Anda di halaman 1dari 9

HASIL KUNJUNGAN RUMAH

Kunjungan rumah dilakukan pada Rabu, 24 September 2014 pukul 18.30 WIB.
I.

Keadaan rumah

Status

: Rumah milik nenek pasien

Ukuran

: luas tanah : 15 x 10 m2
luas bangunan: 10 x 8 m2

Penghuni

: 6 orang: nenek, ayah, ibu, kakak pasien, pasien, adik dari ayah
pasien 1 orang

Dinding rumah

: bata dicat

Lantai rumah

: keramik putih ukuran 20cm x 20cm

Atap

: eternit, genting.

Ruangan

: Teras, ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, ruang makan,


dapur, kamar mandi dalam rumah

Ventilasi

: terdapat jendela di ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang


makan, dapur, atap ruangan dalam rumah tidak terdapat sekat.

Pencahayaan

: cahaya matahari masuk melalui pintu dan jendela

Sumber air minum : Air mineral kemasan pabrik


Sumber air masak : Air sumur dan direbus
Tempat sampah

: dikumpulkan lalu dibuang ke tempat sampah besar di pasar

Tempat penampungan air

: Bak penampungan air di kamar mandi berupa keramik

Kamar mandi

: Ada dua kamar mandi, di dalam rumah.


Terkesan cukup sering dibersihkan. Jamban ada 1 buah
di kamar mandi, selokan ada dan mengalir lancar.

Dapur

: Ada satu buah, di dalam rumah, peralatan makan


disimpan di samping meja memasak, tidak tertutup.

49

DENAH RUMAH

KM

KM

DAPUR
R.KELUARGA

KAMAR

KAMAR

R.TAMU

KAMAR

T
E
R
A
S

R.TAMU
TERAS

II.

Kebiasaan sehari - hari

II.1

Asuh
Pasien tinggal bersama nenek, ayah, ibu, kakak, dan adik perempuan ayah

yang masih kuliah. Ayah bekerja sebagai wiraswasta di Karanganyar. Ibu seorang ibu
rumah tangga. Nenek pasien masih bekerja sebagai penjahit dan membiayai keperluan
hidup sehari-hari dalam keluarga. Pasien sehari-harinya diasuh oleh ibu. Pasien
mendapatkan ASI sejak lahir hingga sekarang (usia 1 tahun 5 bulan). Pasien mulai
mendapat tambahan susu formula SGM sejak lahir sampai sekarang.
Makanan dalam keluarga selalu dimasak sendiri, habis dalam satu hari.
Minuman dari air mineral kemasan pabrik. Alat makan dicuci dengan air sumur
pompa dan sabun, anggota keluarga selalu mencuci tangan sebelum makan.
Pasien dirawat sepanjang hari oleh ibu, dan setiap pagi pasien dibawa keluar
ke teras untuk mendapat sinar matahari pagi. Pasien jarang dibawa keluar jauh atau
main ke tetangga oleh ibu. Mandi 2 kali sehari dengan air sumur pompa dan sabun,
pakaian kotor dicuci tiap hari. Rumah disapu dan dipel setiap hari. Tempat sampah 2

50

buah, berbentuk kantong plastik, kecil di dapur dan di depan rumah, tidak ada
tutupnya, dibuang setiap hari ke tempat pembuangan sampah di pasar.
Bila sakit anak dibawa ke dokter setempat, bila tidak sembuh baru berobat
IGD RSDK. Anak kontrol rutin ke dokter untuk pengukuran BB dan PB serta
mendapatkan imunisasi.
II.2

Asih
Kasih sayang diberikan oleh ayah, ibu, nenek, kakak, dan 1 orang bibi pasien.

Ayah bekerja di Karanganyar dari pagi dan baru pulang sore hari. Ibu tidak bekerja
sehingga bersama anak dari pagi sampai malam hari.
II.3

Asah :
Stimulasi mental diperoleh dari ibu yang berpendidikan tamat SMA, ayah
yang berpendidikan tamat D3, dan nenek yang berpendidikan tamat SMP.
Bermain dengan kakak di rumah.

III.

Lingkungan
Rumah penderita terletak di Jl. Karanganyar RT.06 RW. 02, Demak. Rumah

ukuran 15x10 meter persegi, memiliki teras, selokan (saluran air) terdapat di dalam
dapur, mengalir lancar, tidak/jarang terkena banjir. Rumah yang satu dengan yang lain
tidak berdempetan, kepadatan penduduk rendah. Rumah penderita berdinding tembok
bata sudah disemen dan dicat, lantai keramik, terdapat jendela, ventilasi kurang, dan
pencahayaan cukup. Dapur dan kamar mandi berada di dalam rumah. Penghuni rumah
enam orang yaitu nenek, ayah, ibu, kakak, pasien dan adik ayah pasien. Terdapat
tumpukan barang-barang di dalam rumah (terutama di ruang makan dan kamar). Jalan
di depan rumah berupa jalan semen dengan lebar 2 meter, dapat dilewati mobil.
Kesan : ukuran rumah memadai bagi penghuni, jumlah kamar kurang memadai untuk
penghuni, kondisi bangunan rumah cukup baik, kebersihan cukup baik, namun
kerapian dan ventilasi dalam rumah kurang, kebiasaan sehari-hari baik,
lingkungan sekitar rumah tidak padat.

51

IV. Dokumentasi kunjungan rumah

Jendela dan Rumah tampak depan

Kamar tidur pasien

52

Dapur

Kamar Mandi
V.

Pengelolaan Secara Komprehensif


Untuk dapat menanggulangi dan mengatasi masalah yang dihadapi penderita

ini dibutuhkan penganan dengan prinsip pengelolaan pasien secara komprehensif dan
holistik. Maka pada pasien tidak hanya diperhatikan pengelolaan dari segi kuratifnya
saja, tetapi dikelola secara keseluruhan yang meliputi upaya promotif, preventif, dan
rehabilitatif. Upaya promotif dan preventif dilakukan agar anak tidak sakit, sedangkan
upaya kuratif dan rehabilitatif dilakukan agar anak sembuh atau kembali pada
lingkungannya semula dengan memperhatikan faktor psikososial anak.
V.1

Kuratif
Pada pasien ini, diberikan terapi O2 nasal kanul 2 L/menit, Injeksi ampicilin

200 mg / 6jam IV, thyrax 50mcg/24 jam, paracetamol syrup 90 mg / 6 jam bila suhu
380C. Pada kasus ini, kebutuhan cairan 24 jam menurut berat badan adalah 850 cc
dengan memperhatikan restriksi cairan sebesar 10% menjadi 765 cc untuk mencegah
53

bahaya komplikasi CPSA. Digunakan Infus D51/2NS 240/10/10 tetes per menit (mikro)
dan sisanya diberikan dalam bentuk nutrisi per oral (susu entrakid dan ASI). Selain itu,
evaluasi keadaan umum, tanda vital, tanda distress respirasi, dan akseptabilitas diet.

Dukungan Nutrisi
Anak berusia 1 tahun 5 bulan saat dirawat, asupan nutrisinya didapat dari susu

entrakid 8x100 cc dan ASI yang diberikan semau anak. Kandungan kalori total dari
susu entrakid tersebut adalah 800 kal sedangkan kandungan proteinnya 23,2 gr.
V.2

Rehabilitatif
Pasien dirawat inap 4 hari di bangsal anak C1L1 RSUP Dr. Kariadi. Kemudian

pada hari perawatan ke-4 anak boleh pulang atas indikasi pulang pasien sebagai
berikut

Tidak sesak napas

Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik

Tidak terdapat suara tambahan paru

Nafsu makan baik

Kondisi umum baik

Tampak perbaikan secara klinis

Tidak ada komplikasi


Prognosis dari pasien ini adalah ad bonam. Hal tersebut dikarenakan pada pasien ini
memberikan respon positif terhadap pengobatan, orang tua kooperatif, dan status gizi
pasien termasuk status gizi baik.
V.3

Promotif dan Preventif

Infeksi respiratorik akut (IRA) merupakan penyebab terpenting morbiditas dan


mortalitas pada anak. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan
mortalitas anak berusia dibawah lima tahun (balita). Kasus IRA yang dapat menjadi
infeksi serius pada anak adalah IRA bawah yang berupa pneumonia dan bronkiolitis,
khususnya pada anak di bawah 5 tahun. Angka kematian IRA bawah di dunia cukup
tinggi yakni 4,3 juta per tahun. Kejadian IRA bawah di negara berkembang lebih
sering dan lebih berat, hal ini menjadi penyebab tertinggi kematian pada anak.1
Pada pasien ini, dilakukan upaya promotif dan preventif baik kepada anak
dan keluarga yang tinggal bersama anak meliputi edukasi mengenai penyakit
bronkopneumonia. Dilakukan juga upaya kuratif untuk hipotiroid kongenital anak dan
upaya rehabilitatif untuk keterlambatan perkembangan anak.
Saran dan edukasi yang diberikan kepada orangtua penderita adalah sebagai berikut:
1. Upaya promotif yang dilakukan kepada keluarga pasien meliputi:
A. Pengetahuan tentang bronkopneumonia
54

Pada pasien ini diberikan leaflet untuk memudahkan orang tua dalam memahami
bronkopneumonia dan tindakan yang dilakukan bila menemui gejala yang
mengarah pada bronkopenumonia
Target:
Orang tua dapat mengenali tanda dan gejala bronkopneumonia
Orang tua dapat menyebutkan cara penganganan awal pada demam yang terjadi

B. Edukasi untuk membuka jendela setiap pagi hari agar sinar matahari dapat masuk
dan sirkulasi udara lebih lancar, edukasi saat batuk agar ditutup dengan lengan.
Target:
- Tirai dan jendela dibuka setiap pagi, agar cahaya dan udara pagi dapat
2.

masuk
Upaya preventif yang dilakukan kepada keluarga pasien meliputi: usaha preventif
menganjurkan pada orangtua penderita supaya segera memeriksakan anak ke
fasilitas kesehatan terdekat jika timbul gejala yang sama, obat yang diberikan
supaya diminum sesuai dengan ketentuan, dan menjaga higienitas anak.

3.

Upaya kuratif yang dilakukan untuk hipotiroid kongenital pasien adalah dengan
minum thyrax 50mcg/24 jam dan rutin kontrol di poli endrokin RSDK.

55

4.

Upaya

rehabilitatif

yang

dilakukan

untuk

menangani

keterlambatan

perkembangan anak adalah dengan kontrol di poli tumbuh kembang dan


pemberian stimulasi kepada anak.
VI. Pengelolaan Secara Holistik
Pengelolaan secara holistik meliputi intervensi lingkungan mikro, mini, meso,
dan makro.
VI.1

Lingkungan mikro
Berupa interaksi anak dengan ibu atau pengasuhnya. Ibu atau pengasuh

berperan dalam pendidikan, gizi, imunisasi, dan pengobatan sederhana pada anak. Ibu
adalah orang pertama di rumah yang memegang peranan penting terhadap proses
tumbuh kembang anak dan perawatan anak ketika anak sakit. Rendahnya pengetahuan
ibu tentang kesehatan juga mempengaruhi sikap yang diambil ketika anak sakit,
seperti usaha mengobati sendiri. Pengetahuan ibu mengenai kesehatan yang kurang
juga menyebabkan kurangnya perhatian terhadap makanan dan tumbuh kembang
anak.
Pada pasien ini, dari hasil wawancara dengan ibu tentang infeksi saluran
nafas (bronkopneumonia), ibu memiliki kesadaran tinggi untuk langsung membawa
anak ke fasilitas kesehatan terdekat ketika menemui gejala-gejala seperti batuk, nafas
menjadi lebih cepat, sesak, dan demam pada anak sehingga anak tidak terlambat
mendapatkan pertolongan.
VI.2

Lingkungan mini
Berupa interaksi anak dengan anggota keluarga lain, keadaan rumah, dan

suasana rumah dimana anak tinggal. Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien
adalah nenek, ayah, ibu, kakak, dan bibi pasien. Anak telah diberi stimulasi oleh
nenek, ayah, ibu, dan kakak sehingga terdapat kemajuan perkembangan.
Dari hasil wawancara dengan ibu, diketahui bahwa anak cukup mendapat
perhatian dari nenek, ayah, ibu yang bergantian mengasuh anak. Dilihat dari keadaan
rumah, keluarga cukup menjaga kebersihan rumah, namun kerapian kurang. Hal ini
dapat dilihat dari banyak barang yang menumpuk di ruang makan dan di kamar. Pada
kasus bronkopneumonia perlu adanya perhatian terhadap kelancaran ventilasi udara
dalam rumah agar sirkulasi udara di dalam rumah bagus, sanitasi rumah juga harus
baik.
VI.3

Lingkungan meso
56

Lingkungan meso meliputi interaksi anak dengan tetangga, teman-teman


sepermainan suasana lingkungan sekitar, dan tersedianya pelayanan kesehatan. Anak
memiliki keterlambatan perkembangan sehingga masih terlalu dini untuk mulai
diperkenalkan dengan tetangga. Jarak daerah tempat tinggal terjangkau dengan sarana
pelayanan kesehatan. Pada kasus ini rumah pasien dekat dengan praktek dokter
umum, sedangkan jarak rumah ke rumah sakit terdekat 15 menit ditempuh dengan
kendaraan.
VI.4

Lingkungan makro
Merupakan lingkungan yang meliputi wilayah yang lebih luas. Meliputi

kebijakan pemerintah, sosial, budaya masyarakat, dan lembaga non pemerintahan


yang ikut andil dalam usaha tumbuh kembang anak yang optimal.
Yang perlu diperhatikan pada kasus ini di antaranya adalah:

Keluarga mampu mengenalkan dan mengajarkan anak mengenai sosial budaya

dan norma yang berlaku di masyarakat.

Pentingnya pemerintah memperhatikan tata kota dan daerah pemukiman

penduduk, guna meningkatkan kesehatan warga dan mencegah penyakit menular.

57