Anda di halaman 1dari 45
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Versi/Revisi : 1/4 Tanggal Berlaku : 7 September 2015 Kode Dokumen : BPSP-BH-FK-3.5.1

UNIVERSITAS

ISLAM

INDONESIA

Versi/Revisi

: 1/4

Tanggal Berlaku

: 7 September 2015

Kode Dokumen

: BPSP-BH-FK-3.5.1

PANDUAN SKILLS PRACTICE BLOK INTRODUKSI (1.1)

Semester I Tahun Akademik 2014-2015

oleh :

TIM BLOK INTRODUKSI (1.1)

YOGYAKARTA

2015

Buku Panduan Skills Practice

VISI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Blok Introduksi (1.1)

Terwujudnya FK UII sebagai rahmatan lil 'alamin, memiliki komitmen pada kesempurnaan (keunggulan), risalah Islamiyah di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat dan dakwah, setingkat dengan Fakultas Kedokteran yang berkualitas di negara-negara maju

MISI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

FK UII sebagai Fakultas Kedokteran yang bermutu menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat, menguasai ilmu ke-Islaman dan mampu menerapkan nilai-nilai Islami serta berdaya saing tinggi, memiliki keunggulan dalam keislaman, keilmuan, kepemimpinan, keahlian, kemandirian dan profesionalisme

VISI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Terwujudnya Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia sebagai rahmatan lil 'alamin, memiliki komitmen pada kesempurnaan (keunggulan), risalah Islamiyah di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat dan dakwah, setingkat dengan Program Studi Pendidikan Dokter yang berkualitas di negara-negara maju pada tahun 2021

MISI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia sebagai program studi yang menghasilkan dokter yang bermanfaat bagi masyarakat, mampu menerapkan nilai-nilai Islami serta berdaya saing tinggi, memiliki keunggulan dalam keislaman, keilmuan, kepemimpinan, keahlian, kemandirian dan profesionalisme

Buku Panduan Skills Practice

DAFTAR ISI

Blok Introduksi (1.1)

Halaman Sampul-------------------------------------------------------------------------------- i

Daftar Isi-------------------------------------------------------------------------------------------iii

Tim Blok -------------------------------------------------------------------------------------------iv

Keterampilan Belajar

  • I. Note Taking------------------------------------------------------------------------------3

II. Critical Thinking ------------------------------------------------------------------------7 III. Reading----------------------------------------------------------------------------------13 IV. Teknik Penulisan Karya lmiah -------------------------------------------------------17 V. Teknik Presentasi -----------------------------------------------------------------------30

Keterampilan Medik

Dasar-dasar Pemeriksaan Fisik -------------------------------------------------------37

Buku Panduan Skills Practice

TIM BLOK INTRODUKSI (1.1) TA 2014-2015

Blok Introduksi (1.1)

Penanggung Jawab : Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Ketua

: dr. Ika Fidianingsih,MSc

Anggota

: 1. Prof. Dr. Wiryatun Lestariana, Apt

  • 3. dr. Yenny Dyah C, M.Med.Ed

  • 4. dr. Ranita Parjaman

  • 5. dr. Fajar Alfa Saputra

  • 6. dr. Miranti Dewi P, M.Sc

iv

Fakultas Kedokteran UII

Buku Panduan Skills Practice

Blok Introduksi (1.1)

Keterampilan

Belajar

Buku Panduan Skills Practice

Blok Introduksi (1.1)

Buku Panduan Skills Practice

Blok Introduksi (1.1)

I. NOTE TAKING (MEMBUAT CATATAN)*

Tujuan Belajar : Mahasiswa dapat menjelaskan dan mengaplikasikan teknik mencatat yang baik

Salah satu ketrampilan yang mendukung proses independent learning adalah membuat catatan. Ketrampilan dalam membuat catatan secara efisien akan sangat membantu mahasiswa dalam belajar dan mengingat informasi. Saat mencatat, diperlukan ketrampilan untuk memilih mana materi yang penting. Rahasia dari ketrampilan ini adalah berlatih. Mencatat dapat menambah daya ingat kita terhadap suatu materi. Prinsip dasar adalah bahwa catatan yang efektif akan membantu mahasiswa untuk aktif terlibat dalam suatu materi, mengorganisasinya, memberi kode dan mengintegrasikannya dengan prior knowledge.

Fakta: Beberapa mahasiswa suka menggaris bawah atau menstabilo textbook yang dibacanya, begitu banyak yang distabilo sehingga tidak jelas lagi mana yang poin dan mana subpoin.

Beberapa petunjuk saat kita mencatat:

  • 1. Jangan menulis setiap kata yang kita baca atau yang kita dengar.Pilihlah point utama. Konsentrasi untuk menemukan “daging” informasi.

  • 2. Catatan sebaiknya terdiri dari kata kunci atau kalimat (yang sangat) pendek.

  • 3. Buatlah catatan yang akurat. Kita sering harus menggunakan kata-kata sendiri, namun jangan sampai merubah pengertian sebenarnya. Jika kita ingin mengutip langsung, maka kutiplah dengan benar.

  • 4. Don’t take notes just to be taking notes! Ingat bahwa catatan yang benar akan sangat berguna saat kita membacanya di waktu lain. (jangan sampai bingung sendiri, “ini catatan tentang apa sih?”

  • 5. Perlu konsistensi jika mempunyai singkatan atau tanda tertentu

  • 6. Hindari catatan yang berisi deskripsi dan penjelasan panjang lebar. Buatlah catatan yang singkat dan to the point.

  • 7. Jangan khawatir jika kita ketinggalan beberapa point (misal saat kuliah)

  • 8. Organisasi catatan di buku atau kertas dengan baik. Jangan campur aduk atau tak jelas dimana kita mencatat sehingga kemungkinan tercecer atau terselip besar. Secara singkat, setelah kita mencatat

  • 9. ... atau hal yang kurang jelas. Ingat bahwa kita dengan cepat akan lupa, sehingga tahap ini (yang mungkin hanya butuh waktu 2-5 menit) merupakan hal yang penting! 10.Review catatan kita . Hal ini adalah cara jitu untuk memasukkan poin-poin penting dan hubungan berbagai konsep yang kita pelajari akan masuk dalam memori jangka panjang.

baca kembali dan tambahkan jika ada point tambahan

  • 1. Membuat catatan dari membaca textbook

Langkah:

Pertama, baca bagian/bab yang akan dipelajari, baca untuk memahami materi tersebut. Biasanya kita akan tergoda untuk langsung mencatat saat kita baru membaca suatu materi untuk yang pertama kali, namun ternyata hal tersebut justru kurang efisien. Hal itu karena, kita akan cenderung untuk meng-copi /memindah materi dari buku ke catatan tanpa memahami dengan baik. Teknik ini juga membuat terlalu banyak hal dituliskan.

Buku Panduan Skills Practice

Blok Introduksi (1.1)

Kedua, Review materi tersebut Caranya adalah dengan mencari dan menemukan ide utama serta sub-sub point, kemudian uraikan dengan kata-kata sendiri. Merubah informasi dari textbook menjadi kata-kata sendiri akan memaksa kita untuk lebih aktif terlibat dan memahami materi tersebut.

Ketiga, Tuliskan ide parafrase dalam langkah kedua sebagai catatan kita Jangan sekedar meng-copi informasi, tambahkan detail seperlunya. Akan lebih baik jika langkah ke-3 ini menerapkan concept mapping.

  • 2. Membuat catatan dari jurnal penelitian

Membuat catatan secara efisien adalah hal yang sangat esensial karena informasi yang tersedia baik cetak maupun elektronik sangat sangat banyak dan beragam. Strategi membuat catatan yang baik akan sangat membantu dalam pemahaman apa yang kita baca dan juga menghemat waktu, serta mengurangi frustasi karena belajar. Tiga prinsip dalam membuat catatan adalah sebagai berikut:

Pertama, Ketahui ide-ide yang ingin kita catat Fokuskan perhatian kita pada topik utama sebelum lebih ke hal yang rinci. Dengan demikian, untuk selanjutnya saat membaca kita dapat menyortir hal yang perlu kita ketahui dan yang tidak.

Kedua, jangan menuliskan terlalu banyak Ekspresikan dalam kalimat sendiri, jangan sekedar menuliskan kembali. Catatlah, hanya hal-hal yang relevan dengan fokus kita pada topik tersebut, dan simpulkanlah, bukan sekedar meng- copinya. Pilih ide terpenting dan tuliskan sebagai judul, kemudian lengkapi dengan beberapa sub- point. Jangan terlalu tergantung pada menggarisbawahi atau men-stabilo.

Ketiga organisasikan catatan dengan cerdas Jika perlu buat direktori melalui program computer. Kelompokkan secara efisien. Pada buku/ kertas catatan kita, beri ruang yang cukup untuk menuliskan komentar (dengan own words) dan pertanyaan, atau link.

  • 3. Membuat Catatan Kuliah

Kadang, mahasiswa mengira bahwa dengan memahami apa yang dikatakan oleh dosen saat

kuliah akan berarti bahwa dia akan mengingat semuanya. Beberapa alasan mengapa kita perlu mencatat saat kuliah adalah:

  • - memberi motivasi untuk mendengarkan kuliah dan mengetes pemahaman kita terhadap suatu materi

  • - saat kita mereview catatan kita lebih dapat menangkap hal-hal penting dari informasi

  • - Catatan pribadi lebih mudah diingat dibandingkan teks

  • - Menuliskan point-point penting akan membantu kita dalam mengingat

Dosen seringkali memberikan ‘tanda’ jika ada hal penting yang perlu diperhatikan dan dicatat oleh mahasiswa. Tanda itu dapat berupa:

  • - menuliskannya di papan tulis (sedangkan presentasinya menggunakan LCD)

  • - pengulangan (repetisi)

  • - Penekanan, dapat melalui tekanan suara atau bahasa tubuh. Juga dapat dilihat dari lamanya waktu dosen untuk menjelaskan hal tersebut.

  • - Sinyal berupa kata misalnya “ terdapat dua poin

  • - Dsb

penting......”,

Kesimpulannya.....”

Buku Panduan Skills Practice

Beberapa tips mencatat kuliah:

  • 1. Buatlah catatan yang singkat

Blok Introduksi (1.1)

  • 2. Buatlah catatan dengan kata-kata sendiri, kecuali untuk menuliskan: formula, definisi, atau fakta yang spesifik

  • 3. Gunakan bentuk outline atau sistem penomoran.

  • 4. Indentasi (perbedaan ketukan masuk) sangat membatu membedakan poin dan subpoin.

  • 5. Jika kita lupa terhadap suatu statemen, tulis kata kuncinya, beri sela tempat dan cari informasinya di lain waktu.

  • 6. Tidak perlu menggunakan semua ruang halaman kertas atau buku. Berikan sela tempat untuk mengoordinasi catatan dengan teks setelah kuliah usai (bisa juga beri tempat di samping kertas untuk menuliskan key wors atau beri tempat untuk menuliskan kesimpulan)

  • 7. Beri tanggal pada catatan kita.

HEMAT WAKTU DALAM MENCATAT KULIAH

Beberapa mahasiswa mengatakan bahwa dia berencana untuk menuliskan kembali atau mencatat setelah kuliah berakhir. Hal ini jelas akan sangat menyita waktu sehingga akan lebih baik jika : DO IT RIGHT THE FIRST TIME!

Beberapa mahasiswa juga mencoba untuk membuat catatan dengan system steno (menulis cepat). Untuk seorang notulen/sekretaris, steno sangat berguna namun tidak untuk mahasiswa. Hal ini karena, tulisan dalam bentuk steno tidak dapat langsung berguna sebagai catatan, namun harus dituliskan kembali (transcribe). Transcribing sangat menyita waktu dan lebih bersifat deskriptif. Akan lebih efisien jika kita buat catatan asli yang dapat digunakan untuk belajar kembali (reciting)

SISTEM CORNELL Cornell notes adalah suatu system untuk membuat dan menggunakan catatan yang ditujukan untuk meningkatkan active learning.

Buku Panduan Skills Practice Beberapa tips mencatat kuliah: 1. Buatlah catatan yang singkat Blok Introduksi (1.1)

METODE MIND MAP

Mind Map adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan memetakan pikiran-pikiran kita, secara

menarik, mudah dan berdaya guna.

Buku Panduan Skills Practice

Prinsip-prinsip pembuatan mind map

Blok Introduksi (1.1)

Buku Panduan Skills Practice Prinsip-prinsip pembuatan mind map Blok Introduksi (1.1) . Check-list penilaian mind map

.

Check-list penilaian mind map

No

Item

Kriteria

1

Kerapian dan Penyajian

Mind map disajikan dengan baik dan semua informasi

 

mudah dipahami

2

Penggunaan Gambar

Hampir seluruh kategori diperjelas dengan simbol

atau simbol

sederhana atau diagram

3

Penggunaan warna

Telah menggunakan warna untuk menunjukan seluruh koneksi dan atau untuk mengkategorikan topik

dikeseluruhan mind map

4

Pemahaman

Mind map menunjukkan pemahaman menyeluruh pada mind map dengan memasukkan setidaknya 3 (≥3)

elemen untuk tiap kategori

DAFTAR PUSTAKA :

Buzan, T. 2006. Buku Pintar Mind Map. Jakarta : Gramedia.

*oleh dr. Riana Rahmawati M.Kes

Buku Panduan Skills Practice

Blok Introduksi (1.1)

II. CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIS)*

Tujuan Belajar : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep berpikir kritis ( critical thinking)

Pengertian Berpikir Kritis (Critical Thinking)

Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Berpikir kritis telah lama menjadi tujuan pokok dalam pendidikan sejak 1942. Definisi berpikir kritis banyak dikemukakan para ahli.

Menurut Halpen (1996), berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan.

Critical thinking di kesehatan

Critical thinking sangat erat kaitannya dalam bidang kesehatan terutama profesi dokter. Critical thinking diperlukan ketika seorang dokter memecahkan masalah pasien (problem solving). Critical thinking sangat penting untuk diaplikasikan ketika seorang dokter memecahkan masalah, dengan cara membuat serangkaian pertanyaan terkait dengan masalah yang ada sehingga ditemukan central issue, menguji kembali alasan yang digunakan dalam memecahkan masalah, dan mencari kejelasan data dalam masalah tersebut. Critical thinking juga menuntun seorang dokter untuk senantiasa melakukan evaluasi ulang terhadap pemecahan masalah yang pernah dilakukannya (Duchscher 1999).

Selain diperlukan ketika memecahkan masalah, critical thinking juga diperlukan ketika seorang dokter melakukan pengambilan keputusan klinik (clinical judgement) (Duchscher 1999). Critical thinking dalam teknik pegambilan keputusan klinik, lebih dikenal sebagai clinical resoning. Dokter melakukan pengambilan keputusan dengan cara berpikir (seperti menganalisa, mensintesis dan mengevaluasi sekumpulan data pasien) dan dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Proses metakognitif berfungsi mengatur proses berpikir dalam pengambilan kesimpulan, menilai kesesuaian antara data pasien dengan pengetahuan yang dimiliki, sehingga kesimpulan yang diambil akurat, valid dan reliable. Jadi critical thinking merupakan bagian utama dari elemen clinical reasoning yaitu ketrampilan kognitif dan metakognitif (Higgs & Jones 1995).

Critical thinking diperlukan oleh seorang dokter untuk melakukan problem solving dan pengambilan keputusan klinik. Dalam problem solving, critical thinking digunakan sejak menganalisa data sampai mereevaluasi pemecahan masalah yang sudah ada. Sedangkan dalam pengambilan keputusan klinik, critical thinking berperan dalam proses reasoning pengambilan keputusan tersebut yang bisa berupa forward reasoning atau backward reasoning.

Tahap berpikir yang banyak diaplikasikan di Indonesia adalah tahap berpikir yang dikemukakan oleh Bloom atau yang lebih dikenal dengan Taksonomi Bloom (Suciati 2005). Menurut Bloom ada 6 tingkatan dalam proses berpikir sesorang, keenam kategori tersebut adalah:

Buku Panduan Skills Practice

Blok Introduksi (1.1)

  • 1. Pengetahuan/pengenalan (C1) Tujuan pada level ini menuntut mahasiswa untuk mengingat (recall) informasi yang telah diterima sebelumnya, seperti misalnya: fakta, terminologi, rumus, status, strategi pemecahan masalah dsb. Beberapa contoh kata kerja yang mewakili kelompok ini misalnya:

    • - Mengidentifikasi

    • - Memilih

    • - Menyebutkan nama

    • - Membuat daftar

  • 2. Pemahaman (C2) Tujuan pada kategori ini berhubungan dengan kemampuan menjelaskan pengetahuan/informasi yang telah diketahui denga kata-kata sendiri.Dalam hal ini mahasiswa diharapkan untuk menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri. Kata kerja dalam kelompok ini misalnya:

    • - Membedakan

    • - Menjelaskan

    • - Menyimpulkan

    • - Merangkumkan

    • - Memperkirakan

  • 3. Penerapan (C3) Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi atau konteks yang lain atau yang baru. Sebagai contoh menyusun kuisioner penelitian untuk penulisan skripsi merupakan penerapan prinsip-prinsip untuk penyusunan instrumen penelitian yang sebelumnya telah dipelajari mahasiswa dalam matode penelitian. Kata kerja yang dapat digunakan untuk tingkat penerapan, isalnya:

    • - Menghitung

    • - Mengembangkan

    • - Menggunakan

    • - Memodifikasi

    • - Mentransfer

  • 4. Analisis (C4) Analisis merupakan kemampuan untuk mengidetifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi,hipotesa atau kesimpulan dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi.Dalam hal ini mahasiswa diharapkan untuk menunjukkan hubungan diantara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar,prinsip atu prosedur yang telah dipelajari.Sebagai contoh, pembuatan kritik sutu karya literatur atu seni merupakan analisis. Tugas seperti ini memerlukan kemampuan analisis sebab menuntut mahasiswa untuk membuat tanggapan terhadap berbagai aspek seperti tema, plot, derajat realisme dsb serta melihat hubungan diantara aspek-aspek tersebut. Contoh kata kerja tingkat analisis:

    • - Membuat diagram

    • - Membedakan

    • - Menghubungkan

    • - Menjabarkan ke dalam bagian-bagian

  • Buku Panduan Skills Practice

    • 5. Evaluasi(C5)

    Blok Introduksi (1.1)

    Tujuan ini merupakan tujuan yang paling tinggi tingkatnya, yang mengharapkan mahasiswa mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu. Sebagai contoh kemampuan mengevaluasi suatu program video apakah memnuhi syarat sebagia program instruktional yang baik atau tidak merupakan tujuan tingkat evaluasi. Dalam hal ini mahasiswa harus mempertimbangkan dari segi isi, strategi presentasi budaya, karakteristik pengguna, dsb. Disamping itu kriteria program yang baik harus terlebih dahulu jelas bagi mahasiswa. Kata kerja operasional:

    • - Membuat kritik

    • - Membuat penilaian

    • - Membandingkan

    • - Membuat evaluasi

    • 6. Sintesis (C6) Tujuan ini menuntut mahasiswa untuk mampu mengkombinasikan bagian atau elemen ke dalam satu kesatuan atau struktur yang lebih besar. Menulis essay tentang” Perwujudan Bhineka Tunggal Ika dalm Masyarakat Indonesia” merupakan contoh sintesis. Dalam hal ini mahasiswa harus melihat berbagai aspek sosial, budaya dan ekonomi dalam kelompok etnik. Misalnya: sitem kekerabatan, sistem keagamaan dsb, dan kemudian membandingkan perwujudan berbagai aspek tersebut dalam membuat kesimpulan. Contohkata kerja operasional:

      • - Menciptakan

      • - Mendesain

      • - Memformulasikan

      • - Membuat prediksi

    Kemampuan untuk berpikir kritis bisa di induksi dengan cara membuat pertanyaan-pertanyaan terhadap sebuah fakta atau opini, dan kemudian dibarengi dengan upaya untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul tersebut.Semakin sering seseorang menchallenge dirinya dengan pertanyaan, maka orang tersebut akan semakin terlatih kemampuan berpikir kritisnya asalkan dibarengi dengan upaya mencari jawaban atas pertnyaanya itu.

    Berikut lampiran contoh pertanyaan yang bisa untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Pada lampiran ada contoh-contoh pertanyaan, dan kemungkinan ketrampilan berpikir yang bisa

    diinduksi. (Contoh ini bukanlah contoh baku, bisa dikembangkan sesuai fakta atau opini atau fenomena yang ada)

    Buku Panduan Skills Practice

    Pemandu Pemikiran Kritis

    Blok Introduksi (1.1)

    Pertanyaan-pertanyaan generik

    Ketrampilan berfikir khusus

    yang diinduksi

    Apa saja kekuatan-kekuatan dan

    kelemahan-kelemahan

    dari ………?

    Apa perbedaan antara ………

    Analisis/Pengambilan

    kesimpulan

    Pembandingan -

    dengan ……………?

    pembedaan

    Jelaskan mengapa …….?

    Analisis

    (Jelaskan bagaimana ……)

    Apa yang akan terjadi jika ……?

    Apa hakekat dari ………. ?

    Prediksi/membuat hipotesis

    Analisis

    Mengapa………

    terjadi?

    Analisis/pengambilan kesimpulan

    Apa satu contoh baru

    Aplikasi

    mengenai ……… ?

    ..

    Bagaimana ……… dapat

    Aplikasi

    digunakan untuk ………?

    Apa saja implikasi-implikasi

    Analisis/Pengam-

    dari ………….?

    bilan kesimpulan

    Apa saja yang dapat

     

    Identifikasi dan

    dianalogikan dengan ……….?

    penciptaan analogi serta metapora

    Apa yang telah kita ketahui

     

    Pengaktifan

    tentang …………?

    Pengetahuan

    lampau

    Bagaimana …….

    Analisis hubungan

    mempengaruhi ……

    ..

    ?

    sebab-akibat

    Bagaimana ……. berhubungan

    Pengaktifan

    dengan apa yang telah

     

    pengetahuan

    kita pelajari sebelumnya ?

    lampau

    Apa artinya ……… ?

    Analisis

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Mengapa …. bersifat penting ?

    Bagaimana kesamaan ………

    Analisis signifikansi

    Pembandingan-

    dan ……

    ?

    pembedaan

    Bagaimana ……

    diterapkan

    ..

    Aplikasi pada dunia

    dalam kehidupan sehari-hari ?

     

    nyata

    Apa argumen yang

     

    Bantahan terhadap

    bertentangan dengan ……

    ?

    pendapat

    Apa yang terbaik

     

    Evaluasi dan

    mengenai …

    ..

    ? Mengapa ?

    Apa satu pemecahan terhadap

    problem ………?

    penyediaan bukti

    Sintesis ide-ide

    Bandingkan ……dengan ……

    Pembandingan-

    dalam hal ………?

    pembedaan

    Apa pendapat anda penyebab-

    Analisis hubungan

    penyebab ……?Mengapa?

    sebab-akibat

    Apakah anda setuju/tidak setuju

    Evaluasi dan

    dengan pendapat…….?

    penyediaan bukti

    Bukti apakah yang mendukung

    pendapat anda ?

    Cara lain apa untuk

    Pengambilan

    meninjau ……….?

    perspektif lain

    (King 1995)

    DAFTAR PUSTAKA:

    Fisher, A. 2006. Critical thinking an introduction. Cambridge: Cambridge University Press.

    King, A. 1995. Inquiry minds really do want to know: Using questioning to teach critical thinking.

    Teaching of Psychology 22(1):13-17.

    Suciati. 2005. Taksonomi tujuan instruksional. Jakarta: PAU-PPAI, Dirjen DIKTI.

    *oleh dr.Umatul Khoiriyah,M.Med.Ed

    Buku Panduan Skills Practice

    III. READING*

    Blok Introduksi (1.1)

    Tujuan belajar : Mahasiswa dapat menjelaskan dan dapat mengaplikasikan cara membaca yang

    efektif

    Dalam sistem belajar dengan menggunakan Problem Based Learning (PBL), mahasiswa dituntut

    untuk selalu aktif dalam belajar dan mencari sumber informasi belajar. Sumber informasi belajar

    dapat berasal dari buku teks maupun dari jurnal-jurnal hasil penelitian ilmiah. Dalam proses

    belajar mandiri itulah, mahasiswa ditutut untuk memiliki kemampuan membaca yang memadai

    agar dapat dengan mudah memahami informasi yang didapatkan selama proses belajar mandiri

    tersebut.

    Seperti telah diketahui, membaca adalah aktivitas yang kompleks yang melibatkan sejumlah besar

    aktivitas yang berbeda-beda. Dalam membaca, seorang idividu minimal harus menggunakan mata

    dan otak untuk melihat, mengamati, berpikir, berkhayal dan mengingat-ingat, sehingga akan

    muncul pemahaman yang baik dari apa yang telah dibaca. Bahkan pada beberapa individu yang

    lain, selain mata dan otak, juga digunakan gerak bibir dan tangan untuk membantu proses

    membaca tersebut.

    Dulu, pada waktu seorang anak belajar membaca, ia akan mulai belajar mengenal kata demi kata,

    mengejanya, melafalkannya dan kemudian membedakannya dari kata-kata yang lain. Setelah itu,

    ia akan mulai membaca secara struktural dari kiri ke kanan dan mengamati satu demi satu

    susunan kata-kata yang ada dalam suatu kalimat. Pada waktu itu, anak belum mampu untuk

    mengubah arti kata dan susunan kata-kata yang ada pada suatu kalimat. Akibatnya kecepatan

    mambaca seorang anak sangatlah lambat.

    Tanpa disadari, kebiasaan membaca sejak masa kanak-kanak tersebut dibawa hingga seseorang

    dewasa. Selain itu, ada beberapa hambatan lain yang belum diatasi sehingga kecepatan

    membaca menjadi berkurang. Hambatan-hambatan tersebut antara lain :

    • 1. Vokalisasi Vokalisasi atau membaca dengan bersuara (menggumam) akan sangat memperlambat proses membaca, karena dengan bersuara berarti kita mengucapkan satu demi satu kata dengan lengkap. Selain itu kita akan terperangkap untuk selalu membaca satu demi satu struktur kata dalam suatu kalimat dengan lengkap. Untuk menghilangkan kebiasaan tersebut, cobalah membaca dengan diam atau meniupkan udara (seperti bersiul) sementara membaca dan meletakkan tangan di leher sampai tidak timbul getaran.

    • 2. Gerakan Bibir Membaca dengan menggerakkan bibir atau komat-kamit sama lambatnya dengan membaca bersuara walaupun tidak mengeluarkan suara. Dengan membaca sistem ini, seseorang akan lebih sering melakukan regresi (kembali ke belakang), sebab ketika mata dapat dengan cepat bergerak maju, tetapi suara dan gerakan bibir kita masih tertinggla di belakang. Untuk menghilangkan kebiasaan tersebut kita dapat membaca sambil mengunyah permen karet, atau bersiul, atau mengatupkan bibir kuat-kuat dan menekan lidah ke langit-langit mulut.

    • 3. Gerakan Kepala Semasa kanak-kanak lapang pandang kita sangatlah terbatas. Akibatnya ketika membaca, kita harus menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Ketika dewasa, medan penglihatan manusia telah berkembang secara

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    optimal, sehingga seharusanya untuk membaca satu baris secara penuh, cukup mata saja

    yang bergerak tanpa diikuti gerakan kepala.

    • 4. Menunjuk dengan Jari Kebiasaan menunjuk dengan jari sewaktu membaca dilakukan dengan tujuan ketika membaca tidak ada kata-kata yeng terlewatkan. Ini bisanya dilakukan sewaktu masih belajar membaca dan terbawa hingga seseorang dewasa. Hal ini akan sangat menghambat kecepatan membaca karena gerakan tangan biasanya lebih lambat dari gerakan mata. Untuk itu ketika membaca usahakan kedua tangan memegang bahan bacaan sehingga tidak lagi menunjuk bahan bacaan dengan jari.

    • 5. Regresi Regresi dalam membaca adalah bentuk kebiasaan selalu kembali ke belakang untuk melihat kata atau beberapa kata yang telah dibaca sebelumnya. Hal ini tidak boleh karena dengan regresi kita sering mengacaukan susunan kata-kata sehingga dengan sendirinya akan mengacaukan arti dalam suatu kalimat. Kebiasaan regresi ini sering terjadi karena kurang percaya diri, merasa kurang tepat menangkap arti, merasa kehilangan sesuatu atau salah baca atau salah ejaan sebuah kata. Padahal selama arti ataupun maksud yang terkandung dalam suatu kalimat itu masih dapat kita tangkap dan kita pahami, kesalahan ejaan yang ada pada bahan bacaan ataupun kesalahan baca tidak akan memberikan perbedaan yang bermakna. Selain itu, kebiasaan regresi sering muncul karena kita kurang konsentrasi dalam membaca. Sehingga secara mental kita mengerjakan hal lain di tempat yang lain sementara itu kita sedang membaca.

    • 6. Subvokalisasi Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin kata-kata yang telah dibaca juga bisa menghambat kecepatan membaca kita. Hal ini disebabkan konsentrasi kita menjadi terpecah. Kita akan lebih memperhatikan bagaimana melafalkan dengan benar kata-kata yang telah kita baca daripada mengambil ide dan memahami setiap ide yang ada pada bahan bacaan yang telah kita baca. Dengan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yng terjadi selama proses membaca itu, maka kita akan mampu dengan mudah menangkap arti, ide dan konsep yang terkandung dalam setiap bahan bacaan yang telah kita baca.

    SQ3R (Survey, Question, Read, Recite and Review)

    Salah satu metode yang banyak digunakan dalam membaca sebuah literatur adalah metode

    SQ3R. Metode ini berisi langkah-langkah yang dapat digunakan dalam proses membaca yang

    meliputi Survey, Question, Read, Recite, Review.

    a. Survey

    Langkah ini dilakukan dengan tujuan agar kita dapat memperoleh gambaran umum dari

    literatur yang akan kita baca. Hal ini dilakukan dengan cara sebelum membaca, kita lihat dulu

    judul, sub judul, gambar-gambar maupun ringkasan dari literatur yang akan kita baca. Setelah

    hal tersebut dilakukan, kita akan dapat memperoleh gambaran kasar mengenai literatur yang

    akan kita baca tersebut. Sehingga nantinya kita dapat menentukan apakah literatur itu yang

    kita cari ataukah bukan sebelum kita memutuskan untuk meneruskan membacanya.

    Buku Panduan Skills Practice

    • b. Question

    Blok Introduksi (1.1)

    Pada langkah ini kita dituntut untuk membuat daftar pertanyaan yang nantinya akan kita cari

    jawabannya dalam literatur yang akan kit abaca. Hal ini dilakukan agar kita bisa lebih fokus

    dalam membaca dan lebih mempermudah kita dalam memahami setiap konsep yang

    disampaikan penulis melalui literatur yang kita baca. Selain tu, adanya daftar pertanyaan bisa

    memberikan motivasi tambahan kepada kita karena daftar pertanyaan itu bisa menjadi tujuan

    yang harus kita capai selama proses membaca.

    • c. Read Pada langkah ini ada dua komponen penting yang harus diperhatikan, yaitu membaca secara selektif dan membaca secara kritis. Membaca secara selektif adalah ketika kita dalam proses membaca, kita juga menyeleksi dan mengklasifikasi konsep-konsep yang ada pada literatur. Penyeleksian dan klasifikasi konsep tersebut kita wujudkan dalam bentuk keyword (kata kunci) yang dapat kita gunakan untuk lebih mempermudah kita dalam memahami isi dari literatur dan mempermudah kita ketika kita ingin membaca lagi literatur tersebut di kemudian hari. Adapun membaca secara kritis adalah selama proses membaca kita harus selalu mengembangkan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi dan konsep dari literatur. Pertanyaan yang timbul itu kemudian kita cari jawabannya di dalam literatur tersebut ataupun dalam literatur lain yang menjadi sumber rujukan (daftar pustaka) dari literatur tersebut.

    • d. Recite Setelah proses membaca ( read ) selesai, kita lalu mencoba untuk mengulang lagi konsep yang telah kita dapat dan kita baca dengan menggunakan bahasa kita sendiri. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang mudah kita pahami. Selain itu kita juga diperbolehkan untuk membuat catatan mengenai apa yang telah kita baca. Catatan itu boleh dalam bentuk skema, mind mapping, maupun daftar poin-poin penting dari literatur yang telah kita baca. Tujuannya untuk lebih mempermudah kita memahami konsep yang ada pada literatur dan mempermudah kita dalam mengingat kembali literatur yang telah kita baca.

    • e. Review Tahap ini merupakan tahap terakhir dimana dalam tahap ini kita mencoba untuk menyimpan konsep yang telah kita baca pada literatur dalam long term memory kita. Hal ini bisa dilakukan salah satunya dengan cara membaca kembali catatan yang telah kita buat yang merupakan rangkuman konsep yang ada pada literatur yang telah kita baca.

    DAFTAR PUSTAKA

    Maxwell, M. 2001. Reading Your Textbooks Effectively and Efficiently. [Online]

    http://www.dartmouth.edu/˜acskills/success/reading.html

    Soedarso. 2000. Speed reading : Sistem membaca cepat dan efektif. Jakarta : P.T. Gramedia

    Pustaka Tama.

    *oleh dr. Riana Rahmawati, M.Kes

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    IV. TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH

    Tujuan belajar : mahasiswa dapat mengaplikasikan pembuatan tulisan karya ilmiah yang benar

    • 1. PENDAHULUAN

    Teknik penulisan karya ilmiah perlu mengikuti suatu aturan yang berlaku. Terdapat dua

    cara yang dapat diikuti, yaitu model Turabian (1973) dan model American Psychological

    Association [APA] (1988). Model Turabian menggunakan catatan kaki (footnote) untuk

    menunjukkan referensi, dan menggunakan istilah ibid, op cit, dan loc cit. Apabila pengetikan

    masih menggunakan mesin tulis, model Turabian lebih sulit dilaksanakan karena harus selalu

    menghitung catatan kaki.

    Cara yang lebih praktis, adalah menggunakan model yang ditetapkan oleh APA. Model

    APA tidak menggunakan catatan kaki tetapi setiap referensi ditunjukkan oleh nama penulis dan

    tahun penerbitan. Dengan model APA ini kunci referensinya adalah pada daftar pustaka. Oleh

    karena itu, penunjukkan referensi dalam uraian dan daftar pustaka harus bersesuaian. Setiap

    nama yang merupakan referensi dalam uraian harus muncul pada daftar pustaka.

    • 2. TATA TULIS

    Penulisan ilmiah disamping harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan

    benar, juga harus dapat menggunakan bahasa itu sebagai sarana komunikasi ilmu.

    Penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam tulisan harus sesuai Pedoman

    Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) edisi kedua berdasarkan

    tanggal 9 September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama

    Kebahasaan di Tugu, tanggal 16–20 Desember 1990 dan diterima pada Sidang ke-30 Majelis

    Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4–6 Maret

    1991.

    Disamping penggunaan bahasa, penulis dituntut untuk memenuhi persyaratan-

    persyaratan yang berhubungan dengan teknik penulisan ilmiah, antara lain yaitu cara

    mengutip, dan cara menyusun sumber bacaan menjadi daftar bacaan.

    Kutipan

    Mentaati etika ilmiah dengan menyebutkan sumber kutipan akan menghindarkan diri dari

    perbuatan melakukan plagiasi.

    Kutipan Langsung

    Kutipan langsung (direct quotation) adalah kutipan hasil penelitian, hasil karya, atau

    pendapat orang lain yang penyajiannya sama persis dengan teks aslinya (yang dikutip). Dalam

    merujuk sumber kutipan di teks utama, sebutkan referensinya dengan menulis nama

    pengarang, tahun penerbitan, dan nomor halamannya.

    • a. Kutipan langsung pendek

    Kutipan langsung pendek jika jumlah kata kutipan tidak lebih dari tiga baris. Kutipan

    tersebut diketik langsung ke dalam teks dengan meletakkannya diantara tanda petik. Contoh :

    Khan (2005 :2) melaporkan bahwa “Trauma thorak menyebabkan 25% kematian pada semua kasus kematian.”

    • b. Kutipan langsung panjang

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Kutipan langsung panjang jika jumlah kutipan lebih dari tiga baris ketikan. Kutipan

    diketik pada garis baru, sejajar dengan awal alenia baru, berjarak satu spasi, dan tanpa

    tanda petik. Contoh :

    Menurut Wirya IW (1996:124), perkembangan pengobatan Sindroma Nefrotik menurunkan morbiditas dan mortalitas :

    Pada pertengahan abad ke-20 morbiditas SN pada anak cukup tinggi, yaitu mencapai 50%. Dengan ditemukannya obat-obat sulfonamid dan penisilin pada tahun 1940 dan dipakainya hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan kortikosteroid pada tahun 1950, mortalitas penyakit ini diperkirakan mencapai 67% yang sering disebabkan oleh komplikasi peritonitis dan sepsis. Angka kematian menurun lagi mencapai 35% setelah obat penisilin mulai digunakan pada tahun 1946-1950.

    • c. Jika kutipan memakai bahasa asing, kutipannya ditulis dalam huruf miring. Contoh :

    Berkenaan dengan plagiarisme, Brick (2006:122) mengatakan sebagai berikut :

    We have probably heard the word plagiarism many times. It is often talked about in universities because it involves behaviour that is considered to be unacceptable. In fact, plagiarism refers to different types of behaviour.

    • d. Jika mengutip bukan dari buku atau sumber aslinya, melainkan dari pengarang lain (mengutip sebuah kutipan), maka tambahkan kata ”dalam” ketika menyebut referensinya. Contoh : Darmawan menulis sebuah makalah dan di dalam makalahnya mengutip pendapat Shah Ira; penulis kemudian mengutip pendapat Shah Ira yang terdapat dalam makalah Darmawan. Maka penulisan referensinya sebagai berikut :

    Menurut Ira Shah (dalam Darmawan 2007:22-30), ” pemberian diazepam untuk profilaksi kejang, karena kejang bisa terjadi saat demam belum kelihatan nyata. Oleh karenanya, pemberian diazepam suppositoria atau oral pada saat mulai demam dilaporkan sangat menurunkan insidensi kejang demam”

    Kutipan yang menggunakan kutipan langsung terlalu panjang akan menimbulkan kesan

    kalimat buku atau sumber yang dikutip menjadi dominan dan posisi penulis yang mengutip

    menjadi tidak jelas. Kutipan yang panjang jarang bisa dibenarkan, dan sering

    menyebabkan pembaca tidak bisa mengingat gagasan siapa yang sedang dibicarakan.

    Hal ini berarti bahwa, kutipan langsung yang panjang tidak sering digunakan kecuali tanpa

    alasan yang spesifik. Umumnya kutipan langsung digunakan bila :

    Sumber bacaan memaparkan pendapat yang kontroversial atau mengejutkan

    (suprising).

    Kata-kata dari sumber bacaan diungkapkan secara ringkas dan sangat meyakinkan,

    sehingga tidak mungkin lagi untuk memperbaiki kata-kata itu.

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Kata-kata dalam kutipan untuk mempertegas dan memperkuat kepentingan ide utama

    penulis, yang dibuat dengan kata-kata penulis sendiri.

    Perubahan yang dilakukan melalui parafrase dapat menimbulkan kesalah-pahaman

    atau kesalah-penafsiran. Misalnya dalam mengutip kata-kata dalam hukum atau

    perundang-undangan, menyatakan asumsi-asumsi yang ada di balik prosedur statistik,

    atau dari publikasi pemerintah.

    Kutipan Tidak Langsung

    Kutipan tidak langsung (indirect quotation) merupakan kutipan hasil penelitian,

    hasil karya, atau pendapat orang lain yang penyajiannya tidak sama dengan teks aslinya,

    melainkan menggunakan bahasa atau kalimat penulis atau peneliti sendiri. Dalam

    pengutipan ini, sumber rujukan harus disebutkan, baik dengan nomor halaman atau tanpa

    nomor halaman.

    Terdapat dua jenis kutipan tidak langsung, yaitu :

    • 1. Kutipan dengan meringkas, menyimpulkan, atau merujuk pokok-pokok pikiran orang lain.

    • 2. Melakukan parafrase, yakni pengubahan struktur atau susunan kalimat aslinya menjadi kalimat lain tanpa mengubah isi atau substansi kalimat atau alinea. Secara umum ada sejumlah tahap yang dapat diikuti untuk melakukan parafrase secara efektif :

    Baca dan baca kembali bagian kalimat dari sumber asli yang hendak dikutip agar

    sungguh-sungguh memahami artinya

    Kesampingkan bagian kalimat dari sumber asli di atas, dan tulislah kalimat atau

    kata-kata sendiri dalam sebuah kartu catatan

    Periksa kembali susunan kalimat yang anda buat dengan susunan kalimat aslinya

    untuk memastikan bahwa susunan kalimat yang anda buat secara akurat

    mengungkapkan semua informasi penting dalam sebuah bentuk yang baru.

    Catat sumber bacaan (termasuk halaman) dalam kartu catatan sehingga anda dapat

    menyebutkan secara mudah jika anda memutuskan untuk memasukkannya ke

    dalam tulisan anda.

    Di bawah ini terdapat sebuah teks dan tabel yang menampilkan cara mengutip

    informasi.

    Berkenaan dengan osteoporosis, Dana Jacob mengatakan :

    Osteoporosis adalah kelainan skeletal sistemik yang ditandai dengan penurunan masa tulang dan kerusakan mikroarsitektur. Hal ini menyebabkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan risiko fraktur. Osteoporosis dibedakan atas oseoporosis tipe I (postmenopause) dan tipe II (senile). Osteoporosis postmenopause disebabkan karena defisiensi estrogen, sedangkan osteoporosis senile disebabkan karena proses penuaan tulang dan defisiensi kalsium.

    Contoh berikut ini merupakan percobaan yang baik dalam membuat parafrase

    karena gagasan utama dari materi asli dan memberikan bukti tentang pemahaman:

    Osteoporosis

    adalah

    kelainan

    skeletal

    sistemik

    yang

    berdasarkan

    penyebabnya

    dibedakan

    atas tipe

    dan tipe

    I

    II.

    Tipe

    I (postmenopause)

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    disebabkan defisiensi estrogen, sedangkan tipe II (senile) karena penuaan.

    Pada keadaan ini tulang menjadi rapuh dan mudah fraktur

    Contoh lain :

    Kalimat asli :

    Hakikat ketidakpuasan kerja industri atau klerikal tidak lagi

    diperselisihkan. Karyawan dewasa ini lebih menyukai tingkat

    keterlibatan yang lebih besar dalam pekerjaan mereka daripada yang

    diduga sebelumnya. Banyak dari mereka yang semakin menginginkan

    pengaturan diri sendiri dan kesempatan untuk memberikan kontribusi

    yang besar terhadap organisasi (Schule, Dowling,& Smart, 1988:17)

    Parafrase yang diperkenan, yaitu :

    Menurut Schuler, Dowling dan Smart, (1988), dewasa ini pada umumnya

    diterima bahwa hakikat sebagian pekerjaan yang rutin, terutama kerja

    industrial dan klerikal, adalah tidak memuaskan. Sesungguhnya

    disarankan bahwa pekerja menginginkan lebih banyak partisipasi dan

    pengaturan diri sendiri dalam rangka memberikan kontribusi yang lebih

    signifikan terhadap organisasi.

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN

    Pemilihan atau penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat krusial dalam penulisan

    karya ilmiah. Hal ini agar karya tulis dapat dipahami oleh pembaca. Bahasa yang digunakan

    dalam karya ilmiah adalah bahasa Indonesia baku sebagaiman termuat dalam Pedoman Umum

    Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

    Di bawah ini akan kita bahas beberapa hal yang harus diperhatikan, karena sering terjadi

    kesalahan penulisan.

    • 1. Pemakaian Huruf Kapital

      • a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya : Dia pergi ke pasar Kita harus rajin belajar

      • b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung

    Misalnya :

    Dosen menasihatkan, ”Rajinlah belajar!”

    Kemarin engkau terlambat,” katanya.

    • c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan

    dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan

    Misalnya :

    Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.

    Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, sebagaimana hamba-Mu yang saleh

    • d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan

    keagamaan yang diikuti nama orang.

    Misalnya :

    Sultan Hasanuddin

    Haji Agus Salim

    Imam Syafii

    Nabi Ibrahim

    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan

    keagamaan yang tidak diikuti nama orang

    Misalnya :

    Dia baru saja diangkat menjadi sultan

    Tahun ini ia pergi haji

    • e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang

    diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama

    instansi, atau nama tempat

    Misalnya :

    Perdana Menteri Adam Malik

    Profesor Ismadi

    Gubernur DIY

    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan nama pangkat yang

    tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.

    Misalnya :

    Sebuah propinsi dipimpin oleh gubernur

    Siapakah profesor yang akan dikukuhkan besok?

    • f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang

    Misalnya :

    Sayuti Melik

    Cut Nyak Dien

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    • g. Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa

    Misalnya :

    Ani sedang belajar bahasa Indonesia

    Pelajaran bahasa Inggris mulai dikenalkan sejak Sekolah Dasar

    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa

    yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

    Misalnya :

    Wajahnya keinggris-inggrisan

    • h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan

    peristiwa sejarah

    Misalnya :

    Pada tahun 2008 hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Senin

    • i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi

    Misalnya :

    Asia Selatan

    Kali Code

    Pantai Parangtritis

    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur

    nama diri

    Misalnya :

    Pergi ke arah selatan

    Mandi di kali

    Berenang di pantai

    • j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga

    pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.

    Misalnya :

    Dewan Perwakilan Rakyat

    Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

    • k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna

    yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen

    resmi

    Misalnya :

    Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

    • l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur

    kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan

    kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

    Misalnya :

    Saya telah membaca buku La Tahzan

    Bacalah buku Jalan Lain ke Roma

    • m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan

    seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan

    pengacuan. Bila kata penunjuk tersebut tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan,

    maka tidak perlu ditulis dengan huruf kapital

    Misalnya :

    Surat Bapak sudah saya terima

    Kita harus menghormati bapak dan ibu kita

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    • 2. Huruf Miring

     

    a.

    Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar

    yang dikuti dalam tulisan

    Misalnya :

    Buku Fisiologi Kedokteran karangan Guyton

    Menurut surat kabar Ibnu Sina

    b.

    Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan

    asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

    Misalnya :

    Nama ilmiah mengkudu adalah Morinda citrifolia

    • 3. Penggunaan awalan di dan ke harus dibedakan dengan fungsi di dan ke sebagai kata

     

    depan.

    Penggunaan di dan ke disebut sebagai kata depan jika digunakan untuk menunjukkan

    tempat, penulisannya dipisah dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan di dan ke sebagai

    awalan bila tidak menunjukkan tempat, penulisannya digabung dengan kata yang

    mengikutinya.

     

    Misalnya :

    Sistem pemerintahan di tingkat desa telah disempurnakan. Dilihat dari perspektif politik,

    Kepala Desa yang dipilih langsung memiliki posisi tawar yang lebih besar dibanding Kepala

    Desa yang ditunjuk. Hal ini karena arus aspirasi otonom dari bawah ke atas mengalir deras.

    • 4. Penulisan Lambang Bilangan

     

    a.

    Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut :

    Bilangan utuh

    Misalnya : 22 dua puluh dua

    222

    dua ratus dua puluh dua

    2222

    dua ribu dua ratus dua puluh dua

    Bilangan pecahan

    Misalnya : 1/2

    setengah

    3/4

    tiga perempat

    1/16

    seperenam belas

    b.

    Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf

    kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian

    dan pemaparan

    Misalnya :

    Ani membaca buku itu sampai empat kali

    Ibu membuat empat ratus nasi kotak

    Di halaman parkir ditempati 50 mobil, 100 sepeda motor, dan 3 bus.

    c.

    Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat

    diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak

    terdapat pada awal kalimat.

    Misalnya :

    Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu bukan 15 orang tewas dalam kecelakaan

    itu.

    Buku Panduan Skills Practice

    • 5. Penulisan Huruf Serapan

    Blok Introduksi (1.1)

    Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan adalah sebagai berikut :

    ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e

    aerobe

    aerob

    aerodinamics aerodinamika

    ae jika bervariasi dengan e, menjadi e

    haemoglobin hemoglobin

    haematite

    hematit

    au tetap au

    audiogram

    audiogram

    hydraulic

    hidraulik

    c

    di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k

    construction

    konstruksi

    classification

    klasifikasi

    crystal

    kristal

    c

    di muka e, i, oe, dan y menjadi s

    central

    sentral

    cylinder

    silinder

    circulation

    sirkulasi

    kh (Arab) tetap kh

    khusus

    khusus

    akhir

    akhir

    • 6. Pemakaian Tanda Baca

      • a. Tanda Titik (.)

    1) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan

    Misalnya : Ayahku tinggal di Jawa Timur

    2) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan

    waktu atau jangka waktu

    Misalnya :

    Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

    1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

    3) Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya

    Misalnya : Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.565 orang

    Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang

    tidak menunjukkan jumlah

    Misalnya : Dia lahir pada tahun 1945 di Padang

    • b. Tanda Koma (,)

    1) Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan

    Misalnya :

    Saya membeli kertas, pena, dan penghapus

    2) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara

    berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan

    Misalnya :

    Didi bukan anak Pak Toni, melainkan anak Pak Kasim

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    3) Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang

    terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula,

    meskipun begitu, akan tetapi.

    Misalnya :

     

    .....

    Jadi,

    kita akan berangkat bersama-sama dari kampus

    .....

    Oleh

    karena itu, kita harus mempersiapkan diri sebelum ujian berlangsung.

    • c. Tanda Titik Koma (;)

    1) Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis

    dan setara

    Misalnya :

    Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga

    2) Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan

    kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk

    Misalnya :

    Ayah mengurus ayamnya di kandang belakang rumah; Ibu sibuk memasak di dapur;

    Adik belajar bahasa Indonesia di kamar; saya sendiri menyapu dan membereskan

    rumah.

    • d. Tanda Titik Dua (:)

    1) Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian

    atau pemerian.

    Misalnya :

    Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari

    2) Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

    Misalnya :

    Ketua

    : Slamet Widodo

    Sekretaris : Ani Wahyuni

    Bendahara : Beruang Hartawan

    3) Tanda titik dua dipakai

    Di antara jilid atau nomor dan halaman

    Contoh : Kedaulatan Bangsa, I (2008), 34:9

    Di antara bab dan ayat dalam kitab suci

    Contoh : Surat Al Baqarah:122

    • e. Tanda seru (!) Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Aturan : sebelum tanda seru tidak perlu spasi, setelah tanda seru tidak perlu titik Misalnya : Bersihkan kamar itu sekarang juga!

    Merdeka!

    • f. Tanda Kurung (( )) ... Aturan : kata dalam kurung tanpa spasi

    1) Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan

    Misalnya :

    Mahasiswa semester akhir akan melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kulon

    Progo

    2) Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok

    pembicaraan.

    Misalnya :

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran

    dalam negeri

    g.

    Tanda kurung siku [

    ...

    ]

    Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda

    kurung.

    Misalnya :

    Persamaan kedua proses metabolisme aerob dan anaerob (perbedaannya dibicarakan di

    dalam Bab IV [lihat halaman 64-69]

    Buku Panduan Skills Practice

    PENULISAN REFERENSI

    Blok Introduksi (1.1)

    Tujuan belajar : mahasiswa dapat mengaplikasikan penulisan referensi dalam tesk dan dalam

    daftar pustaka dengan benar

    Referensi harus ditulis apabila menggunakan ide atau informasi dari orang lain pada tulisan kita,

    baik parafrase maupun kutipan langsung. Referensi ditampilkan di dua tempat yaitu pada teks dan

    di daftar pustaka pada akhir tulisan. Penulisan referensi dalam penugasan dan karya tulis ilmiah di

    Fakultas Kedokteran UII mengacu metode Harvard.

    PENULISAN REFERENSI DALAM DAFTAR PUSTAKA

    Penulisan referensi metode Harvard dalam daftar pustaka berdasar urutan huruf abjad.

    • A. Artikel Elemen elemen pada jurnal ditulis dengan urutan : nama akhir pengarang, singkatan nama depan pengarang. tahun publikasi. judul artikel. nama jurnal dengan format italic volume (nomer/isu):nomor halaman.

    1.

    Artikel jurnal

    Deffenbacker, J.L. 1998. Cognitive-relaxation and social skills treatments of anger: A year

    Later. Journal of Counseling Psychology 35(3):234-236.

    2.

    Artikel jurnal dengan 2 atau lebih penulis

    Studer R., Reinecke H., Muller B., Holtz J., Just H., Dexler H. 1994. Increased angiotensin-I

    converting enzyme gene expression in the failing human heart:quantification by

    competitive RNA polymerase chain reaction. Journal of Clinical Investigation

    94(2):301-310.

    3.

    Artikel jurnal suplemen

    Deffenbacker, J.L. 1988. Cognitive-relaxation and social skills treatments of anger : A year

    later. Jurnal of Counseling Psychology 35(Suppl.2): 234-236.

    • B. Buku

    Elemen elemen pada buku ditulis dengan urutan : nama akhir pengarang, singkatan nama

    depan pengarang. tahun publikasi. judul buku dengan format italic. kota penerbitan:nama

     

    penerbit.

    1.

    Buku, edisi kedua

    Bruce-Chwatt, L.J. 1985. Essential Malariology (2 nd ed). New York:John Wiley.

    2.

    Buku atau penerbit pemerintah

    Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1997. Deklarasi Jakarta tentang Promosi

    Kesehatan pada Abad 21. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.

    3.

    Buku, terjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia

    Ewles, L., Simnett, I. 1992. Health Promotion (2 nd ed.). Emilia, 0. 1994 (Alih Bahasa).

    Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

    • C. Daftar pustaka dari situs internet Brown, D.G. 2002. A Method To Determine Soil Moisture Level From SAR Image. http//:www.u-

    colorado.com/paper.htm.

    • D. Daftar pustaka dari seminar/symposium Jacobsen, A., Nielsen, A.A., Groom, G.B. 1999. Spectral identification of grass land in

    Mongolia. Proceedings of 4 th Int. Airborne Remote Sensing Conf. And Exhibition. Vol. 1.

    Ottawa, Ontario, Canada. pp 74-81.

    Buku Panduan Skills Practice

    E. Skripsi, Thesis dan Disertasi

    Blok Introduksi (1.1)

    Setyorini, T. 2003. Uji Aktivitas Antimikroba Daun Srikaya (Annona squamosa, L) terhadap

    Escherichia coli. Skripsi. Jurusan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran, Universitas

    Islam Indonesia.

    PENULISAN REFERENSI DALAM TEKS

    • 1. Tulisan oleh satu pengarang

      • - Agyepong (1992)

    mengeksplorasi.

    ..

    • - Dalam penelitian mengenai persepsi masyarakat di masyarakat Asangbe, Agyepong (1992) menemukan ...

    • - Menurut Agyepong (1992), ...

    • - Pada tahun 1992, Agyepong mengeksplorasi ...

    • 2. Tulisan oleh beberapa pengarang

      • a) Apabila terdapat dua pengarang, kedua nama pengarang harus selalu dicantumkan.

    -

    Espino and Manderson (2000) dalam studi di Filipina ...

    -

    Studi di Filipina (Espino & Manderson 2000) ...

    • b) Apabila 3 atau lebih pengarang, cantumkan nama pengarang utama selanjutnya gunakan

    et al.

    -

    Aikins et al. (1994) menyatakan

    (berikutnya)

    • c) Apabila terdapat 6 pengarang lebih, gunakan nama pengarang, diikuti dengan et al. dan

    tahun.

    • 3. Institusi sebagai pengarang Dalam daftar pustaka :

      • - Departemen Kesehatan (1993)

    Pertama kali dirujuk dalam teks :

    • - Departemen Kesehatan (Depkes) (1993) ...

    • - (Departemen Kesehatan [Depkes] 1991 )

    Selanjutnya :

    • - Depkes (1993) ...

    • - (Depkes 1991) ...

    • 4. Pengarang dengan nama belakang yang sama Apabila nama belakang pengarangnya sama, maka cantumkan inisialnya dengan lengkap pada seluruh sitasi di teks.

      • - Luce, R. D. (1959) and Luce, P. A. (1986) meneliti

      • - Goldberg, J. M. and Neff (1961) dan Goldberg, M. E. and Wurtz (1972) meneliti ...

  • 5. Dua tulisan oleh pengarang yang sama

    • a) Apabila terdapat 2 tulisan oleh pegarang yang sama. maka dicantumkan tahun publikasinya secara berurutan.

      • - Penelitian sebelumnya (Edeline & Weinberger 1991,1993)

    • b) Apabila terdapat 2 atau lebih referensi oleh dua pengarang, maka dalam teks penulisannya dipisahkan oleh tanda titik dua.

      • - (Espino & Manderson 2000; Lipowsky et al. 1992; Miguel et al. 1999; Mwenesi et.al. 1995; Snow et al.1992).

  • Buku Panduan Skills Practice

    Ceklist penilaian penulisan ilmiah

    Blok Introduksi (1.1)

    No

    Item penilaian

    0-1-2

    Menggunakan kalimat sendiri (bukan copy paste )

    20

    Tulisan benar dan tidak disingkat

    5

    Tulisan sesuai EYD

    5

    Kalimat benar (ada subjek dan predikat, kata sambung tidak di depan, )

    5

    Kalimat bisa dipahami dan tidak bertele-tele

    10

    Paragaraf terdapat tema yang jelas

    10

    Ada keterkaitan antar paragraf

    10

    Paragaraf terdiri atas beberapa kalimat

    5

    Menulis sumber referensi dalam teks benar

    10

    Menulis sumber referensi dalam daftar pustaka benar

    20

    Total = 200/2=100

    Keterangan : 1 = kadang-kadang; 2 = selalu

    DAFTAR PUSTAKA

    Rais, J. Tata Cara Penulisan Baku Daftar Acuan (References) dan Daftar Pustaka (Bibliography)

    dalam Makalah Ilmiah, Tesis, Disertasi. https://enyerawati.files.wordpress.com/2011/06/tata-cara-

    penulisan-pustaka.pdf. Diakses 20 Januari 2013.

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Buku Panduan Skills Practice

    V. TEKNIK PRESENTASI*

    Blok Introduksi (1.1)

    Tujuan Belajar : Mahasiswa dapat melakukan presentasi dengan baik

    Latar Belakang

    Calon dokter perlu mempelajari teknik presentasi karena teknik presentasi yang baik akan

    membuat pendengar tertarik, ingin medengar lebih lanjut, mengingatnya dan akhirnya dapat

    merubah perilaku. Kepandaian seorang dokter merubah perilaku utamanya gaya hidup yang

    menyebabkan penyakit, sangat diperlukan. Presentasi yang baik juga menjadi alat komunikasi

    untuk ‘menjual’ kelebihan kita. Supaya dapat melakukan presentasi yang baik, kita harus sering

    berlatih dan menerapkan teknik presentasi.

    • 1. Persiapan presentasi

      • a) Mengenali siapa audience/Sasaran Kepada siapakah presentasi ini kita tujukan?

    Kepada dosen/ tutor/instruktur, atau

    Penjelasan yang kita berikan kepada teman

    Dari sasaran penerima informasi jelas akan membedakan ciri materi yang akan kita

    sampaikan, susunan informasi, dan pilihan cara gaya bahasa dalam menyampaikan

    informasi. Ingat pepatah yang mengatakan: “Jangan Bicara tentang warna kepada orang

    buta. Gunakan bahasa resmi dan baku serta jangan gunakan bahasa yang sullit dimengerti

    oleh audience.

    • b) Persiapan materi Bedakan antara materi yang diserahkan sebagai proposal atau laporan dengan materi presentasi. Karena sebaiknya presentasi hanya berisi tentang poin-poin saja dan tidak perlu secara keseluruhan untuk dibahas. Kemampuan menulis poin-poin yang penting menunjukkan kefahaman Anda. Buatlah sketsa atau mapping terhadap apa yang akan disampaikan, sehingga Anda dan audience mengetahui topik utama yang akan dibicarakan. Sketsa membantu Anda menghubungkan antara su topik satu dengan subtopik lain, sehingga Anda dapat menyampaikan secara berurutan dan sitematis. Persiapkan hal-hal yang sulit dimengerti dengan membuat analog-analog, ilustrasi, gambar, video atau jika memungkinkan dapat didemostrasikan.

    • c) Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan Jika memerlukan peralatan tertentu misalnya laptop, computer, LCD, flask disk yang berisi bahan dan materi presentasi sebaiknya dipersiapkan sebelum berangkat. Buatlah slide dengan kata-kata yang sedikit atau sederhana, jangan banyak kata, jika menungkinkan gambar atau visual, maka itu jauh lebih baik.

    • d) Persiapan diri Presentasi yang baik adalah memperhatikan audience, sehingga latihan sebelum pelaksanaan akan lebih baik. Anda dapat berlatih di depan cermin, atau Anda dapat merekam diri Anda dan perhatikan kekurangan Anda. Anda dapat meminta feed back teman anda.

    • 2. Saat presentasi Yang harus diperhatikan saat melakukan presentasi adalah: Datang lebih awal dari waktu yang ditentukan akan membuat kita lebih dapat

    mempersiapkan diri sebelum melakukan presentasi.

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Menggunakan pakaian yang sopan dan rapi sesuai degan aturan yang telah ditetapkan.

    Berbicara dengan lugas, sopan, semangat dan percaya diri.

    Mengatur intonasi, keras lemahnya suara yang digunakan agar tidak terlihat terburu-buru

    saat menyampaikan, intonasi yang jelas dan melakukan jeda dengan tepat.

    Perhatikan waktu dalam menyampaikan, bedasarkan penelitian perhatian seseorang

    secara pasif terhadap satu hal hanya dapat bertahan selama 10 menit.

    Perhatikan dan libatkan audience, misalnya dengan mengawali presentasi dengan

    pertanyaan, sehingga audience tertarik untuk memperhatikan. Jangan membaca slide.

    Catatlah pertanyaan dan jawablah dengan lugas, dan konfirmasi kembali apakah penanya

    telah mendapatkan jawaban yang jelas.

    Pada saat tampil di muka audience, buatlah kesan bahwa melalui presentasi ini kita

    sedang mengomunikasikan ide kita. Jangan biarkan orang mengambil kesan bahwa kita

    sekadar “orang suruhan” untuk menyampaikan kabar ini, dan kita tidak bertanggung jawab

    pada ide yang disampaikan. Kesan yang meyakinkan pada tampilan kita akan sangat didukung

    oleh:

    Body Language

    Salah satu macam bahasa komunikasi adalah menggunakan bahasa tubuh.

    Gerakan tangan, badan, mimik muka, dan sebagainya merupakan sarana kita

    berkomunikasi. Kuasai “panggung”, bergeraklah mengisi ruang. Jangan menjadi patung

    bicara di depan publik.

    Jika pembicara pada posisi duduk berjejer di depan/ di panggung lakukan gerakan

    body language yang tidak mengesankan kita kaku dan tidak bebas. Jika pembicara pada

    posisi duduk dan mikrofon terletak pada stand mikrofon di depan kita, posisi ini akan

    membuat kita menjadi kaku. Keluarlah dari situasi seperti ini. Cabutlah mikrofon dan

    peganglah jika perlu sehingga kita lebih bebas bergerak dan berekspresi.

    Persiapan Cara Bicara

    Ada tiga bentuk persiapan narasi:

    • 1. Verbatim

    • 2. Memorized

    • 3. Extemporaneouse (berbicara spontan tanpa persiapan)

    Verbatim

    Pada narasi Verbatim, pembicara berbicara berdasarkan teks catatan maupun slide

    di layar. Keuntungannya informasi yang disampaikan bisa detil. Jika ini memang perlu

    dilakukan, lakukanlah untuk hal-hal yang bersifat definitif, lakukanlah dengan memberikan

    penekanan saat membacanya. Akan tetapi, jika ini merupakan bagian paling banyak dalam

    presentasi kita, maka kita terkesan tidak menguasai materi. Kita menempatkan diri sama

    dengan audience (audience juga bisa membaca seperti yang kita lakukan, lalu posisi kita

    tidak penting di mata mereka). Oleh karena sibuk membaca teks, kita akan kehilangan

    kontak mata dengan audience di mana ini merupakan sarana untuk membangun

    komunikasi positif dengan mereka. Dengan melakukan kontak mata dengan audience

    sesekali, seolah Kita berbicara kepada mereka orang perorang secara pribadi. Sayangnya,

    model verbatim ini biasa dilakukan oleh pembicara yang tidak berpengalaman atau kurang

    menguasai permasalahan. Jika tidak dapat dihindari, batasilah.

    Memorized

    Metode lain adalah dengan memorized (mengingat/ menghafal). Beberapa

    pembicara mempersiapkan apa-apa yang akan dibicarakan di depan publik, kemudian

    dibaca beberapa kali sehingga hafal (atau hampir hafal). Biasanya kalau berasal dari ide

    sendiri cukup dibaca sekali dua kali akan mudah hafal. Menghafal teks dengan cara ini

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    masih memiliki risiko. Pertama metode ini akan memperlihatkan kurangnya emosi (kurang

    greget) di dalam presentasi karena kita dibebani mengingat teks yang disampaikan. Risiko

    lain jika kita lupa pada suatu ungkapan kunci, maka bisa jadi urutan bicara kita akan

    menjadi kacau atau bahkan macet.

    Extemporaneuos

    Yang paling ideal di antara metode ini adalah yang disebut extemporaneuos alias

    berbicara secara spontan. Pembicara terbaik senantiasa menggunakan cara ini. Ia cukup

    berpengalamann serta cukup berlatih untuk menguasai materi yang dipresentasikan. Oleh

    karenanya, slide yang kita buat hendaknya berupa kerangka pembicaraan yang akan

    membantu kita menyampaikan informasi. Bukan keseluruhan teks naskah yang

    ditayangkan di layar, lalu kita dan audience membacanya. Kelemahan metode bicara

    spontan ini adalah sulitnya dalam mengontrol waktu.

    DAFTAR PUSTAKA:

    Gallo, C. 2010. The presentation secrets of Steve Jobs, How to be insanely great in front of any

    audience, Mc Graw Hill.

    Kusrianto, A. 2007. Presentasi sukses dengan power point. Jakarta: Elex Media Komputindo.

    *oleh dr. Bayu Utaminingtyas dan dr.Ika Fidianingsih, M.Sc.

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    dasar-dasar

    Pemeriksaan Fisik

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    DASAR-DASAR PEMERIKSAAN FISIK*

    Tujuan Belajar : mahasiswa dapat menjelaskan dasar-dasar pemeriksaan fisik

    Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari

    suatu sistem atau suatu organ bagian tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi),

    mengetuk (perkusi), dan mendengarkan (auskultasi).

    Pemeriksaan Fisik dasar

    • - Pemeriksaan fisik secara umum/keadaan umum

    • - Berat Badan dan Tinggi Badan

    Prinsip-prinsip pemeriksaan fisik

    • - Meminta izin

    • - Pasien nyaman

    • - Pemeriksa tenang

    • - Lingkungan tenang dan cukup penerangan

    • - Meminimalkan perubahan poisisi

    • - Cuci tangan terlebih dahulu

    • - Mulai dengan basmalah

    • - Comprehensive focussatau sistematis

    • - Mengetahui Anatomi fisiologi

    • - Urutan secara umum : Inseksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi

    • - Komunikasi yang baik pada saat pemeriksaan fisik

    • - Pada saat inspeksi meminta pasien untuk membuka kain yang menutupi

    • - Setiap saat, komunikasikan ke pasien jika akan membuka kain atau setiap kali menyentuh

    • - Jika mulai palpasi, hangatkan tangan terlebih dahulu

    • - Mengakhiri dengan cuci tangan dan hamdallah

    1. INSPEKSI

    Inspeksi adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat. Dengan melihat maka kita

    mendapatkan hasil pemeriksaan dalam hal antara lain:

    Kesan umum pasien : apakah tampak kesakitan atau tidak, bagaimana cara jalannya, dll.

    Wama : wama dari permukaan tubuh yang dapat dilihat seperti wama kulit, wama sklera, dll.

    Bentuk : bentuk badan atau bagian badan tertentu.

    Ukuran : perbandingan antar bagian tubuh, atau ukuran tubuh seluruhnya.

    Gerakan : adanya gerakan normal atau abnormal dari dinding dada pada waktu bemafas.

    Dalam melakukan pemeriksaan jasmani harus selalu diusahakan posisi dokter/ pemeriksa berada

    di sebelah kanan pasien/yang diperiksa (kecuali bagi dokter yang kidal)

    Buatlah penerangan yang baik. Penerangan alam akan lebih baik dari pada lampu. Usahakan

    temperatur ruangan nyaman.

    Pada saat melakukan inspeksi, perhatikanlah dan catatlah :

    Bentuk tubuh pasien

    Perbandingan ukuran kepala dan panjang anggota badan

    Cara berjalan dan gerakan.

    Adanya deformitas.

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Keadaan kulit, rambut, mukosa dan kuku secara umum.

    Ekspresi wajah, apakah cemas, tertekan, malu, kesakitan, dll.

    Ciri-ciri lain yang didapatkan.

    Kadang-kadang kita memerlukan alat bantu dalam melakukan inspeksi ini. Misalnya dengan lup

    (kaca pembesar), otoskop untuk pemeriksaan telinga, rinoskop untuk pemeriksaan hidung,

    laringoskop untuk pemeriksaan laring dan faring, dan oftalmoskop untuk pemeriksaan mata.

    2.

    PALPASI

    Palpasi adalah pemeriksaan dengan perabaan, mempergunakan rasa propioseptif ujung jari dan

    tangan. Dengan palpasi dapat terbentuk gambaran dari berbagai aspek:

    Permukaan : misalnya halus atau kasar, menonjol atau datar, keras atau lunak, dll.

    Getaran-getaran atau denyutan : denyut nadi, pukulan jantung pada dinding dada, dll.

    Keadaan alat di bawah permukaan : misalnya batas-batas hepar (hati), adanya massa

    abnormal di tempat yang tidak seharusnya, dll.

    Cara melakukan Palpasi :

    Daerah yang akan diperiksa harus bebas dari gangguan-gangguan yang menutupi

    Yakinkan bahwa tangan anda tidak dingin

    Cara meraba dapat memakai :

    o

    Jari telunjuk dan ibu jari : untuk menentukan besarnya benda

    o

    Jari ke 2, 3, ke 4 bersama dapat digunakan untuk menentukan konsistensi atau garis

     

    besar kualitas benda

     

    o

    Seluruh telapak tangan dapat merasakan adanya getaran. Sedikit tekanan dengan ujung

     

    atau telapak jari dapat menemukan adanya rasa sakit yang dapat dilihat dari perubahan

    mimik muka atau mendengarkan keluhan yang tertekan.

    3.

    PERKUSI

    Perkusi adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan perantaraan jari

    tangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui keadaan organ-organ di dalam tubuh. Tergantung

    dari isi jaringan yang ada di bawahnya, maka akan timbul berbagai nada yang dibedakan menjadi

    lima kualitas dasar, yaitu : pekak, redup, sonor, hipersonor dan timpani.

    Bunyi perkusi dan karakteristiknya (Bickley and Szilagyi, 2007)

     

    Intensitas

    No

    Jenis

    relatif

    Durasi relatif

    Contoh lokasi

    • 1. Pekak (flatness)

    Pelan

    Singkat

    Massa padat, misalnya

    paha

    • 2. Redup (dullness)

    Sedang

    Sedang

    Hepar

    Sonor

    • 3. (resonance)

    Keras

    Lama

    Paru yang normal

           

    Tidak ditemukan pada

    Hipersonor

    • 4. Sangat keras

    (hyperresonance

    )

    Lebih lama

    keadaan normal, dapat

    ditemukan pada paru

    yang emfisematous

         

    Lambung (saat kosong)

    • 5. Keras

    Timpani

    Lama

    atau pipi yang

    digelembungkan

    Buku Panduan Skills Practice

    Cara melakukan Perkusi

    Blok Introduksi (1.1)

    Teknik perkusi yang baik (Bickley and Szilagyi, 2007), bagi pemeriksa yang dominan tangan

    kanan, adalah sebagai berikut :

    • 1. Lakukan hiperekstensi jari tengah tangan kiri anda (dikenal sebagai jari tangan pleksimeter).

    • 2. Buat sendi DIP jari tengah menekan kuat permukaan yang akan diperkusi.

    • 3. Hindari kontak antara permukaan tersebut dengan bagian tangan yang lain karena hal ini akan meredam getaran.

    • 4. Dengan gerakan pergelangan tangan yang cepat tetapi rileks (tidak kaku), ketuklah jari pleksimeter dengan jari tengah kanan atau jari pleksor, arahkan ketukan pada sendi DIP.

    • 5. Lakukan ketukan dengan ujung jari pleksor dengan jari tangan hampir tegak lurus dengan pleksimeter

    • 6. Angkat jari tangan yang mengetuk dengan cepat untuk menghindari peredaman.

    • 7. Kuku jari yang pendek dianjurkan untuk menghindari cedera pada diri sendiri.

    Buku Panduan Skills Practice Cara melakukan Perkusi Blok Introduksi (1.1) Teknik perkusi yang baik (Bickley and
    Buku Panduan Skills Practice Cara melakukan Perkusi Blok Introduksi (1.1) Teknik perkusi yang baik (Bickley and

    Gambar 1.

    Buku Panduan Skills Practice Cara melakukan Perkusi Blok Introduksi (1.1) Teknik perkusi yang baik (Bickley and

    Teknik melakukan perkusi (Bickley and Szilagyi, 2007)

    • 4. AUSKULTASI

    Auskultasi adalah mendengarkan suara yang terdapat di dalam tubuh dengan bantuan alat yang

    disebut Stetoskop. Alat ini berfungsi sebagai saluran pendengaran di luar tubuh untuk dapat

    meredam suara di sekitamya. Dari pemeriksaan auskultasi, dokter dapat mendengarkan suara-

    suara secara kualitatif dan kuantitatif yang ditimbulkan oleh jantung, pembuluh darah, paru, dan

    usus.

    Auskultasi biasanya dilakukan setelah pemeriksaan inspeksi, palpasi, dan perkusi. Kecuali untuk

    pemeriksaan abdomen, auskultasi harus dilakukan sebelum pemeriksaan palpasi dan perkusi.

    Stetoskop terdiri dari :

    Bagian yang menempel pada permukaan tubuh pasien (chestpiece), yang terdiri dari dua sisi

     

    permukaan, yaitu :

     

    o

    sisi membran, yang terdiri dari suatu membran berdiameter 3,5-4 cm. Bagian membran

     

    ini menyaring suara berfrekuensi rendah, sehingga meneruskan terutama suara yang

    berfrekuensi tinggi.

     

    o

    sisi bel atau cup yang berbentuk corong dan berdiameter 3,8 cm. Bagian ini meneruskan

     

    sebagian besar dari suara berfrekuensi rendah.

    Tube

    Binaurals

    Buku Panduan Skills Practice

    Bagian untuk mendengarkan (earpieces)

    PELAKSANAAN LATIHAN

    • 1. Perhatikan posisi pemeriksa dan pasien.

    • 2. Pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

    • 3. Bekerjalah dengan sistematis

    • 4. Inspeksi :

    Blok Introduksi (1.1)

    Perhatikan kesan umum dari pasangan anda, bagaimana bentuk tubuhnya, perbandingan

    antara kepala dan badan, dan lain-lain.

    Perhatikan sikap, gerakan, dan cara berjalannya.

    Perhatikan warna kulit, rambut, keadaan kuku, dan ciri-ciri lainnya.

    Catat dengan cermat segala sesuatu yang ditemukan

    • 5. Palpasi :

    Cobalah untuk dapat meraba denyut nadi pasangan anda.

    Letakkan tangan anda pada dada pasangan anda. Rasakan permukaan dinding dada, dan

    dengan tekanan sedikit akan terasa adanya tulang-tulang iga. Rasakanlah gerakan tulang

    iga tersebut saat bernafas, baik inspirasi maupun ekspirasi.

    Bandingkan gerakan dada kanan dan kiri saat pernafasan ini.

    • 6. Perkusi :

    Mula-mula berlatihlah melakukan gerakan perkusi pada permukaan benda di sekitar anda.

    Selanjutnya berlatihlah pada permukaan badan pasangan anda (dada atau perut) untuk

    melatih telinga mendengarkan dan mengartikan suara yang ditimbulkan.

    Lakukanlah perkusi dada dan abdomen pada pasangan anda, dan perhatikan suara yang

    timbul karena perkusi pada berbagai tempat yang berbeda. Selanjutnya perhatikan suara

    yang dihasilkan, apakah termasuk pekak, redup, sonor, hipersonor, atau timpani.

    • 7. Auskultasi :

    Lakukanlah auskultasi pada pasangan anda, baik pada dada maupun pada perut.

    Dengarkan suara yang dihasilkan. Cobalah untuk mengenali suara pernafasan, baik saat

    inspirasi maupun ekspirasi, suara jantung, dan suara peristaltik usus.

    REFERENSI :

    Bickley, L.S, and Szilagyi, P.G. 2007. Bates’ guide to physical examination and history taking,

    9th ed. Lippincott William and Wilkins. Philadelphia.

    *dr. Chaina Hanum dan dr. Erlina Marfianti, M.Sc, Sp.PD

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)

    Buku Panduan Skills Practice

    Blok Introduksi (1.1)