Anda di halaman 1dari 12

Mengenal Gejala dan Penanganan pada Infeksi Saluran Kemih

Manda Setyo Wulandari 102013008


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Email: mandasetyowulandari@yahoo.com
Pendahuluan
Sistem urogenital atau the urinay tract terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra.
Umumnya, infeksi dari sistem saluran kemih dibagi berdasarkan letak anatomisnya: bagian bawah (the
lower urinary tract) terdiri dari kandung kemih dan uretra; dan bagian atas (the upper urinary tract) terdiri
dari ureter dan ginjal.1
Uretra merupakan lokasi dimana terdapatnya berbagai bakteri atau mikroflora yang kerap
berkolonisasi di bagian epitelium distal dari uretra. Patogen potensial terdiri dari bakteri batang gram
negatif aerob (khususnya Enterobacteriaceae) dan beberapa jenis jamur. Semua area traktus urinarius
yang berada diatas dari uretra adalah steril dari bakteri. 1

Anamnesis
Anamnesis merupakan wawancara riwayat kesehatan pasien baik secara langsung atau tidak
langsung yang memiliki tiga tujuan utama yaitu mengumpulkan informasi, membagi informasi, dan
membina hubungan saling percaya untuk mendukung kesejahteraan pasien. Informasi atau data yang
dokter dapatkan dari wawancara merupakan data subjektif berisi hal yang diutarakan pasien kepada
dokter mulai dari keluhan utama hingga riwayat pribadi dan riwayat sosial.1
Untuk individu dewasa, riwayat komprehensif mencakup mengidentifikasi data dan sumber
riwayat, keluhan utama, penyakit saat ini, riwayat kesehatan dahulu, riwayat keluarga, dan riwayat pribadi
dan sosial. Pasien yang baru dirawat di rumah sakit atau klinik patut dilakukan pengkajian riwayat
kesehatan komprehensif, akan tetapi dalam banyak fasilitas akan lebih tepat bila dilakukan wawancara
yang lebih terfokuskan atau berorientasi masalah yang pelaksanaannya fleksibel. Riwayat kesehatan yang
perlu dikumpulkan dalam anamnesis, meliputi:1
1. Identifikasi data meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pekerjaan,
dan status perkawinan.
2. Keluhan utama yang berasal dari kata-kata pasien sendiri yang menyebabkan pasien mencari
perawatan.

3. Penyakit saat ini meliputi perincian tentang tujuh karakteristik gejala dari keluhan utama
yaitu lokasi, kualitas, kuantitas, waktu terjadinya gejala, kondisi saat gejala terjadi, faktor
yang meredakan atau memperburuk penyakit, dan manifestasi terkait hal-hal lain yang
menyertai gejala.
4. Riwayat kesehatan dahulu seperti pemeliharaan kesehatan, mencakup imunisasi, uji skrining
dan penyakit yang diderita pada masa kanak-kanak, penyakit yang dialami saat dewasa
lengkap dengan waktunya mencakut empat kategori yaitu medis, pembedahan, obstetrik, dan
psikiatrik.
5. Riwayat keluarga yaitu diagram usia dan kesehatan, atau usia dan penyebab kematian dari
setiap hubungan keluarga yang paling dekat mencakup kakek-nenek, orang tua, saudara
kandung, anak dan cucu.
6. Riwayat pribadi dan sosial seperti aktivitas dan gaya hidup sehari-hari, situasi rumah dan
orang terdekat, sumber stress jangka pendek dan panjang, pekerjaan dan pendidikan.
Pemeriksaan fisik
Selain pemeriksaan fisik umum yang meliputi tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik bagi kasus infeksi
saluran kemih (ISK) adalah seperti berikut.
Pertama-tama lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital seperti tekanan darah, suhu, frekuensi nadi, dan
frekuensi pernapasan. Lalu lakukan inspeksi pada bagian abdomen dan punggung untuk melihat adanya
massa, benjolan dan lesi kulit. Palpasi bagian abdomen pasien khususnya bagian suprapubik. Perkusi dan
auskultasi abdomen pasien untuk melihat apakah ada kelainan pada abdomen.
Pemeriksaan Ginjal
Di bagian belakang, palpasilah panggul dengan teliti dan tekan ke dalam karena ginjal terlindungi
dengan baik. Perkusilah dengan kuat sudut kostovertebra dengan telapak tangan anda. Di bagian depan,
teknik terbaik adalah palpasi bimanual . Satu tangan diletakkan di belakang, menekan dari panggul
belakang pasien, dan tangan lainnya menekan melalui dinding abdomen. Lakukan Balotemen dengan
tangan yang terletak di belakang mendorong ginjal ke tangan yang terletak di depan. 2
Distensi kandung kemih mengisi ruang suprapubis dan dapats egera ditentukan dengan perkusi
pada pasien yang berbaring. Suara perkusi pekak di daerah kandung kemih yang berisi cairan dikelilingi
oleh suara perkusi timpani di daerah usus yang berisi udara. Mulailah melakukan perkusi di atas
umbilikus.2
Periksalah meatus uretra untuk melihatadanya inflamasi atau pergetahan. Lengkapilah pemeriksaan
dengan analisis contoh urin yang baru saja dikeluarkan. 2

Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada kasus adalah:


Tekanan darah: 120/80 mmHg
Nadi: 150x/menit
Suhu: 38oC
Frekuensi nafas: 20x/menit
Abdomen: nyeri tekan regio suprapubic
Pemeriksaan Penunjang

a. Urinalisis
- Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria
-

positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) urin.
Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB urin. Hematuria
disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun
urolitiasis.3

b. Bakteriologis
- Mikroskopis
Dinyatakan positif bila dijumpai 1 bakteri /lapangan pandang minyak emersi.
- Biakan bakteri
Dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah
bermakna sesuai dengan criteria Cattell:

Wanita, simtomatik
>102 organisme coliform/ml urin plus piuria, atau
> 105 organisme pathogen apapun/ml urin, atau
adanya pertumbuhan organisme

patogen apapun pada urin yang diambil dengan cara

aspirasi suprapubik

Laki-laki, simtomatik: >103 organisme patogen/ml urin

Pasien asimtomatik: > 105 organisme patogen/ml urin pada 2 contoh urin berurutan. 3

c. Pemeriksaan kimia
Yang paling sering dipakai ialah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar
mikroba kecuali enterococcus, mereduksi nitrat bila dijumpai lebih dari 100.000 1.000.000 bakteri. Konversi ini dapat dijumpai dengan perubahan warna pada uji tarik.
Sensitivitas 90,7% dan spesifisitas 99,1% untuk mendeteksi Gram-negatif.2 Hasil palsu

terjadi bila pasien sebelumnya diet rendah nitrat, diuresis banyak, infeksi oleh enterococcus
dan acinetobacter.3

Indikasi investigasi lanjutan setelah ISK meliputi terdapatnya ISK kambuh (relapsing infection),
pasien laki-laki, gejala urologik (kolik ginjal, piuria, hematuria), hematuria persisten, mikroorganisme
jarang (pseudomonas spp, proteus spp), ISK berulang dengan interval 6 minggu.
Selama demam akut infeksi, pemeriksaan ultrasonografi ginjal harus dilakukan untuk
menyingkirkan hidronerfosis dan abses ginjal atau perirenal; indikasi lain untuk pemeriksaan ini adalah
bila respons pengobatan antibiotika tidak cepat, bila pasien sakit berat dan toksik, dan bila kadar kreatinin
serum meningkat. Ultrasonografi ginjal juga sangat sensitif untuk deteksi pielonefritis, suatu kondisi yang
meungkin memerlukan drainase sistem kolektivus segera dengan nefrotomi perkutan 4
Pielografi intravena (PIV) atau dikenal dengan Intra Venous Urography atau urografi adalah foto
yang dapat menggambarkan keadaan sistem urinaria melalui bahan kontras radio-opak. Pencitraan ini
dapat menunjukkan adanya kelainan anatomi dan kelainan fungsi ginjal. Bahan kontras yang biasa
digunakan adalaj Jodium 300mg/kg BB. Pertama kali dibuat foto polos perut sebagai kontrol. Setelah itu,
bahan kontras disuntikkan secara intravena, dan dibuat foto srial bebeapa menit hingga satu jam, dan foto
setelah miksi. Pemberian kontras dapat menimbulkaan reaksi alergi berupa urtikaria, sok anafilaktik,
sampai timbulnya laringospasmus. Foto PIV tidak boleh dilakukan pada pasien gagal ginjal, karena bahan
kontras tidak dapat di ekskresikan dan menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih parah, bersifat
nefrotoksik.5
USG (Ultrasonografi) - Prinsip pemeriksaan ultrasonografi adalah menangkap gelombang bunyi
ultra yang dipantulkan oleh organ-organ (jaringan) yang berbeda kepadatannya. Pemeriksaan ini tidak
invasif dan tidak menimbulkan efek radiaasi. Massa padat (hiperkoik) dengan massa massa kistus
(hipoekoik), serta batu non-opak (echoic shadow) dapat terdeteksi oleh USG. Pada buli-buli, USG
berguna untuk menghitung sisa urine pasca miksi dan mendeteksi adanya batu atau tumor di kandung
kemih.5

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering ditemukan di
parktik umum,walupun bermacam-macam antibiotika seudah tersedia luasdi pasaran.data penelitian
epidimiologi klinik melaporkan hamper 25-35 % semua perempuan dewasa pernah mengalami ISK
selama hidupnya. Infeksi Saluran Kemih (ISK) tipe sederhana (uncomplicated type) jarang dilaporkan
menyebabkan insufisiensi ginjal kronik ( IGK) walaupun sering mengalami ISK berulang. Sebaliknya

ISK berkomplikasi (complicated type) terutama terkait refluks vesikoureter sejak lahir sering
menyebabkan IGK yang berakhir dengan gagal ginjal terminal (GGT) 6
Penggunaan prosedur pencitraan ginjal seperti ultrasonografi (USG) yang tersebar luas di
masyarakat termasuk praktek dokterumum harus berdasarkan indikasi medis yang kuat dan benar)
Diagnosis banding
Urolitiasis
Proses pembentukan batu di ginjal, kandung kemih, dan / atau uretra (saluran kemih).Batu ginjal
adalah penyebab umum dari darah dalam urin dan nyeri di perut, panggul, atau selangkangan. Batu ginjal
terjadi pada 1 dari 20 orang di beberapa waktu dalam kehidupan mereka. Perkembangan batu berkaitan
dengan penurunan volume urin atau peningkatan ekskresi komponen pembentuk batu seperti kalsium,
oksalat, asam urat, sistin, xantin, dan fosfat. Batu-batu terbentuk di daerah pengumpulan urin (pelvis) dari
ginjal dan dapat berbagai ukuran dari kecil ke staghorn batu ukuran pelvis ginjal itu sendiri.
Rasa sakit batu ginjal biasanya onset mendadak, sangat parah dan kolik (intermiten), tidak
diperbaiki dengan perubahan posisi, memancar dari belakang, bawah panggul, dan ke pangkal paha. Mual
dan muntah yang umum.
Faktor predisposisi untuk batu ginjal kurangnya asupan cairan, obat yang menyebabkan
hyperuricemia (asam urat tinggi) dan riwayat gout.
Perawatan termasuk menghilangkan nyeri, hidrasi dan, jika ada infeksi saluran kemih bersamaan,
antibiotik.
Mayoritas batu lulus spontan dalam waktu 48 jam. Namun, beberapa batu mungkin tidak. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk melewati batu. Ini termasuk ukuran orang, bagian
batu sebelumnya, pembesaran prostat, kehamilan, dan ukuran batu. Sebuah batu 4 mm memiliki peluang
80% dari bagian sementara batu 5 mm memiliki kesempatan 20%. Jika batu tidak lulus, prosedur tertentu
(biasanya dengan dokter spesialis urologi) mungkin diperlukan.

ISK atas
ISK atas dibagi menjadi
1. Pielonefritis akut ( PNA). Pielonefritis akut adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang
disebabkan infeksi bakteri

2. Pielonefritis

kronis.

Pielonefritiskronis mungkin akibat lanjutan dari

infeksi bakteri

berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan refluks vesikoureter
dengan atau tanpa bacteriuria kronik sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal
yang ditandai pielonefritis kronik yang spesifik. Bakteriuria asimtomatik kronik pada orang
dewasa tanpa factor predisposisi tidak pernah menyebabkan pembentukan jaringan ikat parenkim
ginjal.
Gejala klinik Pielonefritis akut (PNA). Presentasi klinis PNA seperti panas tinggi (39.5-40.5 derajat
selsius) , disertai mengigil dan sakit pinggang. Presentasi klinis PNA ini sering didahului gejala ISK
bawah (sistitis)
Menejemen ISK atas
Pielonefritis akut . pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk
memelihara satus hidrasi dan terapi antibiotik parentral paling sedikit 48 jam. Indikasi pielonefritis akut. 6
The Infection Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga alterntif terapi antibiotic IV
sebagai terapi awal selama 48-72 jam sebelum diketahui mikroorganisme penyebabnya: flirokuinolon,
aminoglikosida dengan atau tapaampisilin, sefalosporin dengan spectrum luas dengan atau tanpa
aminoglikosida
Diagnosis
Infeksi Saluran Kemih
ISK adalah istilah yang umum menunjukan keberadaan mikroorganisme dalam urin.
Bakteriuria bermakna memnunjukan pertumbuhan mikroorganisme murni lebihdari 10 5 cfu/ml pada
biakan urin. Bekteriuria bermakana mungkin tanpa disertai presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria
asimtomatik. Pada beberapa keadaan pasien dengan presentasi ISK tanpa bakteriuria bermakna. banyak
factor yang menyebabkan negative palsu pada pasien dengan presentasik linis ISK.6
Faktor penyebab negative palsu:

Pasien telah mendapat terapi antimikroba


Terapi diuretuka
Minum banyak
Waktu pengambilan sempel tidak tepat

Piuria bermakna apa bila ditemukan netrofil > 10 per lapang pandang
ISK bawah

Presentasi ISK bawah tergantung dari gender:


1. Perempuan
- Sistitis
Sistitis adalah presentasi klinis infeksi kandung kemih disertai bakteriuria bermakana
- Sindrom uretra akut (SUA). Sindrom uretra akut adalah presentasi klinis sistitis tanpa
ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis bakerialis. Penelitian terkini SUA
diseabkan mikroorganisme anaerobic.
2. laki-laki
Presentasi klinis ISK bahwa pada laki-laki mungkin sistitis, prostatitis, epidimidis dan urethritis
Epidemiologi
ISK tergantung banyak factor : seperti usia,gender, prevalensi bakteriuriadan factor prediposisis
yang menyebabkan struktur saluran kemih termasuk ginjal.
Selama periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita ISK
dibandingkan dengan laki-laki. ISK berulang pada pria jarang ditemukan kecuali adanya prediposisi.
Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada perempuan. Prevalensi selama
periode sekolah 1% meningkat menjadi 5% selama periode aktif secara seksual. prevalensi infeksi
asimtomatik meningkat mencapai 30%, baik laki-laki maupun perempuan bila disertai factor
predisposisi. 6
Factor prediposisi ISK:
Litiasis, obstruksi saluran kemih, penyakit ginjal polikistik, nekrosis papilar, Diabetes miletus
pasca transplantasi ginjal, nefropati anlagesik, penyakit sickle cell, sengama, kehamilan dan peserta
KB dengan tablet progresteron dan katerisasi. 6

Mikroorganisme saluran kemih


Pada umumnya ISK disebabkan mikroorganisme tunggal

Escherchia coli merupakan mikroorganisme yang paling sering diisolasi dari pasien dengan

infeksi maupun asimtomatik


Mikroorganisme lainya yang sering ditemukan seperti Proteus sp (33%ISK ana klaki-laki
berusia 5 tahun), Klebsiella sp, dan Staphilokokus dengan kogulase ngatif.

Infeksi yang disebabkan Pseudomonas sp dan mikroorganisme lainya seperti Staphilokokus


jarang dijumpai, kecuali pasca katerisasi. 6

Pathogenesis
Urinary pathogens
Pathogenesis bakteriuri asimtomatik menjadi bakteriuri simtomatik dengan presentasi klinis ISK
tergantung dari patogenesis bakteri dan status pasien sendiri (host). 6
1. Pemeranan patogenisitas bakteri. Sejumlah flora saluran cerna termasuk E.coli diduga terkait
dengan etiologi ISK. Penelitian melaporkan lebih dari 170 serotipe 0 (antigen) E.coli yang
pathogen. Pathogenesis E.coli terkait dengan again permukaan sel polisakaridad ari
lopoposakarin (LPS)
Hanya IG serotype dari 170serotipe0/E.coli yang berhasil diisolasi rutin dari pasien ISK
klinis, diduga strain E.coli ini mempunyai pathogenesis kusus. Penelitian intensif berhasil
menentukan factor virulensi E.coli dikemal sebagai virulence determinalis.
Bakteri pathogen dari urin dapat menyebakan presentasi klinis ISK tergantung juga dari
factor lainnya seperti perlengketan mukosa oleh bakteri, factor virulensi dan variasi fase
factor virulensi.
Peranan bacterial attachmen of mucosa. Penelitian membuktikan bahwa fimbrie
merupakan salah satu pelengkap pathogenesis yang mempunyai kemampuan untuk melekat
pada mukosa saluran kemih. Pada umumnya P fibrie melekat pada P blood group antigen
yang terdapat pada sel epitel saluran kemih atas dan bawah. Fimbrie dan strain E.coli ini
dapat diisolasi hanya dari urin segar.
Peranan factor virulensi lainnya. Kemampuan untuk melekat mikroorganisme atau bakteri
tergantung dari organ pili atau fimbrie maupun non-fimbrie.
Factor virulensi variasi fase. Virulensi bakteri ditandai dengan kemampuan untuk
mengalami perubahan bergantung pada dari respon factor luar. Konsep variasi fase
mikroorganisme ini menunjukan peranan beberapa penentu virulensi bervariasi di antara
individu dan lokasi saluran kemih. Oleh karena itu ketahanan hidup bakteri berbeda dalam
kandung kemih dan ginjal
2. Peranan factor host
Factor prediposisi pencetus ISK. Penelitian epidemiologi klinik mendukung peranan status
saluran kemih merupakan factor resiko ISK. Jadi factor bakteri dan saluran kemih
mempunyai peranan penting untuk kolonisasi bakteri pada saluan kemih. Kolonisasi bakteria
sering mengalami kambuh bila sudah mengalami kelainan anatomi saluran kemih. Dilatasi

saluran kemih termasuk pelvis ginjal tanpa obstruksi saluran kemih dapat menyebakan
gangguan proses klirens normal dan sangat peka terhadap infeksi. 6
Refluks mikroorganisme dari kandung kemih ke ginjal. Refluks vesikoureter ini sifatnya
sementara dan hilang sendiri bila mendapatkan terapi antibiotika.
Proses pembentukan jaringan ginjal sangat berat bila refluks vesikoureter terjadi pada
anak. Pada usia dewasa muda tidak jarang dijumpai di klinik gagal ginjal terminal (GGT) tipe
kering, artinya tanpa udem dengan/tanpa hipertensi. 6
Status imunologi host. Penelitian laboratorium mengungkapkan bahwa golongan darah
dan status secretor mempunyai kontribusi untuk kepekaan terhadap ISK. Kepekaan terhadap
ISK rekuren dari kelompok pasien dengan saluran kemih normal (ISK tipe sederhana) lebih
besar dari pada kelompok antigen darah non-sekretorik dibandingkan klompok sekretorik.
Penelitian lain mengatakan sekresi IgA urin meningkat dan diduga mempunyai peranan
penting untuk kepekaan terhadap ISK rekuren

Patofisiologi ISK
Pada individu normal, urin selalu steril karena dipertahakan jumlah dan frekuensi kencing. Uretro
distal merupakan tempat kolonisasi mikroorganisme mompathogenic fastidious gram postiv dan gram
negative.
Hampir semua ISK disebabkan invasi mikroorganisme asending dari uretra ke dalam kandung kemih,
pada beberapa pasien tertentu invasi mikroorganise dapat mencapai ginjal. Proses ini dipermudah refluks
vesikoureter
Proses invasi mikroorganisme hematogen sangat jarang ditemukan diklinik, mungkin akibat
lanjut dari bakterimia. Ginjal diduga merupakan lokasi infeksi sebagai akibat lanjut septikemi atau
endokarditisakibat Staphilokokus aureus. Kelainan ginjal yang terkait dengan endocarditis (staphilokokus
aureus) dikenal nephritis Lohlein. Bebeapa peneliti melaporkan pielonefritis akut (PNA) sebagai akibat
lanjut invasi hematogen dari infeksi sistemik gram negative.
Gejala klinik
Setiap pasien ISK pada laki-laki dan ISK rekuren pada perempuan harus dilakukan ivestigasi
factor prediposisi.
ISK bawah (sistitis) presentasi klinik seperti sakit suprapubik ,polakisuria, nokturia, dysuria, dan
stranguria.

Sindrom uretra akut (SUA). Presentasi SUA sulit dibedakan dengan sistitis. SUA sering
ditemukan pada perempuan usia antara 20-50 tahun. Presentasi SUA sangat miskin ( hanya disuri dan
sering kencing) disertai cfu/ml urin <105 sering disebut sistitis abakterialis.6
SUA dibagi menjadi 3:
a. Kelompok pasien yang disertai dengan piuria biakan urin dapat diisolasi E.coli dengan
cfu/ml urin 103 105 . Sumber infeksi berasal dari peri uretral atau uretra sendiri.
Klompok ini memiliki respon yang baik terhadap antibiotic standar seperti ampisilin.
b. Kelompok leukosituri 10-50/ lapang pandang tinggi dan kultur urin steril. Kultur (biakan)
khusus ditemukan Chlamydia trachomatis atau bakteri anaerobic
c. Kelompok tanpa piuri dan biakanurin steril

ISK rekuren
Terdiri dari 2 klompok yaitu:
a. re-infksi pada umumnya episode infeksi dengan interval > 6minggu dengan mikroorganisme yang
berlainan.
b. relapsing infection. Setiap kali infeksi disebabkan mikroorganisme yang sama, disebabkan sumber
infeksi tidak mendapat terapiyang adekuat
komplikasi
komplikasi tergantung dari tipe ISK
1.ISK sederhana ( uncomplicated) . ISK akut tipe sederhana (sistitis) yaitu non-obstruksi dan bukan
perempuan hamil merupakan penyakit ringan (self limited disease)dan tidak menyebabkan akibat lanjut
jangka lama.6
2. ISK tipe berkomplikasi ( complicated)
ISk selama kehamilan, ISK pada diabetes mellitus.penelitian epidimiologi klinik mlaporkan
bakteriuri dan ISK lebih sering ditemukan pada DM dibandingkan perempuan tanpa DM.6
Abses perinefritik merupakan komplikasi ISK pada pasien dengan DM (47%) , nefrolitiasis
(41%) danobstruksi ureter (20%)
Menejemen ISK

ISK bawah
Prinsip menejemen ISk bawah meliputi intake cairan yang banyak, antibiotika yang adekuat dan kalau
perlu terapi simtomatik untuk alkalinisasi urin:

Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan antibiotikan tunggal seperti

ampisilin 3gram , trimetropim 200mg


Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisis (lekosuria) diperlukan terapi konvensioal salama

5-10 hari
Pemeriksaan mikroskopik urin dan biakan urin tidak diperlukan bila semua gejala hilang tanpa
lekosuria

Reinfeksi berulang

Disertai factor prediposisi. Terapi antimikroba yang intensif diikuti koreksi factor resiko
Tanpa factor prediposisi berikan asupan cairan banyak dan cuci setelah melakukan senggama

diikuti takaran antibiotik tunggal (missal trimetropim 200mg)


Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan6

Pencegahan
Data epidimiologi klinik mengungkapkan uji saring bakteriuria asimtomatik bersifat selektif
dengan tujuan utama untuk mencegah menjadi bacteriuria disertai presentasi klinik ISK. Uji saring
bacteriuria asimtomatik harus rutin dengan jadwal tertentu untuk kelompok pasien peremupuan hamil,
pasien DM terutama perempuan dan laki-laki,dan katerisasi laki-laki dan perempuan. 6

Kesimpulan
Pasien ini terkena infeksi saluran kemih bagian bawah dengan penyulit yang memiliki gejala
klinik sakit suprapubik ,polakisuria, nokturia, dysuria, dan stranguria. Penyakit ini memiliki prognosis
yang baik apabila ditangani dengan pemberian antibiotik yang adekuat dan pengontrolan pemeriksaan
urin yang teratur pada pasien yang memiliki faktor prediposisi.
Daftar pustaka
1. Bickley LS, Szilagyi PG. Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates: buku saku. Edisi ke-5.
Jakarta: EGC; 2008.h.1-9.
2. Burnside JW, McGlynn TJ. Diagnosis fisik adams. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 1995.h.292-3

3. Sukandar E. Nefrologi klinik. Edisi 3. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah (PII) Bagian Ilmu

Penyakit Dalam FK UNPAD; 2006. h.26-93.


4. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Ilmu kesehatan anak, Nelson. Editor: Wahab AS. Edisi 15.
Jakarta: EGC.2012.h.1862-8
5. Purnomo BB. Dasar-dasar urologi. Jakarta: Sagung seto.2003.h.18-27, 33,44
6. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Ilmu penyakit dalam. Edisi keJilid 2. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.1009-15

5.