Anda di halaman 1dari 8

Komponen Sensor dan Aktuator dalam Sistem Otomasi

serta Penerapannya dalam Industri Perkebunan


Rizky Gian Pratama
2515 100 092
gian.pratama14@mhs.ie.its.ac.id
Abstract
Perkembangan teknologi otomasi telah dimanfaatkan dalam setiap proses
produksi di Industri. mulai dari pengeolahan material awal hingga menjadi produk
akhir yang siap digunakan telah menerapkan prinsip otomasi. Keputusan tersebut
tidak lepas dari kebutuhan yang semakin berkembang serta manfaat besar yang
dirasakan yaitu untuk memudahkan proses produksi dengan cepat, produktivitas
tinggi dan waktu produksi yang relatif singkat. Perkembangan otomasi tersebut juga
dimanfaatkan oleh setiap sektor industri termasuk industri perkebunan.
Komponen utama yang digunakan dalam sistem otomasi yaitu sensor,
aktuator dan analyzer. Peran dan fungsi dari komponen-komponen tersebut saling
berkaitan satu sama lain. Ketekaitan tersebut sering di analogikan ibarat tubuh
manusia, saraf sensorik disamakan dengan komponen sensor, otak manusia sebagai
sistem saraf pusat disamakan dengan analyzer dan saraf motorik serta alat gerak
manusia yang mengeksekusi setiap respon yang didapat dari sinyal lingkungan
sekitar. Sensor merupakan sebuat hardware atau alat pendeteksi sintal atau gejala
lainnya yang terjadi di lingkungan sekitar. Klasifikasi dari sensor secara umum yaitu
sensor thermal, sensor mekanis, dan sensor optik. Komponen otomasi lainnya yaitu
aktuator sebagai perangkat keras yang mengubah sinyal perintah dari pengendali
menjadi perubahan dalam parameter fisik. Parameter sensor yaitu besaran fisis
berupa tekanan, aliran, level, temperatur, dan berat jenis yang menjadi input dari
sistem otomasi dan Parameter aktuator berupa fisik yang bersifat mekanik seperti
perubahan posisi, kecepatan, dan akselerasi sebagai outputnya.
Dalam studi kasus penerapan sistem otomasi pada PT Perkebunan Nusantara VII
Ciater. Keputusan memilih penggunaan sistem otomasi dalam industri perkebunan
karena kesukaran dalam mencatat suhu dan kelembaban dilapangan, mengetahui
kadar air dan menjalankan mesin di ruang operator. Penerapan prinsip otoamsi
tersebut yaitu penggunaan komponen-komponen industri dalam proses produksi.
Sensor yang digunakan yaitu berupa sensor berat dan sensor suhu serta aktuator
nya berupa katup.
Kata kunci : Sensor, Aktuator, Sistem Otomsi, dan industri
1. Pendahuluan
Dunia industri saat ini telah berkembang begitu pesat hingga semua aspek
industri sudah berbasis teknologi sistem otomasi yang terintegrasi. Mulai dari awal
pengolahan bahan baku, proses manufaktur, produk akhir, packaging, distribusi
hingga sistem informasi yang ada dalam perusahaan telah mengalami
perkembangan. Tujuan dari pemanfaatan teknologi tersebut tidak lain yaitu untuk
memudahkan perusahaan dalam menjalankan proses produksi dengan proses yang
cepat, produktivitas tinggi dan waktu produksi yang rendah. Dengan demikian
penerapan teknologi otomasi dalam dunia industri telah menjadi sebuah kebutuhan
khusus yang harus dipenuhi agar efektivitas dan efisiensi kerja yang tinggi.
Dari sekian banyak pemanfaatan teknologi di dunia industri, salah satu
penerapan teknologi otomasi yang paling penting yaitu pada proses produksi.
Rizky Gian Pratama |1 | Otomasi Industri C

Peningkatan produksi sebagai masalah utama proses produksi dapat diatanggulangi


dengan otomasi. Proses produksi merupakan salah satu kebutuhan pelaku usaha
dalam menjalankan proses ekonomi secara umum dan proses produksi secara
khususnya. Riset dan pengembangan terus dilakukan agar bisa mendapatkan
sebuah karya yang mampu mengatasi permasalahan yang terjadi saat ini terutama
pada perusahaan yang sudah besar dan mempunyai lingkup pemasaran yang luas.
Pergantian cara dan metode kerja dari konvensional dan semuanya dilakukan secara
manual sekarang telah berubah menjadi proses yang hampir semuanya dikerjakan
oleh mesin dan robot yang terotomasi.
Sistem otomasi ataupun kontroler tidak akan lepas dengan apa yang disebut
sensor, aktuator, dan analyzer. Beberapa alat tersebut merupakan komponen utama
pendukung sistem otomasi terutama dalam dunia industri. komponen-komponen
tersebut memiliki peranan penting dalam sistem otomasi dengan fungsinya masingmasing yang saling berkaitan. Keterkaitan peran dan fungsi tersebut membentuk
sebuah sistem terintegrasi yang saling melengkapi dalam otomasi industri.
Secara umum tiga komponen sistem otomasi merupakan bentuk dari
beberapa alat yang digunakan segagai alat ukur dalam pengumpulan data dari
proses manufaktur yang digunakan dalam kendali umpan balik. Namun secara garis
besar, ketiga alat tersebut dikerucutkan dalam buku yang ditulis Groover (2005:),
mengelompokkan komponen pengukur kerja menjadi dua bagian besar yaitu sensor
dan transducer. Sensor mendeteksi variabel terukur seperti fisik, seperti temperatur,
gaya, dan tekanan. Sedangkan tranducer yang mengubah variabel fisik menjadi
bentuk alternatif yang umumnya tegangan listrik. Setelah itu kemudian muncul
istliah-istilah lain dalam sistem otomasi yang memiliki perbedaan fungsi walaupun
jadi satu bagian besar komponen penyusun sistem otomasi.
Gambaran umumnya dari mekanisme kerja sistem otomasi yaitu sinyal dan
kondisi aktual lingkungan ditangkap oleh sensor, kemudian diolah lebih lanjut oleh
analyzer untuk kemudian dieksekusi oleh aktuator menjadi sebuah respon terhadap
sinyal tersebut. Analogi sederhananya yaitu pada mekanisme kerja dari sistem saraf
manusia. Dalam sistem saraf, kondisi lingkungan sekitar tubuh akan ditangkap oleh
saraf sensorik dan mengirim informasi ke otak untuk diolah lebih lanjut. Mekanisme
kerja tersebut merujuk pada komponen sensor dalam sistem otomasi. Setelah data
tersebut sampai di otak dengan pengantar elektrik maka akan diproses dan
dianalisa terlebih dahulu oleh sistem saraf pusat, ini menggambarkan mekanisme
kerja dari komponen analyzer dalam sebuah sistem otomasi. Selanjutnya, setelah
impuls diolah oleh otak sebagai sistem saraf pusat maka saraf motorik akan
mengirim pesan pada alat gerak tubuh untuk melakukan gerakan respon dari kondisi
yang ditangkap sebelumnya dan mekanisme ini sama dengan peran fungsi dari
aktuator sebagai aktivitas pengeksekusian respon kerja.
Proses kerja otomasi memiliki beraneka ragam komponen penyusun yang
masing-masingnya mempunyaI peran dan fungsi tersendiri untuk membangun
sistem terintegrasi. Beberapa alat yang digunakan yaitu berupa alat ukur dalam
pengumpulan data dari proses manufaktur yang digunakan dalam kendali umpan
balik. Dalam buku yang ditulis Groover (2005:), mengelompokkan komponen
pengukur kerja menjadi dua bagian besar yaitu sensor dan transducer. Sensor
mendeteksi variabel terukur seperti fisik, seperti temperatur, gaya, dan tekanan.
Sedangkan tranducer yang mengubah variabel fisik menjadi bentuk alternatif yang
umumnya tegangan listrik.
Setelah melalui berbagai pengembangan dan inovasi yang diberikan, maka
teknologi otomasi telah berkembang menjadi sebuah kebutuhan bagi dunia industri.
Rizky Gian Pratama |2 | Otomasi Industri C

kebutuhan tersebut tidak hanya untuk industri besar dan tetapi juga industri kecil
menengah. Hal tersebut dilihat dari segi skala produksi dan ketika dilihat dari segi
sektor industri, teknologi otomasi telah berkembang dan dirancang untuk berbagai
sektor industri termasuk industri perkebunan. Sebagai salah satu penyumbang
terbesar dalam perekonomian nasional, industri perkebunan perlu melakukan
pengembangan teknologi otomasi yang lebih intens sehingga dalam terjadi
peningkatan produktivitas hasil perkebunan. Dalam tulisan ini akan dijelaskan lebih
lanjut mengenai penerapan teknologi otomasi dalam industri perkebunan.
Komponen-komponen pendukung dari sistem otomasi juga akan dibahas lebih lanjut
untuk menciptakan sistem otomsai yang baik dan sesuai
2. Sensor dan Aktuator pada Industri Perkebunan
2.1 Komponen Sensor dan Aktuator
Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, kata sensor muncul pertama
kali pada tahun 1950-an yaitu penggunaan sensorik pada pola motor (Gunarta:
2011). Kemudian penggunaannya berkembang dalam berbagai istilah dalam
berbagai bidang disiplin ilmu, tidak hanya dalam dunia teknik terutama permesinan
dan perlatan industri tetapi telah berkembang dalam bidang ilmu sains atau
humaniora. Definisi dari sensor itu sendiri memiliki sedikit perbedaan antara satu
dengan yang lainnya. Menurut Oxford Dictionary, Sensor merupakan sebuah alat
pendeteksi atau pengukur properti fisik dan menunjukkan catatan-catatan kejadian,
ataupun jika tidak menanggapi secara lansung bisa untuk memastikan respon yang
lebih besar dan penanganan yang lebih meyakinkan. Selain itu, difinisi sensor yaitu
sebagai peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejala-gejala atau sinyal-sinyal
yang berasal dari perubahan energi (mualana.lecture.ub.ac.id). Banyak pendapat
lain yang merujuk pada pengertian sensor, namun keterkaitan arti sensor itu sendiri
dapat disimpulkan bahwa sensor merupakan sebuah alat pendeteksi sinya atau
gejala lainnya yang terjadi di linkungan sekitar. Sinyal tersebut juga diubah dari
variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan arus listrik
yang akan ditranfer lebih lanjut oleh transducer.
Sebagaimana analogi sebelumnya bahwa sensor pada sistem otomasi memilik
kesamaan dengan sistem tubuh manusia. Sama seperti sistem tubuh manusia,
dimana manusia mempunyai panca indra atau lima sistem indra, yaitu indra perasa,
indra penglihatan, indra pendengar, indra peraba, indra penciuman. Dalam
penerapan sensor juga terdapat parameter proses yang ditetapkan yaitu bedasar
pada fungsi sensor dengan mengindrakan besaran fisis untuk suatu proses tertentu.
Parameter proses bisa berupa tekanan, aliran, level, temperatur, berat, berat jenis.
Selain itu menurut pemaparan Walwolumaja (2013), besaran fisis di indra dan
diolah oleh level kedua dari hirarki sistem otomasi, yaitu sistem kontrol atau sistem
kendali. Besaran input pada sistem kendali otomasi bukan berbentuk besaran listrik
melaikan berupa besaran fisika, kimia, dan mekanis yang ditagkap oleh sensor.
Kemudian sistem kontrol melalui tranducer mengubahnya menjadi sinyal-sinyal
listrik
Dengan demikian suatu sistem pengendali yang mempunyai prosedur dan
rangkaian proses yang saling berkaitan. Bermula dari proses perubahan yang
ditangkap dan diolah oleh pengolah sinyal/data yang kemudian diteruskan sebagai
keluaran dari olah data dalam bentuk kondisi pengendalian. Semua proses tersebut
juga akan di adopsi pada dunia robotika dan bahkan rangkaian proses tersebutlah
yang menjadi suatu proses rutin atau inti dalam bagian bagian robot yang dapat
digambarkan sebagai aliran darah suatu robot.

Rizky Gian Pratama |3 | Otomasi Industri C

Sensor sebagai detektor sinyal tentu memiliki banyak variasi sesuai keadaan dan
kebutuhan dari lingkungan sistem kerja. Hal tersebut disebabkan oleh diversifikasi
bentuk dan kondisi lingkungan terhadap sistem kerja yang tidak hanya secara fisik
tetapi juga secara kimia dan biologi. Semua kondisi tersebut ditangkap oleh sensor
dengan cara dan metode kerja yang berbeda. Selain itu, bebarapa sumber dan
referensi terkait menjelaskan bahwa jenis-jenis sensor sangatlah beragam dan akan
susah untuk dijabarkan satu persatu dalam sebuha tulisan. Pada tulisan ini Dengan
demikian sensor dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu sebagai
berikut :
1. Sensor Kedekatan (Proximity), yaitu sensor atau saklar yang dapat mendeteksi
adanya target yang diindikasikan dengan jenis logam tanpa adanya kontak fisik.
Sensor jenis ini biasanya tediri dari alat elektronis solid-state yang terbungkus
rapat untuk melindunginya dari pengaruh getaran, cairan, kimiawi, dan korosif
yang berlebihan. Sensor ini dapat diaplikasikan pada kondisi penginderaan pada
objek yang dianggap terlalu kecil/lunak untuk menggerakkan suatu mekanis
saklar. Prinsip kerjanya adalah dengan memperhatikan perubahan amplitudo
suatu lingkungan medan frekuensi tinggi.
2. Sensor Magnet - juga disebut relai buluh, adalah alat yang akan terpengaruh
medan magnet dan akan memberikan perubahan kondisi pada output. Seperti
layaknya saklar dua kondisi (on/off) yang digerakkan oleh adanya medan
magnet di sekitarnya. Biasanya sensor ini dikemasdalam bentuk kemasan yang
hampa dan bebas dari debu, kelembapan, asap ataupun uap.
3. Sensor Sinar terdiri dari 3 kategori. Pertama sensor Fotovoltaic atau sel solar
adalah alat sensor sinar yang mengubah energi sinar langsung menjadi energi
listrik, dengan adanya penyinaran cahaya akan menyebabkan pergerakan
elektron dan menghasilkan tegangan. Demikian pula kategori kedua yaitu sensor
Fotokonduktif (fotoresistif) yang akan memberikan perubahan tahanan
(resistansi) pada sel-selnya, semakin tinggin intensitas cahaya yang terima,
maka akan semakin kecil pula nilai tahanannya. Sedangkan kategori ketiga yaitu
sensor fotolistrik adalah sensor yang berprinsip kerja berdasarkan pantulan
karena perubahan posisi/jarak suatu sumber sinar (inframerah atau laser)
ataupun target pemantulnya, yang terdiri dari pasangan sumber cahaya dan
penerima.
4. Sensor Efek-Hall, dirancang untuk merasakan adanya objek magnetis dengan
perubahan posisinya. Perubahan medan magnet yang terus menerus
menyebabkan timbulnya pulsa yang kemudian dapat ditentukan frekuensinya,
sensor jenis ini biasa digunakan sebagai pengukur kecepatan.
5. Sensor Ultrasonik, bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara,
dimana sensor ini menghasilkan gelombang suara yang kemudian
menangkapnya
kembali
dengan
perbedaan
waktu
sebagai
dasar
penginderaannya. Perbedaan waktu antara gelombang suara dipancarkan
dengan ditangkapnya kembali gelombang suara tersebut adalah berbanding
lurus dengan jarak atau tinggi objek yang memantulkannya. Jenis objek yang
dapat diindera diantaranya adalah: objek padat, cair, butiran maupun tekstil.
6. Sensor tekanan, sensor ini memiliki transduser yang mengukur ketegangan
kawat, dimana mengubah tegangan mekanis menjadi sinyal listrik. Dasar
penginderaannya pada perubahan tahanan pengantar (transduser) yang
berubah akibat perubahan panjang dan luas penampangnya.
7. Sensor Suhu, ada 4 jenis utama sensor suhu yang biasa digunakan yaitu
thermocouple (T/C), resistance temperature detector (RTD), termistor dan IC
Rizky Gian Pratama |4 | Otomasi Industri C

sensor. Thermocouple pada dasatnya terdiri dari sepasang transduser panas dan
dingin yang disambungkan/dilebur bersama, perbedaan yang timbul antara
sambungan tersebut sulit diberi sambungan referensi yang berfungsi sebagai
pembanding. Resistance Temperature Detector (RTD) didasari pada tahanan
listrik dari logam yang bervariasi sebanding dengan suhu. Kesebandingan variasi
ini adalah presisi dengan tingkat konsisten/kestabilan yang tinggi pada
pendeteksian tahanan. Platina adalah bahan yang sering digunakan karena
memiliki tahanan suhu, kelinearan, stabilitas dan reproduksibilitas. Termistor
adalah resistor yang peka terhadap panas yang biasanya mempunyai koefisien
suhu negatif, karena saat suhu meningkat maka tahanan menurun atau
sebaliknya. Jenis ini sangat peka dengan o perubahan tahan 5% per C sehingga
mampu mendeteksi perubahan suhu yang kecil. IC Sensor adalah sensor suhu
dengan rangkaian terpadu yang menggunakan chipsilikon untuk kelemahan
penginderanya. Mempunyai konfigurasi output tegangan dan arus yang sangat
linear.
8. Sensor Kecepatan/RPM - proses penginderaan merupakan proses kebalikan dari
suatu motor, dimana suatu poros/object yang berputar pada suatui generator
akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan putaran
object. Kecepatan putar sering pula diukur dengan menggunakan sensor yang
mengindera pulsa magnetis (induksi) yang timbul saat medan magnetis terjadi.
9. Sensor Penyandi (Encoder) digunakan untuk mengubah gerakan linear atau
putaran menjadi sinyal digital, dimana sensor putaran memonitor gerakan putar
dari suatu alat. Sensor ini biasanya terdiri dari 2 lapis jenis penyandi, yaitu;
Pertama, Penyandi rotari tambahan (yang mentransmisikan jumlah tertentu dari
pulsa untuk masing-masing putaran) yang akan membangkitkan gelombang
kotak pada objek yang diputar. Kedua, Penyandi absolut (yang memperlengkapi
kode binary tertentu untuk masing-masing posisi sudut) mempunyai cara kerja
sang sama dengan perkecualian, lebih banyak atau lebih rapat pulsa gelombang
kotak yang dihasilkan sehingga membentuk suatu pengkodean dalam susunan
tertentu.
Penjabaran berbagai jenis berkaitan dengan sensor diatas telah mendetail dan
sangat jelas. Namun dalam mempermudah pemahaman kita dalam mengenal dan
mengetahui jenis-jenis sensor dapat dikerucutkan menjadi tiga klasifikasi besar
sensor yaitu sensor thermal, sensor mekanis, dan sensor optik.
Setalah melihat penjelasan sensor secara panjang lebar, sekarang
pembahasannya beralih pada aktuator. Jika dilihat dari segi harfiah, aktuator berarti
sebuah alat untuk melakukan kerja. Definisi lain dapat dilihat dari oxford dictionary
menjelaskan aktuator adalah penggerak sebuah mesin atau alat untuk beroperasi.
Dengan demkian terlihat jelas bahwa aktuator berbentuk sebuah perangkat keras
yang berfungsi dalam pengoperasian kerja dari sebuah sistem. Lebih spesifik lagi
dijealaskan aktuator merupakan perangkat keras yang mengubah sinyal perintah
dari pengendali menjadi perubahan dalam parameter fisik ( Grover, 2005: 138)
Fungsi utama dari aktuator adalah melanjutkan perintah yang diberikan oleh
analyzer untuk dilakukan respon sebagai tindak lanjut dari sinyal yang didapatkan.
Ketika sensor memiliki parameter ukur tekanan, temperatur dan besaran fisis
lainnya, maka pada aktuator juga memiliki paramater fisik yang biasanya bersifat
mekanik, seperti perubahan posisi, kecepatan, dan akselerasi. Pada kondisi inilah
aktuator mengeubah satu jenis besaran fisik menjadi bentuk lain sesuai parameter
yang ada. Sebagai contoh sinyal besaran fisik berupa arus listrik diolah oleh

Rizky Gian Pratama |5 | Otomasi Industri C

analyzer untuk kemudiaa diubah oleh aktuator menjadi bentuk lain besaran fisik
seperti perubahan posisi balok kayu.
Pada mekanisme kerja aktuator, sinyal yang diterima dari analyzer yang
kemudian menjadi sebuah perintah biasanya memiliki tingkat kekuatan sinyal yang
rendah. Menanggulangi hal tersebut biasanya ada komponen tambahan yang
dipasangkan pada sistem otomasi. Alat tersebut yaitu berupa amplifier untuk
menguatkan sinyal agar kuat dalam menggerakkan aktuator.
Dalam dunia industri banyak ditemukan penerapan alat dan prinsip kerja dari
aktuator dalam sistem terotomasi. Beberapa diantaranya yaitu motor DC, piston
hidrolik, motor induksi liner, silinder pneumatik, relay, selenoid dan banyak lagi
lainnya. Sebagai contoh, penerapan aktuator pada kontak relay yang terdapat pada
komponen programable logic cotroler yang berfungsi membuka rangkaian sebagai
akibat dari gaya magnet listrik yang terjadi. Beberapa penerapan mekanisme kerja
aktuator tersebut diklasifikasikan lebih detail lagi kedalam 3 kategori yaitu aktuator
listrik, aktuator hidrolik, dan pneumatik.
Menurut grover (2005: 136) dijelaskan lebih lanjut dalam bukunya sistem
otomasi dan computer integrated manufacturing mengenai jenis aktuator pada
sistem otomasi. Pertama yaitu aktuator listrik, aktuator jenis ini paling umum
digunakan dan aktuator listrik ini meliputi dua perangkat yaitu linear dan rotasi.
Contohnya yaitu motor AC dan DC, relay dan masih banyak lainnya. kedua yaitu
aktuator hidrolik yang biasanya digunakan dalam industri berat berskala besar
karena menghasilkan gaya yang besar. aktuator hidrolik menggunakan prinsip fluida
hidrolik yang didapatkan dari tekanan udara sekitar pabrik sebagai daya penggerak.
Ketiga yaitu aktuator pneumatik, penggunaan prinsip tekanan udara juga diterapkan
namun dengan skala yang lebih kecil. Bisanya aktuator ini hanya digunakan pada
industri yang berbasis usaha kecil menengah. Ketiga aktuator tersebut memiliki
perangkat yang sama baik linear maupun rotasi.
2.2 Penerapannya pada Industri Perkebunan
Aplikasi dan penerapan prinsip otomasi tidak hanya terbatas pada sektor
industri manufaktur besar yang memproduksi mobil dan motor rakitan atau
percetakan massal, tetapi telah merambat ke setiap sektor industri baik yang
berada di kota maupun daerah industri lainnya. salah satu sektor yang menjadi
sorotan perkembagan tekonologi otomasi adalah industri perkebunan. Pada Studi
kasus PT Perkebunan Nusantara VII Ciater dapat dilihat bahwa perkemabangan
teknologi otomasi telah merambah dalam industri pertanian dan perkebunan.
Penerapan sistem otomasi terutama sensor dan aktuator terdapat pada stasiun kerja
pelayuan di PT Perkebunan Nusantara VII.
Pihak perusahaan akan rugi ketika masih menerapkan sistem operator manual
dalam menajalankan produksi perkebunan. Kesulitan juga didapat oleh para pekerja
ketika tidak menerapkan sistem otomasi pada industri perkebunan tersebut,
kelemahan tersebut meliputi kesukaran dalam mencatat suhu dan kelembaban
dilapangan, mengetahui kadar air dan menjalankan mesin di ruang operator
(Rachmat, 2013). Oleh karena itu penerapan prinsip dan mekanisme kerja otomasi
mulai diterapkan dengan komponen utama PLC, sensor dan aktuator.
Proses pelayuan secara otomasi ini dimulai dari section analog input dan di
posisi ini dibutuhkan sebuah sensor yang di setup dalam range code. Kemudian
melalui beberapa proses hingga masuk dalam action katup udara segar berupa
aktuator yang menerima perintah dari PLC untuk membuka. Proses selanjutnya

Rizky Gian Pratama |6 | Otomasi Industri C

yaitu section sensor berat. Sensor tersebut akan aktif jika kipas dalam keadaan
menyala dengan arus yang mengalir ke empat buah limit switch yang terjadi.

Gambar 1 Program Sensor Berat

Setelah melewati sensor berat kemudian produk kayu masuk pada section
sensor suhu untuk melanjutkan proses pelayuan. Pada sensor suhu, dilakukan
monitoring setiap 40 detik (2 jam) untuk melakukan kalkulasi suhu pada WT yang
telah menyala selama 60 detik (5-6 jam pertama). Mekanime kerja otomasi terakhir
yaitu pada section katup heater sebagai salah satu bentuk aktuator. Pada bagian ini
script program akan menerima masukan data dari modul analog yang telah
disimpan pada memori PLC dan telah di konversi menjadi bernilai 20 30 C yang
selanjutnya akan dibandingkan apakah suhu lebih dari atau kurang dari 26 C. Jika
sistem dalam kondisi otomatis, setelah suhu dibandingkan dan hasilnya kurang dari
26 C maka katup heater akan terbuka secara otomatis. Tetapi jika kondisi sistem
dalam mode manual, maka setelah suhu dibandingkan dan hasilnya kurang dari 26
C maka lampu tanda suhu kurang dari optimum akan menyala dan memberi tanda
pada operator untuk menyalakan switch katup heater secara manual (Rachmat,
2013).
3. Kesimpulan
Komponen-komponen otomasi berupa sensor dan aktuator dalam sistem
otomasi merupakan bagian yang tak terpisahkan. Peran dan fungsi dari komponenkomponen tersebut saling berkaitan satu sama lain. Ketekaitan tersebut sering di
analogikan ibarat tubuh manusia, dimana saraf sensorik disamakan dengan
komponen sensor, otak manusia sebagai sistem saraf pusat disamakan dengan
analyzer yang berfungsi mengelola dan menganalisis hingga dihasilkan sebuah
perintah kerja untuk aktuatuor. Kemudian aktuator sendiri di ibaratkan seperti saraf
motorik dan alat gerak manusia yang mengeksekusi setiap respon yang didapat dari
sinyal lingkungan sekitar.
Sensor merupakan sebuat hardware atau alat pendeteksi sintal atau gejala
lainnya yang terjadi di linkungan sekitar. Sinyal tersebut juga diubah dari variasi
mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan arus listrik yang akan
ditranfer lebih lanjut oleh transducer. Parameter dari sensor itu sendiri yaitu besaran
fisis berupa tekanan, aliran, level, temperatur, dan berat jenis. Besaran fisik tersebut
kemudian diubah oleh transducer menjadi sinyal listrik yang akan dikirim ke
analyzer untuk dianalisis lebih lanjut. Dengan fungsi yang demikian kompleks serta
variasi kebutuhan yang relatif banyak mengakibatkan klasifikasi sensor yang banyak
pula. Dari sekian banyak sensor untuk mempermudah pemahaman kita dalam
mengenal dan mengetahui jenis-jenis sensor dapat dikerucutkan menjadi tiga
klasifikasi besar sensor yaitu sensor thermal, sensor mekanis, dan sensor optik.
Komponen utama sistem otoamsi berikutnya yaitu aktuator. Komponen tersebut
merupakan perangkat keras yang mengubah sinyal perintah
dari pengendali
menjadi perubahan dalam parameter fisik. Parameter output dari aktuator sedikit
memiliki kesamaan dengan sensor, dimana parameternya berupa fisik yang bersifat
mekanik seperti perubahan posisi, kecepatan, dan akselerasi. Fungsi utama dari
aktuator yaitu sebagai penggerak sistem otomasi atau melanjutkan perintah yang
Rizky Gian Pratama |7 | Otomasi Industri C

diberikan oleh analyzer untuk dilakukan respon sebagai tindak lanjut dari sinyal
yang didapatkan. Sebagaimana sensor yang memiliki puluhan jenis dan klasifikasi,
aktuator sendiri dapat diklasifikasi mejadi tiga yaitu aktuator listik, hidrolik dan
pneumatik.
Penerapan dari sistem otomasi saat ini tidak hanya terbatas pada industri besar
dengan produksi massal, tetapi juga diperuntukkan bagi Industri Kecil Menengah
(IKM). Keadaan aktual saat ini menunjukkan bahwa industri kecil telah
membutuhkan otomasi untuk keberlansungan produksinya. Tidak hanya dari skala
tetapi dari segi sektor industri juga telah berkembang pada industri-industri lainnya
termasuk industri perkebunan. Dalam studi kasus penerapan sistem otomasi pada
PT Perkebunan Nusantara VII Ciater. Keputusan memilih penggunaan sistem otomasi
dalam industri
perkebunan karena kesukaran dalam mencatat suhu dan
kelembaban dilapangan, mengetahui kadar air dan menjalankan mesin di ruang
operator. Penerapan prinsip otoamsi tersebut yaitu penggunaan komponenkomponen industri dalam proses produksi. Sensor yang digunakan yaitu berupa
sensor berat dan sensor suhu serta aktuator nya berupa katup.

Referensi:
Groover, Mikell P. 2005. Computer Integrated Manufacturing, 2nd edition. New Jersey
: Prentice Hall
Petnizella, Frank D.. 2004. Elektronik Industri. Yogyakarta : Andi
Walwolumaja, Rudi. 2013. Sensor, Tranducer, dan Aktuatot. Universitas Kristen
Maranata
PT. Perkebunan Nusantara VIII. Standar Operasional Prosedur Pengolahan Teh Hitam
Orthodox. 2008.
Rachmat, Hari dan Denny Sukma. 2013. Perancangan Program Sistem Otomatisasi
pada Stasiun Kerja Pelayuan Menggunakan Pengendali PLC Omron CPI. Jurnal
Rekaya Industri
Gunarta, Lilik. 2011. Mengenal Sensor dan Aktuator, http://www.skp.unair.ac.id :
dilihat pada 24 Oktober 2015
Kompenen elektronika, http://www.Maulana.lecture.ub.ac.id, dilihat pada 25 Oktober
2015

Rizky Gian Pratama |8 | Otomasi Industri C