Anda di halaman 1dari 7

1.

KARIES
a. Definisi karies
Menurut EAM Kidd dan SJ Bechal (1992), karies adalah penyakit pada rongga
mulut yang biasanya disebabkan adanya interaksi antara mikroorganisme pada rongga
mulut dengan karbohidrat pada permukaan gigi (membentuk plak). Tandanya adalah
adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan
organiknya
Karies adalah proses perusakan yang menyebabkan dekalsifikasi enamel gigi dan
berlanjut menjadi kerusakan enamel serta dentin dan pembentukan lubang pada gigi

Gambar 1 Perbandingan Gigi Normal dengan Gigi Karies

Tanda-tanda karies gigi merupakan suatu keretakan pada email atau adanya
kavitas pada gigi dan merupakan suatu daerah pada email yang mempunyai warna yang
berbeda dengan email sekelilingnya.
b. Etiologi
Menurut EAM Kidd dan SJ Bechal (1992), ada empat faktor penting yang dapat
menimbulkan karies yakni:

Host

a) Gigi

Daerah yang mudah diserang karies adalah pit dan fissure pada permukaan
oklusal. Gigi susu lebih mudah terserang karies karena lebih banyak mengandung bahan
organic dan air daripada mineral
b) Saliva
Fungsi saliva penting dalam pertahanan melawan serangan karies. Mekanisme
fungsi perlindumgan saliva meliputi aksi pembersihan bakteri, aksi buffer, aksi
antimikroba dan remineralisasi. Aksi pembersih bakteri terjadi karena saliva
mengandung molekul karbohidrat protein (glikoprotein) yang menyebabkan beberapa
bakteri mengelompok (aglutinasi). Setiap hari normalnya dibentuk 1,5 liter saliva.
Aksi antimikroba plak terjadi karena kandungan berbagai macam protein dan
antibodi yang dapat menghambat bahkan membunuh bakteri. Protein tersebut meliputi
lisosim, laktoferin, laktoperioksidase dan IgA sekretori. Saliva mengandung ion kalsium,
fosfat, kalium dan kadang kala fluoride yang membantu remineralisasi. Berkurangnya
saliva secara signifikan meningkatkan laju pertumbuhan karies. Berkurangnya aliran
saliva akan berakibat pada tertekannya pH dalam jangka waktu lama (berkurangnya
buffering), menurunnya efek anti bakteri dan berkurangnya ion untuk remineralisasi.
c) Plak
Karies merupakan penyakit infeksi yang disebabkan pembentukan pada
permukaan gigi yang menyebabkan demineralisasi pada gigi (demineralisasi email
terjadi pada pH 5,5 atau kurang). Plak gigi merupakan lengketan yang berisi bakteri
beserta produk-produknya, yang terbentuk pada permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini
tidak terjadi secara kebetulan melainkan terbentuk melalui serangkaian tahapan.

Mikroorganisme
Bakteri yang biasanya menyebabkan karies adalah Streptococcus mutans,

Streptococcus sobrinus, Streptococcus salivarius, Streptococcus mitis, dll. Tetapi, dari

semua bakteri, Streptococcus mutans adalah bakteri yang paling dominan sebagai
penyebab adanya karies.
Streptococcus

mutans dan Lactobasilus merupakan bakteri yang

kariogenik

karena mampu segera membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan.Bakteribakteri tersebut dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel pada
permukaan gigi karena kemampuannya membuat polisakharida ekstra sel yang sangat
lengket dari karbohidrat makanan. Polisakharida terdiri dari polimer glukosa, akibatnya
bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain
sehingga plak semakin tebal dan akan menghambat fungsi saliva dalam menetralkan
plak tersebut.

Substrat
Karbohidrat menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan

sintesa polisakarida ekstra sel. Walaupun tidak semua karbohidrat sama derajad
kariogeniknya. Orang yang banyak mengonsumsi karbohidrat cenderung mengalami
karis, sedangkan orang dengan diet banyak mengandung lemak dan protein hanya
sedikit atau tidak sama sekali mempunyai karies.

Waktu
Siklus proses karies membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyebabkan

kavitas. Perkembangan melalui email sering kali lambat sehingga lesi email kadang
tetap tanpa perubahan. Laju perkembangan karies melalui dentin juga lambat sehingga
proses berjalan panjang, memberi kesempatan remineralisasi yang dapat mencegah
untuk tidak sampai terjadi kavitas. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk
berkembang menjadi suatu kavitas berkisar 6-48 bulan
Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama
berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas
periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Oleh karena itu, bila saliva ada

didalam lingkungan gigi, maka karies tidak menghancurkan gigi dalamhitungan hari
atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun.
c. Faktor Predisposisi Karies

Usia
Dampak proses penuaan terhadap kesehatan gigi dan mulut antara lain karies

gigi. Dengan bertambahnya usia, semakin lama gigi berada dalam lingkungan mulut,
factor resiko terjadinya karies gigi akan lebih besar berpengaruh terhadap gigi. Dari
laporan SKRT 2001, prevalensi karies aktif meningkat engan bertambhanya umur dan
mencapai 63% pada golongan umur 45-54 tahun. Kemudian menurun lagi menjadi 46%
pada umur 65 tahun ke atas, hal ini dapat dimengerti karena pada umur 65 tahun ke atas
sudah banyak gigi yang dicabut atau sisa akar. (Surkenas 2001 dan Laporan SKRT 2001)

Jenis Kelamin
Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (2001) memperlihatkan hasil pada

responden berusia 10 thun ke atas, prevalensi dan indeks DMF-T pada perempuan lebih
besar daripada laki-laki.
Menurut Burt, 2005, pertumbuhan gigi pada anak perempuan lebih awal daripada
anak laki-laki sehingga masa terpajan dalam mulut lebih lama. Antara anak laki-lai dan
perempuan pada umur kronologi yang sama, secara statistic prevalensi kariesnya
berbeda makna, pada anak perempuan prevalensi kariesna sedikit lebih tinggi dari anak
laki-laki.

Status ekonomi
Salah satu karakteristik masyarakat dengan pengahsilan rendah atau berada

dalam kondisi social ekonomi rendah, kurang memiliki kesadaran dan pengetahuan akan
maknda pentingnya memelihara kesehatan gigi dibandingkan dengan orang yang
emmpunyai kehidupan social eknomi lebih tinggi. Mereka tidak menaydari bahwa

mereka mempunyai masalah dengan gigi geliggi. Pada saat mereka merasakan sakit
yang disebabkan oleh masalah gigi tersebut, banyak yang tidak mempunyai dana untuk
pergi mendapatkan pengobatan yang layak oleh dokter gigi.

Pendidikan
Mereka dengan tingkat pendidikan yang tinggi, lebih mengerti dan lebih peduli

untuk mendapat perawatan dan pengobatan gigi geligi. Berdasarkan Survey Kesehatan
Rumah Tangga (2001) menunjukkan kerusakan gigi tertinggi terjadi pad orang
pendidikan tidak lulu SF yaitu sekitar 8 gigi per orang. Makin tinggi tingkat
pendidikannya maka resiko karies pun akan semakin berkurang

Tempat tinggal
Di kota besar, konsumsi gula dan makanan bergula terutama oleh anak-anak

diperkirakan cukup tinggi. Hal ini secara tidak langsung terlihat dari banyak kasus karies
pada anak-anak sekolah di kota.

Konsumsi Buah dan Sayur


Kebersihan gigi tidak lepas dari penilaian adanya sisa makanan dalam mulut,

dapat berupa endapan lunak dan endapan keras yang melekat erat pada permukaan gigi.
Menurut Poole 1997, menyatakan bahwa mengonsumsi buah-buahan sehabis makan
sama dengan pembersihan gigi alami, karena ini dapat mengurangi terjadinya karies
gigi. Makanan yang perlu pengunyahan yang baik akan meningkatkan kebersihan mulut,
misalnya buah jeruk atau apel dan sayur yang dimakan sesudah makan utama (nasi)

Perilaku Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut


Dengan menyikat gigi dua kali sehari paa saat sesudah sarapan dan sebelum tidur

dengan pasta gigi berfluoride akan menurunkan resiko karies, kaena fluoride sangat
bberguna dalam proses mineralisasi.

2. Karies Dentin

Gambar 2 Karies Dentin

Karies dentin adalah karies yang terjadi pada dentin. Karies ini biasanya
berbentuk V. perbedaan dengan karies enamel adalah karies pada dentin prosesnya lebih
cepat karena kandungan mineral dentin lebih sedikit dibandingkan dengan enamel dan
dentin kurang resisten terhadap suasana asam.

Gambar 3 Zona pada Karies Dentin

Reparative dentin adalah zona dimana dentinnya masih normal

Inner carious dentin adalah zona dimana masih banyak kristal pada tubulus, lebih
halus dibanding dengan dentin normal, mineralnya banyak berkurang walau
tidak sesedikit pada outer carious dentin, dan masih bisa remineralisasi

Outer carious dentin adalah zona yang pertama kali dilihat oleh dokter gigi saat
memeriksa karies pada pasien. Zona ini mengandung mineral lebih sedikit,
banyak bakteri, kolagen terdenaturasi, dan tidak bisa remineralisasi lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Baum Phillips Lund. 1997. Buku Ajar Ilmu konservasi Gigi, Ahli Bahasa, Resinta
Tarigan, Ed.3, Jakarta:EGC
Burt BA, Eklund SA. 2005. Dentistry, Dental Practise and the Community, ed 6, ST
Louis
G.J. Mount, W.R. Hume. 2005. Preservation and Restoration of Tooth Structure. Mosby.
Heymann, Harald O., Swift, Edward J., dan Ritter, Andre V. 2012. Studevants Art and
Science of Operative Dentistry. Singapore : Elsevier
Jovina, Tince Arniati. 2010. Pengaruh Kebiasaan Menyikat Gigi Terhadap Status
Pengalaman Karies Riskesdas 2007. Depok : Universitas Indonesia
Kidd

EAM,

Bechal

SJ.

1992.

Dasar-Dasar

Penanggulangannya. Cetakan 2. Jakarta: EGC

Karies

Penyakit

dan