Anda di halaman 1dari 19

HUKUM PERJANJIAN

Tempat Pengaturan

KUH Perdata (BW) Buku III


KUH Dagang (WvK)
UU No. 5/1999 ttg Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha tidak
Sehat
UU No. 18/1999 ttg Jasa Konstruksi
UU No. 42/1999 ttg Jaminan Fidusia
UU No. 4/1996 ttg Hak Tanggungan
UU No. 42/2007 ttg Waralaba
Dll.

Istilah dan Pengertian


Perjanjian = Kontrak/contract (Inggris) =
overeenkomst (Belanda)
Adalah suatu perbuatan dg mana satu orang
tw lebih mengikatkn dirinya trhdp satu orang
lain tw lebih (Psl 1313 KUH Per).
Adalah hubungan hukum dlm bidang harta
kekayaan, antara satu org tw lebih di satu
pihak dg satu org tw lebih di pihak lainnya, yg
saling mengikatkan diri utk menimbulkan hak
dan kewajiban.

Bentuk
Perjanjian/kontrak, bisa dibuat dlm bentuk
tertulis atau tdk tertulis.
Kontrak/perjanjian dibuat secara trtulis adlh
utk kperluan pembuktian ttg telah trjadinya
perbuatan hukum, yaitu dibuatnya perjanjian.
Namun ada juga perjanjian yg diharuskan oleh
peraturan per-UU-an agar dibuat secara trtulis
dg bentuk tw format trtntu, misalnya wakaf,
perjanjian pendirian PT, dsb.

Pihak2 dalam Perjanjian


Selalu ada lebih dari satu pihak, yaitu PIHAK I
dan PIHAK II.
Pihak I & Pihak II adalah mereka yg membuat
perjanjian yg berjanji utk sling mengikatkn diri.
Para pihak berjanji hanya utk mengikatkan
dirinya sendiri, tdk boleh utk mengikatkn org
lain (Psl 1315 jo Psl 1340) asas pribadi.
pengecualian: diperbolehkan seseorang
mengikatkan diri utk keuntungan Pihak III (Psl
1317).

Ahli Waris dan Mereka yg Mendapat Hak darinya:


Seseorang yg mengadakan perjanjian dianggap
juga mengadakannya utk ahli warisnya (Psl 1318).
Catatan: org trsbt tidak membuat perjanjian utk mengikat org lain (ahli
warisnya), dia mebuatnya utk mengikat dirinya sendiri, ahli waris hanya
meneruskan.

Selain Ahli waris, Mereka yg mendapat hak darinya:


- Anggota perkumpulan yg msih ada ketika
perkumpulannya bubar
- suami/isteri atas harta bersama
PIHAK III adalah pihak diluar Para Pihak n ahli waris

Syarat Sah
Untuk sahnya suatu perjanjian, harus
dipenuhi 4 (empat) syarat (Psl 1320) :
1.Sepakat mereka yg mengikatkn diri;
2.Kecakapan para pihak;
3.Suatu hal tertentu; dan
4.Suatu sebab yg halal.
Syarat 1 dan 2: syarat subjektif, jika tdk
trpenuhi berakibat Dapat Dibatalkan.
Syarat 3 dan 4: syarat objektif, jika tdk
terpenuhi berakibat Batal Demi Hukum.

Kesepakatan
Kesepakatan lahir dari pertemuan
kehendak yg dinyatakan oleh para pihak,
baik secara tegas tw secara diam2.
Tawaran kesepakatan
penerimaan
Pernytaan pihak yg berkehendak utk
menukar disebut penawaran
(offerte/offer), pernyataan pihak yg
brkehendak utk menerima dsbut
penerimaan (acceptatie/acceptation).

Tdk ada kesepaktan yg sah jika kesepakatan itu


diberikan karena kekhilafan/keslahan (dwaling),
atau diperoleh dg ancaman (dwang), atau
dengan penipuan (bedrog) (Psl 1321).
Keslahan yg dimaksud ialah kesalahan
mengenai objek/barang yg diprjanjikan, bukan
keslahan mengenai subjek (orang yg
dengannya perjanjian dibuat). Kecuali
perjanjian itu dibuat ats dsar
pribadinya/personalitas org trsebut (Psl 1322).

Kesepakatan harus lhir dr kebebasan para


pihak utk membuat perjanjian, bukan karena
paksaan tw ancaman. Baik ancaman dr pihak
lawan tw pihak III (Psl 1323).
Penipuan yg dilakukan slah satu pihak yg
sdemikian rupa sehingga membuat pihak
lainnya sepakat, pdhal jika ia tahu keadaan
sebenarnya ia tdk akn mau membuat
kesepaktan, penipuan sperti itu dpat dijadikan
alsan meminta pembatalan (Psl 1328).

Suatu Hal Tertentu


Suatu hal trtntu disebut jga sbg objek perjanjian.
Mnurut para ahli, hal trtntu atau objek perjanjian
ialah prestasi.
Misalnya, objek dlm jual beli mobil ialah:
- Penyerahan hak milik ats mobil oleh penjuan, dan
- pembayaran harga mobil oleh pembeli
Benda yg boleh diperjanjikan harus benda yg dpat
ditentukan jumlahnya/jenisnya (Psl 1333).
Baik benda yg sdah ada tw benda yg akn ada,
kecuali benda yg akn diwariskn (Psl 1334).

Suatu Kausa yg Halal


UU tdk menyebutkn ttg apa itu kausa.
Hanya dsebutkn bahwa suatu kausa adlh
trlarang jika brtntangan dg per-UU-an,
ketertiban umum, atau kesusilaan (Psl
1337).
Menurut para ahli, kausa dsbut jga sebab
yaitu sesuatu yg diinginkan para pihak
sehingga membuat perjanjian. Sebab hrus
dibedakan dg motif (niat).

Seseorang ingin memiliki sebuah rumah agar


mndpat keuntungan jika dijual lgi stelah harganya
naik dan seorang lainnya ingin mendpat
pembyaran dg menjual rumahnya. Dua orang
trsbut kmudian membuat prjanjian jual beli.
Yg dimaksud kausa/ sebab oleh hukum ialah:
keinginan utk memiliki rumah d satu pihak; dan
keinginan utk mndpat bayaran di lain pihak.
Keinginan utk mndapat keuntungan jka menjual lgi
rumahnya oleh pmbeli merupakan motif.

Jenis-jenis Perjanjian
I. Perjanjian Sepihak & Perjanjian Bertimbal
Balik
Perjanjian sepihak adalah perjanjian yg
mnimbulkn kewajibannya pokok hanya trletak
pd satu pihak saja. Misalnya Hibah, kewajiban
hanya pd pemberi hibah. Selain hibah, ada
pinjam pakai dan penitipan barang.
Perjanjian timbal balik adlh perjanjian yg
melahirkan kewajiban utk kedua belah pihak.

II. Perjanjian Cuma-Cuma dan Perjanjian Atas


Beban
Perjanjian cuma2 adalah perjanjian yg
mnimbulkn kenikmatan/hak pd pihak lain tnpa
membebaninya dg kewajiban pokok. Misalnya
Hibah, nikmat/hak diberikn pd pnerima tnpa
dibebankn sesuatu. Selain hibah, penitipan
barang, n pinjam meminjam tnpa bunga.
Perjanjian ats beban adlh perjanjian yg
melahirkan nikmat/hak diikuti dg kewajiban.

III. Perjanjian Konsensuil dan Perjanjian Riil


Perjanjian konsensuil adlah perjanjian yg timbul
cukup dengan adanya kesepakatan para pihak.
Perjanjian riil adlh perjanjian yg dpat ditimbulkan
hanya dg adanya perbuatan riil. Misalnya pinjam
pakai, tdk dpt trjadi jika barang blum diserahkan.
Selain itu ada juga perjanjian formil, yaitu
prjanjian yg diharuskn dibuat dlm bntuk trtntu.

III. Perjanjian Nominaat dan Innominaat


Perjanjian nominaat adalah perjanjian yg
diatur dalam KUHPer.
Perjanjian innominaat adlh perjanjian yg tdk
diatur dlm KUH Per, melainkan diatur dlm
peraturan per-UU-an lainnya.
Perjanjian ini lahir krena dibutuhkan
masyarakat, dan dibolehkn mengingat sistem
terbuka Buku III dan asas kebebasan
berkontrak (Psl 1338).

Akibat Hukum Perjanjian


Perjanjian yg sudah dibuat berlaku sbg
undangg-undang bgi mereka yg
membuatnya (Psl 1338).
Artinya bahwa, perjanjian sama mengikatnya
sperti mengikatnya undang2, shingga harus
ditaati seperti taatnya trhadap undang.
Tdk diartikan bhwa perjanjian itu merupakan
lex specialist sehingga tdk dpat dikalahkn
oleh undang2 yg brsifat lex generalist.

Haousnya Perikatan
Perikatan hapus karena (Psl 1381):
- pembayaran;
- pembaharuan utang (novasi);
- perjumpaan utang/kompensasi;
- percampuran utang;
- pembebasan utang;
- musnahnya barang yg terutang;
- kebatalan atau pembatalan;
- Berlakunya syarat batal;
- lewatnya waktu atau kadaluarsa.