Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH KIMIA FISIKA

PEMICU 2
KESETIMBANGAN KIMIA

Oleh:
Kelompok 11
Aditha Oktariany

(1406531662)

Andersen

(1406604626)

Apryani Lestari N.

(1406531725)

Arif Hendrawan

(1406531763)

Irfan Aditya

(1406531800)

Program Studi Teknik Kimia


Departemen Teknik Kimia
Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
Depok
Oktober - 2015

DAFTAR ISI
Halaman Cover
Daftar Isi

ii
ii

Peta Konsep iii


Pendahuluan 1
Teori Dasar Bagian I

Teori Dasar Bagian II

Teori Dasar Bagian III

Isi

10

Jawaban Bagian I 10
Jawaban nomor 1

10

Jawaban nomor 2

Jawaban nomor 3

Jawaban nomor 4

Jawaban nomor 5

Jawaban Bagian II
Jawaban nomor 1

19

Jawaban nomor 2

20

Jawaban nomor 3

20

Jawaban nomor 4

21

Jawaban Bagian III


Jawaban nomor 1

22

Jawaban nomor 2

23

Penutup

19

22

24

Kesimpulan 24
Daftar Pustaka

25

PETA KONSEP

BAB I
LANDASAN TEORI

TNT (trinitrotuluena)
A. Aplikasi
Digunakan sebagai bahan peledak karena ketidakpekaannya terhadap shock dan
gesekan, yang mengurangi resiko ledakan disengaja. TNT meleleh pada suhu
80C (176F), jauh dibawah suhu dimana ia akan meledak secara spontan,
sehingga aman bila dikombinasikan dengan bahan peledak lain. TNT tidak larut
dalam air, yang memungkinkan untuk digunakan secara efektif dalam lingkungan
basah.
B. Karakter Explosive

TNT berbeda dengan dinamit. TNT adalah senyawa kimia spesifik, sedangkan
dinamit adalah suatu campuran nitrogliserin yang dikompresi menjadi bentuk
silinder dan dibungkus kertas.

Setelah ledakan, TNT terurai sebagai berikut:

2C7H5N3O6 3N2 + 5H2O + 7CO + 7C


Reaksi eksotermik dengan energi aktivasi yang tinggi. Adanya karbon pada
produk menyebabkan ledakan TNT memiliki penampilan jelaga.

Tetapan Kesetimbangan Kimia


Tetapan kesetimbangan merupakan angka yang menunjukkan perbandingan secara
kuantitatif antara produk dengan reaktan.
a. Hubungan Kc dengan Persamaan Kimia yang Setara
1. Harga K dipengaruhi oleh suhu
Apabila suhu tetap, maka harga K tetap. Jika suhu berubah, maka
harga K juga akan berubah.
Pada reaksi endoterm, K berbanding lurus dengan suhu.

Pada reaksi eksoterm, K berbanding terbalik dengan suhu.

2. Harga K merupakan ukuran seberapa banyak produk yang terbentuk pada


kondisi setimbang.

Jika K > 1, maka hasil reaksi pada kesetimbangan lebih banyak daripada
pereaksi.

Jika K < 1, maka hasil reaksi pada kesetimbangan lebih sedikit daripada
pereaksi.

3. Setiap reaksi kesetimbangan mempunyai harga tertentu, yang dapat


dibandingkan antara satu dengan yang lainnya.

Jika reaksi dibalik, K menjadi 1/K.

Jika reaksi dibagi n, K menjadi K1/n.

Jika reaksi dikali x, K menjadi Kn.

Jika beberapa reaksi kesetimbangan dijumlahkan, semua harga K harus


dikalikan.

b. Kesetimbangan Disosiasi
Kesetimbangan disosiasi adalah reaksi kesetimbangan dari reaksi penguraian gas.
KC merupakan tetapan kesetimbangan molaritas, [A] dan [B], merupakan
molaritas gas A dan gas B. Dalam persamaan reaksi kesetimbangan, harus
diketahui dengan pasti berapa molaritas zat-zat setelah tercapai keadaan
setimbang. Reaksi penguraian gas tidak pernah habis. Oleh karena itu, gas yang
terurai dalam keadaan setimbang mempunyai harga yang menyatakan bagian
yang terdisosiasi. Harga ini dikenal dengan istilah derajat disosiasi atau derajat
peruraian. Derajat disosiasi didefinisikan sebagai banyaknya bagian yang terurai
dibagi dengan bagian mula-mula.

c. Tetapan Kesetimbangan Gas


Untuk sistem kesetimbangan yang melibatkan gas, pengukuran dilakukan
terhadap tekanan bukan molaritas. Tetapan kesetimbangan diberi harga dalam
tekanan parsial gas. Misalnya pada suhu (T) tetap terdapat kesetimbangan antara
gas A dan gas B seperti persamaan reaksi berikut.
Harga tetapan kesetimbangan gas dapat dihitung dengan rumus berikut.

Dengan:

KP = tetapan kesetimbangan gas


2

PA = tekanan parsial gas A (atm)


PB = tekanan parsial gas B (atm)
Tekanan parsial gas dapat dihitung dengan rumus berikut.

Dengan:

= fraksi mol
Pt = tekanan total (atm)
Fraksi mol merupakan perbandingan mol gas suatu zat dengan mol total.
d. Hubungan Kc dengan Kp
Dengan mengasumsikan bahwa gas merupakan gas ideal dapat diperoleh
hubungan antara Kp dan Kc.
Persamaan gas ideal P V = n R T adalah:

Dengan:

Kp = tetapan kesetimbangan gas


Kc = tetapan kesetimbangan cair
R = tetapan suhu (0,08206 L atm mol1 K1)
T = suhu (Kelvin)
n = b a (Selisih jumlah koefisien produk dengan jumlah koefisien
reaktan)

Proses Pembuatan Amonium Nitrat (NH4NO3)


a. Proses Grainer
Proses ini dilakukan dengan cara memekatkan larutan amonium nitrat hasil
netralisasi pada evaporator, sehingga konsentrasi larutan mencapai 98 98,5 %
berat, pada suhu 305310F. Kristalisasi dilakukan pada Graining Kettle dimana
larutan panas diaduk, sampai kristal terbentuk mengandung 0,1% berat
moisture. Proses ini mahal dan berbahaya dan butir yang dihasilkan terlalu kecil
untuk digunakan sebagai pupuk.
b. Proses Prilling
Gas amoniak dan asam nitrat di reaksikan dalam sebuah reaktor dengan reaksi
netralisasi. Reaksi bersifat eksotermis yang menghasilkan steam. Larutan
dipekatkan dengan falling film evaporator. Larutan lalu dipompa ke prilling
tower, lalu prill amonium nitrat dikeringkan, didinginkan diayak untuk mendapat
butir yang seragam kemudian dilapisi dengan kalsium tri fosfat dan di packing.
c. Proses Uhde

Proses ini adalah alternatif dengan biaya paling rendah. Proses ini dilakukan dengan
mereaksikan gas amoniak dan asam nitrat dalam reaktor bubbling dengan reaksi
netralisasi pada suhu mendekati 200C dan tekanan 4 5 barr. Larutan keluar reaktor
dimasukkan ke flashdrum dan dipompakan ke evaporator untuk dipekatkan. Larutan
masuk ke prilling tower, prill amonium nitrat yang terbentuk didinginkan dan di
screening.

Kesetimbangan Dinamis
Dalam perhitungan kimia, seringkali dianggap bahwa suatu reaksi berlangsung secara
sempurna. Pada kenyataannya tidak demikian. Persamaan reaksi hanya menyatakan
hubungan jumlah (kuantitas) dari zatzat yang bereaksi dengan zatzat hasil reaksi
secara stoikiometri. Sedang kinetika serta termodinamika reaksi mempelajari berapa
lama suatu reaksi akan berlangsung dan ke arah mana yang paling mungkin terjadi.
Kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi zatzat yang bereaksi sebelum terjadi
kesetimbangan. Artinya reaksi akan berjalan paling cepat pada saat jumlah reagennya
maksimum. Pada contoh reaksi di atas, kecepatan reaksi semakin turun (lambat)
apabila konsentrasi H2 dan I2 makin berkurang. Sebaliknya, konsentrasi HI yang
meningkat menyebabkan kecepatan reaksi penguraian : 2 HI H2 + I2 semakin
bertambah (pada saat awal reaksi konsentrasi HI nol, dan kecepatan penguraiannya
sama dengan nol). Jika reaksi semacam ini diikuti, maka akan didapatkan keadaan, di
mana laju reaksi ke kanan (pembentukan HI) sama dengan laju reaksi ke kiri
(penguraian HI), sehingga secara makro tidak teramati perubahan konsentrasi.
Keadaan pada saat konsentrasi zatzat tidak berubah lagi ini yang dinamakan dengan
kesetimbangan dinamik secara makroskopik tidak terjadi perubahan reaksi selesai,
tetapi secara molekuler tetap terjadi reaksi ke kanan maupun ke kiri dengan laju yang
sama.
Prinsip Le Chatelier
Asas Le Chatelier menyatakan jika kesetimbangan dinamis terganggu akibat adanya
perubahan kondisi, maka kesetimbangan akan bergeser kearah yang berlawanan
dengan perubahan tersebut. Sangat penting untuk memahami asas Le Chatelier,
karena akan sangat membantu ketika kamu menerapkan perubahan kondisi dalam
reaksi yang mengalami kesetimbangan dinamis.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sistem kesetimbangan adalah perubahan
konsentrasi, perubahan suhu, perubahan tekanan, dan perubahan volume.
1. Perubahan Konsentrasi
4

Berdasarkan persamaan sebagai berikut :


aA + bB cC + dD
Berdasarkan asas Le Chatelier, posisi kesetimbangan akan bergerak kearah
yang berlawanan dari perubahan. Berarti dengan penambahan konsentrasi A,
maka posisi kesetimbangan akan bergeser kearah pembentukan C dan D.
2. Perubahan Volume atau Tekanan
Jika dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi yang menyebabkan
perubahan volume (bersamaan dengan perubahan tekanan), maka dalam
system akan mengadakan reaksi berupa pergeseran kesetimbangan sebagai
berikut.
Jika tekanan diperbesar (volume diperkecil), maka kesetimbangan
akan bergeser ke arah jumlah koefisien reaksi kecil.

Jika tekanan diperkecil (volume diperbesar), maka kesetimbangan


akan bergeser ke arah jumlah koefisien reaksi besar.

3. Perubahan suhu
Menurut Vant Hoff:
Bila pada sistem kesetimbangan suhu dinaikkan, maka kesetimbangan
reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan kalor (ke arah reaksi
endoterm).

Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan, maka


kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membebaskan kalor
(ke arah reaksi eksoterm).

Contoh:
2 NO(g) + O2(g) 2 NO2(g) H = 216 kJ
Jika pada reaksi kesetimbangan tersebut suhu dinaikkan, maka
kesetimbangan akan bergeser ke kiri (ke arah endoterm atau yang
membutuhkan kalor).

Jika pada reaksi kesetimbangan tersebut suhu diturunkan, maka


kesetimbangan akan bergeser ke kanan (ke arah eksoterm).

4. Pengaruh Katalisator terhadap Kesetimbangan

Fungsi katalisator dalam reaksi kesetimbangan adalah mempercepat


tercapainya kesetimbangan dan tidak merubah letak kesetimbangan (harga
tetapan kesetimbangan Kc tetap). Hal ini disebabkan katalisator mempercepat
reaksi ke kanan dan ke kiri sama besar.
Konstanta/Tetapan Kesetimbangan
1. Konstanta Kesetimbangan Konsentrasi
Apabila diberikan reaksi kimia sebagai berikut :
aA (aq)+bB( aq) cC (aq)+ dD (aq)

Dari kolom Catatan pada


gambar diatas, dapat
Gambar 1 Penjelasan Nilai
diketahui bahwa pada
system kesetimbangan
Kc
yang melibatkan lebih dari 2 fasa atau system kesetimbangan heterogen, fasa solid
dan liquid tidak dimasukkan kedalam perhitungan Kc.
2. Konstanta Kesetimbangan Tekanan
Selain Kc, ada konstanta yang perhitungannya menggunakan tekanan, yaitu Kp.
Perhitungan Kp mirip seperti Kc namun nilai dari konsentrasi dari setiap produk dan
reaktan diganti menjadi tekanan parsial. Tekanan parsial dari masing masing
substrat bergantung pada mol dari substrat tersebut dalam keadaan setimbang dan
juga bergantung pada besar tekanan total. Kp hanya dimiliki oleh suatu system
kesetimbangan homogeny yang hanya melibatkan fasa gas saja.
aA ( g ) +bB ( g ) cC ( g ) +dD ( g )
Contoh :

pC . pD
Kp=
pA a . pB b

Terdapat hubungan antara Kp dan Kc apabila kita asumsikan bahwa gas tersebut
merupakan gas ideal, sehingga berlaku hukum gas ideal PV = nRT sehingga kita
mendapatkan penurunan rumus konstanta kesetimbangan seperti berikut :
Kp=Kc .(RT ) n
Dimana n adalah selisih dari jumlah koefisien produk dikurang jumlah koefisien
reaktan, Kc adalah konstanta kesetimbangan konsentrasi, R = 0.082 Latm/molK dan
T adalah temperatur dalam Kelvin.
Derajat Disosiasi
Disosiasi adalah penguraian suatu zat menjadi beberapa zat lain yang lebih
sederhana. Derajat disosiasi adalah perbandingan antara jumlah mol yang terurai
dengan jumlah mol mula-mula dan biasa dilambangkan dengan (alfa).
Mol zat yang terurai
=
Mol zat mulamula
Secara umum reaksi disosiasi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Contoh
:
A(aq) n B(aq)
Dengan n adalah perbandingan antara jumlah koefisien di ruas kanan dengan jumlah
koefisien di ruas kiri. Misal jumlah mol A mula - mula = a mol dan derajat disosiasi =
, maka jumlah A yang terdisosiasi = a x mol, dan jumlah mol B yang terbentuk = n
x a mol. Maka susunan kesetimbangannya dapat dirumuskan sebagai berikut.

Pergeseran Kesetimbangan Kimia


Kesetimbangan kimia merupakan suatu istilah untuk kesetimbangan reaksi kimia
yang reversibel atau reaksi bolak balik. Reaksi Bolak balik ini seperti namanya, bisa
bergerak ke kiri (reaktan) atau kanan (kanan) tergantung dari beberapa faktor yang
mempengaruhi. Pergeseran kesetimbangan menganut Asas Le Chatelier yang
berbunyi :

Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi, maka sistem akan mengadakan
reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu menjadi sekecil-kecilnya.

Secara singkat,asas Le Chatelier dapat disimpulkan sebagai : Reaksi = -Aksi.


Hal Hal Yang Mempengaruhi Pergeseran Kesetimbangan :
1. Penambahan atau Pengurangan Konsentrasi
Dalam suatu reaksi, konsentrasi merupakan salah satu faktor yang dapat mengubah
arah kesetimbangan reaksi. misalnya pada reaksi A + B <> C + D . Konsentrasi A
ditambahkan. Maka reaksi akan bergerak ke arah produk karena konsentrasi substrat
semakin banyak dan mudah untuk bereaksi. Sedangkan jika Konsentrasi A dikurangi
maka substrak semakin sedikit dan kesetimbangan juga akan bergerak ke arah yang
dikurangi. Jadi untuk pengaruh penambahan konsentrasi pada pergeseran
kesetimbangan kimia. Penambahan konsentrasi pada substrat maka kesetimbangan
bergerak ke arah produk dan juga sebaliknya

2. Penambahan atau Pengurangan Volume dan Tekanan


Volum dan tekanan juga merupakan kondisi sistem yang merupakan faktor faktor
berpengaruh dalam pergeseran kesetimbangan kimia. namun dalam melihat hal ini
kita harus menghitung koefisien reaksi dari tiap ruas terlebih dahulu. Misalnya A +
2B <> C + D . berarti Koefisien di kiri 3 dan lebih besar daripada di kanan yang
hanya 2. Setelah itu mari liat volume dan tekanannya. Penambakan Volume pada
Sistem(reaksi) akan menyebabkan reaksi bergerak ke arah yang koefisiennya lebih
kecil. Sedangkan untuk penambahan Tekanan maka akan menyebabkan reaksi
bergerak ke arah yang koefisiennya lebih besar. Contoh :
A + 2B <> C + D

Tekanan diperbesar maka reaksi akan bergerak ke arah C + D , namun apabila volume
yang di perbesar maka pergeseran akan bergerak ke arah koefisien yang lebih besar

3. Penambahan atau Penurunan Suhu


Dalam kinetika, naiknya suhu akan mempercepat reaksi. Namun dalam pergeseran
kesetimbangan kimia. Naik atau turunnya suhu akan mempengaruhi arah reaksi
tergantung dari sifat dari reaksi yaitu endoterm atau eksoterm. Untuk mempelajari
mengenai reaksi eksoterm dan endoterm bisa lihat di artikel ini . Untuk
membedakan antara reaksi biasa dengan reaksi endoterm atau eksoterm maka harus
di beri keterangan tambahan seperti delta H atau enthalpi. misalnya saja pada reaksi
berikut:

A + B <> C + D H= -197,8 kJ
Reaksi tersebut merupakan reaksi Eksoterm. maka jika di beri panas reaksinya akan
bergerak ke kiri. sedangkan untuk endoterm. Jika diberi panas, reaksi akan bergerak
ke kanan(produk). Dasar teori dari pergeseran kesetimbangan yang dipengaruhi
oleh suhu ini menganut asas dari Vant Hoff.
Reaksi Esterifikasi
Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dengan reaksi
langsung antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Suatu reaksi pemadatan
untuk membentuk suatu ester disebut esterifikasi. Reaksi ini juga sering disebut
esterifikasi Fischer. Ester adalah suatu senyawa yang mengandung gugus -COOR
dengan R dapat berbentuk alkil maupun aril. Suatu ester dapat dibentuk dengan reaksi
esterifikasi berkatalis asam. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi dapat balik
(reversible).

BAB II
JAWABAN PERTANYAAN
Bagian I

1. Senyawa HNO3 merupakan bahan kimia penting yang digunakan sebagai


bahan baku untuk peledak seperti TNT (trinitrotoluena). Jenis asam ini
dapat menimbulkan ledakan dahsyat. Sebagai mahasiswa Teknik Kimia,
tentunya Anda harus tahu sifat-sifat nya ini, berikan analisis kenapa HNO 3
dipilih sebagai bahan baku TNT? Dan kenapa efek ledakan hanya terjadi
setelah membentuk TNT? Jelaskan pendapat Anda!
Jawab:
Karakteristik HNO3
a. Sifat Fisika

Massa jenis: 1,502 gr/cm3

Titik didih: 86C

Titik lebur: -42C

Berat molekul: 63,02 gr/mol

10

Wujudnya tidak berwarna

Energi evaporasi: 9,43 kkal/mol pada suhu 20C

Nilai entropi: 37,19 kkal/mol K pada suhu 25C

b. Sifat Kimia

Merupakan asam kuat dan oksidator kuat

Reaksi dengan amonia menghasilkan amonium nitrat, menurut reaksi:

HNO3 + NH3 NH4OH


Reaksi dengan nikel sulfida menghasilkan garam nikel nitrat, nitrogen
monoksida, belerang, dan air

3NiS + 8HNO3 3Ni(NO3)2 + 2NO + 3S + 4H2O


Reaksi dengan NiS yang ditambah asam klorida, menghasilkan garam
nikel klorida

3NiS + 2HNO3 + 6HCl 3NiCl2 + 2NO + 3S + 4H2O


Reaksi dengan logam perak akan membentuk perak nitrat dan nitrogen
dioksida
Ag + 2HNO3 AgNO3 + NO2 + H2O

Analisis HNO3 sebagai Bahan Baku TNT


TNT dibuat dengan cara mereaksikan toluena dengan HNO 3 menggunakan katalis
asam sulfat pekat. HNO3 ini akan terurai menjadi NO2+ dan OH-. HNO3 dipilih
sebagai bahan baku untuk TNT karena besar keelektronegatifan dari HNO 3 dibanding
NO2 lebih besar sehingga lebih mudah melakukan substitusi elektrofilik ke hidrogen
pada cincin benzena ke arah orto atau para dari gugus metil di toluena. Dengan
alasan itulah mengapa HNO3 dipilih sebagai bahan baku TNT.
Efek Ledakan setelah Membentuk TNT
Efek ledakan hanya terjadi setelah membentuk TNT karena jika dilihat berdasarkan
sifatnya, TNT bersifat eksplosif, sedangkan sifat HNO 3 adalah korosif dan baru akan
membentuk ledakan jika direaksikan dengan senyawa organik seperti toluena.
Saat terjadi ledakan, TNT akan terurai berdasarkan reaksi di bawah ini:
2C7H5N3O6 3N2 + 5H2O + 7CO + 7C
2C7H5N3O6 3N2 + 5H2 + 12CO + 2C

11

Reaksi ledakan TNT ini termasuk dalam reaksi eksotermis (melepas panas ke
lingkungan) dan memiliki energi aktivasi yang tinggi, yaitu mendekati 62 kcal/mol.
Karena energi aktivasi yang tinggi inilah, TNT relatif lebih susah meledak (stabil)
daripada bahan peledak yang lain.
2. Bagaimanakah bentuk reaksi pembentukan pupuk amonium nitrat? Apa
bedanya dengan proses Haber-Bosch? Apa yang anda ketahui tentang reaksi
kesetimbangan kimia? Bagaimana kesetimbangan kimia itu dapat terjadi?
Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kesetimbangan kimia? Apa yang
dimaksud konstanta kesetimbangan kimia? Apa bedanya dengan quotient
reaksi? Jelaskan!
Jawab:
Bentuk reaksi pembentukan pupuk amonium nitrat
Ammonium nitrat dapat dibuat melalui reaksi asam-basa, yaitu:
HNO3(aq) + NH3(g) NH4NO3(aq)
Namun, dalam industri biasanya amonium nitrat dibuat dari gas amonia anhidrat
dengan asam nitrit dan reaksinya bersifat eksoterm.
Perbedaan dengan proses Haber-Bosch
Proses Haber-Bosch adalah proses pembentukan amonia (NH3). Hubungan proses ini
dengan reaksi pembentukan amonium nitrat adalah proses ini akan membentuk
amonia (NH3) yang akan digunakan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan
amonium nitrat (NH4NO3).
Reaksi Kesetimbangan Kimia
Keadaan setimbang atau reaksi kesetimbangan merupakan keadaan saat kecepatan
reaksi ke arah kanan dan kiri adalah sama. Kesetimbangan bersifat dinamis yang
berarti dalam keadaan setimbang tidak terjadi perubahan konsentrasi dan warna
secara makroskopis sedangkan secara mikroskopis reaksinya berlangsung bolakbalik. Asas Le Chatelier menyatakan: Jika suatu sistem kesetimbangan dinamis
terganggu akibat adanya perubahan kondisi, maka kesetimbangan akan bergeser ke
arah yang berlawanan dengan perubahan tersebut.
Contoh reaksi kesetimbangan kimia yaitu:
Reaksi antara timbal (II) sulfat dengan natrium iodida

PbSO4(s) + 2NaI(aq) PbI2(s) + Na2SO4(aq)


Reaksi antara gas H2 dengan N2 menghasilkan gas NH3
N2(g) + 3H2(g)

2NH3(g)

Syarat Terjadinya Kesetimbangan Kimia


12

Agar suatu reaksi dapat mencapai kondisi setimbang, diperlukan beberapa syarat,
antara lain:
a. Berupa reaksi bolak-balik
Suatu reaksi dapat menjadi reaksi kesetimbangan jika reaksi baliknya dapat
dengan mudah terjadi secara bersamaan. Terkadang kita memerlukan adanya
pengaruh dari luar agar suatu reaksi menjadi dapat balik. Pada umumnya, reaksireaksi homogen (reaksi yang fasa-fasa pereaksi dan hasil reaksinya sama) akan
lebih mudah berlangsung bolak-balik dibandingkan dengan reaksi yang
heterogen.
Contoh:
N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g)
Biasanya, reaksi heterogen hanya dapat berlangsung bolak balik pada suhu tinggi.
Contoh:
CaCO3(s) CaO (s) + CO2(g)
b. Bersifat dinamis
Suatu reaksi kesetimbangan tidaklah statis, melainkan bersifat dinamis. Artinya,
secara makroskopis reaksi berlangsung terus menerus dalam dua arah dengan laju
yang sama. Karena laju pembentukan zat ke ruas kanan sama dengan laju
pembentukan zat ke ruas kiri, maka pada keadaan setimbang jumlah masingmasing zat tidak lagi berubah, sehingga reaksi tersebut dianggap telah selesai.
c. Dilakukan dalam sistem tertutup
Kesetimbangan kimia hanya dapat berlangsung dalam sistem tertutup. Sistem
tertutup adalah suatu sistem reaksi dimana baik zat-zat yang bereaksi maupun zatzat hasil reaksi tidak ada yang meninggalkan sistem.
Faktor yang Mempengaruhi Kesetimbangan Kimia
Perubahan Konsentrasi
a. Jika salah satu konsentrasi zat diperbesar, reaksi akan bergeser dari arah
zat tersebut.
b. Jika salah satu konsentrasi zat diperkecil, reaksi akan bergeser ke arah zat
tersebut.
Contoh:
aA + Bb Cc + dD
Berarti dengan penambahan konsentrasi A, maka posisi kesetimbangan akan
bergeser ke arah pembentukan C dan D.
Perubahan Volume atau Tekanan

13

Jika dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi yang menyebabkan


perubahan volume (bersamaan dengan perubahan tekanan), maka dalam
sistem akan mengadakan reaksi berupa pergeseran kesetimbangan sebagai
berikut:
a. Jika tekanan diperbessar (volume diperkecil), maka kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah koefisien reaksi yang kecil.
b. Jika tekanan diperkecil (volume diperbesar), maka kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah koefisien reaksi yang besar.
Perubahan Suhu
Menurut Vant Hoff yaitu:
a. Bila pada sistem kesetimbangan suhu dinaikkan, maka kesetimbangan
reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan kalor (ke arah reaksi
endoterm).
b. Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan, maka kesetimbangan
reaksi akan bergeser ke arah yang membebaskan kalor (ke arah reaksi
eksoterm).
Contoh:
2NO(g) + O2(g)

2NO2(g)

H=216 kJ

Reaksi ke kanan adalah eksoterm dan ke kiri adalah endoterm.


Jika suhu dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri (ke arah
endoterm atau yang membutuhkan kalor).
Jika suhu diturunkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan (ke
arah eksoterm atau yang membebaskan kalor).
Pengaruh Katalisator terhadap Kesetimbangan
Suatu katalis akan mempercepat reaksi dengan cara menurunkan energi
aktivasi. Kehadiran katalis akan menurunkan energi pengaktifan baik untuk
reaksi maju maupun untuk reaksi balik, sehingga keduanya mempunyai laju
yang lebih besar.
Perlu diperhatikan bahwa dalam reaksi kesetimbangan, adanya katalisator
tidak mengakibatkan terjadinya pergeseran kesetimbangan, tetapi hanya
mempercepat tercapainya keadaan setimbang. Dengan demikian, penambahan
katalis dilakukan pada awal reaksi (sebelum kesetimbangan tercapai) karena
penambahan katalis setelah tercapai kesetimbangan tidak akan ada gunanya.

14

Konstanta Kesetimbangan
Tetapan kesetimbangan merupakan angka yang menunjukkan perbandingan secara
kuantitatif antara produk dengan reaktan.
a. Kesetimbangan Homogen
adalah reaksi kesetimbangan yang seluruhnya terdiri dalam satu fase zat yang
sama. Untuk reaksi kimia umum seperti:
aA + Bb Cc + dD
Tetapan kesetimbangannya dapat dituliskan sebagai:
C
d
[C ] [ D ]
Kc
a
b
[ A] [B]
b. Kesetimbangan Heterogen
adalah reaksi kesetimbangan yang terdiri dari berbagai fase zat. Namun, tetapan
kesetimbangannya tidak melibatkan konsentrasi zat padat atau zat cair murni,
karena aktivitas zat padat dan zat cair murni sama dengan 1.
Contoh:
CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g)
Maka, tetapan kesetimbangannya dapat dituliskan sebagai:
Kc= [CO 2 ]
Perbedaan Konstanta Kesetimbangan dengan Quotient Reaksi
Quotient reaksi (Q) memiliki bentuk yang sama dengan K, perbedaannya adalah
bahwa Q berlaku untuk semua jenis konsentrasi pada kondisi apa saja, bukan hanya
konsentrasi pada saat kesetimbangan. Quotient reaksi untuk reaksi sebelumnya yaitu:
[ C ] C [ D ]d
Q=
a
b
[ A ] [ B]
Dengan membandingkan nilai Q dan K, kita bisa meramalkan reaksi:
Q < K, reaksi pembentukan produk (ke arah kanan) akan berlangsung

Q = K, terjadi kesetimbangan (tidak terjadi perubahan reaksi)

Q > K, reaksi penguraian produk menjadi reaktan (ke arah kiri) akan
berlangsung

3. Suatu proses yang erat hubungan nya dengan proses Haber-Bosch, yang
merupakan proses modern dalam pembuatan asam nitrat dengan katalis Pt,
dikenal dengan nama proses Ostwald. Jelaskan tentang proses ini, tuliskan
reaksi apa saja yang terlibat, kesetimbangan apa yang terjadi, terangkan

15

dengan video dan juga flip chart untuk bisa memahami proses ini secara
baik.
Jawab:
Proses Ostwald
Asam nitrat banyak digunakan dalam pembuatan pupuk, nitrasi senyawa organik
untuk bahan eksplosif, plastik, celupan, dan pernis, juga sebagai bahan oksidator dan
pelarut. Di industri, pembuatan asam nitrat menggunakan proses Ostwald, yaitu
pembuatan asam nitrat dari bahan mentah amonia dan udara. Proses pembuatan asam
nitrat melalui tiga tahapan, yaitu:
a. Tahap pembentukan nitrogen oksida
Campuran amonia dan udara berlebih dialirkan melewati katalis PtRh pada
suhu 850C dan tekanan 5 atm. Persamaan reaksinya:
4NH3(g) + 5O2(g) 4NO(g) + 6H2O( l )
H = 907 kJ (pada 25C)
b. Tahap pembentukan nitrogen dioksida
Nitrogen monoksida dioksidasi kembali dengan udara membentuk gas
nitrogen dioksida. Persamaan reaksinya:
2NO(g) + O2(g) 2NO2(g)
H = 114,14 kJ (pada 25C)
c. Tahap pembentukan asam nitrat
Nitrogen dioksida bersama-sama dengan udara berlebih dilarutkan dalam air
panas 80C membentuk asam nitrat. Persamaannya:
4NO2(g) + O2(g) + 2H2O( l ) 4HNO3(aq)
Pada proses Ostwald, ada dua tahap reaksi yang membentuk kesetimbangan, yaitu
tahap satu dan tahap dua. Kedua tahap itu bersifat eksotermis dan memiliki koefisien
reaksi yang berbeda, yaitu koefisien hasil reaksi lebih kecil dari koefisien pereaksi.
Pada tahap dua, reaksi tidak efisien pada suhu tinggi, sehingga gas NO panas yang
terbentuk pada tahap pertama didinginkan dengan memasok udara dingin, sekaligus
berfungsi untuk mengoksidasi gas NO menjadi NO2.
Flip chart Proses Ostwald

16

4. Tuliskan reaksi pada proses Haber-Bosch dan terangkan secara sistematis


proses pembuatan amonia dan penerapan azas Le Chatelier pada proses
tersebut untuk meningkatkan jumlah produk. Bagaimana pengaruh katalis
terhadap reaksi di atas? Terjemahkan proses singkatnya (bisa ditambahkan
data pendukung video untuk presentasi).
Jawab:
Berikut tahapan beserta reaksi yang terjadi pada proses Haber-Bosch

1. Tahapan pertama dalam proses Haber-Bosch menghilangkan senyawa belerang


dari bahan baku ammonia. Belerang perlu dipisahkan karena bersifat antikatalis pada
tahpan berikutnya. Penghapusan belerang dilakukan degan hidrogenasi
(menambahkan hidrogen) sehingga menghasilkan asam sulfida.
H2 + RSH RH + H2S
2. Asam sulfida yang terjadi kemudian diserap dan dihilangkan dengan
mengalirkannya melalui oksida dari logam seng sehingga terbentuk senyawa Seng
Sulfida (ZnS) dan uap air.
H2S + ZnO ZnS + H2O
3. Setelah dihilangkan kandungan belerangnya senyawa karbon kemudian direaksikan
dengan katalis untuk menghasilkan senyawa karbon dioksidan dan gas hidrogen.
CH4 + H2O CO + 3H2

17

4. Langkah berikutnya adalah mengkonversi CO menjadi hidrogen (dihasilkan


hidrogen lebih banyak) dan gas sisa karbondioksida
CO + H2O CO2 + H2
5. Karbon Dioksida kemudian dipisahkan dengan penyerapan dalam larutan
etanolamin atau dengan penyerapan media absorbsi pada lainnya.
6. Langkah terakhir dalam memproduksi hidrogen adalah menggunakan katalis
methanation untuk menghilangkan residu karbon monoksida dan karbondioksida
yang masih tertinggal dalam hidrogen.
7. Untuk dapat menghasilkan amonia sebagai produk akhir, hidrogen yang sudah
dihasilkan kemudian direaksikan dengan nitrogen yang berasal dari udara bebas
menghasilkan amonia cair. Tahapan ini dikenal dengan loop sintesis amonia yang
juga dikenal dengan proses Haber-Bosch.
3H2 + N2 2NH3

Reaksi di atas bersifat reversibel sehingga berdasarkan prinsip Le Chatelier,


kondisi tekan tinggi dan tempertur rendah diperlukan untuk mengarahkan reaksi agar
bergerak ke kanan (arah hasil amonia). pada temperatur rendah sebenarnya dapat
menghasilkan persentase pembentukan NH3 yang tinggi tetapi reaksi tersebut

18

berlangsung sangat lambat untuk dapat mencapai kesetimbangan. Oleh karena itu
dalam proses pemubatan aminia diperlukan adanya katalis. Pada praktiknya, kondisi
yang digunakan dalam proses Haber-Bosch adalah pada tekanan 200 atm dan
temperatur 380 460 C dengan menggunakan katalis ion besi (Fe3O4 dicampur
dengan KOH) atau osmium.
5. Jelaskan salah satu proses/teori untuk pengambilan/pemanfaatan nitrogen
dari udara untuk menghasilkan produk yang lebih bermanfaat dan
komersial yang anda ketahui selain untuk proses di atas?
Jawab:
PROSES PEMBUATAN NITROGEN

1. Filtrasi
Filtrasi atau penyaringan udara menggunakan filter bertujuan agar kotoran atau gasgas pengotor dari udara bebas dapat disaring dan tidak terikut dalam proses proses
selanjutnya.

2. Kompressi
Alat yang digunakan yaitu compressor, dimana fungsinya yaitu menaikkan tekanan
udara bebas yang diserap sampai 90-145 Psig atau sekitar 6 bar. Udara terkompresi
kemudian didinginkan hingga mendekati temperatur ruangan menggunakan alat
penukar kalor atau alat dengan sistem refrigerasi.

19

3. Cooling Water
Air umumnya digunakan sebagai pendingin pada industry sebab air tersedia jumlahya
dan mudah ditangani. System penguapan terbuka merupakan tipe system pendingin
yang umumnya digunakan dalam plant pemisahan udara. Sebagian industry
menggunakan system direct cooler pada proses pendinginannya, dimana terjadi
kontak langsung antara udara dengan air pada sepanjang tray direct cooler.

4. Purrification (Pemurnian)
Pada proses ini terdapat proses penyerapan ( adsorpsi ) terhadap zat zat pengotor
dari feed air, diantaranya: uap air, karbon monoksida, karbon dioksida. Pada beberapa
industry, menggunakan 2 layer pada vessel pemurnian ini, layer bawah menggunakan
alumina untuk mengadsorpsi kandungan uap air dalam udara dan bagian top (atas)
menggunakan molecular sieve yang bertindak sebagai adsorben untuk menghilangkan
karbondioksida.

5. Heat Exchanger (Pemindah Panas)


Melewati exchanger, udara didinginkan hingga mendekati titik pencairan. Karena
udara menjadi dingin, mula mula uap air akan menjadi deposit, dimulai jadi cairan
kemudian berubah menjadi salju halus. Fungsi heat exchanger untuk memudahkan
pergerakan panas dari zat yang lebih panas menuju daerah yang dingin hingga
temperature keduanya sama.

6. Ekspansi
Udara yang dingin tersebut diekspansikan atau diturunkan pressure nya sampai
tekanan menjadi 70 80 psig hingga udara tersebut cair.

7. Distilasi

20

Pada proses ini terjadi proses pemisahan antara gas gas yang terkandung pada
udara bebas sebagai umpan melalui perbedaan titik didih (relative volatilitas).
Nitrogen memiliki titik didih yang lebih tinggi dibandingkan gas gas lain yang
terkandung dalam udara yaitu -195 . Bila dipisahkan pada proses vaporisasi
(destilasi), maka nitrogen akan cepat menguap dan menghasilkan produk gas yang
siap digunakan.
Gas nitrogen yang dihasilkan dari proses vaporisasi bisa dirubah bentuk menjadi
liquid dengan cara dilewatkan pada kolom kolom distilasi.
Bagian II
1.

Apa yang anda ketahui tentang kesetimbangan dinamik (dynamic


equilibrium)? Apakah reaksi dekomposisi termal kalsium karbonat
merupakan salah satu contoh kesetimbangan dinamik? Jelaskan! Jelaskan
juga tentang perbedaan kesetimbangan homogeny dan heterogen!
Jawab :
1. Kesetimbangan dinamis merupakan kesetimbangan bolak-balik yang dapat
terus terjadi selama reaksi dimana konsentrasi selurut zat akan selalu konstan
pada temperatur yang konstan.
Reaksi dekomposisi termal kalsium karbonat bukan merupakan salah satu
contoh kesetimbangan dinamik jika berdasarkan reaksi :
CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g)
Hal ini dikarenakan pada keadaan normal, CO2 akan menguap dalam fase gas
dan tidak akan kembali membentuk CaCO3 sehingga pada sistem ini, reaksi
tidak akan mencapai dalam keadaan setimbang jika kita menganggap bahwa
sistem dalam keadaan terbuka.
Akan tetapi, jika berdasarkan reaksi :
CaCO3(s)
CaO(s) + CO2(g)
Reaksi yang dimaksud merupakan kesetimbangan dinamis karena system
dalam keadaan tertutup dan, berdasarkan pada sifat kesetimbangan dinamis,
dimana reaksi pada akhirnya akan mencapai kesetimbangan dimana tidak
terdapat molekul yang berpindah antara reaktan dan produk.
Perbedaan kesetimbangan dapat dibedakan atas kesetimbangan homogeny dan
heterogen, dimana :
1. Kesetimbangan Homogen

21

Semua spesi kimia berada dalam fasa yang sama. Hal ini mengakibatkan
Konsentrasi reaktan dan produk dalam reaksi gas dapat dinyatakan dalam
bentuk tekanan parsial masing-masing gas jika dalam fase gas dan
konsentrasi jika dalam fase aqueous.
Contoh Reaksi Kesetimbangan Homogen:
CH3COOH(aq) <> CH3COO(aq) + H+(aq)
2. Kesetimbangan Heterogen
Kesetimbangan ini melibatkan reaktan dan produk dalam fasa yang
berbeda. Hal ini mengakibatkan kesetimbangan dapat diganggu oleh
beberapa factor eksternal seperti proses Haber-Boosch.
Contoh Reaksi Kesetimbangan Heterogen:
CaCO3(s) <> CaO(s) + CO2(g)
2. Terangkan mengapa metode (b) lebih berhasil untuk mendekomposisi
CaCO3 dengan mengacu pada prinsip Le Chatelier!
Jawab:
Metode B lebih berhasil untuk mendekomposisi CaCO3 dikarenakan ketika di
udara terbuka, CO2 yang berfase gas yang terbentuk akan langsung menyebar
ke udara luas sehingga hal ini mengakibatkan kesetimbangan bergeser ke arah
kanan dari reaksi:
CaCO3(s)

CaO(s) + CO2(g)

Sehingga hal ini sesuai dengan prinsip Le Chatelier yang berkata posisi
kesetimbangan akan bergerak kearah yang berlawanan dari perubahan reaksi

3. Tuliskan reaksi (dekomposisi kalsium karbonat) dan turunkan


persamaan untuk menentukan konstanta kesetimbangan, apabila
diketahui kalsium oksida dan kalsium karbonat adalah padat. Jelaskan
bagaimana anda dapat menentukan derajat disosiasi untuk reaksi ini?
Apabila ada kenaikan tekanan, reaksi kesetimbangan akan bergerak
kearah mana? Jelaskan mengapa demikian!
Jawab :

22

Reaksi Dekomposisi Kalsium Karbonat


CaCO3 (s) CaO (s) + CO 2 (g)
H = 178 kJ / mol
Karena hanya CO2 yang memiliki fasa gas, maka menurut landasan teori,
nilai K menjadi
Kc= [ CO 2 ]
Cara menentukan derajat disosiasi ( ) dari reaksi diatas adalah
Mol zat yang terurai
=
Mol zat mulamula
Misalkan mol mula mula CaCO3 adalah n, dan mol yang bereaksi terurai
menjadi CaO dan
CO2 adalah x. Maka = x/n.
Menurut asas Le Chatelier, penambahan tekanan akan menyebabkan
kesetimbangan bergerak kearah ruas yang memiliki koefisien yang lebih
kecil. Pada reaksi dekomposisi CaCO 3 dimana hanya CO2 yang memiliki
fasa gas / aquos (persyaratan), maka yang dianggap hanyalah nilai koefisien
dari CO2, yaitu 1 pada ruas kanan, sehingga nilai koefisien di ruas kiri
dianggap nol.
Sehingga penambahan tekanan akan menyebabkan kesetimbangan bergeser
ke ruas kiri atau kea rah reaktan.
4. Andaikan reaksi dekomposisi tersebut terjadi pada suhu 1200K dan G o
= -13,8 kJ/mol, bagaimanakah anda dapat menentukan nilai konstanta
kesetimbangan reaksi tersebut? Apa yang terjadi dengan reaksi tersebut
apabila suhunya diturunkan atau dinaikkan? Bagaimana pengaruhnya
dengan nilai konstanta kesetimbangannya ? berikan satu contoh!
Jawab:
Menurut reaksi isoterm Vant Hoff
G = Go + RTlnK
Saat kondisi setimbang, nilai G = 0. Maka Go = -RTlnK
Dimana Go = energi bebas gibbs pada kondisi standar (J/mol)
R = Konstanta gas ideal (8,314 J/molK)
T = Temperatur dalam Kelvin
K = Konstanta kesetimbangan
Sehingga apa bila diketahui T = 1200K, dan Go = -13,8 kJ/mol, dapat
dihitung K

23

13800

J
=8,314 x 1200 x lnK
mol

lnK = 140.244
K = 8,075 x 1060
Dari rumus Gibbs dan kesetimbangan kimia, dapat dilihat bahwa besar K
sangat bergantung pada suhu. Besar lnK akan berbanding terbalik dengan
besar suhu (T).Kenaikan suhu akan menyebabkan nilai lnK semakin kecil, dan
penurunan suhu akan membuat nilai lnK semakin besar, dimana K nilainya
juga berbanding lurus dengan lnK, maka K juga berbanding terbalik dengan T.
Contoh, jika pada penyelesaian diatas, suhu diubah menjadi 1000K dan
1500K :
Nilai K berubah menjadi 1,226 x 1073 dan 5,317 x 1048
Jawab :
Metode B lebih berhasil untuk mendekomposisi CaCO3 dikarenakan ketika di
udara terbuka, CO2 yang berfase gas yang terbentuk akan langsung menyebar
ke udara luas sehingga hal ini mengakibatkan kesetimbangan bergeser ke arah
kanan dari reaksi:
CaCO3(s)
CaO(s) + CO2(g)
Sehingga hal ini sesuai dengan prinsip Le Chatelier yang berkata posisi
kesetimbangan kan bergerak kearah yang berlawanan dari perubahan reaksi

Bagian III
1. Berikan contoh reaksi esterifikasi, dan jika diasumsikan konsentrasi awal
pada molekul produk adalah nol, apa yang anda dapat katakan untuk
nilai konsentrasi produk reaksi tsb dalam kesetimbangan?
Jawab:
Contoh reaksi esterifikasi :

24

Nilai konsentrasi awal produk adalah nol, namun setelah terjadi reaksi
maka konsentrasi bertambah. Setelah setimbang tercapai, konsentrasi tidak
lagi berubah menurut keadaan waktu.

2. Selain digunakan sebagai zat aditif pada makanan, senyawa ester juga
banyak digunakan sebagai pelarut, contohnya etil etanoat. Berikan
penjelasan alasan pemilihan etil etanoat sebagai pelarut. Andaikan pada
reaksi pembentukan etil etanoat, konsentrasi asam asetat pada
kesetimbangan (suhu 298 K) adalah 0,24 mol/L dan etanol adalah 0,58
mol mol/L. Turunkanlah persamaan yang dapat digunakan untuk
menentukan nilai konstanta kesetimbangan untuk reaksi tsb. Jelaskan
bagaimana Anda dapat menentukan konsentrasi akhir dari semua spesi.
Jawab :
Etil asetat/etil etanoat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah
menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat dapat melarutkan
air hingga 3% dan larut dalam air hingga kelarutannya 8% pada suhu kamar.
Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun, senyawa ini
tidak stabil dalam air yang mengandung asam dan basa.
Etil asetat, yang juga dikenal dengan nama acetic ether, adalah pelarut yang
banyak digunakan pada industri cat, thinner, tinta, plastic, farmasi, dan
industri kimia organik.
Jika konsentrasi asam asetat pada kesetimbangan (suhu 298K) adalah 0,24
mol/dm3 dan etanol adalah 0,58 mol/dm3, maka perhitungannya adalah
sebagai berikut:
0

G= G + RT ln K

25

G=energi bebas dalam kondisi tertentu


0

G =energi bebas dalam kondisi standar


R=tetapan gas ideal=8.314 Jmol1 K 1
T =Temperatur ( K )
K=Tetapan kesetimbangan

Pada saat kesetimbangan, G=0 maka persamaan menjadi :


G0=RT ln K
G0 dari etil asetat adalah dengan mencari literatur nilai

Cara mencari

G 0 dari senyawa pembentukknya. Diketahui pada literatur bahwa


G0etil asetat

adalah 332.7 kJmol


3

.
1

(332.7 10 Jmo l )=( 8.314 Jmo l K )(298 K )ln K


ln K=134.285
134.285

K=e

58

=2.085 10

Maka, konstanta kesetimbangan untuk reaksi pembentukan etil asetat adalah


2.085 10 58 .
1

[ C H 3 COOC H 2 C H 3 ]
K=
1
1
[ C H 3 COOH ] [ C H 3 C H 2 OH ]
58

2.085 10 =

[ C H 3 COOC H 2 C H 3 ]
1

[ 0.24 ] [ 0.58 ]

[ C H 3 COOC H 2 C H 3 ]=2.902 1057


26

27

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
-

Pada proses reaksi kimia pembuatan barang kebutuhan sehari hari, banyak
digunakan prinsip kesetimbangan kimia, seperti Harber-Bosch, Ostwald dan
lainnya.

Kesetimbangan yang dibahas di dalam makalah ini adalah kesetimbangan


dinamis, dimana laju pembentukan produk sama dengan laju pengubahan
reaktan.

Kesetimbangan memiliki dua jenis yang bergantung dari fasa yang terlibatnya,
yaitu kesetimbangan homogen dan heterogen

Setiap reaksi kesetimbangan kimia akan mempunyai suatu konstanta


kesetimbangan (Kc dan Kp) yang hanya melibatkan fasa Aquos dan Gas pada
perhitungannya.

Konstanta kesetimbangan adalah suatu kontanta yang dipengaruhi suhu dan


energi bebas Gibbs.

Kesetimbangan dapat bergeser ke arah kiri atau kanan, tergantung dengan


kondisi perubahannya (menganut prinsip Le Chatelier dan Vant Hoff)

Apabila kesetimbangan bergeser, sistem akan mempunyai Quotient reaksi


(konstanta kesetimbangan sementara).

28

Daftar Pustaka

http://www.kompasiana.com/kharisrama/pemisahan-nitrogen-dan-oksigensecara-kriogenik_55281cb3f17e61b5198b45ad

http://rumushitung.com/2014/12/06/proses-pembuatan-amonia-haber-bosch/

https://prezi.com/qkkdqjx2n6mc/pembuatan-dan-manfaat-nitrogen/

Sudarmawan, Rizqi Pandu. 2014. Pemicu II Kesetimbangan Kimia (online )


Tersedia di :

https://www.scribd.com/doc/200522982/Makalah-Kimia-Fisika-Pemicu-2
(diakses 10 Oktober 2015)

Atkins, Peter & Julio de Paula. Physical Chemistry 8th ed W.H. Freeman

Pratiwi,Mega. Makalah Kesetimbangan Kimia.

https://www.academia.edu/11157238/Makalah_kesetimbangan_kimia (online)
Tersedia di : (diakses 10 Oktober 2015)

Krisnadwi. Pergeseran Kesetimbangan (online) Tersedia di :

http://bisakimia.com/2014/01/19/pergeseran-kesetimbangan-kimia/2/ (diakses
10 Oktober 2015)

29