Anda di halaman 1dari 3

1.

Captopril
merupakan obat antihipertensi dan efekif dalam penanganan gagal jantung dan
merupakan golongan Angiotensin Converting Enzyme" (ACE) Inhibitor.
Peningkatan sekresi aldosteron akan mengakibatkan ginjal meretensi natrium dan
cairan, serta meretensi kalium. Dalam kerjanya, captopril akan menghambat kerja
ACE, akibatnya pembentukan angiotensin ll terhambat, timbul vasodilatasi,
penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjalmensekresi natrium dan cairan serta
mensekresi kalium. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan
mengakibatkan peningkatan kerja jantung Captopril memiliki indikasi untuk
hipertensi berat hingga sedang, untuk gagal jantung yang tidak cukup responsif
atau tidak dapat dikontrol dengan diuretik dan digitalis, dalam hal ini pemberian
captopril diberikan bersama diuretik dan digitalis.
Sedangkan kontra indikasinya, bagi penderita yang hipersensitif terhadap
captopril atau penghambat ACE lainnya (misalnya pasien mengalami angioedema
selama pengobatan dengan penghambat ACE lainnya). Captopril memiliki efek
samping bila dikonsumsi dalam jangka waktu yang terlalu lama ataupun
dikonsumsi oleh penderita dengan gangguan penyakit lainnya yaitu captopril
menimbulkan proteinuria lebih dari 1 g sehari pada 0,5% penderita dan pada
1,2% penderita dengan penyakit ginjal. Efek samping ini terutama terjadi pada
penderita dengan gangguan fungsi ginjal. Neutropenia ini muncul dalam 1 - 3
bulan pengobatan, pengobatan agar dihentikan sebelum penderita terkena
penyakit infeksi. Pada penderita dengan resiko tinggi harus dilakukan hitung
leukosit sebelum pengobatan, setiap 2 minggu selama 3 bulan pertama
pengobatan dan secara periodik. Pada penderita yang mengalami tanda-tanda
infeksi akut (demam, faringitis) pemberian captopril harus segera dihentikan
karena merupakan petunjuk adanya neutropenia. Retensi kalium ringan sering
terjadi, terutama pada penderita gangguan ginjal, sehingga perlu diuretik yang
meretensi kalium seperti amilorida dan pemberiannya harus dilakukan dengan
hati-hati.
2. Furosemid
Diuretik kuat bekerja di ansa Henle pars asendens dengan menghambat kotransporter Na
+, K+, Cl- dan menghambat resorpsi air dan elektrolit. Diuretik kuat digunakan sebagai
antihipertensi terutama pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >2.5
mg/dL) atau gagal jantung. Termasuk dalam golongandiuretik kuat adalah furosemid,

bumetanid, torasemid dan asam etakrinat. Efeksampingnya antara lain hipokalemia,


hiponatremia, hipomagnesemia danhiperkalsiuria. Ex : furosemid , lasik
Furosemida adalah suatu derivat asam antranilat yang efektif sebagai diuretik.
Efek kerjanya cepat dan dalam waktu yang singkat. Mekanisme kerja furosemid
adalah menghambat penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli ginjal.
Furosemida meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, kalium dan tidak
mempengaruhi tekanan darah yang normal. Pada penggunaan oral, furosemida
diabsorpsi sebagian secara cepat dan diekskresikan bersama urin dan feses
(Lukmanto,2003)
Awal kerja obat terjadi dalam 0,5-1 jam setelah pemberian oral, dengan masa
kerja yang relatif pendek 6-8 jam. Absorpsi furosemida dalam saluran cerna
cepat, ketersediaan hayatinya 60-69 % pada subyek normal, dan 91-99 % obat
terikat oleh plasma protein. Kadar darah maksimal dicapai 0,5-2 jam setelah
pemberian secara oral, dengan waktu paruh biologis 2 jam (Siswandono,1995).
Resorpsinya dari usus hanya lebih kurang 50%, t plasmanya 30-60 menit.
Ekskresinya melalui kemih secara utuh, pada dosis tinggi juga lewat empedu
( Tjay dan Kirana, 2002). Menghambat pengeluaran elektrolit Natrium, Kalium
dan Kalsium pada lengkung henle.
Efek samping jarang terjadi dan relatif ringan seperti mual, muntah, diare, rash
kulit, pruritus dan kabur penglihatan. Pemakaian furosemida dengan dosis tinggi
atau pemberian dengan jangka waktu lama dapat menyebabkan terganggunya
keseimbangan elektrolit (Lukmanto,2003).
Secara umum, pada injeksi intra vena terlalu cepat dan jarang terjadi ketulian
(reversible) dan hipotensi. Dapat juga terjadi hipokaliemia reversibel (Tjay dan
Kirana, 2002).
Furosemida tersedia dalam bentuk tablet 20, 40, 80 mg dan preparat suntikan.
Umumnya pasien membutuhkan kurang dari 600 mg/hari. Dosis anak 2 mg/kg
BB, bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 6 mg/kg BB (Ganiswara,1995).

3. KSR
(Kalium Slow Release) Adalah obat yang digunakan untuk meningkatkan kadar
kalium dalam darah.
KSR 600MG TAB@100

Kandungan
KC1.
Indikasi
Pencegahan & pengobatan hipokalemia.
Kontra Indikasi
Gagal ginjal lanjut, penyakit Addison yg tak diobati, dehidrasi akut, hiperkalemia, obstruksi
GI.
Efek Samping
Mual, muntah, nyeri abdomen, diare. Jarang tukak sal cerna.
Perhatian
Gagal jantung kongestif, ggn fungsi ginjal
Dosis
1-2 tab 2-3 x1hr.
Interaksi
Diuretik hemat kalium, siklosporin, ACE inhibitor meningkatkan resiko hiperkalemia.
Kemasan
Tab salut selaput lepas lambat 600mg x 100.
Dikonsumsi bersamaan dengan makanan