Anda di halaman 1dari 15

Fungsi bahasa sangatlah luas, dalam kehidupan sehari-hari bahasa

berfungsi sebagai lambang bunyi yang dipergunakan oleh sesuatu


masyarakat untuk berinteraksi. Karya sastra adalah hasil karya manusia
baik lisan maupun tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media
pengantar dan memiliki nilai estetika yang dominan. Bahasa dan sastra
memiliki hubungan erat. Melalui karya sastra pengarang berusaha
menuangkan segala imajinasi yang ada melalui kata-kata. Sastra tidak
lepas dari bahasa.
Novel merupakan salah satu untuk mengungkapkan sesuatu cara
bebas, melibatkan permasalahan secara bebas, melibatkan permasalahan
secara kompleks sehimgga menjadi sebuah dunia yang jadi penuh.
Sebuah novel jelas tidak akan selesai dibaca dalam sekali duduk, karena
panjangnya

sebuah

novel

memiliki

peluang

yang

cukup

untuk

mempermasalahkan karakter tokoh dala perjalanan waktu.


Sastra lahir karena doronga keinginan dasar manusia untuk
mengungkapkan diri, apa yang telah dijalani dalam kehidupan dengan
pengungkapan lewat bahasa. Unsure-unsur pembangun karya sastra
dapat dikelompokan menjadi dua unsure yaitu unsure intrinsic dan unsure
ekstrisik. Unsure intrinsic adalah unsure-unsur yang membangun karya
sastra dari dalam. Unsure intrinsic meliputi tema, alur, penokohan, seting,
sudut pandang dan gaya bahasa. Unsure ekstrinsik adalah unsure-unsur
pembangun karya sastra dari luar karya sastra yang meliputi psikologi,
biografi , social, historis, ekonomi, ilmu,serta agama.
Pengarang mempunyai kebebasan dalam mengunakan bahasa
sehingga akan menghasilkan karya sastra yang menarik dan indah untuk
dinikmati. Penyiasatan penggunaan bahasa di dalam karya sastra disebut
gaya bahasa. Adanya bahasa kiasan ini akan menyebabkan sajak menjadi
menarik perhatian , menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama
menimbulkan kejelasan gambaran angan (Pradopo, 1987 : 62).

Salah satu untuk mendapatkan efek estetik dalam penggunaan


gaya bahasa yaitu denga cara unsure retorika. Retorika adalah suatu
teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu
pengetahuan yang tersusun baik (Keraf, 2006 : 1). Pengunaan retorika
berkaitan

dengan

semua

penggunaan

unsure

bahasa

kiasan

dan

pemanfaatan bentuk citraan.


Unsure stilistika terdiri dari unsure leksikal, unsure gramatikal dan
unsure retorika. Unsure leksikal meliputi kata benda,kata kerja, kata sifat,
kata bilangan. Bertujuan untuk mengetahui ketepatan pilihan kata yang
dipilih oleh pengarang untuk tujuan estetik dan untuk mengungkapkan
gagasan. Unsure gramatikal meliputi pembalikan kata, pemendekan dan
pengulangan kata. Bertujuan untuk mengetahui hubungan kosa kata yang
dipergunakan dalam penyusunan kalimat sehinnga jelas maksudnya.
Unsure retorika yaitu suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh
efek estetis. Unsure retorika meliputi pemajasan, penyiasaan struktur,
pencitraan dan kohesi.
Dalam

hubungannya

dengan

stilistika,

penulis

mengambil

novel

Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy sebagai


bahan analisis karena novel karya Habiburrahman El Shirazy yang
berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra ini merupakan novel yang benarbenar mengajak kita untuk menyelami akan rindu dendam dan ungkapan
pesona cinta suci karena illahi yang benar-benar mampu memberikan
kebahagiaan nyata. Cerita yang dikemas sedemikian rupa, penuh hikmah
bahkan membuat hati merindukan akan ungkapan cinta tulus-Nya.Tujuan
analisis ini untuk mengetahui kreatifitas yang digunakan pengarang.
Poedjangga Baroe (EYD: Pujangga Baru, ejaan Soewandi: Pudjangga Baru) adalah sebuah
majalah sastra Indonesia yang avant-garde yang diterbitkan dari bulan Juli 1933 sehingga
Februari 1942. Majalah ini didirikan Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir
Alisjahbana (STA).
Dari awal abad ke-20, orang pribumi negara Hindia Belanda mulai menjadi bersemangat
nasionalisme tinggi, yang diwujudkan dengan terbitnya beberapa publikasi nasionalis.
Armijn, Hamzah, dan STA, tiga penulis dari pulau Sumatra, memulai proses pembentukan

majalah baru pada bulan September 1932. Mereka mengirimkan surat kepada 40 penulis yang
aktif dalam bagian sastra dari koran Pandji Poestaka dan meminta tulisan, serta sepuluh surat
kepada para sultan untuk meminta dukungan. Setelah kontrak dengan penerbit milik Belanda
Kolff & Co. tidak dapat terwujudkan, para pendiri bersepakatan untuk menerbitkan majalah
mereka sendiri. Majalah yang dihasilkan, Poedjangga Baroe, diterbitkan untuk pertama
kalinya pada bulan Juli 1933. Selama masa terbitannya, majalah itu mencakupi ruang gerak
yang semakin luas dan lebih banyak memuat tulisan berbau politik. Setelah kekaisaran
Jepang mendudukan Nusantara pada tahun 1942, majalah ini pun tidak dapat diterbitkan.
Suatu majalah lain dengan judul Pudjangga Baru diterbitkan dari tahun 1948 sampai 1954.
Secara ideologis, majalah Poedjangga Baroe mendukung negara yang modern dan bersatu di
bawah satu bahasa, bahasa Indonesia. Namun, pandangan budaya dan politik para penulisnya
membuat pendirian majalah ini kurang tetap. Untuk menjamin kenetralan politiknya,
Poedjangga Baroe memuat tulisan dari segala macam teori politik. Dalam pembahasannya
mengenai budaya, majalah ini menerbitkan polemik-polemik yang bertentangan mengenai
pentingnya budaya Barat dan tradisi untuk perkembangan negara yang terbaik.
Selama sembilan tahun terbit, Poedjangga Baroe menerbitkan 90 edisi, yang memuat lebih
dari tiga ratus butir puisi, lima buah drama, tiga buah antologi puisi, sebuah novel, berbagai
esai, dan beberapa cerpen. Publikasi ini, yang tidak pernah mempunyai lebih dari 150
langganan, mendapatkan resepsi yang tercampur. Penulis muda memuji-mujinya karena
dianggap mencerminkan keadaan sosio-politik pada zaman itu, sementara orang Melayu yang
tradisionalis menolak penggunaan bahasanya, yang dianggap merusak ciri khas bahasa
Melayu. Biarpun sebagian besar karya yang dimuatnya sudah terlupakan, tema dan gaya tulis
yang menonjol dalam periode 1933 sampai 1942 membuat zaman itu disebut "angkatan
Poedjangga Baroe" dalam periodisiasi sastra Indonesia.
Tujuan Poedjangga Baroe awalnya ialah untuk memajukan gaya bahsa dan sastra yang baru;
tujuan ini bertahan sehingga April 1934.[27] Perlahan-lahan ruang geraknya dikembangkan
sehingga pada tahun 1935 termasuk budaya, seni, dan isu sosial. Setelah tahun 1936, tujuan
majalah ini ialah untuk menjadi "pembimbing semangat baroe jang dinamis oentoek
membentoek keboedajaan baroe, keboedajaan persatoean Indonesia".[20] Namun, menurut
Sutherland para penulis Poedjangga Baroe lebih mengutamakan keperluan dan pendapat
kaum intelektual yang modernis dan pro-budaya Barat; pembahasan keperluan sosio-politik
masyarakat luas sangat langka.[28]
Menurut prospektus tahun 1933, dari awalnya Poedjangga Baroe dimaksudkan untuk
memuat berbagai jenis karya sastra, termasuk fiksi seperti prosa dan puisi (baik modern
maupun tradisional) dan non-fiksi seperti kritik sastra, resensi, hasil penelitian, dan opini
mengenai sastra dan bahasa.[29] Dalam sembilan tahun penerbitan, Poedjangga Baroe asli
memuat lebih dari 300 butir puisi dan, dalam edisi-edisi khusus, beberapa antologi puisi.
Biarpun karya prosa lebih jarang, majalah ini masih dapat memuat lima karya drama, satu
novel, dan beberapa cerpen. Selain tulisan ilmiah biasa, Poedjangga Baroe juga menerbitkan
edisi khusus untuk mengenai tokoh emansipasi Kartini dan penulis Bengladesh Rabindranath

Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian


ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa
sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan
perasaan, baik secara lisan maupun tertulis

1. Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.


Contoh:Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing,
yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan
yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
1. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
1. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata
depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak",
bagai". contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang
dimabuk cinta berkorban apa saja.
2. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata
seperti layaknya, bagaikan, dll. contoh: Waspadalah terhadap lintah darat
3. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang
berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
4. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan
lewat ungkapan rasa indra lainnya.
5. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama
jenis.
6. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
7. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi
merek, ciri khas, atau atribut.
8. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan
hubungan karib.
9. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan
diri.
10. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan
tersebut menjadi tidak masuk akal.
11. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan
kepada sesuatu yang bukan manusia.

12. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak
bernyawa.
13. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan
objek.
14. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya
sebagian.
15. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan
kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
16. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas
sebagaimana adanya.
17. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan
bertutur kata.
18. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
19. Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
20. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
21. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk
menyatakan maksud.
22. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.

[sunting] Majas sindiran


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan
kebalikan dari fakta tersebut.
2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan
terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam
atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

[sunting] Majas penegasan


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas penegasan

1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.


2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau
menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang
berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang
sejajar.
7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang
berlainan.
10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang
penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang
kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum
subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam
pertanyaan tersebut.
14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal
unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang
tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata
penghubung.
17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur
kalimat.
19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.

20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu
keseluruhan.
21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang
sebenarnya.
22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam
kalimat.
24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang
berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk
konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.

[sunting] Majas pertentangan


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan,
namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu
dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan
pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa
dengan waktunya

Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya
sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling
melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan
Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya
berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya).
Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang
dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa
Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di
Singapura.

Karya Sastra dan Periodisasinya


A.

Karya Sastra Bentuk Prosa


Karangan prosa ialah karangan yang bersifat menerangjelaskan secara
terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Pada
dasarnya karya bentuk prosa ada dua macam, yakni karya sastra yang
bersifat sastra dan karya sastra yang bersifat bukan sastra. Yang bersifat
sastra merupakan karya sastra yang kreatif imajinatif, sedangkan karya
sastra yang bukan astra ialah karya sastra yang nonimajinatif.
Macam Karya Sastra Bentuk Prosa
Dalam khasanah sastra Indonesia dikenal dua macam kelompok karya sastra
menurut temanya, yakni karya sastra lama dan karya sastra baru. Hal itu juga
berlaku bagi karya sastra bentuk prosa. Jadi, ada karya sastra prosa lama dan
karya sastra prosa baru.
Perbedaan prosa lama dan prosa baru menurut Dr. J. S. Badudu adalah:
Prosa lama:
1.
2.

Cenderung bersifat stastis, sesuai dengan keadaan masyarakat lama


yang mengalami perubahan secara lambat.
Istanasentris ( ceritanya sekitar kerajaan, istana, keluarga raja, bersifat
feodal).

3.

Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo atau dongeng. Pembaca


dibawa ke dalam khayal dan fantasi.

4.

Dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab.

5.

Ceritanya sering bersifat anonim (tanpa nama)

6.

Milik bersama

Prosa Baru:
1.

Prosa baru bersifat dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan


perkembangan masyarakat)

2.

Masyarakatnya sentris ( cerita mengambil bahan dari kehidupan


masyarakat sehari-hari)

3.

Bentuknya roman, cerpen, novel, kisah, drama. Berjejak di dunia yang


nyata, berdasarkan kebenaran dan kenyataan

4.

Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat

5.

Dipengaruhi siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas

6.

Tertulis

1.

Prosa lama
Prosa lama adalah karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh
dari sastra atau kebudayaan barat. Dalam hubungannya dengan
kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan sastra lama ialah sastra
prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal ini disebabkan
oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia. Karya
sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan.
Disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk
tulisan setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia,
masyarakat Melayu mengenal tulisan. Sejak itulah sastra tulisan mulai
dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan
sejarah sastra Indonesia mulai ada.
Bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:
a.

Mite adalah dongeng yang banyak mengandung unsur-unsur ajaib dan


ditokohi oleh dewa, roh halus, atau peri. Contoh Nyi Roro Kidul

b.

Legenda adalah dongeng yang dihubungkan dengan terjadinya suatu


tempat. Contoh: Sangkuriang, SI Malin Kundang

c.

Fabel adalah dongeng yang pelaku utamanya adalah binatang.


Contoh: Kancil

d.

Hikayat adalah suatu bentuk prosa lama yang ceritanya berisi


kehidupan raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan para dewa. Contoh:
Hikayat Hang Tuah.

e.

Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak
Belalang.

f.

Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi


yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam

1. Prosa Baru
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat
pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru timbul sejak pengaruh
Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad ke-20. Contoh:
Nyai Dasima karangan G. Fransis, Siti mariah karangan H. Moekti.
Berdasarkan isi atau sifatnya prosa baru dapat digolongkan menjadi:
1.

Roman adalah cerita yang mengisahkan pelaku utama dari kecil


sampai mati, mengungkap adat/aspek kehidupan suatu masyarakat
secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi

(pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi


kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir
Alisjahbana: Kalah dan Manang, Grota Azzura, Layar Terkembang, dan
Dian yang Tak Kunjung Padam
2.

B.

Riwayat adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalamanpengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga
pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau bahkan
sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa atau Prof. Dr. B.I
Habibie atau Ki hajar Dewantara.

3.

Otobiograf adalah karya yang berisi daftar riwayat diri sendiri.

4.

Antologi adalah buku yang berisi kumpulan karya terplih beberapa


orang. Contoh Laut Biru Langit Biru karya Ayip Rosyidi

5.

Kisah adalah riwayat perjalanan seseorang yang berarti cerita


rentetan kejadian kemudian mendapat perluasan makna sehingga
dapat juga berarti cerita. Contoh: Melawat ke Jabar Adinegoro,
Catatan di Sumatera M. Rajab.

6.

Cerpen adalah suatu karangan prosa yang berisi sebuah peristiwa


kehidupan manusia, pelaku, tokoh dalam cerita tersebut. Contoh:
Tamasya dengan Perahu Bugis karangan Usman. Corat-coret di Bawah
Tanah karangan Idrus.

7.

Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang


menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan kehidupan orangorang. Contoh: Roromendut karangan YB. Mangunwijaya.

8.

Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk


suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan
bentuk dengan kriteria tertentu yangs ifatnya objektif dan menghakimi.

9.

Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya


(buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca
mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur,
perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran
tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.

10.

Esei adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu


berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah
hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni,
fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera
pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.

Puisi
Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah
baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Unsur-unsur intrinsik puisi
adalah

a.

tema adalah tentang apa puisi itu berbicara

b.

amanat adalah apa yang dinasihatkan kepada pembaca

c.

rima adalah persamaan-persamaan bunyi

d.

ritma adalah perhentian-perhentian/tekanan-tekanan yang teratur

e.

metrum/irama adalah turun naik lagu secara beraturan yang dibentuk


oleh persamaan jumlah kata/suku tiap baris

f.

majas/gaya bahasa adalah permainan bahasa untuk efek estetis


maupun maksimalisasi ekspresi

g.

kesan adalah perasaan yang diungkapkan lewat puisi (sedih, haru,


mencekam, berapi-api, dll.)

h.

diksi adalah pilihan kata/ungkapan

i.

tipografi adalah perwajahan/bentuk puisi

Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
a.

puisi lama
Ciri puisi lama:
1.

merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya

2.

disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan

3.

sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait,


jumlah suku kata maupun rima

Yang termausk puisi lama adalah


1.

mantra adalah ucapan-ucapan yangd ianggap memiliki kekuatan gaib

2.

pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris,
tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2
baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri
dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka

3.

karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek

4.

seloka adlah pantun berkait

5.

gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-aa-a, berisi nasihat

6.

syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4
baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita

7.
b.

talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun
10 baris
puisi baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi
jumlah baris, suku kata, maupun rima.Menurut isinya, puisi dibedakan atas
1.

balada adalah puisi berisi kisah/cerita

2.

himne adAlah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan

3.

ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang ebrjasa

4.

epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup

5.

romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih

6.

elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan

7.

satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Membaca Puisi
Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam membaca puisi antara
lain:
1.
2.

3.
4.

jenis acara: pertunjukkan, pembuka acara resmi, performance-art, dll.,


pencarian jenis puisi yang cocok dengan tema: perenungan,
perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan, percintaan, kasih
sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll.,
pemahaman puisi yang utuh,
pemilihan bentuk dan gaya baca puisi, meliputi poetry reading,
deklamasi, dan teaterikal

5.

tempat acara: indoor atau outdoor,

6.

audien,

7.

kualitas komunikasi,

8.

totalitas performansi: penghayatan, ekspresi( gerak dan mimik)

9.
10.
11.

kualitas vokal, meliputi volume suara, irama (tekanan dinamik, tekanan


nada, tekanan tempo)
kesesuaian gerak,
jika menggunakan bentuk dan gaya teaterikal, maka harus
memperhatikan:

a)

pemilihan kostum yang tepat,

b)

penggunaan properti yang efektif dan efisien,

c)

setting yang sesuai dan mendukung tema puisi,

d)
C.

musik yang sebagai musik pengiring puisi atau sebagai musikalisasi


puisi

Drama/Film
Drama atau film merupakan karya yang terdiri atas aspek sastra dan asepk
pementasan. Aspek sastra drama berupa naskah drama, dan aspek sastra
film berupa skenario. Unsur instrinsik keduanya terdiri dari tema,
amanat/pesan, plot/alur, perwatakan/karakterisasi, konflik, dialog, tata artistik
(make up, lighting, busana, properti, tata panggung, aktor, sutradara, busana,
tata suara, penonton), casting (penentuan peran), dan akting (peragaan
gerak para pemain).

D.

Periodisasi Sastra Indonesia


Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra
yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode)
memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain.
1.

Zaman Sastra Melayu Lama


Zaman ini melahirkan karya sastra berupa mantra, syair, pantun, hikayat,
dongeng, dan bentuk yang lain.

2.

Zaman Peralihan
Zaman ini dikenal tokoh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karyanya
dianggap bercorak baru karena tidak lagi berisi tentang istana danrajaraja, tetapi tentang kehidupan manusia dan masyarakat yang nyata,
misalnya Hikayat Abdullah (otobiografi), Syair Perihal Singapura Dimakan
Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia
lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi juga bahasa. Ia tidak lagi
menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.

3.

Zaman Sastra Indonesia


a.

Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20-an)


Ciri umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat
antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin
paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah
bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental.
Tokohnya adalah Marah Rusli (roman Siti Nurbaya), Merari Siregar
(roman Azab dan Sengsara), Nur Sutan Iskandar (novel Apa dayaku
Karena Aku Seorang Perempuan), Hamka (roman Di Bawah Lindungan

Kabah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara Membawa Nikmat), Hamidah


(novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah Asuhan), M Kasim
(kumpulan cerpen Teman Duduk)
b.

Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)


Cirinya adalah 1) bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia
modern, 2) temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi
mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita,
kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk puisinya adalah
puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari
bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari
14 baris, 4) pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan 80
Belanda, 5)aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan 6)
setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.
Tokohnya adalah STA Syhabana (novel Layar Terkembang, roman Dian
Tak Kunjung Padam), Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah
Rindu, Setanggi Timur), Armin Pane (novel Belenggu), Sanusi Pane
(drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes),
Rustam Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi
Rindu Dendam), Hamka (roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).

c.

Angkatan 45
Ciri umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas,
prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema
dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih mementingkan isi
daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti
angkatan sebelumnya.
Tokohnya Chairil Anwar (kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan
puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir), Achdiat
Kartamiharja (novel Atheis), Idrus (novel Surabaya, Aki), Mochtar Lubis
(kumpulan drama Sedih dan Gembira), Pramduya Ananta Toer (novel
Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel sejarah Tambera)

d.

Angkatan 66
Ciri umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan
politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk
prosa.
Tokohnya adalah W.S. Rendra (kumpulan puisi Blues untuk Bnie,
kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta), Taufiq Ismail (kumpulan
puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng), N.H. Dini (novel Pada Sebuah
Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha Mohtar (novel Pulang),
Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan Simatupang (novel
Ziarah), Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge Katoppo
(novel Raumannen).

E.

Identifikasi Moral, Estetika, Sosial, Budaya Karya Sastra


1.

Identifikasi Moral
Sebuah karya umumnya membawa pesan moral. Pesan moral dapat
disampaikan oleh pengarang secara
langsung maupun tidak
langsung. Dalam karya satra, pesan moral dapat diketahui dari perilaku
tokohtokohnya atau komentar langsung pengarangnya lewat karya
itu.

2.

Identifikasi Estetika atau Nilai Keindahan


Sebuah karya sastra mempunyai aspek-aspek keindahan yang melekat
pada karya sastra itu. Sebuah puisi,
misalnya: dapat diamati aspek
persamaan bunyi, pilihan kata, dan lain-lain. Dalam cerpen dapat diamati
pilihan gaya bahasanya.

3.

Identifikasi Sosial Budaya


Suatu karya sastra akan mencerminkan aspek sosial budaya suatu daerah
tertentu. Hal ini berkaitan dengan warna daerah. Sebuah novel misalnya,
warna daerah memiliki corak tersendiri yang membedakannya dengan
yang lain. Beberapa karya sastra yang mengungkapkan aspek sosial
budaya:
a.

Pembayaran karya Sunansari Ecip mengungkapkan kehidupan di


Sulawesi Selatan.

b.

Bako Karya Darman Moenir mengungkapkan kehidupan Suku


Minangkabau di Sumatera Barat.