Anda di halaman 1dari 35

Proses Pengolahan dan Pemurnian Bijih Emas

Pertambangan emas pertama kali dilakukan di daerah alluvial, dengan metoda


pengolahan cara gravitasi atau cara amalgamasi dengan air raksa. Sejak tahun
1860 kegiatan pertambangan bawah tanah dilakukan untuk endapan primer
dengan metoda pengolahan emas cara sianidasi. Perkembangan selanjutnya
teknologi pengolahan emas dengan cara flotasi dilakukan pada tahun 1930. Dan
tahun 1960 metoda pengolahan heap leaching yang dasarnya seperti pengolahan
sianidasi diterapkan untuk pengolahan bijih emas kadar rendah.
Teknologi proses pengolahan emas skala komersial yang umum digunakan
terdiri dari tahap :
1. Comminution / Kominusi
Kominusi adalah proses reduksi ukuran dari ore agar mineral berharga yang
mengandung emas dengan tujuan untuk membebaskan (meliberasi) mineral emas
dari mineral-mineral lain yang terkandung dalam batuan induk.
Tujuan liberasi bijih ini antara lain agar :
Mengurangi kehilangan emas yang masih terperangkap dalam batuan induk
Kegiatan konsentrasi dilakukan tanpa kehilangan emas berlebihan
Meningkatkan kemampuan ekstraksi emas
Proses kominusi ini terutama diperlukan pada pengolahan bijih emas primer,
sedangkan pada bijih emas sekunder bijih emas merupakan emas yang
terbebaskan dari batuan induk yang kemudian terendapkan. Derajat liberasi yang
diperlukan dari masing-masing bijih untuk mendapatkan perolehan emas yang
tinggi pada proses ekstraksinya berbeda-beda bergantung pada ukuran mineral
emas dan kondisi keterikatannya pada batuan induk.

Proses kominusi ini dilakukan bertahap bergantung pada ukuran bijih yang
akan diolah, dengan menggunakan :

Refractory ore processing, bijih dipanaskan pada suhu 100 - 110 0C,
biasanya sekitar 10 jam sesuai dengan moisture. Proses ini sekaligus

mereduksi sulfur pada batuan oksidis.


Crushing merupakan suatu proses peremukan ore ( bijih ) dari hasil
penambangan melalui perlakuan mekanis, dari ukuran batuan tambang
<40 cm menjadi <12,5 mm, misalnya dengan menggunakan Roll Crusher,

Jaw Crusher, Cone Crusher, Stamp Mill, dll.


Milling merupakan proses penggerusan lanjutan dari crushing,hingga
mencapai ukuran slurry dari hasil milling yang diharapkan yaitu minimal
80% adalah -200#. Ada beberapa alat yang digunakan dalam proses
milling, salah satunya ialah Ballmill. Ballmill ialah alat penggilingan bijih
emas yang telah dikecilkan dari batuan yang sangat besar. Ballmill
merupakan suatu penggiling dengan bola-bola besi dengan ukuran
tertentu. Bijih emas yang diperoleh dimasukan kemudian digiling sampai
halus sehingga emas terlepas dari tanah. Setelah emas terlepas dari
ikatannya dilanjutkan dengan proses pengayakan. Proses pengayakan
didasarkan pada perbedaan massa jenis. Emas memiliki massa jenis lebih
besar dari tanah sehingga pada proses pengayakan emas berada dibagian
bawah maka tanah berada dibagian atas dapat dengan mudah dibuang.
Hasil pengayakan ditambah air kemudian dialirkan di atas lembaran
tembaga yang bagian atasnya telah diberi Hg. Aliran air menyebabkan
butiran emas dan perak atau logam-logam lain melekat pada raksa
sedangkan air, tanah dan kotoran-kotoran yang lain terus mengalir.

2. Concentration / separation

Setelah ukuran bijih diperkecil, proses selanjutnya dilakukan proses


konsentrasi/pemekatan

dengan

memisahkan

mineral

emas

dari

mineral

pengotornya, sehingga diperoleh kadar bijih tinggi. Pada endapan emas aluvial,
bijih hasil penggalian langsung memasuki tahap ini tanpa tahap kominusi terlebih
dahulu.
Pemekatan dapat dilakukan melalui dua teknik pemisahan, yaitu pemisahan
secara fisis dan pemisahan secara kimia :
a. Gravity Separation / Pemisahan gaya berat.
Pemisahan gaya berat ( gravity separation ), adalah proses pemisahan mineral
yang didasarkan atas perbedaan massa jenis antara partikel bijih dan partikel
pengotor. Konsentrasi/separasi dengan metode gravitasi memanfaatkan perbedaan
massa jenis emas (19.3 ton/m3) dengan massa jenis mineral lain dalam batuan
(yang umumnya berkisar 2.8 ton/m3). Mineral pembawa emas biasanya
berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut
umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non
logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang
telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas native, elektrum, emas
telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang,
antimon, dan selenium. Emas asli mengandungi antara 8% dan 10% perak, tetapi
biasanya kandungan tersebut lebih tinggi. Elektrum sebenarnya jenis lain dari
emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%. Apabila jumlah perak
bertambah, warnanya menjadi lebih putih.
Metode gravitasi akan efektif bila dilakukan pada material dengan diameter
yang sama/seragam, karena pada perbedaan diameter yang besar perilaku material
ringan (massa jenis kecil) akan sama dengan material berat (massa jenis besar)
dengan diameter kecil. Oleh karena itu dibutuhkan proses Screening and
Classifying :

o Grizzlies, non moved screens

o Vibrating screens
o Spiral classifier
Pada proses ini menjadi sangat penting untuk dilakukan dengan baik, sebab
dengan memilah ukuran bijih hasil kominusi akan menyeragamkan besaran
umpan (feeding) ke proses konsentrasi. Sedangkan bijih yang masih belum
seragam (lebih besar) hasil pemilahan dikembalikan ke proses sebelumnya yaitu
kominusi.
Peralatan konsentrasi yang menggunakan prinsip gravitasi yang umum
digunakan pada pertambangan emas skala kecil antara lain adalah :
Dulang (panning), adalah alat konsentrat emas yang menggunakan prinisp
gravitasi paling sederhana.
Palong (Sluice Box) lebih banyak digunakan karena mempunyai effisiensi
yang sama dengan peralatan konsentrasi yang lain namun mempunyai
konstruksi yang lebih sederhana daripada spiral konsentrator, meja goyang
dan jig, serta dapat memproses lebih banyak bijih per hari daripada
dulang.
Spiral Concentrator mampu memisahkan logam berat pada kisaran ukuran
3 mm hingga 75 micron (6 200mesh).
Meja goyang (shaking table) efektif memisahkan emas dari batuan oxydis
pada 200 micron, batuan sulfidis 400 micron, dan silik 100 micron.
Jigs, merupakan alternatif konsentrator yang mudah dioperasionalkan,
Secara umum dapat berjalan efektif pada ukuran terbesar 2 cm dan yang
terkecil 10 mesh.
Hasil dari proses ini berupa konsentrat yang mengandung bijih emas dengan
kandungan yang besar, dan lumpur pencucian yang terdiri atas mineral-mineral
pengotor pada bijih emas. Konsentrat emas selanjutnya diolah dengan proses
ekstraksi.

b. Froth Flotation / Pemisahan pengapungan.

Pengapungan buih (froth flotation) adalah proses pemisahan mineral menjadi


bijih dari pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke permukaan melalui
pengikatan dengan buih. Froth Flotation / Pengapungan buih yaitu pemisahan
bijih emas dari pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke permukaan melalui
pengikatan dengan buih dengan menggunakan bahan kimia tertentu dan udara.
Selain pemisahan bijih emas, prosess ini banyak dipakai untuk beberapa bijih
seperti Cu, Pb, Zn, Ag, dan Ni.
Teknik pengerjaannya dilakukan dengan cara menghembuskan udara ke
dalam butiran mineral halus (telah mengalami proses crushing) yang dicampur
dengan air dan zat pembuih. Butiran mineral halus akan terbawa gelembung udara
ke permukaan, sehingga terpisahkan dengan materi pengotor (gangue) yang
tinggal dalam air (tertinggal pada bagian bawah tank penampung). Pengikatan
butiran bijih akan semakin efektif apabila ditambahkan suatu zat collector.
Prinsip dasar pengikatan butiran bijih oleh gelembung udara berbuih melalui
molekul collector adalah :
Butiran zat yang mempunyai permukaan hidrofilik akan terikat air sehingga
akan tinggal pada dasar tank penampung.
Butiran zat yang mempunyai permukaan non-polar atau hidrofob akan
ditolak air, jika ukuran butirannya tidak besar, maka akan naik ke permukaan dan
terikat gelembung udara.
Kebanyakan mineral terdiri dari ion yang mempunyai permukaan hidrofil,
sehinga partikel tersebut dapat diikat air. Dengan penambahan zat collector,
permukaan mineral yang terikat molekul air akan terlepas dan akan berubah
menjadi hidrofob. Dengan demikian ujung molekul hidrofob dari collector akan
terikat molekul hidrofob dari gelembung, sehingga mineral (bijih) dapat
diapungkan. Molekul collector mempunyai struktur yang mirip dengan detergen.

Metoda

ini

digunakan

di

beberapa

industri

pertambangan

dengan

menggunakan reagen utama Xanthate sebagai Collector (misalnya : potassium

amyl xanthate, C5H11OCS2K), Pine Oil sebagai Frother dan campuran bahan kimia
organik lainnya sebagai pH Modifiers. Reagents yang digunakan untuk
pengapungan pada umumnya tidak beracun, yang berarti bahwa biaya
pembuangan limbah / tailing menjadi rendah.
Keuntungan lain dari proses pengapungan adalah pada umumnya cukup
efektif pada bijih dengan ukuran yang cukup kasar (28 mesh) yang berarti bahwa
biaya penggilingan bijih dapat diminimalkan. Froth Flotation sering digunakan
mengkonsentrasi emas bersama-sama dengan logam lain seperti tembaga, timah,
atau seng. Partikel emas dari batuan oxydis biasanya tidak merespon dengan baik
namun efektif terutama bila dikaitkan dengan emas sulfida seperti pyrite.

3. Extraction/Ekstraksi
Ekstraksi emas dalam skala industri yang paling umum dilakukan yaitu :
a) Liquation Separation
Pemisahan pencairan ( liquation separation ), adalah proses pemisahan
yang dilakukan dengan cara memanaskan mineral di atas titik leleh logam,
sehingga cairan logam akan terpisahkan dari pengotor.
Yang menjadi dasar untuk proses pemisahan metode ini, yaitu :
Density ( berat jenis )
Melting point ( titik cair )
Contoh : memisahkan emas dan perak
Titik cair emas pada suhu 1064.18oC, sedangkan titik cair perak pada suhu
961.78oC. Ini artinya perak akan mencair lebih dulu dari pada emas. Namun untuk
benar-benar terpisah, maka perak harus menunggu emas mencair 100%.
Kemudian bila dilihat dari berat jenisnya, maka berat jenis emas cair
sebesar 17.31 gram per cm3 sedangkan berat jenis perak sebesar 9.32 gram per
cm3. Hal ini berarti berat jenis emas lebih besar dari pada berat jenis perak.

Dari hukum alam fisika, maka bila ada dua jenis zat cair yang berbeda dan
memiliki berat jenis yang berbeda pula, maka zat cair yang memiliki berat jenis
lebih kecil dari zat satunya, ia akan mengapung. Dengan demikian, cairan perak
akan terapung diatas lapisan cairan emas, seperti halnya cairan minyak
mengambang diatas lapisan air. Dari sana, perak dipisahkan dari emas, sampai
tidak ada lagi perak yang terapung. Dengan metode akan dihasilkan Au bullion
dan Ag bullion.
b) Amalgamasi
Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampur
bijih emas dengan merkuri ( Hg ). Produk yang terbentuk adalah ikatan antara
emas-perak dan merkuri yang dikenal sebagai amalgam ( Au Hg ).
Amalgam adalah sebuah kombinasi atau campuran air raksa dengan logam
lain atau dengan alloy. Merkuri akan membentuk amalgam dengan semua logam
kecuali besi dan platina. Amalgam yang terbentuk dikumpulkan pada saat-saat
tertentu untuk proses selanjutnya sedangkan Hg yang tidak ada amalgam
dikembalikan untuk digunakan kembali. Hg ini masih mengandung emas dan
perak yang dapat dimurnikan dengan proses sianidasi. Amalgam yang terbentuk
selanjutnya dilakukan proses penyulingan. Proses penyulingan ini bertujuan
memisahkan emas, perak atau logam-logam lain dari raksa. Raksa yang bersifat
volatil dengan titik didih 37C sedangkan amalgam memiliki titik didih yang
sangat tinggi yakni sekitar 1000C. Melalui penyulingan ini raksa dapat diperoleh
kembali setelah mengalami pengembunan pada kondensor. Residu yang diperoleh
dari penyulingan masih mengadung emas yang dapat dimurnikan dengan proses
elektrolisis.

Penggunaan raksa alloy atau amalgam pertama kali pada 1828, meskipun
penggunaan secara luas teknik baru ini dicegah karena sifat air raksa yang
beracun. Sekitar 1895 eksperimen yang dilakukan oleh GV Black menunjukkan
bahwa amalgam aman digunakan, meskipun 100 tahun kemudian ilmuwan masih
diperdebatkannya.

Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang paling sederhana


dan murah, namun demikian amalgamasi akan efektif pada emas yang terliberasi
sepenuhnya maupun sebagian pada ukuran partikel yang lebih besar dari 200
mesh ( 0.074 mm ) dan dalam membentuk emas murni yang bebas ( free native
gold ). Tiga bentuk utama dari amalgam adalah AuHg2, Au2Hg and Au3Hg.
Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya
dipanaskan, maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion
emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air
raksanya akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa
tersebut. Sementara Au-Ag tetap tertinggal di dalam retort sebagai logam.
Selain sederhana cara pengolahannya dan murah biaya operasionalnya,
pengolahan bijih emas dengan metoda amalgamasi ini juga mudah dalam
pemasaran produknya karena baik dalam bentuk amalgam, bullion maupun berupa
logam emas sudah bisa dipasarkan dengan harga standar berdasarkan kualitas
produk dan harga pasar logam emas murni internasional yang berlaku saat itu.
Oleh sebab itu, metoda ini menjadi pilihan utama bagi pertambangan rakyat pada
umumnya.
Tahapan amalgamasi secara sederhana sebagai berikut :

Sebelum dilakukan amalgamasi hendaknya dilakukan proses kominusi


dan konsentrasi gravitasi, agar mencapai derajat liberasi yang baik

sehingga permukaan emas tersingkap.


Pada hasil konsentrat akhir yang

(amalgamasi) dilakukan selama + 1 jam.


Hasil dari proses ini berupa amalgam basah (pasta) dan tailing. Amalgam

diperoleh

ditambah

merkuri

basah kemudian ditampung di dalam suatu tempat yang selanjutnya

didulang untuk pemisahan merkuri dengan amalgam.


Terhadap amalgam yang diperoleh dari kegiatan pendulangan kemudian
dilakukan kegiatan pemerasan (squeezing) dengan menggunakan kain
parasut untuk memisahkan merkuri dari amalgam (filtrasi). Merkuri yang
diperoleh dapat dipakai untuk proses amalgamasi selanjutnya. Jumlah
merkuri yang tersisa dalam amalgan tergantung pada seberapa kuat

pemerasan yang dilakukan. Amalgam dengan pemerasan manual akan


mengandung 60 70 % emas, dan amalgam yang disaring dengan alat

sentrifugal dapat mengandung emas sampai lebih dari 80 %.


Retorting yaitu pembakaran amalgam untuk menguapkan merkuri,
sehingga yang tertinggal berupa alloy emas.

Ekstraksi Amalgamasi yang baik :


o Lokasi

ekstraksi

bijih

harus

terpisah

dari

lokasi

kegiatan

penambangan.
o Dilakukan pada lokasi khusus baik untuk amalgamasi untuk
meminimalkan penyebab pencemar bahan berbahaya akibat peresapan
kedalam tanah, terbawa aliran air permukaan maupun gas yang
terbawa oleh angin.
o Dilengkapi dengan kolam pengendap yang berfungsi baik untuk
mengolah seluruh tailing hasil pengolahan sebelum dialirkan ke
perairan bebas.
o Lokasi pengolahan bijih dan kolam pengendap diusahakan tidak
berada pada daerah banjir.
o Hindari pengolahan dan pembuangan tailing langsung ke sungai.

c) Sianidasi
Leaching Sianida adalah proses pelarutan selektif oleh sianida dimana
hanya logam-logam tertentu yang dapat larut, misalnya Au, Ag, Cu, Zn, Cd, Co
dan lain-lain.
Ekstraksi emas dengan menggunakan leaching sianida ditemukan pertama
kali oleh J. S. Mac Arthur di Glasgow, Scotland tahun 1887, dan sekarang telah
dipakai sebagian besar produksi emas dunia. Walau sesungguhnya banyak
lixiviants (leaching agen) lainnya yang dapat digunakan, antara lain :
Bromides (Acid and Alkaline)

Chlorides
Thiourrea / Thiocarbamide (CH4N2S)
Thiosulphate (Na2S2O3)
Iodium-Iodida
Proses sianidasi dilakukan menggunakan larutan NaCN encer. Bahan yang
akan diolah dapat berupa bijih emas yang telah digiling atau Hg dari proses
amalgamasi. Proses ini didasarkan pada sifat emas dan perak yang dapat larut
dalam garam sianida dengan adanya oksigen. Larutan yang terbentuk kemudian
ditambahkan serbuk seng untuk mengendapkan emas dan perak. Proses
penambahan seng ini disebut proses Merill Crowe. Berikut adalah reaksi yang
terjadi dari setiap proses:
Au(s) + 8NaCN(aq) + O2(g) + 2H2O(l) 4NaAu(CN)2(aq) + 4NaOH(aq)
4Ag(s) + 8NaCN(ag) + O2(g) + 2H2O(l) 4NaAg(CN)2(aq) + 4NaOH(aq)
NaAg(CN)2(aq) + Zn(s) 2NaCN(aq) + Zn(CN)2(aq) + 2Ag(s)
NaAu(CN)2(aq) + Zn(s) 2NaCN(aq) + Zn(CN)2(aq) + 2Au(s)
Sebenarnya

selain

seng

aluminum

pun

dapat

digunakan

untuk

mengendapkan emas dan perak namun harganya relatif lebih mahal, sehingga
pengendapan lebih sering digunakan seng. Selain aluminium logam alkali dan
alkali tahan misalnya natrium dan magnesium dapat pula digunakan untuk
mengendapkan emas dan perak, namun larutan dari proses sianidasi mengandung
air dalam jumlah yang cukup banyak, maka akan terjadi reaksi yang hebat apabila
ditambahkan logam alkali maupun logam alkali tanah.
Pengendapan yang terbentuk berkaitan dengan deret volta atau deret atau
urutan kereaktifan logam, dimana logam-logam yang berada disebelah kiri dapat
mereduksi (mengantikan) logam-logam yang ada disebelah kanannya dalam
senyawaannya. Deret volta atau deret kereaktifan logam adalah sebagai berikut:
Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Ni Co Sn Pb H Cu Hg Ag
Pt Au

Proses Sianidasi terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses pelarutan /
pelindian (leaching) dan proses pemisahan emas (recovery) dari larutan kaya.
Pelarut yang biasa digunakan dalam proses cyanidasi adalah Sodium Cyanide
(NaCN), Potassium Cyanide (KCN), Calcium Cyanide [Ca(CN) 2], atau
Ammonium Cyanide (NH4CN). Pelarut yang paling sering digunakan adalah
NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya.
Ada banyak teori tentang pelarutan emas mulai dari Teori Oksigen Elsner,
Teori Hidrogen Janin, Teori Hidrogen Peroksida Bodlanders, Teori korosi
Boonstra, sampai Teori Pembuktian Kinetika dari Habashi. Teori yang paling
banyak dipakai adalah Teori Oksigen Elsner dan Pembuktian Kinetika Habashi.
Teori Oksigen Elsner, reaksi pelarutan Au dan Ag dengan sianida adalah
sebagai berikut :
4Au + 8CN- + O2 + 2H2O 4Au(CN)2- + 4NaOH4Ag + 8CN- + O2 + 2H2O 4Ag(CN)2- + 4NaOHTeori Pembuktian Kinetika ( Habashi. 1970 ), reaksi pelarutan Au dan Ag
adalah sebagai berikut :
2Au + 4CN- + O2 + 2H2O 2Au(CN)2- + 2OH- + H2O2
2Ag + 4CN- + O2 + 2H2O 2Ag(CN)2- + 2OH- + H2O2
Mekanisme reaksi ini adalah mekanisme elektrokimia.
Walaupun penggunaan metode ini sama halnya dengan metode ekstraksi
yang lain yang masih memiliki potensi dampak berupa efek beracunnya bagi
pekerja dan lingkungan, ekstraksi emas dengan menggunakan metode leaching
sianida saat ini telah menjadi proses utama ekstraksi emas dalam skala industri,
karena metode ini menawarkan tehnologi yang lebih efektif dan efisien, antara
lain adalah :
1) Heap leaching (pelindian tumpukan) : pelindian emas dengan cara
menyiramkan larutan sianida pada tumpukan bijih emas (diameter
bijih < 10 cm) yang sudah dicampur dengan batu kapur. Air lindian
yang mengalir di dasar tumpukkan yang kedap kemudian di

kumpulkan untuk kemudian dilakukan proses berikutnya. Efektifitas


ekstraksi emas berkisar 35 65 %.
2) VAT leaching (pelindian rendaman) : pelindian emas yang dilakukan
dengan cara merendam bijih emas (diameter bijih < 5 cm) yang sudah
dicampur dengan batu kapur dengan larutan sianida pada bak kedap.
Air lindian yang dihasilkan kemudian dikumpulkan untuk dilakukan
proses berikutnya. Proses pelindian berlangsung antara 3 7 hari dan
setelah itu tangki dikosongkan untuk pengolahan bijih yang baru.
Efektifitas ekstraksi emas berkisar 40 70 %.
3) Agitated tank leaching (pelindian adukan) : pelindian emas yang
dilakukan dengan cara mengaduk bijih emas yang sudah dicampur
dengan batu kapur dengan larutan sianida pada suatu tangki dan
diaerasi dengan gelembung udara. Lamanya pengadukan biasanya
selama 24 jam untuk menghasilkan pelindian yang optimal. Air
lindian yang dihasilkan kemudian dikumpulkan untuk kemudian
dilakukan proses berikutnya. Efektifitas ekstraksi emas dapat
mencapai lebih dari 90 %.

Tank leaching (tong pengolahan emas) dapat menggunakan beberapa


model, selain model tangki silinder dilengkapi propeler sebagai agitator
(pengaduk), dapat pula menggunakan tong kerucut dengan menggunakan tenaga
angin dari kompresor sebagai aerator sekaligus agitator.
Tong pengolahan emas model kerucut dapat terbuat dari plat besi dengan
rangka besi sebagai penyangga sehingga posisi tong menjulang tinggi. Atau
membuat sumur yang dengan konstruksi bata daan semen atau dilapisi terpal
plastik agar kedap air.

d) Refinning / Pemurnian

Refining, yaitu melakukan pengolahan logam kotor melalui proses kimia


agar diperoleh tingkat kemurnian tinggi, dengan tahapan sebagai berikut :

Smelting (peleburan) adalah proses reduksi bijih (abu hasil roasting atau
cake

hasil

electrowinning)

pada

suhu

tinggi

(1.200 oC)

hingga

mendapatkan material lelehan. Dengan menambahkan Flux formula, salah


satunya Borax - Sodium Borate (Na2B4O7. 10H2O) sebagai bahan kimia
tambahan untuk proses smelting. Fungsi borax dalam proses smelting
yaitu mengikat kotoran penggangu selain logam (slag/terak). Sehingga
ketika mencair, matte (logam lelehan) akan berada di bawah sedangkan
bagian atas disebut slag / terak yang ditangkap oleh silika berupa semacam
kaca yang mudah untuk dipecahkan. Produk reduksi selama proses

pelelehan disebut Dore bullion (Au-Ag alloy).


Size Reduction (Pengecilan ukuran) yaitu mereduksi dore bullion (Au-Ag
alloy) yang masih berukuran besar menjadi butiran-butiran kecil, sebelum
diproses ke tahap parting. Idealnya besaran butiran sekitar diameter 2-3
mm dengan kadar emas 25% atau kurang.

Bila perlu dilakukan

Quartering, yaitu menurunkan kadar emas dengan penambahan yang tepat


dari tembaga atau perak agar tercapai kadar emas 25%.
Proses ini dilakukan berdasarkan proses perlakuan kimia untuk bahan fase
padat yang umumnya sangat dipengaruhi oleh luas permukaan dari bahan
padat tersebut. Semakin luas permukaannya, maka perlakuan kimia akan
semakin baik. Dimana luas permukaan dari suatu bahan padat
berhubungan erat dengan ukuran dari bahan tersebut, artinya semakin kecil

ukuran dari bahan padat, maka permukaannya akan semakin luas.


Parting, yaitu proses untuk memisahkan emas dengan perak dan logam
dasar dari dore bullion (Au-Ag alloy) dengan larutan asam nitrat (HNO 3).
Dipasaran kita dapat temukan asam nitrat kadar 68%. Hasil setelah
perebusan terakhir, endapan yang ada sudah halus dan berwarna coklat
seperti bubuk kopi. Endapan ini merupakan bullion emas (High Au
Bullion) dengan kadar emas mencapai 98%, untuk hasil lebih baik dapat
diproses dengan Aqua Regia agar dapat diperoleh kadar hingga 99.6%.

Sedangkan air hasil bilasan yang ditampung diember dilanjutkan pada

proses hydrometalurgi untuk diambil peraknya.


Melting, Untuk mendapatkan logam emas, endapan bullion emas (High
Au

Bullion)

selanjutnya

dilebur

dengan

penambahan

borax

(Na2B4O710H2O). Tujuan pemakaian borax di sini adalah selain untuk


mengikat kotoran yang masih ada, juga untuk menahan bullion agar tidak
beterbangan saat terkena hembusan dari blander nantinya.
Setelah bullion dilebur akan tampak menggumpal seperti gumpalan di
dasar kowi. Biarkan dingin dahulu beberapa detik hingga membeku
sebelum dicongkel.
Bila menginginkan emas berwarna kuning mengkilat, caranya : dimasak
dalam panci yang dipanaskan hingga dua kali proses pemasakan dengan
larutan yang terdiri dari :
Salpeter / sendawa sebanyak 2 %
Tawas sebanyak 1 %,
NaCl sebanyak 1 %,
Air
Pembahasan Proses Pengolahan Bijih Emas di PT Antam Tbk, UBPE
Pongkor

Gambar Diagram Alir Proses Pengolahan Bijih Emas di PT Antam Tbk,


UBPE Pongkor

Proses Pengolahan Bijih Emas di PT Antam Tbk, UBPE Pongkor meliputi 3


unit proses yaitu unit sianidasi , unit recovery, dan unit tailing treatment. Secara
umum proses pengolahan emas dapat dilihat pada penjelasan berikut ini :
1. Unit Sianidasi
Unit sianidasi merupakan unit proses pertama dalam proses pngolahan emas yang
meliputi proses yaitu crushing, milling dan leaching. Proses-proses ini pada
dasarnya merupakan proses untuk mereduksi ukuran bijih emas menjadi ukuran
yang memenuhi agar reaksi pelarutan berlangsung dengan baik sedangkan
leaching merupakan pelarutan selektif emas oleh reagen tertentu

1.1 Crushing (Peremukan)


Crushing merupakan proses peremukan bijih emas (ore) yang berasal dari
tambang menjadi ukuran yang lebih kecil dari ukuran 400 mm menjadi ukuran
sekitar 12.5 mm untuk meningkatkan derajat liberasi, membebaskan logam
berharga dari pengotornya dan memperbesar luas permukaan bijih sehingga
kecepatan reaksi pelarutan dapat berlangsung dengan baik.
Ore dari dalam tambang diangkut dengan menggunakan (Load Hauling
Dump) yang selanjutnya diangkut oleh lori (granby) ke stockfile. Ore dari
stockfile akan diangkut oleh dump truck untuk dimasukan dedalam ROM (run off
mine) bin. Pada ROM bin dipasang grizzly berupa besi yang disusun menyilang
untuk memisahkan ore yang berukuran lebih besar dari 40 cm dengan yang lebih
kecil dari 40 cm. Ore yang tidak lolos di grizzly akan dihancurkan di tempat jika
ukuran lebih terlalu besar atau diangkut kembali ke stockfile untuk direduksi
ukurannya menggunakan excavator breaker. Ore yang lolos di grizzly akan jatuh
ke apron feeder yakni feeder berupa bantalan besi yang berjalan sesuai setting
yang telah ditentukan. Pada bagian keluarnya ROM dipasang rantai besar untuk
mengatur jumlah ore yang masuk kedalam primary crusher (jaw crusher) dan
mencegah terjadinya coking. Jika terjadi coking digunakan rock grab untuk ore
yang menyebabkan terjadinya coking atau menyemprot air untuk melarukan clay
yang menempel.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.1 Peralatan Crushing (a) Grizzly (b) Apron Feeder (c) Jaw Crusher
Ada dua jenis crusher yang digunakan yaitu primary crusher dan secondary
crusher. Primary crusher yang digunakan jaw crusher tipe double toggle dan
cone crusher sebagai secondary crusher. Ore yang masuk ke jaw crusher akan
dihancurkan menjadi ukuran yang lebih kecil dari 40 cm. Setelah itu ore akan
ditransportasikan lagi menggunakan conveyor 01 menuju tramp iron magnet yang
berfungsi sebagai penangkap sisa logam-logam yang terbawa dari tambang seperti
bijih besi, paku, baja dan logam pengotor lainnya agar tidak merusak screen dan
tidak merobek belt conveyor. Ore selanjutnya dibawa menggunakan conveyor 02
menuju primary screen yang berfungsi untuk memisahkan ore yang lebih kecil
dari 12.5 mm (undersize) dengan ore yang lebih besar dari 12.5 mm (oversize) .
Jenis primary screen yang digunakan jenis inclined vibrating cone crusher dust
enclosure. Jenis ini memiliki dua deck dengan ukuran deck atas 32 mm dan 16
mm untuk deck bawah yang terbuat dari rubber. Oversize dari primary screen
akan dibawa oleh conveyor 03 menuju cone crusher untuk dihancukan lagi
sehingga ukurannya kurang dari 12.5 mm, setelah direduksi ukurannya ore akan
masuk ke conveyor 01, conveyor 02 dan primary screen.. Sedangkan undersize
dari primary screen masuk ke secondary screen.

g
(a)

(b)

(c)

Gambar 2.2 (a) Cone Crusher (b) Primary Screen (b) Secondary Screen

Umpan yang masuk ke secondary screen merupakan undersize dari primary


screen. Jenis secondary screen yang digunakan adalah horizontal vibrating
double. Deck. Jenis ini memiliki dua deck vibrating screen yaitu 1 mm dibagian
atas dan 0.5 mm dibagian bawah. Undersize dari secondary screen akan masuk ke
sump tank dan kemudian akan di pompakan ke FST Thinkener sedangkan
oversize-nya akan dibawa oleh conveyor 04 menuju Fine Ore Bin (FOB) 1 dan
Fine Ore Bin (FOB) 2.

Gambar 2.3 Fine Ore Bin (FOB) 1 dan Fine Ore Bin (FOB) 2.

Gambar Diagram Alir Proses Crushing

1.2 Milling (Penggerusan)


Milling atau grinding merupakan proses reduksi ukuran bijih dengan cara
penggerusan bijih (ore) menggunakan grinding ball yang bertujuan untuk
mengecilkan ukuran ore dari -12 mm sampai +5 mm menjadi -200 mesh atau 74
mikron sehingga dapat masuk ke tahap selanjutnya (pelindian). Proses ini
merupakan proses lanjutan dari proses crushing. Alat milling yang digunakan
adalah jenis ballmill tipe discharge mill. Sedangkan liner yang digunakan jenisnya
lifter bar dan shell plate. Akibat adanya lifter bar ini muatan yang ada di dalam
ballmill akan terangkat saat ballmill berputar. Bagian lifter bar yang ada
lengkungannya atau yang tidak ada bagian miring, merupakan bagian yang
berfungsi untuk mengangkat muatan di dalam ballmill.
Umpan dalam ball mill I berasal dari FOB I melalui belt conveyor 05 dengan
pengumpan mill feeder, selain itu umpan lain yang masuk ke dalam ball mill yang
berasal dari (Fine Stock Tank) Thickener, underflow cyclone dan endapan Inline
Leach Reactor (ILR). Sedangkan ball mill II berasal dari FOB 2 melalui belt
conveyor 06 dengan proses yang sama seperti pada FOB 1.
Parameter parameter yang harus dijaga dalam proses milling adalah :
1. Ukuran bijih hasil gerusan 80% yang berukuran 200 mesh atau 7410-3
agar derajat liberasi dari logam berharga dapat ditingkatkan.
2. Bijih dari belt conveyor 05 dan 06 sebelum masuk ke milling proses,
ditambah lime (kapur) untuk mengatur pH antara 10.0 10.5 pada proses
leaching. Jika pH kurang dari rentang tersebut maka kemungkinan
terbentuk asam sianida saat proses leaching dan jika kelebihan akan
menyebabkan terbentuknya H2O2 yang akan menyebabkan reaksi leaching
menjadi lambat.
3. Persen solid harus berkisar antara 38% - 42%

Di ujung ball mill terdapat trommel screen yang memisahkan produk dari ball
mill antara oversize dan undersize dengan bantuan spray water. Oversize dari

trommel screen pada plant 1 akan diangkut menggunakan wheel loader ke hopper
dan dimasukan kembali ke conveyor 05 menuju ball mill lagi. Sedangkan pada
plant 2 akan langsung dimasukkan ke conveyor 06. Sedangkan undersize-nya
berupa slurry akan ditampung di sump discharge ballmill, lumpur itu akan
dipompakan ke mill cyclone. Di mill cyclone akan terjadi pemisahan antara fraksi
kasar dan fraksi halus akibat gaya sentrifugal dan gaya tangensial. Underflow atau
fraksi kasar dari mill cyclone akan dikirim kembali ke ballmill, sedangkan
overflow atau fraksi halus akan dikirim ke tangki leaching setelah melalui trash
screen untuk memisahkan slurry dari pengotor-pengotorya.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.4 (a) Ball Mill (b) Mill Cyclone (c) Trash Screen
1.3 Leaching
Leaching merupakan proses pelarutan emas dari bijihnya menggunakan
pelarut tertentu. Proses leaching yang dilakukan oleh PT Antam Tbk, UBPE
Pongkor merupakan agitation leaching yang menggunakan pelarut sianida yang
diperoleh dari hasil pelarutan natrium sianida (NaCN) dengan di mixing Tank.

Persamaan reaksi pada proses leaching adalah sebagai berikutnya:


4 Au + 8 NaCN + 02 + H2O

4 NaAu(CN) + 4 NaOH

4 Ag + 8 NaCN + 02 + H2O

4 NaAg(CN) + 4 NaOH

Pada masing-masing plant waktu tinggal slurry dalam tangki leaching selama
15 jam. Pada tangki leaching terjadi reaksi antara larutan sianida dengan logam
Au, Ag dan logam-logam lain seperti Fe, Cu, Ni, Zn, Cd, dan Co yang merupakan
impurities. Adanya impurities meningkatkan kebutuhan sianida bebas (CN) untuk
melarutkan logam berharga dalam bijih.
Parameter utama pada proses leaching adalah :

Konsentrasi Sianida

Konsentrasi sianida bergantung kadar bijih emas atau ore. Semakin tinggi
kadar logam berharga dalam ore maka konsentrasi sianida yang digunakan
semakin tinggi. Untuk mengolah ore dengan kadar emas 5-7 gpt diperlukan 700750 ppm sianida.

pH operasi pada tangki leaching 10.3-10.8

Pada proses sianidasi pH dijaga pada rentang 10.3-10.8. Jika Ph berada


dibawah rentang itu, maka reaksinya akan lambat karena NaCN akan berubah
menjadi HCN dan juga menyebabkan beracun yang berbahaya bagi kesehatan
selain itu jumlah sianida bebas dalam slurry berkurang sehingga menurunkan
ekstraksi logam berharga.
CN- + H20

HCN(g) + OH-

Persen solid pada tangki leaching 38%-42%

Persen solid pada tangki leaching pada rentang 38%-42%. Jika persen solid
dibawah 38% menunjukkan larutan encer dan bijih emas yang bereaksi dengan
sianida terlalu sedikit. Sedangkan jika persen solid-nya di atas 42% akan
mengurangi oksigen yang terlarut dan selain itu jika persen solid yang tinggi akan
membutuhkan energi yang lebih besar untuk pengadukan.

Dissolved Oksigen (DO) atau oksigen terlarut


Konsentrasi oksigen terlarut dalam tangki leaching antara 3-7 ppm. Jika

konsentasi oksigen terlarut dkurang dari 3 ppm, slurry akan mengental dan kontak
antara logam berharga dalam bijih dengan reagen leaching sulit terjadi. Oksigen
terlarut ini berasal dari kompressor dan dialirkan melaui distributor pada shaft
agitator.

Waktu tinggal
Pada plant 1 terdapat dua buah leaching tank yang berkapasitas 340 m3

dengan waktu tinggalnya yaitu 7.5 jam. Sedangkan pada plant 2 memiliki satu
buah leaching tank yang berkapasitas 1000 m3 dengan waktu tinggal 15 jam. Jadi
masing-masing waktu tinggal pada plant 1 maupun plant 2 yaitu 15 jam.

Temperatur pada leaching tank

Temperatur pada leaching tank biasanya pada temperatur 300-330C. Jadi


temperatur pada proses leaching sama dengan temperatur di lingkungan sekitar.

2. Unit Recovery
2.1 Carbon In Leach (CIL)
Carbon in leach merupakan proses absorbsi emas yang telah larut saat
proses leaching oleh carbon aktif. Proses yang terjadi di CIL ini adalah
penangkapan senyawa kompleks NaAu(CN)2 dan NaAg(CN)2 oleh carbon aktif.
Persamaan reaksi:
2[Au(CN)2-] + Ca2+ + C

Ca[C Au (CN)2]2

2[Ag(CN)2-] + Ca2+ + C

Ca[C Ag (CN)2]2

Pada plant 1, tangki leaching berkapasitas 290 m3 yang terdiri dari 5 tangki.
Sedangkan untuk plant 2 berjumlah 7 tangki dengan tangki CIL 1 dan CIL 2
dengan kapasitas 340 m3 dan tangki CIL 3 sampai CIL 7 dengan kapasitas 290 m3.
Tangki CIL dilengkapi dengan carbon interstage screen (ukuran bukaan 0.8
mm) tipe kambalda screen yang berfungsi untuk mencegah agar karbon tidak ikut
bersama dengan aliran overflow slurry ke tangki berikutnya, sehingga slurry tetap
akan mengalir ke tangki berikutnya melalui launder (talangan). Distribusi karbon
aktif ini berlawanan arah (Cunter current) dengan aliran surry yaitu untuk plant 1
dimasukkan dari tangki CIL 7 baru kemudian masuk tangki CIL 6 dan seterusnya
sampai ke tangki CIL pertama dengan cara menggunakan carbon forwarding
pump untuk memompakan karbon tersebut. Aliran ini dirancang untuk mencapai
distribusi karbon di tangki CIL sesuai dengan desain yang telah ditentukan.
Tujuan dari dari penambahan fress carbon di tangki CIL terakhir agar
penyerapan ion Au/Ag kompleks lebih efektif, karena kandungan Au-Ag di tangki
CIL terakhir paling rendah sehingga diharap kandungan Au-Ag di tangki CIL
terakhir seluruh ion Au-Ag kompleks dapat diadsorpsi olek fresh carbon yang
masih tinggi tingkat absorbsinya. Distribusi karbon di tangki CIL awal dan akhir
sekitar 30 gr/L, sedangkan di tangki CIL tengah sekitar 8 gr/L.
Pada prosesnya, umpan yang masuk ke tangki CIL berupa overflow dari
tangki leaching melalui launder, slurry mengalir dari tangki CIL 1 sampai ke
tangki CIL berikutnya. Pada tangki terakhir CIL ini di pasang carbon safety
screen lubangnya jenis square straight yang berukuran 0.5 mm. Carbon safety
screen bertujuan untuk mengurangi hilangnya carbon yang ikut terbawa oleh
aliran slurry ke thickener.
Karbon yang keluar dari tangki CIL 1 (diharap memiliki kandungan emas 700
ppm-1000 ppm di pompa ke loaded carbon surge bin yang terlebih dahulu

melewati loaded carbon screen. Setelah melewati loaded carbon screen karbon
kaya masuk ke surge bin yang berkapasitas 6 ton, sedangkan cairan yang ikut
bersama karbon akan di kembalikan ke tangki CIL pertama masing-masing plant.

Gambar 2.5 Jajaran Tangki Leaching dan CIL

2.2 Elution
Elution merupakan proses pelepasan emas dari karbon yang telah
dimasukkan di tangki CIL. Metoda elution yang dipakai di UBPE Pongor adalah
Anglo American Research Laboratory (AARL). Sebelum dilakukan elution
terlebih dahulu dilakukan loaded carbon yaitu carbon dalam CIL diangkat ke
surge bin melalui pemompaan. Loaded carbon dilakukan setelah kadar emas
dalam karbon di CIL mencapai minimal 1000 gpt dengan kapasitas 6 ton. Setelah
proses loaded carbon selesai, dilakukan proses elution di dalam elution column.
Proses elution dilakukan dalam 6 tahap, namun sebelumnya dilakukan
pencucian carbon dalam column dengan menggunakan fresh water yang bertujuan
untuk membersihkan karbon dari lumpur yang masih menempel.
Tahapan tahapan elution adalah :
1. Tahap pencucian dengan Asam (acid wash)
Asam yang digunakan untuk mencuci karbon pada tahap ini adalah asam
klorida. Pencucian dengan HCL ini bertujuan untuk menghilangkan atau

melarutkan pengotor seperti ion organik, senyawa kalsium karbonat, magnesium


karbonat dan silika yang teradsorbsi dan menutupi pori pori karbon aktif.
Persamaan reaksi :
CuCO3 + 2 HCL = CaCl2 + CO2 + H2O
MgCO3 + 2 HCL = MgCl2 + CO2 + H2O
Ca[C-Au(CN)2]2 + 2 H+ = Ca2+ + [2/n] [C-AuCN] + 2 HCN
Konsentrasi HCL yang dibutuhkan untuk proses elution adalah 3% wt. Asam
klorida ini diperoleh dengan cara mengencerkan larutan asam klorida yang
mempunyai kemurnian 33% wt. Proses pengencerannya dilakukan dengan cara
mengalirkan fresh water dari water tank dengan menggunakan elution water
pump secara bersamaan masuk ke elution column. Larutan HCL yang telah
digunakan dialirkan ke tangki terakhir CIL dengan tujuan untuk menjaga apabila
sewaktu-waktu proses elution tidak berjalan dengan lancar (kemungkinan masih
ada Au di dalam larutan), kandungan emasnya tidak terbuang. Selain itu larutan
hasil pencucian asam bisa menurunkan pH sehingga proses pengendapan tailing
di thickener bisa berjalan dengan baik.

2. Tahap Pencucian Air (Water Fresh)


Tahap pencucian ini dilakukan dengan air panas yang bertujuan untuk
mengeluarkan pengotor yang terlarut oleh HCL dari column. Air yang digunakan
berasal dari fresh water tank yang terlebih dahulu melewati RHE (Recycle Heat
Exchanger) dan PHE (Plate Heat Exchanger) untuk dipanaskan. Panas dalam
PHE dihasilkan dari glycol yang dipanaskan oleh elution heater sedangkan RHE
belum panas karena belum ada larutan yang keluar dari elution column. Air hasil
dari pencucian keluar dari valve discharge elution column dan dialirkan ke tangki
terakhir CIL adsorbtion. Pada tahap ini dilakukan sampling pada saat akhir tahap
1 atau menit awal tahap 2 dan sampling kedua dilakukan saat menit terakhir.

3. Tahap pre-treatment (pre-soak)


Pada tahap ini, emas dan perak mulai terlepas dari karbon dengan cara
melemahkan ikatan antara senyawa kompleks emas dan perak dengan karbon.
Prosesnya berlangsung dalam column dengan cara loaded carbon disemprot
dengan larutan caustic cyanide, yang merupakan campuran antara caustic (NaOH)
dan cyanide (NaCN) yang dilarutkan dengan air dalam caustic cyanide tank yang
dilengkapi dengan agitator. Konsumsi masing-masing reagent adalah 200-250 kg
NaOH, 200-250 kg cyanide dan selebihnya air untuk mencapai cyanide strenght
antara 30.000 35.000 ppm atau masing-masing 3% NaOH dan 3% NaCN
dengan Ph larutan sebesar 12,8. Larutan caustic cyanide melewati PHE untuk
dinaikkan temperatur sampai 90-110 C. Penyemprotan dengan caustic cyanide
ini bertujuan untuk melemahkan ikatan kompleks Au/Ag dengan karbon dan
tujuan dari pemanasan adalah untuk mempercepat reaksi.
4. Tahap Pendaur Ulangan Eluate (Recycle Elution)
Tahap ini merupakan puncak tahap pemisahan senyawa kompleks emas
dan perak oleh air dari karbon. Senyawa kompleks emas dan perak dilarutkan oleh
recycle water yang masuk ke dalam column. Hasil dari proses recycle elution
masuk ke dalam eluate tank yang merupakan larutan kaya atau larutan elektrolit.
Reaksi : [C-Au(Au)]n + nNaCN = nNa+ + n[Au(CN)2]- + C
C-OH +OH- = [C-O]- + H2O
Sebelum masuk ke eluate tank larutan kaya terlebih dahulu melalui suatu
saringan electrolyte filter. Alat ini terdiri dari dua buah filter yang berfungsi untuk
menyaring kotoran-kotoran yang terbawa oleh larutan sebelummasuk ke recycle
tank dan eluate tank.

5. Tahap Water Elution


Setelah melewati tahap keempat, masih ada kemungkinan emas dan perak
tertinggal dalam karbon. Sehingga untuk mendapatkan emas dan perak yang
masih tersisa ini, maka karbon yang masih ada di eluate column pada tahap ini
disemprot atau dibilas dengan air panas. Air yang digunakan berasal dari fresh
water tank yang dipanaskan terlebih dahulu di RHE dan PHE sampai suhunya
kurang lebih 110C, pada proses inielution heater masih dijalankan (elution
heater beroperasi dari awal tahap dua sampai akhir tahap lima) demikian juga
dengan pompa sirkulasi panas. Air bilasa pada proses ini dialirkan ke recycle tank
untuk elution berikutnya.
6. Tahap Pendinginan (Cooling)
Pada tahap ini semua alat atau proses didinginkan, elution heater
dimatikan tetapi pompa sirkulasinya masih berjalan. Air yang digunakan untuk
mendinginkan karbon di elution column dialirkan ke recycle tank yang akan
digunakan untuk proses elution selanjutnya bersama air yang berasal dari tahap
lima.

(a)

(b)

(c)
Gambar 2.6 (a) Column (b) Eluate Tank (c) Elution Heater

2.3 Elektrowining

Electrowinning adalah proses pengambilan logam-logam yang terkandung


di dalam air kaya dengan cara prinsip elektrolisa, yaitu mengendapkan logam
yang diinginkan dari larutan kaya dengan memberikan arus lisrik searah pada
elektroda yang digunakan sehingga terjadi proses reduksi dan oksida. Proses ini
bertujuan mengambil Au dan Ag yang terkandung dalam larutan kaya. Dari eluate
tank, larutan kaya akan di pompa menuju electrowinning cells dengan
menggunakan eluate pump dengan laju aliran 1 m3/jam. Electrowinning terdiri
dari lima bak electrowinning yang dipasang secara parallel, dimana pada setiap
bak electrowinning terpasang 11 wire mesh anode sebagai kutub positif dan 10
wire mesh cathode sebagai kutub negatif. Wire mesh anode berbentuk segi empat
dengan lubang-lubang yang lebih besar dari lubang-lubang katoda. Wire mesh
anode dan wire mesh cathode terbuat dari bahan SS-316. Pada setiap bak
electrowinning dilengkapi

dengan sebuah rectifier yang berfungsi untuk

mengubah arus AC menjadi arus DC. Pada prosesnya digunakan arus listrik
sebesar 1100-1200 Ampere dan tegangan 8 Volt.
Larutan kaya yang telah diambil logam emas dan peraknya disebut spent
electrolyte. Au dan Ag yang terkandung dalam larutan kaya akan menempel pada
katoda. Hal ini karena Au dan Ag bermuatan positif, sedangkan katodanya
bermuatan negatif. Pada katoda, tidak hanya ion Au dan Ag yang tereduksi
menjadi bentuk solid (cake) akan tetapi terdapat logam pengotornya lain yang ikut
tereduksi menjadi bentuk solid, sedangkan pada anoda akan terjadi reaksi oksidasi
yaitu perubahan ion OH- menjadi H2O.
Reaksi elektrolisis yang terjadi pada proses electrowinning :
Anoda : 2OH-

O2 + H2O + 2e-

Katoda : 2Au(CN)2-+ 2e-

2Au + O2 + H2 + 4CN-

Total : 2Au(CN)2-+ 2OH-

2Au + O2 + H2 + 4CN-

Pelepasan cake dari batang katoda dilakukan dengan menyemprotkan air pada
batang katoda, air sisa penyemprotan di tampung di dalam spent sump. Sedang
overflow dari electrowinning cells akan masuk ke dalam spent return sump

sebagai barren solution dengan kandungan Au kurang dari 2 ppm dan Ag kurang
dari 20 ppm. Barren solution masuk ke dalam cyanide holding tank yang akan
digunakan sebagai make up cyanide karena masih mengandung emas sianida
sebesar 3000 ppm dan digunakan untuk menaikkan pH di tangki leaching
pertama.

Gambar 2.7 Electrowinning Cells

2.4 Smelting (Peleburan)


Proses smelting merupakan proses pemisahan logam emas dan perak alam
bentuk cake dari slag (pengotor) pada titik leburnya dengan bantuan reagent flux
(boraks). Cake yang merupakan hasil dari proses electrowinning dilakukan
pengurangan kadar air hingga 20% dengan memasukkan ke dalam vacuum filter.
Setelah dilakukan pengurangan kadar air dalam vacuum filter dilakukan
penggarangan diatas tungku dengan suhu 700-900oC hingga kadar air mencapai
15%. Setelah di dilakukan penggarangan cake didinginkan lalu kemudian
ditambahkan boraks sebanyak 5-6 kg/300 cake. Penambahan boraks ini bertujuan
untuk memisahkan pengotor dari mineral berharga sehingga pengotor terapung di

atas logam cair dan membentuk slag. Setelah penambahan boraks, cake dilebur
didalam morgan furnace pada suhu 1000-1200oC kemudian dore bullion
dituangkan ke dalam cetakan (bullion morgan). Komposisi dore bullion adalah 715% dan 80-92%, kurang dari 2% dan memiliki dimensi 15 250 330 mm3.
Pengotor (slag) yang terbentuk pada saat proses peleburan berupa kalsium
karbonat, dan boraks dipisahkan dari logam cairnya dengan cara manual.
Pemisahan dengan cara manual ini mengakibatkan kemungkinan terbawanya
emas dan perak pada slag dengan peleburan menggunakan monarch furnace.
Peleburan slag biasanya dilakukan setelah beberapa kali peleburan utama. Setelah
dilebur, slag didinginkan dan dipisahkan dari pengotornya. Logam Au dan Ag
yang dihasilkan selanjutnya diikut sertakan bersama peleburan utama, sedangkan
slag akan dikirimkan ke ball mill untuk digerus bersama dengan ore.
Setiap selesai peleburan dore bullion akan dikirimkan ke Unit Bisnis
Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia (UBPPLM) di Pulogadung, Jakarta
untuk dipisahkan dan dimurnikan antara emas dan perak.

F. JENIS-JENIS EMAS
Seperti yang telah disinggunag pada bagian terdahulu emas merupakan unsur
yang sangat lunak. Emas dengan kemurnian tinggi (24K) sangat mudah untuk
dibengkokan tetapi sangat mematahkan atau memutuskan emas. Hal ini
disebabkan atom-atom penyusun emas terikat sangat kuat.
Salah satu cara yang banyak digunakan adalah Mencampur emas dengan
logam lain yang disebut alloi. Alloi dapat dilakukan dengan meleburkan atau
melelehkan emas terlebih dahulu kemudian ditambahkan lelehan unsur yang akan
dipadukan. Syarat utama terbentuknya alloi adalah logam yang ditambahkan, baik
unsur logam maupun nonlogam, tidak bereaksi dengan logam yang dijadikan

logam induk, dalam hal ini emas adalah logam induknya. Selain dengan cara ini
emaspun sering dilapisi pada logam-logam lain dengan cara elektrokimia yang
disebut penyepuhan atau elektoplating.
Emas Putih
Gambar emas putih 18K
Emas putih (white gold) merupakan salah satu aloi emas yang banyak
digunakan sebagai perhiasan. Emas putih yang digunakan merupak aloi dari emas
dengan nikel atau dengan paladium. Selain itu kadang mengandung perak,
tembaga dan zink dalam jumlah kecil. Sekarang nikel jarang digunakan karena
dapat memberikan reaksi tertentu pada orang yang menggunakan perhiasan dari
emas putih.
Sekarang emas putih yang banyak digunakan sebagai perhiasan merupakan
aloi dari emas dengan perak dan paladium. Dan untuk menghasilkan kilau putih
yang lebih bagus emas putih seringkali dilapisi dengan rodium (Rh). Seperti pada
emas kuning (yellow gold) kandungan emas pada emas putih juga dinyatakan
sebagai karat, dimana kandungan emas pada emas putih 18 karat sama dengan
kandung emas pada emas kuning 18 karat.
Emas Ungu
Emas ungu atau emas lembayung merupakan aloi antara emas dengan dengan
aluminium. Emas ungu yang diproduksi biasnya memiliki kadar 18K atau
mengandung 79% emas selebihnya berupa aluminium.
Emas Biru
Gambar cincin emas putih 18K yang bagian tengahnya dihiasi emas biru
Emas biru merupakan aloi antara emas dengan indium. Selain itu, emas biru
dapat diperoleh dari aloi antara emas dengan besi. Dengan konsentrasi emas 75%
dan besi 25%.
Emas Hitam
Emas hitam dapat diperoleh dengan beberapa cara yakni

a. Melapisis emas dengan rhodium hitam atau ruthenium.


b. Aloi antara emas dengan kobalt atau kromium. Jenis emas ini sangat sukar
untuk dioksidasi. Oleh sebab itu, kilau yang dihasilkanpun sangat stabil dalam
kurun waktu yang lama.