Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KULIAH LAPANGAN KECIL

PROYEK EKOLOGI (BI-3204)


PENENTUAN STATUS EKOLOGIS SUNGAI SUB-DAS CIMAHI
Tanggal kulaih lapangan: 26-27 September 2015
Tanggal pengumpulan: 20 Oktober 2015
disusun oleh:
Kinanti Prestiasani
1061366
Kelompok 10
Asisten:
Adithya Mirza Pahlevi S.si

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INTSITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sungai Cimahi adalah anak dari Sungai Citarum. Sungai ini ada di Kabupaten
Bandung. Sepanjang alirannya dari hulu, sungai ini tempat yang berbeda: dari hutan
pinus, tegalan, hutan campuran, kawasan wisata hingga pemukiman warga dan
industri. Daerah Aliran Sungai merupakan wilayah yang dibatasi oleh topografi alami
dam merupakan tempat mengkaji interaksi antara ekosistem akuatik lotik dan
terestrial. Pada kegiatan kuliah lapangan kali ini, Sub DAS Cimahi akan dipelajari di
dua titik yaitu di bagian Curug Cimahi yang terletak lebih hulu, dan di Sungai
Cihanjuang yang terletak lebih hilir dan telah melewati lahan permukiman warga.
Studi yang dilakukan adalah penentuan status ekologi dan hubungannya dengan
interaksi antara komponen biotik-abiotik di bagian akuatik maupun terestrialnya.
Status ekologi ini penting untuk menentukan langkah ke depan yang harus diambil
oleh stakeholder terkait kebijakan di DAS tersebut.
1.2 Tujuan

Menentukan status ekologi Sub DAS Cimahi di stasiun pengamatan Curug


Cimahi dan Sungai Cihanjuang serta melihat keterkaitannya dengan
penggunaan lahan

BAB II
METODE PENELITIAN
2.1 Deskripsi Area Penelitian
Penelitian ini dilakukan dua titik di aliran Sub DAS Cimahi, yaitu Curug
Cimahi dan Sungai Cihanjuang.Gambar 2.1 memuat lokasi dari Sub DAS yang
diamati.

Gambar 2.1 Posisi Curug Cimahi dan Sungai Cihanjuang (Sumber : Google Earth)

2.2 Cara Kerja


Pada lokasi Curug Cimahi maupun Sungai Cihanjuang, sepuluh kelompok
yang ada disebar ke sepuluh titik untuk melakukan pengamatan dan pengambilan
data. Gambar 2.3 memuat plot pengamatan di sungai Cihanjuang. Di masing-masing
lokasi pengambilan data, hal yang dilakukan antara lain mengambil data mikroklimat,
pencuplikan bentos dengan jala surber, pengambilan sampel air untuk analisis fisikakimia dan pengamatan berupa warna air, bau air dan rona lingkungan.

Gambar 2.3 Lokasi Pengambilan data Analisis Status Akuatik di Sungai Cihanjuang (Sumber :
Google Earth)

Untuk pencuplikan bentos digunakan jala surber, di mana hewan hewan yang
hidup di substrat bagian dasar sungai (seperti batu dan lumpur) dijebak. Jala Surber
ditaruh pada posisi jala berlawanan arah dengan arus air sungai. Bagian yang
berbentuk bujursangkar (persegi) dan tidak melekat dengan jala digunakan sebagai
area pencuplikan bentos. Substrat yang ada di area pencuplikan bentos dikeruk
sehingga bentos yang melekat pada substrat dapat terbawa arus air dan masuk ke
dalam jala. Untuk substrat berbentuk batu, batu diambil dan dibersihkan di baki
menggunakan sikat gigi sehingga bentos yang terdapat pada batu dapat diambil dan
dimasukkan ke dalam kantung plastik berisi air sungai. Bentos yang terperangkap
pada jala, dipindahkan ke dalam wadah plastik dan disimpan. Bentos ini akan
diidentifikasi dan dihitung populasinya. Untuk pengukuran faktor fisika-kimia seperti
suhu, kadar oksigen terlarut, turbiditas, konduktifitas dan pH, air sungai diambil
sampelnya menggunakan botol. Botol dicelupkan ke dalam air dengan posisi
membelakangi arah arus sungai. Botol diisi hingga penuh tanpa ada gelembung
sedikit pun terbentuk di dalam botol.
Selain pencuplikan bentos dan Jala Surber dan pencuplikan air sungai, data
lain yang diambil adalah informasi mikroklimat dan edafik (suhu udara, kelembaban
udara, intensitas cahaya, suhu tanah, kelembaban tanah serta pH tanah).Untuk
pengambilan data mikroklimat dan edafik, seperti pada pengambilan data pada

analisis di terestrial, beberapa jenis alat ukur digunakan. Kelembaban dan suhu udara
diukur dengan menggunakan alat sling psychrometer. Alat ini terdiri dari dua buah
termometer yaitu termometer kering dan basah. Alat selanjutnya adalah untuk
mengukur intensitas cahaya matahari yaitu luxmeter. Pengukuran dapat dimulai
dengan menekan tombol record dan dilakukan selama tiga menit. Setelah tiga menit,
data dapat dilihat dengan menekan tombol recall berkali kali hingga didapat hasil
average atau rataan.
Kelembaban dan pH tanah diukur menggunakan soil tester. Alat ini berbentuk
menyerupai paku dengan sensor yang terbuat dari logam di ujungnya. Soil tester
ditancapkan ke dalam tanah sampai bagian sensornya terpendam kemudian ditunggu
tiga menit untuk diambil data pH-nya. Tanah tidak boleh ditambah air walaupun
tujuannya adalah untuk mempermudah masuknya soil tester. Setelah tiga menit, data
pH tanah akan terukur. Untuk mengambil data kelembaban,maka tombol yang ada di
bagian samping soil tester ditekan selama tiga menit penuh. Data kelembaban akan
didapatkan dalam satuan %.
Setelah data diambil menggunakan alat-alat diatas, dilakukan analisis data
identifikasi dan mengukur kelimpahan bentos yang terdaat di masing-masing lokasi.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil dan Analisis Data
Setelah mengambil data di ketiga jenis hutan dan melakukan pengamatan
burung di kawasan hutan campuran, data yang didapat dianalisis menggunakan
metode yang telah dicantumkan sebelumnya. Kedua pengamatan dilaksanakan ddi
aliran sungai, di mana airnya berarus (ekosistem lotik). Rona lingkungan dari Curug
Cimahi adalah sungai berbatu dengan vegetasi d sekitar yang cukup padat, sungai
terletak di antara dua jurang. Di bagian tebing terdapat tetesan air dari akar
tumbuhan, namun tidak mempengaruhi aliran sungai. Lahan di kawasan ini
digunakan untuk keperluan wisata sehingga tidak ada aktivitas rumah tangga maupun
indurstri. Aliran sungainya cukup deras. Rona lingkungan dari Sungai Cihanjuang
adalah area sempadan yang sudah diberi batasan dari tembok, lahan sekitar yang
dipakai untuk permukiman, tutupan vegetasi hanya berupa rumput kecil di daerah
sempadan dan sedikit pohon. Aliran sungai tidak terlalu deras, terdapat banyak
sampah di aliran maupun sekitar sungai. Sungai merupakan penampungai air dari
saluran air di permukiman sekitar. Selain rona lingkungan, mikroklimat juga diamati.
Secara umum, kondisi mikroklimat dari Sub DAS Cimahi yang diamati dapat dilihat
dalam Tabel 3.1 dan 3.2. Kondisi ini akan berkaitan dengan parameter lain yang
diamati.
Tabel 3.1 Data Rata-Rata Mikroklimat Curug Cimahi

Rata-rata
Standar
devisiensi

Suhu udara
(oC)

Kelembaban
Rf udara (%)

19,43

84,37

Intensitas
cahaya (Lux)
(Nilai rata2/
average)
6588,30

0,92

11,73

11004,12

Tabel 3.2 Data Rata-Rata Mikroklimat Sungai


Suhu udara
(oC)

Kelembaban
Rf udara (%)

19,43

84,37

Intensitas
cahaya (Lux)
(Nilai rata2/
average)
6588,30

0,92

11,73

11004,12

Rata-rata
Standar
devisiensi

3.1.1

Komunitas Bentos
Makrobentos adalah hewan yang hidup dalam substrat berupa lumpur

atau batu yang ada di dasar suatu perairan. Hewan ini bersifat cecil (menetap)
sehingga dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan abiotik di perairan. Hal ini
dapat terjadi karena toleransi yang bervariasi antar-makrobentos sehingga yang hidup
di suatu bagian sungai merupakan makrobentos yang paling fit dengan keadaan
sekitarnya (Odum, 1993). Dari sampel bentos yang telah dicuplik menggunakan Jala
Surber di kedua stasiun pengamatan, diperoleh data kelimpahan yang dapat dilihat
pada Grafik 3.1 dan 3.2.

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

Gambar 3.1 Kelimpahan Makrobentos Curug Cimahi

120
100
80
60
40
20
0

Gambar 3.2 Kelimpahan Makrobentos Sungai

Dari grafik di atas, dapat diamati bahwa makrobentos yang paling melimpah
di stasiun pengamatan Curug Cimahi adalah Baetidae sp dengan kerapatan individu
yang juga tertinggi. Secara umum, makrobentos di sini memiliki kekayaan spesies
sebanyak 25 spesies. Pada tabel makronetos di Lampiran, dapat dilihat bahwa indeks
keragamannya adalah 1,9 dan indeks dominansinya adalah 0,29. Sesuai dengan
standar indeks keragaman Shannon-Wiener dan dominansi Simpson, maka
keragaman di tempat ini termasuk sedang dengan dominansi yang cukup rendah
(lebih mendekati 0).
Pada sungai, spesies yang paling melimpah adalah adalah Tubifex sp dengan
kerapatan yang paling besar pula. Nilai indeks keragaman dan dominansinya adalah
2,6 dan 0,12 dengan kekayaan spesies sebanyak 33 spesies. Jika

dibandingkan,

stasiun pengamatan sungai memiliki keragaman dan kekayaan spesies yang lebih
tinggi serta dominansi yang lebih rendah daripada stasiun Curug. Secara alami,
makrobentos sungai menjadi bertambah banyak jenisnya dari hulu ke arah hilir. Hal
ini disebabkan karena banyaknya materi organik yang telah hancur dan terlarut di
dalam air sungai. Ditambah lagi bahwa semakin ke hilir maka sungai akan semakin
lebar dengan arus yang lebih tenang. Hal ini dapat membuat lebih banyak dan
beragam makrobentos yang dapat hidup. Stasiun pengamatan Cihanjuang air
sungainya tercemar oleh limbah organik maupun limbah rumah tangga yang non-

organik (sampah popok, kemasan, dan deterjen). Dalam kondisi pencemaran yang
ditemukan di Sungai Cihanjuang ini, organisme yang bertahan seharusnya hanya
organisme tertentu yang memiliki toleransi tinggi. Namun, dari data yang didapat
keanekaragamannya justru lebih tinggi daripada di Curug Cimahi. Hal ini dapat
terjadi karena faktor fisika-kimia yang masih dalam batas toleransi maksrobentos dan
mendukung banyaknya jenis bentos. Faktor fisika kima (kecepatan arus, warna,
kkeruhan, suhu air, dan kandungan gas dan ion) memperngaruhi kelimpahan bentos
(Setyobudiandi, 1997)
3.1.2

Parameter Fisika-Kimia Perairan


Parameter fisika-kimia dari stasiun Curug dan Cihanjuang dapat dilihat pada

Tabel 3.3 dan 3.4 di bawah ini. Konsentrasi amonium, nitrit, nitrat dan ortofosfat pada
kedua stasiun cenderung mirip. Begitu juga dengan pH yang keduanya cenderung
netral (walaupun di Curug cenderung lebih basa). Untuk suhu, terdapat perbedaan
yang cukup besar karena perbedaan waktu pengambilan data (di Curug saat pagi dan
di sungai saat siang hari). Faktor yang memiliki perbedaan cukup besar adalah
konduktivitas, kadar DO, warna dan bau.
Konduktvitas air dari sungai besarnya lebih dari dua kali lipat konduktivitas
air dari Curug. Konduktivitas adalah cerminan dari seberapa banyak ion yang
terdapat pada air sehingga dapat menghantarkan listrik. Konduktivitas terkait dengan
kadar ortofosfat, karena di air ortofosfat akan terpisah menjadi ionnya sehingga
konduktivitas berubah pula (Setyobudiandi, 1997). Semakin tinggi konduktivitas
sampel sungai, semakin tercemar sampel itu karena berarti banyak ion yang berasal
dari pencemar terlarut. Dari segi pH, air sungai ternyata bersifat lebih asam. Dari segi
warna dan bau, warna air dari sungai jauh lebih keruh daripada di curug, dan baunya
sangat menyengat dan hanyir. Hal ini tentu saja bisa dikaitkan dengan penggunaan
lahan di sekitar masing-masing aliran: Curug Cimahi digunakan sebagai tempat
wisata, tidak ada pembuangan limbah industri maupun rumah tangga. Sungai
Cihanjuang sebaliknya, berada di lahan permukiman padat, banyak sampah dan

limbag rumah tangga maupun eksresi manusia yang dibuang ke sungai tersebut.
Warna dan bau akan terpengaruh.
Tabel 3.3 Data Fisika Kimia Curug Cimahi

Parameter
fisika kimia
konsentrasi
amonium
konsentrasi
nitrit
konsentrasi
nitrat
konsentrasi
ortofosfat
pH
Suhu
konduktivitas
DO
Warna air
Bau air

Nilai

Keterangan

0.1110371
0.0486098
0.057058
0.0230278
7.47
21.54
135.34
8.799
1 belum atau sedikit tercemar
1 belum atau sedikit tercemar
Tabel 3.4 Data Fisika Kimia Sungai

Parameter fisika
kimia
konsentrasi
amonium
konsentrasi nitrit
konsentrasi
nitrat
konsentrasi
ortofosfat
pH
Suhu
konduktivitas
DO
Warna air
Bau air

3.1.3

0.174013
0.052991
0.0881449
0.0331403
7.05
28.75
322.67
7.513
7.6 Tercemar parah
7.7 Tercemar parah

Penentuan Status Ekologis Sungai

Dari data fisika-kimia serta keanekaragaman bentos yang telah dipaparkan


sebelumnya, status ekologi sungai dapat ditentukan. Penentuan ini dilakukan dengan
sistem scoring parameter fisika-kimia dan hasilnya dirata-ratakan dengan indeks
keanekaragaman Shannon-Wiener. Tabel 3.5 memuat acuan dalam sistem scoring.
Tabel 3.5 Acuan Penentuan Status Ekologi Sungai

Dengan perhitungan sebagai berikut:


Status ekologis = A+B2
A= rata-rata parameter
B=skor H
dan kriteria berikut:
Belum atau sedikit tercemar = skor rata-rata 2,00
Tercemar ringan = skor rata-rata 2,00 4,00
Tercemar sedang = skor rata-rata 4,00 -6,00
Tercemar parah = skor rata-rata > 6,00
Dapat ditentukan bahwa status ekologis Sub DAS Cimahi stasiun Curug Cimahi
adalah tercemar rendah, sedangkan stasiun Sungai Cihanjuang tercemar berat.

Keadaan ini tidak terlepas dari penggunaan lahan di sekeliling sungai, seperti yang
telah dijelaskan di poin sebelumnya.

BAB IV
SIMPULAN
Simpulan dari praktikum ini adalah:

Status ekologi Sub DAS Cimahi stasiun Curug Cimahi adalah tercemar
rendah, sedangkan stasiun Sungai Cihanjuang tercemar berat.Stasiun Sungai
dapat tercemar berat karena penggunaan lahan di sekitar aliran sungai yang
merupakan permukiman dan sungai menjadi tempat pembuangan limbah
penghuni permukiman sekitar.

DAFTAR PUSTAKA
Odum, E.P. 1994. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Universitas Gadjah Mada
Press, Yogyakarta (Penerjemah Tjahjono Samingar). Hlm 370, 374-375, 386.
Setyobudiandi, I. 1997. Makrozoobentos. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN
Makrobenthos curug cimahi
Jum
lah
Indi
vid
u

Nama
spesies
Kelimpahan
1 2 3 4 5 6 7 8 9

87,7
86 551

1 6 2

16,3
265
16
3

0,0
975
61

14,2
857
14
1
8,16
326
8
5

0,0
853
66
0,0
487
8

7,14
285
7
7
6,12
244
6
9

0,0
426
83
0,0
365
85

3,06
122
3
4
3 3,06
122
4

0,0
182
93
0,0
182
93

Caenis
sp.
Dero sp.

Baetis sp.
Chironom
us sp.

2 5

2 4

3
3

pi ln
pi

pi2

1
0

8
6

Planaria
sp.

Hydroptili
dae sp.

pi

0,5
243
9

Baetidae
sp.

Cloeon
sp. 1

Ind/
m2

0,338
5039
3
0,227
0514
8
0,210
0690
7
0,147
3378
0,134
6200
9
0,121
0283
0,073
1936
7
0,073
1936

0,274
98512
79
0,009
51814
40
0,007
28732
90
0,002
37953
60
0,001
82183
22
0,001
33848
90
0,000
33462
22
0,000
33462
22

Dicranota
sp.
Dubiraphi
a sp.
Drunella
sp.
Antocha
sp.

3,06
122
3
4

0,0
182
93

2,04
081
2
6

0,0
121
95

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

Cloeon
sp. 2

Elemidae
sp. 1

Hydropsy
che sp. 1

Hydropsy
che sp. 2

Oligocha
eta sp. 4

0,0
182
93

Cheumat
opsyche
sp.

Oligocha
eta sp. 3

3,06
122
3
4

7
0,073
1936
7
0,073
1936
7
0,053
7404
8
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5

0,000
33462
22
0,000
33462
22
0,000
14872
10
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02

Otioshyc
hus sp.

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

1,02
040
1
8

0,0
060
98

Palpomya
sp.
Tabanus
sp.
Tedipes
sp.

Watteble
dia sp.

1
To
ta
l

167,
346
164
9

Ju
ml
ah
Ind
ivi
du

Ind/
m2

pi

10
5

107
,14
29

40
30

40, 0,1
816 142
33
86
30, 0,0

0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
0,031
0967
5
1,929
3835
5

0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,000
03718
02
0,299
30101
13

Makrobenthos sungai

Nama
N spesies
o
.

Kelimpahan
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tubifex
1 sp.
Tabanus
2 sp.
3 Hellobd

1
1 5
0 9 2 9 6 4

1 4 3 1

5
4
0
1 9

pi ln
pi

pi2

1
0

0,3

0,36
1191
84
0,24
7891
85
-

0,090
0000
000
0,013
0612
245
0,007

ella sp.

Tarebia
4 sp.

1
8

Melanoi
des sp.
6 1

Tendipe
8 s sp.

1
5

3 7

Thiara
5 sp. 2

Enchytr
aeidae
7 sp.

6
1
6 1

6 5

8 3

1 3 1

Antocha
9 sp.

1 Brotia
0 sp.

1
1 Dero sp.

Melanoi
1 des sp.
2 3
1
3
1
4

Parathel
pusa sp.
Melanoi
des sp.

612 857
24
14

2
5

25

25, 0,0
510 714
2
29

24

24, 0,0
489 685
8
71

18

18, 0,0
367 514
35
29

16

16, 0,0
326 457
53
14

16

16, 0,0
326 457
53
14

7,1
428
57

0,0
2

7,1
428
57

0,0
2

7,1
428
57

0,0
2

6,1 0,0
224 171
49
43

6
5

6,1 0,0
224 171
49
43
5,1 0,0
020 142

0,21
0577
35
0,18
8504
09
0,18
3763
15
0,15
2617
44
0,14
1044
32
0,14
1044
32
0,07
8240
46
0,07
8240
46
0,07
8240
46
0,06
9705
83
0,06
9705
83
0,06

3469
388
0,005
1020
408
0,004
7020
408
0,002
6448
980
0,002
0897
959
0,002
0897
959
0,000
4000
000
0,000
4000
000
0,000
4000
000
0,000
2938
776
0,000
2938
776
0,000
2040

2
1 Bellamy
5 a sp.
Digonio
1 stoma
6 sp.

41

1 1 1 1

1 1

Melanoi
1 des sp.
7 4

Hydropp
1 syche
8 sp. 1
1 Musca
9 sp.

2 Thiara
0 sp. 1

2 Thiara
1 sp. 3

2 Empidid
2 ae sp. 1

2 Palpomy
3 a sp.
2
4
2
5

Cheuma
topsych
e sp.
Chirono
mus sp.

1
1

86

4,0 0,0
816 114
33
29

4,0 0,0
816 114
33
29

4,0 0,0
816 114
33
29

3,0 0,0
612 085
24
71

3,0 0,0
612 085
24
71

3,0 0,0
612 085
24
71

3,0 0,0
612 085
24
71

2,0 0,0
408 057
16
14

2,0 0,0
408 057
16
14

1
1

1,0 0,0
204 028
08
57
1,0 0,0
204 028
08
57

0692
79
0,05
1104
44
0,05
1104
44
0,05
1104
44
0,04
0794
18
0,04
0794
18
0,04
0794
18
0,04
0794
18
0,02
9513
06
0,02
9513
06
0,01
6736
95
0,01
6736

816
0,000
1306
122
0,000
1306
122
0,000
1306
122
0,000
0734
694
0,000
0734
694
0,000
0734
694
0,000
0734
694
0,000
0326
531
0,000
0326
531
0,000
0081
633
0,000
0081
633

2 Empidid
6 ae sp. 2

2 Hirudine
7 a sp.

2 Lumbric
8 us sp.

Melanoi
2 des sp.
9 5

Oligoch
3 aeta sp.
0 1
Oligoch
3 aeta sp.
1 2
Oligoch
3 aeta sp.
2 4
Pilsbryo
3 concha
3 sp.

1
T
ot
al

1,0 0,0
204 028
08
57

1,0 0,0
204 028
08
57

1,0 0,0
204 028
08
57

1,0 0,0
204 028
08
57

1,0 0,0
204 028
08
57

1,0 0,0
204 028
08
57

1,0 0,0
204 028
08
57

1,0 0,0
204 028
08
57

35
0

357
,14
29

95
0,01
6736
95
0,01
6736
95
0,01
6736
95
0,01
6736
95
0,01
6736
95
0,01
6736
95
0,01
6736
95
0,01
6736
95
2,60
4345
9

0,000
0081
633
0,000
0081
633
0,000
0081
633
0,000
0081
633
0,000
0081
633
0,000
0081
633
0,000
0081
633
0,000
0081
633
0,129
8612
245