Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Demokrasi

adalah

sistem

pemerintahan

suatu

negara

sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat atas negara untuk


dijalankan oleh pemerintah segara tersebut. Salah satu pilar
demokrrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga
kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif, legislatif) untuk
diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas
dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain.
Kesejajaran ketiga jenis lembaga negara inidiperlukan agar
bisa saling mengawasi dan saling mengontrol. Ketiga jenis
lembaga tersebut adalah lembaga pemerintah yang memiliki
kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan
eksekutif,

lembaga

pengadilan

yang

berwenang

menyelenggarakan kekuasaan yudikatif dan lembaga perwakilan


rakyat memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif.
Dibawah sistem ini keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat
ata5u oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi
masyarakat dan yang memilihnya melalui proses pemilihan
umum legoslatif.
1.2 Ruusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat disusun rumusan masalah
sebagai berikut:

1. Apa arti istilah dan sejarah demokrasi?


2. Bagaimana alasan pelaksanaan demokrasi di masyarakat?
3. Apa contoh tindakan yang menentang demokrasi?
4. Bagaimana demokrasi di Indonesia?
5. Bagaimana pelaksanaan demokrasi di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk
memenuhi

salah

satu

tugas

mata

kuliah

pendidikan

kewarganegaraan tetapi juga untuk memberikan informasi dan


pengetahuan kepada pembaca mengenai arti istilah dan sejarah
demokrasi, contoh tindakan yang menentang demokrasi, dan
pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Arti Istilah dan Sejarah Demokrasi
Istilah demokrasi berasal dari yunani kuno yang diutarakan
di Athena Kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya
dianggap

sebagai

contoh

awal

dari

sebuah

sistem

yang

berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari


istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi

modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan


perkembangan sistem demokrasi di banyak negara.
Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang
berarti rakyat, dan kratos /cratein yang berarti pemerintahan.
Sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang
lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat,
dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci
tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab
demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan
politik suatu negara.
Demokrasi

menempati

posisi

vital

dalam

kaitannya

pembagian kekuasaan dalam suatu negara dengan kekuasaan


negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Prinsip

semacam

ini

menjadi

sangat

penting

untuk

diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan


pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu
untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan
kekuasaan

absolut

pemerintah

seringkali

menimbulkan

pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.


Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara
yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif
menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggotaanggotanya tanpa memperdulikan aspirasi rakyat, tidak akan
membawa kebaikan untuk rakyat.

Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus akuntabel


(accountable),
mewujudkan

tetapi

harus

akuntibilitas

ada

dari

mekanisme

setiap

formal

lembaga

negara

yang
dan

mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara


teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.
2.2 Alasan Pelaksanaan Demokrasi di Masyarakat
Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi adalah memperbincangkan
tentang kekuasaan, atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan
secara beradab. Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang
(people rule), dan di dalam sistem politik yang demokratis warga
mempunyai hak, kesempatan, dan suara yang sama di dalam
mengatus pemerintahan di dunia publik. Demokrasi adalah
keputusan

berdasarkan

suara

terbanyak.

Di

Indonesia,

pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara


demokratis yang berwatak anti-feodolisme dan anti-imperialisme,
dengan

tujuan

untuk

membentuk

masyarakat

madani.

Masyarakat madani merupakan suatu bentuk hubungan negara


dan

warga

masyarakat

(sejumlah

kelompok

sosial)

yang

dikembangkan atas dasar toleransi dan menghargai satu sama


lainnya.

Landasan

demokrasi

adalah

keadilan,

dalam

arti

terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga


otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk
mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang dia ingini. Maka dari
itu terbentuklah otonomi daerah.

Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak, wewenang,


dan kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat untuk meningkatkan daya
guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam
rangka

pelayanan

terhadap

masyarakat

dan

pelaksanaan

pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


Sedangkan yang dimaksud dengan

daerah

kesatuan

mempunyai

wilayah

masyarakat
yang

hukum

berwenang

yang

mengatur

dan

otonom

adalah

batas-batas

mengurus

urusan

pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut


prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
2.3 Contoh Tindakan yang Menentang Demokrasi
Salah satu contoh tindakan yang menentang demokrasi di
Indonesia

adalah

korupsi.

Di

dalam

dunia

politik,

korupsi

mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik dengan


cara menghancurkan proses formal. Korupsi di sistem pengadilan
menghentikan ketertiban hukum. Korupsi di pemerintahan publik
menghasilkan ketidakseimbangan dalam pelayanan masyarakat.
Korupsi bisa menyebabkan sulitnya legitimasi pemerintahan dan
nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.
Contoh lain tindakan yang menentang demokrasi adalah
pemidanaan salah satu jurnalis Ambon, Juhry Samanery yang
dikeroyok oleh pegawai PN Ambon karena meliput persidangan
mantan wakil bupati Maluku Tenggara Barat, Lukas Uwuratuw

dalam kasus korupsi. Padahal proses persidangan dinyatakan


terbuka namun pada saat pengadilan berlangsung, para pekerja
media dihalang-halangi masuk oleh pegawai PN. Sehingga terjadi
perdebatan yang berakhir pemukulan. Pemidanaan juhry bukan
sekedar tindakan melawan hukum, lebih dari itu hal tersebut
merupakan tindakan menentang hak masyarakat atas kebebasan
informasi, dan dengan demikian melawan demokrasi.
2.4 Demokrasi di Indonesia
Demokrasi di negara Indonesia sudah mengalami kemajuan
yang pesat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dibebaskan
menyelenggarakan
dalam

kebebasan

berkeyakinan,

pers,

berbicara,

kebebasan

berkumpul,

masyarakat

mengeluarkan

pendapat, mengkritik bahkan mengawasi jalannya pemerintahan.


Tapi bukan berarti demokrasi di Indonesia saat ini sudah berjalan
sempurna. Masih banyak persoalan yang muncul terhadap
pemerintah yang belum sepenuhnya bisa menjamin kebebasan
warga negaranya. Seperti meningkatnya angka pengangguran,
bertambahnya kemacetan di jalan, semakin parahnya banjir, dan
masalah korupsi.
Dalam kehidupan berpolitik di setiap negara yang kerap
selalu menikmati kebebasan berpolitik namun tidak semua
kebebasan berpolitik berjalan sesuai dengan yang diinginkan,
karena

pada

hakikatnya

semua

sistem

politik

mempunyai

kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Demokrasi adalah


sebuah proses yang terus menerus merupakan gagasan dinamis

yang terkait erat dengan perubahan. Jika suatu negara mampu


menerapkan kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan dengan
sempurna, maka negara tersebut adalah negara yang sukses
menjalankan sistem demokrasi. Sebaliknya, jika suatu negara itu
gagal menggunakan sistem pemerintahan demokrasi, maka
negara itu tidak layak disebut sebagai negara demokrasi. Oleh
karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia yang menganut
sistem pemerintahan yang demokrasi, kita sudah sepatutnya
untuk terus menjaga, memperbaiki, dan melengkapi kualitaskualitas demokrasi yang sudah ada. Demi tercapainya suatu
kesejahteraan,
sesungguhnya

tujuan
akan

dari

cita-cita

mengangkat

demokrasi

Indonesia

yang

kedalam

suatu

perubahan.
2.5 Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia
Pelaksanaan

demokrasi

di

Indonesia

terbagi

menjadi

beberapa periode, yaitu:


1. Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi (1945-1950)
Tahun 1945-1950 Indonesia masih berjuang menghadapi
Belanda yang ingin kembali ke Indonesia. Pada masa itu
penyelenggaraan pemerintahan dan demokrasi Indonesia belum
berjalan baik. Hal itu disebabkan masih adanya revolusi fisik.
Berdasarkan pada konstitusi negara, yaitu UUD 1945, Indonesia
adalah negara demokrasi yang berkedaulatan rakyat. Masa
pemerintahan tahun 1945-1950 mengindikasikan keinginan kuat

dari para pemimpin negara untuk membentuk pemerintahan


demokrasi.
Pada

awalnya,

pemerintahan

Indonesia

menunjukkan

adanya sentralisasi kekuasaan pada divi presiden sehubungan


belum

terbentuknya

lembaga-lembaga

politik

demokrasi,

misalnya belum terbentuknya MPR dan DPR. Hal ini termuat


dalam pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi
Sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk menurut UUD ini, segala
kekuasaannya dijalankan oleh presiden dengan bantuan sebuah
komite nasional.
Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah
negara absolut, pemerintah melakukan serangkaian kebijakan
untuk menciptakan pemerintahan demokratis. Kebijakan tersebut
adalah sebagai berikut:
1.

Maklumat Pemerintah No. X Tanggal 16 Oktober 1945 tentang


Perubahan Fungsi KNIP menjadi Fungsi Parlemen.

2.

Maklumat Pemerintah Tanggal 03 November 1945 mengenai


pembentukan Partai Politik.

3.

Maklumat Pemerintah Tanggal 14 November 1945 mengenai


Perubahan dari Kabinet Presidensial ke Kabinet Parlementer.
Demikian

kebijakan

tersebut,

terjadi

perubahan

dalam

sistem pemerintahan di Indonesia. Sistem pemerintahan berubah


menjadi sistem pemerintahan parlementer. Cita-cita dan proses
demokrasi masa itu terhambat oleh revolusi fisik menghadapi
Belanda dan pemberontakan PKI Madiun Tahun 1948. pada masa-

masa kritis tersebut, kepemimpinan dwitunggal Soekarno-Hatta


berperan kembali dalam pemerintahan nasional. Pada akhir tahun
1949, pemerintahan kembali ke sistem Presidensial.

2. Pelaksanaan demokrasi pada masa orde lama


a.

Masa demokrasi liberal


Masa antara tahun 1950-1959 ditandai dengan suasana dan
semangat yang ultra-demokratis. Kabinet berubah ke sistem
parlementer, sedangkan dwitunggal Soekarno-Hatta dijadikan
simbol dengan kedudukan sebagai kepala negara. Demokrasi
yang dipakai adalah demokrasi parlementer atau demokrasi
liberal. Masa demokrasi parlementer dapat dikatakan sebagai
masa kejayaan demokrasi karena hampir semua unsur-unsur
demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudannya. Unsur-unsur
tersebut meliputi peranan yang sangat tinggi pada parlemen,
akuntibilitas politis yang tinggi, berkembangnya partai politik,
pemilu yang bebas, dan terjaminnya hak politik rakyat.
Namun proses demokrasi masa itu telah dinilai gagal dalam
menjamin stabilitas politik, kelangsungan pemerintahan, dan
penciptaan kesejahteraan rakyat. Kegagalan praktik demokrasi
liberal tersebut disebabkan karena:

1.

Dominannya politik aliran, artinya berbagai golongan politik


dan partai politik sangat mementingkan kelompok atau alirannya
sendiri daripada mengutamakan kepentingan bangsa.

2.

Landasan sosial ekonomi rakyat yang masih rendah.

3.

Tidak mempunyai para anggota konstituante bersidang dalam


menetapkan dasar negara sehingga keadaan menjadi berlarutlarut.
Hal ini menjadikan Presiden Soekarno segera mengeluarkan
Dekrit Presiden tanggal 05 Juli 1959 yang isinya:

1.
2.

Menetapkan pembubaran konstituante


Menetapkan UUD 1945 berlaku kembali sebagai konstitusi
negara dan tidak berlakunya UUDS 1950

3.

Pembentukan MPRS dan DPAS

b.

Masa demokrasi terpimpin


Masa antara tahun 1959-1965 adalah masa demokrasi
terpimpin. Demokrasi terpimpin berawal dari ketidaksenangan
Presiden Soekarno terhadap partai-partai politik yang dinilai lebih
mengedepankan kepentingan partai dan ideologinya masingmasing, serta kurang memperhatikan kepentingan yang lebih
luas.
Pengertian dasar demokrasi terpimpin menurut ketetapan
MPRS No. VIII/MPRS/1965 adalah kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan yang
berintikan musyawarah untuk mufakat secara gotong royong
diantara semua kekuatan nasional yang progresif revolusioner
dengan berporoskan nasakom dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1.

Dominasi presiden

2.

Terbatasnya peran partai politik

3.

Berkembangnya pengaruh PKI dan militer sebagai kekuatan


sosial politik di Indonesia.
Demokrasi terpimpin yang dijalankan oleh Presiden Soekarno
ternyata menyimpang dari prinsip-prinsip negara demokrasi.
Penyimpangan-penyimpangan tersebut antara lain:

1.

Mengaburnya sistem kepartaian dan lemahnya peranan partai


politik

2.

Peranan parlemen yang lemah

3.

Jaminan hak-hak dasar warga negara masih lemah

4.

Terjadinya sentralisasi kekuasaan pada hubungan antara pusat


dan daerah

5.

Terbatasnya kebebasan pers


Akhir dari demokrasi terpimpin memuncak dengan adanya
pemberontakan G30-S/PKI pada tanggal 30 September 1965.
Demokrasi
Soekarno

terpimpin
dalam

berakhir

karena

mempertahankan

kegagalan

keseimbangan

Presiden
antara

kekuatan yang ada disisinya, yaitu PKI dan militer yang samasama berpengaruh. Saat itu PKI ingin membentuk angkatan
kelima,
tersebut.

sedangkan
Akhir

dari

militer

tidak

demokrasi

menyetujui
terpimpin

pembentukan

ditandai

dengan

keluarnya Surat Perintah tanggal 11 Maret 1966 dari Presiden


Soekarno kepada Jendral Soeharto untuk mengatasi keadaan.

3. Pelaksanaan demokrasi pada masa orde baru

Masa orde baru dimulai tahun 1966. Pemerintahan Orde


Baru

mengawali

jalannya

pemerintahan

dengan

tekad

melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan


konsekuen.

Orde

Baru

menganggap

bahwa

penyimpangan

terhadap Pancasila dan UUD 1945 adalah sebab utama kegagalan


dari pemerintahan sebelumnya. Orde Baru adalah tatanan peri
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia atas dasar
pelaksanaan

Pancasila

dan

UUD

1945

secara

murni

dan

konsekuen. Demokrasi yang dijalankan dinamakan demokrasi


yang didasarkan atas nilai-nilai dari sila-sila pada pancasila.
Pemerintahan orde baru diawali dengan keluarnya Surat
Perintah 11 Maret sampai tahun 1968 dengan pengangkatan
Jendral Soeharto sebagai Presiden RI. Orde baru melanjutkan
pembangunan demokrasi berdasarkan pada ketentuan-ketentuan
dalam UUD 1945. Semua lembaga negara, seperti MPR dan DPR
dibentuk. Orde baru juga berhasil menyelenggarakan pemilihan
umum secara periodik, yaitu pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987,
1992, dan 1997. Untuk berjalannya demokrasi, pemerintah Orde
Baru menyusun mekanisme kepemimpinan nasional lima tahun
yang merupakan serangkaian garis besar kegiatan kenegaraan
yang dirancang secara periodik selama masa lima tahun.
Dengan berjalannya mekanisme kepemimpinan nasional
lima

tahun,

pemerintahan

orde

baru

berhasil menciptakan

stabilitas politik dan menyelenggarakan pembangunan nasional


yang dimulai dengan adanya pembangunan lima tahun (Pelita),
yaitu Pelita I tahun 1973-1978 sampai Pelita VI tahun 1993-1998.

Keberhasilan

tersabut

ditandai

dengan

meningkatnya

pertumbuhan ekonomi, meningkatnya tingkat pendidikan warga


negara,

pembangunan

infrastruktur,

berhasil

menekan

laju

pertumbuhan penduduk.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya pemerintahan
Orde Baru mengarah pada pemerintahan yang sentralistis.
Demokrasi masa Orde Baru bercirikan pada kuatnya kekuasaan
Presiden dalam menopang dan mengatur seluruh proses politik
yang terjadi. Lembaga kepresidenan telah menjadi pusat dari
seluruh proses politik dan menjadi pembentuk dan penentu
agenda nasional, mengontrol kegitan politik dan pemberi legacies
bagi seluruh lembaga pemerintah dan negara. Akibatnya, secara
subtantif tidak ada perkembangan demokrasi justru penurunan
derajat

demokrasi.

Sejumlah

indikator

yang

menyebabkan

demokrasi tidak terjadi pada masa Orde Baru yaitu:


1.

Rotasi kekuasan eksekutif hamper dapat dikatakan tidak ada.

2.

Rekvutmen politik yang tertutup

3.

Pemilu yang jauh dari semangat Demokrasi

4.

Pengakuan terhadap hak-hak dasar yang terbatas.


Orde

Baru

sesungguhnya

telah

mampu

membangun

stabilitas pemerintahan dan kemajuan ekonomi. Namun, makin


lama

jauh

dari

semangat

demokrasi

dan

kontrol

rakyat.

Akibatnya, pemerintahan menjadi korup, sewenang-wenang, dan


akhirnya jatuh. Sebab-sebab kejatuhan Orde Baru adalah:
1.

Hancurnya ekonomi nasional (krisis ekonomi)

2.

Terjadinya krisis politik

3.

Tidak bersatunya lagi pilar-pilar pendukung Orde Baru (Menteri


dan TNI)

4.

Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden


Soeharto untuk mundur dari jabatannya.
Dengan demikian, maka berakhirlah pemerintaha masa Orde
Baru dengan diumumkannya pengunduran diri Presiden Soeharto
dari kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998.

4. Pelaksanaan demokrasi pada masa reformasi (1998sekarang)


Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan
yang demokratis antara lain:
1.

Keluarnya ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokokpokok reformasi

2.

Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR


tentang Referendum.

3.

Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara


yang bebas dari KKN

4.

Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan masa


jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI.

5.

Amandemen UUD 1945 sudah sampai aman demen I, II, III


Pelaksanaan demokrasi pada masa reformasiterdiri dari
beberapa periodisasi pemerintaham, antara lain:

1.

B.J. Habiebie

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan Habiebie pada masa


pemerintahanya antara lain:
1.

Membentuk kabinet reformasi pembangunan


Dibentuk pada tanggal 22 Mei 1998, dengan jumlah menteri 16
orang yang merupakan perwakilan dari GOLKAR, PPP, PDI

2.

Mengadakan reformasi pada bidang politik.


Habiebie

berusaha

menciptakan

politik

yang

transparan,

mengadakan pemilu yang bebas, jujur, dan adil, membebaskan


tahanan politik, dan mencabut larangan berdirinya Serikat Buruh
Independen
3.

Kebebasan menyampaikan pendapat


Kebebasan

menyampaikan

pendapat

diberikan

asal

tetap

berpedoman pada aturan yang ada yaitu UU No. 9 Tahun 1998


tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.
4.

Reformasi dalam bidang hukum


Target reformasinya yaitu subtansi hukum, aparator penegak
hukum, yang bersih dan berwibawa, dan instansi peradilan yang
independen.

5.

Mengatasi masalah dwifungsi ABRI


Keanggotaan ABRI dalam DPR/ MPR dikurangi bahkan pada
akhirnya ditiadakan.

6.

Mengadakan sidang istimewa pada tanggal 10-13 November


1998 oleh MPR

7.

Mengadakan pemilu tahun 1999


Pelaksanaan pemilu dilakukan dengan asas LUBER (langsung,
umum, bersih) dan JURDIL (jujur dan adil)

2.

Abdurrahman Wahid
Kebijakan-kebijakan yang ditempuh Abdurrahman Wahid
antara lain:

1.

Meneruskan

kehidupan

demokrasi

seperti

pemerintahan

sebelumnya (memberikan kebebasan berpendapat di kalangan


masyarakat minoritas, kebebasan beragama, memperbolehkan
kembali penyelenggaraan budaya Tionghoa)
2.

Merestrukturisasi lembaga pemerintahan seperti menghapus


departemen yang dianggapnya tidak efisien (menghilangkan
departemen

penerangan

dan

sosial

untuk

mengurangi

pengeluaran anggaran, membentuk Dewan Keamanan Ekonomi


Nasional).
3.

Ingin memanfaatkan jabatan sebagai Panglima tertinggi dalam


militer dengan mencopot Kapolri yang tidak sejalan dengan
keinginan Gusdur.

3.

Megawati Soekarno Putri


Kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya antara lain:

1.

Meningkatkan kerukunan antar elemen bangsa dan menjaga


persatuan dan kesatuan.

2.

Membangun tatanan politik yang baru, diwujudkan dengan


dikeluarkannya UU tentang pemilu, susunan dan kedudukan
MPR/DPR, dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

3.

Menjaga keutuhan NKRI, setiap usaha yang mengancam


keutuhan NKRI ditindak tegas seperti kasus Aceh, Ambon, Papua,
Poso

4.

Melanjutkan amandemen UU 1945, keluarnya UU tentang


otonomi daerah menimbulkan penafsiran yang berbeda tentang
pelaksanaan

otonomi

daerah.

Oleh

karena

itu,

pelurusan

dilakukan dengan pembinaan terhadap daerah.


4.

Susilo Bambang Yudhoyono


Kebijakan-kebijakan yang ditempuh SBY antara lain:

1.

Anggaran

pendidikan

ditingkatkan

menjadi

20%

dari

keseluruhan APBN
2.

Konversi minyak tanah ke gas

3.

Pembayaran utang secara bertahap kepada PBB

4.

Buy-back saham BUMN

5.

Pelayanan UKM (Usaha Kecil Menengah) bagi rakyat kecil

6.

Subsidi BBM

7.

Memudahkan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia

8.

Meningkatkan sektor pariwisata Visit Indonesia 2008

9.

Pemberian bibit unggul pada petani

10.

Pemberantasan korupsi melalui dengan dibentuknya KPK

(Komisi Pemberantasan Korupsi)


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Istilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan
di Athena Kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya
dianggap

sebagai

contoh

awal

dari

sebuah

sistem

yang

berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari


istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu dan definisi
modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan
perkembangan sistem demokrasi dibanyak negara.
Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang
berarti rakyat dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan,
sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat atau yang
lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci
tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab
demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan
politik suatu negara.
Negara Indonesia menunjukkan sebuah Negara yang sukses
menuju demokrasi sebagai bukti yang nyata, dalam pemilihan
langsung

presiden

dan

wakil

presiden.

Selain

itu

bebas

menyelenggarakan kebebasan pers. Semua warga negara bebas


berbicara,

mengeluarkan

mengawasi

jalannya

pendapat,

pemerintahan.

mengkritik

Demokrasi

bahkan

memberikan

kebebasan untuk mengeluarkan pendapat bahkan dalam memilih


salah satu keyakinanpun dibebaskan.
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia yang meliputi: pada
masa orde lama, orde baru, masa reformasi yang terdiri dari:

Reformasi pada masa B.J. Habiebie, Megawati Soekarno Putri,


Abdurrahman Wahid/Gusdur, hingga presiden yang sekarang
Susilo Bambang Yudhoyono.
3.2 Saran
Demokrasi adalah sebuah proses yang terus menerus
merupakan gagasan dinamis yang terkait erat dengan perubahan.
Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia yang
menganut sistem pemerintahan demokrasi kita sudah sepatutnya
untuk terus menjaga, memperbaiki, dan melengkapi kualitaskualitas demokrasi yang sudah ada. Demi terbentuknya suatu
sistem demokrasi yang utuh di dalam wadah pemerintahan
bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Jutmini, Sri. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Solo: Tiga Seangkai
Pustaka Mandiri
Syarifudin. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Bogor: Pustaka
Gemilang
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/06/sejarah-danperkembangan-demokrasi.html
http://www.balagu.com/Hakim%20Tengku%20Oyong
%20Dilaporkan%20ke%20Dewan%20Pers
http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah

http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi

Makalah Demokrasi
By nursetiawanti
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demokrasi
pemerintahan

adalah
suatu

bentuk

negara

atau

sebagai

mekanisme
upaya

sistem

mewujudkan

kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk


dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang
membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan
legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara
yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang
sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis
lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini
bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip
checks and balances.
Ketiga

jenis

lembaga-lembaga

negara

tersebut

adalah

lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk


mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembagalembaga

pengadilan

yang

berwenang

menyelenggarakan

kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat


(DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan
kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif
dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan
bertindak

sesuai

aspirasi

masyarakat

yang

diwakilinya

(konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan


umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau
hasil-hasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara,
diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib
atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh
sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti
pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara
berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).
Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti
hanya

kedaulatan

memilih

presiden

atau

anggota-anggota

parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas.


Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara
langsung

tidak

menjamin

negara

tersebut

sebagai

negara

demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara


langsung

presiden

hanyalah

sedikit

dari

sekian

banyak

kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi


tidak

besar,

suatu

pemilihan

umum

sering

dijuluki

pesta

demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian


masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola,
bukan sistem pemerintahan yang bagus, sebagai tokoh impian

ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara,


masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup
suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara.
Banyak negara demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada
warga yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18
tahun, dan yang tak memliki catatan kriminal (misal, narapidana
atau bekas narapidana).
1.2 Identifikasi Masalah
Dalam

pelaksanaanya,

banyak

sekali

penyimpangan

terhadap nilai-nilai demokrasi baik itu dalam kehidupan seharihari di keluarga maupun masyarakat.
Permasalahn yang muncul diantaranya yaitu:
- Belum tegaknya supermasi hukum.
- Kurangnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan
bermasnyarakat, berbangsa dan bernegara.
- Pelanggaran terhadap hak-hak orang lain.
- Tidak adanya kehidupan berpartisipasi dalam kehidupan
bersama (musyawarah untuk mencapai mufakat).
Untuk mengeliminasi masalah-masalah yang ada, maka
makalah ini akan memaparkan pentingnya budaya demokrasi
dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu,

penulis menyusun

makalah ini dengan judul BUDAYA DEMOKRASI DALAM


KEHIDUPAN SEHARI-HARI.
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :

1.

Memaparkan

masalah-masalah

yang

timbul

yang

diakibatkan penyimpangan dari nilai-nilai demokrasi


dalam kehidupa sehari-hari.
2. Memaparkan sejumlah sumber hukum yang menjadi
landasan demokrasi
3. Memaparkan contoh nyata penerapan budaya demokrasi
dalam kehidupan sehari-hari.
1.4 Batasan Masalah
Karena

banyaknya

permasalahan-permasalahan

yang

timbul, maka makalah ini hanya akan membahas tentang


pentingnya budanya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari baik
itu

dalam

keluarga

maupun

masyarakat,

berbangsa

dan

bernegara.
1.5 Sistematika Penulisan
Agar makalah ini dapat dipahami pembaca, maka penulis
membuat sistematika penulisan makalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan latar belakang mengenai pengertian
demokrasi, identifikasi masalah yang ditimbulkan oleh
pelanggara
dibuatnya

terhadap
makalah,

sistematika penulisan.

nilai-nilai

demokrasi,

pembatasan

masalah,

tujuan
dan

BAB II TEORI BUDAYA DEMOKRASI


Teori Budanya Demokrasi berisikan pengertian demokrasi,
landasan-landasan demokrasi, sejarah perkembangan
demokrasi dan penerapan budaya demokrasi dalam
kehidupan sehari-hari.
BAB III KESIMPULAN dan SARAN
Kesimpulan dan saran merupakan bab terakhir yang berisikan
kesimpulan dari keseluruhan pembahasan serta saransaran.
BAB II
TEORI BUDAYA DEMOKRASI
2.1 Pengertian Demokrasi
Demokrasi
pemerintahan

adalah

suatu

bentuk

negara

atau

sebagai

mekanisme
upaya

sistem

mewujudkan

kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk


dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
2.1.1 Menurut Internasional Commision of Jurits
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyar
dimana kekuasaan tertinggi ditangan rakyat dan di jalankan
langsung oleh mereka atau oleh wakil-wakil yang mereka pilih
dibawah sistem pemilihan yang bebas. Jadi, yang di utamakan
dalam pemerintahan demokrasi adalah rakyat.
2.1.2 Menurut Lincoln

Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat,


dan untuk rakyat (government of the people, by the people, and
for the people).
2.1.3 Menurut C.F Strong
Suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota
dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas dasar sistem
perwakilan

yang

menjamin

bahwa

pemerintahan

akhirnya

mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas


itu.
2.2 Landasan-landasan Demokrasi
2.2.1 Pembukaan UUD 1945
1. Alinea pertama
Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.
2. Alinea kedua
Mengantarkan rakyat Indonesia kepintu gerbang
kemerdekaan Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur.
3. Alinea ketiga
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong
oleh

keinginan

luhur

kebangsaaan yang bebas.


4. Alinea keempat

supaya

berkehidupan

dan

Melindungi segenap bangsa.


2.2.2 Batang Tubuh UUD 1945
1. Pasal 1 ayat 2
Kedaulatan adalah ditangan rakyat.
2. Pasal 2
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
3. Pasal 6
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
4. Pasal 24 dan Pasal 25
Peradilan yang merdeka.
5. Pasal 27 ayat 1
Persamaan kedudukan di dalam hukum.
6. Pasal 28
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul.
2.2.3 Lain-lain
1. Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang hak asasi
2. UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM

2.3 Sejarah dan Perkembangan Demokrasi


Isitilah

demokrasi

berasal

dari

Yunani

Kuno

yang

diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut


biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang
berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari
istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi
modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan
perkembangan sistem demokrasi di banyak negara.
Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang
berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan,
sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang
lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci
tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab
demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan
politik suatu negara.
Demokrasi
pembagian

menempati

kekuasaan

posisi

dalam

vital

suatu

dalam

negara

kaitannya
(umumnya

berdasarkan konsep dan prinsip trias politica) dengan kekuasaan


negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting
untuk

diperhitungkan

ketika

fakta-fakta

sejarah

mencatat

kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata


tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan

beradab,

bahkan

kekuasaan

absolut

pemerintah

seringkali

menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.


Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara
yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif
menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggotaanggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan
membawa kebaikan untuk rakyat.
Intinya,

setiap

lembaga

negara

bukan

saja

harus

akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal


yang mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan
mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara
teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.
Penerapan Budaya Demokrasi Dalam Kehidupan Seharihari
Di Lingkungan Keluarga
Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan keluarga
dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
- Kesediaan untuk menerima kehadiran sanak saudara;
- Menghargai pendapat anggota keluarga lainya;
- Senantiasa musyawarah untuk pembagian kerja;
- Terbuka terhadap suatu masalah yang dihadapi bersama.
Di Lingkungan Masyarakat

Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan masyarakat


dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
- Bersedia mengakui kesalahan yang telah dibuatnya;
- Kesediaan hidup bersama dengan warga masyarakat
tanpa diskriminasi;
-

Menghormati

pendapat

orang

lain

yang

berbeda

dengannya;
-

Menyelesaikan

masalah

dengan

mengutamakan

kompromi;
- Tidak terasa benar atau menang sendiri dalam berbicara
dengan warga lain.
Di Lingkungan Sekolah
Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan sekolah dapat
diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
-

Bersedia

bergaul

dengan

teman

sekolah

tanpa

membeda-bedakan;
- Menerima teman-teman yang berbeda latar belakang
budaya, ras dan agama;
- Menghargai pendapat teman meskipun pendapat itu
berbeda dengan kita;

- Mengutamakan musyawarah, membuat kesepakatan


untuk menyelesaikan masalah;
- Sikap anti kekerasan.
Di Lingkungan Kehidupan Bernegara
Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan kehidupan
bernegara dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
- Besedia menerima kesalahan atau kekalahan secara
dewasa dan ikhlas;
- Kesediaan para pemimpin untuk senantiasa mendengar
dan menghargai pendapat warganya;
- Memiliki kejujuran dan integritas;
- Memiliki rasa malu dan bertanggung jawab kepada
publik;
- Menghargai hak-hak kaum minoritas;
- Menghargai perbedaan yang ada pada rakyat;
-

Mengutamakan
berrsama

untuk

musyawarah

untuk

menyelesaikan

kenegaraan.
BAB III

kesepakatan

masalah-masalah

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Dari pengalaman masa lalu bangsa kita, kelihatan bahwa
demokrasi belum membudaya. Kita memang telah menganut
demokrsai dan bahkan telah di praktekan baik dalam keluarga,
masyarakat, maupun dalam kehidupan bebangsa dan bernegara.
Akan tetapi, kita belum membudanyakannya.
Membudaya
mendarah

daging.

berarti

telah

Mengatakan

menjadi
Demokrasi

kebiasaan
telah

yang

menjadi

budaya berarti penghayatan nilai-nilai demokrasi telah menjadi


kebiasaan yang mendarah daging di antara warga negara.
Dengan kata lain, demokrasi telah menjadi bagian yang tidak
dapat dipisah-pisahkan dari kehidupanya. Seluruh kehidupanya
diwarnai oleh nilai-nilai demokrasi.
Namun, itu belum terjadi. Di media massa kita sering
mendengar betapa sering warga negara, bahkan pemerintah itu
sendiri, melanggar nilai-nilai demokrasi. Orang-orang kurang
menghargai
perbedaan,

kebabasan
supremasi

orang
hukum

lain,
kurang

kurang
ditegakan,

menghargai
kesamaan

kurang di praktekan, partisipasi warga negara atau orang


perorang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam
kehidupan pilitik belum maksimal, musyawarah kurang dipakai
sebagai cara untuk merencanakan suatu program atau mengatasi
suatu masalah bersama, dan seterusnya. Bahkan dalam keluarga

dan masyarakat kita sendiri, nilai-nilai demokrasi itu kurang di


praktekan.
Saran
Mewujudkan budaya demokrasi memang tidak mudah.
Perlu ada usaha dari semua warga negara. Yang paling utama,
tentu saja, adalah:
1.

Adanya

niat

untuk

memahami

nilai-nilai

demokrasi.
2. Mempraktekanya secara terus menerus, atau
membiasakannya.
Memahami

nilai-nilai

demokrasi

memerlukan

pemberlajaran, yaitu belajar dari pengalaman negara-negara


yang telah mewujudkan budaya demokrasi dengan lebih baik
dibandingkan

kita.

Dalam

usaha

mempraktekan

budaya

demokrasi, kita kadang-kadang mengalami kegagalan disana-sini,


tetapi itu tidak mengendurkan niat kita untuk terus berusaha
memperbaikinya dari hari kehari. Suatu hari nanti, kita berharap
bahwa demokrasi telah benar-benar membudaya di tanah air kita,
baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

2. http://dondsor.blogster.com/demokrasi_dan_Konstitusi.html
3. Abdulkarim, Aim, Drs, M.Pd. 2004 Kewarganegaraan
untuk SMP Kelas II Jilid 2. Bandung: Grafindo Media
Pratama.
4. Wijianti, S.Pd. dan Aminah Y., Siti, S.Pd. 2005
Kewarganegaraan (Citizenship). Jakarta: Piranti Darma
Kalokatama.
5. Dahlan, Saronji, Drs. Dan H. Asyari, S.Pd, M.Pd. 2004
Kewarganegaraan Untuk SMP Kelas VIII Jilid 2.
Jakarta: Erlangga.
Demokrasi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Demokrasi, karena mereka inginkan yang terbaik.


Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat.[1] Begitulah pemahaman yang paling sederhana
tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang. [1]
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang
kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara
langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan
(demokrasi perwakilan).[2] Istilah ini berasal dari bahasa Yunani

(dmokrata) "kekuasaan rakyat",[3] yang dibentuk


dari kata (dmos) "rakyat" dan (Kratos)
"kekuasaan", merujuk pada sistem politik yang muncul pada
pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno,
khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.
[4]

Berbicara mengenai demokrasi adalah memburaskan


(memperbincangkan) tentang kekuasaan, atau lebih tepatnya
pengelolaan kekuasaan secara beradab.[5] Ia adalah sistem
manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika
serta peradaban yang menghargai martabat manusia.[5] Pelaku
utama demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang selama
ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut menentukan. [6]
Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar
hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun
menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melanggar
hak-hak itu.[6] Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang
(people rule), dan di dalam sistem politik yang demokratis warga
mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam
mengatur pemerintahan di dunia publik.[7] Sedang demokrasi
adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak.[8] Di Indonesia,
pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara
demokrasi yang berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme,
dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis.[9] Bagi Gus Dur,
landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya
peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau
kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur
hidupnya, sesuai dengan apa yang dia ingini. [10] Jadi masalah
keadilan menjadi penting, dalam arti dia mempunyai hak untuk
menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi harus dihormati
haknya dan harus diberi peluang dan kemudahan serta
pertolongan untuk mencapai itu.[10]

Rakyat bebas menyampaikan aspirasinya demi kepentingan


bersama.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Prinsip-prinsip demokrasi
2 Asas pokok demokrasi
3 Ciri-ciri pemerintahan demokratis
4 Referensi
[sunting] Prinsip-prinsip demokrasi
Setiap prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara
demokrasi telah terakomodasi dalam suatu konstitusi Negara
Kesatuan Republik Indonesia.[11] Prinsip-prinsip demokrasi, dapat
ditinjau dari pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan
"soko guru demokrasi."[12] Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi
adalah:[12]
1. Kedaulatan rakyat;
2. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;
3. Kekuasaan mayoritas;

4. Hak-hak minoritas;
5. Jaminan hak asasi manusia;
6. Pemilihan yang bebas dan jujur;
7. Persamaan di depan hukum;
8. Proses hukum yang wajar;
9. Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
10.

Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;

11.
Nilai-nilai tolerensi, pragmatisme, kerja sama, dan
mufakat.
[sunting] Asas pokok demokrasi
Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan
demokrasi adalah pengakuan hakikat manusia, yaitu pada
dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama dalam
hubungan sosial.[13] Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat
2 (dua) asas pokok demokrasi, yaitu: [13]
1. Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya
pemilihan wakil-wakil rakyat untuk lembaga perwakilan
rakyat secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta
jurdil; dan
2. Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya
tindakan pemerintah untuk melindungi hak-hak asasi
manusia demi kepentingan bersama.

Pemilihan umum secara langsung mencerminkan sebuah


demokrasi yang baik
[sunting] Ciri-ciri pemerintahan demokratis
Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles
sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu suatu pemerintahan
yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan banyak
orang (rakyat).[14] Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi
suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh
negara di dunia.[14] Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah
sebagai berikut.[14]
1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam
pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun tidak
langsung (perwakilan).
2. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam
segala bidang.
3. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga
negara.

4. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang


duduk di lembaga perwakilan rakyat.
DEMOKRASI: PENGERTIAN DAN PERSOALAN
Mira Wijaya Kusuma
Fri, 30 Jul 2004 06:55:03 -0700
DEMOKRASI: PENGERTIAN DAN PERSOALAN
Sungguh sangat sederhana kalau pengertian Demokrasi dijadikan
tolok ukur atas dasar
perbedaan kultural, Agama dan Ras. Sedang pengertian
'Demokrasi' sendiri sebenarnya
mempunyai arti-historis yang berkembang seirama dengan proses
sejarah hubungan
interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Proses hubungan
interaksi tersebut, yang
berfungsi dalam kehidupan kemasyarakatan, tidak lah lepas dari
konotasi pengertian
kekuasaan. Jadi pengertian Demokrasi mempunyai arti yang
sehubungan dengan proses
politik untuk menangani persoalan kekuasaan terhadap yang
dikuasainya. Yang mana
kekuasaan diartikan sebagai penempatan posisi dominan dari
Individu atau kelompok
masyarakat serta mempunyai pengaruh besar dalam sistim
kehidupan bernegara.

Kelahiran Tradisi Demokrasi di Barat?

Tradisi Demokrasi di Eropa Barat lahir dan berkembang sejak


jaman Yunani di abad ke 5
sebelum lahirnya Christus, yang mana Plato dan Aristoteles
dianggap founding Father

sebagai head of state.

Posisi Dominasi pengaruh kelahiran dari rahim bunda Demokrasi


tersebut, di peruntukan
bagi seseorang atau kelompok masyarakat yang berambisi untuk
berkuasa. Tentu
persyaratannya dilatar belakangi oleh antara lain kekuatan politikekonomi, motivasi
kepentingannya, kekuatan 'besi dan parang'nya, kharisma,
dukungan dari Rakyatnya dll.
Karena seseorang atau kelompok masyarakat tersebut juga
dianggap mempunyai visi dan
missi dari paham yang dianutnya serta diberi kepercayaan oleh
pengikutnya,
pendukungnya dan para simpatisannya. Bahwasanya kemampuan
atas perealisasian dari visi
dan misinya, perlu di dibuktikan dalam ujud dari sikap dan
tindakannya. Dengan begitu
kepercayaannya akan terakumulasi dan tercermin dalam
perubahan kehidupan masyarakatnya.

Proses pembangunan tradisi Demokrasi mengalami fase


pergantian kekuasaan, yang di
awali dengan paham Absolutisme, yang mana diwakili oleh
kekuatan Agama dan kekuatan
Royalty sebagai penganut paham Feodalisme. Akan tetapi dalam
proses perkembangannya
sampai sat ini, bukan berarti warisan tradisi paham Absolutisme
dan Feodalismenya
akan menguap dari hawa dalam ruang&waktu pengaruh
karakteristik kehidupannya. Karena,
sementara itu perkembangan sistim Birokrasi yang juga khusus
mulai dirancang ketika
itu, bagaikan rambut panjang sang perempuan yang terkepang
bersama proses

pengolahan melalui wadah lembaga Aparatur pemerintahannya,


guna menunjang dan
mempertahankan loyalitas para penganut paham Absolut-Feodal
ISME.

Dan, struktur bagan sistim hirarki beserta jenjang jabatannya


sekaligus berfungsi
sebagai Obat Manjur guna mengikat serta menjerat para kaum
pengikutnya,
pendukungnya dan simpatisannya. Misalnya figur Machiavelli
yang hidup dalam suasana
kelahiran Negara Nasional di Masa Pembaruan , masih tetap
menganggap perlu untuk
mengisi segala kekurangan dari sistim birokrasi yang berfungsi
guna melestarikan
warisan kekuatan paham Absolutisme dan Feodalismenya.
Sehingga pertikaian antara
penganut pro dan kontra Royalist menjadi lebih kuat sejak abad
16.

Sementara itu kaum golongan pedagang yang berfungsi sebagai


oposisi, yang menganut
paham Kapitalisme, juga ikut berperan serta mendominasi
sebagai pemberi warna konflik
sosial yang muncul ketika itu. Pertikaian antar agama (KatolikRoma versus Protestan)
di jadikan legitimasi konflik antar Agama guna mempertahankan
kekuasaan status quo.
Dengan begitu proses perkembangan pergerakan pro dan kontra
pun, pada masa
perkembangannya semakin menghangat ketika muncul Revolusi
Industri di Inggris. Dan,
keberhasilan Revolusi Perancis pun dijadikan sebagai symbol
kemenangan Kaum Borjuis
yang mana pemegang piagam warisan dari paham Absolutisme
dan Feodalisme dijadikan

sebagai penerus tradisi Demokrasi guna mengembangkan


paham baru yang di sebut
Kapitalisme dalam masyarakat modern di Eropa Barat.
Refleksi piagam paham Absolutisme dan Feodalisme
Dalam masyarakat modern di Eropa Barat seperti a.l. di Belanda,
Demokrasi selalu di
kaitkan dengan pengertian De moderne 'Liberale' Democratie
dalam 'Staasvorm' (bentuk
sistim pemerintahan/ke-Negara-an) yang mana kekuasaan politik
ditangan "Rakyat" atau
disebut 'Heerschappij van het Volk' (kekuasaan Rakyat).
Terminologi tersebut diartikan
dalam situasi politik yang dimanifetasikan dalam bentuk berbagai
sektoral seperti
Demokrasi-Ekonomi, Organisatoris Demokrasi, Demokrasi
Kebudayaan dan Demokrasi dalam
spesifik langgam kehidupan atau disebut dalam bahasa Belanda
'Democratie als een
spesifieke levensstijl'. Tentu ini bermakna pada perkembangan
inspirasi dari visi&misi
perjuangannya melalui wadah tatanan bangunan institusi yang
tertampung dan terwakili
dalam instansi badan HUKUM yang disebut TRIAS POLITIKA, yaitu:
" Legislatif,
eksekutif dan yudikatif. Badan hukum tersebut dalam prosesnya
dijadikan dasar yang
berfungsi sebagai penerus dalam pengembangan atau pun
pelestarian sistim
birokrasi yang telah dibangunnya sejak lama.

Pengelompokan kekuasaan dalam sistim Negara tersebut


tercermin dalam proses interaksi
sosial yang dinamis sejak tradisi Demokrasi mengalami masa
pencerahan di Perancis.

Tradisi Demokrasi berkembang sebagai tantangan baru untuk


menghadapi akibat dari
Revolusi Industri di Inggris. Yang mana Revolusi Industri tersebut
telah melahirkan
kaum buruh yang dinilai sebagai penunjang kepentingan kapital
akumulasi. Dengan begitu
hasil pemilahan dalam kategori tersebut di anggapnya oleh Max
Weber sebagai gejala
proses kehidupan 'Minimalisasi atas kekuasaan'.

Max Weber yang dianggap sebagai salah satu 'fouding father' dari
para tokoh politikus
penganut aliran 'Sosial-Demokrat', sempat mendominasi
Ruang&Waktu pengisian visi dan
missinya melalui jaringan bagan sistim Birokrasi pada masa
berkuasa untuk menciptakan
masyarakat sosialis dalam negerinya. Hasil karya
pelestariannya pun dinikmati
sebagai "Hidangan ramuan Makanan" oleh rakyatnya di berbagai
negara Eropa. Paham ISME
yang berfungsi dalam kehidupan sosial negerinya dijadikan
inspirasi baru guna
meng-integrasi-kan paham kapitalisme di mancanegara.
Keberhasilan untuk mencapai
sukses tersebut, tentunya juga dengan mengalami proses
kejadian yang penuh dengan
lumuran darah rakyat di dalam negerinya maupun di
mancanegara.
Refleksi Tradisi Demokrasi abad 20 di Eropa Barat
Mengenai gagal dan keberhasilan dari sistim Demokrasi Liberal
yang dianutnya sangat
bergantung pada penilaian masing-masing. Karena ini
menyangkut pada Visi dan misi yang

dianutnya dan tidak lepas dari dukungan atas kepentingan faktor


dominasi internal
maupun eksternalnya.

Perkembangan tradisi Demokrasi setelah berakhirnya Perang


Dunia ke II, yang berfungsi
di Eropa Barat dan di berbagai Negara Skandinavia, bisa
dikatakan mengalami proses
pendewasaan dalam mengolah dan menangani persoalan
tantangan hidup di alam sistim
Demokrasi yang dianutnya. Ini artinya, kontrol dari rakyatnya
yang sadar atas tuntutan
haknya sebagai warga Sipil, yang terwakili dalam berbagai wadah
organisasinya
masing-masing, masih dianggap mampu untuk ikut serta dalam
melakukan proses
partisipasi gerakan sosial. Tentu ini juga didukung oleh rasa
tanggung jawab sebagai
warga negara yang ingin membantu ataupun menyumbang
proses perbaikan masyarakat untuk
keadilan sosial dan kemakmuran bersama.

Setelah perang Dunia ke II, sebagian besar penghuni masyarakat


Eropa Barat masih
memiliki pengalaman Traumanya hidup di Jaman pendudukan
kekuasaan komplot rejim
Fascist Hitler dan Mussolini, biar pun pengaruh kekuasaan dari
paham Fascisme masih
tetap mendominasi kekuasaannya di Spanyol dan Portugal.

Ikatan rasa solidaritas antar manusia telah melahirkan bentuk


'Nieuw Verzet' yang
diartikan perjuangan baru. Tuntutan awal dari rakyatnya
mencakup persoalan untuk

peningkatan kesejahteraan umum di berbagai sektor seperti


kebebasan dalam berpikir,
berekspresi, berkarya dan berpendapat mengenai ketidak adilan
atas hak hidupnya di
negara HUKUM. Ketika itu ketimpangan dalam kehidupan sosial
antar si kaya dan si
miskin masih terlihat ekstrim. Kondisi Buruh di sektor pabrik,
sektor lahan pertanian
dan sektor lain-lainnya ketika itu masih sangat buruk kondisinya
lantaran akibat dari
hasil perang Dunia ke II.

Dalam perjuangannya di sektor sosial politik/-ekonomi, peranan


Mahasiswa dan
organisasi kaum buruh sangat mendominasi dalam posisinya
untuk menuntut hak atas
perbaikan kondisi kerja, perbaikan sektor pendidikan dan sektor
sarana pelayanan
masyarakat. Figur-figur pemikir di sektor filsafat, sosiologi, psycho
Analisa dll
seperti J.P. Satre yang dianggap "merakyat", dijadikan sumber
inspirasinya untuk
mewakili generasi gerakan sosial pada periode '50,'60, '70, '80.
Kekuatan gerakan
Sosial tersebut telah mendominasi warna ruang dan waktunya
melalui protes aksinya
terhadap pemerintahan yang dianggap "Tidak Bijaksana" atau
dinilai tidak mampu
mewakili aspirasi tuntutan rakyatnya. Kelompok kekuatan yang
tergabung dalam gerakan
sosial ini disebut sebagai kelompok oposisi yang berperan dan
berfungsi di luar jalur
sistim "Demokrasi Parlementer".

Sementara itu kelompok opposisi yang berperan dalam fungsi


sistim Demokrasi

Parlementer juga ikut mewarnai proses perkembangan gerakan


sosial. Dengan begitu
penyatuan antar para kekuatan oposisi gerakan sosial dari dalam
jalur sistim maupun
dari luar jalur sistim berfungsi sebagai wakil kekuatan pendukung
perbaikan sistim
yang sedang berfungsi. Salah satu tokoh Oposisi gerakan sosial
tersebut yang bernama
Daniel Cohn-Bendit, sat ini dianggap salah satu yang berhasil
menduduki kursi
parlemen Eropa sebagai wakil dari partai Hijau.

Sementara itu para pekerja atau para kaum buruhnya pun telah
menikmati sarana
perbaikan kondisi buruh beserta fasilitas lainnya, seperti jaminan
uang saku berlibur
selama menjalani hak cuti 5 minggu per tahun, dan tunjangan
sosial bagi para pencari
kerja. Mereka pun dinilai sebagai penyumbang sukarela, melalui
wajib bayar pajak dan
memilih secara bebas untuk Asuransi jaminan kehidupannya.
Fasilitas tersebut, tentunya
juga berfungsi sebagai penunjang dana wadah birokrasi
mancanegara, supaya kapital
Dunia yang diwakili IMF dan Bank Dunia mampu meneruskan
warisan paham Isme yang telah
meng-global. Lalu, siapa yang akan menikmati Tradisi
Demokrasinya?

Demokrasi : Sistem Kufur


Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos
yang

berarti

pemerintahan,

rakyat,

dan

sehingga

kratos/cratein
dapat

yang

diartikan

berarti
sebagai

pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai

pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.


(wikipedia indonesia).
Gagasan inti dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat
dan rakyat sebagai sumber kekuasaan. Diatas dasar inilah
para

pemikir

barat

kekuasaan/pemerintahan.

membahas

Dalam

topik

demokrasi

setiap

individu memiliki hak yang sama dalam legislasi, masingmasing adalah tuan bagi dirinya sendiri. Atas dasar ini,
rakyat adalah sumber kekuasaan. Penguasa sekedar mendapat
mandat

dari

rakyat.

Rakyatlah

melalui

para

wakilnya

di

parlemen- yang berwenang membuat atau mengganti hukum dan


mengangkat penguasa. Rakyat juga yang berkuasa menentukan
sistem pemerintahan.
Prinsip demokrasi kedaulatan ditangan rakyat dan rakyat
sebagai

sumber

sebagimana

kekuasaan/hukum.

pernah

dilontarkan

Itulah

oleh

inti

mantan

demokrasi,
presiden

AS

Abraham Lincoln, bahwa demokrasi adalah pemerintahan: dari


raktay, untuk rakyat, oleh rakyat. Hal serupa juga sering
dikatakan oleh Bush, khususnya dalam konteks pemerintahan di
Irak,

Melalui

para

pemimpin

Irak

yang

baru,

kita

akan

membentuk pemerintahan rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.


(Pidato

Bush

berakhirnya

tgl

perang

Mei

2003,

melawan

pada

Irak).

saat
Artinya

mengumumkan
prinsip-prinsip

demokrasi akan tetap seperti itu sepanjang masa, tidak berubah


(yang berubah adalah bentuk pelaksanaan)
Pandangan Islam tentang demokrasi

Aqidah

yang

menjadi

dasar

munculnya

demokrasi

adalah

sekularisme yakni pemisahan agama dari urusan kehidupan dan


negara. Sekularisme memang tidak menafikan eksistensi agama,
tetapi mengesampingkan fungsi dalam mengatur kehidupan dan
negara yang berarti manusialah-tanpa campur tangan agamayang

berwenang

sebenarnya

membuat

demokrasi

aturan

bukanlah

bagi

dirinya.

pemikiran

(walau

orisinil

kaum

kapitalis(sekuler). Orang Yunani telah lebih dulu mencetuskannya.


Dan kaum kapitalis bukan satu-satunya pihak yang menerapkan
demokrasi, karena kaum Sosialis-Marxis juga mengklaim diri
mereka sebagai kaum demokrat. Sampai di akhir hayat ideologi
Sosialisme, kaum sosialis tetap mengklaim bahwa mereka telah
menerapkan demokrasi).
Sebaliknya islam dibangun diatas dasar aqidah Islam yang
mengharuskan seluruh aspek kehidupan manusia dan negara
diatur oleh Allah. Manusia hanya berkewajiban untuk menjalankan
aturan-aturan-Nya dalam aspek kehidupan. Allah SWT berfirman :
Tidak patut bagi laki-laki Mukmin dan tidak patut bagi
Perempuan Mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
yang lain tentang urusan mereka. (QS. Al-Ahzab[33]:36)
Sementara itu asas demokrasi ada dua, yaitu 1. kedaulatan
ditangan rakyat. 2. rakyat sebagai sumber hukum. Sebaliknya
dalam Islam kedaulatan di tangan Allah atau syariat-Nya. Hanya
Allah

yang

berdaulat.

Yang

berhak

membuat

hukum

bagi

manusia. Manusia tidak memiliki wewenang untuk membuat satu


hukumpun. Sebagai contoh seandainya semua manusia sepakat
untuk

menghalalkan

riba

dan

lokalisasi

pelacuran

karena

pertimbangan kemaslahatan, maka kesepakatan tersebut tidak


ada nilainya di sisi Allah selain dianggap dosa. Sebab setiap
manusia wajib terikat dengan hukum Allah dan tidak boleh
membuat aturan sendiri. Allah SWT berfirman :
Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan (QS an-Nisa[4]:65)
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki.Hukum
siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orangorang yang yakin?(QS. Al-Maidah [5]:50)
Pelaksanaan hukum-hukum Allah sudah pasti membutuhkan
kekuasaan, maka iskam memberikan kekuasaan itu kepada umat.
Artinya kekuasaan untuk memilih penguasa untuk menjalankan
hukum Allah ada ditangan umat.
Demokrasi tidak sesuai dengan Islam, karena beberapa
sebab :
Buatan akal manusia, bukan berasal dari Allah SWT. demokrasi
bukan bersumber dari wahyu, bahkan menolak campur tangan
agama

dalam

percaturan

maupun bernegara

kehidupan

baik

bermasyarakat

dalam menentukan kebenaran bersumber dari suara mayoritas,


bukan bersumber kepada wahyu. Padahal kebenaran hanya
bersumber kepada dalil, baik Al-Quran maupun As-Sunnah.
Menganut

Kebebasan

dalam

segala

hal,

baik

kebebasan

beragama, berpendapat, kepemilikan dan bertingkah laku.


Sedangkan Islam membatasi kebebasan terikat dengan hukum
syariat.
Sayid Qutb (Tafsir Fizhilalil Quran) berpendapat bahwa
sesungguhnya hukum dimuka bumi ini tidak ada, yang ada hanya
hukum Allah SWT (At-Thoghut:28), maka jangan coba-coba
membuat hukum tandingan untuk menandingi hukum Allah
SWT(syariat Islam).Jika melakukan tandingan maka hukumnya
syirik.

Padahal

syirik

adalah

larangan

Allah

yang

nyata,

sebagaimana firman-Nya:
Dan janganlah satu orangpun berbuat syirik terhadap hukum
Allah(QS. Al-Kahfi:26)
Imam Thobari (tafsir At-Thobari , 8:212) dalam tafsirnya
menyebutkan jangan menjadikan ketetapan dan hukum Allah
sebagai ketetapan dan hukum sampingan, akan tetapi harus
dijadikan huku tunggal bagi segenap manusia.