Anda di halaman 1dari 3

REVOLUSI SOSIAL YANG GAGAL

Wednesday, 30 September 2009 14:27

Oleh: Iwan Gardono Sujatmiko

Setiap tanggal 30 September kita diingatkan peristiwa yang mengubah sejarah Indonesia.

Peristiwa itu akan lebih jelas jika ada data baru dan penerapan konsep ”Perubahan Sosial” dan
perspektif ”Realisme Kritis”.

Revolusi

Buku John Rossa (The Pretext of Mass Murder, 2006) memfokuskan peristiwa penculikan para
jenderal yang menjadi dalih pembantaian massal PKI. Analisis lebih mendalam dari buku Rossa
menunjukkan dua hal.
Pertama, pembahasan tentang Biro Khusus PKI yang didasarkan wawancara dengan mantan
anggota PKI menunjukkan data baru. Para narasumber menceritakan, organisasi itu telah ada
sejak 1950-an dengan nama Bagian Militer dipimpin Karto sebelum diganti Syam tahun 1964.

Kedua, peran Aidit yang besar dan terinspirasi kasus kudeta di Aljazair. Aidit menganggap
kudeta progresif dari atas yang dilakukan pihak nonkomunis dapat diubah menjadi revolusi
sosial dari bawah. Pada malam 30 September di Halim, Aidit dibantu Iskandar Subekti (Panitera
Politbiro PKI) menyusun ”Dewan Revolusi” yang namanya terinspirasi kasus Aljazair.

Dari pembahasan itu ada dua kasus penting: peran Biro Khusus (Syam) yang sukses
mengamankan ”Dewan Jenderal” (”Revolusi dari Dalam”), tetapi terhenti saat Soekarno
memerintahkan Suparjo agar menghentikan pertumpahan darah. Selain itu, peran Aidit yang
mendeklarasikan ”Dewan Revolusi” (”Revolusi dari Atas”) tanpa mencantumkan nama Presiden
Soekarno. Aidit melakukan terobosan dengan menyingkirkan Soekarno dan mendemisionerkan
kabinet. ”Revolusi dari Atas” ini gagal, Soekarno menolak mendukungnya.

Direncanakan

Konsep yang berguna untuk menjelaskan gambar besar G30S adalah ”Perubahan Sosial”
(Sztompka, 1992). Ia melihat revolusi sebagai puncak perubahan sosial, terkait gerakan sosial
mendasar dan dapat dilakukan dari bawah atau atas, dan secara terbuka, atau rahasia.

Peristiwa 30 September dapat dikategorikan bagian ”perubahan sosial yang direncanakan dan
berbasis ideologi” dengan strategi revolusi, tetapi gagal. Gerakan revolusioner PKI (”senam
revolusi”, ”ofensif revolusioner”) dilakukan sejak awal 1960-an dari bawah, seperti ”Aksi
Sepihak” (perebutan tanah) dan tuntutan persenjatai buruh-petani (Angkatan V).

Selain itu, secara terbuka dan dari atas, PKI ”membonceng” Soekarno (”Revolusi dari Atas”)
dan adanya dukungan RRC (”Revolusi dari Luar”). Juga ada gerakan rahasia (”Revolusi dari
Dalam”) dilakukan melalui Biro Khusus terhadap militer dan dilakukannya G30S.

Strategi revolusi oleh PKI yang merupakan aksi revolusioner-total ini menghasilkan polarisasi
dan reaksi keras karena hanya ada dua pilihan, PKI atau non-PKI. Sejak tahun 1964 strategi ini
menghasilkan konflik dan korban di beberapa daerah. Gagalnya G30S menyebabkan gagalnya

1/3
REVOLUSI SOSIAL YANG GAGAL
Wednesday, 30 September 2009 14:27

strategi ”Revolusi dari Bawah” dan penghancuran oleh non-PKI. Namun, jika PKI hanya
melakukan gerakan nonrevolusioner atau parlementer seperti persaingan politik menjelang
Pemilu 1955, reaksi yang dihadapi relatif lebih lemah dan tidak menghancurkan PKI.

Anhar Gonggong (2007) menyatakan, sejak 1925, langkah revolusioner PKI selalu gagal
mencapai tujuan. Aksi revolusioner dan kekerasan PKI ini tidak unik dan merupakan pola umum
partai komunis di dunia (Black dan Thornton: Communism and Revolution: The Strategic Uses
of Political Violence, 1964). Revolusi komunis yang gagal, antara lain, terjadi di Hongaria
(1919), Polandia (1920), dan Finlandia (1939).

Realitas berlapis

Pemahaman peristiwa 30 September akan lebih jelas jika digunakan perspektif Realisme Kritis
(Roy Bhaskar, 1978) yang melihat, realitas sosial berlapis-lapis berupa empiris, aktual, dan
nyata. Tanpa perspektif ini, berbagai gejala akan campur aduk.

Berbagai laporan jurnalistik dan analisis parsial hanya menggambarkan G30S pada bagian ini.
Namun, berbagai gejala yang terlihat sebenarnya hanya sebagian dari gejala yang lebih luas
pada lapisan kedua. Jadi, G30S merupakan bagian dari peristiwa yang lebih besar, yakni upaya
”perubahan sosial yang direncanakan dan berbasis ideologi” oleh PKI dalam bentuk revolusi.
Gejala ini terjadi sebelum G30S, misalnya senam revolusi PKI, dan setelahnya, yakni reaksi
non-PKI dan penghancuran PKI.

Pada lapisan ketiga dan terbawah ada mekanisme yang menghasilkan peristiwa pada lapisan
kedua dan pertama. Dalam lapisan ketiga ini ada ideologi (”DNA”) komunisme yang
mensyaratkan strategi revolusi bagi partai-partai komunis. Demikian juga ada organisasi PKI
yang berpotensi melaksanakan strategi revolusi. Mekanisme strategi revolusi, baik terbuka
maupun rahasia, dipicu keputusan dan tindakan pimpinan PKI. Selain itu, juga ada mekanisme
dari pihak non-PKI untuk melawan strategi revolusi ini sehingga menghasilkan berbagai konflik.

Beberapa analisis menjelaskan gejala ini sebagai akibat ”gagalnya politik dalam era transisi”
(Kahane, 1973); ”ketidakmampuan Jakarta untuk sinkronisasi dengan pedesaan” (Sloan, 1971);
”pemisahan jangka panjang dalam agama, budaya, dan politik di pedesaan” (Lyon, 1970);
”kebutuhan negara dalam mencari identitas nasional” (Langenberg, 1990); dan ”transformasi
masyarakat Indonesia dengan menghancurkan satu dari tiga aliran sosial dan ideologis” (Cribb,
2001). Tanpa memfokuskan pada ideologi dan strategi revolusi PKI, berbagai analisis itu belum
dapat menjelaskan struktur dan mekanisme mendasar yang memunculkan berbagai peristiwa
konfliktual antara PKI dan non-PKI menjelang, saat, dan sesudah 30 September.

Strategi revolusi PKI mengalami kegagalan, mayoritas anggota PKI dan keluarganya telah
menjadi korban. Untuk mereka perlu dilaksanakan rekonsiliasi sosial dan reintegrasi
sepenuhnya sebagai warga masyarakat, negara, dan bangsa.

Penulis: Sosiolog; Dosen FISIP-UI

2/3
REVOLUSI SOSIAL YANG GAGAL
Wednesday, 30 September 2009 14:27

Sumber: Harian Kompas, Rabu 30 September 2009

3/3

Beri Nilai