Anda di halaman 1dari 23

Referat

PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM


PADA KASUS PENCABULAN & PERKOSAAN

Oleh :
Shabrina Izzati
1010313101
Preseptor :
dr. H. Zulhanif Nazar, Sp.OG (K)
BAGIAN ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RUMAH SAKIT PROF. DR. M.A. HANAFIAH SM
BATUSANGKAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Negara

Indonesia

adalah

negara

hukum,

sehingga

untuk

mengimplementasikan hal tersebut maka negara Indonesia memiliki mekanisme


Criminal Justice System yang terdiri dari unsur-unsur penegakkan hukum di
negara ini.Salah satu aturan hukum Indonesia yang bertujuan untuk menjaga
ketertiban di dalam masyarakat adalah hukum pidana, karena di dalam hukum
pidana berisi aturan-aturan tentang kehidupan masyarakat yang dibuat dari segi
materiil, yaitu mengatur tentang hubungan hukum antara warganegara dan negara.
Dalam hal penyidikan terhadap dugaan terjadinya tindakan pidana, pembuktian
merupakan tahap paling menentukan dalam proses persidangan pidana mengingat
pada tahap pembuktian tersebut akan ditentukan terbukti tidaknya seorang
terdakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang didakwakan penuntut
umum.1,2
Sebagai salah satu bagian dari alat bukti yang sah

yaitu Visum et

Repertum (184 KUHAP). Visum et Repertum (VeR) adalah laporan tertulis untuk
kepentingan peradilan (pro justicia) atas permintaan yang berwenang, yang dibuat
oleh dokter, terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan
barang bukti, berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan, serta
berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya.1
Salah satu jenis Visum et Repertum adalah visum hidup yang didalamnya
termasuk visum et Repertum kejahatan seksual. Kejahatan seksual dapat berupa
pencabulan ataupun pemerkosaan. Jumlah kasus kekerasan seksual di Indonesia
ataupun dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Korban-korban kekerasan
seksual tentunya ingin mencari keadilan bagi dirinya. 3 Fungsi visum et repertum
dalam pengungkapan suatu kasus pemerkosaan menunjukkan peran yang penting
bagi tindakan pihak kepolisian selaku aparat penyidik. 3

Berdasarkan kenyataan mengenai pentingnya penerapan hasil visum et


repertum dalam pengungkapan suatu kasus pemerkosaan dan pencabulan pada
tahap penyidikan sebagaimana terurai diatas, hal tersebut melatarbelakangi
penulis untuk menyusun makalah berjudul Pembuatan Visum et Repertum Pada
Kasus Perkosaan Dan Pencabulan.
1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana pembuatan Visum et Repertum kasus perkosaan dan
pencabulan.

1.3

Tujuan Penulisan

1.3.1

Tujuan Umum
Mengetahui pnembuat Visum et Repertum kasus perkosaan dan
pencabulan.

1.3.2

Tujuan khusus
1. Mengetahui definisi, klasifikasi, fungsi, dan tujuan
2.
3.

Visum et

Repertum.
Mengetahui batasan pencabulan dan pemerkosaan
Mengetahui pemeriksaan dan cara pembuatan Visum et Repertum
kasus perkosaan dan pencabulan

1.4

Manfaat Penulisan
Bagi ilmu pengetahuan makalah ini dapat digunakan sebagai bahan
kepustakaan tentang pembuatan Visum et Repertum kasus pemerkosaan
dan pencabulan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Visum et Repertum
Visum et repertum berkaitan erat dengan Ilmu Kedokteran Forensik.
Mengenai disiplin ilmu ini, dimana sebelumnya dikenal dengan Ilmu Kedokteran
Kehakiman, R. Atang Ranoemihardja menjelaskan bahwa Ilmu Kedokteran
Kehakiman atau Ilmu Kedokteran Forensik adalah ilmu yang menggunakan
pengetahuan Ilmu Kedokteran untuk membantu peradilan baik dalam perkara
pidana maupun dalam perkara lain (perdata). Tujuan serta kewajiban Ilmu
Kedokteran Kehakiman adalah membantu kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman
dalam menghadapi kasus-kasus perkara yang hanya dapat dipecahkan dengan
ilmu pengetahuan kedokteran.3,4
Tugas dari Ilmu Kedokteran Kehakiman adalah membantu aparat hukum
(baik kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman) dalam mengungkapkan suatu perkara
yangberkaitan dengan pengrusakan tubuh, kesehatan dan nyawa seseorang.
Dengan bantuan Ilmu Kedokteran Kehakiman tersebut, diharapkan keputusan
yang hendak diambil oleh badan peradilan menjadi obyektif berdasarkan apa yang
sesungguhnya terjadi. Bentuk bantuan ahli kedokteran kehakiman dapat diberikan
pada saat terjadi tindak pidana (di tempat kejadian perkara, pemeriksaan korban
yang luka atau meninggal) dan pemeriksaan barang bukti, dimana hal ini akan
diterangkan dan diberikan hasilnya secara tertulis dalam bentuk surat yang dikenal
dengan istilah visum et repertum. 5

Berdasarkan ketentuan hukum acara pidana Indonesia, khususnya KUHAP


tidak diberikan pengaturan secara eksplisit mengenai pengertian visum et
repertum. Satu-satunya ketentuan perundangan yang memberikan pengertian
mengenai visum et repertum yaitu Staatsblad Tahun 1937 Nomor 350. Disebutkan
dalam ketentuan Staatsblad tersebut bahwa : Visum et Repertum adalah laporan
tertulis untuk kepentingan peradilan (pro yustisia) atas permintaan yang
berwenang, yang dibuat oleh dokter, terhadap segala sesuatu yang dilihat dan
ditemukan pada pemeriksaan barang bukti, berdasarkan sumpah padawaktu
menerima jabatan, serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya.4
Dari pengertian visum et repertum tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa
visum et repertum adalah keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan
ditemukan dalam melakukan pemeriksaan barang bukti guna kepentingan
peradilan. Jadi dalam hal ini visum et repertum merupakan kesaksian tertulis
dalam proses peradilan. 3,4,5
3.2 Klasifikasi Visum et Repertum
Ada beberapa jenis visum et repertum, yaitu visum et repertum perlukaan
(termasuk keracunan), visum et repertum kejahatan susila, visum et repertum
jenazah, dan visum et repertum psikiatrik.
Pada visum et repertum korban kejahatan susila umumnya korban yang
dimintakan visum et repertumnya pada dokter adalah dugaan adanya persetubuhan
yang

diancam

hukuman

oleh KUHP (meliputi

perzinahan,

perkosaan,

persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita


yang belum cukup umur, serta perbuatan cabul).
Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan
adanya persetubuhan atau perbuatan cabul, adanya kekerasan (termasuk

keracunan), serta usia korban. Selain itu juga diharapkan memeriksa adanya
penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan psikiatrik sebagai akibat dari
tindakan pidana tersebut. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan,
karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan
sidang pengadilan.6
Dalam kesimpulan diharapkan tercantum perkiraan tentang usia korban,
ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin, menyebutkan kapan
perkiraan terjadinya, dan ada atau tidaknya tanda kekerasan. Bila ditemukan
adanya tanda-tanda ejakulasi atau adanya tanda-tanda perlawanan berupa darah
pada kuku korban, dokter berkewajiban mencari identitas tersangka melalui
pemeriksaan golongan darah serta DNA dari benda-benda bukti tersebut.5

3.3 Fungsi dan tujuan Visum et Repertum

Maksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus
delicti) yang sah di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada
saat persidangan berlangsung. Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena
termasuk surat sah sesuai dengan KUHP pasal 184.
Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184, yaitu:
-

Keterangan saksi

Keterangan ahli

Keterangan terdakwa

Surat-surat

Petunjuk

Ada 3 tujuan pembuatan VeR, yaitu:


-

Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim


Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat
Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat
kesimpulan VeR yang lebih baru
Bila VeR belum dapat menjernihkan persoalan di sidang pengadilan, hakim

dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang
tercantum dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang
memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas
barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau
penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. 1,2

2.4 Pencabulan
Tindak pidana pencabulan adalah suatu tindak pidana yang bertentanggan
dan melanggar kesopanan dan kesusilaan seseorang yang semuanya dalam
lingkungan nafsu birahi kelamin, misalnya seorang laki-laki meraba kelamin
seorang perempuan.4 KUHP 289 menjelaskan perbuatan cabul Semua perbuatan
yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual sekaligus menganggu
kehormatan kesusilaan . KUHP menggolongkan tindak pidana pencabulan ke
dalam tindak pidana kesusilaan. KUHP belum mendefinisikan dengan jelas
maksud dari pada pencabulan itu sendiri dan terkesan mencampuradukkan
pengertiannya dengan perkosaan ataupun persetubuhan, sedangkan dalam konsep
KUHP yang baru ditambahkan kata persetubuhan disamping pencabulan,
sehingga pencabulan dan persetubuhan dibedakan.
Menurut R. Soesilo yang dimaksud dengan persetubuhan ialah peraduan
antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuan yang biasa dijalankan untuk

mendapatkan anak, jadi anggota kemaluan laki-laki harus masuk ke dalam


anggota kemaluan perempuan, sehingga mengeluarkan air mani. Dalam
pengertian persetubuhan di atas disimpulkan bahwa suatu tindakan dapat
dikatakan suatu persetubuhan jika alat kelamin laki-laki masuk ke dalam alat
kelamin perempuan sampai mengeluarkan air mani yang dapat mengakibatkan
kehamilan.7
Perbedaan antara pencabulan dan persetubuhan yaitu jika seseorang
melakukan persetubuhan itu sudah termasuk perbuatan cabul sedangkan ketika
seseorang melakukan perbuatan cabul, belum dikategorikan telah melakukan
persetubuhan. Karena suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai suatu
persetubuhan jika disyaratkan masuknya penis ke dalam vagina perempuan
kemudian laki-laki mengeluarkan air mani yang biasanya menyebabkan terjadinya
kehamilan sehingga jika salah satu syarat tidak terpenuhi maka bukan
dikategorikan sebagai suatu persetubuhan melainkan perbuatan cabul. Selain itu
perbuatan cabul tidak menimbulkan kehamilan.4
2.5 Pemerkosaan
Tindak pidana perkosaan dalam kosa kata bahasa Indonesia berasal dari kata
perkosaan yang berarti menundukkan dengan kekerasan, memaksa dengan
kekerasan atau menggagahi. Pengertian tindak pidana perkosaan tersebut
mempunyai makna yang luas yang tidak hanya terjadi pada hubungan sexual
(sexual intercouse) tetapi dapat terjadi dalam bentuk lain seperti pelanggaran hak
asasi manusia yang lainnya.8
Berdasarkan pengertian pemerkosaan tersebut diatas, menunjukkan bahwa
pemerkosaan merupakan bentuk perbuatan pemaksaan kehendak laki-laki
terhadap perempuan yang berkaitan atau ditujukan pada pelampiasan nafsu
seksual. Perbuatan ini dengan sendirinya baik secara moral maupun hukum

melanggar norma kesopanan dan norma kesusilaan di masyarakat. Terhadap hal


ini adalah wajar dan bahkan keharusan untuk menjadikan perbuatan Pemerkosaan
sebagai suatu tindak pidana yang diatur bentuk perbuatan dan pemidanannya
dalam hukum pidana materiil yang berlaku.4
2.6 Pembuatan Visum et Repertum pada kasus perkosaan dan pencabulan
2.6.1 Aspek etik dan medikolegal Visum et Repertum pada kasus perkosaan
dan pencabulan
Terdapat beberapa aspek etik dan medikolegal yang harus diperhatikan
dalam melakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan kekerasan seksual. Karena
korban jugaberstatus sebagai pasien, dan yang akan diperiksa adalah daerah
sensitif, hal utamayang harus diperhatikan adalah memperoleh informed
consent. Informasi tentang pemeriksaan harus diberikan sebelum pemeriksaan
dimulai dan antara lain, mencakup tujuan pemeriksaan dan kepentingannya untuk
pengungkapan kasus, prosedur atau teknik pemeriksaan, tindakan pengambilan
sampel atau barang bukti, dokumentasi dalam bentuk rekam medis dan foto, serta
pembukaan sebagian rahasia kedokteran guna pembuatan visum et repertum.
Apabila korban cakap hukum, persetujuan untuk pemeriksaan harus diperoleh dari
korban. Syarat-syarat cakap hukum adalah berusia 21 tahun atau lebih, atau belum
21 tahun tapi sudah pernah menikah, tidak sedang menjalani hukuman, serta
berjiwa sehat dan berakal sehat. 9
Persetujuan harus diminta dari walinya yang sah apabila korban tidak cakap
hukum. Bila korban tidak setuju diperiksa, tidak terdapat ketentuan undangundang yang dapat memaksanya untuk diperiksa dan dokter harus menghormati
keputusan korban tersebut. Selain itu, karena pada korban terdapat barang bukti
(corpus delicti) harus diperhatikan pula prosedur legal pemeriksaan. Setiap
pemeriksaan untuk pembuatan visum et repertum harus dilakukan berdasarkan

permintaan tertulis (Surat Permintaan Visum/SPV) dari polisi penyidik yang


berwenang. Korban juga harus diantar oleh polisi penyidik sehingga keutuhan dan
originalitas barang bukti dapat terjamin.9
Dokter harus memastikan identitas korban yang diperiksa dengan
mencocokkan antara identitas korban yang tercantum dalam SPV dengan tanda
identitas sah yang dimiliki korban, seperti KTP, paspor, atau akta lahir apabila
korban tidak diantar oleh polisi penyidik,. Catat pula dalam rekam medis bahwa
korban tidak diantar oleh polisi. Hal ini harus dilakukan untuk menghindari
kemungkinan kesalahan identifi kasi dalam memeriksa korban.10
Seorang dokter yang memeriksa kasus kekerasan seksual harus bersikap
objektif-imparsial, konfidensial dan profesional. Objektif imparsial artinya
seorang dokter tidak boleh memihak atau bersimpati kepada korban sehingga
cenderung mempercayai seluruh pengakuan korban begitu saja. Hal yang boleh
dilakukan adalah berempati, dengan tetap membuat penilaian sesuai dengan buktibukti objektif yang didapatkan secara sistematisdan menyeluruh. Tetap waspada
terhadap upaya pengakuan atau tuduhan palsu (falseallegation) dari korban.
Hindari pula perkataan atau sikap yang menghakimi atau menyalahkan korban
atas kejadian yang dialaminya. Dokter juga harus menjaga konfidensialitas hasil
pemeriksaan korban. Komunikasikan hasil pemeriksaan hanya kepada yang
berhak mengetahui, seperti kepada korban dan/atauwalinya (jika ada), serta
penyidik kepolisian yang berwenang.
Tuangkan hasil pemeriksaan dalam visum et repertum sesuai keperluan saja
dengan tetap menjaga kerahasiaan data medisyang tidak terkait dengan kasus.
Profesionalitas dokter dalam melakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan
kekerasan seksual ditunjukkan dengan melakukan pemeriksaan sesuai dengan

kaidah-kaidah ilmu kedokteran yang umum dan mutakhir, dengan memperhatikan


hak dan kewajiban korban (sekaliguspasien) dan dokter.10
Secara umum tujuan pemeriksaan korban kekerasan seksual adalah untuk

melakukan identifikasi, termasuk memperkirakanusia korban : 11


menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan dan waktu terjadinya, bila

mungkin;
menentukan adanya tanda-tanda kekerasan,termasuk tanda intoksikasi

narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA);


menentukan pantas/tidaknya korban untuk dikawin, termasuk tingkat

perkembangan seksual
membantu identifikasi pelaku.
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan korban

kekerasan seksual : 12
1. Lakukan pemeriksaan sedini mungkin setelah kejadian, jangan dibiarkan
menunggu terlalu lama. Hal ini penting untuk mencegahrusak atau berubah
atau hilangnya barang bukti yang terdapat di tubuh korban, serta untuk
menenangkan korban dan mencegah terjadinya trauma psikis yang lebih
berat.
2. Pada saat pemeriksaan, dokter harus didampingi perawat yang sama jenis
kelaminnya dengan korban (biasanya wanita) atau bidan. Tujuannya adalah
untuk mengurangi rasa malu korban dan sebagai saksi terhadap prosedur
pemeriksaan dan pengambilan sampel. Selain itu, hal ini juga perlu demi
menjaga keamanan dokter pemeriksa terhadap tuduhan palsu bahwa dokter
melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap korban saat pemeriksaan.
3. Pemeriksaan harus dilakukan secara sistematis dan menyeluruh terhadap
seluruh bagian tubuh korban, tidak hanya terhadapdaerah kelamin saja.
4. Catat dan dokumentasikan semua temuan, termasuk temuan negatif.
2.6.2

Pemeriksaan
Langkah-langkah pemeriksaan adalah sebagai berikut: 10
1. Anamnesis

10

Pada korban kekerasan seksual, anamnesisharus dilakukan dengan bahasa


awam yang mudah dimengerti oleh korban. Gunakan bahasa dan istilah-istilah
yang sesuai tingkat pendidikan dan sosio-ekonomi korban, sekalipun mungkin
terdengar vulgar. Anamnesis dapat dibagi menjadi anamnesis umum dan khusus.
Hal-hal yang harus ditanyakan pada anamnesis umum mencakup, antara lain: 12
Umur atau tanggal lahir,
Status pernikahan,
Riwayat paritas dan/atau abortus,
Riwayat haid (menarche, hari pertamahaid terakhir, siklus haid),
Riwayat koitus (sudah pernah atau belum,riwayat koitus sebelum
dan/atau setelah kejadian kekerasan seksual, dengan siapa, penggunaan
kondom atau alat kontrasepsi lainnya),
Penggunaan obat-obatan (termasuk NAPZA),
Riwayat penyakit (sekarang dan dahulu),serta
Keluhan atau gejala yang dirasakan padasaat pemeriksaan.
Sedangkan anamnesis khusus mencakup keterangan yang terkait kejadian
kekerasan seksual yang dilaporkan dan dapat menuntun pemeriksaan fisik,
seperti:10,11
What &How:
- jenis tindakan

(pemerkosaan,

persetubuhan,pencabulan,

dan

sebagainya)
adanya kekerasan dan/atau ancaman kekerasan,serta jenisnya
adanya upaya perlawanan
apakah korban sadar atau tidak pada saat atau setelah kejadian
adanya pemberian minuman, makanan,atau obat oleh pelaku sebelum

atau setelah kejadian,


adanya penetrasi dan sampai mana (parsial atau komplit),
apakah ada nyeri di daerah kemaluan
apakah ada nyeri saat buang air kecil/besar
adanya perdarahan dari daerah kemaluan
adanya ejakulasi dan apakah terjadi di luaratau di dalam vagina,
penggunaan kondom
tindakan yang dilakukan korban setelah kejadian, misalnya apakah
korban sudah buang air, tindakan membasuh/douching,mandi, ganti

baju, dan sebagainya.


When:

11

- tanggal dan jam kejadian, bandingkan dengan tanggal dan jam


melapor,
- apakah tindakan tersebut baru satu kali terjadi atau sudah berulang.
Where:
- tempat kejadian, dan
- jenis tempat kejadian (untuk mencari kemungkinan trace evidence
dari tempat kejadian yang melekat pada tubuh dan/atau pakaian
korban).
Who:
- apakah pelaku dikenal oleh korban atautidak,
- jumlah pelaku,
- usia pelaku, dan
- hubungan antara pelaku dengan korban.
2. Pemeriksaan fisik
Saat melakukan pemeriksaan fisik, gunakanprinsip top-to-toe. Artinya,
pemeriksaan fisikharus dilakukan secara sistematis dari ujung kepala sampai ke
ujung kaki. Pelaksanaan pemeriksaan fisik juga harus memperhatikan keadaan
umum korban. Apabila korban tidak sadar atau keadaan umumnya buruk, maka
pemeriksaan untuk pembuatan visum dapatditunda dan dokter fokus untuk lifesavingterlebih dahulu. Selain itu, dalam

melakukan pemeriksaan fisik,

perhatikan kesesuaian dengan keterangan korban yang didapat saat anamnesis.


Pemeriksaan fisik yang dilakukan dapat dibagi menjadi pemeriksaan
umum dan khusus. Pemeriksaan fisik umum mencakup: 13
Tanda-tanda vital
Penampilan (rapih atau tidak, dandan,dan lain-lain)
Afek (keadaan emosi, apakah tampak sedih,takut, dan sebagainya)
Pakaian (apakah ada kotoran, robekan,atau kancing yang terlepas)
Status generalis
Tinggi badan dan berat badan
Rambut (tercabut/rontok)
Gigi dan mulut (terutama pertumbuhan gigi molar kedua dan ketiga)
Kuku (apakah ada kotoran atau darah dibawahnya, apakah ada kuku
yang tercabut atau patah),
tanda-tanda perkembangan seksual sekunder,
tanda-tanda intoksikasi NAPZA, serta
12

status lokalis dari luka-luka yang terdapat pada bagian tubuh selain
daerah kemaluan.Untuk mempermudah pencatatan luka-luka,dapat
digunakan diagram tubuh seperti pada Gambar 2.1.10

Gambar 2.1 Diagram Tubuh Manusia Untuk Pencatatan Luka


Sumber : WHO. Guidelines for medico-legal care for victims of sexual
violence.200313
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mendeteksi dan mengatasi luka serta
mencari bukti-bukti fisik yang terkait dengan tindakan kekerasan seksual yang
diakui korban. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu : 12,10
a.
Mendeteksi adanya perlukaan
Tidak ada temuan spesifik pada anak. Iritasi pada vulva sering pada anak
kecil akibat kebersihan yang buruk, maserasi kulit akibat kelembaban pakaian
dalam ataupun ekskoriasi akibat infeksi lokal. Pemeriksaan pada anak yang
mengalami kejahatan seksual biasanya normal. Pada studi terhadap 2384 anak
yang dirujuk ke pelayanan kesehatan tingkat tiga, kurang dari 5% temuan
genitalia yang dicurigai terjadinya kejahatan seksual. Hasil pemeriksaan

13

didapatkan normal pada 96,3% anak. Selain itu, dari anamnesa ditemukan bahwa
68% anak mengalami penetrasi pada anus ataupun vagina.
Dokter harus ahli dalam menilai robekan pada hymen. Robekan pada
hymen biasanya terputus pada arah jam 3 dan 9. Pada perempuan prapubertas,
trauma regangan dan penetrasi berakibat pada sisa hymen.
b.
Mencari bukti fisik
Selama pemeriksaan inspeksi umum, seluruh benda asing (seperti pasir,
rumput) harus dipindahkan ke dalam amplop berlabel. Bekas cakaran pada kuku
dan rambut yang rontok dikumpulkan. Cairan semen dapat dideteksi pada kulit
beberapa jam setelah kejadian. Lampu Woods dapat digunakan untuk mendeteksi
adanya cairan semen pada tubuh pasien, begitu juga sinar UV menyebabkan
semen berubah warna. Noda yang dapat diangkat dari kulit dengan lidi kapas
untuk dianalisa lebih lanjut.11
Apabila dicurigai adanya penetrasi ke dalam vagina, cairan vagina dapat
diambil dan dikirim ke laboratorium untuk analisa penyakit menular seksual.
Kultur swab sebaiknya diambil dari rektum, vagina, uretra dan faring. Seluruh
spesimen yang diambil diberi label dan simpan dalam amplop yang disegel dan
ditandatangani oleh pemeriksa.12
Kesulitan utama yang umumnya dihadapi oleh dokter pemeriksa adalah
pemeriksaan selaput dara. Gambaran robekan pada selaput dara terlihat pada
Gambar 2.2. Karena itu, pemeriksaan selaput dara dilakukan dengan traksi lateral
dari labia minora secara perlahan, yang diikuti dengan penelusuran tepi selaput
dara dengan lidi kapas yang kecil untuk membedakan lipatan dengan robekan.
Pada penelusuran tersebut, umunya lipatan akan menghilang, sedangkan robekan
tetap tampak dengan tepi yang tajam.10,13
Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokumentasi yang baik sangat penting.
Selain melakukan pencatatan dalam rekam medis, perlu dilakukan pemotretan

14

bukti-bukti fisik yang ditemukan. Foto-foto dapat membantu dokter membuat


visum et repertum. Dengan pemotretan, korban juga tidak perlu diperiksa terlalu
lama karena foto-foto tersebut dapat membantu dokter mendeskripsi temuan
secara detil setelah pemeriksaan selesai.12

Gambar 2.2 Robekan pada Selaput Dara


Sumber : Universitas Padjajaran. Obstetri Fisiologi. 2004
3. Pemeriksaan Penunjang
Pada kasus kekerasan seksual, perlu dilakukanpemeriksaan penunjang sesuai
indikasi untukmencari bukti-bukti yang terdapat pada tubuhkorban. Sampel untuk
pemeriksaan penunjangdapat diperoleh dari, antara lain: 3

pakaian yang dipakai korban saat kejadian;diperiksa lapis demi lapis untuk
mencari adanyatrace evidence yang mungkin berasaldari pelaku, seperti
darah dan bercak mani,atau dari tempat kejadian, misalnya bercaktanah atau

daun-daun kering;
rambut pubis yaitu dengan mengguntingrambut pubis yang menggumpal

atau mengambil rambut pubis yang terlepaspada penyisiran;


kerokan kuku, apabila korban melakukanperlawanan dengan mencakar
pelaku makamungkin terdapat sel epitel atau darah pelakudi bawah kuku

korban;
swab, dapat diambil dari bercak yang didugabercak mani atau air liur dari
kulit sekitar vulva, vulva, vestibulum, vagina, forniks posterior, kulit bekas

15

gigitan atau ciuman, ronggamulut (pada seks oral), atau lipatan-lipatan anus
(pada sodomi), atau
Untuk pemeriksaan penyakit menular seksual :
Hal yang harus diperhatikan pada tahap iniadalah keutuhan rantai barang
bukti dari sampel yang diambil (chain of custody). Semuapengambilan,
pengemasan, dan pengiriman sampel harus disertai dengan pembuatan berita acara
sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini lebih penting apabila sampel akan dikirim
ke laboratorium dan tidak diperiksaoleh dokter sendiri.3

2.6.3 Contoh VeR Kasus Perkosaan


PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
Nomor : xx/09/2015
Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Negara Republik Indonesia
Daerah Nusa Tenggara Barat, Resor Lombok Barat melalui suratnya tanggal
28 Januari 2014, Nomor surat: B/ 06/ I/ 2014/Lantas. yang ditanda tangani
oleh I Nyoman Gel Gel, pangkat Kepala Kepolisian Resort Lobar yang
mengajukan permintaan Visum et Repertum untuk korban atas nama .,
usia 21 tahun, jenis kelamin perempuan , pekerjaan : pelajar, alamat : Praya ,
Lombok Tengah yang diduga

merupakan korban pemerkosaan,

maka

dengan ini Saya, dr. Arfi Syamsun, Sp.KF, M.Si.Med, NIP. 19790108 2003 12
1 002, dokter spesialis forensik yang bekerja di Rumah Sakit Umum Propinsi
Nusa Tenggara Barat, menerangkan bahwa benar pada tanggal 5 Februari
2014 pukul 21.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah, Rumah Sakit Umum
Propinsi Nusa Tenggara Barat telah merawat pasien seperti dimaksud dalam
Surat Permintaan Visum dari penyidik tersebut di atas. Diagnosis pasien

16

tersebut adalah
HASIL PEMERIKSAAN
1. Berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan medis dengan korban yang
tertuang dalam rekam medis, korban dengan nomor rekam medis ..diduga
mengalami tindakan pemerkosaan pada rabu tanggal lima bulan Februari
tahun dua ribu empat belas. Korban datang ke rumah sakit dalam keadaan
sadar dengan ditemani oleh orang tua dan penyidik. Dari pengakuan korban,
pada senin tanggal lima februari dua ribu empat belas pada pukul empat belas
waktu indonesia tengah, pelaku telah melakukan tindakan asusila terhadap
korban di gubuk dekat ladang tebu di daerah Sesaot. Awalnya korban diajak
pergi untuk berekreasi namun korban dibawa ke suatu daerah dekat hutan di
sesaot. Pelaku mengajak pasien untuk bersetubuh, tetapi korban tidak mau.
Pelaku tetap memaksa korban, Korban langsung di bekap dan seluruh pakaian
dibuka. Korban sempat berteriak dan melawan pelaku. Pelaku lalu
menggesekkan dan memasukkan kemaluannya ke kemaluan korban. Menurut
pengakuan korban, pelaku mengeluarkan cairan berwarna putih kental setelah
bersetubuh dengan korban. Pelaku juga tidak menggunakan kondom saat
bersetubuh dengan korban. Pelaku merupakan orang yang dikenal oleh
korban. Setelah kejadian itu korban mengeluhkan nyeri pada daerah kemaluan.
Korban mengatakan sudah menstruasi sejak berusia Sembilan belas tahun.
Dirinya belum menikah dan tidak pernah melakukan hubungan seksual
sebelumnya. Pada saat pemeriksaan, penampilan korban bersih, sesuai dengan
usia, cara berjalan tidak normal, terlihat gelisah dan sebentar-sebentar
menangis, rambut rapi, pakaian sudah diganti, rapi, tanpa robekan, dan tanpa
kancing terputus, sikap selama pemeriksaan sangat membantu.Tanda kelamin
sekunder sudah berkembang----------------------------------------------------------2. Pada Korban dilakukan
pemeriksaan :-----------------------------------------------------a) Pemeriksaan fisik: Tingkat kesadaran berdasarkan Glasgow Coma Scale
15, tekanan darah seratus sepuluh per delapan puluh, denyut nadi delapan
puluh kali per menit, pernapasan dua puluh kali per menit, suhu ketiak

17

tiga puluh tujuh koma lima derajat celcius, berat badan empat puluh dua
kilogram,

tinggi

badan

seratus

lima

puluh

delapan

sentimeter.-------------------------------------------------------------b) Pemeriksaan
luka:----------------------------------------------------------------------------a. Kepala

tidak

ditemukan

luka----------------------------------------------------------b. Leher

tidak

ditemukan

luka------------------------------------------------------------c. Dada

Tidak

ditemukan

luka-----------------------------------------------------------d. Perut

tidak

ditemukan

luka------------------------------------------------------------e. Pinggul:

ditemukan

satu

luka

di

daerah

pinggul

bagian

belakang-------------Ditemukan luka tertutup pada daerah pinggul kiri bawah sebelah


pinggir dekat pinggang kiri. Luka berupa luka lecet, berbentuk tidak
teratur, batas tidak jelas. Berukuran enam sentimeter kali lima
sentimeter berwarna merah keunguan berbintik-bintik merah. Tidak
terlihat darah di daerah sekitar luka. Kulit di sekitar luka bersih. Luka
berjarak dua belas sentimeter dari garis tengah tubuh,tidak terlihat
tebing luka dan jembatan jaringan. Dasar luka berupa kulit
ari.Permukaan luka tertutup oleh cairan (serum) ---------------------f. Anggota gerak atas : ditemukan luka pada lipat siku tangan kanan
bagian luar. Luka berupa luka lecet serut, berbentuk tidak teratur,
membujur batas tidak jelas. Berukuran panjang dua sentimeter kali
lebar tiga sentimeter berwarna merah keunguan berbintik-bintik merah.
Tidak terlihat darah di daerah sekitar luka. Kulit di sekitar luka
berwarna merah kebiruan. Permukaan luka tertutup oleh cairan (serum),
dan betadine warna kecoklatan.Dasar luka berupa kulit ari. Tidak
terlihat adanya tebing luka atau jembatan jaringan-----------------------

18

g. Anggota

Gerak

bawah

tidak

ditemukan

luka--------------------------------------c) Pemeriksaan

alat

kelamin:------------------------------------------------------------------a. Bagian luar: Tampak warna kemerahan pada bibir vagina luar ,tampak
pembengkakan di bibir vagina bagian luar kanan, tidak ada luka, nyeri
pada
perabaan.----------------------------------------------------------------------------------b. Bagian Dalam : Tampak kemerahan disertai luka lecet yang berukuran
nol koma lima sentimeter pada bibir vagina dalam kanan, bawah dan
atas, Nampak ada pembengkakan, terdapat luka terbuka tidak teratur
arah jam tiga, lima, dan sepuluh berukuran nol koma lima sentimeter,
nyeri pada perabaan----------c. Liang senggama: tidak ada

cairan

yang

keluar

dari

liang

senggama.---------d. Pemeriksaan saluran pelepasan: tidak tampak kelainan pada saluran


pelepasan.
-------------------------------------------------------------------------------------3. Pemeriksaan penunjang
a) Pada korban dilakukan pemeriksaan cairan vagina untuk mendeteksi
keberadaan air mani dari pelaku. Cairan vagina didapatkan ditaruh pada
kertas Whatman, diamkan sampai kering,kemudian disemprot dengan
reagensia, Muncul warna ungu waktu kurang dari tiga puluh detik. Hal ini
menandakan pada cairan vagina korban terdapat zat asam fosfatase yang
berasal dari air mani pelaku--------------b) Pada korban dilakukan pemeriksaan bakteri penyebab penyakit menular
seksual yaitu menentukan adanya kuman Neisseria gonorrhoeae (GO).
Cairan dari saluran genitalia diambil dan dilakukan pewarnaan gram, dan
diperiksa

dengan

mikroskop.

Ditemukan

bakteri

Neisseria

gonorrhoea.--------------------------------4. Kesimpulan

19

Dari fakta-fakta yang didapatkan dari hasil pemeriksaan terhadap orang


tersebut, maka dapat saya simpulkan bahwa telah diperiksa seorang remaja
perempuan berusia dua puluh satu tahun berat badan empat puluh dua
kilogram status gizi baik dalam keadaan sadar penuh. Pada bibir luar alat
kelamin ditemukan kemerahan, bengkak dan nyeri serta Pada bibir dalam
kelamin terdapat luka lecet dan robek tanpa disertai adanya perdarahan pada
peristiwa pada kasus pemerkosaan. Luka tersebut menyebabkan sakit tetapi
tidak menimbulkan halangan atau rintangan dalam melaksanakan beraktifitas
sehari-hari.---------------------------------------------------------

BAB III
KESIMPULAN
3.1 KESIMPULAN
1. Visum et repertum berfungsi sebagai bahan pertimbangan objektif bagi
hakim untuk memutuskan perkara.
2. Tindak pidana pencabulan adalah suatu tindak pidana yang bertentanggan
dan melanggar kesopanan dan kesusilaan seseorang yang semuanya dalam
lingkungan nafsu birahi kelamin, misalnya seorang laki-laki meraba
kelamin seorang perempuan.
3. Pemerkosaan merupakan bentuk perbuatan pemaksaan kehendak laki-laki
terhadap perempuan yang berkaitan atau ditujukan pada pelampiasan nafsu
seksual
4. Pemeriksaan visum pada korban pencabulan dan perkosaan bertujuan
untuk mendeteksi dan mengobati luka serta mencari bukti-bukti.

20

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang.

3.2 SARAN
1. Semoga lebih banyak lagi membahas mengenai aspek etik dan medikolegal
serta pembuatan Visum et Repertum pada kasus kekerasan seksual secara
terperinci lagi.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Syamsudin R. Peranan visum et repertum di pengadilan. Dalam Al-Risalah.

2.

Makassar : Universitas Islam Negeri Alauddin. 2011, hal. 187-200.


Meilia P. Prinsip pemeriksaan dan penatalaksanaan korban (p3k) kekerasan

3.

seksual. vol. 39 no. 8. 2012, hal. 579-83.


Marpaung L. Kejahatan terhadap kesusilaan dan masalah prevensinya.

4.

Jakarta: Sinar Grafika. 2004, hal. 64.


Chazawi, A. Tindak pidana mengenai kesopanan. Malang : Fakultas Hukum

5.

Universitas Brawijay. 2007, hal. 1-5.


Moeljatno. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).Jakarta: Bumi

6.

Aksara. 2003, hal. 106.


Munin, Idries Abdul dan Agung Legowo Tjiptomartono. Penerapan ilmu
kedokteran kehakiman dalam proses penyidikan. Jakarta : Karya Unipres.

7.

2002, hal.108.
Abdul, Munim, Idris.Pedoman ilmu kedokteran forensik. Jakarta : Binarupa

8.

Aksara. 1997, hal. 102-3.


Burgess AW, Marchetti CH. Contemporary issues. In: Hazelwood RR,
Burgess AW, editors. Practical aspects of rape investigation: A
multidisiplinary approach. 4th ed. Boca Raton (FL): CRCPress. 2009, hal.
3-23.

21

9.

Savino JO, Turvey BE. Defining rape and sexual assault. In: Savino JO,
Turvey BE, editors. Rape investigation handbook. USA: Elsevier Inc.

2005, hal. 1-22.


10. Rogers D, Newton M. Sexual assault examination. In: Stark MM, editor.
Clinical forensic medicine: A physicians guide. 2nd edition. Totowa (NJ):
Humana Press Inc. 2005, hal. 61-126.
11. World Health Organization. Guidelines for medico-legal care for victims of
sexual violence. Geneva: WHO; 2003. hal. 17-55.
12. DeCherney AH, Nathan L, Goodwin M, Laufer N. Current diagnosis and
treatment obstetric and gynecology, tenth edition. 2007, hal. 578-93.

22