Anda di halaman 1dari 7

Nama

: Irene Ratnasari

NPM

: 1102010131

Periode Stase

: 07 September 26 September 2015 (Anestesi)

1. Apa indikasi anestesi spinal


a. Bedah ekstremitas bawah
b. Bedah panggul
c. Tindakan sekitar rectum-perineum
d. Bedah obstetri-ginekologi
e. Bedah urologi
f. Bedah abdomen bawah
g. Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya dikombinasi degan anestesi
umum ringan
2. Sebutkan kontraindikasi absolut dan kontraindikasi relatif anestesi spinal
No

Kontraindikasi Absolut

Kontraindikasi Relatif

Pasien menolak

Sepsis, meningkatkan risiko meningitis

Hipovolemia berat, syok

Infeksi sekitar tempat suntikan

Koagulopati atau mendapat terapi


antikoagulan

Kelainan neurologi

Peningkatan Tekanan Intrakranial

Kelainan anatomi tulang belakang


(scoliosis )

Infeksi pada tempat suntikan

Penyakit Jantung

Kelainan Psikis

Nyeri punggung kronis

Hipovolemia ringan

3. Sebutkan obat-obatan anestesi golongan Ester dan Amida (masing-masing 6)

No
1

Golongan Ester
Prokain

Golongan Amida
Lidokain

2
3
4
5
6

Tetrakain
Kloroprokain
Kokain
Benzokain
Ametocaine

Bupivacaine
Mepivacaine
Prilokain
Etidokain
Levobupivacaine

4. Jelaskan komplikasi akut dan delayed anestesi spinal


a. Dini (Gangguan pada sirkulasi, respirasi, GIT)
b. Terjadi kemudian ( Delayed )

Komplikasi tindakan
1.

Hipotensi berat
Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah dengan
memberikan infus cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml sebelum tindakan.
2. Bradikardia
Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia,terjadi akibat blok sampai T-2
3. Hipoventilasi
Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas
4. Trauma pembuluh saraf

5.

Trauma saraf

6.

Mual-muntah

7.

Gangguan pendengaran

8.

Blok spinal tinggi atau spinal total

Komplikasi pasca tindakan


1.

Nyeri tempat suntikan

2.

Nyeri punggung

3.

Nyeri kepala karena kebocoran likuor

4.

Retensio urine

5.

Meningitis

Komplikasi intraoperatif
Komplikasi kardiovaskular
Insiden terjadi hipotensi akibat anestesi spinal adalah 10-40%. Hipotensi terjadi karena
vasodilatasi, akibat blok simpatis, yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan arteriola
sistemik dan vena, makin tinggi blok makin berat hipotensi. Cardiac output akan
berkurang akibat dari penurunan venous return. Hipotensi yang signifikan harus diobati
dengan pemberian cairan intravena yang sesuai dan penggunaan obat vasoaktif seperti
efedrin atau fenilefedrin. Cardiac arrest pernah dilaporkan pada pasien yang sehat pada
saat dilakukan anestesi spinal. Henti jantung bisa terjadi tiba-tiba biasanya karena terjadi
bradikardia yang berat walaupun hemodinamik pasien dalam keadaan yang stabil. Pada
kasus seperti ini, hipotensi atau hipoksia bukanlah penyebab utama dari cardiac arrest
tersebut tapi ia merupakan dari mekanisme reflek bradikardi dan asistol yang disebut
reflek Bezold-Jarisch. Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infuse cairan
kristaloid(NaCl,Ringer laktat) secara cepat sebanyak 10-15ml/kgbb dlm 10 menit segera
setelah penyuntikan anesthesia spinal. Bila dengan cairan infuse cepat tersebut masih
terjadi hipotensi harus diobati dengan vasopressor seperti efedrin intravena sebanyak
19mg diulang setiap 3-4menit sampai mencapai tekanan darah yang dikehendaki.
Bradikardia dapat terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok
simpatis,dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV.

Blok spinal tinggi atau total


Anestesi spinal tinggi atau total terjadi karena akibat dari kesalahan perhitungan dosis
yang diperlukan untuk satu suntikan. Komplikasi yang bisa muncul dari hal ini adalah
hipotensi, henti nafas, penurunan kesadaran, paralisis motor, dan jika tidak diobati bisa
menyebabkan henti jantung. Akibat blok simpatetik yang cepat dan dilatasi arterial dan
kapasitas pembuluh darah vena, hipotensi adalah komplikasi yang paling sering terjadi
pada anestesi spinal. Hal ini menyebabkan terjadi penurunan sirkulasi darah ke organ vital
terutama otak dan jantung, yang cenderung menimbulkan sequel lain. Penurunan sirkulasi
ke serebral merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadi henti nafas pada anestesi
spinal total. Walau bagaimanapun, terdapat kemungkinan pengurangan kerja otot nafas
terjadi akibat dari blok pada saraf somatic interkostal. Aktivitas saraf phrenik biasanya

dipertahankan. Berkurangnya aliran darah ke serebral mendorong terjadinya penurunan


kesadaran. Jika hipotensi ini tidak di atasi, sirkulasi jantung akan berkurang seterusnya
menyebabkan terjadi iskemik miokardiak yang mencetuskan aritmia jantung dan akhirnya
menyebakan henti jantung. Pengobatan yang cepat sangat penting dalam mencegah
terjadinya keadaan yang lebih serius, termasuk pemberian cairan, vasopressor, dan
pemberian oksigen bertekanan positif. Setelah tingkat anestesi spinal berkurang, pasien
akan kembali ke kedaaan normal seperti sebelum operasi. Namun, tidak ada sequel yang
permanen yang disebabkan oleh komplikasi ini jika diatasi dengan pengobatan yang cepat
dan tepat.

Komplikasi respirasi
1. Analisa gas darah cukup memuaskan pada blok spinal tinggi, bila fungsi paru-paru
normal.
2. Penderita PPOM atau COPD merupakan kontra indikasi untuk blok spinal tinggi.
3. Apnoe dapat disebabkan karena blok spinal yang terlalu tinggi atau karena hipotensi
berat dan iskemia medulla.
4. Kesulitan bicara,batuk kering yang persisten,sesak nafas,merupakan tanda-tanda tidak
adekuatnya pernafasan yang perlu segera ditangani dengan pernafasan buatan.

Komplikasi postoperatif
Komplikasi gastrointestinal
Nausea dan muntah karena hipotensi,hipoksia,tonus parasimpatis berlebihan,pemakaian
obat narkotik,reflek karena traksi pada traktus gastrointestinal serta komplikasi
delayed,pusing kepala pasca pungsi lumbal merupakan nyeri kepala dengan ciri khas
terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi tegak. Mulai terasa pada 2448jam pasca pungsi lumbal,dengan kekerapan yang bervariasi. Pada orang tua lebih
jarang dan pada kehamilan meningkat.
Nyeri kepala
Komplikasi yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah nyeri kepala. Nyeri kepala
ini bisa terjadi selepas anestesi spinal atau tusukan pada dural pada anestesi epidural.
Insiden terjadi komplikasi ini tergantung beberapa faktor seperti ukuran jarum yang

digunakan. Semakin besar ukuran jarum semakin besar resiko untuk terjadi nyeri kepala.
Selain itu, insidensi terjadi nyeri kepala juga adalah tinggi pada wanita muda dan pasien
yang dehidrasi. Nyeri kepala post suntikan biasanya muncul dalam 6 48 jam selepas
suntikan anestesi spinal. Nyeri kepala yang berdenyut biasanya muncul di area oksipital
dan menjalar ke retro orbital, dan sering disertai dengan tanda meningismus, diplopia,
mual, dan muntah. Tanda yang paling signifikan nyeri kepala spinal adalah nyeri makin
bertambah bila pasien dipindahkan atau berubah posisi dari tiduran/supinasi ke posisi
duduk, dan akan berkurang atau hilang total bila pasien tiduran. Terapi konservatif dalam
waktu 24 48 jam harus di coba terlebih dahulu seperti tirah baring, rehidrasi (secara
cairan oral atau intravena), analgesic, dan suport yang kencang pada abdomen. Tekanan
pada vena cava akan menyebabkan terjadi perbendungan dari plexus vena pelvik dan
epidural, seterusnya menghentikan kebocoran dari cairan serebrospinal dengan
meningkatkan tekanan extradural. Jika terapi konservatif tidak efektif, terapi yang aktif
seperti suntikan salin kedalam epidural untuk menghentikan kebocoran.

Nyeri punggung
Komplikasi yang kedua paling sering adalah nyeri punggung akibat dari tusukan jarum
yang menyebabkan trauma pada periosteal atau ruptur dari struktur ligament dengan atau
tanpa hematoma intraligamentous. Nyeri punggung akibat dari trauma suntikan jarum
dapat di obati secara simptomatik dan akan menghilang dalam beberapa waktu yang
singkat sahaja.

Komplikasi neurologik
Insidensi defisit neurologi berat dari anestesi spinal adalah rendah. Komplikasi
neurologik yang paling benign adalah meningitis aseptik. Sindrom ini muncul dalam
waktu 24 jam setelah anestesi spinal ditandai dengan demam, rigiditas nuchal dan
fotofobia. Meningitis aseptic hanya memerlukan pengobatan simptomatik dan biasanya
akan menghilang dalam beberapa hari.
Sindrom cauda equina muncul setelah regresi dari blok neuraxial. Sindrom ini mungkin
dapat menjadi permanen atau bisa regresi perlahan-lahan setelah beberapa minggu atau

bulan. Ia ditandai dengan defisit sensoris pada area perineal, inkontinensia urin dan fekal,
dan derajat yang bervariasi pada defisit motorik pada ekstremitas bawah.
Komplikasi neurologic yang paling serius adalah arachnoiditis adesif. Reaksi ini biasanya
terjadi beberapa minggu atau bulan setelah anestesi spinal dilakukan. Sindrom ini ditandai
oleh defisit sensoris dan kelemahan motorik pada tungkai yang progresif. Pada penyakit
ini terdapat reaksi proliferatif dari meninges dan vasokonstriksi dari vasculature korda
spinal.
Iskemia dan infark korda spinal bisa terjadi akibat dari hipotensi arterial yang lama.
Penggunaan epinefrin didalam obat anestesi bisa mengurangi aliran darah ke korda spinal.
Kerusakan pada korda spinal atau saraf akibat trauma tusukan jarum pada spinal maupun
epidural, kateter epidural atau suntikan solution anestesi lokal intraneural adalah jarang,
tapi tetap berlaku.
Perdarahan subaraknoid yang terjadi akibat anestesi regional sangat jarang berlaku karena
ukuran yang kecil dari struktur vaskular mayor didalam ruang subaraknoid. Hanya
pembuluh darah radikular lateral merupakan pembuluh darah besar di area lumbar yang
menyebar ke ruang subaraknoid dari akar saraf. Sindrom spinal-arteri anterior akibat dari
anesthesia adalah jarang. Tanda utamanya adalah kelemahan motorik pada tungkai bawah
karena iskemia pada 2/3 anterior bawah korda spinal. Kehilangan sensoris biasanya tidak
merata dan adalah sekunder dari nekrosis iskemia pada akar posterior saraf dan bukannya
akibat dari kerusakan didalam korda itu sendiri. Terdapat tiga penyebab terjadinya
sindrom spinal-arteri : kekurangan bekalan darah ke arteri spinal anterior karena terjadi
gangguan bekalan darah dari arteri-arteri yang diganggu oleh operasi, kekurangan aliran
darah dari arteri karena hipotensi yang berlebihan, dan gangguan aliran darah sama ada
dari kongesti vena mahu pun obstruksi aliran. Anestesi regional merupakan penyebab
yang mungkin yang menyebabkan terjadinya sindrom spinal-arteri anterior oleh beberapa
faktor. Contohnya anestesi spinal menggunakan obat anestesi lokal yang dicampurkan
dengan epinefrin. Jadi kemungkinan epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi pada
arteri spinal anterior atau pembuluh darah yang memberikan bekalan darah. Hipotensi
yang kadang timbul setelah anestesi regional dapat menyebabkan kekurangan aliran
darah. Infeksi dari spinal adalah sangat jarang kecuali dari penyebaran bacteria secara
hematogen yang berasal dari fokal infeksi ditempat lain. Jika anestesi spinal diberikan
kepada pasien yang mengalami bakteriemia, terdapat kemungkinan terjadi penyebaran ke

bakteri ke spinal. Oleh yang demikian, penggunaan anestesi spinal pada pasien dengan
bakteremia merupakan kontra indikasi relatif. Jika infeksi terjadi di dalam ruang
subaraknoid, akan menyebabkan araknoiditis. Tanda dan symptom yang paling prominen
pada komplikasi ini adalah nyeri punggung yang berat, nyeri lokal, demam, leukositosis,
dan rigiditas nuchal. Oleh itu, adalah tidak benar jika menggunakan anestesi regional
pada pasien yang mengalami infeksi kulit loka pada area lumbar atau yang menderita
selulitis. Pengobatan bagi komplikasi ini adalah dengan pemberian antibiotik dan drenase
jika perlu.
Retentio urine / Disfungsi kandung kemih
Disfungsi kandung kemih dapat terjadi selepas anestesi umum maupun regional. Fungsi
kandung kencing merupakan bagian yang fungsinya kembali paling akhir pada analgesia
spinal,umumnya berlangsung selama 24 jam. Kerusakan saraf pemanen merupakan
komplikasi yang sangat jarang terjadi.
5. Bagaimana penatalaksanaan total anestesi spinal
Tindakan terhadap total anestesia spinal pada pasien dewasa ialah dengan menaikkan
curah jantung, infus cairan koloid 2-3 liter, menaikkan kedua tungkai, kendalikan
pernapasan dengan 02 100% kalau perlu intubasi trakea dan intubasi ini dapat
dikerjakan dengan sangat mudah karena terjadi relaksasi otot maksimal, beri atropine
untuk melawan bradikardi dan efedrin untuk melawan hipotensi.