Anda di halaman 1dari 27

TINEA KRURIS

(Case Report)
Oleh
AHMAD ISMATULLAH 1018011005
SANGGIANI DIAH AULIA 1018011022
EASY ORIENT DEWANTARI 1018011055

KEPANITERAAN KLINIK SMF / BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

BAB I
STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. MTM
Umur : 52 tahun
Jenis Kelamin: Perempuan
Alamat : Sidodadi
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Suku bangsa : Lampung
Agama : Islam
Status : Menikah

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Bercak hitam di bokong kanan dan
kiri sejak 3 tahun yang lalu
Keluhan Tambahan : Bercak terasa gatal dan terdapat
sisik diatasnya
Riwayat Penyakit : Pasien datang ke Poliklinik KK RSUD
Abdul Moeloek dengan keluhan bercak hitam di
bokong kanan dan kiri sejak 3 tahun yang lalu. Bercak
dirasa sangat gatal. Awalnya bercak hanya sebesar
uang logam dan berwarna merah dan bersisik,
kemudian bercak makin meluas dan warnanya menjadi
hitam setelah diberikan obat salep yang dibeli sendiri
oleh pasien di toko obat. Bercak hanya terdapat di
daerah bokong saja. Tidak ada anggota keluarga yang
memiliki keluhan serupa. Pasien tidak memiliki riwayat
penyakit kronis sebelumnya.

STATUS GENERALIS (dalam batas


normal)
STATUS DERMATOLOGIS
Lokasi : Regio gluteal dextra et
sinistra
Inspeksi : Makula eritemhiperpigmentasi bentuk irreguler,
jumlah soliter, ukuran plakat dengan
tepi eritem disertai papul dan
skuama diatasnya.

RESUME
Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD
Abdul Moeloek dengan keluhan bercak hitam di
bokong kanan dan kiri sejak 3 tahun yang lalu.
Bercak dirasa sangat gatal. Awalnya bercak hanya
sebesar uang logam dan berwarna merah dan
bersisik, kemudian bercak makin meluas dan
warnanya menjadi hitam setelah diberikan obat
salep yang dibeli sendiri oleh pasien di toko obat.
Bercak hanya terdapat di daerah bokong saja.
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan
serupa. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit
kronis sebelumnya.
Dari inspeksi di regio gluteal dextra et sinistra
ditemukan makula eritem-hiperpigmentasi bentuk
irreguler, jumlah soliter, ukuran plakat dengan tepi
eritem disertai papul dan skuama diatasnya.

DIAGNOSIS BANDING
Tinea Kruris
Kandidiasis
Psoriasis
DIAGNOSIS KERJA
Tinea Kruris

PENATALAKSANAAN
Umum
:
Edukasi ke pasien bahwa penyakit
merupakan penyakit kronis dan
butuh pengobatan dalam waktu yang
lama
Menjaga kebersihan
Tidak memakai pakaian yang ketat
agar tidak lembab

Khusus :
Topikal : Anti jamur (ketokonazole)
Sistemik : Anti jamur (ketokonazole
tab 200 mg 1x2 tab/hari)
Anti histamin (Mebhydrolin
napadisylate tab 50 mg 1x1 tab/hari)

PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan KOH
Biakan agar Sabaroud

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

Tinjauan pustaka

A. Definisi
Tinea kruris merupakan infeksi
dermatofit yang mengenai daerah
lipat paha, termasuk genitalia,
daerah pubis, perineum dan perianal.
sinonimnya ringworm of the groin,
eczema marginatum hebrae, jockey
itch, dhobie itch, epidermofitosis
inguinale (Martin AG & Kobayashi GS,
1999).

B. Epidemiologi
Tinea kruris lebih sering dijumpai pada daerah
beriklim tropis/subtropis
Tinea kruris lebih banyak dijumpai pada laki-laki
dibanding wanita
antara 18-25 tahun serta antara 40-50 tahun
tinea kruris menempati urutan pertama pada
frekuensi bentuk klinis infeksi jamur superficial
dari 5 rumah sakit di Indonesia tahun 19972000.
(Amirudin dkk., 2001)

C. Etiologi
Tinea kruris sering disebabkan oleh
dermatofit genus Trichophyton dan
Epidermophyton. Spesies yang sering
ditemukan E. floccosum, T. rubrum,
dan T. mentagrophytes.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tinea


kruris
iklim panas, lembab, pengeluaran keringat yang
berlebihan, pemakaian bahan pakaian yang tidak
menyerap keringat, kebersihan, trauma kulit,
lingkungan sosial budaya ekonomi, oklusif, obesitas,
defisiensi imunitas, penggunaan antibiotika,
kortikosteroid serta obat-obatan immunosupresan.
penularan tinea kruris dapat disebabkan kontak
langsung dengan individu yang terinfeksi dan
secara tidak langsung melalui benda yang
mengandung skuama terinfeksi,

G. gambaran klinis
Pruritus merupakan gejala umum, bisa terdapat
nyeri jika daerah yang terkena maserasi atau
terjadi infeksi sekunder. pada tinea kruris yang
klasik memberikan bentuk kelainan kulit yang
bilateral, namun tidak terlalu simetris. Lesi
berbatas tegas, tepi meninggi yang dapat berupa
papulovesikel eritematosa, atau kadang terlihat
pustul. bagian tengah menyembuh berupa daerah
coklat kehitaman berskuama. garukan kronis
dapat menimbulkan gambaran likenifikasi.

Gambar. Gambaran klinis tinea kruris (James WD., et al. 2011)

H. Diagnosis banding
Kandidiasis inguinalis : terdapat lesi berwarna merah terang, papul dan
pustul satelit pada pinggirnya dan skrotum sering terkena

Eritrasma : terdapat lesi berupa makula eritema dan skuama halus,


asimetris. pada pemeiksaan lampu wood menunjukkan efloresensi merah
bata, sedang pada pemeriksaan KOH negatif tidak ditemukan elemen
jamur spora atau hifa.

Psoriasis : terdapat lesi berupa plakat eritema dengan skuama tebal


berlapis-lapis dan berwarna seperti mika. pada pemeriksaan KOH tidak
ditemukan elemen jamur spora atau hifa.

Dermatitis seboroik : Lesi berupa eritema dengan skuama kekuningan


berminyak, tidak berbatas tegas, dapat terlihat pada tempat-tempat
prideliksanya, misalnya di kulit kepala, lipatan-lipatan kulit, serta
pemeriksaan KOH (-) (Sugito dkk., 2011; Siregar, 2005).

I. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan
gambaran klinis yang khas disertasi hasil
pemeriksaan mikroskopis KOH 10% yang
positif, yaitu adanya elemen jamur berupa
hifa yang bercabang dan atau artospora,
dan pemeriksaan kultur jamur yang
bermanfaat untuk menentukan etiologi
spesies penyebabnya (Martin AG &
Kobayashi GS, 1999)

Gambar. Gambaran Dermatofita pada Sediaan Basah KOH (Wolff


K., et al. 2007)

J. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan pengobatan meliputi
penatalaksanaan secara umum yaitu menetapkan
tujuan pengobatan, antara lain : menyembuhkan
penyakit secara klinis dan laboratoris, mencegah
penyakit menjadi kronis, mencegah timbulnya
kekambuhan. sedangkan strategi pengobatan
meliputi diagnosis yang tepat, mengatasi atau
menghilangkan faktor-faktor yang mempermudah
timbulnya infeksi jamur, memilih cara pengobatan
yang tepat, serta mengoptimalkan kepatuhan
penderita untuk kesembuhan.

Untuk lesi lokalisata dapat


memberikan preparat anti jamur
topikal.Sedangkan untuk lesi luas
atau gagal dengan pengobatan
topikal diberikan preparat antijamur
sistemik.

menggunakan terapi topikal, pengobatan


dilanjutkan hingga 1 minggu setelah lesi
sembuh. jika lesi luas atau gagal dengan
terapi topikal, dapat digunakan obat oral
seperti griseofulvin 500-100mg/hari (dewasa)
atau 10-20mg/kg/BB/hari (anak) dosisi tunggal
selama 2-6 minggu atau terbinafin
250mg/hari (dewasa) selama 1-2 minggu atau
itrakonazol 2x100mg/hari selama 2 minggu
atau ketokonazol 200mg/hari selama 10-14
hari (Daili E. dkk. 2005)

Analisis kasus

3.1 apakah penegakan diagnois pada kasus sudah tepat ?


Apakah penegakan diagnosis dalam kasus ini sudah tepat ?
Penegakan kasus tinea cruris adalah dengan melihat lesi dan tempat
predileksinya.
Pada tinea cruris di dapatkan lesi anullar plaq dengan tepi aktif dan biasanya
bilateral, kemudian juga ditemukan lesi plaq, dengan bagian tengah yang
bersih, dan berbatas hanya pada regio genitocrural dan bagian dalam paha atas
bila tinea cruris disebabkan karena E. floccosum .
(fitzpatrick et al.1997)
Pada pasien ini ditemukan lesi makula hiperpigmentasi dengan tepi aktif yang
berbatas hanya pada regio genitocrural saja, yang menunjukkan bahwa pasien
ini terkena tinea cruris.

3.2 apakah penatalaksanaan pada kasus sudah tepat ?


Penatalaksanaan kasus tinea cruris adalah dengan mencegah penyebaran dari
tinea cruris ke tempat yang lainnya.
Penatalaksanaan dibedakan menjadi 2, yakni topikal dan sistemik. Topikal
yang digunakan adalah derivat alilamin, derivat imidazol, dan hidrosipiridon,
yang digunakan 2x sehari selama 2-4 minggu.
Sistemik
Antijamur oral diberikan pada infeksi yang luas ataupun lesi yang tidak
membaik dengan pengobatan topikal. Obat yang digunakan adalah
griseofulvin dan itraconazol, dimana pada penelitian griseofulvin kurang
efektif dibandingkan penggunaan itraconazol.

3.2 apakah penatalaksanaan pada kasus sudah tepat ?


Penatalaksanaan pada kasus sudah cukup tepat dengan
memberikan antijamur topikal dan sistemik, namun
kekurangan hanya terbatas pada edukasi pasien yang
dirasa kurang.

DAFTAR PUSTAKA

Amirudin MD, Amin S, Ilyas FS. 2001. Tinjauan mengenai penyakit jamur
superficial di Indonesia. Dalam : media Dermato-Venereologica
Indonesiana; kumpulan makalah ilmiah PIT PERDOSKI. Jakarta
Budimulja U. 2007. Mikosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,
editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. FKUI. Jakarta
Daili ES, Menaldi SL, Wisnu. 2005. Penyakit Kulit yang Umum di
Indonesia. Medical Multimedia Indonesia. Jakarta
James WD, Berger TG, Elston DM. 2011. Andrews Diseases of the Skin
Clinical Dermatology. Eleventh Edition. Saunders Elsevier. Philadelphia
Martin AG, Kobayashi GS. 1999. Superficial fungan infection;
dermatophytosis, tinea nigra, piedra. dalam; Fitzpatrick TB, Eisen AZ,
Wolff K, Fredberg IM, AUsten KF, eds. Dermatology in general
medicine, edisi 5. McGraw-HIll Inc. New York .
Siregar RS. 2004. Tinea kruris in Saripati Penyakit Kulit, edisi kedua.
EGC. Jakarta.
Sugito TL, Hakim L, Suseno LS, Suriadiredja A, Toruan TL, Alam TN,
editor. 2011. Panduan Pelayanan Medis Dokter Spesialis Kulit dan
Kelamin PERDOSKI. PP PERDOSKI. Jakarta
Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. 2007. Cutaneous Fungal Infection in
Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology.[e-book].
Fifth Edition. McGraw-Hill Companies. Philadelphia