Anda di halaman 1dari 7

TITRASI ARGENTOMETRI DAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS

TUJUAN
Memahami teknik-teknik titrasi argentometri
Menentukan kandungan klorida dalam garam dapur kasar dengan metode Mohr dan
Fajans
Memahami teknik-teknik titrasi pembentukan kompleks
Menentukan kesadahan air

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil percobaan

Titrasi argentometri
o Standarisasi larutan standar NHCNS 0,1 N
Titrasi ke1
2

Volume larutan NHCNS yang diperlukan


22,2 ml
22,2 ml

o Penentuan bromide dengan cara Volhard


Titrasi ke1
2

Volume larutan NHCNS yang diperlukan


10,1 ml
10,4 ml

o Penentuan klorida dalam garam dapur kasar dengan Mohr


Titrasi ke1
2

Volume larutan AgNO yang diperlukan


9,9 ml
9,8 ml

o Penentuan klorida dalam garam dapur kasar dengan Fajans


Titrasi ke1
2

Volume larutan AgNO yang diperlukan


9,4 ml
9,3 ml

Titrasi pembentukan kompleks


o Penentuan Mg dengan titrasi langsung
Titrasi ke-

Volume larutan EDTA yang diperlukan

1
2

3,3 ml
3,0 ml

o Penentuan kesadahan air


Titrasi ke1
2

Volume larutan EDTA yang diperlukan


6,4 ml
6,2 ml

Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan dua macam metode percobaan, yakni percobaan
argentometri dan percobaan pembentukan kompleks. Pada percobaan argentometri dibagi
menjadi empat percobaan yaitu standarisasi larutan standar NHCNS, penentuan bromide
dengan Volhard, penentuan klorida garam dapur dengan cara Mohr dan Fajans. Sedangkan
pada percobaan pembentukan kompleks dibagi menjadi dua yaitu penentuan Mg dengan
titrasi langsung dan penentuan kesadahan air.
Pembuatan larutan standar NHCNS 0,1 N
Pada percobaan pertama, larutan NHCNS perlu distandarisasi terlebih
dahulu karena larutan ini merupakan tipe larutan standar sekunder, di mana larutan
ini bersifat mudah bereaksi dengan senyawa lain di udara. Sehingga larutan ini tidak
dapat dibuat dan ditentukan konsentrasinya hanya dengan melarutkan padatannya
dalam sebuah pelarut karena bersifat higrokopis, menyerap uap air, dan menyerap
CO2 pada waktu proses penimbangannya, sehingga konsentrasinya dapat berubah
degan cepat. Oleh sebab itu, setiap kali ingin digunakan dalam proses titrasi maka
harus distandarisasi terlebih dahulu. Larutan NHCNS ini akan distandarisasi
menggunakan larutan AgNO 0,1 N.
Proses standarisasi larutan NHCNS merupakan salah satu proses titrasi
argentometri di mana menggunakan metode Valhard karena menggunakan indicator
Fe (ferri ammonium sulfat). Sebelum dititrasi, ke dalam larutan AgNO
ditambahkan 2 ml HNO 6 N dan 1 ml indicator ferri ammonium sulfat. Penambahan
HNO3 bertujuan untuk menciptakan suasana asam pada larutan. Hal ini dikarenakan
untuk titrasi pada metode Valhard harus dilakukan dalam suasana asam, sebab jika
titrasi dilakukan dalam suasana basa, ion Fe akan diendapkan menjadi Fe(OH).
Saat sebelum dititrasi dengan NHCNS, larutan AgNO berwarna putih keruh.
Sementara itu, pada awal titrasi akan membentuk larutan berwarna bening dengan
endapan berwarna putih. Endapan putih ini berasal dari reaksi AgNO dengan
NHCNS yang membentuk AgCNS (endapan putih).

Reaksi yang terjadi pada AgNO saat awal penambahan NHCNS adalah
sebagai berikut.
Namun, saat
Ag pada AgNO telah habis bereaksi, maka kelebihan NHCNS dalam larutan akan
menyebabkan ion CNS bereaksi dengan Fe dari indicator ferri ammonium sulfat
membentuk senyawa kompleks *Fe(CNS)+ yang berwarna merah bata pada titik
ekivalennya.
Reaksi antara ion CNS dengan Fe adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume rata-rata larutan NHCNS


yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen yaitu 22,2 ml. Sehingga, dapat
diperoleh normalitas standarisasi larutan NHCNS yaitu 0,113 N. nilai normalitas ini
jelas tidak sama dengan yang tertulis yaitu 0,1 N, karena telah dijelaskan sebelumnya
bahwa larutan NHCNS merupakan jenis larutan standar sekunder yang tidak dapat
ditentukan konsentrasinya hanya dengan melarutkan padatannya dalam pelarut
karena bersifat higrokopis, sehingga konsentrasinya dapat berubah degan cepat.
Penentuan Bromida dengan Cara Volhard
Pada percobaan penentuan bromide dengan cara Volhard, digunakan larutan
KBr sebagai larutan yang akan ditentukan massanya. Sebelum mengalami titrasi KBr
perlu ditambahkan dengan HNO. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan sama
dengan sebelumnya yakni metode Volhard, di mana metode ini harus dilakukan
dalam keadaan asam. Sehingga penambahan HNO bertujuan agar larutan
bersuasana asam. Dikarenakan metode Volhard, maka indicator yang digunakan
yaitu ion Fe (ferri ammonium asetat). Adanya larutan HNO tidak akan
berpengaruh terhadap mekanisme reaksi yang terjadi, karena larutan tersebut hanya
berfungsi sebagai pengasam larutan saja.
Setelah itu larutan ditambahakan AgNO 0,1 N (berlebih) yang mana
menyebabkan larutan menjadi keruh yang dikarenakan terbentuknya endapan putih
AgBr. AgNO dibuat berlebih agar saat telah habis bereaksi dengan KBr maka sisa
AgNO dapat bereaksi dengan NHCNS.
Reaksi antara AgNO dan KBr adalah sebagai berikut.
Larutan

lalu

dititrasi dengan larutan NHCNS. Pada awal titrasi AgNO akan bereaksi dengan
NHCNS membentuk AgCNS. Saat Ag dari AgNO telah habis bereaksi, maka akan

terjadi kelebihan NHCNS. Kelebihan NHCNS ini akan menyebabkan ion CNS
bereaksi dengan Fe dari indicator ferri ammonium sulfat.
Reaksi antara AgNO dan NHCNS adalah sebagai berikut.

Saat dititrasi dengan larutan NHCNS larutan awal berwana putih keruh,
namun saat telah mencapai titik ekivalen warna kecoklatan. Warna ini terjadi karena
dari reaksi membentuk senyawa kompleks
.
Reaksi saat tercapai titik ekivalen adalah sebagai berikut.
Berdasarkan hasil percobaan
diperoleh volume rata NHCNS yang diperlukan yaitu 10,25 ml. Sehingga dapat
diperoleh massa KBr yaitu 159,698 mg. Dikarenakan volume sampel KBr yang
digunakan yaitu 15 ml, sehingga hal ini berarti di dalam 15 ml sampel KBr
mengandung KBr sebanyak 159,698 mg, atau 0,1597 gram.
Penentuan Klorida dalam Garam Dapur Kasar dengan Mohr
Pada percobaan penentuan klorida dalam garam dapur dengan metode Mohr
tentu sudah pasti digunakan indicator kalium kromat (KCrO). 15 ml sampel garam
dapur yang telah ditambahkan dengan indicator KCrO akan membentuk warna
kuning (berasal dari penambahan KCrO).
Larutan kemudian dititrasi menggunakan larutan AgNO 0,1 N. Pada awal
titrasi larutan akan membentuk endapan putih yang berasal dari hasil reaksi antara
ion Cl dari NaCl dengan Ag dari AgNO, sehingga membentuk endapan putih AgCl.
Reaksi antara NaCl (garam dapur) dan AgNO pada awal titrasi adalah sebagai
berikut.

Saat tercapai titik ekivalen, ion Cl pada NaCl telah habis bereaksi dengan Ag,
sehingga dengan adanya penambahan AgNO yang berlebih menyebabkan Ag akan
bereaksi dengan CrO yang berasal dari indicator KCrO yang mana akan
membentuk endapan AgCrO yang berwarna putih sedangkan larutannya berwarna
coklat muda (merah bata).
Reaksi yang terjadi saat tercapainya titik ekivalen (Ag bereaksi dengan
CrO) adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume rata-rata AgNO 0,1 N yang


diperlukan adalah 9,85 ml. Kadar NaCl dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:

Sehingga, dapat diperoleh kadar NaCl dalam 15 ml larutan sampel garam


dapur adalah 85,357%.
Penentuan Klorida dalam Garam Dapur Kasar dengan Fajans
Metode percobaan dengan Fajans ini samadengan pada Mohr, namun yang
membedakan hanya pada indikatornya, di mana pada metode Fajans menggunakan
indicator adsorpsi (pada percobaan ini digunakan indicator diklorofluoresin).
Sehingga, metode ini menggunakan prinsip adsorpsi yakni zat dapat diserap pada
permukaan endapan, sehingga dapat menimbulkan warna tertentu. Pada metode ini,
pengendapan larutan dapat diatur agar terjadi pada titik ekuivalennya, antara lain
yaitu dengan memilih jenis indicator yang dipakai dan pH.
15 ml larutan sampel garam dapur ditambahkan dengan indicator
diklorofluoresin yang menyebabkan perubahan warna larutan menjadi kuning
kehijauan (hijau lemon). Larutan kemudian dititrasi dengan larutan AgNO 0,1 N yang
mana penambahan ini akan menyebabkan perubahan warna larutan menjadi agak
kecoklatan, sedangkan endapannya berwarna merah bata. Endapan ini berasal dari
reaksi antara AgNO dan NaCl yang membentuk endapan AgCl.
Sebelum titik ekuivalen tercapai, ion Cl berada dalam lapisan primer dan
setelah tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit AgNO3 menyebabkan ion Cl akan
digantikan oleh Ag sehingga ion Cl akan berada pada lapisan sekunder.
Reaksi yang terjadi antara AgNO dan NaCl saat mencapai titik ekivalen
adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume rata-rata AgNO 0,1 N yang


diperlukan adalah 9,35 ml. Kadar NaCl dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:

Sehingga, dapat diperoleh kadar NaCl dalam 15 ml larutan sampel garam


dapur adalah 81,033%.
Penentuan Mg dengan Titrasi Langsung

Pada percobaan ini penentuan konsentrasi Mg digunakan metode titrasi


langsung, yang mana merupakan titrasi yang dilakukan pada pengujian yang
mengandung ion logam yang diperoleh pada pH tertentu.
25 ml larutan sampel ditambahkan dengan larutan buffer pH 10 dan indicator
Eriokrom Black T. Penggunaan larutan buffer pH 10 di sini yakni untuk mencegah
terjadinya perubahan pH yang diakibatkan oleh terbentuknya H saat proses reaksi
berlangsung, atau dengan kata lain yakni mempertahankan kondisi larutan agar
selalu dalam keadaan basa (pada pH 10). Sementara itu, dikarenakan suasana
larutan dipertahankan pada pH 10, maka perlu digunakan indicator yang mencakup
pH tersebut, sehingga digunakan indicator EBT, di mana indicator ini merupakan
salah satu indicator logam yang memiliki range pH 7-11. Penambahan indicator EBT
akan menyebabkan larutan berwarna ungu (merah anggur). Hal ini dikarenakan
reaksi antara Mg dan indicator EBT akan menghasilkan kompleks MgIn yang
berwarna ungu (merah anggur).
Reaksi antara Mg dan indicator EBT adalah sebagai berikut.
Larutan kemudian dititrasi dengan larutan EDTA. Titrasi ini menyebabkan
terjadinya perubahan warna dari ungu menjadi biru. Hal ini dapat terjadi karena saat
ke dalam larutan yang mengandung senyawa kompleks MgIn ditambahkan EDTA,
maka ion magnesium (Mg) akan terikat pada EDTA, sedangkan ion indikator
EBT akan lepas dan kembali berwarna biru pada pH 7 -11.
Reaksi saat tercapainya titik ekivalen adalah sebag ai berikut.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume rata-rata EDTA yang
diperlukan yaitu 3,15 ml. Konsentrasi Mg dapat dicari dengan rumus:

Sehingga diperoleh nilai konsentrasi Mg dalam 25 ml larutan sampel yaitu


0,0306 M.
Penentuan Kesadahan Air
Pada percobaan kesadahan air, 50 ml sampel air kran ditambahkan beberapa
tetes HCl. Penambahan HCl ini bertujuan untuk menjadikan larutan dalam keadaan
asam. Kemudian larutan dididihkan untuk menguapkan CO.
Reaksi saat air sadah (ion Ca) dididihkan adalah sebagai berikut.

Pendidihan air sadah menyebabkan terbentuknya endapan ion sadah (Ca).


Larutan yang telah dididihkan lalu didinginkan, dan ditambahkan beberapa tetes
indicator metil red dan NaOH. Penambahan indicator metal red ini berguna sebagai
penanda apakan pada larutan masih berifat asam atau tidak, di mana indicator ini
memiliki range pH 4,2 (merah) 6,2 (kuning). Jika dalam larutan masih mengandung
asam, maka larutan akan berwarna merah. Sehingga, penambahan NaOH ini
bertujuan untuk menetralkan kondisi asam pada larutan (karena penambahan HCl
sebelumnya).
Larutan kemudian ditambahkan larutan buffer pH 10 dan indicator Eriokrom
Black T (EBT). Penggunaan larutan buffer pH 10 untuk mencegah terjadinya
perubahan pH yang disebabkan oleh terbentuknya H saat proses reaksi
berlangsung, dengan kata lain untuk mempertahankan kondisi larutan agar selalu
dalam keadaan basa (pada pH 10). Sementara itu, dikarenakan suasana larutan
dipertahankan pada pH 10, maka perlu digunakan indicator yang mencakup pH
tersebut, sehingga digunakan indicator EBT, di mana indicator tersebut merupakan
salah satu indicator logam yang memiliki range pH 7-11. Penambahan indicator EBT
akan menyebabkan larutan berwarna ungu (merah anggur). Hal ini dikarenakan
reaksi antara Ca (ion sadah) dan indicator EBT akan menghasilkan kompleks CaIn
yang berwarna ungu (merah anggur).
Reaksi antara Ca dan indicator EBT adalah sebagai berikut.
Larutan kemudian dititrasi dengan larutan EDTA. Titrasi ini menyebabkan
terjadinya perubahan warna dari ungu (merah anggur) menjadi biru. Hal ini dapat
terjadi karena saat ke dalam larutan yang mengandung senyawa kompleks MgIn
ditambahkan EDTA, maka ion Ca akan terikat pada EDTA, sedangkan ion
indikator EBT akan lepas dan kembali berwarna b iru pada pH 7-11.
Reaksi saat tercapainya titik ekivalen adalah sebagai berikut.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh volume rata-rata EDTA yang
diperlukan yaitu 3,15 ml. Sehingga dapat ditentukan nilai kesadahan air dalam 50 ml
sampel adalah 0,00126 M atau 126 ppm.