Anda di halaman 1dari 55

MANAJEMEN KUALITAS AIR

PADA BAK PENDEDERAN IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp.) di


INSTALASI BUDIDAYA AIR PAYAU (IBAP) KOTA PROBOLINGGO
JAWA TIMUR

PRAKTIK KERJA MAGANG


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Oleh :
ANA LATIFATUS SADIYAH
NIM. 125080100111093

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

MANAJEMEN KUALITAS AIR


PADA BAK PENDEDERAN IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp.) di
INSTALASI BUDIDAYA AIR PAYAU (IBAP) KOTA PROBOLINGGO
JAWA TIMUR

PRAKTIK KERJA MAGANG


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Perikanan


di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya

Oleh :
ANA LATIFATUS SADIYAH
NIM. 125080100111093

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

ii

LAPORAN PRAKTIK KERJA MAGANG


MANAJEMEN KUALITAS AIR
PADA BAK PENDEDERAN IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp.) di
INSTALASI BUDIDAYA AIR PAYAU (IBAP) KOTA PROBOLINGGO
JAWA TIMUR

Oleh :
ANA LATIFATUS SADIYAH
NIM. 125080100111093
telah dipertahankan didepan penguji
pada tanggal _____________________
dan dinyatakan telah memenuhi syarat
SK Dekan No. : ______________
Tanggal : _______________

Mengetahui,
Dosen Pembimbing

Dosen Penguji

(Dr. Ir. Mulyanto, M.Si)


NIP. 19600317 198602 1 001

(Dr. Asus Maizar S.H., S.Pi, MP)


NIP. 19720529 200312 1 001

Tanggal :

Tanggal :
Menyetujui,
Ketua Jurusan

(Dr. Ir. Arning Wilujeng Ekawati, MS)


NIP. 19620805 198603 2 001
Tanggal:

iii

PERNYATAAN TELAH MELAKUKAN PRAKTIK KERJA MAGANG (PKM)

iv

RINGKASAN

Ana Latifatus Sadiyah. Manajemen Kualitas Air Pada Bak Pendederan Ikan
Kerapu Cantang (Epinephelus sp.) di Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Kota
Probolinggo, Jawa Timur (dibawah bimbingan Dr. Ir. Mulyanto, M.Si).

Pertambahan jumlah penduduk di Indonesia bahkan di dunia semakin


hari semakin meningkat, sehingga menyebabkan meningkatnya kebutuhan
sumber pangan. Manusia tidak mungkin mengandalkan sumber daya alam saja
tanpa melakukan rekayasa untuk memaksimalkan potensinya. Misalnya tingkat
konsumsi ikan yang semakin hari juga semakin meningkat. Oleh karena itu para
nelayan berlomba-lomba untuk menangkap ikan konsumsi sebanyak mungkin
demi memenuhi kebutuhan pangan. Jika hal tersebut terus dilakukan maka akan
menyebabkan penurunan stok ikan sehingga hasil tangkapan juga akan semakin
berkurang. Oleh karena itu perlu adanya kegiatan budidaya ikan untuk
membantu memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Pada proses budidaya, air
merupakan faktor penting yang harus diperhatikan karena berfungsi sebagai
media tumbuh ikan. Kualitas air akan secara langsung dapat mempengaruhi
kesehatan dan pertumbuhan ikan. Pertumbuhan ikan akan terhambat apabila
hidup pada kondisi perairan yang kurang baik.
Tujuan dari Praktik Kerja Magang ini ialah untuk mengetahui secara
langsung tentang pengelolaan parameter kualitas air fisika dan kimia pada
proses pendederan ikan kerapu cantang serta untuk engetahui alur dan faktorfaktor yang mempengaruhi proses pendederan ikan kerapu cantang di IBAP
Probolinggo. Praktik Kerja Magang ini dilaksanakan mulai tanggal 1 Juli 2015
28 Agustus 2015. Metode yang digunakan pada Praktik Kerja Magang ialah
metode deskriptif yaitu dengan pengambilan data melalui proses observasi,
wawancara, partisipasi aktif dan studi pustaka.
Pada Praktik kerja Magang ini terdapat beberapa kegiatan meliputi
persiapan bak, penebaran benih, pemberian pakan, pengukuran kualitas air,
penyifonan, pergantian air. Grading, pembersihan bak, pemanenan dan
pengemasan. Kualitas air yang diukur yaitu suhu, oksigen terlarut, derajat
keasaman, salinitas dan amoniak. Pengukuran kualitas air (suhu, oksigen
terlarut, derajat keasaman dan salinitas) tersebut dilakukan setiap hari pada
pukul 07.00 WIB. hasil yang didapat pada pengukuran kualitas air yaitu suhu
berkisar antara 24, 26,4 oC, oksigen terlarut berkisar antara 5,1-5,9 ppm,
salinitas berkisar antara 15-25 ppt, derajat keasaman berkisar antara 6,5-8,1 dan
amoniak diukur 1 kali dalam satu siklus dan didapatkan hasil sebesar 0,03 ppm.
Hasil pengukuran kualitas air ini beberapa sudah memenuhi syarat yang dapat
ditoleransi oleh ikan kerapu cantang, akan tetapi perlu adanya pengelolaan lebih
lanjut agar kualitas airnya tetap terjaga dan tidak mengganggu kelangsungan
hidup ikan kerapu cantang tersebut.

UCAPAN TERIMA KASIH

Saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :


1. Allah swt, yang telah memberikan segala nikmat dan kemudahan serta
kekuatan hati yang luar biasa kepada saya selama ini.
2. Orang tua, kakak dan adik saya yang selalu mendukung dan mendoakan
saya.
3. Dr. Ir. Mulyanto, M.Si selaku dosen pembimbing yang sabar yang telah
memberikan masukan dan membimbing serta menasehati saya.
4. Dr. Asus Maizar S.H., S. Pi, MP selaku dosen penguji yang sabar yang telah
memberikan masukan dan membimbing serta menasehati saya.
5. Bapak Ardy Soesanto, ST sebagai Kepala IBAP Probolinggo dan Bapak Dodik
Heriadi, S.Pi sebagai pembimbing lapang saya serta Mbak Hilal Maghfiroh,
Amd. dan Pak Yunus Susanto sebagai teknisi di Pendederan ikan kerapu
cantang di IBAP Probolinggo yang sudah banyak membantu.
6. Erma, Icha, Diana, Cicin, Dayinta dan Sony sahabat saya yang juga sebagai
teman PKM yang selalu memberi semangat dan selalu menemani saat PKM
berlangsung.
7. Teman-teman MSP angkatan 2012 yang selalu memberi saya semangat dan
motivasi dan terima kasih buat kalian.

Malang, 4 November 2015

Penulis

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya lah saya dapat menyelesaikan Usulan Praktik Kerja Magang
(PKM) ini dengan judul Manajemen Kualitas Air pada Bak Pendederan Ikan
Kerapu Cantang (Epinephelus sp.) di Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP)
Kota Probolinggo, Jawa Timur. Laporan PKM ini disusun sebagai salah satu
syarat untuk meraih gelar sarjana di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya.
Penulis menyadari bahwa usulan Praktik Kerja Magang ini masih banyak
terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat bersedia menerima kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan dalam penyusunan
laporan selanjutnya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

Malang, 4 November 2015

Penulis

vii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................. ii
HALAMAN PERNYATAAN TELAH MELAKUKAN PKM ................................. iii
RINGKASAN .................................................................................................... iv
UCAPAN TERIMAKASIH ................................................................................. v
KATA PENGANTAR ........................................................................................ vi
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi
1. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah ................................................................................. 3
1.3 Tujuan .................................................................................................... 3
1.4 Kegunaan ............................................................................................... 3
1.5 Waktu dan Tempat ................................................................................. 4
2. MATERI DAN METODE PRAKTIK KERJA MAGANG ............................... 5
2.1 Materi Praktik Kerja Magang ................................................................. 5
2.2 Alat dan Bahan ...................................................................................... 5
2.3 Metode Praktik Kerja Magang ............................................................... 6
2.3.1 Partisipasi Aktif ........................................................................... 7
2.3.2 Observasi ................................................................................... 7
2.3.3 Wawancara ................................................................................ 9
3. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 11
3.1 Keadaan Umum Lokasi Praktik Kerja Magang........................................ 11
3.1.1 Sejarah ....................................................................................... 11
3.1.2 Lokasi IBAP Probolinggo ............................................................ 13
3.1.3 Tugas Pokok dan Fungsi ............................................................ 13
3.1.4 Struktur Organisasi ...................................................................... 14
3.2 Sarana dan Prasarana ........................................................................... 14
3.2.1 Sarana ....................................................................................... 14
3.2.2 Prasarana................................................................................... 20
3.3 Morfologi Ikan Kerapu ............................................................................ 20
3.4 Kegiatan Pendederan Ikan Kerapu Cantang........................................... 21
3.4.1 Persiapan Bak ............................................................................ 22

viii

3.4.2 Seleksi Benih ............................................................................. 23


3.4.3 Penebaran Benih........................................................................ 23
3.4.4 Pemberian Pakan ....................................................................... 24
3.4.5 Penyifonan dan Pergantian Air ................................................... 25
3.4.6 Pembersihan Bak ....................................................................... 26
3.4.7 Kualitas Air ................................................................................. 27
3.4.8 Penyakit Pada Ikan .................................................................... 32
3.4.9 Pemanenan dan Pengemasan ................................................... 33
3.4.10 Hambatan dan Solusi ................................................................. 35
4. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 36
4.1 Kesimpulan............................................................................................. 36
4.2 Saran...................................................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 37
LAMPIRAN....................................................................................................... 39

ix

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Alat dan Bahan yang Digunakan..................................................................... 5

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Kincir Air .................................................................................................... 18


2. Hi-blow....................................................................................................... 18
3. Kantor IBAP ............................................................................................... 18
4. Laboratorium.............................................................................................. 19
5. Bangsal Kerja ............................................................................................ 19
6. Kantor Tambak .......................................................................................... 20
7. Ikan Kerapu Cantang ................................................................................. 21
8. Inlet ............................................................................................................ 22
9. Outlet. ........................................................................................................ 22
10. Pakan Ikan Kerapu. ................................................................................... 24
11. Penyifonan. ................................................................................................ 26
12. Pembersihan Bak....................................................................................... 27
13. Grafik Pengukuran Suhu ............................................................................ 28
14. Grafik Pengukuran Oksigen Terlarut .......................................................... 29
15. Grafik Pengukuran Salinitas ....................................................................... 30
16. Grafik Pengukuran pH................................................................................ 31
17. Pemanenan ............................................................................................... 34
18. Ikan dalam Kantong Plastik ........................................................................ 34
19. Pengemasan.............................................................................................. 38

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Denah IBAP Probolinggo .............................................................................. 39


2. Denah Kota Probolinggo ............................................................................... 41
3. Struktur Organisasi IBAP Probolinggo .......................................................... 43
4. Data Hasil Pengamatan Kualitas Air ............................................................. 43

1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pertambahan jumlah penduduk di Indonesia bahkan di dunia semakin

hari semakin meningkat, sehingga menyebabkan meningkatnya kebutuhan


sumber pangan. Manusia tidak mungkin mengandalkan sumber daya alam saja
tanpa dilakukan rekayasa untuk memaksimalkan potensinya. Misalnya tingkat
konsumsi ikan yang semakin hari juga semakin meningkat. Oleh karena itu para
nelayan berlomba-lomba untuk menangkap ikan konsumsi sebanyak mungkin
demi memenuhi kebutuhan pangan. Jika hal tersebut terus dilakukan maka akan
menyebabkan penurunan stok ikan sehingga hasil tangkapan juga akan semakin
berkurang. Oleh karena itu perlu adanya kegiatan budidaya ikan untuk
membantu memenuhi kebutuhan pangan tersebut.
Salah satu ikan konsumsi yang digemari masyarakat ialah ikan kerapu
(Epinephelus sp.). Ikan kerapu ialah komoditas perikanan Indonesia yang
diunggulkan. Meningkatnya kebutuhan konsumsi ikan kerapu yang terus
bertambah maka perlu adanya peningkatan produksi dan kualitas dari ikan
tersebut, misalnya melalui hibridasi. Menurut Ismi et al. (2013), hibridasi
merupakan salah satu cara untuk menigkatkan keragaman genetik ikan dimana
karakter-karakter dari tetuanya akan saling bergabung menghasilkan turunan
yang tumbuh cepat, tahan terhadap penyakit bahkan perubahan lingkungan yang
ekstrim. Menurut Sunarma et al. (2007), benih hibrida selain dapat menambah
diversifikasi spesies juga berpeluang untuk meningkatkan produksi perikanan di
masa datang.
Salah satu ikan kerapu hasil hibridasi ialah ikan kerapu cantang. Ikan
kerapu cantang ini merupakan ikan hasil hibridasi dari ikan kerapu macan
(Epinephelus

fuscoguttatus)

induk

betina

dengan

ikan

kerapu

kertang

(Epinephelus lanceolatus) induk jantan. Menurut Soeharmanto et al. (2010), ikan


kerapu macan telah dapat dengan mudah dikembangkan baik benih dan
pembesarannya, sedangkan ikan kerapu kertang yang pertumbuhannya lebih
cepat dari kerapu macan hingga saat ini masih banyak mengalami kesulitan
terutama pada ketersediaan induk. Pemanfaatan keunggulan kerapu kertang
secara sederhana ternyata dapat dilakukan dengan hibridasi keduanya. Hal ini
awalnya terjadi secara tidak sengaja saat dilakukan pencampuran induk kertang
dan macan yang memijah bersamaan dalam satu bak pemeliharaan. Hal inilah
yang merupakan potensi yang sangat menjanjikan bagi budidaya ikan.
Pada proses budidaya salah satu faktor yang terpenting yaitu air. Air
sangat penting karena berfungsi sebagai media hidup ikan. Kondisi perairan
harus disesuaikan menurut kebutuhan ikan supaya ikan tersebut dapat tumbuh
dan berkembang dengan baik. Keberhasilan budidaya perairan banyak
ditentukan dengan kualitas dan kuantitas air. Oleh karena itu perlu adanya
manajemen kualitas air yang tepat. Menurut Kordi (2010), kualitas air merupakan
faktor pembatas dalam pertumbuhan ikan budidaya. Ikan akan terhambat
pertumbuhannya apabila hidup pada lingkungan perairan yang buruk karena
energinya digunakan untuk bertahan pada lingkungan tersebut. Kualitas air yang
buruk juga menjadi sumber penyakit sehingga dapat menginfeksi ikan budidaya,
oleh karena itu kualitas air pada kolam budidaya harus benar-benar diperhatikan.
Kualitas air harus dapat digunakan untuk kelangsungan hidup ikan secara
optimal.
Menurut Effendi (2003), kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk
hidup, zat, energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan dalam
beberapa parameter, yaitu parameter fisika seperti suhu dan kecerahan.
Parameter kimia (oksigen terlarut (DO), derajat keasaman (pH), karbondioksida
(CO2) dan amoniak (NH3). Parameter bilogi seperti plankton.

1.2

Rumusan Masalah
Proses budidaya ikan tentunya tidak lepas dari kualitas air. Air merupakan

media dan hasil interaksi dari berbagai faktor yang dapat menentukan cocok atau
tidaknya bagi kehidupan ikan. Tubuh ikan terutama bagian insang akan terus
berinteraksi dengan air maupun dengan bahan yang terlarut dan tersuspensi di
dalamnya. Kualitas air akan secara langsung mempengaruhi kesehatan maupun
pertumbuhan ikan. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
internal dan eksternal. Faktor internal tersebut meliputi genetik dan kondisi
fisiologis ikan sedangkan faktor eksternal meliputi kualitas kimia dan fisika air,
ketersediaan pakan dan penyakit. Oleh karena itu perlu adanya manajemen
kualitas air pada proses budidaya ikan untuk mendapatkan hasil ikan konsumsi
dengan kualitas tinggi

1.3

Tujuan
Tujuan dari Praktik Kerja Magang (PKM) ini ialah sebagai berikut:

1.

Mengetahui secara langsung tentang pengelolaan parameter kualitas air


fisika dan kimia pada proses pendederan ikan kerapu cantang di IBAP
Probolinggo.

2.

Mengetahui secara langsung alur dan faktor-faktor yang mempengaruhi


proses pendederan ikan kerapu cantang di IBAP Probolinggo.

1.4

Kegunaan
Kegunaan Praktik Kerja Magang (PKM) ini yaitu:

1.

Memberikan kontribusi dalam bentuk pelaksanaan konsep link and match


antara dunia kerja nyata di Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP)
Probolinggo dan dunia pendidikan.

2.

Mendapatkan pengetahuan tentang budidaya ikan baik mengenai


manajemen pakan maupun manajemen kualitas air serta cara mengatasi
permasalahan yang ada selama proses budidaya.

1.5

Waktu dan Tempat


Praktik Kerja Magang (PKM) dilaksanakan di Instalasi Budidaya Air

Payau (IBAP) Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur serta pelaksanaannya


selama 40 hari orang kerja yaitu pada tanggal 1 Juli 2015 28 Agustus 2015.

2. MATERI DAN METODE PRAKTIK KERJA MAGANG

2.1

Materi Praktik Kerja Magang


Materi yang digunakan dalam Praktik Kerja Magang di Instalasi Budidaya

Air Payau Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur ini ialah air yang akan diukur
kualitasnya menurut parameter yang telah ditentukan dan ikan kerapu cantang
sebagai ikan yang didederkan pada bak pendederan. Adapun parameter yang
akan diukur meliputi parameter fisika dan kimia air serta biologis ikan. Pada
parameter fisika akan diukur ialah suhu. Parameter kimia ialah pH, amoniak,
salinitas dan DO.

2.2

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada Praktik Kerja Magang (PKM) di

IBAP Probolinggo dapat dilihat pada tabel 1.


Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan pada Praktik Kerja Magang.
No. Variabel

Alat

1.

Suhu

2.

Derajat Keasaman
(pH)

4.

Oksigen
(DO)

terlarut

5.

Amoniak

Bahan
Air sampel
DO
meter
merk
Aquadest
Lutron DO-5510
Tissue
pH pen merk HANNA Air sampel
HI98107
Aquadest
Aquadest
DO
meter
merk
Air sampel
Lutron DO-5510
Tissue
Spektrofotometer UV
Ammonium klorida
1800
(NH4Cl)
Timbangan analitik
Larutan fenol
Erlenmeyer 50 mL
Natrium nitropusida
Labu ukur 100 mL;
(C5FeN6Na2O) 0.5%
500 mL dan 1000 mL
Larutan alkalin sitrat
Gelas ukur 25 mL
(C6H5Na3O7)
Pipet volumetric 1.0
Natrium hipoklorit
mL; 2.0 mL; 3.0 mL
(NaClO) 5%
dan 5.0 mL
Larutan
Pipet ukur 10 mL dan
pengoksidasi
100 mL
Tissue
Gelas piala 1000 mL

No. Variabel
6.

Salinitas

7.

Pengukuran
panjang ikan

2.3

Alat
Hand-held
Refraktometer
atago
RSATO100A

Penggaris

Bahan

merk

TI

Air sampel
Tissue
Aquadest
Ikan
cantang

kerapu

Metode Praktik Kerja Magang


Metode pengumpulan data pada praktik kerja magang ini ialah metode

deskriptif, yaitu membuat suatu gambaran (deskripsi) mengenai situasi yang


terjadi selama PKM. Menurut Narbuko dan Achmadi (2007), metode deskriptif
yaitu berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang
berdasarkan data-data. Metode ini memberikan informasi yang dapat bermanfaat
bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Surakhmad (2004), metode
deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data,
tetapi meliputi analisis tentang arti data itu. Data yang digunakan dalam
pelaksanaan Praktik Kerja Magang ini diambil di Instalasi Budidaya Air Payau
(IBAP) Probolinggo selama 40 hari kerja yang meliputi data primer dan data
sekunder. Menurut Azwar (1997), data primer merupakan data yang didapat
secara langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran
atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi
yang dicari. Data primer dapat diperoleh dengan beberapa cara yaitu parsipasi
aktif, observasi dan wawancara. Data sekunder yaitu data yang telah lebih
dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang lain yang kemudian dikutip
sebagai literatur. Pada Praktik Kerja Magang ini data sekunder diperoleh dari
jurnal, buku-buku, laporan Praktik Kerja Lapang (PKL) maupun skripsi dan
pustaka lain serta data yang diperoleh dari lembaga penelitian yang dapat
menunjang proses praktik kerja magang ini.

2.3.1

Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif yaitu melakukan pengamatan dengan cara melibatkan diri

secara langsung pada tempat yang sedang diamati (Indiartoro dan Supomo,
1999). Bentuk partisipasi aktif yang dilakukan pada Praktik Kerja Magang di IBAP
Probolinggo yaitu turut serta dalam mengelola kualitas air pada bak pendederan
ikan kerapu cantang baik dalam proses penyifonan, pergantian air dan
pembersihan bak pendederan serta kegiatan lain seperti pemberian pakan,
pemanenan dan pengiriman benih.

2.3.2

Observasi
Observasi dapat disebut juga pengamatan yang meliputi kegiatan

pemusatan perhatian pada suatu objek dengan menggunakan alat bantu


(Arikunto, 2002). Adapun kegiatan observasi yang akan dilakukan ialah dengan
melakukan pengecekan parameter kualitas air yang sudah ditentukan dengan
tujuan untuk mengetahui parameter fisika dan kimia yang mempengaruhi kualitas
air pada proses pendederan ikan kerapu cantang. Adapun kegiatan observasi
yang akan dilakukan selama Praktik Kerja Magang ini yaitu melakukan
pengukuran secara langsung terhadap parameter kualitas air pada bak
pendederan ikan kerapu cantang serta pengambilan gambar (dokumentasi)
peralatan, fasilitas dan kegiatan selama praktik kerja magang seperti
pemanenan. Berikut ini ialah cara pengukuran parameter kualitas air selama
PKM.
a. Suhu dan DO
Pengukuran suhu dan DO perairan di IBAP Probolinggo menggunakan
DO meter merk Lutron DO-5510. Prosedur pengukuran oksigen terlarut (DO)
dengan menggunakan DO meter merk Lutron DO-5510 ialah sebagai berikut :
1) Melakukan pengecekan baterai

2) Mengecek indikator / elektroda


3) Menyalakan DO meter dengan tekan tombol on
4) Memasukkan elektroda ke dalam air sampel dan ditunggu beberapa saat
sampai nilai stabil
5) Membilas elektroda dengan aquades dan dikeringkan dengan tissue
6) Mematikan DO meter dengan tekan tombol off.

b. Derajat Keasaman (pH)


Pengukuran pH perairan dilakukan dengan menggunakan pH pen merk
HANNA HI98107. Prosedur pengukuran pH perairan dengan menggunakan pH
pen merk HANNA HI98107 ialah sebagai berikut :
1) Melepaskan penutup pH pen
2) Menggeser panel ON/OFF di bagian atas alat
3) Mengkalibrasi pH pen dengan cara memasukkan pH pen ke dalam larutan
penyangga hingga menunjukkan angka 7,0
4) Masukkan pH pen ke dalam air sampel selama kurang lebih 1 menit;
5) Membaaca nilai yang tertera pada pH pen
6) Mencuci alat menggunakan aquades.

c. Salinitas
Pengukuran salinitas perairan di IBAP Probolinggo menggunakan Handheld Refraktometer

merk atago TI-RSATO100A. Adapun prosedur pengujian

salinitas dengan menggunakan Hand-held Refraktometer merk atago TIRSATO100A ialah sebagai berikut :
1) Mengangkat penutup kaca prisma
2) Meletakkan 1-2 tetes air sampel yang diukur
3) Menutup kembali kaca prisma dengan hati-hati agar tidak terjadi gelembung
4) Melihat nilai salinitas melalui kaca pengintai

5) Membersihkan permukaan prisma dengan tissue setelah selesai digunakan.

d. Amoniak
Pengukuran kadar amoniak dilakukan dengan menggunakan alat
Spektrofotometer UV 1800. Adapun prosedur pengujian amoniak dengan
menggunakan Spektrofotometer UV 1800 ialah sebagai berikut :
1) Memasukkan contoh uji ke dalam erlenmeyer 50 mL dengan menggunakan
pipet volume 25 mL
2) Menambahkan 1 mL larutan fenol, menghomogenkan
3) Menambahkan 1 mL natrium nitroprusid, menghomogenkan
4) Menambahkan 2,5 mL larutan pengoksidasi, menghomogenkan
5) Menutup erlenmeyer tersebut dengan plastik atau paraffin film
6) Membiarkan selama 1 jam untuk pembentukan warna
7) Memasukkan ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer, membaca dan
mencatat serapannya pada panjang gelombang 640 nm.

2.3.3

Wawancara
Wawancara dilakukan untuk tujuan tugas tertentu seperti mendapatkan

informasi secara lisan dari responden dengan berdialog langsung dengan


responden tersebut (Koentjoroningrat, 1991).

Kegiatan wawancara yang

dilakukan yaitu berkomunikasi dan menanyakan berbagai hal yang berhubungan


dengan IBAP Probolinggo. Adapun Kegiatan wawancara yang dilakukan selama
PKM ialah:
a. Melakukan wawancara tentang sejarah berdirinya IBAP Probolinggo, visi,
misi,

tujuan,

sarana

dan

prasarana

serta

struktur

organisasi

kepengurusan serta tugas pokok dan fungsi di IBAP Probolinggo.

dan

10

b. Melakukan wawancara yang berhubugan dengan perencanaan kegiatan


pendederan ikan kerapu cantang mulai dari seleksi benih, persiapan bak,
pengelolaan dan pergantian air, dosis dan intensitas waktu pemberian pakan,
pemanenan dan pengemesan serta permasalahan yang sering dihadapi
beserta solusinya.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Keadaan Umum Lokasi Praktik Kerja Magang


3.1.1

Sejarah
Tahun 1972 Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai memberi perhatian di

sektor perikanan khususnya budidaya udang. Pada akhir bulan Desember 1972
Gubernur Provinsi Jawa Tiimur memerintahkan melakukan survei untuk
membangun balai pembenihan udang. Setelah Gubernur melakukan survei di
berbagai lokasi di Jawa Timur diputuskan bahwa Desa Sukabumi Kecamatan
Mayangan Kabupaten Probolinggo merupakan lokasi yang paling ideal untuk
didirikan balai pembenihan udang. Menindaklanjuti survei tersebut maka
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa
Timur

NO.

DA/126/SK/ML/1973

tanggal

22

November

1973

dilakukan

pengadaan tanah dengan luas 40.000 m yang terletak di Desa Sukabumi


Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo. Pembangunan dimulai pada bulan
Oktober 1973 yaitu membangun gedung hatchery, perlengkapan hatchery,
gedung kantor.
Pada bulan Agustus 1974 dilanjutkan dengan pembangunan hatchery
dan penahan abrasi, pada bulan Oktober 1974 dilakukan pembangunan instalasi
listrik, saluran air, pagar tembok, pagar kawat berduri, rumah dinas, rumah untuk
tamu beserta tembok pembatasnya. Selain pembangunan juga dilakukan
pengadaan alat-alat pembantu berupa alat-alat laboratorium dan kantor. Pada
tanggal 20 November 1975 dilanjutkan dengan pembangunan rumah direktur,
penahan abrasi dan jalan. Tanggal 20 Mei 1978 dilakukan pembangunan tempat
pemeliharaan larva dengan dinding yang terbuat dari kayu dan atap yang terbuat
dari seng serta terdapat 8 buah bak beton dengan ukuran (331) m di
dalamnya yang dilengkapi dengan instalasi untuk saluran air tawar dan air laut.

12

Pada tahun anggaran 1979-1980 dilanjutkan pembangunan tempat


pembenihan udang galah beserta 4 buah bak beton dengan ukuran (81,51) m
dan tandon air tawar dengan ukuran (1,841,842) m dengan tinggi menara
5.85 m. Setelah seluruh kegiatan pembangunan selesai dilanjutkan dengan
penentuan status kelembagaan balai pembenihan udang galah tersebut. Oleh
karena itu melalui surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I terhitung
sejak tanggal 1 Desember 1974 Kepala Daerah tingkat I terhitung sejak tanggal 1
Desember 1974 telah membentuk proyek pusat pembenihan udang dengan surat
Keputusan No UP/824/I/XI/1974 tanggal 30 November 1974. Penentuan status
kelembagaan tersebut, dimaksudkan sebagai kelengkapan susunan organisasi
Dinas Perikanan Provinsi Derah tingkat I Jawa Timur yang telah ditetapkan oleh
Gubernur Kepala Derah Tingkat I Jawa Timur dengan surat keputusan
NO.DEM/739/G/HK/ tanggal 11 Desember.
Pusat Pembenihan Udang (PPU) kemudian diubah menjadi Unit
Pengelola Budidaya Laut (UPBL) Probolinggo berdasarkan SK Gubernur Jawa
Timur nomor 23 tahun 1987. Pusat Pembenihan Udang (PPU) Probolinggo
merupakan salah satu Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Dinas Perikanan dan
Kelautan Provinsi Jawa Timur yang terletak di tepi pantai utara Kota
Probolinggo, tepatnya di Desa Sukabumi Kecamatan Mayangan Kota Prolinggo
berada pada ketinggian 1 meter di atas permukaan laut dengan tekstur lumpur
berpasir, UPBL Probolinggo mempunyai luas lahan 5 Ha yang dimanfaatkan
untuk pertambakan, hatchery, kantor, mes karyawan, dan fasilitas-fasilitas yang
menunjang kegiatan baik pada kegiatan budidaya maupun pembenihan. Pada
tahun 2014 Unit Pengelola Budidaya Laut (UPBL) Probolinggo diubah namanya
menjadi Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Probolinggo berdasarkan SK
Pergub Jawa Timur nomor 31 tahun 2014 mulai tanggal 23 Mei 2014 sampai
dengan saat ini.

13

3.1.2

Lokasi IBAP Probolinggo


Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Probolinggo terletak di jalan Anggrek

4 Desa Sukabumi Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.


Batasbatas wilayah IBAP Probolinggo yaitu sebelah utara Laut Jawa atau Selat
Madura, sebelah selatan Desa Sukabumi, sebelah barat Desa Pilang, sebelah
timur Desa Mangunharjo.
3.1.3

Tugas Pokok dan Fungsi


IBAP Probolinggo merupakan UPT Dinas Perikanan dan Kelautan

Provinsi Jawa Timur mempunyai tugas pokok yaitu melakukan sebagian tugas
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur. Lebih luas lagi sasaran
pokok ialah memproduksi benih udang secara maksimal dan berkualitas. Sejalan
dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan usaha budidaya perikanan,
maka melalui SK Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur
Nomor 37 tahun 1998 tentang peningkatan fungsi UPT Dinas Perikanan dan
Kelautan Provinsi Jawa Timur tugas tersebut ditingkatkan melalui optimalisasi
penerapan teknik pembenihan perikanan dengan mengembangkan komoditas
multispesies yang berorientasi pada permintaan pasar. Penjabaran tugas-tugas
di atas maka fungsi yang menjadi tanggungjawab IBAP Probolinggo sebagai
UPT Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi sebagai berikut:
a.

Melaksanakan proses produksi perikanan secara efektif dan efisien untuk


menghasilkan produksi benih berkualitas secara optimal

b.

Melaksanakan fungsi pelayanan kepada masyarakat dengan menyediakan


atau meproduksi benih udang (komoditas perikanan lainnya) yang
berkualitas

14

c.

Melaksanakan kaji terap dalam budang pembenihan udang (komoditas


perikananan lainnya) dan budidaya tambak serta sekaligus melakukan
sosialisasi apa yang telah dicapai kepada masyarakat

d.

Sebagai pelaksanaan tugas administratif.

3.1.4

Struktur Organisasi
Susunan organisasi dan tata kerja UPT PBAP Bangil ditetapkan

berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 31 tahun 2014. Jumlah


tenaga kerja di IBAP Probolinggo secara keseluruhan ialah 20 orang yang terdiri
dari kepala IBAP Probolinggo, 1 orang koordinator operasional, 7 orang bagian
tata usaha, 2 orang bagian laboratorium, 4 orang bagian budidaya, 5 orang
bagian benih. Tugas dari tiaptiap pegawai berbeda sesuai dengan posisinya
dan sudah ditetapkan sebelumya. Adapun susunan organisasi IBAP Probolinggo
dapat dilihat pada lampiran 3.
3.2 Sarana dan Prasarana
3.2.1
a.

Sarana

Bangsal A
Bangsal A merupakan bangunan yang berdinding tembok, beratap asbes

dan fiberglass yang di dalamnya terdapat 10 buah bak beton berbentuk persegi
panjang dengan ukuran 4 x 3 x 1.5 m3 yang berfungsi untuk memelihara udang
vanname.

b.

Bangsal B
Bangsal B merupakan bangunan yang berdinding tembok, beratap asbes

dan fiberglass yang di dalamnya terdapat 4 buah bak beton berbentuk persegi
panjang dengan ukuran 2 x 5 x 1,3 m3 yang berfungsi untuk memelihara udang
vanname.

15

c. Bangsal C
Bangsal C merupakan bangunan berdinding tembok beratap asbes yang
di dalamnya terdapat 23 buah bak beton berukuran 5 x 3 x 2 m3 digunakan
sebagai berikut:
a) 2 buah bak untuk perkawinan udang windu
b) 2 buah bak untuk filter air laut
c) 12 buah bak untuk tendon atau pengendapan air laut
d) 2 buah bak untuk tendon air tawar
a) 4 buah bak untuk pemeliharaan atau perkawinan kepiting dan rajungan
b) 1 buah bak untuk tandon air laut yang siap pakai.

d.

Bangsal D
Bangsal D merupakan bangunan berdinding tembok beratap asbes dan

fiberglass yang di dalamnya terdapat 8 buah bak beton berukuran 4 x 1 x 1,5 m3


yang berfungsi sebagai bak pembenihan udang galah.

e.

Bangsal E
Bangsal E merupakan bangunan berdinding tembok beratap fiberglass

dan di dalamnya terdapat 6 buah bak beton berbentuk persegi panjang


berukuran 4 x 2.5 x 1.3 m3 yang saat ini berfungsi sebagai bak pendederan ikan
kerapu cantang serta terdapat 1 buah bak beton berbentuk persegi panjang
berukuran 5 x 2 x 1.5 m3 yang berfungsi sebagai bak tandon air laut.
f.

Bangsal F
Bangsal F merupakan bangunan berdinding tembok dan beratap asbes

yang di dalamnya terdapat 8 buah bak beton berbentuk persegi panjang


berukuran 5 x 2 x 1.25 m3 yang berfungsi sebagai bak pembesaran udang galah
dan ikan koi.

16

g. Bangsal G
Bangsal G merupakan bangunan bak beton berbentuk persegi panjang
tanpa atap yang berjumlah 4 buah dengan ukuran 5 x 2 x 1.25 m3, 2 buah bak
digunakan sebagi bak tandon air laut dan 2 buah bak digunakan sebagai bak
pembesaran ikan nila.
h.

Bangsal H
Bangsal H merupakan bangunan berdinding tembok setengah dan

beratap fiberglass yang di dalamnya terdapat 16 buah bak beton berukuran 2 x


1.5 x 1 m3 yang berfungsi sebagai bak pembesaran ikan lele.
i.

Pertambakan
Pada operasional budidaya ikan dan udang di IBAP Probolinggo terdapat

13 unit tambak dan 2 unit bak konikel.


j.

Rumah Mesin Blower


Rumah mesin blower ini merupakan bangunan yang berdinding tembok

dan beratap asbes yang di dalamnya terdapat 2 unit pompa air laut dan 1 unit
generator set. Pompa air laut tersebut digunakan untuk mengambil air laut
melalui pipa PVC dengan diameter 4 dim yang nantinya di salurkan ke bak
tendon dan selanjutnya didistribusikan pada kegiatan-kegiatan yang memerlukan
air laut.

k. Sumur Bor
Sumur bor ini digunakan untuk mengambil air tawar dan air payau dari
dalam tanah dengan bantuan pompa air yang nantinya air ini akan ditampung
dalam bak tendon dan selanjutnya didistribusikan peda kegiatan-kegiatan yang
memerlukan air tersebut.

17

l.

Tenaga Listrik
Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Probolinggo menggunakan listrik

sebagai sarana penunjang kegiatannya. Sumber tenaga listrik yang digunakan di


IBAP Probolinggo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) cabang
Probolinggo. Besar daya atau kekuatan yang ada sebesar 43.000 watt. Selain
dari PLN, IBAP Probolinggo juga mempunyai cadangan berupa generator set
dengan kekuatan 30 KVA yang digunakan sebagai pembangkit listrik apabila
aliran listrik dari PLN padam.
m.

Komunikasi
Sarana Komunikasi yang digunakan di IBAP Probolinggo untuk

memperlancar hubungan komunikasi dengan pihak luar atau instansi lain berupa
pesawat telepon yang berasal dari PT Telkom cabang Probolinggo. Selain itu
sarana komunikasi lainnya yang digunakan ialah via internet dari speedy
sehingga akses komunikasi lebih mudah dan tidak terbatas.
n.

Jalan dan Transportasi


Transportasi merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam

memilih lokasi usaha karena kelancaran transportasi akan memudahkan


pengankutan barang ataupun hasil panen. Jalan yang berada di dalam lokasi
IBAP ialah paving dengan kondisi baik. Transportasi baik roda dua maupun roda
empat dapat masuk dalam wilayah IBAP Probolinggo.
o.

Sistem aerasi
Pada IBAP Probolinggo sistem aerasi diperoleh dari berbagai sumber

yaitu difusi oksigen dari permukaan perairan, oksigen hasil fotosintesis serta
terdapat bantuan suplai blower dan Kincir air. Oksigen sangat diperlukan dalam
kehidupan dan aktivitas biota perairan.

Pada kegiatan pembesaran seperti

18

pembesaran udang vaname alat yang digunakan ialah kincir air. Sedangkan
padakegiatan

pembenihan

seperti

pendederan

ikan

kerapu

cantang

menggunakan hi-blow. Sitem aerasi pada pembesaran dapat dilihat pada


Gambar 1, sedangkan sistem aerasi pada pembenihan dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 1. Kincir Air

Gambar 2. Hi-blow

p. Kantor
IBAP Probolinggo mempunyai sebuah kantor utama. Kantor ini digunakan
untuk ruang kepala, ruang administrasi dan ruang untuk menerima tamu. Selain
itu kantor ini juga digunakan untuk menyimpan laporan-laporan penting
mengenai kegiatan yang dilakukan di IBAP Probolinggo. Kantor IBAP
Probolinggo dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Kantor IBAP


q.

Laboratorium
Pada gedung laboratorium IBAP Probolinggo diantaranya terdapat 4

ruangan, 1 buah digunakan untung ruang kepala laboratorium dan 3 buah


ruangan

digunakan

sebagai

laboratorium.

Laboratorium

tersebut

yaitu

19

laboratorium kualitas air, laboratorium elisa dan laboratorium nutrisi. Dari ketiga
laboratorium yang ada tersebut hanya 1 laboratorium yang difungsikan yaitu
laboratorium

kualitas

air

karena

kurangnya

tenaga

ahli

yang

dapat

mengoperasikan laboratorium yang ada. Laboratorium kualitas air ini digunakan


untuk menganalisa sifat fisika, kimia dan biologi air dan tanah. Laboratorium di
IBAP Probolinggo dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Laboratorium
r.

Bangsal Kerja (workshop)


Pada

bangunan

bangsal

kerja

digunakan

sebagai

kantor

penanggungjawab bagian pembenihan. Selain itu terdapat juga ruang ganti


karyawan, dapur dan alat-alat penunjang untuk kegiatan pembenihan seperti
blower, kulkas, timbangan. Bangsal kerja dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Bangsal Kerja


s.

Kantor tambak
Kantor tambak merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai

kantor penanggungjawab bagian pembesaran atau budidaya, ruang tamu dan

20

sebagai tempat alat-alat penunjang yang digunakan untuk kegiatan pembesaran.


Knator tambak dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Kantor tambak


3.2.2

Prasarana
Prasarana yang terdapat di IBAP Probolinggo yaitu perpustakaan,

musholla, asrama atau mes dan rumah dinas.


3.3

Morfologi Ikan Kerapu


Kerapu cantang merupakan ikan hasil perekayasaaan perkawinan silang

antara ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) induk betina dengan ikan
kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus) induk jantan. Perekayasaan ini telah
menghasilkan satu varietas baru yang secara morfologis mirip dengan kedua
spesies induknya tetapi pertumbuhannya lebih baik dan lebih cepat. Bentuk
tubuh ikan kerapu cantang compress dan relatif membulat dengan ukuran lebar
kepala hampir sama dengan lebar badannya. Warna kulit ikan kerapu cantang
coklat kehitaman dengan garis hitam melintang di bagian tubuhnya. Semua
siripnya (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal) bercorak dengan dasar
berwarna kuning dilengkapi dengan bintik-bintik hitam. Bintik hitam itu juga
banyak tersebar di bagian kepala dan di dekat sirip pectoral dengan jumlah yang
berbeda di setiap individu. Bentuk ekornya rounded (membulat). Bentuk
mulutnya lebar superior (bibir bawah lebih panjang daripada bibir atas). Sisik
stenoid (bergerigi). Bentuk gigi runcing.

21

Klasifikasi

ikan

kerapu

secara

umum

menurut

Subyakto

dan

Cahyaningsih (2003) ialah sebagai berikut:


Filum

: Chordata

Subfilum

: Vertebrata

Kelas

: Osteichtyes

Subkelas

: Actinopterigi

Ordo

: Percomorphi

Subordo

: Percoidea

Family

: Serranidae

Genus

: Ephinephelus

Spesies

: Epinephelus sp.

Gambar 7. Ikan Kerapu Cantang

3.4

Kegiatan Pendederan Ikan Kerapu Cantang


Kegiatan pendederan ikan kerapu cantang di IBAP Probolinggo dilakukan

di bangsal E yang terletak di belakang gedung perkantoran. Bak ini terletak pada
ruangan tertutup. Pada bak tersebut terdapat dua saluran yaitu inlet (saluran
pemasukan air) dan outlet (saluran pengeluaran air). Saluran inlet dan outlet
terletak terpisah. Saluran inlet ini berupa pipa paralon yang dilengkapi dengan
saringan yang berfungsi untuk menghindari masuknya tanah dan batu yang
terbawa oleh air yang dapat mengganggu proses pendederan. Pipa paralon yang
digunakan pada inlet ada dua yaitu untuk saluran air tawar dan saluran air laut.

22

Pipa paralon yang digunakan untuk menyalurkan air laut dihubungkan dengan
mesin pompa diesel dengan merk dagang Yanmar 16 PK berukuran 4 dim,
sedangkan pipa paralon yang digunakan untuk menyalurkan air tawar
dihubungkan dengan pompa diesel dengan merk dagang Jetpam berukuran 1
dim. Pada saluran pengeluaran air (outlet) terdapat satu pipa besar yaitu pipa
PVC dengan ukuran 4 dim. Saluran inlet dan outlet dapat dilihat pada Gambar 8
dan 9.

Gambar 8. Inlet

3.4.1

Gambar 9. Oulet

Persiapan Bak
Tahap awal dari pendederan ikan kerapu cantang ialah persiapan bak

yaitu pertama melakukan pembersihan bak dengan cara menyikat dasar dan
diding bak tersebut menggunakan sikat sehingga semua kotoran hilang,
kemudian dibilas menggunakan air sampai benar-benar bersih. Setelah bak
dibersihkan, bak tersebut dikeringkan kurang lebih 2-3 hari. Kemudian bak diberi
kaporit (Ca(ClO)2) dengan cara menyiramkan pada dinding dan dasar bak secara
merata dengan dosis 25.000 ppm (250g kaporit yang dilarutkan dalam 10 L air).
Kaporit ini berfungsi untuk menghilangkan patogen yang menempel pada bak
pendederan yang bisa menganggu kelangsungan hidup ikan. Setelah diberi
kaporit bak pendederan ini harus dibersihkan kembali dengan cara disikat bagian
dasar dan dinding bak. Hal ini bertujuan agar kaporit yang telah disiramkan pada
diding dan dasar bak tersebut tidak mengering yang nantinya dapat mengganggu

23

kelangsungan hidup ikan. Setelah itu dibilas dengan air tawar sehingga sisa-sisa
kaporit tersebut hilang.
Tahap selanjutnya yaitu pengisian air sampai ketinggian 40-50 cm dan
dilanjutkan dengan pemasangan aerator yang dilakukan sehari setelah
pemberian kaporit. Pemasangan aerator ini bertujuan untuk mensuplai oksigen
yang dapat berguna pada pendederan ikan kerapu cantang. Jumlah aeraor yang
dipasang sebanyak 20 buah. Menurut Aslianti (2010), pengaturan pipa dan batu
aerasi disesuaikan dengan kebutuhan dan diatur sedemikian rupa sehingga
pasokan oksigen yang mengalir dalam bak diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan ikan.
3.4.2

Seleksi Benih
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam

pendederan ikan kerapu. Hal yang perlu diperhatikan yaitu seleksi benih,
transportasi benih, padat tebar serta kualitas benih yaitu benih ikan dalam
kondisi sehat misalnya tidak cacat dan ukuran benih yang seragam agar
diperoleh hasil yang baik dan maksimal. Benih yang ditebar pada IBAP
Probolinggo diperoleh dari PT. Makara Banyuglugur Situbondo.
Menurut Akbar et al. (2013), salah satu upaya untuk menunjang usaha
budidaya ikan kerapu ialah seleksi beinh. Keberhasilan pembenihan juga
ditunjang ukuran benih, kepadatan dan volume media. Menurut Sembiring et al.
(2013), benih merupakan salah satu faktor produksi yang sangat menentukan
keberhasilan suatu usaha budidaya.

3.4.3

Penebaran Benih
Penebaran ikan kerapu cantang dilakukan sehari setelah bak pendederan

diisi air dan diberi aerasi. Ikan kerapu cantang yang ditebar berukuran 2-3 cm.
Sebelum ikan ditebar di bak pendederan terlebih dahulu dipindah ke dalam

24

ember plasitik yang berlubang (seperti tempat nasi) kemudian dibilas dengan air
tawar

dan

dimasukkan

ke

dalam

larutan

Malachite

green

oxalate

(C6H5C[C6H4N(CH3)2)2]Cl.C7H15COOH) kurang lebih 15 detik yang bertujuan


untuk menghilangkan jamur yang menempel pada tubuh ikan kerapu sehingga
ikan tidak sakit atau mati. Pemberian Malachite green oxalate ini dengan dosis
10g dan dilarutkan ke dalam 10 liter air (1000 ppm). Setelah dimasukkan ke
dalam larutan Malachite green oxalate ikan kerapu cantang dibilas lagi dengan
air tawar selanjutnya langsung ditebar pada bak pendederan. Ikan kerapu yang
ditebar sebanyak 12.000 ekor dan ditebar pada 6 bak berukuran 4x2.5x1.3 m3
dengan padat tebar pada masing-masing bak yaitu 2000 ekor.

3.4.4

Pemberian Pakan
Pakan merupakan faktor yang penting untuk menunjang keberhasilan

kegiatan pendederan. Pakan yang digunakan hendaknya mempunyai kandungan


nutrisi dan protein yang tinggi karena ikan kerapu merupakan ikan karnivora.
Pakan yang digunakan ialah jenis pakan pelet. Pakan pelet ini didapat dari PT.
Cargill (dapat dilihat pada Gambar 10).

Gambar 10. Pakan ikan kerapu


Menurut Ismi et al. (2013), berbagai jenis pakan dapat digunakan selama
tahap pendederan termasuk jenis pakan pelet kering (komersial), pelet basah,
ikan rucah, udang rebon atau kombinasi semuanya. Namun penggunaan ikan
rucah tidak dianjurkan kecuali tidak ada alternatif lain, karena kemungkinan

25

perpindahan parasit dari pakan ikan yang sedang dibudidayakan yang dapat
menyebabkan meningkatkan kematian akibat wabah penyakit.
Pemberian pakan harus disesuaikan dengan bukaan mulut benih ikan
kerapu cantang. Pemberian pakan pada benih ikan kerapu cantang di IBAP
Probolinggo dilakukan secara adlibitum (diberi makan sampai ikan kenyang)
sebanyak 4 kali dalam sehari (pukul 07.00, 11.00, 14.00 dan 16.00 WIB).
pemberian pakan ini harus secara rutin sedikit demi sedikit dan tidak boleh terlalu
berlebihan karena akan menyebabkan pemborosan. Jadi pemberian pakan ini
harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti.
Menurut Ismi et al. (2013), kerapu juvenile harus diberi makan sesering
mungkin selama fase pendederan setidaknya 4-6 kali sehari. Pemberian pakan
yang sering akan mengurangi kanibalisme. Pemberian pakan yang baik
seharusnya disaat subuh karena secara nyata dapat mengurangi kanibalisme
pada kerapu jika dibandingkan mulai memberi pakan lebih siang.

3.4.5

Penyifonan dan Pergantian Air


Pengelolaan kualitas iar pada bak pendederan juga dilakukan dengan

cara melakukan kegiatan penyifonan untuk membuang kotoran berupa feses dan
sisa pakan yang terdapat di dasar bak. Penyifonan dilakukan sebanyak dua kali
dalam sehari yaitu pagi pukul 07.00 WIB dan sore hari pukul 15.00 WIB. dengan
menggunakan alat siphon yang terdiri dari selang dan paralon. Penyifonan dapat
dilihat pada Gambar 11. Ketika melakukan peyiphonan juga mengurangi volume
air dengan cara membuka saluran pembuangan atau pengeluaran (outlet)
setelah dilakukan penyifonan dilakukan pergantian air.
Pergantian air pada bak pendederan di IBAP Probolinggo dilakukan 2 kali
dalam sehari. Pergantian air ini bertujuan untuk membersihkan air dari kotoran
yang tidak tersifon. Pergantian air ini diharapkan dapat menjaga kestabilan

26

parameter fisika, kima dan biologi untuk kualitas air serta untuk menjaga
kesehatan ikan itu sendiri. Pergantian air mempunyai dampak positif terhadap
kestabilan kualitas air. Kondisi air yang kotor akibat terakumulasinya sisa kotoran
yang terdapat dalam bak akan terganti secara cepat jika presentase pergantian
air cukup tinggi sehingga diprediksi dapat mengahambat tumbuhnya parasite
(jamur ataupun bakteri). Hal ini sesuai dengan literatur menurut Aslianti (2010),
ikan kerapu umunya hidup di perairan karang, bersifat menyendiri dan lebih
menyukai

habitat

yang

bersih

dengan

kondisi

perairan

yang

stabil.

Mengantisipasi sifat alami ikan kerapu tersebut, pergantian air merupakan faktor
penting dalam menjaga kestabilan kualitas air selama pemeliharaan dalam
wadah terkontrol. Oleh karenanya pengelolaan lingkungan pemeliharaan ikan
kerapu melalui pergantian air secara rutin dan optimal diharapkan dapat
mengurangi kendala ekstrim yang terjadi.

Gambar 11. Penyifonan

3.4.6

Pembersihan Bak
Pembersihan bak pada bak pendederan di IBAP Probolinggo dilakukan

dua hari sekali. Pembersihan bak ini dilakukan dengan cara menguras air dan
menyikat dasar dan dinding bak. Hal ini bertujuan untuk membersihkan bak dari
kotoran seperti lumut dan menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi
parasit. Pembersihan bak dapat dilihat pada Gambar 12.

27

Gambar 12. Pembersihan bak

3.4.7

Kualitas Air
Kualitas air yang diukur pada bak pendderan ikan kerapu cantang

meliputi parameter fisika dan kimia air yang terdiri dari suhu, DO, pH, salinitas
dan amoniak yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan ikan.
a. Suhu Air
Suhu air merupakan faktor yang mempengaruhi laju metabolisme, nafsu
makan, pertumbuhan organisme yang hidup di perairan dan kelarutan oksigen
dalam perairan tersebut. Hal ini sesuai dengan literatur menurut Kordi dan
Tancung (2007), suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, oleh
karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar
dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap
kehidupan dan pertumbuhan biota air. Secara umum laju pertumbuhan
meningkat sejalan dengan kenaikan suhu. Suhu dapat menekan kehidupan
hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai
drastis.
Dari hasil pengukuran suhu pada bak pendederan ikan kerapu cantang di
IBAP Probolinggo yang dilakukan 1 kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB
didapatkan hasil kisaran suhu antara 24,3 oC 26,3 oC. Kenaikan dan penurunan
suhu ini disebabkan oleh keadaan kondisi alam seperti adanya angin gending
meskipun pengaruhnya tidak secara langsung karena bak pendederan ikan

28

kerapu cantang terdapat pada lokasi tertutup. Selain itu adanya pergantian air
yang terus dilakukan dan adanya bantuan aerasi juga mempengaruhi tinggi
rendahnya suhu.
Menurut Kordi dan Tancung (2007), suhu air optimum bagi kehidupan
ikan kerapu yaitu berkisar antara 27 oC 32 oC. Semakin tiggi suhu air, semakin
tinggi pula laju metabolisme organisme yang berarti semakin besar konsumsi
oksigennya, padahal kenaikan suhu tersebut bahkan mengurangi daya larut
oksigen dalam air. Pergantian atau pencampuran air dapat dilakukan untuk
mengurangi pengaruh suhu tinggi. Pergantian air yang diupayakan untuk
pengenceran metabolit sekaligus dapat mempengaruhi suhu tinggi.

Gambar 13. Grafik pengukuran suhu (0C)

b. Oksigen Terlarut
Ketersediaan

oksigen

terlarut

di

dalam

suatu

perairan

sangat

berpengaruh bagi kehidupan organisme termasuk ikan. Ikan kerapu cantang


membutuhkan oksigen agar dapat melakukan aktivitasnya. Menurut Kordi dan
Tancung (2007), oksigen merupakan salah satu faktor pembatas sehingga
apabila ketersediaannya dalam air tidak mencukupi biota budidaya maka segala

29

aktivitas dari biota tersebut akan terhambat. Hal ini juga sesuai dengan Odum
(1971), yang menyatakan bahwa oksigen terlarut merupakan salah satu unsur
pokok pada proses metabolisme dari organisme, terutama untuk proses
respirasi. Disamping itu juga dapat digunakan sebagai petunjuk kualitas air.
Berdasarkan hasil pengukuran oksigen terlarut pada bak pendederan ikan
kerapu cantang di IBAP Probolinggo yang dilakukan 1 kali sehari yaitu pada
pukul 07.00 WIB berkisar antara 5,1 5,9 ppm. Konsentrasi oksigen terlarut
pada bak pendederan ikan kerapu cantang berubah-ubah dalam siklus harian.
Kisaran oksigen terlarut pada bak pendederan ikan kierapu cantang sudah cukup
baik, namun masih perlu adanya pengontrolan agar oksigen terlarut tetap stabil
dan tidak terjadi fluktuasi yang tinggi.
Menurut Kordi dan Tancung (2007), kisaran oksigen terlarut yang
optimum bagi kelangsungan hidup ikan kerapu yaitu berkisan antara 5-6 ppm.
Meskipun beberapa jenis ikan mampu bertahan hidup pada perairan dengan
konsentrasi oksigen 3 ppm, namun konsentrasi minimum yang masih dapat
diterima sebagian besar spesies biota air budidaya untuk hidup dengan baik
ialah 5 ppm. Pada perairan dengan kondisi oksigen dibawah 4 ppm, beberapa
jenis ikan masih mampu bertahan hidup akan tetapi nafsu makannya menurun.

Gambar 14. Grafik pengukuran oksigen terlarut (mg/L)

30

c. Salinitas
Menurut Kordi dan Tancung (2007), salinitas ialah kadar seluruh ion-ion
yang terlarut dalam air. Ion-ion tersebut ialah klorida, karbonat, bikarobonat,
sulfat, natrium, kalsium dan magnesium. Salinitas air berpengaruh terhadap
tekanan osmotic air. Semakin tinggi salinitas, akan semakin besar pula tekanan
osmotiknya.
Dari hasil pengukuran salinitas pada bak pendederan ikan kerapu
cantang di IBAP Problinggo yang dilakukan 1 kali sehari yaitu pada pukul 07.00
WIB berkisar antara 15 - 25 ppt. Kadar salinitas pada bak pendederan ikan
kerapu cantang di IBAP Probolinggo ini tergantung tingkat pencampuran air
tawar dan air laut yang dimasukkan ke dalam bak pendederan tersebut. Dengan
kata lain kadar salinitas ini diatur sendiri oleh teknisi bagian pendederan sesuai
dengan kebutuhan. Menurut Redjeki dan Mayunar (1990), ikan kerapu hidup
normal pada salinitas 32 34 ppt. Sedangkan Nursida (2011) mengemukakan
bahwa ikan kerapu hidup di air laut maupun air payau pada kisaran salinitas
yang luas antara 15 35 ppt atau tahan di dalam air tawar lebih dari 15 menit
namun untuk mengoptimumkan pertumbuhan ikan maka salinitas air yang
digunakan untuk kegiatan pembenihan sebaiknya berkisar antara 28 32 ppt.

Gambar 15. Grafik pengukuran salinitas (ppt)

31

d. Derajat Keasaman (pH)


pH merupakan logaritma dari kepekatan ion-ion H (hidrogen) yang
terlepas dalam suatu cairan. Derajat keasaman atau pH air menunjukkan
aktivitas ion hydrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai
konsentrasi ion hydrogen (dalam mol per liter) pada suhu tertentu. Semakin tinggi
konsentrasi ion H+, akan semakin rendah konsentrasi ion H- yang tinggi dan pH
>7, maka perairan bersifat alkalis (basa) (Kordi dan Tancung, 2007).
Dari hasil pengukuran pH pada bak pendederan ikan kerapu cantang di
IBAP Probolinggo yang dilakukan 1 kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB
didapatkan hasil berkisar antara 6,5 7,9. Kordi dan Tancung (2007)
menyebutkan bahwa pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena
mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif,
malah dapat membunuh hewan budidaya. Pada pH rendah (keasaman yang
tinggi) kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi
oksigen menurun, aktivitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang.
Hal yang sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini, maka usaha
budidaya perairan akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5 9,0 dan kisaran
optimal adalah pH 7,5 8,7.

Gambar 16. Grafik pengamatan pH

32

e. Amoniak
Pengukuran amoniak pada bak pendederan ikan kerapu cantang di IBAP
Probolinggo dilakukan 1 kali, karena keterbatasan alat yang da di IBAP
Probolinggo. Hasil pengukuran amoniak pada bak pendederan ikan kerapu
cantang yaitu sebesar 0.03 mg/L. Kandungan amoniak ini masih bisa ditoleransi
karena masih berada dibawah batas standar amoniak yang ditentukan. Akan
tetapi kualitas air tetap harus dijaga karena sisa pakan dan feses ikan kerapu
cantang sangatlah banyak sehingga jika kualitas air tidak dijaga maka akan
menyebabkan menurunnya kualitas air dan menganggu kelangsungan hidup ikan
kerapu cantang tersebut.
Menurut Aslianti (2010), kandungan amoniak dalam media pemeliharan
merupakan hasil metabolisme ikan, pembusukan senyawa organik dan bakteri.
Amoniak ialah hasil utama penguraian protein dan merupakan racun bagi ikan.
Oleh karena itu kandungan amoniak yang dianjurkan pada media pemeliharaan
ikan tidak lebih dari 1 mg/L.

3.4.8

Penyakit Pada Ikan


Penyakit dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat

menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur alat tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung (Kordi, 2001). Secara umum penyebab
penyakit pada usaha pendederan kerapu dapat digolongkan menjadi 2 yaitu
penyebab patogenik dan non patogenik. Penyakit patogenik terjadi pada ikan
disebabkan oleh beberapa kualitas air. Ikan sakit karena faktor patogenik sering
terjadi karena ikan terinfeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
Penyakit yang sering menjadi masalah pada proses pendederan ikan
kerapu cantang di IBAP Probolinggo yaitu insang biasanya disebabkan oleh
mikroorganisme dan mulut ikan memerah dan terdapat jamur seperti protozoa

33

pada tubuh ikan kerapu cantang tersebut. Akan tetapi tidak dilakukan pengujian
atau penelitian jamur apa yang menempel pada tubuh ikan kerapu cantang
karena keterbatasan alat yang ada di IBAP Probolinggo. Penaggulangan atau
pencegahan yang biasa dilakukan di IBAP Probolinggo yaitu melakukan
penyifonan dan pergantian air selama dua kali dalam sehari, penyikatan atau
pembersihan bak pendederan dua hari sekali dan memberi Malachite green
oxalate atau formalin sebagai desinfektan untuk mencegah menempelnya bakteri
dan jamur pada tubuh ikan kerapu cantang.

3.4.9

Pemanenan dan Pengemasan

a. Pemanenan
Sebelum dilakukan pengemasan terlebih dahulu ikan dipanen dari bak
pendederan. Beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk mendukung
keberhasilan panen yaitu persiapan wadah, ukuran benih dan cara panen.
Pemanenan dari bak pendederan ialah untuk melanjutkan kegiatan ketahap
berikutnya yaitu kegiatan pembesaran. Kriteria benih ikan kerapu cantang yang
akan di panen berdasarkan IBAP Probolinggo yaitu ukuran dan permintaan
pasar. Biasanya benih ikan kerapu yang akan dipanen berukuran 7-11cm tetapi
apabila pembeli sudah menginginkan untuk membeli benih tersebut maka ukuran
6-8 juga bisa dijual dengan syarat pembelian minimal 1000 ekor. Benih ukuran ini
digunakan untuk kegiatan pembesaran di KJA atau di tambak.
Cara panen yang pertama yaitu melakukan grading. Grading ini bertujuan
untuk menghitung jumlah benih ikan kerapu cantang dan untuk mengetahui
ukurannya karena harga jual benih ikan kerapu ini berdasarkan dengan ukuran
(per cm). Setelah dilakukan grading benih ikan dikelompokkan sesuai dengan
ukurannya dan dihitung jumlahnya kemudian dimasukkan ke dalam keranjang

34

plastik dan diberi label ukuran serta jumlah setelah itu dimasukkan kembali ke
dalam bak pendederan Proses ini dapat dilihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Pemanenan

b. Pengemasan
Proses pengemasan dilakukan dengan mempersiapkan kantong plastik
ukuran panjang 100 cm lebar 50 cm dan ketebalan 0.2 mm. Plastik tersebut
dicuci terlebih dahulu menggunakan air tawar agar kotorannya hilang kemudian
dirangkap dua untuk menghindari kebocoran dan diisi dengan air laut 1/3 dari
volume plastik. Air yang akan digunakan disesuaikan suhunya yaitu sebesar
270C. Setelah kantong plastik diisi dengan air, benih ikan kerapu cantang yang
telah disiapkan dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diisi oksigen sebanyak
2/3 dari volume plastik (dapat dilihat pada Gambar 18).

Gambar 18. Ikan dalam kantong plastik


Selanjutnya plastik diikat menggunakan karet gelang dan kantong
tersebut siap dimasukkan ke dalam sterofom (dapat dilihat pada Gambar 19).
dan dililiti dengan selotip agar tutupnya tertutup rapat sehingga kantong plastik

35

yang ada di dalamnya tidak jatuh. Setelah itu ikan siap dikirim ke tempat tujuan.
Benih ikan kerapu cantang di IBAP Probolinggo di pasarkan ke petani KJA di
pulau Gili Ketapang Probolinggo dan ke Lamongan.

Gambar 19. Pengemasan


3.4.10 Hambatan dan Solusi
Hambatan utama yang dialami selama proses pendederan ikan kerapu
cantang yaitu sifat kanibalisme dari ikan kerapu itu sendiri sehingga banyak
terjadi kematian dalam fase pendederan. Masalah lainnya yaitu sulitnya mencari
benih ikan kerapu cantang, karena sudah banyak yang mendederkan ikan
kerapu cantang akan sehingga saling rebutan. Selain itu apabila pemesanan
benih ikan kerapu cantang sudah terlambat maka akan mendapatkan benih ikan
kerapu cantang yang cacat sehingga kualitas benih yang didederkan menurun.
Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan yang mudah terkena penyakit,
serangan penyakit seperti terkena virus itulah yang salah satunya juga menjadi
faktor penghambat proses pendederan ikan kerapu itu sendiri.
Cara mengendalikan untuk mengurangi sifat kanibalisme pada ikan
kerapu yaitu dengan melakukan penyortiran atau grading untuk memastikan
bahwa hanya ikan yang berukuran seragam yang terdapat dalam bak tersebut.
Selain itu pengelolaan pakan yang baik untuk mengendalikan nafsu makan dari
ikan kerapu.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktik Kerja Magang (PKM) yang telah dilakukan di
IBAP Probolinggo dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Alur pendederan ikan kerapu cantang di IBAP Probolinggo yaitu mulai dari
persiapan bak, seleksi benih, penebaran benih, pemeliharaan (seperti
pemberian pakan, penyifonan, pergantian air dan pembersihan bak) sampai
dengan pemanenan.
b. Kondisi kualitas air seperti parameter fisika dan kimia air pada bak
pendederan ikan kerapu cantang di IBAP Probolingo sudah cukup baik
ditambah lagi adanya kegiatan pergantian air, penyifonan dan pembersihan
bak yang dilakukan secara rutin sehingga kualitas air tetap tergjaga.
c. Berdasarkan hasil pengukuran parameter kualitas air yang dilakukan setiap
pagi hari nilai suhu berkisar antara 24,3 26,4 oC, nilai oksigen terlarut
berkisar antara 5,1 5,9 ppm, nilai salinitas berkisar antara 15-25 ppt, nilai
pH berkisar antara 6,5 8,1. Sedangkan pengukuran amoniak yang
dilakukan 1kali didapatkan nilai sebesar 0,03 mg/L.
4.2 Saran
a. Kegiatan pendederan kerapu cantang perlu ditingkatkan agar diperoleh
produksi benih secara kualitas maupun secara kuantitas.
b. Perlu adanya penambahan alat laboratorium sehingga parameter seperti
amoniak dan nitrit dapat diukur serta perlu adanya perhatian terhadap
pemakaian dan perawatan alat sehingga alat tetap bagus dan normal untuk
digunakan.

37

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, S., Marsoedi, Soemarno dan E. Kusnendar. 2013. Pertumbuhan Benih


Kerapu Macan Pada Fase Pendederan Dengan Kepadatan Berbeda di
Keramba Jaring Apung (KJA). Jurnal Teknologi Pangan.5(1): 41-48.
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik-Edisi Revisi IV.
Rineka Cipta: Jakarta.
Aslianti, Titiek. 2010. Pemeliharaan Gelondongan Kerapu Sunu (Plectropomus
leopardus) dengan Persentase Pergantian Air Yang Berbeda. Jurnal Ilmu
dan Teknolgi Kelautan Tropis.2(2): 26-33.
Azwar. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Bbapsitubondo.com
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan
Lingkungan Perairan. Kanisius :Yogyakarta.
Indiartoro, N. dan B., Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
Akuntansi dan Manajemen Edisi Pertama. Yogyakarta: BPEE.
Ismi, Suko., Tatam, S., Giri. N.A., Michael, A. R., Richard, M.J.K., Anjanette, C.B.
dan Ketut, S. 2013. Pengelolaan Pendederan Ikan Kerapu. Australian
Government.
Ismi, Suko., Y. N. Asih dan D. Kusumawati. 2013. Pwningkatan Produksi dan
Kualitas Benih Ikan Kerapu Melalui Program Hibridasi. Jurnal Ilmu dan
Teknologi Kelautan Tropis.5(2): 333-342.
Koentjoroningrat. 1991. Metode Penelitian Masyarakat. Gramedia :Jakarta.
Kordi, M. G. H. 2001. Pembesaran Kerapu Bebek di Karamba Jaring Apung.
Kanisius: Yogyakarta.
Kordi, M.G.H. dan Tancung, A.B. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya
Perairan. Rineka Cipta: Jakarta.
__________________________. 2010. Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal. Lily
Publisher :Yogyakarta.
_________________________.2010. Nikmat Rasanya, Nikmat Untungnya-Pintar
Budidaya Ikan di Tambak Secara Intensif. Lily Publisher :Yogyakarta.
Narbuko, C. dan A. Achmadi. 2007. Metodologi Penelitian. Bumi Aksara:Jakarta.
Nursida,

N. F. 2011. Polimorfisme Ikan Kerapu Macan (Epinephelus


fuscoguttatus) yang Tahan Bakteri Vibrio alginolitycus dan Toleransi

38

Salinitas Rendah Serta Salinitas Tinggi. Skripsi. FPIK-UNHAS:


Makassar.
Redjeki, R dan Mayunar. 1990. Pengaruh Pergantian Air dan Kelangsungan
Hidup Kerapu Macan. Jurnal Penelitian Perikanan Pantai, Maros.
Sembiring, S. B. M., Tridjoko dan Haryanti. 2013. Keragaman Genetik Ikan
Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) Generasi F1 dan F3. Jurnal Ilmu
dan Teknologi Kelautan Tropis.5(1): 103-111.
Soeharmanto, Dwi., B. Hanggono, S. Djunadi dan A.B. Muslim. 2010. Rekayasa
Hibridasi Ikan Kerapu Macan dan Kertang (Cantang) Melalui
Pembuahan Buatan. Balai Budidaya Air Payau Situbondo: Situbondo.
Subyakto, Slamet dan Cahyaningsih. 2003. Pembenihan Kerapu Skala Rumah
Tangga. Agro Media Pustaka: Depok.
Sunarma, A., D.W.B. Hastuti dan Y. Sistina. 2007. Penggunaan Ekstender Madu
Yang Dikombinasikan Dengan Krioprotektan Berbeda Pada
Pengawetan Sperma Ikan Nilem (Indonesiam Shark-minnow,
Osteochilus hasseltii Valencien-nes, 1842). Prosiding Masyarakat
Akuakultur Indonesia. 9-18.
Surakhmad, W. 2004. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar, Metode dan Teknik
(Edisi Revisi). Penerbit Tarsito: Bandung.

39

LAMPIRAN

Lampiran 1. Denah IBAP Probolinggo

40

Keterangan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

Kolam Patin
Bangsal A
Bangsal B
Musolah
Bangsal C
Bangsal F
Bangsal D
Bangsal E
Bangsal H
Bangsal I
Bangsal G
Gudang
Tambak 1
Tambak 2
Tambak 3
Tambak 4
Rumah Blower
Intek
Tambak 15
Tambak 5

21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.

Tambak 6
Tambak 7
Gudang
Tambak 8
Mes
Tambak 14
Tambak 11
Tambak 10
Tambak 9
Tambak 12
Tambak 13
Kolam lele
Ruang tambak
Ruang workshop
Laboratorium
Kantor
Rumah Dinas

41

Lampiran 2. Denah Kota Probolinggo

42

Lampiran 3. Struktur Organisasi IBAP Probolinggo

43

Lampiran 4. Data hasil pengamatan kualitas air


Tanggal
pengecekan

Suhu (oC)

DO (ppm)

pH

Sainitas
(ppt)

22

24.3

5.5

7.4

17

23

26.6

5.5

7.7

17

24

26.8

5.6

7.6

15

27

25.9

5.4

6.5

19

28

26.5

5.5

7.5

15

29

26.2

5.1

8.1

15

30

26.5

5.3

7.7

16

31

26.6

5.1

7.8

16

25.4

5.2

7.8

16

25.4

5.6

7.9

20

25.8

5.8

7.7

20

25.8

5.9

16

26.3

5.9

8.1

16

10

26.2

5.4

7.8

25

11

26.6

5.4

7.8

25

12

26.3

5.2

7.9

23

13

26.4

5.8

22

14

26.3

5.9

7.9

25

Amoniak
(mg/L)

0.03