Anda di halaman 1dari 11

Dasar-Dasar Kristalografi

Hari Sutrisno
Jurdik Kimia, FMIPA, UNY

Kristal dan Kristalografi ?


Point-point Penting

Kristalografi: Ilmu yang merupakan cabang mineralogi


mempelajari struktur material dalam tingkat atomik:
penentuan, klasifikasi dan penafsiran struktur geometri
zat padat (khususnya kristal).
Kristal: zat padat dengan struktur mikroskopiknya
ditandai secara khusus oleh pengulangan 3 dimensi
secara periodik dari motif yang tersusun dari atom.
Kajian keteraturan dan ketidakteraturan atom dalam
struktur zat padat merupakan cakupan inti dari
kristalografi.
Keperiodikkan struktur atomik mempengaruhi sifat-sifat
makroskopik kristal, misalnya pada sifat fisiknya:
kecepatan tumbuh, konduktif, elektrik dan termik, indeks
refraksi, elastisitas, piezoelektrik.

Kristalografi merupakan disiplin ilmu relatif baru,


penemuan diffraksi sinar-X tahun 1912 pada
penentuan struktur kristal.
Kristalografi memiliki peran interdisipliner antara fisika,
kimia, biologi molekuler, sains material dan mineralogi.
Tema-tema berkaitan kristalografi: penentuan struktur
mikroskopik pada tingkat atomik dari material
anorganik, organik dan makromolekuler (jarak antar
atom, sudut ikatan, stereokimia), identifikasi material
murni ataupun campuran (batuan dan mineral, kontrol
kualitas, analisis pada hasil korosi dan sebagainya),
analisis tekstur pada batuan dan paduan logam,
kontrol orientasi kristal.
Prinsip dalam eksperimen kristal: penggunaan difraksi
sinar-X dan netron dengan panjang gelombang sekitar
1 (100 nm).

Pengukuran eksak bentuk kristalin polihedral, teori


simetri kristal dan periodisitas struktur
mikroskopiknya (simetri translasi) berkembang
selama abad ke XVIII dan XIX.
Teori ini telah dibuktikan pertama kali melalui
penelitian fundamental dengan difraksi sinar-X oleh
Von Laue, Friedrich dan Knipping (1912).
Selanjutnya teori dan teknik penentuan struktur
dengan difraksi sinar-X atau netron berkembang,
seiring dengan perkembangan komputer yang
semakin canggih.
Saat ini, lebih dari 9000 struktur kristal dan 2000
spektra powder baru telah berhasil dipublikasikan
per tahun.

Sistem koordinat kristalografik


z

c
a

x
Sumbu kristalografi dan sudut
antar sumbu

Aturan tangan kanan sebagai


sumbu kristalografi

Hukum dan Postulat kristalografi

Hukum konstanta sudut

Diajukan oleh ahli berkebangsaan Denmark, Nils


Steensen (1669) untuk kristal kwarsa (SiO2)
Hukum ini diberlakukan untuk kristal secara umum
oleh ahli berkebangsaan Italia, Domenico
Guglielmini (1688) dan Swis, Moritz Anton Cappeler
(1723).
Jean Bantiste Louis de lIsle (1978) dari Perancis
membuat rumusan atas dasar ahli di atas

Rumusan Jean Bantiste Louis de lIsle:


Sudut

antara dua permukaan tidak akan


berubah akibat pertumbuhan kristal, dengan
demikian sudut tersebut tidak bergantung dari
jarak permukaan ke suatu titik tertentu
Sudut-sudut antar permukaan berkaitan dari
dua individu yang memiliki jenis kristal yang
sama adalah sama (pada temperatur dan
tekanan yang sama)
Pada kondisi fisik tertentu, sudut-sudut
antar permukaan merupakan karakteristik
untuk satu jenis kristalin

Princip Bernhardi (1890) : jumlah dan dimensi


permukaan suatu kristal tidak khas, masing-masing
kristal memiliki kekhasan yang asli (habitus), yang
terpenting adalah arah dan orientasi yaitu arah
garis potong dan normales de faces

Tiga polihedral dengan sudut sama pada 60 dan 90 antar permukaan normal

Klasifikasi Kristal