Anda di halaman 1dari 3

Resensi ILUSI NEGARA DEMOKRASI

17.21 | Author: kontrademokrasi

Demokrasi berasal dari bahasa Latin : demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan). Konon,
Demokrasi berakar dari peradaban bangsa Yunani kuno pada 500 SM. Gagasan Demokrasi yang
berkembang di Yunani sempat hilang di Barat, saat Romawi takluk di tangan suku Jerman. Magna
Charta yang lahir pada 1215 dianggap sebagai jalan pembuka munculnya kembali Demokrasi di
Barat. Demokrasi tumbuh begitu pesat ketika Eropa bangkit pada Abad Pencerahan. Ide
Demokrasi terus mengalir hingga ke Timur Tengah pada pertengahan Abad ke-19.

Secara teoritis, inti atau substansi demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Demokrasi mengklaim
bahwa segala keputusan hukum selalu didasarkan pada prinsip suara mayoritas rakyat. Namun
yang terjadi sebetulnya adalah tirani minoritas karena pada kenyataannya parlemen sering
dikuasai oleh segelintir elit politik dan para pemilik modal. Karena itu pula diyakini, hanya
segelintir orang yang diuntungkan dari sistem pemerintahan yang demokratis ini.

Demokrasi melahirkan aneka tafsir terhadap dirinya. Karena itu, dalam praktiknya demokrasi
tidaklah seragam di berbagai negara. Sampai saat ini, perdebatan seputar negara mana yang
paling demokratis yang dianggap paling demokratis menjadi tampak absurd. Pasalnya, standar
yang digunakan untuk mengukur demokratis-tidaknya sebuah negara sering tidak standar.
Indonesia pernah didaulat sebagai jawara demokrasi hanya karena dianggap sukses
menyelenggarakan Pemilu 2004 secara damai. Namun demikian, tetap saja Amerika juga Eropa
dianggap sebagai kampiun demokrasi.

Semua itu hanya dinisbatkan pada kategori-kategori yang sangat artifisial yaitu pemilu damai,
transparansi, kebebasan, persamaan, dll. Robert Dahl dalam karyanya Polyarchy menyebut
delapan syarat sebuah negara demokrasi :
Kebebasan membentuk dan mengikuti organisasi
Kebebasan berekspresi
Hak memberikan suara
Eligibilitas untuk menduduki jabatan publik
Hak para pemimpin politik untuk berkompetisi secara sehat
Tersedianya sumber-sumber informasi alternatif
Pemilu yang bebas dan adil
Institusi-institusi untuk menjadikan kebijakan pemerintah bergantung pada suara rakyat.

Jelas, kategori-kategori di atas jauh dari substansi demokrasi itu sendiri. Artinya, baru

mencerminkan demokrasi kulit bukan isi.

Substansi demokrasi secara teoritik adalah kedaulatan rakyat. Namun dalam tataran praktik yang
sering terjadi adalah hukum besi oligarki. Di sisi lain, Demokrasi yang dekat dengan semboyan
kebebasan, persamaan, persaudaraan dalam praktiknya juga selalu menyisakan ironi.
Kemerdekaan (liberte) yang dimaksud ternyata hanya berlaku bagi kaum borjuis untuk
memonopoli pasar, begitu juga dengan persamaan (egalite) dan persaudaraan (fraternite). Semua
ini terjadi karena pada akhirnya segelintir orang itulah yang berdaulat, bukan rakyat.

Amerika Serikat ternyata juga mempunyai borok demokrasi. Sejarah telah membuktikan bahwa
demokrasi yang diklaim Amerika hanya dijadikan alat untuk mengintervensi sekaligus
menundukkan negara lain. Ironis, demi sebuah alasan luhur demokratisasi, Amerika justru
menggunakan cara-cara yang sangat tidak demokratis. Anehnya, meski kebobrokan demokrasi
demikian nyata, selalu ada pembelaan yang terkesan defensif dari para pengusungnya.

Adakah negara Demokrasi? Bagi seorang Muslim, pertanyaan ini penting untuk dijawab. Pasalnya,
Demokrasi kini telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan politik kaum Muslim di seluruh
dunia. Di tengah euphoria kaum Muslim terhadap Demokrasi, juga di tengah kepercayaan para
pengusungnya terhadap idealitas demokrasi yang diklaim sebagai tetap yang terbaik, buku ini
hadir justru dengan daya kritis yang luar biasa baik dalam teori maupun praktik demokrasi itu
sendiri. Dalam tataran teori, kelebihan buku ini terletak pada kemampuannya untuk membongkar
cacat demokrasi dari akarnya serta ketajamannya dalam menguak berbagai kelemahan filosofis
dan paradigmatis konsep kedaulatan rakyat sebagai ruh demokrasi. Dengan konteks ini pulalah,
buku ini hadir sebagai ikhtiar mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.

Buku ini adalah kumpulan tulisan dari sejumlah penulis yang dimuat di majalah al-Waie, terdiri
dari delapan bab yaitu :
Bab I : Demokrasi dalam Tataran Teori dan Praktik
Bab II : Demokrasi, Kapitalisme dan Problem Kesenjangan Kaya-Miskin
Bab III : Demokrasi : Sistem Politik yang Problematis
Bab IV : Sekularisasi dan Komersialisasi : Problem Pendidikan di Alam Demokrasi

Bab V : Demokrasi dan Penghancuran Sosial Budaya


Bab VI : Ilusi Negara Demokrasi
Bab VII : Islam vs Demokrasi
Bab VIII : Keniscayaan Negara Demokrasi

Meskipun sekadar kumpulan tulisan, buku ini berusaha tampil sebagai buku utuh yang
membincangkan secara lengkap dan integral seputar ilusi negara Demokrasi. Dalam tataran
praktik, buku ini secara tegas dan lugas mampu menghadirkan fakta-fakta yang justru
menegasikan teori-teori demokrasi dan klaim-klaim para pengusungnya, bahkan di negara-negara
yang diklaim sebagai kampiun demokrasi. Selain itu, didukung oleh fakta-fakta yang valid dan
meyakinkan, buku ini boleh dikatakan merupakan buku pertama di Indonesia yang cukup
berbobot, yang secara serius membongkar banyak aib Demokrasi, yang selama ini terlalu pekat
tertutupi oleh klaim-klaim yang terlalu berlebihan dari para pemujanya.

Buku ini menguak fakta umum dan merata bahwa demokrasi praktik sering bertentangan
dengan demokrasi teori. Buku ini juga mampu membalikkan klaim-klaim para pengusung
demokrasi. Yang sering menyatakan bahwa demokrasi menjamin kemakmuran, kesejahteraan dan
keadilan ; memberikan garansi kebebasan dan persamaan ; serta menawarkan kemajuan dan
keadaban. Faktanya, semua itu dusta belaka. Buku ini benar-benar membuktikan secara faktual,
bahwa demokrasi ideal hanya ada dalam khayal, tidak pernah membumi, dan bahwa cita-cita
mendirikan negara demokrasi memang hanya sebuah ilusi. Buku ini juga berhasil membuktikan
bahwa negara Demokrasi adalah negara Kleptokrasi, negara Para Maling yang dikuasai oleh
orang-orang bermental maling yang mencuri dan merampas kedaulatan rakyat.