Anda di halaman 1dari 95

PEMBIMBING : Dr.Nazarudin.Sp.

An
OLEH
Azmi Rahmatullah assiraj
2007730023
KEPANITERAAN KLINIK ANESTESIA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH JAKARTA

Istilah anestesia dikemukakan pertama kali oleh

O.W.Holmes. Artinya tidak ada rasa sakit


Anestesia Dibagi menjadi 2 kelompok:
1. Anestesia lokal : hilangnya rasa sakit tanpa
disertai hilang kesadaran
2. Anestesia umum: hilangnya rasa sakit disertai
hilangnya kesadaran

ANESTETIKA DIGUNAKAN PADA


PEMBEDAHAN DENGAN MAKSUD:
-

mencapai keadaan tidak sadar


merintangi rangsangan nyeri (analgesia)
memblokir reaksi reflex
menimbulkan pelemasan otot (relaksasi).

ANESTESI UMUM
Penilaian dan persiapan pra anestesi
1. Anamnesis : pernah mendapat anestesi
alergi,mual muntah,nyeri otot, gatal-gatal,
sesak nafas pasca bedah anestesi yg lebih
baik. Rokok stop 1-2 hari sebelumnya untuk
eliminasi nikotinaktifkan kerja silia jalan nafas.
1-2 minggu untuk kurangi produksi sputum.
2. Pemerikasaan fisik : gigi geligi, membuka mulut,
lidah besar, leher pendek kaku, untuk ketahui
penyulit laringoskop intubasi. Inspeksi palapasi
perkusi auskultasi head-toe

Pemeriksaan laboratorium

uji lab rutin. Bedah minor, pemeriksaan darah


kecil(Hb, leukosit, masa perdarahan dan masa
pembekuan) dan urinalisis. Pada pasien > 50
tahun anjuarn EKG dan foto thorax
Kebugaran untuk anestesia
Klasifikasi status fisik
ASA(the american society of anesthesiologist)
I
:sehat
II
:dengan penyakit sistemik ringan-sedang
III :dengan penyakit sistemik berat-> aktifitas
rutin
terbatas
IV :sistemik berat,tdk bs beraktifitas,
V :sekarat
E :cito emergency

Masukan oral
Puasa selama periode tertentu sebelum induksi anestesi.
Dewasa : 6-8 jam, anak kecil : 4-6 jam, bayi : 3-4 jam,
premedikasi
Premedikasi

pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesi dengan


tujuan :
1. Meredakan kecemasan dan ketakutan->diazepam oral 5-10

mg, nyeri krn penyakitnya:opioid-> petidin 50 mg im


2. Memperlancar induksi
3. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
4. Meminimalkan jumlah obat dan anestetik
5. Mengurangi mual muntah pasca bedah->ondansetron 2-4
mg
6. Menciptakan amnesia
7. Mengurangi isi cairan lambung->ranitidin 150 mg, simetidin
600mg
8. Mengurangi refleks yang membahayakan

STADIUM ANESTESIA
Stadium1
Analgesia atau disorientasi
Stadium II
Hipersekresi atau eksitasi atau delirium
Stadium III
Pembedahan mulai dari ventilasi teratur
sampai apnu
Plana
Plana
Plana
Plana

1
2
3
4

Stadium IV
Paralisis Medula Oblongata

Gambar: Derajat dalamnya


Anestesia

ANESTESI
UMUM

Anestesi
Inhalasi
N2O, halotan, enfluran,
isofluran dan sevofluran

Anestesi
Intravena
Thiopental, diazepam
dan midazolam,
ketamin dan
propofol.

Induksi dan rumatan anestesi


Induksi :
Induksi Intravena
Induksi Intramuskular
Induksi Inhalasi
Induksi Per rektal

Rumatan Anestesia (maintenance)


Intravena (anestesia intravena total):

Opioid, relaksasi pelumpuh otot, ventilator

Inhalasi

Campuran N2O dan O2 (3:1) + Halotan (0,5-2 vol% )atau


enfluran (2-4 vol%) atau isofluran (2-4 vol% )atau
sevofluran (2-4 vol%)

Campuran intravena-inhalasi

Tatalaksana jalan
nafas
Anatomi
Hidung (nasofaring)
Mulut(orofaring)

Persarafan
N.trigeminus (V), mensarafi mukosa hidung, palatum(V-

1),daerah maksila (V-2), lidah dan daerah mandibula (V3)


N facialis (VII), mensarafi palatum
N glosofaringeus (IX), mensarafi lidah, faring, palatum
molle dan tonsil
N vagus (X), mensarafi aerah sekitar epiglotisdan pita
suara.

anatomi

Obstruksi jalan nafas


Pada pasien tidak sadar atau dalam keadaan
anastesi posisi terlentang, tonus otot jalan
nafas tas menghilang (genioglossus)sehingga
lidah akan menyumbat hipofaring dan
menyebabkan obstruksi jalan nafas total
/parsial.
Koreksi dengan :
1.Triple airway maneuver
2.Pharyngeal airway
3.Laryngeal mask airway
4.Endotracheal tube

Tanda-tanda obstruksi jalan nafas


1.
2.
3.
4.
5.

Stridor (mendengkur ,snoring)


Nafas cuping hidung
Retraksi trakhea
Retraksi thorax
Tak terasa ada udara respirasi

Spasme atau kejang laring


pita suara tertutup sebagian atau seluruhnya krn
anestesi ringan dan mendapat rangsang dari sekitar
faring
Terapi:
1. Manuver tripel jalan nafas
2. Ventilasi positif dengan oksigen 100%
3. Jika tdk menolong, suksinil 0,5 mg/kg iv, im deltoid,
sublingual 2-4 mg/kg

Triple airway maneuver


1.Ekstensi kepala pada sendi atlanto oksipitalis
2. mandibula didorong ke depan pada kedua

angulus mandibula
3.Mulut dibuka
Pharyngeal airway

OPA oropharingeal airway : pipa bulat panjang


bulat ditangah,karet lateks lembut,untuk hindari
trauma mukosajelly
NPA nasopharingeal airway : pipa gepeng
lengkung C, berlubang ditengahnya dengan salah
satu unjungny bertangkai keras untuk mencegah
gigitan pasien agar tetap paten aliran udara.
dipasang bersamaan dengan pipa trakea atau
sungkup laring untuk menjaga patensi alat
tersebut dari gigtan pasien

Face mask

Udara dari alat resusitasi atau sisten


anestesi jalan nafas melalui hidung dan
mulut.Ukuran 03 untuk bayi baru lahir 02,
01, 1 untuk anak kecil 2,3 untuk anak besar
4,5 untuk dewasa

Laryngeal mask airway


LMA, sungkup laring berbentuk sendok terdiri
pipa besar berlubang dengan ujung seperti
sendok yang pinggirnya dapat dikembang
kempiskan seperti balon
1.
Sungkup laring standar : satu pipa jalan
nafas
2.
Sungkup laring dengan dua pipa, jalan
nafas dan esofagus
Pemasangannya dapat menggunakan ataupun
tidak menggunakan bantuan laringoskop..
Pemasangan tunggu anastesi dalam
/gunakan pelumpuh otot untuk
menghindari trauma rongga mulut,faring
laring,
Setelah terpasang dapat dipasang gulungan
kain kasa (bite block) / OPA.untuk
menghindari pipa nafasa tergigit.
Tracheal tube
Menghantarkan gas anestesi langsung ke
trakea, dari mulut oropharingeal tube,
hidung nasipharingeal tube

LMA

laringoskopi

Indikasi intubasi
Intubasai trakea ->tindakan memasukkan pipa

trakea ke dalam trakea melalui rima glotis, sehingga


uung distalnya berada kira-kira di pertengahan
trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea.
Indikasinya:
Menjaga patensi jalan nafas oleh sebab

apapun,kelainan anatomi, bedah posisi khusus,


pemebersihan sekret jalan nafas dll
Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi,
misalnya, saat resusitasi,penggunaan relaksan dengan
effisien, ventlasi jangka panjang.
Pencegahan aspirasi dan regurgitasi

Kesulitan intubasi
1. Leher pendek berotot
2. Mandibula menonjol
3. Maxila/r gigi depan menonjol
4. Uvula tak terlihat
5. Gerak sendi temporomandibular terbatas
6. Gerak vertebra servikal terbatas.

komplikasi intubasi
Selama intubasi : - trauma gigi, laserasi bibir gusi laring,
merangsang saraf simpatis(hipertensi, takikardi), intubasi
bronkus, intubasi esofagus, aspirasi, spasme bronkus.

Setelah ekstubasi : spasme laring, aspirasi,

gangguan fonasi, edema glotis-subglotis,


infeksi laring faring trakea.
Ekstubasi
- setelah pasien benar-benar sadar
- pada anestesia sudah ringan dan tidak ad
spasme laring
- bersihkan rongga mulut laring faring dari
sekret dan cairan.

FARMAKOLOGI OBAT ANESTETIK


Anestesi Hilangnya sensasi nyeri yang

disertai maupun yang tidak disertai hilang


kesadaran
Kelompok : Anestetik Umum
Anestetik Lokal
Anstetik Umum : Dapat memberikan efek
analgesi + Anestesi, bekerja disusunan
saraf pusat
Anastetik Lokal : Hanya memberikan
efek analgesi, bekerja langsung pada
serabut saraf di perifer

Sawar Darah Otak


Plasenta
Kebanyakan obat yang dipakai di anestesi

harus melewati sawar darah otak untuk


mencapai kerjanya di SSP.
Obat anestetik memiliki molekul kecil dengan
kelarutan lemak tinggi, sehingga mempunyai
akses ke SSP.
Obat terionisasi baik (pelumpuh otot) tdk
dpt melewati sawar darah otak
Pertimbangan pada obstetri secara umum,
obat yang melalui plasenta akan berpengaruh
pada janin.

Ikatan dengan protein


plasma
Sebagian besasr obat berikatan dengan
protein dalam plasma, sehingga hanya obat
yang bebas saja yang berdifusi ke tempat
kerjanya.
Albumin berperan terutama mengikat obat
yang bersifat netral dan asam

Metabolisme
Kebanyakan obat dimetabolisme di hepar dan

hasilnya biasanya tidak aktif, walaupun ada


metabolit yang masih aktif dan di ekskresi
oleh ginjal
Tempat metabolisme lain ialah paru-paru
(prilokain), plasma kolinestrase (suksinil,
mivakurium) dan eritrositesterase (estomol)
Metabolisme mengalami 2 proses, fase 1
(oksidasi, reduksi,hidrolisis), fase II
( konjungnasi, asetilasi, metilasi)

Ekskresi Obat
Senyawa terionasi dengan berat molekul kecil

di ekresi terutama oleh ginjal, contoh morfin,


lidokain, penisilin, aspirin
Sedangkanyang berat molekulnya besar
(>400) di ekskresi oleh empedu, misalnya
pankuronium, vekuronium

Metoda Pemberian Obat


Oral Cara ini paling mudah, tidak nyeri dan
dapat di andalkan, kadang kita harus
memberikan obat peri anestesia misal
obat anti hipertensi, obat penurun gula
darah dan sebagainya. Sebagian besar
obat di absopsi oleh usus halus bagian
atas.

Lidah dan muskola pipi


Absorpsi obat lewat lidah dan mukosa pipi

akan menghindari efek sirkulasi portal. Obat


jenius ini biasanya larut dalam lemak, fentanil
lolipop untuk anak, buprenofin

Intramuskular
Metoda ini sangat populer dalam praktek

anestesi, karena teknis muda, relatif aman


karena kadar plasma tidak mendadak tinggi
Keburukannya ialah absorpsi kadang-kadang
di luar perkiraan, menimbulkan nyeri dibenci
anak-anak dan beberappa obat bersifat iritan

subkutan
Metoda ini jarang di gunakan dalam praktek
anestesia

Intravena
Bolus
Infus
AKP ( analgesia Kendali Pasien)
Rektal
Transderma
Inhalasi
Epidural
Spinal

Bolus
Kekurangan cara ini ialah lajak takar

( overdosis) sering terjadi, terutama pada


obat-obatan dengan indeks terapetik sempit.
Setelah pemberian intravena dosis tidak
dapat dikurangi
Rekomendasi penghasil obat dalam hal ini
sering mengejutkan, bahwa obatnya harus
diberikan secara intravena dalam waktu 1-2
menit

Infus

Dengan infus obat dapat diberikan secara


perlahan dengan laju tetap, misalnya
pelumpuh otot, analgetika
AKP
Cara ini biasanya untuk mengendalikan nyeri
pasca bedah dengan opioid dosis kecil
Rektal
Cara ini sering diberikan pada anak yang sulit
secara oral takutdisuntik

Transdermal

Misalnya, krem EMLA (eutectic mixture of local


anesthetic), campuran lidokain-prokain masingmasing 2,5 %
Krem I ni di oleskan ke kulit intak dan setelah 1-2
jam baru dilakukan jarum atau tindakan lain.
Inhalasi
Obat berupa gas atau uap cairan, misalnya N2O,O2,
bronkodilator, steroid. Pada keadaan darurat
atropin dan adrenalin dapat disemprotkan ke
bronkus.

Epidural
Obat dimasukan ke ruang epidural (ekstradural,
peridural) yaitu ruang antara durameter dan
legamentum flavum. Cara ini banyak dilakukan
pada anestesia regional.

Spinal
Obat dimasukan ke ruang subaraknoid (intratekal)
Interaksi Obat
Fasmasitikal
Farmakokinatik
Farmakodimanik

Farmasitikal
Dua atau lebih obat sering tercampur dalam
suatu semprit atau kantong infus, sehingga
bereaksi secara kimia dengan menghasilkan
efek samping, contoh tiopetal-suksinil
cenderung menjadi inaktif. Contoh lain trikoretilen dengan soda lime menghasilkan zat
baru yang toksik

Farmakokinetik
Absorsi obat dapat dipengaruhi oleh obat lain yang
diberikan bersamaan

Farmakodinamik
Interaksi ini merupakan interaksi yang sering

di jumpai dalam praktek anestesi, misalnya


zat anestetik abar (volatil) dengan opioid
menyebabkan peningkatan depresi napas,
sedangkan pelumpuh oto non depolarisasi dan
prostigmin mengembalikan reaksi otot

ANESTESIA INTRAVENA
Anestetik intravena digunakan untuk:
Induksi anestesia umum
Obat tunggal pada pembedahan pembedahan
singkat
Rumatan anestesia,
Obat tambahan pada analgesia regional
Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat
Suplementasi hipnosis pada anestesia atau analgesia
lokal
Sedasi pada beberapa tindakan medik
Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan
SSP

Cara pemberian anestesi


intravena

Sebagai obat tunggal/suntikan i.v tunggal

untuk induksi atau operasi singkat


Suntikan berulang
tidak memerlukan anestesia inhalasi
dengan dosis ulangan lebih kecil dari dosis
permulaan sesuai kebutuhan
Lewat infus (diteteskan)
Untuk menambah daya anestesi inhalasi

Anestesi Intravena yang


Ideal
Cepat menghasilkan efek hipnosis
Mempunyai efek analgetik
Disertai amnesia pasca anestesia
Efek yang tidak baik mudah dihilangkan oleh
obat antagonisnya
5. Cepat dieliminasi dari tubuh
6. Tidak/sedikit mendepresi fungsi respirasi dan
kardiovaskular
7. Pengaruh farmakokinetik tidak tergantung pada
disfungsi organ
1.
2.
3.
4.

THIOPENTAL
(Ultra Short Acting Barbiturat)
Anestesi cukup, Analgetik dan relaksasi ototnya kurang

dikemas dalam bentuk tepung atau bubuk berwarna


kuning, berbau belerang, (dalam ampul 500 mg atau
1000 mg). Sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades
steril sampai kepekatan 2,5% (1 ml = 25 mg).
Dosis:
Induksi: > 5 mg/kgBB semua usia
Hipnosis: 3-7 mg/kg disuntikkan pelahan-lahan dan
dihabiskan dalam 30-60 detik
Masa kerja: Sangat singkat (t1/2 5 menit)
Digunakan untuk induksi dan narkose singkat pada
pembedahan kecil atau sbg anestesi utama bersamaan

Lanj
Farmakodinamik
SSP
Menimbulkan analgesi, sedasi, hipnosis, anastesi,
dan depresi nafas
Menurunkan aliran darah otak,tekanan likuor, TIK,
Respirasi
Depresi nafas bertambah jelas jika sebelumnya
diberikan opiat atau obat depresan lain
Jantung
Mendepresi pusat vasomotor & kontraktilitas miokard
vasodilatasi CO+TD

Lanj
Indikasi:
1. Induksi pada anastesi
umum
2. Operasi/tindakan yang
singkat
Reposisi fraktur, insisi,
jahit luka
kuret
3. Sedasi pada analgesia
regional
4. Mengatasi kejang
eklamsia, epilepsi,
tetanus,

Kontraindikasi absolut:
1. Status Asma tikus
2. Porfiria
Kontraindikasi relatif
1. Syok
2. Anemia, uremia, disfungsi
hepar dosis dikurangi
3. Dispnoe (krn
paru/jantung)
4. Asma Bronkhial
5. Versi ekstraksi
6. Miastenia gravis
7. Vena yang sulit ditemukan
8. Riwayat alergi terhadap
tiopental

Lanj
Komplikasi
Lokal

Injeksi Perivena: sakit, edema, hiperemis, bisa nekrosis


Injeksi intra arteri: rasa terbakar, spasme arteri,

kemungkinan trombosis

Umum
Kardiovaskuler: Hipotensi, CO , HR , tahanan

vaskuler
Otak : menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor,
TIK
Pernapasan : Menekan pusat pernapasan, merangsang
pengeluaran saliva (kontraindikasi relatif pada asma)

KETAMIN (KETALAR)
(rapid acting non barbiturat general anaesthetic)
Analgetik kuat, anestetik dan kataleptik
kerja singkat, hipnotik kurang, tidak
merelaksasi otot lurik

Larutan tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan relatif

aman
Onset cepat, kerja singkat
MEKANISME KERJA
Penghambatan eksitasi transmisi sinaptik oleh antagonis
reseptor N-Metil-D-Aspartase (NMDA)
DOSIS
Dosis IV 1-4 mg/kgBB dengan dosis rata-rata 2 mg/kgBB
dengan lama kerja 15-20 menit.
Stadium III dicapai dalam 5-10 menit
Untuk mempertahankan anestesi dapat diberikan dari
dosis awal

FARMAKODINAMIK
SSP :
efek analgesia kuat akan tetapi efek hipnotiknya kurang
aliran darah ke otak, TIK dan konsentrasi oksigen di otak
Mengakibatkan mimpi buruk, disorientasi tempat dan

waktu, halusinasi, gaduh gelisah, dan tak terkendali

Kardiovaskular :
Berlawanan dengan obat anestesi intravena yang lain

Pernapasan :
Tidak mudah menekan pernapasan; efek bronkodilator
Merangsang sekresi saliva

Lain-lain:
Mata, SSP, otot, hepar, ginjal, efek psikomimetik

INDIKASI
Prosedur yg sulit
mengendalikan jalan
nafas
Prosedur diagnostik
Tindakan ortopedi
Pasien resiko tinggi
Operasi kecil
Asma bronchial

KONTRAINDIKASI
Hipertensi 160/100
mmHg
Riwayat CVD
Gagal jantung
Hati-hati pada
Riwayat kelainan jiwa
Operasi daerah faring
(reflek masih baik)

PROPOFOL
( 2,6 DIISOPROPYL PHENOL )
dikemas dalam cairan emulsi lemak bewarna putih susu
bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg).
Farmakokinetik:
Onset cepat, kerja singkat
Mekanisme Kerja:
Menghambat transmisi sinaptik reseptor GABA pada
sinaps spinal dan supraspinal
Farmakodinamik:
Kardiovaskular : Tensi , tahanan vaskular , HR
Menekan pernapasan apnea
Lain-lain:
Nyeri tempat suntikan, thrombophlebitis
Gastrointestinal, hepar, ginjal dan SSP

Lanj
Penggunaan Klinik:
Dosis:
Dosis induksi: 1-2 mg/kgBB.
Dosis rumatan: 1-2 mg/kgBB/jam infuse.
Dosis sedasi: 25-100 mcg/kgBB/jam infuse
Usia > 55 tahun dosis sebaiknya lebih kecil dari pasien < 55
tahun
Pasien ASA III-IV dosis dan kecepatan tetesan harus lebih rendah
Pada anak < 3th dan wanita hamil tidak dianjurkan
Digunakan untuk prosedur bedah singkat
Untuk anestesi maintenance
Untuk pelengkap analgesia
Karakteristik:
Antiemetik
Antikonvulsan
Antipruritus
Sifat ansiolitik

BENZODIAZEPIN

Sedasi-hipnotik, muscle relaxan ringan


1. Long-acting:
klordiazepoksida, diazepam, nitrazepam
2. Short-acting :
oksazepam, lorazepam, lormetazepam,
loprazolam
3. Ultra short acting:
triazolam, midazolam

Lanj
Farmakokinetik

Onset cepat, masa kerja berbeda


Diazepam

: kerja panjang ( 0,2 0,5 mg/kg/jam)

Lorazepam : kerja sedang

( 0,8 1,8 mg/kg/jam)

Midazolam : kerja singkat ( 0,1- 0,25 mg/kg/jam)

Distribusi di otak, hati, otot, jantung dan lemak baik

Metabolisme di hepar
Diazepam:

desmethyldiazepam

oksazepam

Lorazepam metabolik inaktif


Midazolam

1-hydroxymidazolam dan

4-hydroxymidazolam

Lanj
Penggunaan Klinis
Premedikasi (valium i.m 10 mg atau oral 5-10mg)
Sedasi intravena
Induksi pada anestesi umum (0,2-0,6mg/kg BB)
Menghilangkan halusinasi karena ketamin
Antikonvulsi

Farmakodinamik
Kardiovaskular : Tensi , CO tetap, HR sedikit

bervariasi
Pernapasan : Depresi pernapasan apnea
SSP : Amnesia anterogard
GI tract: Menurunkan sekresi asam lambung

Karena

menyebabkan
amnesia,
benzodiazepin
khususnya
midazolam
digunakan 15-60 menit pre op
Antagonis : Flumazenil
dimulai 0,5 mg bolus, dapat ditambahkan lagi,
jika sampai dosis 5 mg tidak ada respon
bukan intoksikasi benzodiazepin

MIDAZOLAM
(sedacum, dormicum)
Midazolam berikatan dengan reseptor

benzodiazepin yang terdapat di berbagai


area di otak (medula spinalis, batang otak,
serebelum, sistem limbik dan korteks serebri)
Menekan SSP melalui formatio retikularis
medula oblongata
Efek induksi terjadi 1,5 menit setelah
pemberian midazolam IV dengan
premedikasi narkotik dan 2-2,5 menit bila
tanpa premedikasi.

Lanj..
Sedasi pada pasien dewasa dan anak dicapai

dalam waktu 3-5 menit setelah pemberian IV


Waktu paruh 2-4 jam
T akan meningkat pada psien gemuk, lansia,
alkoholik, pasien dengan gangguan ginjal dan
gagal jantung kongestif.
DOSIS
Dosis premedikasi : 0,07-0,1 mg/kgBB
Dosis manintenance : 0,1-0,25 mg/kgBB/jam
Dosis induksi : 10 mg IV

OPIOID

Morfin, petidin, fentanil, sufentanil


Untuk induksi diberikan dosis tinggi.
Opioid tidak mengganggu kardiovaskular

banyak digunakan untuk induksi pada pasien


dengan kelainan jantung.
Untuk anestesia opioid digunakan fentanil
dosis induksi 20-50 ug/kgBB dilanjutkan
dosis rumatan 0,3-1 ug/kgBB/jam

ANESTETIK INHALASI
Anestetik yang
menguap (volatile
anesthetic)
Anestetik inhalasi pertama kali dikenal dan
digunakan untuk membantu pembedahan
ialah N20.
Anestetik
Gas

Kemudian menyusul; eter, kloroform, etil-

klorida, etilen, divinil-eter, siklo-propan,


trikloro-etilen, iso-propenil-vinil-eter, propenilmetil-eter, fluoroksan, etil-vinil-eter, halotan,
metoksi-fluran, enfluran, isofluran, desfluran

Teknik pemberian
Open drop Method
anestesi
inhalasi
Semiopen drop Method
Semiclosed method
Closed Method

Efek samping anestesi


inhalasi

Menekan pernafasan yang pada anestesi dalam


terutama ditimbulkan oleh halotan, enfluran, dan
isofluran. Efek ini paling ringan pada N2O dan eter.
Menekan sistem kardiovaskular, terutama oleh
halotan, enfluran dan isofluran. Efek ini juga
ditimbulkan oleh eter, tetapi karena eter juga
merangsang simpatis maka efek keseluruhannya
menjadi ringan.
Merusak hati dan ginjal, terutama senyawa klor,
misalnya kloroform.
Oliguri (reversible) karena berkurangnya pengaliran
darah ke ginjal, pasien perlu di hidrasi secukupnya
Menekan sistem regulasi suhu timbul perasaan
kedinginan pasca bedah

Sifat fisik dan kimia anestetik


inhalasi

Farmakologi klinik anestetik


inhalasi

N20
(gas gelak, laughing gas, nitrous
oxide, dinitrogen monoksida)
Analgetik kuat, anestesinya lemah tidak memiliki
sifat merelaksasi otot.

Gas tidak berwarna dengan bau yang khas.


Tidak berasa dan lebih berat daripada udara.
Induksinya cepat setelah melewati taraf eksitasi,

begitu pula pemulihannya.


Sukar larut dalam darah dan diekskresi dalam
bentuk utuh melalui paru-paru dan sebagian kecil
melalui kulit

Lanj
Dosis untuk anestesi umum yaitu:
60% : 40%,
70% : 30%
Dosis untuk mendapatkan
efek analgesik digunakan 20% : 80%,
untuk induksi 80% : 20%, dan
pemeliharaan 70% : 30%.
Efek sampingnya yang terpenting adalah

timbulnya hipoksia dan setelah pemakaian yang


lama dapat timbul anemia megaloblastik, akibat
oksidasi dari atom kobal dalam vitamin B12.

ETER
Analgesia dan anetesia kuat dengan
relaksasi otot baik

Tidak berwarna
Mudah menguap, berbau merangsang sal.pernafasan
Mudah terbakar & meledak
Semua tahap anestesi tampak jelas
Merangsang sekresi kel.bronkus (hipersalivasi)
Menyebabkan mual muntah
Mudah melewati plasenta
Dosis
Induksi: 10- 20% volume uap eter dalam O2 atau

campuran O2 dan N2O


Maintenance: 5-15% volume uap eter

Lanj
Keuntungan

Kerugian

1. Analgetik yang baik

1. Bau merangsang

2. Relaksasi baik

2. Mudah meledak

3. Bronchodilator

3. Mual, muntah

4. Depresi

4. Hipersekresi

cardiovascular
minimal
5. Dapat digunakan
dengan adrenalin
6. Tidak berbahaya
pada aritma

5. Induksi yang dalam

menyebabkan
depresi mioka dan
depresi napas
6. Induksi dan
pemulihan lambat

HALOTAN
(fluotan)
Anastesia kuat analgesi rendah dengan
relaksasi otot ringan

- Cairan tak berwarna, berbau enak


- Tak mudah terbakar dan meledak
- Absorpsi dan ekskresi halotan melalui paru (20%),

dimetabolisasi dalam tubuh dan diekskresi melalui


urin (asam trifluoroasetat, trifluoroentanol dan
bromida)
- Dosis
- Dengan kadar yang aman diperlukan 10 menit
untuk Induksi: 1-4% dalam campuran O 2 atau N2O
- Maintanence: 0,5-2%

Lanj
EFEK :
- Tidak merangsang mukosa saluran nafas
- Menekan refleks dari laring dan faring,
- Mengurangi sekresi ludah dan bronchi
- Penggunaan berulang kerusakan hepar
- Menghambat kontraksi otot rahim
- Banyak digunakan sebagai anestesi pokok atau

pembantu pada obat-obat yang bekerja short acting,


seperti N2O.
- Kelebihan dosis depresi napas, menurunnya tonus

simpatis, terjadi hipotensi, bradikardi, vasodilatasi


perifer, depresi miokard
- Menghambat pelepasan insulin, meninggikan kadar
gula darah

Lanj
Keuntungan
1. Bau enak
2. Tidak

3.
4.
5.
6.
7.

menyebabkan
sekresi bronkus
Tidak mengiritasi
pernafasan
Mula kerja cepat
Bronkhodilator
Mual, muntah
minimal
Tidak mudah
terbakar

Kerugian
1. Depresi miokard,
2.
3.
4.
5.
6.

mudah aritma
Depresi pernapasan
Relaksasi kurang
Relaksasi uterus
Analgetik kurang
Menggigil

ENFLURAN

Anastesia kuat, analgesia dan relaksasi


otot baik
Tidak mudah terbakar
Berbentuk cair, mudah menguap dan berbau enak
Cepat melewati stadium induksi tanpa atau sedikit

menyebabkan eksitasi
Resorpsi setelah inhalasi cepat dengan waktu induksi
2-3 menit
Sebagian besar (80-90%) diekskresi melalui paru-paru
dalam keadaan utuh. Sisanya (2-10%) menjadi ion
fluoride bebas
Dosis
Induksi: 2-4,5% dikombinasi dengan O2 atau campuran N2O-O2
Maintenance: 0,5-3% volume

Farmakologi
1.

2.
3.

4.
5.
6.

SSP : Anestesi yang paten, mendepresi SSP, pd


konsentrasi 3-3,5% bs membangkitkan epilepsi,
aliran darah otak.
Kardiovaskuler : depresi otot jantung & pemb. Darah.
Respirasi: frekuensi nafas, depresi napas lebih kuat
dibandingkan halotan dan lebih iritatif dibanding
halotan
Otot: Relaksasi lebih baik dibanding halotan
Hati dan ginjal : tdk hepatotoksik & tdk nefrotoksik
Lain : Metabolisme hanya 2-8%
oleh hepar
menjadi produk nonvolatil yang dikeluarkan via
urine. Sisanya
dikeluarkan melalui paru dalam
bentuk asli. Induksi cepat & lancar, tdk mual,
pemulihan cepat.

Lanj
Keuntungan
1. Bau menyenangkan
2. Induksi dan
3.
4.
5.
6.

pemulihan cepat
Bronchodilator
Tidak mudah iritasi
Mual, muntah
minimal
Tidak hepatotoksik
dan nefrotoksik

Kerugian
1. Depresi miokard
2. Hipotensi dan

aritma dengan
anestesi yang
dalam
3. Menggigil
4. Membangkitkan
fokus efileptik

ISOFLURAN
Anestesia kuat, analgesia dan relaksasi
otot baik

Isomer dari enfluran


Bau tidak enak
Tidak menyala dan tidak ekplosif
Dosis
0,5-3 volume% dalam O2 atau bersama O2

dan N2O

Lanj
Farmakologi :
1. SSP : Depresi Pernafasan seperti anestesi
inhalasi lainnya.
2. KV : Depresi jantung dan pembuluh darah
minimal dibanding anestesi inhalasi lainnya
digemari untuk anestesia teknik hipotensi dan
banyak digunakan pada pasien dengan
gangguan PJK
3. Otot: Relaksasi cukup baik dan berpotensi
dengan relaksan, pada uterus hamil relaksasi
dan kurang responsif jika dengan oksitosin
3. Hati & ginjal: Tdk hepatotoksik dan nefrotoksik.
4. Efek Lain: Induksi dan pemulihan lebih cepat.

SEVOFLURAN
Cairan jernih, tidak berwarna, bau tidak

merangsang
Berat molekul 200,053 Da, titik didih
58,50C
Hasil metabolisme primer alkohol
heksafluoroisopropil, CO2 & Ion Florida.
Premedikasi dgn etanol atau fenobarbiton
untuk menginduksi enzim hati dapat
melindungi fungsi hati
Metabolisme minimal pada ginjal
menurunkan resiko nefrotoksisitas

Lanj
Farmakodinamik
Pernapasan
Tidak menyebabkan batuk;
induksinya cepat
Eliminasi cepat depresi
pernapasan post operatif < Halotan
Terjadi bronkodilatasi & relaksasi
otot polos bronkiolus yg konstriksi
dgn histamin atau asetilkolin

Lanj
Kardiovaskuler
Efek hampir sama isofluran
Heart Rate lebih lambat akibat depresi aktifitas

simpatik tanpa perubahan aktifitas parasimpatik dan


menurun atau menghilangnya respon simpatis
terhadap rangsang nyeri.
Menyebabkan depresi (sama seperti Halotan)
Kontraktilitas miokard (lebih baik dibandingkan
halotan)
Dilatator arteri koroner
menurunkan cadangan aliran koroner (lebih kurang
dibandingkan isofluran & halotan)
Aliran darah miokard lebih besar & resistensi aliran
lebih kurang dibandingkan halotan

SSP
Tidak menyebabkan peningkatan aliran

darah serebral pd bbrp binatang coba


akibat penurunan Tek Darah arteri
sisstemik yg menutupi efek vasodilatasi
serebral
Neuromuskuler
Pelumpuh otot yg baik
Derajat relaksasi yg dihasilkan cukup
untuk memudahkan intubasi trachea
tanpa fasilitasi oleh pelumpuh otot

Lanj

Ginjal

Menurunkan aliran darah ke

ginjal
Hati
Tdk ada laporan
hapatotoksisitas
Lain-lain
tidak mutagenik

PELUMPUH OTOT
Relaksasi otot lurik dicapai dengan:

- Mendalamkan anestesia umum


inhalasi
- Melakukan blokade saraf regional
- Memberikan pelumpuh otot
Pendalaman anestesia beresiko depresi napas

dan depresi jantung lokade saraf terbatas


penggunaannya

Sebelum dikenal obat penawar pelumpuh

otot, penggunaan pelumpuh otot sangat


teratas.
Sejak ditemukan penawar pelumpuh otot dan
penawar opioid, panggunaan keduanya
hampir rutin
Anestesia tdk perlu dalam, hanya sekedar tdk
sadar.
Otot lurik dapat di berikan pelumpuh otot

CARA KERJA
Pelumpuh otot bekerja sebagai blokade

neuro-muskular
Setiap serabut saraf motorik mensarafi
beberapa serabut otot lurik.
Akibat rangsangan depolarisasi pada
terminal saraf
Influks ion kalsium memicu keluarnya asetilkolin sebagai transmitter.

Asetilkolin saraf menyeberang dan melekat

pada reseptor nikotinik-kolinergik otot.


Kalau jumlahnya banyak terjadi
depolarisasi lorong ion terbuka ion Na
dan Ca masuk K keluar kontraksi otot
Asetilkolin cepat dihidrolisa oleh asetil kolin
esterase menjadi asetil dan kolin lorong ion
tertutup repolarisasi

PELUMPUH OTOT
DEPOLARISASI
Pelumpuh otot depolarisasi bekerja seperti
asetil kolin.
Tapi di celah saraf otot tak dirusak oleh

kolinesterase cukup lama berada di celah


sinaptik depolarisasi
(tanda: fasikulasi yg disusul relaksasi otot
lurik)

GOLONGAN
Suksinil-kolin, dekametonium
Di dalam vena : suksinil kolin dimetabolisir

oleh kolinesterase plasma,


pseudokolinesterase, menjadi suksinil
monokolin.
Obat anti kolinesterase di kontraindikasikan
karena menghambat kerja
pseudokolinesterase

Dapak Samping
Nyeri otot pasca pemberian dikurang dgn
Suksinil

pemberian pelumpuh otot non depol dengan


dosis kecil sebelumnya
Peningkatan tek intraokular
Peningkatan tekanan intra kranial
Peningkatan tekanan intragastrik
Peningkatan kadar kalium-plasma
Aritmia jantung
Salivasi
Alergi, anafilaktik

Pelumpuh Otot NonDepolarisasi

Pelumpuh Otot Non-Depolarisasi

berikatan engan reseptornikotinikkolinergik, tetapi tak menyebabkan


depolarisasi, hanya menghalangi
asetilkolin menempatinya
asetilkolin tdk dpt bekerja

Berdasarkan susunan molekul, pelumpuh


otot non depol dibagi atas:
a. Bensiliso-kuinolinum : d-turbokurarin,
metokurin, atrakurium, doksakurium,
mivakurium
b. Steroid : pankuronium, vekuronium,
pipekuronium, ropakuronium, rokuronium
c. Eter-fenolik : gallamin
d.
Nortoksiferin : alkuronium

Berdasarkan lama kerja pelumpuh otot non

depolarisasi dibagi menjadi kerja panjang,


sedang, dan pendek.
Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot:

a. cegukan
b. dinding perut kaku
c. ada tahanan inflasi paru

PENAWAR PELUMPUH
OTOT
Penawar pelumpuh otot bekerja pada
sambungan saraf-otot yang mencegah asetil
kolin bekerja asetilkolin bekerja lagi
Neostigmin, piridostigmin, edrophonium
Neostigmin : 0,04-0,08 mg/kg
Piridostigmin 0,1-0,4 mg/kg
Edrophonium 0,5-1,0 mg/kg

Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik :

hipersalivasi
keringatan
bradikardia
kejang bronkus
hipermotilitas usus
pandangan kabur
Pemberiannya harus di sertai dengan obat

vagolitik (artropin) 0,01-0,02 mg/kg

Monitoring perianastesi
membantu anestesis mendapatkan

informasi fungsi organ vital selama


perianestesi.observasi pasien terus menerus.
Monitoring standar
Kardiovaskuler

non invasif (tak langsung)

-tekanan darah
-perdarahan

Invasif langsung

Respirasi
Tanpa alat, inspeksi
Stetoskop
Oksimetri denyut-> SaO2
Kapnometri

Suhu badan
Axila, oral sublingual, rektal, nasofaring, dll

Ginjal
Urin normal 0,5-1,0 ml/kgBB/jam jika > curiga

hiperglikemi.monitor
pada
bedah
lama,
menghindari retensi urin/distensi buli-buli.

Blokade neuromuskular
Relaksi otot sudah cukup baik,tonus otot
kembali normal
Sistem saraf
Respon pupil terhadap cahaya, terhadap

trauma pembedahan, respon terhadap otot


apakah relaksasi cukup atau tidak.

Monitoring khusus
Bedah mayorbedah jantung, bedah otak

posisi telungkup atau posisi duduk, bedah


dengan teknik hipotensi atau hipotermi dan
bedah pada pasien dengan keadaan umum
kurang baik atau dengan penyakit sistemik.

Terima kasih