bersatu dan menyebar meliputi daerah yang lebih luas
yaitu daerah pubis, abdomen bagian bawah, gluteus dan daerah perianal, biasanya selain
timbul rasa gatal kadang kadang-kadang timbul rasa panas (Sugito dkk., 2011; Martin AG
& Kobayashi GS, 1999).

Gambar. Gambaran klinis tinea kruris (James WD., et al. 2011)

H. Diagnosis banding
Kandidiasis inguinalis : terdapat lesi berwarna merah terang, papul dan pustul satelit pada
pinggirnya dan skrotum sering terkena

Eritrasma : terdapat lesi berupa makula eritema dan skuama halus, asimetris. pada
pemeiksaan lampu wood menunjukkan efloresensi merah bata, sedang pada pemeriksaan
KOH negatif tidak ditemukan elemen jamur spora atau hifa.

Psoriasis : terdapat lesi berupa plakat eritema dengan skuama tebal berlapis-lapis dan
berwarna seperti mika. pada pemeriksaan KOH tidak ditemukan elemen jamur spora atau
hifa.

Dermatitis seboroik : Lesi berupa eritema dengan skuama kekuningan berminyak, tidak
berbatas tegas, dapat terlihat pada tempat-tempat prideliksanya, misalnya di kulit kepala,
lipatan-lipatan kulit, serta pemeriksaan KOH (-) (Sugito dkk., 2011; Siregar, 2005).
7

I. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas disertasi hasil pemeriksaan
mikroskopis KOH 10% yang positif, yaitu adanya elemen jamur berupa hifa yang
bercabang dan atau artospora, dan pemeriksaan kultur jamur yang bermanfaat untuk
menentukan etiologi spesies penyebabnya (Martin AG & Kobayashi GS, 1999)
I.1 Pemeriksaan KOH
Sebelum pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan pembersihan lokasi dengan alkohol
70% untuk menghilangkan kotoran yang dapat menghalangi kotoran yang menghalangi
visualisasi jamur pada pemeriksaan mikroskopis dan untuk mencegah terjadinya
kontaminasi yang akan mengganggu kultur jamur. Pada tinea kruris, bahan untuk
pemeriksaan jamur sebaiknya diambil dengan mengikis tepi lesi yang meninggi atau
aktif. Khusus untuk lesi yang berbentuk lenting-lenting, seluruh atapnya harus diambil
untuk bahan pemeriksaan. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan artrospora (hifa yang
bercabang) yang khas pada infeksi dermatofita (Wolff K., et al. 2007).

Gambar. Gambaran Dermatofita pada Sediaan Basah KOH (Wolff K., et al. 2007)

I.2 Pemeriksaan kultur


Kultur jarang di lakukan karena mahal dan memakan waktu yang lama.namun ,kultur
dilakukan apabila penderita dengan riwayat terapi obat yang lama tetapi diagnosis masih
diragukan. Identifikasi spesifik zoofilik spesies sebagai sumber infeksi dapat membantu
8

mencegah infeksi kembali ia juga penting untuk menentukan spesifik jamur penyebab
karena aktivitas anti jamur bervariasi (Wolff K., et al. 2007).

J. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan pengobatan meliputi penatalaksanaan secara umum yaitu
menetapkan tujuan pengobatan, antara lain : menyembuhkan penyakit secara klinis dan
laboratoris, mencegah penyakit menjadi kronis, mencegah timbulnya kekambuhan.
sedangkan strategi pengobatan meliputi diagnosis yang tepat, mengatasi atau
menghilangkan faktor-faktor yang mempermudah timbulnya infeksi jamur, memilih cara
pengobatan yang tepat, serta mengoptimalkan kepatuhan penderita untuk kesembuhan.
Untuk lesi lokalisata dapat memberikan preparat anti jamur topikal.Sedangkan untuk lesi
luas atau gagal dengan pengobatan topikal diberikan preparat antijamur sistemik.
macam-macam obat anti jamur topikal yaitu : golongan azol (ketokonazol, mikonazol,
bifonazol, sulkonazol, isokonazol, dan tiokonazol), golongan allilamin (terbinafin,
naftilin, dan butenafin), golngan azol-benzotiofen (sertakonazol), dll (Martin AG &
Kobayashi GS, 1999).
bila menggunakan terapi topikal, pengobatan dilanjutkan hingga 1 minggu setelah lesi
sembuh. jika lesi luas atau gagal dengan terapi topikal, dapat digunakan obat oral seperti
griseofulvin 500-100mg/hari (dewasa) atau 10-20mg/kg/BB/hari (anak) dosisi tunggal
selama 2-6 minggu atau terbinafin 250mg/hari (dewasa) selama 1-2 minggu atau
itrakonazol 2x100mg/hari selama 2 minggu atau ketokonazol 200mg/hari selama 10-14
hari (Daili E. dkk. 2005)
Griseofulvin adalah golongan obat dengan sifat kerja fungistatik dengan dosis umumnya
0,5-1 gram untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 gram untuk anak melalui pemberian dosis
terbagi. Obat umumnya akan diabsorbsi lebih baik dalam usus bila dimakan bersama
dengan makanan yang banyak mengandung lemak. Obat ini dapat memberikan efek
samping sefalgia pada 15% penderita, serta fotosensitif, gangguan fungsi hati, keluhan
gangguan traktus digestivus berupa nausea, vomitus, dan diare (Budimuja; 2007).
9

Ketokonazol juga bersifat fungistatik dan dapat menjadi alternatif pilihan bila terjadi
resistensi pada griseofulvin. Pemberian dilakukan selama 10 hari 2 minggu pada pagi
hari setelah makan. Obat ini bersifat hepatotoksik sehingga tidak boleh diberikan pada
pasien dengan kelainan hepar (Budimuja; 2007).
Pilihan obat lain yang cenderung kurang hepatotoksik adalah itrakonazol, akan tetapi
terdapat potensi interaksi yang cukup luas sehingga konsumsi obat lain pada pasien juga
harus dipertimbangkan (Budimuja; 2007).
Terbinafin adalah obat dengan sifat kerja fungisidal dan dapat diberikan sebagai
pengganti griseofulvin. Obat ini diberikan selama 2 3 minggu dengan dosis 62,5 mg
250 mg sehari bergantung pada berat badan pasien. Efek samping yang dapat terjadi
adalah gangguan gastrointestinal berupa nausea, vomitus, nyeri lambung, diare, dan
konstipasi. Di samping itu, dapat pula terjadi gangguan pengecapan maupun gangguan
fungsi hepar (Budimuja; 2007).
Lamanya pengobatan bergantung pada lokasi penyakit, penyebab penyakit, serta keadaan
imunitas penderita. Pemberian obat dilakukan hingga secara klinis ditemukan perbaikan
diikuti dengan hasil negatif pada pemeriksaan laboratorium.Agar tidak residif,
pengobatan dilanjutkan selama 2 minggu setelah terjadi kesembuhan secara klinis. Secara
umum, prognosis penyakit ini baik (Sugito dkk., 2011).

10

BAB III
ANALISIS KASUS

1. Apakah diagnosis pada kasus sudah tepat ?


Diagnosis pada kasus pasien ny. T sudah tepat yaitu tinea cruris. Penegakan diagnosis
diambil dari anamnesis dan pemeriksaan terhadap lesi yang ada. Sebelum menegakkan
diagnosis penyaji menyingkirkan diagnosis banding yang ada yaitu, tinea cruris,
kandidiasis dan psoriasis.
Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluhkan gatal pada daerah pantat sejak 3
tahun yang lalu, disertai kemerahan dan bersisik apabila digaruk, kemudian lama
kelamaan menjadi hitam dan menyebar pada pantat sebelahnya dan paha belakang.
Pasien mengatakan keluhan gatal makin bertambah apabila menggunakan celana jeans
dan berkeringat.
11

Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan lesi pada regio gluteal inferoir et superior
bilateral, makula eritem -

hiperpigmentasi, irreguler, simetris, plakat, dengan tepi

eritema, disertai papul, dengan skuama halus ditengahnya.


Dari anamnesis dan pemeriksaan dermatologi didapatkan beberapa diagnosis banding
yaitu tinea kruris, kandidiasis dan psoriasis.
Diagnosa banding psoriasis dieliminasi dari anamnesis dan pemeriksaan dermatologi.
Psoriasis merupakan suatu penyakit kronik residif yang biasanya menyerang usia
muda, dan pada daerah yang dingin, serta musim hujan, dan akan diperberat
dengan adanya stress dan emosi. Namun pada anamnesis pasien mengaku bahwa

keluhan bertambah bila menggunakan celana jeans dan berkeringat.


Predileksi pada psoriosis terdapat pada siku, lutut, kulit kepala, telapak kaki dan
tangan, punggung, tungkai atas dan bawah, serta kuku. Namun pada pasien lesi

kulit hanya didapatkan pada regio gluteal inferior et superior bilateral.


Efloresensi yang ditemukan pada pasien adalah makula eritema

hiperpigmentasi, irreguler, simetris, plakat, disertai eritema, papul di tepinya dan


skuama halus pada tengahnya. Sedangkan pada psoriasis efloresensi yang

seharusnya ditemukan adalah makula eritem, reguller, skuama kasar.


Pada psoriasis terdapat fenomena goresan lilin, namun pada pasien ini tidak
tampak fenoma goresan lilin.

Diagnosis banding candidiasis dieliminasi dengan

Pada candidiasis biasanya gatal disertai panas, namun pada pasien tidak

ditemukan keluhan tersebut.


Gambaran efloresensi yang ada, pada candidiasis ditemukan daerah
eritematosa, erosif, kadang-kadang dengan papul, bersisik, dan lesi satelit.

Penegakan diagnosis secara pasti dilakukan dengan menggunakan kerokan kulit


dengan KOH, apabila

Tinea kruris ditemukan : elemen jamur seperti hifa, spora dan miselium.
Psoriasis ditemukan : tidak ditemukan elemen jamur
Candidiasis ditemukan : sel-sel ragi, pseudohifa dan blastospora.

12

2. Apakah penatalaksanaan yang diberikan sudah tepat ?


Penatalaksanaan yang diberikan pada tinea cruris adalah
Topikal
Obat- obat lokalisata yang diberikan berupa
derivat alilamin (naftifin,terbinafin), derivat imidazol(mikonazol, klotrimazol,
ketekonazol, ekonazol, sulkonazol, bifonazol dan oksikonazol), tolnaftat,
hidroksipiridon (siklopirosolamin) ataupun butenafin merupakan obat yang
efektif. Kebanyakan obat tersebut diberikan dua kali sehari selama 2 sampai 4
minggu. Beberapa penelitian telah membuktikan terbinafin efektif dan ditoleransi
dengan baik pada anak-anak, dan terbinafin gel emulsi 1% ditemukan lebih efektif
daripada krim ketokonazol 2% pada pengobatan tinea kruris.

sistemik
Antijamur oral diberikan pada infeksi yang luas ataupun lesi yang tidak membaik
dengan pengobatan topikal. Penelitian perbandingan pada orang dewasa
menunjukkan bahwa pemberian flukonazol dengan dosis 150 mg setiap minggu
selama 4 sampai 6 minggu, itrakonazol dengan dosis 100 mg setiap hari selama
15 hari, dan terbinafin dengan dosis 250 mg setiap hari selama 2 minggu,
merupakan pengobatan yang memiliki keefektifan serupa dengan griseofulvin
dosis 500 mg setiap hari selama 2 sampai 6 minggu, dengan efek samping yang
tidak berbeda secara signifikan. Regimen pengobatan yang aman dan efektif pada
anak-anak adalah griseofulvin dengan dosis 10 sampai 20 mg/kg/hari selama 6
minggu, itrakonazol dengan dosis 5mg/kg/hari selama 1 minggu, dan terbinafin
dengan dosis 3 sampai 6 mg/kg/hari selama 2 minggu. Griseofulvin, yang
mempunyai aktivitas fungistatik dengan menghambat pembelahan sel jamur
melalui hambatan pada mikrotubulus, saat ini dihubungkan dengan resistensi
jamur yang makin lama makin tinggi. Beberapa penelitian jangka panjang
13

menemukan griseofulvin kurang efektif dibandingkan itrakonazol dalam


pengobatan tinea kruris.
Mengobati semua daerah infeksi aktif secara bersamaan untuk mencegah infeksi
ulang pada inguinal yang berasal dari daerah tubuh lainnya. Menyarankan pasien
dengan tinea pedis untuk mengenakan kaus kaki mereka sebelum mengenakan
celana dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi langsung. Sarankan pasien
untuk mengeringkan daerah inguinal sepenuhnya setelah mandi dan menggunakan
handuk terpisah untuk pengeringan pangkal paha dan bagian tubuh lainnya, serta
menggunakan celana yang longgar dan mudah menyerap keringat. Disarankan
untuk menurunkan berat badan pada pasien tinea kruris yang mengalami obesitas.
Penatalaksaan pada kasus sudah sesuai dengan penatalaksanaan yang ada. Hanya
saja pada poin edukasi dan pencegahan diharapkan lebih dipertajam.

14

DAFTAR PUSTAKA

Amirudin MD, Amin S, Ilyas FS. 2001. Tinjauan mengenai penyakit jamur superficial di
Indonesia. Dalam : media Dermato-Venereologica Indonesiana; kumpulan makalah ilmiah PIT
PERDOSKI. Jakarta
Budimulja U. 2007. Mikosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. FKUI. Jakarta
Daili ES, Menaldi SL, Wisnu. 2005. Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia. Medical
Multimedia Indonesia. Jakarta
James WD, Berger TG, Elston DM. 2011. Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology.
Eleventh Edition. Saunders Elsevier. Philadelphia
Martin AG, Kobayashi GS. 1999. Superficial fungan infection; dermatophytosis, tinea nigra,
piedra. dalam; Fitzpatrick TB, Eisen AZ, Wolff K, Fredberg IM, AUsten KF, eds. Dermatology
in general medicine, edisi 5. McGraw-HIll Inc. New York .
Siregar RS. 2004. Tinea kruris in Saripati Penyakit Kulit, edisi kedua. EGC. Jakarta.
Sugito TL, Hakim L, Suseno LS, Suriadiredja A, Toruan TL, Alam TN, editor. 2011. Panduan
Pelayanan Medis Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin PERDOSKI. PP PERDOSKI. Jakarta
Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. 2007. Cutaneous Fungal Infection in Fitzpatricks Color
Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology.[e-book]. Fifth Edition. McGraw-Hill Companies.
Philadelphia

15