Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan upaya bantuan
untuk mewujudkan perkembangan manusia secara optimal, baik secara
kelompok maupun individual, sesuai dengan hakekat kemanusiaannya dengan
berbagai

potensi,

kelebihan

dan

kekurangan,

kelemahan

serta

permasalahannya.
Dalam makalah ini kami paparkan tentang prinsip dan asas bimbingan
konseling. Yang mana dalam pelaksanaannya, pelayanan bimbingan konseling
harus didasarkan pada sejumlah asas untuk menjamin keteraturan dan
ketetapan

penyelenggaraannya

serta

keterarahan

hasil-hasil

diharapkannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja Asas-asas Bimbingan dan Konseling?
2. Apa saja Prinsip-prinsip dari Bimbingan dan Konseling?

yang

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Asas dasar bimbingan dan konseling


Slameto ( 1986) membagi asas-asas bimbingan dan konseling menjadi
dua bagian, yaitu : 1). Asas-asas bimbingan dan konseling yang berhubungan
dengan individu (siswa) dan 2). Asas-asas bimbingan dan konseling yang
berhubungan dengan praktik atau pekerjaan bimbingan.
1.

Asas-asas bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan siswa.


a.

Tiap-tiap siswa mempunyai kebutuhan.


Tiap-tiap siswa yang mempunyai kebutuhan yang berbeda baik
jasmani maupun rohani. Apabila kebutuhan tersebut tidak tercapai,
akan menimbulkan kecemasan, kekecewaan, sehingga pada akhirnya
menimbulkan perilaku menyimpang. Guru BK disekolah dan madrasah
harus bisa memahami berbagai kebutuhan siswa, sehingga pelayanan
bimbingan dan konseling diberikan dalam rangka memenui kebutuhan
siswa terutama kebutuhan psikis seperti memperoleh kasih saying,
memperoleh harga diri, memperoleh rasa aman, dan lain-lain.

b. Ada perbedaan di antara siswa (asas perbedaan siswa).


Dalam teore individualitas ditegaskan bahwa tiap-tiap individu
berbeda baik dari bakat, minat, kebutuhan cita-cita, dan sikap
pandangan hidup lainya. Perbedaan siswa tersebut harus mendapat
perhatian secara lebih spesifik dari pembimbing atau konselor di
sekolah dan madrasah sehingga siswa dapat berkembang sesuai dengan
karakteristik pribadinya masing-masing.
c.

Tiap-tiap individu (siswa) ingin menjadi dirinya sendiri


Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah harus dapat
mengantarkan siswa berkembang menjadi dirinya sendiri. Guru
pembimbing

atau

konselor

di

sekolah

tidak

mengarahkan

perkembangan siswa kearah yang pembimbing atau konselor yang


inginkan. Dalam kaitan dengan peran siswa ditengah masyarakat

kelak, pelayanan bimbingan dan konseling harus di arahkan agar siswa


menjadi

baik

menurut

ukuran

masyarakat

tanpa

kehilangan

kepribadiannya sendiri. 1
d. Tiap-tiap individu (siswa) mempunyai dorongan untuk menjadi
matang.
Kemantangan disini maksudnya ialah kematangan kejiwaan,
emosi, dan sosial. Pelayanan bimbingan dan konseling kepada para
siswa di sekolah dan madrasah harus berorientasi kepada kematangan
di

atas

sehingga

siswa

dapat

berkembangan

sesuai

dengan

kecenderungan-kecenderungannya.
e.

Tiap-tiap siswa mempunyai masalah dan mempunyai dorongan untuk


menyelesaikannya.
Tidak ada individu (siswa) yang tidak memiliki masalah. Mungkin
tidak ada pula individu tidak ingin masalahnya tak terselesaikan.
Apalagi individu (siswa) yang sedang proses perkembangan pasti
memiliki masalah. Pada dasarnya setiap individu (siswa) mempunyai
dorongan-dorongan untuk memecahkan masalahnya, namun karena
keterbatasannya adakalanya siwa merasa tidak berhasil. Pelayanan
bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah harus di arahkan
dalam rangka membantu siswa menghadapi dalam hidupnya dengan
memanfaatkan sebaik-baiknya dorongan-dorongan yang ada pada
setiap siswa.

2.

Asas yang brhubungan dengan praktik atau pekerjaan bimbingan.


Menurut Arifin dan Ety Kartikawati (1995) dan Prayitno dan Erman
Amti (1999) asas-asas yang berkenaan dengan praktik atau pekerjaan
bimbingan dan konseling adalah : a). asas kerahasiaan, 2). Kesukarelaan,
3). Keterbukaan, 4). Kekinian, 5). Kemandirian, 6). Kegiatan, 7).

1 Tohirin, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah ( Berbasis Integral),


Jakarta : PT RajaGrafindo persada. 2007, Hal. 84-86

Kedinamisan, 8). Keterpaduan, 9). Kenormatifan, 10). Keahlian, 11). Alih


tangan, 12). Tut wuri handayani.2
1. Asas kerahasian
Secara khusus layanan bimbingan adalah melayani individu-individu
yang bermasalah. Masih banyah orang beranggapan bahwa mengalami
masalah merupakan suatu aib yang harus ditutupi sehingga tak seorang
pun (selain diri sendiri) boleh tahu akan masalah itu. Jika bimbingan di
sekolah hendak dimanfaatkan secara penuh, masyarakat sekolah perlu
mengetahui bahwa layanan bimbingan harus menerapkan asas-asas
kerahasiaan secara penuh.3 Dalam hal ini, masalah yang dihadapi oleh
seorang siswa tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak
ada berkepentingan agar tidak menjadi bahan gunjingan. jika asas ini
benar-benar dijalankan, maka para penyelenggara BP di sekolah akan
mendapat kepercayaan dari para siswa dan pelayanan BP akan
dimanfaatkan secara baik oleh siswa. Namun, jika penyelenggara BP tidak
memperhatikan asas tersebut secara baik, maka layanan BP ( khususnya
yang benar-benar menyangkut kehidupan siswa) tidak ada arti lagi bahkan
di jauhi oleh para siswa.
2. Asas kesukarelaan
Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar
kesukarelaan baik dari pihak pembimbing maupun dari pihak klien
( siswa). Klien (siswa) diharapkan secara sukarela, tanpa terpaksa dan
tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa menyampaikan masalah yang
dihadapinya, serta mengungkapkan semua fakta, dan data segala yang
berkenaan dengan masalah yang dihadapinya kepada konselor. Sebaliknya
konselor atau pembimbing dalam memberikan bimbingan juga hendaknya

2 Ibid., hal. 86-87


3 Sukardi dan Dewa Ketut, proses bimbingan dan penyuluhan, Jakarta : PT Rineka
Cipta, 1995, hal. 12

juga jangan karena terpaksa. Dengan kata lain pembimbing atau konselor
harus memberikan bimbingan dan konseling secara ikhlas.
3. Asas keterbukaan
Bimbingan dan penyuluhan yang efesien hanya berlangsung dalam
suasana keterbukaan, baik yang dibimbing maupun si pembimbing
bersikap terbuka. Siswa dibimbing diharapkan dapat berbicara jujur dan
berterus terang tentang dirinya sehingga penelaahan dan pengkajian
tentang berbagai kekuatan dan kelemahannya dapat dilakukan. Selain itu,
siswa pun harus secara terbuka menerima saran-saran dan masukan dari
pihak lain. Konselor pun harus terbuka dengan brsedia menjawab berbagai
pertanyaan dari klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri apabila hal
tersebut dikehendaki oleh klien. Tegasnya, dalam proses bimbingan dan
konseling masing-masing pihak harus terbuka (transparan terhadap pihak
lainnya.4
4. Asas kekinian
Masalah-masalah yang ditanggulangi dalam proses bimbingan dan
konseling adalah masalah-maslah yang sedang dirasakan oleh siswa,
bukan maslah yang sudah lampau dan juga bukan masalah yang mungkin
dialami siswa pada masa akan datang, masalah yang sedang dirasakan oleh
siswa mungkin terkait dengan masalah masa lalu dan masa yang akan
datang. Dalam masalah siswa, masa lalu dan akan datang menjadi latar
belakang dan latar depan masalah.
Asas kekinian juga mengandung makna bahwa pembimbing atau
konselor tidak boleh menunda-nunda pemberiaan bantuan. Apabila klien
meminta bantuan atau fakta menunjukkan ada siswa yang perlu
bantuan (mengalami masalah ), maka konselor hendaklah segera
memberikan bantuan.
5. Asas kemandirian
Siswa yang telah dibimbing hendaklah bisa mandiri tidak tergantung
kepada orang lain dan kepada konselor. Ciri-ciri kemandirian pada siswa
4 Tohirin, Op. Cit. hal. 88-90

yang telah dibimbing adalah : 1. mengenal diri sendiri dan lingkungan


sebagai

adanya,

2.

Menerima

diri

sendiri

dan

lingkungannya

secarampositif dan dinamis, 3. Mengambil keputusan untuk dan oleh diri


sendiri, 4. Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu, 5. Mewujudkan
diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat dan kemampuankemampuan yang dimilikinya.
6. Asas kegiatan
Usaha layanan bimbingan dan penyuluhan akan memberikan buah
yang tidak berarti bila individu yang dibimbing tidak melakukan kegiatan
dalam mencapai tujuan-tujuan bimbingan. Hasil-hasil usaha bimbingan
tidak tercipta dengan sendirinya tetapi harus diraih oleh individu yang
bersangkutan. Para pemberi layanan BP hendaknya menimbulkan suasana
sehingga individu yang dibimbing itu ampu menyelenggarakan kegiatan
yang dimaksud.5
7. Asas kedinamisan
Usaha layanan BP menghendaki terjadinya perubahan pada diri
individu yang dibimbing, yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih
baik. Perubahan ini tidaklah sekedar mengulang-ulang hal-hal yang
bersifat menoton, melainkan perubahan yang selalu menuju ke sesuatu
pembaharuan, sesuatu yang lebih maju
8. Asas keterpaduan
Layanan BP berusaha memadukan berbagai aspek dari individu yang
dibimbing. Sebagaimana diketahui individu yang dibimbing itu memiliki
berbagai segi yang kalau keadaannya tidak saling serasi dan terpadu akan
justru menimbulkan masalah. Disamping keterpaduan pada diri individu
yang dibimbing, juga diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan
yang diberikan. Jangan hendak bertentangan dengan aspek layanan yang
lain.
9. Asas kenormatifan
5 Sukardi dan Dewa Ketut, Op. Cit. hal. 14-15

Usaha bimbingan dan konseling (proses bimbingan dan konseling)


tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku; baik norma
agama, adat, hukum atau negara, norma ilmu, maupun norma kebiasaan
sehari-hari. Seluruh isi dan proses konseling harus sesuai dengan normanorma yang beraku.
10. asas keahlian
pelayanan

bimbingan

dan

konseling

merupakan

pekerjaan

professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus


didik untuk pekerjaan tersebut. Usaha BP perlu dilakukan secara teratur,
sestematik, dan dengan mempergunakan teknik alat yang memadai. Asas
keahlian ini akan menjamin keberhasilan usaha BP akan menaikan
keperyaan masyarakat pada BP.6
11. Alih tangan
Jika usaha yang dilakukan telah optimal tetapi belum berhasil atau
masalahnya di luar kewenangannya, maka penanganannya dapat dialih
tangankan kepada pihak lain yang berwinang.
12. Tut wuri handayani
Bimbingan konseling hendaknya secara keseluruhan dapat memberi
rasa aman, mengembang keteladanan, memberi rangsangan dan dorongan
serta kesempatan seluas-luasnya kepada siswa. ( Nurihsan : 15-17).7
B.

Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling


Guru pembimbing yang telah memahami secara benar dan mendasar
prinsip-prinsip dasar bimbingan dan konseling ini akan dapat menghindarkan
diri

dari

kesalahan

dan

penyimpangan-penyimpangan

dalam

praktik pemberian layanan bimbingan konseling. Prinsip-prisip yang akan di


bahas adalah ditinjau dari prinsip-prinsip secara umum dan khusus. 8 Prinsip
secara khusus adalah prinsip-prinsip bimbingan yang berkenan dengan sasaran
6 Ibid., hal . 14-16
7 Zainal Aqib, Ikhtisar Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Bandung : YRAMA
WIDYA, 2012, hal. 41

layanan, prinsip yang berkenaan dengan program layanan, dan prinsip-prinsip


bimbingan dan konseling yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan.
1.

Prinsip-prinsip umum
1) Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individual daripada individuindividu yang dibimbing, maksudnya ialah untuk memberikan
bimbingan yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh
individu yang bersangkutan.
2) Bimbingan harus berpusat pada individu ynag dibimbingan.
3) Masalah yang tak dapat diselesaikan disekolah harus diserahkan
kepada individu atau lembaga yang mampu dan berwenang
melakukannya.
4) Bimbingan harus fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu
5)

masyarakat.
Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan

6)

disekolah yang bersangkutan.


Pelaksanaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas
yang memiliki keahlian dalam bimbingan dan sanggup bekerja sama
dengan para pembantunya serta dapat dan bersedian mempergungakan

7)

sumbe-sumber yang berguna di luar sekolah.


Terhadap program bimbingan harus sesuai senantiasa diadakan
penilaian teratur untuk mengetahui sampai dimana hasil dan manfaa
yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksanaan dan rencana yang

dirumuskan terdahulu.9
2. Prinsip-prisip khusus
1) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan, yaitu :
a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa
memandangumur, jenis kelamin, suku, agama, dan status sosial
ekonomi.
b. Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah
laku individu yang unik dan dinamis.
8 Sukardi dan Dewa Ketut, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling
di Sekolah, 2010, Jakarta : PT Asdi Mahasatya , hal. 39
9 Ibid., hal. 39-40

c.

Bimbigan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan

d.

berbagai aspek perkembangan individu.


Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada

perbedaan individual yang menjadi oreintasi pokok pelayanan.


2) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan dengan
permasalahan individu, yaitu :
a. Bimbingan dan konseling berususan dengan hal-hal yang
menyangkut pengaruh kondisi mental/ fisik individu terhadap
penyesuaian dirinya di rumah, di sekolah serta kaitannya dengan
kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan
terhadap kondisi mental dan fisik individu.
b. Kesengajaan sosial, ekonomi, kebudayaan merupakan factor
timbulnya masalah pada individu dan kesemuanya menjadi
3)

perhatian utama pelayanan bimbingan.


Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program layanan, yaitu :
a. Bimbingan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan
dan pengembangan individu; karena itu program bimbingan harus
disesuaikan dan dipadukan dengan program pendidikan serta
pengembangan peserta didik.
b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel, di sesuaikan
dengan kebutuhan individu, masyrakat dan kondisi lembaga.
c. Program bimbingan dan konseling disusun secara verkelanjutan
d.

dari jenjang pendidikan yang terendah sampai yang tertinggi.


Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling

perlu adanya penilaian yang teratur dan terarah.10


4) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayananan,
yaitu:
a. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan
individu yang akhinya mampu membimbing diri sendiri dalam
b.

menghadapi permasalahan.
Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang di ambil
dan hendak dilakukan oleh individu hendaknya ata kemauan
atas individu itu sendiri, bukan karena kemauan atas desakan dari
pembimbing atas pihak lain.

10 Ibid., hal. 40

c.

Permasalahan individu harus ditangani oleh ahli dalam relevan

d.

dengan permasalahan yang dihadapi.


Kerja sama antar pembimbing, guru dan orang tua amat

menentukan hasil pelayanan bimbingan.


e. Pengembangan program pelayanan bimbingan konseling ditempuh
melalui pemanfaatan yang semaksimal dari hasil pengukuran dan
penilaian terhadap individu yang terlihat dalam proses pelayanan
dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.11

11 Ibid., hal. 41

10

BAB III
KESIMPULAN
Asas-asas bimbingan dan konseling
1.

2.

Asas-asas bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan siswa.


a. Tiap-tiap siswa mempunyai kebutuhan.
b. Ada perbedaan di antara siswa (asas perbedaan siswa).
c. Tiap-tiap individu (siswa) ingin menjadi dirinya sendiri
d. Tiap-tiap individu (siswa) mempunyai dorongan untuk menjadi matang.
e. Tiap-tiap siswa mempunyai masalah dan mempunyai dorongan untuk
menyelesaikannya.
Asas yang brhubungan dengan praktik atau pekerjaan bimbingan.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Asas kerahasian
Asas kesukarelaan
Asas keterbukaan
Asas kekinian
Asas kemandirian
Asas kegiatan

g.
h.
i.
j.
k.
l.

11

Asas kedinamisan
Asas keterpaduan
Asas kenormatifan
asas keahlian
Alih tangan
Tut wuri handayani

m.

Guru pembimbing yang telah memahami secara benar dan

mendasar prinsip-prinsip dasar bimbingan dan konseling ini akan dapat


menghindarkan diri dari kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan
dalam praktik pemberian layanan bimbingan konseling. Prinsip-prisip
yang akan di bahas adalah ditinjau dari prinsip-prinsip secara umum dan
khusus. Prinsip secara khusus adalah prinsip-prinsip bimbingan yang
berkenan dengan sasaran layanan, prinsip yang berkenaan dengan program
layanan, dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang berkenaan
dengan pelaksanaan pelayanan.
n.
o.
p.

q. DAFTAR PUSTAKA
r.
s.
t.
u.
v.
w.

Sukardi dan Dewa Ketut, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan


dan Konseling di Sekolah, Jakarta : PT Asdi Mahasatya, 2010
______________________, Proses
Jakarta : PT Rineka Cipta, 1995

Bimbingan

dan

Penyuluhan,

Tohirin, Bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah ( berbasis


integral), Jakarta : PT RajaGrafindo persada, 2007

x.
y.

Zainal Aqib, Ikhtisar Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Bandung :


YRAMA WIDYA, 2012
z.

Anda mungkin juga menyukai