Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa dipakai oleh masyarakat penuturnya untuk keperluan
komunikasi sesuai keadaan atau keperluan yang mereka hadapi. Bahasa
yang dipakai oleh masyarakat untuk setiap tempat berbeda beda, karena
setiap tempat memiliki peran dan kebutuhan yang berbeda. Setiap tempat
memiliki ragam bahasa yang berbeda. Perbedaan bahasa disebabkan
karena masyarakat terbiasa menggunakan bahasa sesuai dengan kondisi
dan kebutuhan di tempat umum tersebut. Keragaman bahasa yang ada di
tempat umum inilah yang membuat masyarakat lebih mudah dalam
berkomunikasi di tempat umum.
Keragaman bahasa di tempat umum dapat di kategorikan dalam
berbagai macam yaitu pencampuran bahasa, penggunaan bahasa daerah,
dan penggunaan istilah. Pencampuran bahasa yaitu penggunaan bahasa
menggunakan perpaduan antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah,
biasanya di gunakan di tempat umum yang masyarakatnya berasal dari
berbagai daerah. Penggunaan bahasa daerah yaitu penggunaan bahasa
daerah dalam berkomunikasi di tempat umum, biasanya digunakan di
tempat umum yang masyarakatnya berasal dari daerah tersebut. Sedangkan
penggunaan istlah digunakan masyarakat untuk menyesuaikan suatu
bahasa agar mudah dipahami oleh masyarakat, bahasa ini timbul karena
kebiasaan masyarakat yang sering menggunakan bahasa tersebut.
Ragam bahasa muncul karena interaksi social. Hal tersebut
sebagaimana terjadi di Pasar Projo Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan
Stasiun Tawan. Tempat umum tersebut memiliki bahasa yang berbeda.
B. Pembatasan Masalah
Mengingat kemampuan yang terbatas, penelitian ini akan dibatasi pada
pemakaian ragam bahasa di Pasar Projo, Terminal Banyumanik, dan Stasiun
Tawang.
C. Perumusan Masalah

a. Apa saja ragam kata yang digunakan pedagang di Pasar Projo?


b. Bagaimana ragam kata pada pedagang di Pasar Projo?
c. Faktor-faktor apa saja yang melatar belakangi penggunaan bahasa
pedagang di Pasar Projo?
c. Apa saja ragam kata yang digunakan di Terminal Banyumanik?
d. Bagaimana ragam kata di Terminal Banyumanik?
e. Faktor-faktor apa saja yang melatar belakangi penggunaan bahasa di
Terminal Banyumanik ?
f. Apa saja ragam kata yang digunakan di Stasiun Tawang?
g. Bagaimana ragam kata di Stasiun Tawang?
h. Faktor-faktor apa saja yang melatar belakangi penggunaan bahasa di
Stasiun Tawang ?
D.

Tujuan Penelitian
1. Mengetahui bahasa yang digunakan di Pasar Projo, Terminal Banyumanik,
dan Stasiun Tawang.
2. Mengetahui ragam bahasa di Pasar Projo, Terminal Banyumanik, dan
Stasiun Tawang.
3. Mengetahui faktor-faktor yang melatar belakangi penggunaan bahasa di
Pasar Projo, Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang.

E. Metodelogi Penelitian
Metode penelitian berguna untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan
dalam rangka mencapai tujuan yang ditentukan. Adapun metode penelitian
merupakan alat, prosedur, dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan
penelitian. Penulisan menggunakan metode observasi. Penulis melakukan
observasi dengan mengunjungi tempat umum yakni pasar, terminal, dan
stasiun.

F. Kajian Teori

a. Bahasa
a. Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan salah satu alat yang sistematik untuk
menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-tanda,
bunyi-bunyi, atau ciri-ciri yang konvensional dan memiliki arti yang
dimengerti.
b. Fungsi bahasa
Fungsi bahasa menurut Keraf (1999: 3-7), diantaranya yaitu:
1) Menyatakan ekspresi diri
2) Bahasa sebagai alat komunikasi
3) Bahasa sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial.
4) Bahasa sebagai alat mengadakan kontrol sosial
Mustansyir, dalam (Keraf 2002) membagi fungsi bahasa menjadi 3
bagian, diantaranya yaitu:
1) Appel yaitu bahasa yang berisi perintah atau permintaan yang
diajukan kepada lawan bicara, supaya mengerjakan perintah atau
permintaan pembicara atau penulis.
2) Ausdruck yaitu bahasa untuk menyatakan suasana hati yang
ditujukan kepada dirinya sendiri.
3) Darstellung, yaitu bahasa yang bermaksud menunjukkan objek
tertentu untuk menunjuk dan menjelaskan sesuatu.
b. Semantik
a. Pengertian semantik
Semantik menurut Kridalaksana (2001: 193) yaitu:
1) bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna suatu
wicara,
2) sistem penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa
pada umumnya.

b. Pengertian Makna
Untuk dapat memahami apa yang disebut makna, menurut
Saussure (dalam Chaer, 1995: 29) perlu mengingat teori tentang tanda
linguistik (Signe linguistique). Setiap tanda lingusitik terdiri dua unsur,
yaitu : (1) yang diartikan (Signifie, signifea), dan (2) yang mengartikan
(Signifiant, signifier). Yang diartikan konsep atau makna dari tanda
bunyi, sedangkan yang mengartikan adalah bunyi yang terbentuk dari
fonem yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain, setiap tanda
linguistik terdiri dari unsur bunyi dan makna.
G.

Metode Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan dan
mencari keterangan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah di Pasar
Projo Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang.
Waktu pelaksanaan program adalah waktu yang dipilih untuk
mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh sehubungan dengan
penelitian ini. Pengumpulan data berupa ragam bahasa di Pasar Projo
Ambarawa,

Terminal

Banyumanik,

dan

Stasiun

Tawang

sudah

dilaksanakan pada bulan November 2015


2. Objek Penelitian, Data, dan Konteks Data
Objek penelitian ini adalah ragam bahasa. Data berupa kata, yang
mengandung suatu ungkapan yang terdapat pada percakapan Pasar Projo
Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang. Konteks data
disertakan karena keberadaannya sangat penting untuk keperluan
identifikasi data dan mengungkapkan alasan penggunaannya dan
mengklasifikasikan pemaknaan.

3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah penggunaan kata sapaan
pada percakapan di Pasar Projo Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan
Stasiun Tawang.
4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a. Teknik simak
Data dikumpulkan dengan cara menyimak terlebih dahulu pada
kata sapaan pada percakapan di Pasar Projo Ambarawa, Terminal
Banyumanik, dan Stasiun Tawang.
b. Teknik Catat
Setelah data yang dikumpulkan di simak kemudian mencatatnya,
sesuai atau tidakkah bahasa sapaan tersebut digunakan.
c. Teknik Survey
Teknik Survey yaitu teknik untuk mencari data yang ada di
lapangan atau tempat sebagai sasaran penelitian. Metode ini dilakukan
dengan melalui wawancara yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan
pertanyaan-pertanyaan kepada para responden dan kegiatan dilakukan
secara lisan. Metode ini dilakukan dengan mengungkapkan pertanyaanpertanyaan

pada setiap percakapan para pedagang atau dengan

menanyakan secara langsung kepada informan atau pihak yang


kompeten dalam suatu permasalahan.
5. Analisis Data
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan yaitu metode agih
dan metode padan. Metode agih merupakan metode yang oleh penentunya
bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto, 1993: 15 ).
Adapun teknik yang digunakan adalah tehnik perluas yaitu teknik yang

digunakan untuk menentukan atau mencari segi-segi pemaknaan (aspek


semantik) satuan lingual tertentu. Teknik perluas ini digunakan dengan
tujuan untuk menentukan atau mencari segi pemaknaan yang terdapat pada
kata sapaan pada percakapan di Pasar Projo Ambarawa, Terminal
Banyumanik, dan Stasiun Tawang. Metode padan yaitu metode yang
dikaitkan dengan acuan di luar yang melingkupi kehidupan masyarakat.
6. Penyajian Hasil Penelitian
Metode penyajian hasil penelitian ini menggunakan metode
informal. Penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa
walaupun dengan terminologi yang tekniknya sama (Sudaryanto, 1993:
145). Penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini berwujud laporan
tertulis dengan menggunakan kata-kata biasa yaitu informal.
H.

Hasil Penelitian
Data ragam bahasa yang diperoleh dalam penelitian menghasilkan berbagai
ragam bahasa. Selengkapnya wujud kata sapaan yang digunakan masyarakat
di Pasar Projo Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang. adalah
sebagai berikut:
a. Pemakaian bahasa di Pasar Projo Ambarawa

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

: Badhe pados nopo mbak?


: Mangga sekilo pinten bu?
: Sekilo Rp 12.000,- mbak, apik - apik
: Kok Rp 12.000,-, Rp 8.000,- entuk?
: Tambahi sekedik lah mbak, saking gene

dereng angsal

Pembeli

Penjual

: Rp 10.000,- mpun pas

Pembeli

: Rp 9.000,- bu kula tumbas rong kilo

Penjual

: Nggih mpun kula timbang kangge panglaris

: Pase pinten bu?

b. Pemakaian bahasa di Terminal Banyumanik


Asongan 1
: Mase, mbake, bapak, ibu sprite fanta lontong

cangcimen mete tahu goreng aqua aqua


Asongan 2
: Sayang anak sayang anak dibeli dibeli sepuluh

ewunan pak bu murah murah


Asongan 2
: Walah, sirahku mumet dek, mau tak templeki

koyok. Ket mau durung enek sek payu.


Asongan 1
: Lah iki loh thekku yo sek akeh
Kernet
: Jarene sekolah gratis, tapi sek kon mbayar seragam
Asongan 2
: Lah iki dagangan urung payu, anakku wes njaluk

duwit.
Kernet
Asongan 1
Asongan 2

: Mosok toh?
: Rasah tuku seragam.
: Lah nek ra tuku seragam anakku arep sekolah

nggae opo? Budal sekolah arep ra seragaman, arep udo? Saiki ra

enek sekolah gratis.


Kernet
: wes wes urip digawe santai wae

c. Pemakaian bahasa di Stasiun Tawang

Penjual
Penumpang 1
Penjual
Penumpang 1
Penjual
Penumpang 1
Penumpang 2
Penumpang 1
Penumpang 2
Penumpang 1

: Masnya di kursi 11A gerbong 3


: berangkat jam berapa yah keretanya ?
: Jam 17.30 mas
: Berarti saya sampai sini sebelum jam 17.30 ?
: Iya tho mas.
: Matursuwun.
: Bro, lali koe karo aku.
: Wehh, koe Bayu tho. piye kabare?
: Sehat waras bro, koe arep mulih nengdi?
: Aku mulih Jakarta.

Analisis Jenis Ragam bahasa di Pasar Projo Ambarawa, Terminal


Banyumanik, dan Stasiun Tawang.
Analisis penggunaan ragam bahasa di Pasar Projo Ambarawa, Terminal
Banyumanik, dan Stasiun Tawang meliputi jenis ragam bahasa dalam bahasa

keseharian. Selanjutnya analisis penggunaan ragam bahasa di Pasar Projo


Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang adalah sebagai
berikut:
1) Penggunaan Bahasa Jawa
Di Pasar Projo Ambarawa
Badhe pados nopo mbak? (Mau cari apa mbak?)
Mangga sekilo pinten bu? (Mangga sekilo berapa bu?)
Sekilo Rp 12.000,- apik - apik. (Sekilo Rp 12.000,- bagus
bagus).
Kok Rp 12.000,-, Rp 8.000,- entuk? (Kok Rp 12.000,-, Rp
8.000,- boleh?)
Tambah sekedik lah mbak, saking gene dereng angsal.
(Tambahi sedikit lah mbak, segitu belum dapat).
Rego pase pinten bu? (Harga pasnya berapa bu?)
Rp 10.000,- mpun pas. (Rp 10.000,- sudah pas).
Rp 9.000,- bu kula tumbas rong kilo. (Rp 9.000,- bu saya
beli dua kilo).
Nggih mpun kula timbang kangge panglaris. (Ya sudah
saya timbang sebagai penglaris).
Di Terminal Banyumanik
Mase, mbake, bapak, ibu sprite fanta lontong cangcimen
mete tahu goreng aqua aqua. (Masnya, mbaknya, bapak,
ibu sprite fanta lontong cangcimen mete tahu goreng aqua
aqua. Cangcimen adalah singkatan dari kacang, kuaci,
permen).

Walah, sirahku mumet dek, mau tak templeki koyok. Ket


mau durung enek sek payu. (Halah, kepalaku pusing dek,

tadi tak tempelin koyok. Dari tadi belum ada yang laku).
Lah iki loh thekku yo sek akeh. (Lah ini punyaku juga

masih banyak).
Jarene sekolah gratis, tapi sek kon mbayar seragam.

(Katanya sekolah gratis, tapi masih disuruh bayar seragam).


Lah iki dagangan urung payu, anakku wes njaluk duwit.
8

(Lah ini dagangan belum laku, anakku udah minta uang).


Rausah tuku seragam. (Tidak usah beli seragam).
Lah nek ra tuku seragam anakku arep sekolah nggae opo?
Budal sekolah arep ra seragaman, arep udo? Saiki ra enek
sekolah gratis. (Lah kalau tidak pakai seragam, ke sekolah
mau pakai apa, mau telanjang? Sekarang tidak ada sekolah

gratis).
wes wes urip digawe santai wae. (sudah sudah hidup
dibuat santai saja).

Di Stasiun Tawang
Matursuwun. (Terimakasih).
Wehh, koe Bayu tho. piye kabare? (Eh, kamu Bayu kan.

2)

Bagaimana kabarnya?)
Aku mulih Jakarta. (Aku pulang Jakarta).

Penggunaan Bahasa Indonesia


Di Stasiun Tawang
Masnya di kursi 11A gerbong 3
Berangkat jam berapa yah keretanya ?
Jam 17.30 mas
Berarti saya sampai sini sebelum jam 17.30 ?

3) Penggunaan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa


Di Terminal Banyumanik
Sayang anak sayang anak dibeli dibeli sepuluh ewunan
murah murah. (Sayang anak sayang anak dibeli dibeli
sepuluh ribuan murah murah).
Di Stasiun Tawang

Iya tho mas. (iya kan mas).

4) Penggunaan Bahasa Asing dengan Bahasa Jawa


Di Stasiun Tawang

Bro, lali koe karo aku. (Teman, kamu lupa sama saya).
Sehat waras bro, koe arep mulih nengdi? (Sehat teman,
9

kamu mau pulang kemana?)


5) Kata Sapaan
Kata Sapaan Mas

Masnya di kursi 11A gerbong 3


Jam 17.30 mas
Iya tho mas.

Kata Sapaan Mbak

Badhe pados nopo mbak?

Sekilo Rp 12.000,- mbak, apik - apik

Tambahi sekedik lah mbak, saking gene dereng angsal

Kata Sapaan Bu

Mangga sekilo pinten bu?

Pase pinten bu?

Rp 9.000,- bu kula tumbas rong kilo

Kata Sapaan Dek

Walah, sirahku mumet dek, mau tak templeki koyok. Ket


mau durung enek sek payu.

Kata Sapaan Bro

Bro, lali koe karo aku.


Sehat waras bro, koe arep mulih nengdi?

Kata Sapaan Nama diri

Wehh, koe Bayu tho. piye kabare?

Faktor-faktor yang Melatar Belakangi Penggunaan Bahasa di Pasar

10

Projo Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang


Suhardi dan Sembiring (2007) menyatakan bahwa keberagaman
bahasa ditentukan oleh berbagai aspek luar bahasa, seperti kelas sosial, jenis
kelamin, etnisitas, dan umur. Sebagian besar aspek tersebut merupakan hal-hal
yang berkaitan dengan pemakai bahasa itu. Adanya perbedaan dialek dan
aksen dalam satu komunitas merupakan bukti keberagaman itu yang
keberadaannya dipengaruhi oleh aspek-aspek sosial, misalnya daerah asal
pembeli, lingkungan pasar, lingkungan bergaul dan sebagainya. Kesamaan
daerah asal memungkinkan munculnya dialek-dialek daerah yang tidak lazim
digunakan pada tempat tinggal mahasiswa saat ini. Kesamaan hobi antara
penghuni pedagang , misalnya pada olahraga, game, dan lain sebagainya
memunculkan dialek-dialek yang sering digunakan pada kegiatan hobi
tersebut.
Faktor-faktor pembentukan Ragam Bahasa meliputi:
a. Kelas Sosial
Faktor-faktor pembentukan ragam bahasa yang berdasarkan kelas
sosial ditunjukkan oleh penggunaan ragam bahasa pak dan bu.
Penggunaan kata sapaan tersebut digunakan pada kalangan-kalangan
tertentu yang memiliki pola pergaulan dan keeratan hubungan yang
berbeda dari pergaulan anak-anak pada umumnya.
b. Jenis kelamin
Faktor-faktor pembentukan ragam bahasa yang berdasarkan jenis
kelamin ditunjukkan oleh penggunaan kata sapaan mas, mbak, dan bu.
1) Kata sapaan mbak digunakan untuk menyapa seseorang perempuan
yang memiliki usia lebih tua, belum dikenal atau dihormati oleh
petutur.
2) Kata sapaan mas digunakan untuk menyapa seseorang laki-laki
yang memiliki usia lebih tua, belum dikenal atau dihormati oleh
petutur.
3) Kata sapaan bu digunakan untuk menyapa seseorang perempuan

11

yang memiliki usia lebih tua, belum dikenal atau dihormati oleh
petutur serta dianggap telah berkeluarga.
c. Umur
Faktor-faktor pembentukan ragam bahasa yang berdasarkan umur
ditunjukkan oleh penggunaan kata sapaan dek, yaitu kata sapaan
kepada seseorang baik laki-laki atau perempuan yang memiliki umur
lebih muda.
I. Pembahasan
Sistem ragam bahasa muncul akibat adanya interaksi sosial.
Sumampouw dalam Pratiwi (1985) menegaskan bahwa setiap tindak ujaran
yang dihasilkan dalam peristiwa ujaran yang tercipta karena adanya interaksi
sosial bersemuka, dengan ragam apapun, salah satu seginya yang penting
adalah sistem penyapaan. Sistem sapaan dalam interaksi sosial memiliki
sebutan lain yaitu tutur sapa. Interaksi diantara mereka yang disebabkan
adanya hubungan sekolah yang sama, tempa pedagang yang sama atau asal
daerah yang sama akan menimbulkan suatu sistem sapaan yang berbeda-beda.
Keterkaitan kesamaan masyarakat dan budaya, satu tempat kerja, satu
asal daerah menimbulkan adanya suatu sistem penggunaan bahasa lisan yang
berbeda-beda. Hal tersebut sebagaimana pendapat Kridalaksana (1982) yang
menjelaskan bahwa sistem tutur sapa yakni sistem yang mempertautkan
seperangkat kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dipakai untuk menyebut
dan memanggil para pelaku dalam suatu peristiwa bahasa. Lebih lanjut
Kartomiharjo dalam Subiyatningsih (2008) mengatakan bahwa sapaan
merupakan salah satu komponen bahasa yang penting karena dalam sapaan
tersebut dapat ditentukan suatu interaksi tertentu akan berlanjut. Walaupun
sebagian besar pembicara tidak menyadari betapa pentingnya penggunaan
sapaan, tetapi karena secara naluriah setiap pembicara akan berusaha
berkomunikasi secara jelas, maka dalam berkomunikasi, dengan bahasa

12

Keragaman penggunaan bahasa juga nampak pada penggunaan bahasa


di kalangan pedagang di wilayah Pasar Projo, Terminal Banyumanik, dan
Stasiun Tawang. Bahasa sapaan seperti mas, mbak, bu, bro, dek, dan nama diri
merupakan salah satu contoh-contoh bahasa sapaan yang sering muncul di
wilayah tersebut. Penggunaan bahasa sapaan di tempat tempat tersebut
tersebut tentunya tidak hadir begitu sana, namun dipengaruhi oleh faktorfaktor internal dan eksternal.
Bahasa sapaan bro merupakan dampak dari bahasa-bahasa sapaan yang
ditampilkan dari media-media elektronik. Pergaulan antar orang yang
memiliki budaya yang beragam berdasarkan latar belakang budaya asal
tempat tinggal, serta kelompok-kelompok bermain. Hal tersebut sebagaimana
dikemukakan oleh Sumampouw (2000) yang menyebutkan bahwa sistem
sapaan muncul akibat adanya interaksi sosial. Setiap tindak ujaran yang
dihasilkan dalam peristiwa ujaran yang tercipta karena adanya interaksi sosial
bersemuka dengan ragam apapun. Salah satu seginya yang penting adalah
sistem penyapaan.

J.

Kesimpulan
1. Ragam bahasa yang digunakan dalam tuturan Pasar Projo Ambarawa,
Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang yaitu penggunaan Bahasa
Jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa, dan
Bahasa Asing dengan Bahasa Jawa.
2. Ragam bahasa sapaan di Pasar Projo Ambarawa, Terminal Banyumanik,
dan Stasiun Tawang meliputi ragam bahasa sapaan sebagai kata ganti dan
istilah kekerabatan.
3. Faktor-faktor yang melatar belakangi penggunaan keragaman bahasa di

Pasar Projo Ambarawa, Terminal Banyumanik, dan Stasiun Tawang


meliputi faktor kelas sosial, jenis kelamin, dan umur.

13